2ND GRADE [Chapter 01]

2ndgradepstr

2ND GRADE [Chapter 01]

─by l18hee

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Baekhyun | [EXO] Sehun | [CLC] Seunghee

[BTS] Taehyung | [RV] Irene | [RV] Wendy | [EXO] Chen | OCs | Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Family | Fluff | Friendship | Hurt | Romance | School-life

.for

Teen

.

Poster by NJXAEM

.

Previous Part:

Prologue [Weclome to 2nd Grade]

.

Now Playing ► Chapter 1 [New Place]

Seperti dua sisi koin, keduanya punya kesan pertama yang begitu kontras menghadapi tempat baru mereka.

.

.

Kwon Runa

Masih di hari pertama tahun ajaran baru.

Setelah berjuang sekuat tenaga mengerahkan energi paginya untuk mencapai gerbang sebelum bel, Runa disuguh dengan pemandangan para siswa berdesak-desakan. Ah, iya, ini hari pertama masuk sekolah. Anak yang naik ke tingkat dua akan mendapat kelas baru, kan? Ritual yang sedikit merepotkan.

Tidak sedikitpun Runa tertarik mengikuti kerumunan di depannya. Kendati kerumunan itu tercipta karena hampir semua siswa ingin tahu mereka berada di kelas mana, Runa masih di titip tak peduli yang sama. Toh nanti papan pengumuman utama akan kosong juga. Jadi yang ia lakukan hanya bersedekap dan menunggu di barisan paling belakang. Sampai seorang lelaki yang kelihatannya baru saja berhasil membuat jalan untuk keluar dari kerumunan, muncul. Lihat, rambutnya bahkan acak-acakan, seperti baru memperebutkan sembako saja. Cengiran yang disuguh agaknya mirip seperti bentuk persegi.

“Runa! Kita sekelas lagi!” Oh, ternyata Byun Baekhyun. Runa satu kelas dengannya tahun lalu, omong-omong.

“Kelas apa?” Lumayan juga Runa tak perlu susah-susah menyela kerumunan.

“2-8, hehe. Kelas paling akhir. Tidak apa-apa, yang penting kita masih bisa sekolah.” Nada semangat yang Baekhyun gunakan sama sekali tak membuat wajah Runa jauh dari aura suram. Bagaimana tidak? Kelas 2-8, kelas paling terakhir di satu angkatan. Seperti yang Baekhyun bilang, kelas yang sejak dulu dicap kurang baik (sebenarnya jelek, tapi itu terdengar kasar), sudah turun-temurun dirumorkan hanya berisi siswa yang butuh perhatian lebih. Nah, pokoknya semua gambaran jelek di pikiranmu itulah 2-8.

Dan, Demi Tuhan, apa yang telah Runa lakukan hingga ia masuk 2-8?

“Oi! Chen! Kita sekelas loh!” Seruan Baekhyun menarik Runa ke alam sadar, “Oh! Wendy juga! Ini bakal seru! Kita juga sekelas dengan Seunghee, loh!” Runa mulai curiga, jangan-jangan Baekhyun menghafal semua nama anak 2-8 tadi.

Mendadak saja Runa teringat sesuatu, “Baekhyun, apa Cha Yulbi juga masuk kelas kita?” Setelah mendapat anggukan dari Baekhyun, Runa segera angkat kaki. Tak peduli pada seruan si lelaki yang menyuruhnya untuk menunggu. Tidak apa-apa jika masuk kelas 2-8, Runa harus mulai memotivasi dirinya sediri agar tidak terlalu terpuruk. Cari bagian baiknya, sekelas lagi dengan Yulbi sama sekali bukan hal buruk. Mengingat mereka banyak menghabiskan waktu bersama di tingkat satu.

Ah, benar. Cha Yulbi sudah ada di dalam kelas. Bersama dua gadis lain, tengah mengobrolkan sesuatu yang seru.

Runa berjalan mendekat hingga Yulbi melihatnya. “Runa? Kau juga masuk kelas ini?” Sepertinya ekspresi Yulbi tidak senang sama sekali. Merasa aura di sana berubah aneh, Runa mengurungkan niatnya untuk menyapa dengan senyum hangat, berganti dengan lengkung kurva seadanya, “Iya. Kebetulan sekali ya, kita satu kelas lagi. Baguslah, kita bisa main bersama seperti di tingkat satu.” Kendati sedikit sulit, Runa mencoba terkekeh sebentar.

“Hm, iya.” Menyuguh senyum simpul yang sangat kentara begitu dipaksakan, Yulbi melirik dua gadis di sampingnya. Berhubung radar sosialnya berpijar, Runa langsung mengulurkan tangan pada salah satunya, “Sepertinya aku harus tahu namamu. Aku, Kwon Runa.”

“Yoon Yura.” Melihat respons yang tidak terlalu wah-aku-senang-berkenalan-dengan-mu, Runa beralih pada gadis terakhir, “Dan kau?”

“Han Nami.” Kalau ini memberi reaksi seperti aku-terpaksa-menjabat-tangamu-loh. Rasanya suasana jadi tidak enak. Um, apa hanya perasaan Runa saja yang sedikit canggung karena ini kali pertama?

“Apa salah satu bangku di samping kalian ada yang kosong?” Entah apa yang membuat Runa masih saja menyuguh senyum. Berusaha mati-matian agar tidak canggung. Diberi jawaban berupa gelengan kepala pun ia masih menyaji kurva, “Aku kurang pagi untuk memilih bangku, ya? Baiklah, di belakang juga tidak buruk.” Dia terkekeh sebelum melangkah menuju deret bangku belakang.

Setelah suara yang baru ia tebar menguap hilang, Runa segera menulikan telinga. Sayangnya, ucapan Yulbi terlanjur tertangkap oleh indra pendengarnya.

Tuh, kan, apa kubilang? Dia selalu menempel padaku. Risi, tahu.”

… Risi tahu.

“Oi, Runa! Aku duduk di sampingmu, ya?” Kemunculan lelaki berisik bermarga Byun seakan menghancurkan niat Runa untuk memasang tampang muram. Bukannya bahagianya datang atau bagaimana, dia hanya tak ingin terlalu pamer ekspresi dengan sang lelaki. Berhubung Runa sedang tidak mood bercanda, dia diam saja. Memandang Baekhyun pun tidak.

“Kau masih sedih karena masuk 2-8?” Pertanyaan si lelaki sama sekali tak mendapat balasan. Baekhyun yang masa bodoh justru berseru pada dua orang yang baru melangkahkan kaki memasuki kelas, “Chen Chen! Bangku di depanku kosong!”

Astaga, kapan Byun Baekhyun bisa diam?

Nyatanya, setelah Guru Bok memperkenalkan diri sebagai wali kelas, tempat duduk pun diacak. Runa tidak menggubris sama sekali protes kecil dari bibir Baekhyun yang masih terdengar.

“Byun Baekhyun aku bisa melihat bibirmu maju dari depan sini,” teguran Guru Bok sontak membuat Baekhyun diam. Tapi masih mengerucut sebal. Tak mengindahkan kelakuan kekanak-kanakan sang murid, Guru Bok kembali membuka mulut, “Baik, satu orang ambil satu kertas berisi nomor yang sudah disiapkan. Tempat duduk dihitung dari ujung kiri paling depan, lalu ke belakang, seperti pola ular. Mengerti?”

“Ya, Pak.”

Setelah dipersilakan mengambil undian bangku, seisi kelas langsung berebut kertas. Berhubung Runa duduk paling belakang, dia tidak ikut berlari ke depan. Tenaganya beda dengan Baekhyun yang masih kuat berebut kertas─yang si lelaki sendiri tak tahu apa isinya.

Pada akhirnya Runa mendapat kertas juga, walau sisa.

Seusai masing-masing mengemas barang, Guru Bok memberi aba-aba sebelum semuanya berpindah bangku. Mood Runa sedikit membaik ketika ia tidak perlu susah berpindah tempat. Mendapat nomor yang sama dengan bangkunya mungkin sebuah keberuntungan. Keberuntungan yang lain adalah si berisik Byun pindah ke deret bangku ketiga dari depan.

Sebagai penutup kejutan pagi, Runa mendapati seorang gadis yang terkesan dingin menempati bangku di sampingnya.

“Hai, aku Kwon Runa.” Runa harap di salam perkenalan ketiganya pagi ini berjalan lancar, tidak seperti tadi.

“Oh Seunghee.”

Hah? Siapa katanya? Setahu Runa, Oh Seunghee masuk dalam deretan sepuluh besar paralel di tingkat satu. Ini memang kali pertama Runa memperkenalkan diri, tapi ia tidak tahu pemilik nama yang sering nangkring di papan pengumuman itu adalah gadis yang sedang duduk di sampingnya.

“Oh Seunghee yang kemarin masuk sepuluh besar paralel?” Dan sebuah anggukan membuat Runa membatin tak percaya. Apa Seunghee melakukan hal besar hingga bisa masuk ke 2-8? Mendapat peringkat sepuluh besar paralel di Chunkuk High School adalah sebuah pencapaian yang perlu dibuatkan perayaan─walau kecil-kecilan. Ah, Runa jadi berpikir, dia masuk ke sini karena faktor keberuntungan. Dia kan, bukan masuk dalam deretan siswa pandai di sekolah. Mungkin ini sebabnya ia masuk 2-8.

“Wah, kau keren, ya? Aku dapat sepuluh besar di kelas saja sudah bersyukur.” Salah satu yang sulit Runa tangani adalah menutup mulutnya saat dirinya begitu tertarik pada topik bahasan. Paling tidak yang diajak bicara menyuguh senyum tipis seadanya, “Terima kasih.”

Um, kedepannya mungkin Runa harus terbiasa dengan Seunghee yang lumayan hemat kata. Atau ini hanya efek kecil mereka yang baru berkenalan? Tadinya Runa akan kembali diam dan membenahi bukunya, namun mendadak saja Seunghee membuka suara, “Baekhyun itu pacarmu?”

“Kenapa kau menanyakan hal aneh?”

Sebagai jawaban, Seunghee menunjuk sosok Baekhyun dengan dagunya, “Dari tadi dia berusaha memanggilmu. Baekhyun terlihat tidak senang pindah bangku.” Sontak Runa memasang wajah datar, “Kami dulu teman sekelas, jadi sudah lumayan akrab.” Padahal sejujurnya di tingkat satu pun Runa jarang main bersama Baekhyun, apalagi mengobrol dan berbincang akrab. Dia hanya tidak ingin memperpanjang jawaban dengan mengatakan yang sesungghunya. Bahwa Baekhyun memang tipe orang yang seperti itu pada semua orang, dan bukan hanya pada pacar─setidaknya menurut Runa sekarang.

Memberi wajah terganggu pada Baekhyun adalah yang Runa lakukan. Berhasil, si lelaki memimta maaf tanpa suara sebelum berpindah mengganggu yang lain. Dasar kurang kerjaan.

.

.

.

Mengumpulkan niat untuk menyapa Yulbi kala bel istirahat makan siang berbunyi, Runa sedikit ragu. Seperti sebuah dilema. Yulbi yang dulunya senang mengobrol banyak dengannya entah kenapa dalam selang liburan terakhir berubah drastis. Tanpa tahu apa-apa Runa sudah berdiri di luar batas lingkaran kepedulian yang Yulbi gambar.

Kenapa?

Apa alasannya?

Bahkan kini Yulbi bergegas memutus tatapan walau Runa sudah menunjukkan gestur ingin menyapa.

Kendati berbagai persepsi sudah ia susun, tetap saja tidak mencapai titik terang. Hubungan pertemanan mereka terlalu mulus untuk ukuran sikap menghindar milik Yulbi sekarang. Kecuali jika insiden Runa tak sengaja menabrakan sepeda Yulbi ke tembok sebuah toko, dihitung sebagai kesalahan besar. Jika iya pun memangnya dua goresan tak sampai tiga senti berakibat sefatal itu? Sedikit tidak masuk akal, benar kan?

“Serius, apa sebenarnya salahku?” Runa mencoba berpikir keras. Kali saja ada hal penting yang tak sengaja ia lupakan. Benar-benar, deh. Hari pertama di tingkat dua tidak ada bagus-bagusnya jika begini caranya.

“Banyak, jika kau ingin tahu.”

Segera saja Runa menoleh, demi mendapati Baekhyun yang berdiri tepat di belakangnya. Si gadis langsung memutar mata, jengah. Sementara melihat itu Baekhyun kembali membuka katup bibirnya, “Mau aku tuliskan kesalahanmu dalam daftar?”

Bersikap mengabaikan, Runa mengambil langkah menuju ke kantin. Bisa-bisa dia kehabisan jatah makan siang jika terus meladeni Baekhyun. Namun sang lelaki melakukan hal yang sama, pun masih tetap ngotot mengoceh panjang, “Terlalu cuek padaku. Tidak peduli padaku. Tidak mau menyapaku. Tidak mau tersenyum padaku. Hari─”

“Diam.”

“─Hari ini tidak semangat. Sedikit kurang merapikan rambut. Berkata dengan nada yang menyakitkan hati Byun Baekhyun.” Baekhyun mengambil napas, “Dan yang paling parah, sejak SMA tidak pernah mau main lagi denganku. Jahat sekali.” Sungguh, Byun Baekhyun seperti bocah tujuh tahun.

Niatnya Runa ingin langsung menyembur saja, tapi mendadak ia teringat sesuatu. Butuh waktu baginya untuk berdiam diri memikirkan hipotesisnya sendiri. Di lain sisi, Baekhyun justru melihatnya sebagai isyarat penyesalan─jelas saja anggapan yang terkesan dipaksakan.

“Nah, kau menyesal, kan? Harusnya memang menyesal. Kita sudah berteman sejak tingkat akhir di SMP, mustahil kau tidak menyesal telah mengabaikanku selama ini. Apalagi─”

“Diam.” Runa sedikit mendongak untuk menatap Baekhyun, “Dia marah karena kau. Dia marah karena seorang Byun Baekhyun terus menggangguku.” Setelah menjentikkan jari, si gadis seakan mendapat kesimpulan penting, “Cha Yulbi suka padamu, dan dia mengira kau menyukaiku. Oh, begitu, kenapa aku baru sadar, bodoh sekali.” Dia bergumam di akhir kata. Membuat Baekhyun mengerjap beberapa kali sebelum bertepuk tangan, “Wow, jika Runa sudah berubah aneh artinya dia kembali menjadi Kwon Runa yang menyenangkan!”

Dan satu pukulan mendarat di lengannya. Baekhyun segera menutup mulut. Membiarkan Runa kembali termenung beberapa saat. Dia mulai mengingat beberapa reka ulang kejadian yang pernah ia lakukan bersama Yulbi. Sialan, betapa bodohnya ia tak mengetahui jika Yulbi ternyata sedikit aneh jika membahas perihal Baekhyun semenjak liburan lalu belum dimulai, tepatnya saat semester dua tingkat satu.

Melihat Runa begitu serius hingga membuat alis hampir menyerupai sudut siku-siku, Baekhyun mengehela napas. “Cha Yulbi tidak pernah serius berteman denganmu.” Bahkan kata teman dirasa terlalu bagus.

“Maksudmu?”

Kali ini Baekhyun menarik napas panjang, “Dia sering membicarakanmu di belakang, loh. Di depanku juga. Aku tidak bohong.” Runa termenung. Antara ingin tidak percaya dan─

“Buktinya aku tahu orangtuamu bercerai tahun lalu.”

Baiklah, Cha Yulbi memang keterlaluan.

“Mereka tidak bercerai.” Runa berkata dengan nada tegas dan tidak dapat dibantah, “Hanya pisah hunian untuk sementara.” … hingga hati keduanya sama-sama sembuh seperti semula. Tentu Runa tak meneruskan ucapannya hingga akhir. Dia sudah terlanjur marah. Bercerita tentang masalah pribadi pada Yulbi ternyata salah besar.

Dan hanya dalam waktu sekian detik, perasaan bersalahnya berganti menjadi emosi yang sukar dibendung.

Persetan dengan pertemanan satu tahun terakhir. Bila diisi dengan omongan di belakang hanya karena kesalahpahaman, sama saja seperti kotoran pengganggu bagi Runa. Tidak berguna. Terserah saja Yulbi mau bagaimana sekarang. Mau menjauh, mau jungkir balik, mau membeberkan semua tentangnya, Runa memilih mulai tak peduli. Untuk sekarang, tak ada yang lebih membusukkan di dunia daripada orang bermuka dua dan tidak bisa dipercaya.

“Oh, um, begitu.” Sepertinya Baekhyun sadar dirinya baru saja melontarkan topik sensitif, “Eh, ke kantin, yuk. Nanti bisa-bisa kita hanya mendapat sisa, hehe.”

Baekhyun harap cengirannya tak menambah buruk keadaan. Tidak begitu buruk, sih. Hanya saja Runa begitu saja pergi tanpa meninggalkan sepatah kata berarti.

“Aduh, dia marah.”

.

.

-0-

.

.

Oh Sehun

“Aku tahu tempat bagus untuk latihan.”

Seumur hidup Sehun berteman dengan Taehyung, baru kali ini lelaki itu begitu bangga. Di saat menjemukan seperti ini, apa yang lebih menyenangkan dari memiliki tempat latihan baru di luar jam sekolah? Sekalian tempat untuk nongkrong. Dulu, sih, mereka tidak perlu menyewa tempat karena ada satu ruang tak terpakai di rumah Irene. Tapi semenjak Irene pindah rumah sebelum liburan lalu, mereka harus mencari tempat baru. Tidak mungkin, kan, menyewa tempat sekali pakai? Pemborosan uang jajan banget.

“Di mana? Berapa harga sewanya?” Berhubung Sehun tahu tak ada yang gratis semudah itu, dia jadi lebih berhati-hati. Bisa gawat jika sudah terlanjur memakai tempat, malah harga sewanya membumbung tinggi. Mau dapat uang dari mana? Menjual diri? Oh, ayolah.

“Lebih murah dari yang terakhir ditawarkan Irene. Tempatnya lumayan bagus dan dekat minimarket. Lumayan, kan?” Taehyung mempromosikan dengan semangat. Dia bisa dapat bonus lebih jika berhasil menawarkan tempat kali ini. Negosiasi bagi hasil yang dilakukan secara tak sengaja dengan pemilik tempat, tidak akan berakhir sia-sia.

Sehun berpikir sebentar, ia beralih pada Irene yang baru saja membuka kotak susunya, “Bagaimana menurutmu? Ambil, tidak?” Permintaan saran yang lumayan sulit, karena Irene sendiri tidak akan sering menggunakan tempat latihan kendati Sehun mau membayar uang sewa, “Em, menurutku, sih, tidak usah diambil.” Lebih cepat dari jawaban Irene, Sehun segera menjentikkan jari di depan wajah Taehyung, “Oke, kita survey tempatnya nanti. Ajak Jongin dan yang lain juga.”

Mengetahui itu, Irene memasang wajah datar, “Kalian berdua, jangan bertanya padaku lagi!” Kedua lelaki kurang ajar yang katanya berada di daftar teman hanya menebar tawa lebar. Teman kurang ajar.

Berhubung sekolah hari pertama belum terlalu efektif, mereka bisa menuju tempat yang dibicarakan Taehyung lebih awal. Ruangannya lebih kecil dari yang Sehun bayangkan, pantas harganya sedikit miring. Tapi tidak terlalu kecil juga, sih. Tempat yang berada di lantai dua ini masih sangat kosong. Yang berharga mungkin hanya lantai mengkilapnya yang cocok dengan gerakan dance atau pun lompat-lompat tak jelas. Masalah cermin besar untuk dinding, yang kemarin masih bisa dipakai─dan untung belum dibuang. Perabotan tambahan, gampang diangkut dengan mobil Taehyung.

“Serius, kita harus ambil ini.” Belagak terlampau kagum, Taehyung meletakkan tangan di pinggang. Sehun terlihat berpikir; menyedekapkan tangan di depan dada. Setelah menghabiskan waktu semenit penuh, lantas ia menoleh pada Jongin, “Bagaimana? Kalau iya, patungan untuk uang sewa kita bahas besok di kelas. Hari ini bayar uang muka dulu.”

“Lantainya bagus,” komentar Jongin. Tuh, kan, benar penilaian Sehun.

“Yang kurang selain cermin dan sofa kecil hanya … beberapa snack, kurasa.” Seusai ucapan Sehun, Taehyung bertepuk tangan semangat, “Untung di dekat sini ada minimarket. Jika lapar kita bisa membeli ramen di sana.”

“Baik, ambil saja.” Mengambil keputusan, Jongin menyuguh cengiran, “Yang lain pasti setuju. Ini tempat paling layak dengan harga sewa termurah sejauh yang kita tahu.”

“Oke, setuju!” Sehun menjentikkan jari, “Besok sepulang sekolah kita ambil sofa dan cermin di rumah Irene. Dan sepertinya kita harus segera menghubungi pemilik tempat.” Merasa paling tahu, Taehyung lalu mengangguk, “Kemarin aku sudah bilang kita akan melihat-lihat. Jadi langsung saja, bagaimana?”

“Setuju!”

.

.

-0-

.

.

Kwon Runa

From: Ayah

Pulang jam berapa? Bisa lebih awal? Teman ayah yang baru diangkat menjadi  pengacara publik, nanti akan datang. Kau bisa sedikit belajar.

Mengembuskan napas panjang, Runa menggigit bibirnya diam-diam. Jika ayahnya sudah begini, itu artinya masa menyebalkan sedang berlangsung. Setelah memikirkan jawaban yang pas, beberapa kali menghapus pesan, lantas mengganti dengan yang baru, akhirnya Runa mengirim pesannya.

To: Ayah

Aku ada kelas tambahan. Maaf tidak bisa pulang lebih awal, Ayah.

Padahal dia sendiri baru saja melewati gerbang sekolah dengan ransel di punggung. Dan sekadar informasi, les di luar sekolah belum dimulai. Langkahnya menuju halte mendadak melambat. Keinginannya untuk pulang tiba-tiba saja hilang. Heol, di mana dia yang tadi sangat mendamba bel berakhirnya pelajaran? Rupanya, dunia bisa cepat berubah dalam sekali kerjap.

Pada akhirnya ia menghabiskan waktu lebih lama di halte. Mendengarkan musik seraya menebar pandang. Baru saja sekolah hari pertama, tapi sudah diisi dengan banyak hal yang lumayan mengesalkan. Masuk di 2-8─Runa harap ayahnya tidak bertanya nanti. Tentang Yulbi, yang sungguh demi apa Runa muak saat mengingatnya (berhubung dia baru saja sakit hati). Tentang sang ayah yang masih saja bersemangat menjadikan Runa sebagai pengacara handal di masa depan.

Pasalnya, menjadi pengacara bukanlah hal yang ingin dia lakukan. Ia punya keinginan lain sejak dulu; menjadi arsitek. Berhubung menjadi arsitek harus dicoret semenjak ia menyatakan diri sebagai pembenci hitung-hitungan, Runa berpikir untuk mencari impian lain. Sedang sedih-sedihnya begini ayah malah mengingatkannya pada hal menyebalkan. Jadi daripada bertingkah tidak sopan─karena melakukan hal dengan setengah hati─di depan teman ayahnya, lebih baik menghabiskan waktu di halte sedikit lebih lama, bukan?

Baru saja akan mengganti playlist yang lebih pas dan membenarkan sumbatan earphone di telinga, sebuah panggilan mendadak masuk.

Yang pertama berucap setelah telpon tersambung adalah Runa, “Sudah sampai rumah?” Segera saja sebuah bariton menyahut, “Harusnya itu jadi pertanyaanku.” Kerutan di kening Runa tercipta.

“Hei, apa bangku halte sebegitu nyamannya hingga kau terus di sana?”

Kemudian Runa mengedar pandang, demi menemukan sosok lelaki jangkung berjalan dari arah jalan menuju sekolah. Senyum gadis itu mengembang. Yang sejauh ini merupakan senyum paling lebar sejak hari dimulai.

“Chanyeol? Kukira kau sudah pulang,”

.

.

.

.to be continue

 

Chapter pertama rilis setelah sehari yang lalu prolog mucul ehehe (SEHARI PALA LU! SEBULAN WOY, LEBIH MALAH/dibakar). Masih burem gitu ya hubungan mereka? Iya sengaja/dasar. Silakan tebak itu sebenernya ada apa sama Runa-Baek (karna jawaban pasti akan dimunculin di chapter kedua ahai). Dan apa-apaan itu? Kenapa Chanyeol muncul? Siapa yang suruh dia muncul sekarang?/nid/  -_-

Sehun: *kibar bulu ketek* enggak tuh, biasa aja, alay lu nid.

(siapa pun tolong balang Sehun)

/gak

Jadi ada semacam bonus yang entah bisa aku kasih di setiap chapter atau enggak. Tapi yang jelas di chapter ini GAK ADA ahaha. Tapi ada kok di chapter depan, soalnya udah selesai (jadi kenapa gak sekarang nid?/gapapa/ ditabok) Apa itu? Jengjengjeng~ About 2nd Grade! Gak pada mudeng pasti HAHA (maklumin anak sengklek ini wahai pembaca sekalian). Jadi sedikit-sedikit fakta tentang fiksi yang masih on going ini. Aslinya mau berbagi fakta OhSeh/ByunBaek/ParkChan versi di 2nd Grade, tapi terlalu cepat dan dikhawatirkan akan menimbulkan spoiler berlebih, jadi dipending wakakak. Biar kalian bisa lebih memahami dan kenal juga sama para pemeran dan staff di fiksi ini/uhuk/

❤ udah gitu aja, semangat yang mau UTS😉 /aku juga UTS kyaaaa xD/geplaked❤

p.s: mungkin akan update seminggu sekali

.kecengan OmSehun; nida

12 thoughts on “2ND GRADE [Chapter 01]

  1. Ping-balik: 2ND GRADE [Chapter 04] | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping-balik: 2ND GRADE [Chapter 03] | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping-balik: 2ND GRADE [Chapter 02] | EXO FanFiction Indonesia

  4. demi sendal swallow diapit ketek sehun, ku tak mengerti cuap cuap mu ka. udah lama ga baca ff school life chapter. mengobati rasa rindu dan gegana karena tanggal 15 sep kemarin merayakan satu tahun belom updatenya ff di blog sebelah, ada deh ff ini. eeeaaa, pengen ih chanyeol jadi pea disini. sehun juga, pengen baekhyun jadi cool tapi aku tauk itu semua gamungkin. ini ff kedua yg lagi aku pantengin! senaget ka jan ngaret updatenya yoo keypikss.

    • wakakak demi apa ketek sehun bulunya tebel/nid/ ndakpapa gak ngerti gak ngaruh juga ke cerita beb wkwk
      ini mungkin proyek school-life chap terakhir riz kalok aku mentok gabisa nerusin behind the scenes versi chan😦 sedih dd
      semangat beb :*
      ahahaha pan kapan yah karakter mereka aku acak :’v

  5. Sebenarnya aku cukup penasaran siapa saudaranya sehun, dia satu sekolah sama runa kah? Bukan ya? Kalo iya, mungkin seunghee? Berhubung marganya oh, tp itu katanya kan saudara tiri, atau mungkin si byun baek? Entahlaha, nanti juga ketahuan sendiri, semoga aja nida updatenya cepet amiin/ ngarep banget
    Yaudah lah yang penting aku tunggu next chapternya ya..

    • aku juga penasaran siapa sodaranya sehun, dia gak ngaku kalok ditanyain/gakgitunid/
      iya doakan aku updatenya cepet :’) maunya cepet dikelarin aja biar enak wkwk tapi keknya bakal sedikit panjang hehe
      iyaap ditunggu terus yaa ihik :3 makasih❤ :*

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s