2ND GRADE [Chapter 26] by l18hee

2ndgradee

2ND GRADE

─by l18hee

.

Now Playing ► Chapter 26 [Like Roller Coaster]

You speedup, then you slowdown. Idiot.

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Sehun

[CLC] Seunghee | [BTS] Taehyung & Jungkook | [RV] Irene | [17] Sunyoung

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Family | Friendship | Romance

.for

Teen

.

Previous Part:

Prologue | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25

.

.

Usai liburan besar kemarin, kini saatnya bertemu dengan setumpuk tugas. Bukan masalah besar bagi Runa, sih. Berhubung dia memang ingin mengalihkan pikiran pada hal yang lebih penting dan tidak membuat efek berlebih pada hatinya.

Di perpustakaan kota, ia membawa salah satu tugas paling berat yang membutuhkan beberapa referensi buku. Oh, bersama Seunghee juga. Memang yang mengajak lebih dulu sang karib, tapi berhubung Runa tidak begitu ingin menyambahi rumah gadis itu jadi ia mengusulkan belajar di perpustakaan.

Begini, semenjak kejadian Sehun menyatakan perasaan, inginnya Runa ingin menjaga jarak untuk sejenak. Bukan artinya dia risi atau bagaimana. Hanya saja Runa jadi tak enak hati, pun di sisi lain ingin mengelak dari apa yang ia rasa. Dia akui Sehun memang makin lama makin memberi efek manis tersendiri kala berinteraksi. Tapi seperti yang sudah Runa katakan waktu itu, semuanya terasa begitu cepat. Ia baru akan berhasil sepenuhnya meninggalkan Chanyeol di belakang, dan mendadak saja Sehun muncul. Sensasinya mengejutkan, terlalu mendadak.

“Aku dapat satu lagi,” suara Seunghee terdengar bersamaan dengan sebuah buku yang diletakkan di samping Runa. Sejemang manik Runa bergerak untuk membaca judul, sebelum akhirnya meraih buku tersebut, “Oh Seunghee selalu bisa diandalkan.” Dia tersenyum senang, “Kalau begini caranya masih ada sisa musim panas yang bisa dijadikan me-time.”

“Masih belum cukupkah memotret banyak hal akhir-akhir ini?” Mengambil tempat di samping Runa dan mulai meneruskan bacaannya adalah yang Seunghee lakukan. Dia bisa merasakan gadis di sampingnya membalik lembar buku.

“Kau lupa aku masih harus belajar menggambar?” Tidak menoleh, tapi Runa bisa membuat Seunghee mengedik bahu. Sejujurnya Seunghee ingin menanyakan banyak hal. Dia merasa ada sesuatu yang berbeda antara Sehun dan Runa semenjak liburan ke pantai berakhir. Sehun tak pernah menyenggol nama Runa, pun sama dengan si gadis. Bahkan diajak ke rumah dengan alasan belajar bersama gadis itu menolak halus. Namun berhubung mencampuri urusan orang lain yang kelihatannya tak dibukakan celah untuk masuk, barangkali Seunghee perlu banyak waktu untuk berpikir sendiri.

“Ada yang ingin kau tanyakan?” Rupanya Runa perasa juga. Entah bagaimana dia bisa tahu ada hal yang coba diungkapkan Seunghee di sini. Kemungkinan tentang apa bahasan yang akan Seunghee tanya memang sudah tercetus di benak Runa, tapi gadis ini mencoba bersikap tenang dan biasa. Kala Runa menoleh, Seunghee melakukan hal yang sama. Ada jeda beberapa detik dan suara Seunghee lantas terdengar, “Apa gelagatku begitu terlihat?”

Kedikan bahu Runa tunjukkan, “Hanya menebak.” Dia kembali fokus ke bukunya, sementara Seunghee memberanikan diri untuk bertanya, “Apa kau dan Kak Sehun sedang bersitegang?”

“Tidak. Kami biasa saja.” Sama sekali tak ada ekspresi penting yang ditunjukan, sampai Runa meneruskan, “Apa dia mengatakan sesuatu padamu?” Bisa jadi duluan memastikan Sehun tak bercerita banyak itu lebih baik.

“Tidak, sih.” Atau mungkin belum. Seunghee belum bisa memutuskan dengan pasti ia akan menjawab dengan kalimat yang mana. “Aku cuma merasa ada yang berbeda. Padahal saat di pantai aku makin yakin Kak Sehun memang punya perasaan padamu. Tapi semuanya berubah sangat cepat. Lumayan aneh.”

Sambil menulis dan mengambil jeda hening sekian saat, Runa akhirnya membuka mulut untuk memberi nada suara yang kelewat santai, “Perasaanmu saja, mungkin.”

Yang Seunghee tangkap adalah tak ada Runa yang mengelak saat dipojokkan atas nama Sehun─dengan menyebut si lelaki memiliki rasa sendiri pada sang gadis. “Hm, benarkah?” Nadanya pelan, tapi menyirat segudang ketidakpercayaan.

“Benar.” Dan seakan-akan Runa ingin menghancurkan segala ketidakpercayaan yang ada melalui caranya menjawab lugas. “Kau tidak berniat menjodohkan kami, kan?”

Mana ada yang begitu? Seunghee menghela napas terang-terangan, “Aku tidak perlu menjodoh-jodohkan. Memang kelihatannya di antara kalian ada apa-apa.” Sepertinya mulai lepas kendali pada mulutnya. Tak mau termakan kesal, Runa begitu saja bangkit dari duduknya dan bergumam kecil, “Aku ke toilet dulu.”

Nah, kalau begini caranya, Seunghee makin yakin ada sesuatu yang terjadi antara Runa dan Sehun.

.

.

.

-0-

.

.

.

Sisa libur musim panas entah kenapa tak begitu berefek bagi kotak kesenangan Sehun. semenjak kejadian di pantai, dia lebih banyak berdiam diri. Bukannya setres atau terpuruk, ia hanya mencoba menelaan apa yang selama ini telah dilakukan. Dan memang, walau dipikir berapa kali pun Sehun merasa bahwa harusnya ia lebih bisa menahan diri untuk tak terlalu cepat menyatakan perasaan.

Sekarang pun ia masih sempat-sempatnya berpikir, seraya membaringkan diri di ranjang dan menatap langit kamar dengan tangan sebagai bantalan. Sekian detik kemudian mendadak pintu diketuk. Tanpa sebuah perijinan masuk, pintu kamarnya terbuka dan memunculkan sosok Taehyung serta Irene.

“Oh, jadi sibuk versi Oh Sehun adalah tiduran di kasur sambil memandang langit kamar sepanjang hari?” ujar Irene sarkastik. Terlanjur kesal karena pesannya yang sudah-sudah tak begitu digubris dengan alasan sibuk.

“Sibuk menata hati,” kata Sehun yang sudah mendudukkan diri─omong-omong dia belum mandi. “Beri aku satu,” pintanya pada Taehyung yang tengah mengeluarkan kaleng soda dari dalam plastik. Lalu tanpa menunggu lama Sehun medapatkan kaleng soda di tangannya. Sementara Irene mencari celah nyaman untuk duduk, Taehyung akhirnya membuka mulut, “Tidak ke markas?”

“Malas.”

“Tidak bertemu Runa?”

Untuk pertanyaan barusan, Sehun melirik dalam diam. Kentara sekali ada sesuatu yang langsung ia pikirkan. Tak menemukan jawaban yang pas, ia hanya menyuguh kedik bahu. Membuat Irene mengangkat satu alis pertanda heran, “Ada sesuatu dengan Runa?” Sempat ia berpikir jika Runa baru balikan dengan mantannya atau bagaimana, namun pemikiran ini langsung ditebas Sehun.

“Waktu di pantai─” jelas sekali ada ragu, “─aku menyatakan perasaan.” Taehyung dan Irene langsung memberi atensi penuh, sedang Sehun mendengus agak keras, “Dan semua tidak berjalan lancar.”

“Apa yang dia katakan?” pelan, Irene bertanya. Dia beranjak dari duduknya dan berpindah ke tepi ranjang Sehun dengan tangan terlipat di depan dada.

“Katanya semuanya terlalu cepat.” Kemudian tanpa menunggu banyak detik, Sehun mendapat pukulan di kepala. “Kubilang apa! Oh Sehun, belajarlah menerima saran orang lain!” Entah kenapa malah Irene yang geram. Di sisi lain Taehyung malah sibuk memasukan kudapan ke mulutnya, menonton dua karibnya saling menatap kesal.

“Sekarang bagaimana? Kalian canggung, kan?” Berselang satu hela napas, Irene membuka mulut lagi, “Dia baru saja putus dan dalam masa move on. Walau─anggap saja, dia juga tertarik padamu, tentu ada rasa terkejut sendiri berhubung kalian pun baru jalan lebih dekat akhir-akhir ini.” Ada petuah panjang yang perlu Sehun dengar, sepertinya. Irene mana peduli, yang penting ia menyalurkan pemikirannya, “Kubilang pelan, bukan berarti lambat. Semua butuh strategi dan pengaturan waktu yang pas. Kalau kukira-kira kemarin, saat paling tepat menyatakan perasaan itu waktu semester dua. Bisa lebih cepat kalau hubungan kalian berkembang pesat.” Irene tak begitu peduli Sehun makin memasang wajah kesal seraya menghempaskan diri lagi di ranjang. “Kau mungkin memang menyukainya, Sehun. Tapi coba kau pikir, apa pendapat orang lain jika mendadak saja Runa punya pacar lagi setelah belum lama putus? Ini juga berdampak pada pandangan orang padanya―pada hubungan kalian.”

Helaan napas Sehun terdengar disela suara kunyahan kripik di mulut Taehyung.

“Apa aku harus menyerah?” Pertanyaan yang sulit. Bahakan seseungguhnya Irene pun tak begitu memahami.

“Jangan.” Tak diduga malah Taehyung yang bicara, masih dengan beberapa remah kripik yang mencuat dari mulut, tentu saja. “Bersikaplah seperti biasa. Kita lihat perasaanmu akan bertahan lama atau tidak.” Sontak Irene menjentikkan jari, lalu menunjuk Sehun, “Kali ini aku setuju dengan Kim Tae.”

“Oke,” Sehun memutuskan, “Mari bersikap biasa saja. Kalian berpuralah tidak tahu apa-apa.” Yang pertama menanggapi adalah Taehyung, “Lalu, mau ke markas dan mampir minimarket?”

Diam adalah yang Sehun lakukan, dia mengusap rambut depannya beberapa saat, “Memang rindu, sih,” ia mengedik, “tapi sepertinya aku belum siap jika bertemu sekarang.”

“Lantas kapan lagi? Sampai musim gugur datang? Atau bahkan sekalian musim dingin? Tahun depan?” Putaran mata yang Irene lakukan sungguh mencerminkan remeh yang dirasa. “Aku masih sangsi kau serius menyukainya jika begini.”

“Diamlah.” Kesal, Sehun berpindah memunggungi Irene dan Taehyung, “Pulang sana. Aku mau tidur.”

Tak ada yang bisa Irena maupun Taehyung lakukan, sebab inti permasalahan adalah hal yang sukar mereka jamah. Hati Sehun atau Runa, tidak ada yang tahu pasti.

.

.

.

-0-

.

.

.

“Bagaimana?” ujar Soojung dengan alis terangkat.

Sehun terdiam, memandangi gambar yang ditunjukkan tepat di depan mukanya. Seorang lelaki dengan gaya rambut pirang ada di sana. Dia menyangga dagu dan memilih mengamati lebih dalam. Lantas karena bosan menunggu terlalu lama, Soojung mendengus dan membuka mulut lagi, “Ini cocok untukmu, kujamin. Hanya sebulan berambut pirang tidak masalah, bukan?”

“Biar kupikirkan lagi,” putus Sehun. Dia sedikit melirik ke arah Jongin yang tengah mencuri-curi lirik ke arahnya―sebenarnya ke Soojung. “Hei, Kim Jongin. Kautakut Soojung kurebut karena aku baru saja ditolak?” Dan gadis yang dibicarakan langsung memberi tepukan cepat di meja, mendelik kesal. “Jangan mengalihkan topik.”

“Aku harus pikirkan dulu. Bisa-bisa aku dianggap frustasi karena patah hati.” Yah, walau kenyataannya begitu, sih. Tapi setidaknya hati retaknya jangan terlalu keliahatan.

Sudah banyak hari berlalu semenjak insiden ditolak yang Sehun alami. Sekolah sudah dimulai, drama untuk ujian semester pun mulai semakin gencar dipersiapkan. Salah satu persiapan yang Soojung sarankan untuk Sehun adalah meminta lelaki itu mengganti waarna rambut menjadi lebih terang; pirang atau kelabu. Soojung rasa, karakter Sehun akan lebih meresap jika begitu. Lagipula pemeran pangeran juga sudah setuju untuk mengganti warna rambut. Tinggal membujuk sang pemeran raja saja.

Sebenarnya Sehun sendiri tak terlalu suka rambutnya diberi warna. Hitam saja sudah membuatnya tampan, apalagi warna lain? Bah, narsisnya mulai muncul.

“Oke, aku tidak memaksa tapi sangat menganjurkan,” tutur Soojung sebelum ia berbalik mengurus hal lain.

Masa bodoh, deh. Sehun sedang tidak begitu mood menangani banyak hal. Kemarin ia tak sengaja mendengar percakapan Seunghee yang sedang menelpon di depan televisi. Tidak terlalu banyak, namun cukup membekas.

Saat itu posisi Seunghee seakan kaget setengah mati, berkata, “Serius?” Jeda sekian detik dan ia kembali berbicara, “Runa tidak pernah bercerita padaku jika Chanyeol menciumnya sebelum liburan.”

Hanya itu dan Sehun yang sudah memutuskan akan melanjutkan kembali perasaanya malah jadi tambah terpuruk. Pikirannya langsung mengarah pada kemungkinan Runa yang belum sepenuhnya melupakan Chanyeol. Atau malah yang paling mengesalkan, keduanya sudah kembali merajut kasih. Setan memang.

Pikiran Sehun tak begitu fokus hari ini. Bahkan ia sampai mengajukan izin bolos dari latihan rutin drama. Bukannya sedang melankolis atau bagaimana, Sehun rasa ia hanya sedikit bingung dengan hatinya.

Di tengah perjalanan pulangnya, dengan kopi kalengan di tangan ia mengedar pandang. Tatapannya mendadak terhenti pada sebuah papan iklan bertuliskan ‘Toko Roti Kwon’. Seketika Sehun tersadar ia melenceng terlalu jauh dari destinasi awalnya.

“Aku benar-benar harus membersihkan otak dulu.” Dia memijit kening sesaat dan memutuskan untuk berbalik pulang. Memangnya apa yang akan dia lakukan di toko itu? Menemui Runa? Tidak, serindu apa pun rasanya ada yang mengganjal jika sosok gadis tersebut mampir di pandangannya sekarang.

“Lagipula, jam segini pasti dia di minimarket,” gumamnya kemudian. Pandangannya kembali tersebar, hingga sampai ke satu titik di sekitar sana. Satu kali embusan napas pasrah, dan ia pun berkata, “Setelah dipikir-pikir, mungkin cat rambut tidak terlalu buruk.”

.

.

.

-0-

.

.

.

Merenggangkan tangan setelah memakai papan nama adalah hal yang Runa lakukan. “Kantung mataku sepertinya punya kantung mata lagi,” cerocosnya pada Seulgi.

“Tugasmu makin banyak?”

“Yap, benar sekali. Dan ada tugas penelitian sosial juga. Walau deadline-nya masih semester depan, sih.” Runa mengembus napas panjang, masih sambil becerita ia menggantikan posisi Seulgi di belakang meja kasir, “Kadang aku ingin hari liburku kuhabiskan dengan tidur sepuasnya. Tapi setiap aku memiliki niat itu, pasti ada saja hal yang harus kukerjakan.” Seulgi merespon dengan tawa, lalu ia menunduk untuk membenarkan tali sepatu sementara telinganya masih terpasang untuk mendengar curahan hati sang kawan.

“Seperti kemarin, aku hampir saja tertidur pulas jika saja sepupuku tidak langsung menerobos ke kamar dan―”

Suara Runa terhenti, karena heran tentu Seulgi mengangkat kepalanya untuk memeriksa. Yang didapatinya adalah sosok lelaki yang baru saja meletakkan kimbab dan air mineral di meja kasir. Ah, Seulgi tahu lelaki itu. Teman Kim Taehyung.

“Oh Sehun? Lama tidak mampir.” Seraya meraih kimbab dan air meniral, Runa tak mencoba membuat interaksi tatapan―kendati sebenarnya dia lumayan kaget. Mendadak saja ia harus berpikir keras bagaimana cara berkata tanpa nada canggung.

“Hm, aku sedikit sibuk.”

“Um, begitu.” Runa lalu  menyebutan nominal, berserta tambahan kalimat yang mungkin merupakan refleks penasaran darinya, “Kau mengecat rambutmu.”

“Untuk pertunjukan di sekolah,” jawab Sehun seadanya sambil menyerahkan uang, sedang Runa hanya mengangguk-angguk tanda mengerti. Gadis ini menyerahkan kembalian dan menguarkan terima kasih. Sumpah ini canggung sekali dan Runa seribu persen tidak nyaman. Tak ada percakapan lain setelah gumaman yang Sehun beri. Lelaki itu berjalan keluar meninggalkan Runa yang mengembus napas lega diam-diam. Lega sekaligus sedikit kecewa, sebenarnya. Seharusnya tidak perlu ada acara saling bersikap tak enak hati seperti sekarang. Toh juga keinginan Runa kan bersikap biasa seperti apa adanya sebelum kejadian di pantai kemarin.

Kadang perasaan memang tidak bisa dikontrol.

Sementara itu Seulgi yang sedari tadi sudah selesai mengikat sepatu, kini melayang tatap heran. Ada sesuatu di antara dua orang tadi, ia yakin. Namun untuk bertanya pada Runa rasanya ia belum bisa. Melihat dari ekspresi Runa yang masih menunduk, Seulgi rasa pertanyaannya harus disimpan sampai nanti.

Mendadak saja sosok Sehun kembali hadir di depan meja kasir, dengan manik yang lurus menatap Runa, “Kuantar pulang.”

Jelas yang diajak bicara tergagap bingung, “A-aku bahkan baru berangkat.”

“Maksudku nanti,” lekas Sehun meralat, sama tergagapnya. “Nanti setelah kau selesai. Kutunggu di depan.”

Tanpa ada konversasi lagi, semuanya kembali dalam mode hening. Sehun berbalik untuk duduk di meja di depan minimarket, Runa membiarkan rambutnya terjuntai jatuh karena terlalu dalam menunduk, dan Seulgi cuma diam dan bersidekap.

Yah, Kang Seulgi tahu apa permasalahan di sini sekarang.

.

.

.

Seulgi sudah mengabiskan jatahnya sejak sekian puluh menit yang lalu. Kini Runa hanya sendirian, menunggu Jungkook datang dan mengatakan sudah saatnya pergantian jadwal. Sayangnya Runa malah berharap jam kerjanya tak habis-habis.

Bagaimana tidak? Setelah ini ia akan berjalan bersama lelaki yang masih saja setia duduk di salah satu meja di depan minimarket. Apa yang akan dia bicarakan? Kurangajar, hal sepele begitu saja malah membuat gugupnya bertambah tinggi dengan tak wajar.

“Ayolah, hanya seorang Oh Sehun,” gumaman ini entah sudah berapa kali terulang. Dia bahkan hampir berteriak kaget kala sebuah suara menegurnya, “Tidak pulang? Kurasa Sehun sudah menunggumu terlalu lama.”

“Kapan kau datang?” Bukannya menjawab, Runa malah balik melontar tanya. Ah, biar saja. Toh selanjutnya Jungkook tak mengungkitnya lagi. “Baru saja.” Lagaknya santai sekali saat pergi ke ruang belakang untuk meletakkan barang dan mengenakan celemek seragam. Mungkin tak acuh pada raut wajah grogi setengah mati yang Runa pasang.

Selang beberapa menit kemudian Jungkook sudah berdiri di depan meja kasir lagi dengan satu alis terangkat, “Kau terlalu betah atau bagaimana?”

“Diamlah.” Padahal ditanya baik-baik, tapi Runa malah memberi jawaban yang terkesan ketus. Tidak ada percakapan yang coba diciptakan oleh keduanya. Jungkook sudah fokus pada barang yang perlu ia tata di belakang meja kasir, sedang Runa yang telah mengambil semua barangnya cuma mengatur napas diam-diam sebelum melewati pintu minimarket.

Semula Runa bingung akan menyapa dengan ‘Sehun, aku sudah selesai’ atau ‘kapan kita pulang’ atau mungkin ‘sudah menunggu lama, ya’. Namun sebelum salah satu di antaranya tercetus lancar, suara khas milik Sehun lebih dulu menginterupsi.

“Langsung pulang?”

Sebuah anggukan Runa tunjukkan. Kali ini ia berhasil menyuguh senyum, walau tak seberapa. Sepertinya sedikit mampu mencairkan keadaan, buktinya saja senyum tersebut merambat ke paras Sehun. Seraya berjalan beriringan, si lelaki kembali mencipta konversasi, “Lama tidak mengobrol.”

“Lama tidak bertemu juga.” Satu helaan napas tersembunyi dan Runa mulai bisa merilekskan diri.

“Kangen, tidak?”

Entah kenapa Runa terkekeh kecil, “Tidak tahu.” Lirikan Sehun jatuh pada gadis di sampingnya, seperti menemukan nyaman yang dirasa dahulu, “Harimu baik?”

“Penuh tugas. Lihat kantung mataku.” Mendongak untuk pamer kantung mata adalah hal yang Runa lakukan. Ia mendapati Sehun terkekeh di sana, “Pulang larut setiap malam, apa tidak lelah? Tidak sehat untuk pertumbuhanmu, kalau kau terus pendek, bagaimana?”

Dan sikutan keras langsung bersarang di rusuk si lelaki, diikuti sahutan Runa, “Dasar sombong. Mentang-mentang tinggi.” Ia berucap lagi, “Oh ya, kau bilang akan ada pertunjukan. Kau dapat peran apa?”

“Bukan peran utama, sih,” Sehun mengedik, “paras tampanku jadi lumayan sia-sia karena tidak jadi peran utama.” Jelas Runa langsung memasang wajah seolah ingin muntah. Melihatnya, Sehun menyahut tidak terima, “Kau memungkiri betapa memesonanya wajah ini?”

“Jika kau terlalu narsis aku makin malas untuk memuji,” gadis itu mengembus napas pelan, “well, padahal kau memang tampan.” Pengakuan ini membuat Sehun menyedekapkan tangan sok angkuh, “Pengakuan bagus.”

“Jadi,” sambungnya, “lebih suka Sehun versi rambut hitam atau pirang?”

“Hijau, bagaimana?”

“Kau ingin membuatku seperti brokoli?”

“Harusnya kau bangga, brokoli itu sehat.”

“Apa yang bisa kubanggakan dari rambut sehijau brokoli?”

“Jadi seperti duta kesehatan.”

“Terlihat dipaksakan.”

Pembicaraan yang tak terlalu mengandung topik berat mengalir begitu saja. Untunglah kecanggungan yang sempat ada kini menguar perlahan. Dengan begitu keduanya bisa mengobrol dengan santai, seperti dulu. Terkikik-kikik tak jelas di atara lelucon yang kadang bikin mulas karena tidak lucu. Dan entah kenapa mereka tetap tertawa sampai sekian menit kemudian tempat tinggal Runa terlihat. Ketika tepat di depan rumahnya, Runa langsung menunduk, “Terima kasih sudah mengantar.” Sehun pun melakukan hal yang sama, “Sama-sama, semoga harimu baik.”

Keduanya berpandangan sedetik, lalu terkekeh geli.

“Lelucon yang tidak lucu, Oh Sehun.” Begitu juga Runa masih terkekeh kecil. “Sampai jumpa,” ia baru akan berbalik saat mendapati Sunyoung tepat melangkahkan kaki keluar dari rumah untuk unjuk batang hidung.

“Oh, Sunyoung!” Yang bernada setengah ceria ini milik Runa.

“Lho, Sunyoung?” Dan yang bernada penuh kaget ini milik Sehun.

“Apa ini? Apa kau selingkuh dengan Oh Sehun?” Sunyoung menatap Runa tak suka. Mendadak saja Runa ingat jika perihal berakhirnya hubungan dengan Park Chanyeol sama sekali belum Sunyoung ketahui. Cepat-cepat gadis itu menarik lengan Sunyoung, “Kita bicara di dalam.” Ia beralih pada Sehun, “Pulanglah. Hati-hati di jalan.”

Kalimat yang pertama kali dilontarkan Runa setelah berhasil mendorong Sunyoung ke rumah adalah: “Kenapa kau bicara seperti itu di depan Sehun?”

“Kau selingkuh dengannya?” Entah kenapa suara Sunyoung meninggi. Tentu Runa tak habis pikir, “Aku tidak selingkuh.”

“Apa Kak Chanyeol tahu kau pergi dengan lelaki itu? Dan bagaimana bisa kau kenal Oh Sehun?” Lagak Sunyoung seperti baru saja mendapati kucingnya sudah dihamili kucing liar, rasanya. Lihat bagaimana alisnya berkerut sangat jelek, jangan lupa delikan mata sipitnya.

Lantas Runa mengembus napas panjang, mengatur nadanya agar tidak terdengar seperti orang marah, “Aku dan Chanyeol sudah selesai.”

“Putus? Kapan? Kok, bisa?” Sunyoung terlihat makin kaget, “Apa ini gara-gara Oh Sehun?”

“Tidak ada sangut pautnya dengan Sehun.” Memang benar adanya. Keputusan mengakhiri hubungan dengan Chanyeol bukanlah hal yang diambil karena Runa mempertimbangkan keberadaan Sehun. Namun Sunyoung melihatnya dengan cara lain. “Kenapa harus Oh Sehun? Kau tidak tahu dia ada gosip dengan sahabatnya?”

Sejenak Runa terdiam, memikirkan apa yang baru sepupunya lontar. Tapi ia kembali angkat bicara, “Sejak kapan kau tertarik gosip?”

Kali ini yang mengembus napas adalah Sunyoung, “Aku mengatakannya karena kau sepupuku.” Dia lalu berucap bertameng nada serius, “Ada apa-apa dengan Sehun dan sahabat gadisnya, namanya Irene. Walau Irene sudah punya pacar, tapi dia tetap bermesraan dengan Sehun dibelakang. Mereka bahkan berciuman, kau tahu? Hanya segelintir orang yang tahu ini, kuberi info saja.”

Runa diam, dan Sunyoung merasa dia sudah menang atas perdebatan ini. Namun nyatanya si gadis kembali angkat bicara, “Baik, anggap itu benar. Lalu apa ada efeknya pada hidupku?”

“Aku memang teman Oh Sehun, tapi aku tidak bisa membiarkan sepupuku dekat dengan lelaki yang main belakang dengan pacar orang lain.” Sunyoung hanya takut jika sang sepupu akan tersakiti nantinya. “Berteman saja, jangan jatuh cinta.”

“Kami tidak pacaran, Kwon Sunyoung.” Ada rasa sesak yang diam-diam menarik sudut hati Runa. Ia mengatakan hal tersebut dengan penuh penekanan.

“Lalu, kenapa kau dan Kak Chanyeol putus?” Memang harusnya Sunyoung diberitahu kejadian nyatanya sejak dulu agar tidak bingung seperti sekarang. “Kak Chanyeol benar-benar menyayangimu. Dia baik dan tahu bagaimana memperlakukan gadis, dia punya selera humor yang bagus, dia menjagamu. Kupikir―”

“Jangan bicarakan Park Chanyeol lagi.” Tak mau mendengar bualan lebih banyak, Runa akhirnya menyela. “Kami sudah selesai, Kwon Sunyoung. Kalau kubilang sudah selesai, artinya memang begitu. Terserah kau mau tetap berteman dengan Chanyeol, aku tidak perlu tahu semuanya lagi sekarang.” Begitu saja Runa berjalan menuju kamarnya. Usai bantingan pintu penuh emosi yang didengar Sunyoung, mendadak rumah itu kembali sepi.

.

.

.

.to be continue

Seminggu sekali ya insyaAllah ya wkwk

Dipikir-pikir kasian juga ya si Sunyoung, dia bahkan  gak tau kalok Runa udah putus :’) Padahal Chanyeol udah klop banget sama dia :’) Kok jadi ngerasa Chanyeol yang putus sama Sunyoung? /gagitunid.

Tentang Sehun sama Runa … yaaa seenggaknya mereka udah gak begitu canggung deh wkwk Ini why pas mereka canggung aku yang gemes 😦 /dasar/

Udah sih gitu aja, aku bingung mau nambahin apa lagi hehe Boleh tanya apa aja di kolom komen, tapi kalok merujuk ke spoiler aku gak bakal jawab :’v Terus MAKASIH BANYAK buat yang masih ngikutin ff slowupdate ini ahaha Aku baca semuaaa komentar kalian, dan tenqs banget wkwk Cinta deh ❤

.nida

16 tanggapan untuk “2ND GRADE [Chapter 26] by l18hee”

  1. Awal chptr ni update dah bc & komen tp pas di send kuota tenggelam 😓 trus brsn komen tp slh kapling mlh di chptr yg sblm’ny 😞 sigh..
    Here I go again..re-type:
    화이팅 훈아~😍
    백 mana ya?
    SeungheexJungkook sdh ada progress kah?
    Mnantikan moment 우리 cute couple 세훈-runa ktmu sm si tukang slingkuh–찬 & si brainless pelakor–nami 😤 pengen liat muka jeles 찬 😁 & biar tau rasa tu si nami sial klo runa bs dpt yg jauh lbih ganteng dr 찬 yg dy rbut dr runa! Pa lg dg new hair color’ny 세훈 yg mentereng itu 😘

  2. aahhh runa Sehun ngegemesin amat sii…
    semoga cepet jadian pasti lucu deh mereka
    aaahhh cute cute..
    .
    aduh sunyoung Chanyeol yg Lo bela2in itu ngeduain sepupu Lo!!!!!!! dan knpa Lo sok tau ttng Sehun *sinis* #sehunteam

  3. Yang bikin gemes itu hubungan Sehun-Runa lambaaaat banget. Seunghee beneran deket sama Jungkook punya hubungan gak sih? Kasian juga sih Sunyoung gak tau perihal putusnya Runa-Chanyeol, coba kalau tahu pasti udah kecewa banget tuh sama Chanyeol. Ayo semangat seminggu sekali updatenya 🙂

  4. gatau pokonya sehun kudu sama runa hahahahha tapi gatau kenapa gak tega juga sama chanyeol
    chanyeol sih main belakang :’v
    oke intinya kudu cepet di next hahahahaha

  5. cieee runa cemburu cieee,,,aseeekkkk..udah ma sehun ajaaa,,kan sama2 udah pernah saling cium mantan sekali hahahahah..ahh jadi ga sbar nunggu selanjutnyaa cemanaaaa…fighting thor!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s