2ND GRADE [Chapter 03]

2ndgradepstr

2ND GRADE [Chapter 03]

─by l18hee

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Chanyeol |  [CLC] Seunghee

[EXO] Sehun | [BTS] Jungkook

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Fluff | Friendship | Hurt | Romance | School-life

.for

Teen

.

Poster by NJXAEM

.

Previous Part:

Prologue [Welcome to 2nd Grade] | Chapter 1 [New Place] | Chapter 2 [New Team, Dream Team]

.

Now Playing ► Chapter 3 [Hey, You]

Rasanya Sehun pernah melihatnya. Di mana?

.

.

“Melamun!”

Runa hampir terjungkal kala tiba-tiba Chanyeol melompat untuk menghalangi jalannya. Seusai kembali bisa menghirup udara, gadis itu memasang tampang kesal, “Senang, ya, aku hampir terjungkal?”

“Senang, habisnya kau lucu.” Chanyeol menahan tawa, “Kenapa dengan wajahmu?”

Beberapa saat Runa terdiam. Memilih untaian yang jelas dan rapi sebagai penjelasan. “Aku dimasukkan ke Dream Team tahun ini,” lanjutnya kemudian. Dream Team selama ini merupakan panggilan yang lumayan jarang didengar, semenjak diklaim sebagai julukan meremehkan. Tapi rupanya 2-8 punya kandidat lagi. Masih kandidat, karena masih dalam lingkup kelas, bukannya satu sekolah.

Chanyeol sendiri sedikit terkejut karenanya. Namun dalam hitungan detik sirat keterkejutan itu hilang, berganti dengan senyum menenangkan. Dia tak ingin sang gadis melihatnya memasang tampang aneh.

“Ah, mereka hanya bercanda memasukkanmu ke dalam Dream Team. Kau, kan, pacar Park Chanyeol, tidak mungkin mereka serius mengerjaimu. Iya, kan?” Dia berucap seolah dirinya adalah benteng terkuat di dunia. Bisa melindungi siapa saja. Runa hanya mengembus napas. Bukannya tidak tersanjung, tapi rasanya aneh saja dengan ucapan Chanyeol. Tingkat kepercayaan diri yang coba Chanyeol bangun dan bayang wajah mengejek kawan sekelasnya begitu kontras.

“Kwon Runa kan manis, pintar menggambar, lucu juga, baik lagi. Kenapa mereka mau mengganggumu?” Dengan sengaja Chanyeol menarik kedua pipi Runa. Sejujurnya si gadis dapat menangkap kilat menyesal sekaligus perasaan bersalah dalam mata kekasihnya. Kenapa harus perasaan bersalah? Aneh sekali.

Bersamaan dengan ia yang membebaskan diri dari tangan Chanyeol, Runa lantas berujar, “Jangan berlebihan, itu hanya dalam pandanganmu, kan? Kadang orang membenci orang lain hanya karena keinginan, tahu?”

“Iya tahu. Seperti kau benci saat aku jadi imut, kan?” Oh, lihat bagaimana Chanyeol mulai bertingkah lucu. Sedikit menunduk di depan wajah kekasihnya dan menelengkan kepala ke kanan dan ke kiri. Mau tak mau Runa menahan senyum, “Terlihat bodoh, omong-omong.” Padahal justru membuatnya makin suka.

Kekehan datang dari si lelaki, “Ya sudah. Aku ke toilet dulu, ya? Dah!” Satu tarikan pelan di pipi Runa dan lelaki berseragam olahraga itu bergegas pergi.

Mungkin efek keadaan hati yang sedang tidak baik memengaruhi pemikiran Runa yang mendadak sadar jika Chanyeol terasa sedikit aneh akhir-akhir ini.

Di istirahat makan siang, tadinya Runa ingin mengahampiri Chanyeol. Tapi ketika ia melongokkan kepala ke kelas lelaki itu, yang didapat hanya Kris dengan tangan memegang permen loli berwarna biru.

“Chanyeol belum ke kelas sejak pelajaran olahraga selesai. Mungkin sedang mengembalikan bola yang tadi dipakai.”

Runa hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. Dia bergegas menuju kantin. Semoga saja ada seseorang yang bisa ia ajak bicara di sana.

Seusai mengambil jatah makanannya, si gadis mengedar pandang. Ia sedikit bersorak dalam hati ketika mendapati Jungkook di salah satu meja. Berhubung mereka satu kelompok, bukankah sebaiknya mengakrabkan diri?

Begitu saja Runa duduk di hadapan Jungkook. Lelaki itu hanya melirik sekilas dan kembali melanjutkan makan. Ternyata merangkai kata lumayan sulit. Runa butuh waktu beberapa saat hingga akhirnya angkat bicara.

“Tugas kelompok kita, um, bagaimana jika dikerjakan secepatnya? Kau ada waktu kapan?” Tepat di akhir kalimat, satu nampan tambahan diletakkan di samping Jungkook. Rupanya ulah Seunghee yang langsung saja menambahi, “Hari ini bagaimana? Kalian free tidak?”

“Aku kosong,” ucap Runa setelah menelan makanan yang baru ia kunyah. Senang sekali mengetahui ada hal yang perlu dilakukan hingga tidak perlu pulang ke rumah lebih awal.

Kedua gadis itu menatap Jungkook yang masih sibuk menandaskan jatah makannya. Melihat Jungkook diam saja, Seunghee menyenggol lengan si lelaki, “Hari ini kosong tidak?”

Mengelap ujung mulutnya, Jungkook akhirnya mau menjawab, “Hari ini dan seterusnya aku sibuk. Kalian langsung bagi tugas saja.” Ditutup dengan dia yang lekas membawa nampan untuk pergi, Jungkook berhasil membuat dua kawan kelompoknya ternganga.

“Ah, sudah kuduga dia sama saja.” Seunghee menyantap makanannya kesal. Runa sendiri yang notabene tidak begitu mengenal Jungkook masih memasang tampang tak percaya, “Kalian langsung bagi tugas saja. Bah! Niat sekolah tidak, sih?”

Respons mendadak yang terkesan jujur dan penuh nada sarkas memancing Seunghee untuk menahan tawa, “Serius, Kwon Runa, kau benar-benar unik.” Menjawabnya, Runa juga sedikit terkekeh, “Maaf aku kadang suka blak-blakan.” Dia baru sadar sudah tidak sudah tidak sopan pada orang yang bahkan baru ia tahu namanya pagi ini. Semoga saja Jungkook tidak dengar.

Dijeda hening sedikit lama, Seunghee lagi-lagi membuka katup bibir untuk bicara, “Kau berani juga makan dengan Jeon Jungkook.” Padahal jika dilihat dia pun sama.

“Memangnya Jungkook kenapa? Bekas narapidana? Pernah membuat gadis muda bunuh diri? Anak Yakuza?” Mendadak saja Runa panik. Kepanikan tak berdasar yang membuat Seunghee segera menggeleng, “Tidak begitu juga, sih.” Dia meraih kotak susunya, “Setahuku Jungkook itu sedikit menyebalkan. Sering tidur di kelas sejak tingkat satu. Tidak pernah mau ikut andil dalam kegiatan apa pun di sekolah, bahkan juga di tugas kelompok untuk mendapat nilai. Kecuali benar-benar terdesak, dia tidak mau ambil peduli.”

Runa mengerutkan kening. Seunghee yang biasanya hemat kata, kenapa bisa bicara sepanjang ini tentang Jungkook?

“Kau sangat mengenal Jungkook, ya?” Ucapan tepat sasaran ini langsung membuat Seunghee memasang wajah kaku, “Semua orang tahu fakta itu, kok.” Mendapat sanggahan, Runa memilih tak memojokkan. Apalagi Seunghee cepat-cepat megalih topik, “Mau mengerjakan tugas itu di rumahku?”

Dengan anggukan Runa menjawab, “Oke, tidak masalah.”

.

.

.

Untung saja tugas kelompok mereka tidak terlalu sulit. Jadi tanpa hadirnya Jungkook pun, Seunghee dan Runa masih bisa mengerjakan. Ditambah keenceran otak Seunghee yang tidak perlu dipertanyakan. Runa sendiri bingung, kenapa beberapa anak justru tak menyukai gadis itu?

Di tengah mengerjakan tugas, terdengar suara pintu utama dibuka. Sebagai tamu tentu Runa langsung menoleh, kali saja itu Ayah Seunghee yang perlu diberi salam. Namun yang ada Seunghee justru berucap biasa, “Tidak perlu memberi salam. Kakakku hanya akan mengabaikanmu dan langsung masuk ke kamar.”

“Oh, baiklah.” Mengenyahkan rasa tidak enak, Runa malah memikirkan alasan Seunghee menunjukkan nada bersirat sedih. Seiring dengan langkah yang Runa dengar, ia malah penasaran. Akhirnya ia melirik pada sosok dengan tas di pundak dan topi di kepala, yang baru saja lewat. Sepertinya Seunghee punya kakak yang jarak umurnya tidak jauh. Karena Runa langsung mengenali seragam Kakak Seunghee yang sama persis dengan milik Sunyoung; Seoklah Seni Yeonso. Mungkin Kakak Seunghee baru di tingkat tiga, kecuali kalau mereka kembar.

“Tambahkan yang sudah kutandai di bagian sebelum kesimpulan. Pakai kata-katamu sendiri, jangan lupa,” titah Seunghee yang menyodorkan buku materi menarik Runa untuk kembali fokus. Setelah meraih buku dari si gadis, Runa mengangguk. Jika bahannya serinci ini, bagaimana bisa tugas kelompoknya tidak berjalan dengan lancar? Seunghee memang pintar dan Runa tidak salah merasa beruntung sekarang.

“Bagaimana dengan Jungkook?” Di sela kegiatan mengetiknya, Runa bertanya begitu. Yang ditanya hanya mengedik bahu. Merasa tak mendapat jawaban, Runa kembali berucap, “Kurasa keadaan akan semakin buruk jika kita tidak menulis namanya. Lagi pula aku juga tidak sampai hati.” Kali ini Seunghee mau mengangguk, “Nanti suruh dia mempelajari materi saja untuk presentasi.” Walau sesungguhnya dia sendiri tidak yakin Jungkook akan membacanya.

“Aku akan buat salinannya nanti. Kau mau menyerahkannya ke Jungkook?”

Dan wajah kaku Seunghee langsung muncul untuk yang kedua kali hari ini, “Kenapa tidak kau saja?” Tak membiarkan hening mengambil alih, Runa sedikit terkekeh, “Baiklah, aku saja.”

“Eh, iya, omong-omong kau masih bersama Park Chanyeol, kan?” Jelas-jelas Seunghee sedang melempar topik baru─menurut Runa. Berhubung Runa memang belum sampai tahap di mana dia bebas memojokkan si gadis (karena belum terlalu tahu persis bagaimana kepribadian Seunghee), ia menjawab santai, “Tentu saja. Kami masih pacaran, sering berkencan jika ada waktu luang, berkirim pesan, bertukar kado, kadang-kadang ciuman, begitulah.” Sepertinya sangat sengaja menggunakan nada sok.

“Astaga, selain aneh dan terkesan frontal, kau ini juga tukang pamer, ya?” Seunghee mencibir, membiarkan gadis di depannya tergelak sebentar. Ada rasa nyaman sebagai teman yang mulai dirasa. Mungkin karena keduanya sedang berada di lingkup permasalahan yang sama, jadi tiba-tiba merasa cocok begini.

Setelah mencomot satu kudapan, masih sambil berfokus pada laptop Seunghee, Runa berkata, “Tapi dia ….” Hening sejenak, “Tidak jadi, deh, hehe.” Runa rasa ini belum saatnya berkonsultasi tentang keresahannya perihal Chanyeol. Mungkin hanya perasaan sesaat yang sebentar lagi akan lenyap. Bukan hal yang terlalu penting, dia rasa.

Seunghee sendiri tak ambil pusing. Memilih menata buku-buku materi yang berserakan, “Jika masih banyak, selesaikan besok saja. Nanti kau kemalaman.” Bergegas Runa melirik digit angka di pojok laptop, “Tinggal sedikit lagi, akan aku selesaikan.” Masih ada waktu sebelum jadwal busnya tiba.

“Akan kuantar sampai halte.”

Tadinya Runa ingin menolak. Tapi berhubung dia tidak begitu nyaman melangkah sendirian di kompleks perumahan orang lain, jadilah sekarang mereka berdua berjalan beriringan menuju halte.

“Kau pulang saja. Busnya sebentar lagi datang,” ujar Runa kala keduanya sudah menapak walayah halte. Tak mau ambil pusing dengan memilih jalan berdebat, Seunghee menggangguk saja, “Ya sudah. Sampai besok di sekolah. Jangan lupa buat salinannya.”

Dan Runa ditinggal sendiri. Tidak masalah karena seperti perkiraannya, beberapa menit berselang bus pun datang. Mengambil tempat duduk seenaknya merupakan kesenangan tersendiri, karena setiap naik bus di pagi hari ia hampir selalu berdiri.

Besok tidak ada tugas yang harus dia lakukan. Itu artinya dia akan pulang cepat. Sedikit membuat malas, sebenarnya. Dia semakin tidak ingin di rumah ketika kemarin ayahnya berkata dengan semangat bahwa mengikuti les tambahan atau kursus khusus memang diperlukan. Yah, mengingat masuk ke perguruan tinggi punya celah yang sedikit sulit dimasuki, kan?

Ia memijit kening pelan. Jika sedang sendiri, beban yang menimbun punggungnya semakin terasa berat. Pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul begitu mengganggunya.

Bagaimana cara meyakinkan ayah jika ia tidak ingin masuk jurusan hukum? Apa yang ia kuasai untuk bekal masa depan? Bagaimana cara melepaskan diri dari julukan Dream Team? Kapan ia bisa bertemu ibunya lagi setelah liburan kemarin kesempatannya terlewat? Apa yang sedang Chanyeol rasakan sekarang? Bagaimana cara dia kembali menyuguh senyum lepas selain di depan Seunghee dan Chanyeol?

Adakah cara bertahan hidup yang lebih praktis dan tidak memakan waktu yang menyakitkan?

Jawabannya selalu sama, tidak tahu. Tidak tahu. Ah, sudahlah. Runa memang harusnya lebih banyak menghabiskan waktu bersama seseorang, daripada berakhir mengenaskan dengan memikirkan semua sendiri.

Kira-kira apa alasan yang ia gunakan untuk pulang terlambat besok, ya? Lalu, dia akan kemana?

Seraya menatap keluar, ia mengembuskan napas panjang. Mendadak saja sebuah ide terlintas di kepalanya.

“Kurasa itu ide bagus.” Dalam bayang kaca bus, dia bisa melihat senyum penyemangat yang ia suguhkan untuk dirinya sendiri.

.

.

-0-

.

.

Oh Sehun

Tempat latihan yang mereka sewa sama-sama lumayan juga bagi Sehun. Setelah mengurus segala tetek-bengek perihal proses penyewaan, akhirnya tempat sewaan ini sudah berubah keadaan. Cermin besar di satu sisi, tadinya ingin di letakkan di dua sisi tapi ada jendela yang sedikit mengganggu rencana itu. Ada sofa merah di dekat jendela. Tepi bawah jendela yang Irene modofikasi hingga bisa dibuat untuk meja─walau ukurannya tidak terlalu besar. Lalu pengeras suara dan lampu baru, tentu saja.

Tempat nongkrong yang pas, hingga minggu ini hampir setiap hari mereka berkumpul. Seringnya berlatih, sisanya hanya bercanda dan bermain kartu saja. Dengan beberapa camilan yang dibeli dari minimarket terdekat.

Seperti hari ini, walau sudah larut mereka justru baru saja menyelesaikan permainan kartu UNO. Setelah melakukan suit, diputuskan yang kalah adalah yang harus keluar untuk pergi ke minimarket.

Dan ketidakberuntungan hari ini jatuh pada Sehun. Sedikit menggerutu lelaki itu mengiakan dengan asal pesanan teman-temannya. Toh dibelikan apa pun akan tetap habis. Berhubung dia malas menghafal pesanan, rencananya dia akan memesan makanan yang biasa saja; sejenis tahu atau apalah. Pegawai di sana sudah paham dengannya, jadi mudah memesan makanan tanpa perlu mendikte menu yang sama setiap hari.

Baru saja melewati pintu minimarket, Sehun langsung membuka katup bibir. “Tolong yang biasa sa─eh,” Sehun menghentikan langkahnya, menatap si penjaga kasir, “Baru, ya?” Dalam hati sedikit mengeluh karena pegawai baru tidak mungkin mengerti pesanan seperti biasanya yang terlalu banyak bersyarat (ditambah letak makanan itu berada di belakang meja kasir). Setelah si pegawai berkucir rendah itu mengangguk, Sehun berinisiatif mengambil makanan yang ingin ia beli sendiri. Yah, hitung-hitung cari makanan baru saja, deh. Dia sedang malas berinteraksi dengan orang asing sekarang.

Setelah memilih beberapa makanan, Sehun meletakkannya ke meja kasir. Dia menatap si pegawai yang sedang menghitung belanjaan. Rasanya Sehun pernah lihat. Tapi di mana? Di sekolah? Entahlah.

Si pegawai menerima uluran uang Sehun, lantas berucap pelan, “Tolong tunggu sebentar.” Seraya menunggu ramennya, Sehun masih berusaha mengingat. Walau tidak terlalu penting, ya, anggap saja sebagai selingan menunggu daripada bosan.

“Eh, sebentar! Aku pesan ramen?” Sehun mendadak bertanya dengan bodohnya. Pegawai kasir baru itu terlihat heran, namun tetap mengangguk. Memangnya siapa lagi yang membawa ramen ke meja kasir? Hantu pinggir jalan? Jangan konyol.

Merasa sedikit bodoh, Sehun lantas cepat-cepat meralat, “Maksudku, boleh aku lihat sebentar ramennya? Hanya ingin mengecek rasa kesukaanku.” Bagus, dia malah terlihat lebih bodoh. Terserah sajalah. Yang jelas dia berhasil memasang tampang biasa dan mengangguk-angguk kala melihat rasa ramen yang dia beli.

Baiklah sudah terlanjur, tidak perlu disesali. Lagi pula hanya ramen, dia bisa makan dengan cepat dan langsung kembali ke tempat latihan.

Menunggu tak terlalu lama, akhirnya pegawai tadi memanggilnya, “Permisi, pesanan Anda.” Sembari menerima ramennya, Sehun melirik papan nama sang pegawai. Hanya ada marganya saja karena ujung rambut pegawai itu menjuntai menghalangi.

“Kwon ….”

“Maaf?” Pegawai Kwon itu sepertinya sedikit mendengar gumaman Sehun.

“Maksudku, terima kasih.” Begitu saja Sehun keluar untuk mengambil tempat duduk di depan minimarket.

“Gadis Kwon yang kukenal tidak ada yang mirip dia. Apa aku salah mengira, ya?” Sejenak berpikir, Sehun akhirnya memutuskan lekas menyantap ramennya. Biarlah Taehyung dan yang lain menunggu di sana, salah sendiri menunjuk Sehun yang kemari.

.

.

.

.to be continue

Akhirnya Sehun muncul jugaaa wakakak 😆

 Kayaknya perjalanan masih panjang nih :3 😂

.nida

6 thoughts on “2ND GRADE [Chapter 03]

  1. Ping-balik: 2ND GRADE [Chapter 04] | EXO FanFiction Indonesia

  2. kasian ya jadi runa…runa-ya kau harus semangat ..okeee.. menurutku punya satu teman kaya sunghee lebih berarti banyak, daripada punya bnyk teman yg gk berarti apa”… /plizzz ini bukan curhat..hahaha
    .
    .
    oke” sehun is coming. . oh jadi kesibukan yg runa mksud ntuh kerja paruh waktu..ahhh dia nih ada” aja…
    semoga sering ketemu sama sehun..hahaha
    aku merasa jungkook sama sunghee punya misteri sndri”..jdi penasaran

  3. Kok aku punya firasat kalau Chanyeol sebenernya menyembunyikan sesuatu dri Runa. Kasihan skali hidup Runa, jdi ikutan sakit. Feelnya dapet banget author nim. Nah biar aku tebak, apa Sehun itu cast utama prianya ya?? Next chap sangat ditunggu author nim. Salam kenal readers baru

  4. Kwon runa kah dia?
    Oh sehun kakaknya seunghee kah?
    Kenapa ini masih banyak teka-tekinya?
    Fanfic yg penuh misteri/abaikan
    Kayaknya nida suka main kucing kucingan yaa..
    Trus maksudnya sehun kenal dengan gasis kwon itu siapa?
    Kwon runa?
    Atau kwon yang lain?
    Yaudah lah yee, aku nunggu chapter selanjutnya aja
    Semangattt

  5. whut astogeeh sehun dirimu makan tanpa ditemani ak? jahad syyyyekali dirimu nak. disini runa ama sehun lagi tapi ceritanya runa masih sama chanyeok. iyaih ka, masih puanjang bangeet. tapi kukan tetap menunggu syalalalala~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s