2ND GRADE [Chapter 04]

2ndgradepstr

2ND GRADE [Chapter 04]

─by l18hee

.featuring

[EXO] Sehun | [Red Velvet] Irene | [BTS] Taehyung

Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Fluff | Friendship | Hurt | Romance | School-life

.for

Teen

.

Poster by NJXAEM

.

Previous Part:

Prologue [Welcome to 2nd Grade] | Chapter 1 [New Place]|Chapter 2 [New Team, Dream Team]| Chapter 3 [Hey, You!]

.

Now Playing ► Chapter 4 [Emotion]

Lagi, Sehun bergumam ingin mati.

.

.

“Kwon ….”

“Maaf?” Pegawai Kwon itu sepertinya sedikit mendengar gumaman Sehun.

“Maksudku, terima kasih.” Begitu saja Sehun keluar untuk mengambil tempat duduk di depan minimarket.

“Gadis Kwon yang kukenal tidak ada yang mirip dia. Apa aku salah mengira, ya?” Sejenak berpikir, Sehun akhirnya memutuskan lekas menyantap ramennya. Biarlah Taehyung dan yang lain menunggu di sana, salah sendiri menunjuk Sehun yang kemari.

Seraya menikmati ramennya sesekali Sehun melirik ke arah Si Gadis Kwon. Namanya juga lelaki, sedikit sulit menahan diri untuk tak menatap gadis di sekitar mereka. Bukan berarti selalu, ya? Biasanya radar Sehun hanya menyala pada gadis seperti Miranda Kerr. Pengecualian kali ini Sehun lakukan karena penasaran saja.

Kala hampir menandaskan ramennya, mendadak ponsel Sehun bergetar. Dari Taehyung.

“Lama sekali. Kau makan dulu, ya?”

Nah, Sehun tidak perlu menjelaskan, bukan? Dia hanya perlu memberi kekehan saja sebagai jawaban.

“Jongin, dia memang sedang makan.” Suara protes Jongin sesudah laporan Taehyung, tak Sehun indahkan. Selanjutnya suara Taehyung terdengar lagi, “Cepat kembali. Eh, belikan aku ramen juga dong.”

“Uangku habis. Sudah dulu, ya.” Enaknya bicara di ponsel adalah bisa memutuskan percakapan secara sepihak jika dirasa tidak terlalu penting. Lekas membersihkan isi mangkuknya dan meraih plastik belanjaan adalah yang Sehun lalukan. Dia menyempatkan diri untuk membenarkan topi. Lebih baik cepat-cepat kembali sebelum yang lain semakin menghakimi.

Setelah menghabiskan beberapa menit berjalan kembali, Sehun sedikit kaget mengetahui eksistensi Irene di tempat latihan. Apa yang si gadis lakukan malam-malam begini? Apa ada hal penting?

“Dasar! Lain kali tidak perlu kalah suit!” Jimin melempar handuknya ke arah Sehun, sayang tidak kena. Yang paling cepat beraksi adalah Taehyung, dia langsung meraih plastik dan menumpahkan isinya ke tengah ruangan.

“Kenapa tidak ada ramen?” ucapnya dengan wajah sangat kecewa. Seperti tak mendapat ramen sama parahnya dengan mendapat nilai nol pada pelajaran matematika.

Tak memedulikan kawan-kawannya yang protes, Sehun lantas menghampiri Irene, “Sudah malam, kenapa kemari?” Yang mendapat pertanyaan hanya tersenyum sekilas. Menyempatkan diri untuk menggandeng hening beberapa saat sebelum memutuskan menjawab, “Baru menemani Junhong main skateboard.” Sehun hanya ber-o ria, dia beralih pada Taehyung sejenak, “Kim Tae, beri aku dua soda.” Adegan lempat tangkap dua kaleng soda berlangsung cepat.

“Kau langsung kemari karena rindu padaku?” Kekehan Sehun melayang bersamaan dengan ia yang menyerahkan satu kaleng soda pada Irene.

“Yang itu sedikit benarnya,” ucap Irene seraya membuka kaleng di tangannya. “Kudengar kau pulang larut dari kemarin.”

“Dan rencananya aku ingin menginap di sini malam ini.” Sehun mendudukkan diri di lantai, bersandar pada dinding. Membiarkan Irene yang duduk di sofa memandangnya agak lama, “Akhir-akhir ini kau semakin… yah, kau tahu? Sedikit berontak ketimbang sebelumnya.” Sebagai orang yang mengenal Sehun sejak lama, Irene tahu persis bagaimana keadaan sang karib.

“Ayah tidak mengizinkanku bertemu ibu liburan kemarin. Katanya aku harus meluangkan waktu untuk bersama ibu baru dan anaknya.”

Mendengar nada penuh keremehan yang Sehun lontar, Irene cepat menambahi, “Oh Sehun, belajarlah memanggil Oh Seunghee dan Ibumu dengan benar. Biar bagaimanapun mereka sudah jadi keluargamu.” Yang didapat justru lirikan malas Sehun, “Iya!”

Irene mengembus napas panjang. Mengahadapi Sehun haruslah pelan-pelan. Diselipkannya jemari tangan ke surai legam sang lelaki, menyapunya lembut. “Bukankah sudah sering kukatakan? Lebih baik kau coba melupakan apa yang sudah kakakmu lakukan dulu. Dia─”

Sehun menggenggam tangan Irene yang masih berada di atas kepalanya, “Diam. Jangan bahas itu.” Satu kali lagi mengembus napas, dan Irene memilih diam. Kembali mengusap pucuk kepala si lelaki yang mulai memejamkan mata.

Di sisi lain, Taehyung menangkap kegiatan dua karibnya. Sejenak tertegun sebelum akhirnya kembali berisik kala Jimin menarik roti dalam genggamannya. Tapi di sisi lain ada yang sudah Taehyung putuskan dalam hati.

Dia harus bicara pada Irene setelah ini.

.

.

.

“Kau masih suka padanya?” Akhirnya Taehyung bisa juga menyuarakan pertanyaannya, setelah ia dan Irene berpisah dengan Sehun yang keras kepala memilih bermalam di tempat latihan.

Mengerti kawannya sedang membicarakan Sehun, Irene hanya menjawab santai, “Tidak. Pacarku, kan, Junhong.” Masih sambil berjalan santai, Taehyung lekas menanggapi, “Aku serius. Sebagai sahabat, rasanya sedikit ganjal melihat hubungan kalian sejak Ayah Sehun menikah lagi.” Jika sedang dalam semangat bercanda, Taehyung mungkin akan melontarkan pendapatnya dengan gaya yang lebih lucu. Sambil jungkir balik, misalnya. Tapi tidak di saat seperti ini, tentu.

Ada jeda yang lumayan lama saat Irene memilih bungkam. Gadis ini menatap jalanan dengan sedikit muram. Untunglah Taehyung masih sabar hingga si gadis akhirnya bersuara:

“Sehun butuh pelampiasan.”

Taehyung masih diam. Menunggu sang gadis melanjutkan.

“Aku mengenalnya sejak lama. Saat melihat seorang Oh Sehun begitu berubah ketika pernikahan ayahnya yang kedua, aku tidak bisa menahan diri. Aku ingin menguatkannya, memintanya lekas melupakan rasa sakit hatinya karena Kak Hojun memlih pergi.” Irene menarik napas dan mengembuskannya, sekadar untuk penguat ia yang kembali meneruskan ucapan, “Sehun yang notabene sangat membanggakan kakaknya mendadak dipaksa merasa kehilangan. Dia pernah hampir tergiur memakai obat, aku jelas tidak bisa membiarkannya.” Dia menatap Taehyung, ada bergumpal khawatir dan tak rela di dalam maniknya.

“Walau sedikit terganggu, tapi aku masih tidak masalah kalian melakukan semua di depanku. Berpegangan tangan, mengusap rambut penuh sayang, berpelukan, aku masih bisa diam. Tapi kalian bahkan berciuman.” Masih jelas diingatan Taehyung beberapa kejadian yang tak sengaja ia lihat, “Jika kalian pacaran sekalian aku justru merasa lebih baik. Kenyataannya kau bahkan punya orang lain. Memangnya kau tidak serius pada Junhong?”

“Aku serius! Junhong benar-benar… pokoknya, aku menyukainya,” rasanya mata Irene mulai berkaca-kaca, kesal dengan pertanyaan yang selama ini coba ia hindari. “Tapi Sehun sahabatku. Aku tidak bisa melihatnya melampiaskan emosi dengan cara lain.”

Kali ini Taehyung hampir geram, “Irene, jika begini keadaannya kau sama berbahayanya dengan obat-obatan. Sehun akan terus bergantung padamu, dia tidak akan berusaha menyelesaikan permasalahannya dan memilih mengalihkan emosi padamu.”

Mempercepat langkah kakinya, Irene berkilah cepat, “Kalau tidak mau mengantarku, aku bisa pulang sendiri.” Dia jelas tidak mau menanggapi ucapan Taehyung, yang sebenarnya terdengar benar. Dikiranya si lelaki bakal berhenti mengoceh, yang ada justru lelaki itu yang berkata malas, “Ya sudah. Sana pulang sendiri.”

Dan Irene paham saat Taehyung membalikkan tubuhnya, sang karib memang benar-benar serius kali ini.

Irene tahu persis tindakannya salah. Hanya saja, dia tidak tahu bagaimana cara menghentikan langkah yang terlanjur ia jamah.

.

.

-0-

.

.

Esoknya seperti yang Irene prediksi, Taehyung bersikap biasa. Yang beda hanya cara si lelaki yang terkesan malas memandangnya. Irene pikir tak masalah. Toh juga sebentar lagi lelaki itu kembali menjadi yang dulu.

Dan prediksi sebentar lagi segera terlaksana saat jam makan siang datang. Taehyung begitu saja meletakkan nampannya di depan Irene. Dengan santai melahap makanan layaknya hari biasa.

“Kukira kau marah,” sindir si gadis kemudian. Taehyung tak melirik sama sekali, memilih fokus pada makanannya, “Memang.”

Baru saja Irene akan membuka mulut untuk melontar tanya lagi, Sehun lebih dulu datang, duduk di samping sang gadis. “Kenapa menunya sama dengan kemarin?” keluhnya kemudian. Tak begitu puas dengan sup ikan, sepertinya.

“Kau tidak suka sup ikan?” Begitu saja Taehyung mengambil mangkuk Sehun, yang lekas dicegah si pemilik, “Aku lebih tidak suka menyia-nyiakan makanan.” Langsung saja Taehyung mengedik bahu.

“Kenapa kalian kemari, sih?” Kali ini Irene berhasil mengungkapkan kesalnya. Masa makan siang kali ini harus dihabiskan bersama dua lelaki mengesalkan itu lagi? Kapan ia bisa makan dengan Junhong kalau begini? Dia baru akan mengusir kedua karibnya, ketika sosok sang kekasih menyambah pandangnya. “Hong-ie!”

Mendadak Sehun dan Taehyung kompak menunjukkan ekspresi risi, “Hong-ie? Heol!”

“Silakan menikmati makan siang, para jomblo sekalian. Aku mau pacaran.” Mengibas rambut, Irene lantas mengambil nampannya untuk segera menghampiri Junhong. Akhirnya makan siang berdua bisa terlaksana juga. Rasanya Irene ingin tergelak saking senangnya.

“Aku mual,” ujar Sehun. Segera saja Taehyung menanggapi, “Aku bisa habiskan sup-mu jika kau tidak berselera.” Mendapat tatapan dari Sehun, dia langsung mengedik dan menambahi, “Hanya menawarkan.”

Keduanya tenggelam dalam kegiatan masing-masing; menyantap makan siang. Beberapa kali Taehyung melirik Sehun di sela santapannya. Dalam hati dia awalnya ragu, namun mengingat berbagai kilas kejadian yang pernah ia lihat─atau ia perkirakan, Taehyung tidak bisa tenang. Sewaktu ia melihat Sehun sedang melirik ke arah meja dimana Irene dan Junhong berada, saat itulah Taehyung memanfaatkan kesempatan dengan baik.

“Sedang cemburu, ya?”

Yang ditanya langsung mengangkat kepala, memandang si penanya dengan tatapan aneh, “Dengan Junhong?” Dia hampir tegelak, “Memang aku masih butuh Irene. Tapi pacarnya, kan, si Junhong itu.” Sebenarnya barusan dia juga tak sengaja memandang ke arah Irene. Sehun hanya tak tahu Taehyung cuma memanfaatkan kesempatan.

Memutuskan untuk mengangkat tangan, Taehyung menambahkan, “Interupsi! Yang barusan tidak menjawab pertanyaan.” Langsung saja Sehun berniat menggunakan sendoknya untuk memukul Taehyung, sayang tidak kena. Taehyung lebih mahir menghindar.

“Aku cuma membantumu sadar,” lanjutnya, membuat Sehun langsung mengalih pandang beberapa sekon ke arah Irene dan mengembus napas pelan. “Aku tahu maksudmu. Tapi… aku terlanjur candu,” ucapannya ditutup dengan kekeh miris.

Dengan gaya yang tidak bisa dibilang serius, Taehyung masih mau kembali berucap, “Secara tak sadar kau membebaninya.” Dia bersendawa dan melanjutkan, “Irene terus berpikir: bagaimana jika Sehun depresi, bagaimana jika Sehun memakai obat, bagaimana jika Sehun bunuh diri, apa yang harus kulakukan?” Taehyung sendiri sadar jika lelaki di depannya diam-diam serius mendengarkan. “Pikiran wanita sebegitu bercabangnya. Apalagi untuk orang terdekat. Dan kau, Oh Sehun, berhenti merasa bahwa kau orang paling menyedihkan di dunia. Atau paling tidak cari pelampiasan yang lebih bermanfaat. Berhenti pura-pura tidak tahu Irene telah berkorban banyak untuk─”

Sebuah pukulan terlanjur dilayangkan.

Tanpa aba-aba apa pun mendadak Taehyung sudah tersungkur. Sehun baru memukulnya tepat di dagu, omong-omong. Dan Taehyung yang sudah mendapatkan kesadarannya bangkit dengan kekehan ringan. Sudah dia duga akan seperti ini. Tapi bukannya lebih baik begini daripada ia terus menerus diam?

Berhubung sudah banyak yang menonton dan Taehyung sendiri tidak ingin melawan, jadi yang dia lakukan hanya tersenyum tipis di sela anggukan pelan, “Habiskan sup-mu.” Lantas ia melangkah pergi seraya menatap Irene yang memandangnya dalam diam. Membuat sang gadis tahu, Taehyung serius masih marah dan tidak bisa menahan diri kali ini.

Harusnya Irene lekas menghampiri Sehun saat si lelaki menumbuk pandang padanya. Tapi ucapan Taehyung kemarin terlanjur membayangi benak. Yang ia lakukan hanya mengucapkan sesuatu tanpa suara yang langsung Sehun mengerti. Sehun bergegas pergi, menyisakan bisik-bisik tak enak di kantin. Sedang Irene sendiri menatap lelaki di sampingnya, “Sepertinya aku harus melihat mereka.”

Mengerti jika Taehyung dan Sehun adalah sahabat sang kekasih, Junhong hanya memberi anggukan tanda mengerti. Melepaskan tautan pada tangan si gadis yang bergegas pergi.

Rasanya kepala Irene ingin meledak. Langkahnya jadi lebih lambat. Kaleng jus yang baru ia beli sempat terjatuh dua kali. Ia baru menghentikan langkah kala menangkap sosok Sehun di tepi lapangan sekolah. Tepatnya sedang tiduran di tangga penonton.

Irene meletakkan jus tepat di samping pipi Sehun. Menjadikan si lelaki segera mendudukkan tubuh dan meraih kaleng minuman tadi. Ia meneguk isi jus hingga habis setengahnya. Saat menoleh pada karibnya, segera Sehun mendengus, “Bukan aku yang mulai.” Ternyata tatapan Irene membuatnya gerah juga.

“Aku tahu.” Tidak bohong, bukan? Irene lantas mendudukkan diri di samping Sehun. Mencoba melupakan jika bel baru saja bergema ke setiap penjuru sekolah. Biar saja, ada yang harus ia lakukan sebelum kembali ke kelas nanti.

Sehun memerhatikan gadis di sampingnya dalam diam. Dia sedang tidak bisa berpikir fokus. Hingga menyebabkan semua yang ada di sekitarnya berubah lebih berlebihan ketimbang seharusnya. Misalnya saja tatapan yang Irene tujukan sekarang. Rasanya seperti bergumpal kasihan menabrak dada Sehun berkali-kali. Menjegalnya sampai ia jatuh dalam kubangan rasa sesak yang teramat sangat. Secara mendadak membuat kepalanya penat.

Sehun mengerjapkan mata beberapa kali. Diraihnya tangan Irene untuk digenggam. Sang gadis yang menyadari Sehun mulai tidak stabil lagi, menangkupkan telapak tangan di pipi si lelaki. Niatnya hanya ingin menenangkan diri sang karib. Namun Sehun malah mendekatkan wajahnya. Mencoba tak mengambil spasi dengan gadis di depannya.

“Sampai sini saja,” ucapan cepat Irene memecah hening. Dia berhenti menangkupkan tangan di pipi Sehun seraya memundurkan tubuh teratur. “Aku tidak ingin kau terus begini.” Taehyung benar, bukan begini caranya memastikan Sehun tetap baik-baik saja.

Tahu persis emosinya kembali tinggi, Sehun memejamkan mata sejenak. Menarik napas sebelum menggenggam kaleng jus lebih erat. Irene diam saja, tak berani berucap.

Sampai pada akhirnya yang Sehun lakukan adalah membanting kaleng penyok di tangannya, dan bergegas enyah dari sana. Meninggakan Irene yang hampir menangis dengan sedikit cipratan jus di pipinya.

“Aku jelas menyayangimu, Sehun! Kita sudah berteman hampir empat tahun!”

Sayangnya Sehun sudah lebih dulu menulikan telinga.

 

.

 

.

 

.

 

Secara tak sadar kau membebaninya.

Membebani bagaimana?

 

Aku tidak ingin kau terus begini.

Lalu Sehun harus bagaimana?

Sehun melemparkan ransel ke sembarang arah. Tempat latihan masih kosong. Wajar saja karena pasti yang lain masih duduk di kelas dan memerhatikan guru bicara. Sehun sudah masa bodoh dengan wali kelas yang mungkin akan memanggil orangtuanya karena kasus membolos ini.

Dia terduduk di lantai, menyandarkan diri di tepi sofa. Merasa begitu menyedihkan. Emosinya masih saja tinggi, membuat detak jantungnya terdengar lebih pasti. Rasanya saja ingin membenturkan kepala setiap orang yang ia temui. Tapi sisi kewarasan masih punya tempat di otaknya. Dia memilih untuk menghabiskan waktu berdiam diri.

Hari ini dia memukul Taehyung.

Hari ini dia membuat Irene menangis.

Hari ini dia tidak mau pulang.

Hari ini rasanya dia ingin mati.

Sebuah garis air mata mulai terlihat di pipi kanannya. Lantas Sehun mendongak untuk melihat langit-langit ruangan yang bahkan terkesan mengejek di atas sana. Sekeras apa pun ia mencoba, sakitnya justru semakin membelenggu erat. Tetes garam pada sayat yang ia pelihara semakin membuatnya terluka. Sekon selanjutnya ia memejamkan mata. Mencoba untuk menstabilkan napasnya yang semakin sesak. Seiring dengan air mata yang menyapu pipinya.

Genggamannya yang terlampau erat membuat buku-buku jarinya memutih. Giginya gemertak menahan teriak. Napasnya masih tak dapat teratur, kendati ia telah mencoba tenang.

 

Sehun, kau sudah besar. Pasti kau mengerti keadaan ayah dan ibu.

Ketika Sehun mengangguk waktu itu, ia mengutuknya.

 

Kak Hojun, apa hatimu sakit?

Ketika Sehun bertanya waktu itu, ia menyesalinya.

 

Jangan ikuti kakak lagi. Kembali ke rumah bersama ayah.

Ketika Sehun masih bisa tersenyum wakti itu, ia tak ingin mengingatnya.

 

Enyah kau, Oh Sehun!

Ketika semuanya terlihat berubah hanya karena salah satu telah memutuskan arah.

 

Ayah sudah menemukan malaikat baru untukmu.

Ketika semuanya terlihat kelam walau kenyataannya bukan hitam.

 

Sehun, tersenyumlah saat bertemu dengan adik barumu.

Ketika semua bayangan manis perlahan luntur oleh waktu.

 

Aku ingin kembali ke masa lalu.

Potongan percakapan yang selalu ia pendam justru menjadi yang paling sering dipikirkan. Menjadikan pening hebat menyambah otaknya. Mencengkramnya erat sampai ingin meledak walau dengan paksa. Ada bagian yang begitu pekat nan menyakitkan di benaknya. Menyebarkan racun penyebab nyeri yang menyambah seluruh tubuhnya.

Semenjak sang ayah memutuskan bercerai dengan ibu kandungnya, ini kali pertama Sehun kembali terisak begitu keras setelah sekian lama.

 

Kak Hojun,

… apa aku boleh mati hari ini?

.

 

.

 

.

 

.

Hari sudah gelap ketika Sehun keluar dari tempat latihan. Menyeret langkah yang terkesan sangat pelan. Dibanding tadi, ia sudah lebih baik sekarang. Walau tak memikirkan apa pun, setidaknya kadar kewarasannya sudah setengah penuh. Dipandangnya langit tanpa bintang yang nyatanya tak menambah efek terenyuh.

Sebelumnya ia sudah melepas kemeja sekolah, menyisakan kaus putih di tubuhnya. Jaket tipis biru tua yang tak dikancingkan dan tudung yang menutupi surai legam, menjadikannya tidak terlihat seperti anak sekolah yang siang tadi baru membolos kelas.

Masih asyik memandang langit pekat, Sehun sedikit terusik dengan suara tolakan sepatu dengan jalanan milik seseorang. Saat ia kembali menatap ke depan, seorang gadis terihat melompat dengan satu kaki di atas sebuah gambar di atas jalan. Gambar kotak-kotak memanjang dan salah duanya bercabang, yang digores dengan kapur.

“Delapan… Sembilan… Yak!” Gadis itu langsung bercacak pinggang setelah berhasil melewati semua kotak tanpa menyentuh garis. “Sudah kuduga, aku memang jago di banyak bidang.”

Sehun sudah menghentikan langkah untuk memerhatikan si gadis dalam diam. Sepertinya ia tahu siapa pemilik sosok itu.

“Kwon?”

Nah, benar saja. Gadis tadi langsung menolehkan kepala.

.

.

.

.to be continue

Waw, setelah sekian episode Sehun cuma muncul seupil, akhirnya dia nongol besar-besaran di Chapter 4 ini /lalu kayang/

Ada yang mulai bisa nebak sebenernya masalah Sehun apa?

Ada yang bisa nebak kenapa marga Seunghee sama Sehun sama walau mereka saudara tiri?

Ada yang masih nebak-nebak siapa si Kwon?

Ada yang kesel gak sih aku apdet lama?/gak nid/ :’v Maafkan, bagaimanapun juga aku bakal selesein fiksi ini kok :3 Kesayangan sekali soalnya ahaha/lalu dilempar/

p.s: Jangan lupa di setiap chapter, cast yang tertera menyesuaikan

.nida

5 thoughts on “2ND GRADE [Chapter 04]

  1. sedih banget deh sehun disini. uuu jadi makin sayang. betewe untung aku buka exoffi hahahah. niatnya mau ngecek ff sebelah. tau tau tetangga update. ciah. LAMA SUMPAH KA UPDATE NYA. trus yaa. typo satu ketauan aseek. jeli banget mata aku. KURANG BANYAK OKE PIKS. ITU SIAPA LAGI KWON, KWON. KWON RIZKA ITU😄😄😄. tijel ni komen. okepiks

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s