2ND GRADE [Chapter 24] by l18hee

2ndgradee

2ND GRADE

─by l18hee

.

Now Playing ► Chapter 24 [Libur Musim Panas #2]

Terus mencoba menyelinap diam-diam dalam hatimu. Hanya ingin mengintip, masih adakah masa lalumu di sana?

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Sehun, Baekhyun, Chen |  [CLC] Seunghee | [BTS] Taehyung & Jungkook | [RV] Irene & Wendy | OC(s)

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Family | Fluff | Friendship | Romance

.for

Teen

.

Previous Part:

Prologue | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18| 19 | 20 | 21 | 22 | 23

.

.

 

Runa dan Sehun menghabiskan banyak waktu lebih banyak dari prediksi Baekhyun akan waktu perjalanan dari minimarket ke pondok. Bukannya menjawab tanya milik Bakehyun, Runa malah mencak-mencak seraya menunjukkan sandal putusnya. Membuat si lelaki meminta maaf sambil cemberut─berkat serangan cubit di beberapa bagian tubuhnya.

Sehun sendiri tak bisa apa-apa, padahal jika diperhatikan dengan baik dialah yang menciptakan masalah ini. Sedang yang lain hanya menonton dan paling baik pun cuma menyemangati Baekhyun.

“Kau tidak kasihan padaku?” Kini Sehun dan Baekhyun sedang berada di teras pondok. Sehun yang mengajak, mungkin merasa bersalah.

“Kau benar-benar membantu,” sebuah kekeh ringan Sehun tebar ke udara, memancing Baekhyun untuk berdecih sebal. Dia membukakan satu soda dan meletakkannya di samping Baekhyun, “Tanda terima kasih.”

“Aku dicubit bertubi dan balasannya adalah servis membuka minuman kaleng cuma-cuma. Hebat.” Begitu juga Baekhyun meminumnya. Dia mendesah lumayan keras, menolehkan kepala pada lelaki di sampingnya yang baru meneguk isi soda, “Bagaimana? Ada hal bagus yang terjadi?”

Selayang kedikan ditunjukkan, “Lumayan banyak.” Dia meletakkan soda dan menumpu kedua siku di atas paha, tanpa sadar tersenyum. Segalanya diperhatikan Baekhyun dengan baik untuk beberapa saat. Sampai ia berkemam, “Bagaimana bisa kau menyukainya?” Bukan bermaksud meremehkan, sesungguhnya Baekhyun punya cara sendiri dalam menjaga sahabatnya yang baru putus cinta. Semenjak awal dia sudah curiga dengan kelakuan Sehun. Apalagi mendapati lelaki itu mencium pipi Runa sebelum berangkat tadi. Oleh karenanya Baekhyun mencoba mencipta obrolan dengan Sehun, hingga pada akhirnya kala mereka tangah menata barang di pondok, ia bertanya terang-terangan, “Kau suka Runa?”

Dan jawaban Sehun sesuai dengan perkiraannya, “Kelihatan, ya?”

Maka dari itu Baekhyun mau membantu Sehun di minimarket. Bukannya langsung percaya, begini-begini juga dia tetap waspada.

Baekhyun kembali ke alam sadarnya, ingat bahwa masih ada tanya yang perlu Sehun jawab. “Maksudku, Runa itu … biasa saja,”─bagi yang belum mengenal. Dia membubuhkan dalam hati.

“Aku juga kurang mengerti,” desahan Sehun agak panjang, “Semuanya seperti tiba-tiba. Aku bahkan tak bisa mengingat bagaimana awalnya.” Dia menggunakan kedua tangan di samping sebagai tumpuan, menengadah menatap langit malam, “Tahu-tahu saja begini─kau tahu? Merindukannya, ingin di dekatnya, sejenis itulah. Semakin hari perasaan ingin-ku meningkat beberapa persen.”

Ikut menatap langit adalah yang Baekhyun lakukan usai memandang wajah serius Sehun. Perlu waktu lama baginya demi menanggapi ucapan tadi. “Aku tidak bisa memberi banyak saran, hanya saja─” dia mengerut kening, seolah memikirkan kalimat selanjutnya matang-matang, “hanya saja, kalau bisa jangan terlalu terburu-buru. Kulihat Runa masih lumayan menutup hatinya.” Menganalisa perilaku Runa yang membiarkan Chanyeol memberi ciuman perpisahan, Baekhyun tahu gadis itu masih meninggalkan secuil harapan. Entahlah, dia tak mengerti sepenuhnya. Cuma mengira.

Sedang Sehun diam saja, beralih memutar-mutar telunjuk di sekitar soda.

Berkat terlalu lama sunyi, keduanya terlonjak kaget tatkala pintu mendadak dibuka. Memunculkan sosok Seunghee dengan dua plastik hitam di tangan. “Oh, sedang mengobrol?”

Lantas Baekhyun beranjak, “Kenapa membuang sampah sendirian?” Sebagai seorang lelaki, dia bisa menjalankan perannya dengan baik; mengambil dua plastik ukuran sedang tadi dari Seunghee. “Ah, terima kasih. Tunggu sebentar, aku akan ambil satu plastik sampah lagi.”

“Bagaimana bisa banyak sekali? Kita bahkan baru sampai tadi sore.” Berhubung Seunghee sudah masuk kembali, Sehun-lah yang menanggapi pertanyaan Baekhyun, “Itu beberapa sampah yang ditinggal oleh orang yang mampir ke sini sebelumnya.” Sehun jadi sangsi Baekhyun ikut bersih-bersih atau tidak.

Ketika Seunghee sudah muncul dengan plastik sampah lumayan kecil, Baekhyun menyuguh senyum, “Ayo.”

“Kau baik-baik saja? Cubitan Runa tak membuatmu cedera, bukan?”

“Ah, biasa saja. Lenganku sudah kebal dibegitukan.”

Sekarang Sehun memutar matanya jengah, sadar dirinya mendadak berubah menjadi figuran. Usai melihat Baekhyun dan Seunghee menjauh, ia memutuskan untuk beranjak dari duduk dan melangkah masuk ke pondok. Dia butuh istirahat agar besok bisa bersenang-senang secara maksimal.

Di sela langkah, Sehun menguap lebar seraya menggaruk perutnya. Ketika ia sampai di depan televisi, didapatinya Runa terduduk di sofa. Jelas sedang tidur karena gadis itu terpenjam dengan mulut sedikit terbuka, kepalanya lumayan mendongak berkat sandaran sofa. Oh, Sehun kira gadis ini malah sudah pulas di kamar sejak tadi.

Langsung Sehun menggerakkan kakinya untuk menendang kaki sang gadis, “Bangun, tidur di kamar, sana!” Tak ada pergerakan sama sekali, satu senti pun tidak kecuali di bagian tarikan napas. “Kwon, hei.” Satu tendangan lagi lebih kuat, yang ada hanya Runa yang memiringkan kepalanya ke samping. Belum terbangun.

Begitu saja Sehun menempatkan diri di samping Runa. Meniup wajah gadis itu. Tahu bahwa Runa sama sekali tak memberi reaksi, Sehun memberanikan diri menekan ujung hidung Runa, lalu pipi si gadis beberapa kali juga menjadi sasaran tusukan telunjuk. Tak hanya itu, sambil sedikit terkekeh Sehun mencubit pipi Runa. Lantas menekan-nekan pipi sang gadis beberapa kali. Reflek yang Runa lakukan hanya menggumam tak jelas dan menutup mulutnya.

Sehun terkikik kecil, “Cute.” Dan ia menguap.

Diraihnya remot untuk menyalakan televisi. Setelah mencari beberapa saat, ia menemukan satu acara yang lumayan menurutnya─pemutaran ulang sebuah film laga. Jelas sekali Sehun masih fokus pada filmnya walau beberapa kali kedapatan melirik Runa yang masih juga di pose yang sama.

Tapi tatkala Seunghee dan Baekhyun sudah kembali dari membuang sampah, yang mereka temukan adalah dua manusia yang tidur seperti orang mati di sana. Dengan suara tembakan beruntun dari kotak bergambar sebagai pengantar tidur.

“Mereka benar-benar tidur?” ujar Baekhyun. Dia merengganggkan pinggang sementara telinganya terpasang untuk mendengarkan jawaban Seunghee yang agaknya menyimpulkan sesuatu, “Satu kesamaan mereka. Jika tidur seperti orang mati.” Latas Baekhyun terkekeh, “Kalau Runa, sih, memang iya. Dia bahkan pernah mendadak tidur di rumahku dan baru membuka mata saat keluargaku sudah pulang semua. Lalu dia marah-marah padaku karena tidak dibangunkan. Padahal kupikir mana keluargaku peduli dia berpose seperti apa saat tidur.” Malah bercerita, dasar.

“Ayo bangunkan. Kasihan kalau tidur di luar.” Seunghee mendekati dua orang yang terlelap di sofa. Pertama kali ia menyentuh pundak Sehun, mengguncangkannya, “Kak, tidurlah di kamar.” Tidak berefek, guncangannya semakin kencang, “Oh Sehun!”

Di sisi lain Baekhyun malah menggunakan jari Runa untuk di selipkan ke hidung gadis itu sendiri, “Bangun tidak, ya? Bangun tidak, ya?” Dan yang ia dapati adalah pukulan Seunghee, “Serius, Baekhyun.”

Baekhyun terkekeh kecil, “Biarkan saja, deh. Nanti juga bangun sendiri kalau sudah pagi.”

“Kau yakin membiarkan mereka berdua tidur bersama─maksudku, tidur di sofa begini hanya berdua, ah, bukan, maksudku─” ucapan tak beraturan Seunghee segera dipotong Baekhyun, “Sudahlah. Memangnya apa yang bisa mereka lakukan selain tidur pulas sampai pagi?”

Tahu jika memindahkan tubuh keduanya bukan hal mudah, Seunghee menyerah dengan sedikit terpaksa. Dalam hati berharap tak ada hal bodoh yang akan terjadi.

.

Dini hari, ketika suasana benar-benar sepi mendadak saja Sehun terbangun. Dia menatap sisi kanan, alisnya mengerut karena tak menemuan Runa di sana. Namun kala menoleh ke kiri, segeralah ia tahu ada kerak bodoh yang tak kunjung hilang di otaknya, “Oh, iya. Tadi di kiri.” Dia menguap dan mengubah posisinya menghadap Runa. Diambilnya satu bantal sofa untuk diselipkan di leher dan kepala gadis itu. Karena tak begitu seimbang, dahi Runa malah membentur pundak Sehun.

Sehun mendorong kepala Runa menjauh. Sedikit berpikir di sela kantuk, ia malah menarik kepala gadis yang masih pulas itu untuk kembali mendapatkan dahi di atas bahunya.

Tangan kiri Sehun bergerak mencari tangan Runa untuk digenggam, bersamaan dengan degubnya yang meningkat drastis. Lantas ia menggumam begitu pelan, “Jangan bangun sekarang. Tidurlah seperti bayi sampai besok.”

Dan Sehun kembali terlelap, kali ini lebih tenang kendati posisi tidurnya tak nyaman.

.

.

.

“Asisten itu tidak jauh-jauh.” Sebuah seretan di tangan bisa Runa rasakan. Gadis itu langsung menggeram, “Jika dipikir-pikir aku malah seperti pengasuh bayi.”

“Ayolah, Kwon, nikmati pamerannya.” Kendati tangannya sudah ditepis, Sehun tetap keras kepala. Sedang Runa hanya mengembus napas panjang, “Kau yang membuatku tidak bisa menikmati semuanya. Kenapa dari tadi mengesalkan, sih?” Semenjak bangun dan mendapati genggaman hangat di tangan, Runa jadi agak canggung sekarang.

Dia berusaha sedikit menjaga jarak dengan Sehun sejak menyaksikan matahari terbit, sarapan pagi bersama, sampai sekarang─kala mengunjungi pameran kecil-kecilan di dekat pantai. Rasanya aneh mendapati lelaki itu rupanya sering muncul di dekatnya. Runa baru sadar sudah terlalu banyak menemukan Sehun dalam waktunya. Pernyataan Seunghee mengenai rasa suka sang kakak sebelum ini, mulai menyambah ingatan Runa lagi.

Jadilah Runa mengikuti Sehun dengan perasaan sedikit tak tentu.

“Asisten Kwon, tolong foto aku.” Bagian paling minta diumpati yakni Sehun yang justru bersikap biasa. Seenaknya membawanya ke sana-sini tanpa menunjukkan ekspresi berarti selain tawa. Runa mulai mengira, apa si lelaki memang mulai gila?

“Asisten Kwon, tolong pilihkan kipas yang bagus.” Memang tidak ada peka-pekanya sama sekali. Oh Sehun butuh kursus memahami perasaan Kwon Runa lebih dalam, nantinya. Sudah tahu Runa sedang tak berada di mood yang bagus, lelaki itu malah bersikap seenak udelnya.

“Asisten Kwon, tolong ambilkan brosur itu.” Kali ini Runa tak bisa menahan mulutnya untuk tetap terkatup, “Bahkan jaraknya lebih dekat denganmu.”

Tak peduli, Sehun membaca brosur yang kin sudah ada di tangannya. “Wow, kelihatannya bagus,” dia beralih pada salah satu gadis dengan celemek di sana, “Boleh kami coba ini?”

Kalimat tersebut membawa Runa pada hal lain. Terduduk di depan Sehun dengan diselingi satu meja berisi peralatan melukis serta patung kayu dan kipas polos.

“Asisten Kwon─”

“Apa lagi?” Selaan santai Runa malah dibalas senyum lebar oleh Sehun, “Selamat melukis.” Sekarang Runa diam, memandang Sehun yang malah sibuk dengan kuas dan cat di tangan. Betapa menyebalkan mengetahui bahwa hanya dirinyalah yang bersikap canggung di sini. Padahal yang menjadi bisang keladi adalah Sehun. Tapi untuk bertanya sejenis ‘Kenapa kau memegang tanganku semalaman?’ saja lidah Runa kelu. Setan.

Ya, sudah, deh. Daripada kesalnya makin bertumpuk, bukankah lebih baik Runa ikut menikmati semua liburan ini? Bukan ide yang buruk juga, kan?

Kala Runa mulai meraih kuasnya, Sehun hanya melirik dan tersenyum kecil. Dalam hati bersyukur setidaknya si gadis tidak terlihat resah lagi. Sekian saat lamanya keduanya diam, kepalang fokus pada gores yang harus dilakukan dengan kehati-hatian. Bosan dengan hening, Sehun membuka suara, “Kipasku sudah selesai. Coba lihat.”

Ulungan kipas yang disodorkan segera Runa sambut. Dia menempatkan kipas tepat di depan wajah, alisnya berkerut.

Kau manis.

Mendadak ia meneguk ludah, gugup. “Apa-apaan?” gumamnya sambil membalik kipas, dan menemukan satu lagi kata yang tertulis.

Aku bohong.

Belum sempat merespon, Runa lebih dulu disela oleh Sehun yang menampilkan cengir bangga. “Terima kasih. Aku tahu aku manis.”

“A-apa?”

Telunjuk Sehun mengarah pada kipas yang Runa pegang. “Kau menunjukkan kipas pada orang yang tepat.”`

“Kenapa rasanya memaksa sekali, ya?” Sindir Runa seraya mengembalikan kipas tersebut, meninggalkan Sehun yang terkekeh bangga. “Tapi aku suka ini,” gadis itu lantas terkekeh karena merasa dirinya mudah ditipu. Bodoh sekali.

“Kita bisa bertukar kipas.” Usulan Sehun tapa pikir panjang disambut dengan baik oleh Runa, “Setuju. Cepat selesaikan, aku tidak mau jadi yang terakhir sampai di pantai.” Rencananya mereka memang akan bermain di pantai sampai sore, setelah itu  menonton festival kembang api malam harinya. Semuanya sudah disusun untuk dinikmati bersama. Sayangnya kebanyakan malah sibuk dengan keinginannya sendiri  mengunjungi ini-itu─maksudnya stan di pameran.

Kipas bagian Runa digambari dengan banyak garis yang abstrak, membentuk gambaran samar sebuah menara dengan jam besar. Begitu Sehun melihatnya, ia langsung berujar, “Suka Big Ben?”

“Mengingatkanku akan Sherlock Holmes dan Conan.” Senyum Runa terlihat sekilas, masih fokus pada warna gelap yang ia pilih. Lalu satu alis Sehun terangkat, dia menyangga dagu dengan satu tangan dan menatap gadis di depannya, “Penggemar berat?”

“Bukan juga. Aku cuma suka baca novel dengan dua karakter itu,” Runa mengedik bahu, “Tidak terlalu fanatik, sih.” Sehun manggut-manggut, “Oh.” Dengan satu tangan yang bebas dia meraih kipasnya, memilih menatap Runa yang masih sibuk menggoreskan kuas.

Cukup lama Sehun menikmati waktu memandang-dengan-bebas-sosok-Kwon, hingga yang dipandang menegakkan wajah. “Ingin mengatakan sesuatu?” tanya si gadis, rupanya tidak nyaman terus diperhatikan.

Tanpa kata, Sehun makin berusaha menunjukkan kipasnya. Lagi-lagi pujian kau-manis ada di sana. Berhubung Runa sudah tahu kebenarannya, dia cuma memutar mata jengah. Kembali fokus pada kipasnya yang hampir jadi.

“Masih lama?” Ditanyai begini, Runa menekuk alis, “Kau yang mengajakku kemari. Tidak boleh bosan dan merengek minta cepat selesai.” Langsung Sehun memajukan bibir bawahnya, “Bilang saja minta ditemani.” Ejekan muka jelek yang Sehun pasang mengundang Runa mendengus sebal. Berkat itu sepersekian sekon kemudian si lelaki sudah mendapati rahangnya digores kuas. “Kwon! Kau baru membuat wajah calon bintang film ternoda!”

“Menggelikan.” Singkat, dan dengan kikik kecil Runa beralih meneruskan gerakan kuasnya. Tak marah sungguhan, Sehun malah tersenyum lebar. Mengeluarkan ponsel dan mengambil gambar diri sendiri dengan latar Runa yang masih sibuk dengan kuas.

“Berikan kipasmu sedikit hiasan lagi, Sehun. Setidaknya agar lebih berwarna jika dilihat.” Walau sadar dirinya dipaksa masuk dalam frame yang sama tanpa permintaan sedikit pun, Runa memilih membahas hal lain. Langsung Sehun menanggapi, “Jika aku yang memegangnya sudah berwarna, kok.”

“Menjijikkan.” Tidak tahu apa yang tengah menyumbat saluran kewarasan di otak Sehun, Runa memilih meneruskan goresan kuasnya. Sedang Sehun masih di sana, menahan tawa. Sudah tak peduli lagi pada pegal di pipi berkat senyum yang tak berhenti.

Jika diperhatikan, lucu juga.

“Kau sedang senang? Apa ada hal baik yang terjadi?”

Sehun mengangkat alisnya, sok imut. Dia menyuguh senyum lagi, sapai-sampai hanya garis matanya yang terlihat. “Kenapa? Mau kubagi senangku dengan kecupan?”

“Mau dipukul pakai tangan kiri atau kanan?”

“Aku tetap tim bibir.”

“Sekalian kaki saja, bagaimana?”

“Kenapa kau memperlakukan orang yang konsisten seperti ini?”

Belum juga Runa mendebat, seruan Baekhyun sudah terdengar, “Sehun! Runa! Kami ke pantai duluan, ya?” Lantas Runa menengakkan tubuh, menebar raut khawatir, “Aku sudah selesai. Kita harus cepat, Sehun.”

Tak mencoba mencegah, Sehun menurut saja kala Runa meninggalkannya dengan plastik berisi kipas dan patung kayu di tangan, untuk berlari kecil menyusul yang lain berganti baju.

Hanya butuh sebentar saja bagi kawanan manusia haus pantai tersebut berjingkrak menikmati pantai. Kini, Sehun hanya mengenakan kaus putih besar tanpa lengan─berbahan tipis, serta celana longgar pendek selutut. Berjemur di bawah payung besar dan memandang para gadis yang tertawa-tawa tak jelas bermain air. Runa juga di sana. Well, dengan bikini gelap bercorak yang Sehun yakini sebagai barang baru si gadis.

“Surga.”

Sehun menoleh demi mendapati Taehyung merentangkan tangan dengan seringan di wajah. Seratus persen yakin karibnya ini tidak waras. “Mau melirik gadis lain yang lebih seksi ketimbang Jung Sera?” Lalu Taehyung menoleh, “Itu beda masalah.” Keduanya diam, sama-sama menebar pandang. Hingga Taehyung membuka mulut lagi, “Apa jika aku mengiming-imingi foto Wendy berbikini ke Ten, apa dia mau bayar?”

“Ketahuan pacarnya, bisa bonyok kau, Kim Tae.”

“Oh, iya. Aku lupa dia punya pacar.” Taehyung terkekeh sebentar sebelum mengambil air minum. Disekanya bibir yang basah dan menoleh pada Sehun, “Matamu melotot terus. Mesummu kumat, ya?” Tak mengindahkan tanya, Sehun malah menunjuk beberapa orang lelaki di sudut lain, “Kau  lihat mereka? Ekspresinya perlu diberi tonjokan.” Mengikuti arah pandang si karib, Taehyung terkekeh kecil. Sadar bahwa ada otak mesum yang lebih parah di sana. Dia menyenggol lengan Sehun, kemudian. “Kenapa tidak ikut main air saja?”

“Mau pamer ketampanan?”

Disertai kekeh ringan, Taehyung memasang wajah sok menantang. Lalu berselang sekian menit, keduanya sudah merekrut yang lain untuk bergabung dengan permainan mereka; saling oper bola dengan kaki. Permainan sederhana tapi menyenangkan bagi kaum lelaki. Mereka─Sehun, Taehyung, Baekhyun, Jungkook (yang ajaibnya mau), serta Chen─membentuk lingkaran yang besar, dan dengan lincahnya memainkan bola.

Jika dilihat dari sudut mana pun, berani jamin, tawa yang mereka suguh sungguh membuat efek segar tersendiri bagi yang mau menyempatkan diri untuk menikmati. Dan kebetulan, Wendy melihatnya. Dia mendengus kecil, “Tebar pesona, ya? Dasar lelaki.”

Irene yang kebetulan berdiri di sampingnya langsung menyedekapkan tangan, tersenyum kecil, “Mau coba balas dendam?” Jelas saja Wendy menahan tawa, “Entah kenapa walau baru mengenalmu, aku rasa kau ini pakar lelaki.”

“Hampir setiap hari aku bersama dua orang idiot di sana, lumayan menambah banyak pengetahuan,” ujar Irene seraya mengedik bahu. “Ajak yang lain─tanpa kecuali, aku akan segera kembali.” Begitu saja ia melangkah pergi.

Sementara itu Runa baru saja menyadari para lelaki tengah sibuk bermain. Kala merasa menemukan hal bagus, ia langsung menyeret Seunghee untuk berucap, “Sepertinya Jungkook sudah mulai bisa mengakrabkan diri. Lihat, dia bahkan tersenyum.” Sejenak, Seunghee terpaku di tempatnya, memerhatikan salah satu sosok yang baru saja menendang bola tinggi-tinggi. Hingga ia tersadar ada hal yang harus ia tanggapi, “Harus, ya, mengatakan itu padaku?”

“Mukamu merah.” Begitu saja Runa berucap, menarik Seunghee untuk mendelikkan mata, “Ini karena panas.” Belum juga Runa melanjutkan ejekan, suara Wendy sudah menginterupsi, “Hei, mau main voli?” Telunjuknya terarah pada Irene yang sudah mengangkat bola voli di atas kepala, tersenyum lebar.

“Mau!” Yang pertama bereaksi adalah Runa. Dia bertepuk tangan dan tertawa keras sambil memberi kode agar Irene cepat mendekat. “Akan kugambar garis unuk net-nya.” Sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, tapi biar saja, deh. Ketika Runa sibuk menggambar garis, Seunghee melirik Wendy, “Mau pamer aura ke lelaki?”

“Ayolah, setidaknya pamerkan bikini barumu.” Lantas Wendy berseru semangat, “Runa, kita tim! Ayo kalahkan Seunghee dan Irene.”

Yang terjadi sungguh di luar perkiraan Taehyung. Semula ia kira para gadis akan berteriak heboh menikmati pemandangan segar para lelaki tebar pesona. Saat maniknya menangkap kegiatan gadis-gadis tadi, malah justru sebaliknya. Keadaan seratus delapan puluh derajat berbalik.

“Mereka balas dendam,” cletuknya. Di sisi lain, Baekhyun langsung menutup hidungnya, “Kurasa aku mimisan.” Chen hanya mencibir dan menyilangkan tangan di depan dada, “Sepertinya mereka tak hanya menarik perhatian kita.” Sedang Sehun dan Jungkook hanya diam. Bedanya, Jungkook memasang ekspresi datar dan Sehun sendiri malah mengerut alis, bergantian memandang para gadis dan beberapa lelaki tak jauh dari sana.

“Sudahlah, biarkan saja.” Tak begitu terlalu terpengaruh, Taehyung berucap cepat, “Kenapa tidak lanjutkan saja permainannya? Kita tak bisa membiarkan gadis-gadis lain menunggu, bukan?” Di akhir kata, ia sengaja melirik ke gerombolan gadis asing, menunjukkan lirikan sok tampan. Alhasil, sedikit teriakan dapat ia dengar.

Permainan hampir dimulai lagi, kala begitu saja Sehun melangkahkan kaki untuk enyah. Yang lain hanya memerhatikan dengan heran. Sehun berjalan santai, “Kwon!” maniknya ditemukan oleh sang gadis yang baru melempar bola. Dia tahu persis senyum Runa langsung hilang dan berganti dengan wajah terkejut tatkala ia menarik kaus ke atas.

Apa-apaan? Runa bahkan tak bisa melontarkan keterkejutan karena ketika Sehun sudah sampai di depannya, begitu saja lelaki itu meloloskan lubang kaus ke kepala sang gadis. Kaus Sehun sudah menutupi tubuh Runa sampai bawah, namun gadis tersebut belum mengeluarkan tangannya─bisa bayangkan? Seperti terperangkap.

“Kenapa, sih?!” seru Runa kesal. Malu karena banyak yang memerhatikan. Namun Sehun tak acuh, ia malah menatap manik Runa lekat-lekat dalam jarak sedekat ini, “Keluarkan tanganmu. Pakai ini.” Dia masih menarik kaus putih itu ke bawah, agar Runa tak bisa melepasnya.

“Singkirkan─”

“Pakai atau kucium?” Sehun mengatakannya dengan sedikit marah, “Tidak lihat lelaki-lelaki di sana memerhatikan kalian?” Sejemang Runa diam, mengeratkan gigi hingga pipinya sedikit terkembung. Menyerah, akhirnya ia mengeluarkan tangan, memakai kaus pemberian Sehun dan menordong lelaki itu menjauh. “Bilang saja kau mau pamer tubuh.”

Sekarang Sehun sadar, di samping menarik perhatian dengan perlakuannya pada Runa, ia juga membuat beberapa gadis memekik karena dirinya tak lagi memakai kaus.

“Astaga, aku lupa kalau aku sangat tampan.”

Tanpa aba-aba, Runa mencibir, “Tampan, jidatmu.” Diam-diam menarik kaus Sehun untuk menutupi dagu hingga mulut, memalingkan wajah untuk membiarkan dirinya memerah sesaat.

Sehun bercacak pinggang dan memiringkan kepala, lidahnya baru akan bergerak untuk mengucapkan sesuatu. Namun seruan Mama Seunghee lebih dulu menyela, “Siapa mau semangka?”

Cepat Runa bereaksi, “Aku!” Yakin, deh, larinya paling cepat kalau masalah semangka di musim panas. Di lain sisi, Sehun cuma mengikuti langkah si gadis dengan matanya.

“Oh Sehun, kau serius menyukainya?” Bahkan suara Irene belum mampu menarik pandangan Sehun. Lelaki itu hanya bergumam seadanya.

“Kudengar dari Taehyung, Runa baru putus. Kau yakin dia sudah move on?” Nah, yang ini baru Sehun mau menoleh. Sekarang Irene tahu bahwa Sehun sepenuhnya belum yakin. “Jangan terlalu terburu-buru, Sehun,” ia membuang napas, “kau mungkin siap. Tapi tidak ada yang tahu Runa bagaimana.”

“Adakah orang di sini yang mau menyemangatiku?” Sehun mendesah berat, “Semuanya bilang tidak boleh tergesa.”

“Jangan seperti anak kecil. Jika kau serius menyukainya, dengarkan saja.”

.

.

.

.to be continue

Yang mau ngomong MuBank kemarin omongin aja, aku udah baik-baik aja setelah meratapi nasib dengan gak buka line atau ig sekian lama :’) MuBank aja galau apalagi Planet 4 entar bruuuuuhhhh?

/abaikan/

Btw makin banyak Sehun-Runa moment yah wkwk Mau tanya dong, kalian lebih prefer Seunghee-Baekhyun atau Seunghee-Jungkook? Aku udah nentuin dan nulis tentang mereka sih, cuman mau cari inspirasi lagi, kali aja bisa berubah wkwk.

Btw lagi, aku udah bikin beberapa list FF pake genre lain sih selain school-life, besok kalok 2ND GRADE udah hampir kelar entar deh aku sekalian bikin voting atau apalah. Aku udah rencana tiga judul keknya, dua EXO, satu BTS (yang BTS udah aku post kamingsun-nyaah). Tapi gatau yang ke-reaisasi berapa judul 😦 Mungkin satu 😦 Tergantung akunya juga sih sempet ngelanjut kapan 😦 Lagian proyek yang lain juga belum kelar 😦 Jadi mungkin habis ngerampungin FF ini sama FF kolab sama KakNean, aku bakal selesein yang lain dulu sambil dikit-dikit nulis FF yang udah aku rencanain. Kalok inget jaman 2015 itu suka sedih, kapan aing rajin update lagi kek dulu yah :’v

Udah, gitu aja omongan sana-sininya. Unch ❤ Love You Gaes! Siapa pun kamu, ea.

p.s: aku pen ngomongin Power sih, tapi … hehe ah udah deh panjang ngets yang ada wkwk yang penting ecie Sehun ijo-ijo, tau aja Runa suka ijo /gagitunid/ /paansih nid /ini p.s apaan sih gjls /buang saja nida

.nida

16 tanggapan untuk “2ND GRADE [Chapter 24] by l18hee”

  1. Ka nid,, halooo aku marathon baca ini dari kemarin malem hehehe😂 eh btw ka nid inget aku ga?? Gara gara marathon malah jadi ga sempet komen di setiap chap padahal pengen banget ninggalin jejak di setiap chap, udah lama banget ga main kesini:( kangen ka nid tau:( ka nid pa kabar?? Oh iya btw lagi aku suka sehun disini kayak ada manis manisnya gitu akkk😂🔫 terus runa juga lucu pas yang cy ama runa putus aku nya mengutuk ga jelas😂 entah kenapa aku masih penasaran sama hubungan jungkook-sunghee, sejujurnya aku kangen baca oneshoot-an nya ka nid:( aku bersyukur sih gaya bahasa nya ka nid makin kesini rasanya makin bagus deh, tapu aku tetep suka sama gaya bahasanya.

    Luvchu ka nid ditunggu up nya😘

    1. MASIH INGET LAH 😦 nama tetelan yang membekas wkwk kemana aja kamu teh wkkw aku juga jarang muncul juga sih akhir akhir ini wakakak /tampar
      ih kamu mah, padahal aku pingin tau reaksi di setiap chapter ahaha gapapa deh wkwk
      baikkk dong kabarnya, gimana kamu? :3
      ih sehun mah emang manis ngeuts wkwk tapi ngeselin sih ya ahaha
      kejadian runa-chan putus mengajarkan km untuk cepat move on, harusnya :’v
      hubungan seunghee-jungkook keknya bakal kebuka di chapter depan, gak deng, masih agak lama, lagi proses nulis lagi sih ini ahaha target perminggu rilis biar cepet kelar
      AKU JUGA KENGEN ONESHOTKU /apa ini 😦 tapi jujur sih aku kangen aku nulis oneshot wkwk udah kemarin bikin satu buat ultah canyol wkwk
      tapi nih, aku ngerasa kemampuanku lumayan menghilang karna aku lama gak nulis :’) sedih gitu gaksih :’)

      YUHU minggu ini keknya up deh wkwk :3 makasih yaaw ❤

  2. gemes banget. kapan sih Runa sama Sehun jadiannya? Huh dah gak sabar 😦
    Aku lebih suka Seunghee sama Jungkook, kayaknya gimana gitu. mereka kayak mau tapi malu gitu hahaha.. semangat buat tetep lanjutin ceritanya Kak 🙂

  3. Aaaaa omaigatt omaigat sumpah kak nida jagonya bikin jantungan orang aarggghh,,, ga bisa berhenti teriak sambil guling guling aku kak😍😍. Apalagi pas scene sehun lepas baju trus dikasih ke runa aaaaaiihh sweet banget,, bisa gila aku kak aiiih,, aku ngebayangin klo aku sm sehun kaya gitu,, latrnya pantai,, pasir putih, langit cerah,, cogan bertebaran aaakhh mati aja udah😂😂🔪

    Sumpah sumpah,,, ini tuh ga sehat buat jantung,, siapapun tendang saya ke koreyah sekarang juga,, atau klo mau di paketin pke jne juga gaapapa kok😂😂/plak

    Aku mau seunghee kuki aja deh, soalnya kan baek punya aku/seketika dibakar/ ,, tapi kisah cintanya jangan mulus mulus amat y kak , biar greget😂😂
    Fighting kak😍😘😘😘❤

  4. Udah liat update-an ff ni di inbox email dr jmt kmrn tp br pg ni nyempetin bc krn lg da bbrp hal yg diurus /ikutan quiz2 hunting gratisan 😜 & kuota kbagi 2 😓 bnykn yg mid n8 gt, kembali jd nocturnal. Udah lowbat bgt nih mata tp bgitu bc hun-run moment yg ckp bnyk 😍 & sehun yg narsis’ny over sngt jd ktawa2 😄
    Prnh tu ngalamin tdr yg ky runa /wkt tdr di msjd kntr di bln rmdhn pas jam istrht, kt tmn dah dibangunin 😋 tp ga bangun2!
    누나 dukung kamu bwt buruan jd’in runa pcr hun 😘 /wlw baek n irene srh kamu jgn buru2, hiraukan saja srn mrk! Mimpi indah tu pasti sehun bs tdr smbl holding hand sm runa! 😏
    Smoga kebaikan baek nolongin sehun bs berbuah karma baik bwt baek /nida ksh seunghee bwt baek di ff ni 😀
    Asikk.. Prjct duet sm anne bkl comeback 😍 ku kangen LDA!

  5. kangen sehun runa, akhirnya update lagi hamdalah…
    aku suka seunghee baekhyun, tp juga seunghee jungkook, aku ngikut arus aja lah yaa
    oke deh aku tunggu next chapternya yaa

    1. iyaaa akhirnya update nih wkwk
      oh hahaha xD jadi netral nih seunghee mau sama siap aja, okeokee :3
      iyaa, tunggu ya 😀 makasih udah setia dari dulu u.u aku terharu ❤

  6. seunghee pngnny sih sma baek aja… secra baek lbih unyu2… ntah gk bisa dpksain soalny dri kmren2 seunghee lbih fokus k jungkook… mmmm

    1. hai widya, maaf belum sempet bales komen marathon kamu satu satu :'< tapi makasih yah btw, udah mau ninggalin jejak, sukak deh ❤
      ahaha kecantol sama seunghee-baek nih yaa xD hmm masih cap cip cup mba seungheenya masu sama baek apa jungkuk :'v

    1. wakakak hati-hati, kadang yang manis-manis itu menjebak /apasihnidd/
      lebih prefer jungkuk-seunghee nih? unyu gitu ya :3
      makasih ya sayang ❤ semangat juga buat kamu unch :*

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s