2ND GRADE [Chapter 14] -by l18hee

2ndgradepstr

2ND GRADE [Chapter 14]

─by l18hee

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Sehun | [EXO] Chanyeol

[CLC] Seunghee | [17] Sunyoung | [EXO] Baekhyun | Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Fluff | Friendship | Hurt | Romance | School-life

.for

Teen

.

Poster by NJXAEM

.

Previous Part:

Prologue | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13

.

Now Playing ► Chapter 14 [Apologize]

Maaf…

…katanya.

.

.

Mungkin perasaan mengetahui sekarang adalah hari Sabtu tak pernah semelegakan yang lalu. Runa menghabiskan hampir sepertiga malam untuk menangis dan bercerita panjang. Awal-awal Runa membicarakan perihal hubungannya dengan Chanyeol yang─ugh, sudahlah, tidak perlu diteruskan. Namun lama kelamaan gadis itu tak tahan untuk menyelipkan kata-kata aneh yang memancing kekeh Seunghee. Tentu hawa-hawa gulana tak lepas hingga obrolan mereka berakhir. Tapi untunglah mereka bisa membuat itu tidak terlalu memberi kesan dramatis dan dibuat-buat. Sesi curahan hati terpanjang mereka membuat Runa dan Seunghee tertidur pulas setelahnya.

Berbeda dengan Seunghee yang masih bergelung dalam selimut, pagi-pagi sekali Runa sudah terbangun untuk membereskan barangnya. Ia memasukkan seragam ke ransel─omong-omong sekarang dia sedang memakai kaus dan celana training pinjaman Seunghee. Harusnya sebagai gadis yang sopan, ia memberi salam untuk berpamitan. Tapi ada hal yang membuatnya malas mengucap kata panjang. Jadi gadis ini bergegas keluar kamar seraya menenteng ranselnya. Jaket yang dipinjamkan Sehun semalam biarlah ia perpanjang masa peminjamannya. Toh jika ingin mengembalikan, ia bisa menitipkannya pada Seunghee di sekolah.

Rumah Keluarga Oh masih sepi, kecuali di bagian dapur. Sudah Runa duga Ibu Seunghee pasti telah terbangun sejak tadi. Ketika manik mereka bertemu, Runa langsung menundukkan kepala dan menyapa, “Selamat pagi, tante.”

“Pagi, Runa. Kau bangun awal. Apa kau sudah─lho, kenapa sudah bawa ransel? Mau pulang sekarang? Tidak makan dulu?” Serentet tanya terdengar. Bergegas Runa menyuguh senyum kecil, “Tidak, terima kasih, tante. Aku ingin pulang sekarang, sudah terlalu banyak merepotkan.”

Dengan sendok sayur di tangan, Ibu Seunghee melangkah mendekat untuk membuat Runa tahu bahwa senyum yang disuguh begitu tulus. “Ah, tidak merepotkan. Aku senang Seunghee membawa teman ke rumah. Kau mau kubawakan sesuatu untuk dimakan di rumah nanti?”

“Tidak perlu, tante. Terima kasih banyak.” Sekali lagi Runa membungkukkan badan sekilas. Ibu Seunghee masih menyuguh senyum, sepertinya paham jika ada sesuatu yang membuat Runa merasa tak nyaman, “Baiklah. Pulang dengan hati-hati, ya? Kalau ada apa-apa, kau bisa memanggil Mamanya Seunghee yang bisa apa saja ini.” Mau tak mau Runa melebarkan senyumnya ketika melihat Ibu Seunghee menepuk dada pertanda bangga.

“Sekali lagi, terima kasih. Aku pulang dulu.”

Seusai berpamitan, Runa bergegas menuju pintu depan. Dia memakai sepatu dengan cepat, menyempatkan diri untuk membuang napas panjang ketika berhasil melangkahkan kaki keluar. Yang pertama ia lihat saat mengangkat kepala adalah eksistensi seorang lelaki ber-hoodie dengan bola basket di tangan sedang membelakanginya. Siapa lagi kalau bukan Sehun?

Kala mendengar pintu di tutup, lelaki itu menolehkan kepala, memasang wajah kaget─atau berlagak kaget. “Sudah mau pulang?”

“Kau sedang apa?” Daripada menjawab, Runa lebih memilih menanyakan hal lain. Jika tidak melihat mata si gadis yang tinggal segaris, Sehun pasti melayang protes. Sang lelaki lantas menunjukkan bola basket di tangan, “Tidak lihat aku membawa apa?”

“Kau bermain basket di rumput depan rumah?”

Lalu Sehun mencibir kecil, “Aku baru akan berjalan ke lapangan di taman. Mau ikut?” Dan sebuah gelengan tersuguh sebagai jawaban. Runa mengambil langkah tanpa berniat melontar kata lagi.

Sesungguhnya Sehun berbohong. Pagi-pagi buta ia sengaja sudah bersiap di depan rumah karena instingnya berkata bahwa Runa akan keluar lebih pagi. Dan benar saja, gadis itu sudah melangkah menuju halte di dekat kompleks rumah Keluarga Oh. Tak menyia-nyiakan waktu, Sehun menyusul langkah kaki yang si gadis cipta. “Mau pulang? Kuantar, bagaimana?”

Tak ada jawaban. Tak menyerah, Sehun kembali membujuk, “Kuantar. Sampai depan rumah, deh.” Kali ini Runa malah menghentikan langkah, menatap Sehun yang tergagap sendiri. Semula lelaki itu mengira akan mendapat semprotan dari gadis yang baru saja patah hati. Namun yang terjadi jusrtu sederet kalimat yang menyambah indera pendengarannya.

“Kenapa mau mengantar? Kau tidak mau minum alkohol lagi, begitu?”

Perlu waktu tiga detik untuk dua hal: pertama, Runa yang terkekeh kecil; kedua, Sehun yang menyadari jika ia baru saja disindir. Kejadian saat pertama kali mengantar pulang kini tergambar sebagai hal yang memalukan di otak Sehun.

“Astaga, kau masih ingat?” Mereka kembali melanjutkan langkah. Sehun menganggapnya sebagai persetujuan untuk momen mengantar pulang. Diselingi memainkan bola basket yang lupa ia tinggalkan, Sehun melirik gadis di sampingnya yang memberi jawaban.

“Terkadang aku mengingat hal yang tidak perlu. Aneh, kan?”

“Mungkin karena wajah tampanku yang mudah membekas di ingatan,” ujar Sehun percaya diri yang langsung ditanggapi oleh si lawan bicara, “Jika kau berkata itu minggu lalu, aku akan lebih membanggakan pacarku. Tapi berhubung sekarang sedikit berbeda, jadi … oke, aku setuju saja dengan ucapanmu.” Runa berkata seolah topik yang diangkat tidak memberi kesan sensitif. Sehun saja merasa canggung, buktinya ia menggaruk tengkuk sebentar. “Kenapa aku tidak merasa tersanjung sama sekali, Kwon?”

Ada beberapa obrolan yang mereka tukar sepanjang perjalanan. Sesekali hening menyambah, Sehun membiarkannya karena tahu Runa sedang tidak begitu suka melontar kalimat. Seusai turun dari bus dan mulai berjalan lagi, sang lelaki baru menyadari sesuatu yang ingin ia tanyakan. “Eh, kau masih pakai ini?” Ia memainkan tudung jaket merah marun yang Runa pakai, sebentar. Sebenarnya ini pertanyaan teraman dalam rangka memecah hening.

“Pinjam dulu, ya? Aku hanya pakai kaus pendek sekarang.”

Seraya meraih tudung jaket─dengan satu tangannya─untuk menutupi kepala Runa, Sehun berkata cepat, “Jangan lupa dicuci, harus wangi.” Langsung saja Runa membenarkan tatanan tudung jaketnya. Sehun memang tidak ada lembut-lembutnya. Membenarkan tudung jaket saja sampai muka Runa hampir tertutup separuhnya. Surai si gadis juga ikut tertarik terbawa ke depan muka. Benar-benar, deh.

.

.

“Terima kasih sudah mengantar.” Bungkukan yang Runa lalukan hanya satu kali dan tak terlalu dalam. Sehun memperhatikan rumah di sampingnya, bergumam oh-ini-rumahnya dalam hati. “Jangan membungkuk. Aku terlihat lebih tua.”

“Sudah, pulang sana.” Malas memperpanjang konversasi, Runa berkata seperti itu. Tidak serius marah, Sehun tahu persis entah dari mana. Lelaki ini berbalik setelah menggumam seadanya. Ia sempat mendengar Runa kembali berbicara, “Langsung pulang. Jangan minum alkohol.”

Sehun menoleh cepat, “Berhenti mengejekku. Masuk sana, tidur lagi sampai siang.” Dia berlagak mencibir sebelum kembali menatap ke depan, melanjutkan langkah untuk pulang. Menyisakan Runa yang kembali membiarkan bahunya merosot.

Sepertinya ia memang ingin tidur sampai siang.

Hasilnya, Runa memang tidur hingga siang datang. Sunyoung sama sekali tidak bertanya, karena dia sendiri sibuk mendengkur di kamar sebelah. Ayahnya tidak di rumah akhir pekan ini. Sejujurnya bisa saja menjadi momen terasyik jika saja Runa sedang tidak berkecimpung dalam mode galaunya.

Sekitar pukul satu lebih sekian menit, ketukan di pintu kamar Runa terdengar. Gadis yang dari beberapa menit yang lalu sudah terbangun dan memilih diam tanpa memikirkan apa pun kini berseru malas, “Apa?”

Pintu dibuka, dan kepala Sunyoung menyembul dari celahnya, “Ada Kak Chanyeol. Barusan sudah kusuruh masuk, kok.”

“Kenapa kau suruh masuk?!” seruan geram ini dilayangkan bersamaan dengan Runa yang langsung terduduk di ranjangnya. Sunyoung sendiri malah mengira kakak sepupunya malu karena ketahuan baru saja bangun dari tidur panjang. “Ada liurnya tuh.” Setelah berkata begini, si lelaki langsung menghilang lagi. Membiarkan Runa dengan kesal mengusap-usap sudut bibir yang dituduh menjadi sasaran liur salah jalur.

Runa hanya menyisir rambutnya seraya berkaca, “Ya Tuhan, aku benar-benar seperti gadis patah hati.” Mata bengkaknya masih terlihat. Sungguh, ini bakal memalukan jika diketahui Chanyeol. Bagaimanapun Runa ingin ia terlihat biasa saja. Diraihnya asal bingkai kacamata di laci meja, lumayan mengalihkan fokus jika dipakai.

Di sofa ruang tamu, terlihat Chanyeol sudah duduk sedikit membungkuk, tengah memainkan jemari tangan. Senyum terlihat di wajahnya ketika mengobrol dengan Sunyoung, tapi terkesan terpaksa. Ketika menyadari Runa sudah muncul, Sunyoung lantas meraih tasnya, “Oke, selamat pacaran. Aku mau futsal dulu. Dah!”

Setelah bunyi blam dari depan pintu, Chanyeol menggerakkan manik gelisah dan menggaruk belakang kepala.

“Mau minum apa?” pertanyaan Runa menguar. Sebenarnya Chanyeol ingin menjawab, tapi si gadis sudah lebih dulu berjalan ke dapur. Rupanya hanya basa-basi saja.

Setelah meletakkan segelas air di depan tamunya, dengan santai Runa mengambil tempat duduk di sofa terpisah, membiarkan maniknya ditemukan oleh si lelaki.

“Semalam─” Chanyeol berdehem dan mengalih pandang sebentar, “─kau tidak pulang, ya?”

“Iya.” Jawaban yang terlalu cepat didapat membuat Chanyeol membenarkan duduk gelisah. Terlalu sibuk merangkai kata yang dapat diterima sang gadis dengan tenang. Nyatanya Runa yang tak sabar langsung membuka suara lagi, “Bersikaplah seperti biasa.” Dia tidak begitu suka melihat Chanyeol mempertontonkan sikap penuh rasa bersalah. Semakin menunjukkan jika lelaki itu memang salah.

Sebuah kekeh canggung Chanyeol kuar, “Maaf, aku agak sedikit─” Mendadak Runa ingin memotong, “─tidak nyaman? Bingung? Malu?” Sumpah, dia sedang tidak dapat menahan diri. Jangan sampai matanya memanas lagi.

“Runa,” bariton ini terdengar, “Tentang semalam, aku ingin menjelaskan sesuatu.” Oh, Runa muak dengan basa-basi, “Sudah berapa lama?”

“Hm?” Kedua alis lelaki itu terangkat. Memaksa pertanyaan tadi diulang lebih lengkap, “Sudah berapa lama kau bermain, Park Chanyeol?”

Jika ditanya apakah ia ragu, jelas Chanyeol akan mengangguk kuat. Tapi tak ada gunanya, keraguan untuk berkata jujur sekarang justru akan membuat semua makin runyam. Jadi dengan mengalih tatapan, ia membuka bibir setelah meneguk ludah, “Hampir satu setengah bulan.” Runa memejamkan mata untuk menahan suaranya melengking marah. Ia mengembuskan napas diam-diam. Rasanya jarum jam yang berdetik menimbulkan kesan begitu dramatis sekarang.

“Demi Tuhan aku tidak serius dengannya, Runa. Dan tidak semua alasanku bermain dengan Kris kuhabiskan bersamanya. Aku hanya serius padamu.”

“Kau pikir dengan kesadaran penuh bermain di belakangku, dinamakan serius?” Setelah melontar nada sarkas, Runa bersidekap, “Kenapa diam? Mau bilang selama hampir satu setengah bulan ini tidak sengaja? Kau tidak sadar? Atau baru diberi ramuan cinta yang membuatmu mendadak buta, begitu? Bullshit, tahu tidak?!”

Ada udara yang mengganjal tenggorokan Chanyeol hingga barang menelan ludah pun susah dilakukannya. Namun keegoisan untuk terus memeluk Runa di sisinya membuat ia mengembus napas, sebelum akhirnya meraih tangan sang gadis dalam genggaman, “Aku selalu menyayangimu, Kwon Runa.”

Dan yang paling tidak terpikirkan oleh Chanyeol adalah rasa dingin tiba-tiba yang menerpa wajah serta rambutnya. Baru saja air dalam gelas di meja sudah berpindah menampar wajahnya.

“Sayang, pantat kuda!” Satu hentakan gelas pada meja terdengar. “Aku tidak bisa memikirkan kata lain selain putus. Jadi akhiri saja tanpa perlu penjelasan apa-apa.”

“Tapi Runa─”

“Kau tahu aku malah akan makin kecewa jika paham permasalahan sebenarnya. Toh juga alasannya sudah jelas dan aku bisa melihatnya sendiri kemarin.” Mendapati rasa kasihan melihat tetes air yang meluncur indah dari ujung rambut Chanyeol, Runa segera memijit kepala. “Semua yang kau katakan justru akan terdengar sebagai pembelaan di telingaku.”

Sambil mengusap wajahnya, Chanyeol mengembuskan napas pasrah. Tahu bahwa seberusaha apa pun ia hari ini, keputusan Runa tidak akan berpindah posisi. Lelaki ini paham benar, sang gadis begitu membenci sebuah pengkhianatan bagaimana pun bentuknya.

“Aku minta maaf.” Maniknya menusuk masuk dalam lingkup fokus Runa. Yang ditatap masih tak acuh, “Lain kali kumaafkan. Pulanglah.”

Sejemang Chanyeol memutuskan menyimpan wajah Runa yang tengah mengalih pandang, dalam memori. Entah dari mana ia memiliki firasat akan sulit bertemu dengan gadis ini di kemudian hari. Yah, jelas saja. Chanyeol, kan, sekarang sudah dibenci.

Dia meniup udara dengan cepat. Kendati sepenuhnya enggan, tubuhnya tetap bergerak untuk beranjak. “Baiklah, aku akan pulang.”

Runa bangkit dari duduknya untuk memastikan Chanyeol benar-benar keluar secepat yang ia mau. Gadis itu terang-terangan berdecak tak sabar kala si lelaki memakan waktu lama untuk memakai sepatu. Di saat sudah melewati pintu depan, Chanyeol berbalik, menatap Runa yang baru akan menutup pintu dari dalam. Dengan cepat ia menahan pintu, “Aku benar-benar minta maaf.” Tidak ada jawaban hingga ia kembali membuka katup bibirnya, “Aku sayang─”

Pintu terlanjur ditutup dengan bedebam kencang.

“─padamu.”

Menyisakan Chanyeol dengan air yang tak kunjung mengering di surai legam.

“Aku tidak ingin putus.”

.

 

.

 

.

Sisa hari Sabtu awalnya Runa dihabiskan untuk bergelung dalam selimut. Dia mencoba tidur, tapi sepertinya tubuhnya sudah kelebihan energi. Jadi disinilah kebiasaannya saat kesal, muncul. Setelah menendang selimut jauh-jauh, ia bergegas mengikat rambut tinggi. Dinyalakannya musik ponsel yang lantas disambungkan ke pengeras suara.

“Memang tidak ada yang tidak berengsek!” entah umpatan ini ditujukan untuk siapa, Runa masa bodoh. Tidak perlu waktu lama baginya untuk membuat ranjang kamar berubah rapi.

Oh, iya. Omong-omong jika Runa sedang dalam tingkat kesal yang teramat sangat, ditambah mencoba tidur malah tak manjur, biasanya ia menghamburkan energinya untuk berbenah. Seperti sekarang. Setelah melihat kamarnya berubah bersih, ia melayangkan target ke ruangan lain. Dapur, ruang tamu, bahkan kamar mandi, semuanya beres. Jika ayahnya melihat ini, pasti Runa bakal disuruh bersih-bersih tiap hari dengan dalih menghemat pengeluaran untuk menyewa asisten rumah tangga. Sekadar info saja, asisten rumah tangga yang Tuan Kwon sewa, hanya datang setiap tiga hari sekali.

“Apa aku perlu membereskan kamar Sunyoung?” Runa baru saja mencuci tangannya, tapi ia menggeleng, “Tidak, ah. Kamarnya lebih parah dibanding seluruh ruangan di sini.” Kegiatan bersih-membersihkannya seperti yang Runa duga, menguras banyak tenaga. Nah, jika begini ia bisa tidur dengan pulas. Tentu setelah membersihkan diri di bawah guyuran air segar.

Dan ketika semuanya terasa beres, Runa sudah menghempaskan diri di ranjang seusai menyempatkan diri memelankan volume musik. Matanya memberat, angin yang menyelinap dari jendela yang terbuka menjadi salah satu sebabnya. Betapa ia menyukai kebiasaan bersih-bersih saat kesalnya. Dengan kegiatan penuh begini ia bisa mengenyahkan Chanyeol dari pikirannya, walau untuk sementara.

Di detik di mana ia hampir tersedot dalam alam bawah sadar, suara notifikasi ponsel terdengar. Runa memilih tak acuh. Membiarkan dirinya diseret ke alam mimpi, meninggalkan ponsel menyala dengan balon pesan yang terpampang di layarnya.

 

Park Chanyeol:

Aku serius tidak bisa putus denganmu.

Oh! Satu lagi bunyi notifikasi muncul. Kali ini beruntun.

 

Byun Baekhyun:

Ini aneh.

Barusan rasanya aku melihat Chanyeol bertengkar dengan seorang gadis.

Aku yakin dia Han Nami.

Hei!

Kau di mana?

Balas pesanku!

Percuma, Runa sudah lebih dulu terlelap.

.

.

.

.to be continue

“Sayang, pantat kuda!” HUAHAHAHAHA MPOS, mungkin agak menstrim adegan lempar air, TAPI SUKA WAHAHA /ketawa setan/ /lempar mercon/

Btw si lee yeol idup lagi ya di missing 9? Jadi bidadara gidu /gagitunid/ /nidplisdeh/ /nidbangun/

.nida

Iklan

24 pemikiran pada “2ND GRADE [Chapter 14] -by l18hee

  1. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 18] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  2. “Sayang, pantat kuda!” Kok ngakak ya thor haha😂
    Kenapa harus pantat kuda? Wkwk.
    Kalo ga serius sama Nami ga mungkin keterusan sampe satu setengah bulan, ya kan Chan😒😒😒. Kasihan Runa.

  3. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 17] -by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 16] -by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 15] | EXO FanFiction Indonesia

  6. Boljug tuh ya punya temen kayak Ru Na… Buat dia kesel dirumahku, dan rumahku pun akan kinclongg… 😁😁😁 Btw Se Hun harus lebih giat lagi ngedeketinnya… 😄😄😄

  7. bagus bngt yaa kalo marah kesel pelampiasannya bersih” rumah… hahahah bagus baguss
    yeol mah gitu gk mau putus tapi duain… ihhh cewek mana yg mau digituin.. heran deh…
    paling suka baekhyun sms heboh gitu… udah ngalahin mak” rempong gosip.. dasarrr baekhyun… gtu katanya paling manly… perlu dipertanyakan lagi
    next…..

  8. Sorry kak typo. Semangat nulisnya y aku selalu nunggu lanjutannya, maaf juga baru komen di chapter ini soalnya lupa nama akun hehehe… n ijin obrak abrik webnya ya.
    Ceritanya seru meskipun kurang panjang tapi kalimatmya ngak ngebosenin n alurnya juga nggak kecepetan. Oke bgt dah ini ff suka bgt aku. Meski kurang panjang ya gak papalah nenurut aku soalnya nulis itu kan gak gampang n gak bisa asal. Oke good job kak smoga lancar terus ide n karya”nya aku menunggunu hehehe…

  9. chanyeol oppha dinistakan di sini jadi orang jahat tp suka tp jg kasian dia kan bias aku. Semoga sehun oppha bisa nyembuhin patah hatinya ruma

  10. Ga tau kenapa aku masih dukung Chan balikan sama Runa, ya walaupun Chan emang udah keterlaluan banget. Tpi ga tau aja ya authornim, suka gitu kalo liat mesranya Runa sama Chan. Masih berharap sih ya Runa balikan sama Chan *kayanya ga mungkin*.
    Banyak yg ngedukung Runa sama Sehun, aku tetep dukung Chan wlopun ikutan sakit hati pas tau Chanyeol selingkuh. Feeling sih Runa sama Sehun, cuma ya kali aja ga hahaha
    tetep semangat buat authornim, ditunggu next chapnya.

  11. Kebiasaan Runa unik banget. Kelebihan energi gk bisa tidur jadi beres-beres rumah udah beres ngerasa kehabisan energi langsung tidur 😀 Lucu deh. Pantes aja Sehun tertarik olehnya 🙂
    Buat CY udah lah terima aja kalau Runa udh pengen putus. Jgn ganggu Runa lagi biar dia bisa jadi Sehun 😀

  12. wachh runa keren bngeet,,rasain tuh si chanyeol makanya jangan main belakang…trus lucu juga pas momentnya sehun yg waktu nganter runa pulang😁😁😁

  13. Yakin chapter ini jalan ceritanya keren banget nget nget. Paling suka adengan runa motong pembicaraannya chanyeol. Gilak runa kyk singa lagi beranak aja, galak bener. Ditunggu next chap ya thor, keep writing.
    Jujur aku hampir frustasi chapter 14 ini kok ga muncul-muncul. Dikira hiatus, aku udh ckp sedih webtoon favku hiatus smga ff ini gak hiatus.
    Segitu dulu thor, maaf kalo ada salah ketik. Semangat terus thor….. ^^

  14. Ahhh, Runa kamu keren banget sih 😘👍
    Jadi perempuan ni harus kayak gini, berani ambil keputusan bukan mau aja minta balikan karena minta maaf
    Emang dengan kata maaf semuanya bisa balik lagi gitu? Sama aja kayakk baca buku 2x hasilx tetap sama 😁😁
    Ayoo, Runa ada sehun tuh yn menunggumu tunjukin kalau kamu bisa tanpanya 😄😄
    #ketawajahat

  15. Hi nida, sk bgt sm ff 2nd grade ini. Saya slh 1 pemirsa stia ff ni/dah bc dr prologue n ‘ykn bgt’ prnh ninggalin jejak (di awal2 crita br di mulai) tp wkt bc chptr 13 mggu kmrn, runutin ke blkng satu2 smp prologue ko ga nemu 1pun jejak yg ykn prnh ku bwt stlh bc ff ni 😢 ksel! Brhrp akan bnyk moment sehun-runa scpt’ny 😍 /aga lupa, emang wkt yg dulu sehun nganterin runa plng yg prtm tu, dy da scene minum alcohol gt ya? 😕 chanyeol iseng aja sih pk slingkuh sgala/ngrasa plng ganteng di sklh x 😒 ga tau ja sehun lg nargetin runa! Btw, sneng akhr’ny Kris-akuh muncul jg di chptr 13 kmrn 😍 dr awal nggu2 kpn Kris bkl muncul, blm kbagian scene sdkt pun dy dr awal 😟 nm’ny cm di sbut2 doang. Slalu menanti update-an ff dr author2 ksayangan di wp exoffi ini 😀 고마워 utk ff2 bgs n kren’ny 😉 see u soon~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s