2ND GRADE [Chapter 25] by l18hee

2ndgradee

2ND GRADE

─by l18hee

.

Now Playing ► Chapter 25 [Libur Musim Panas #3]

Jatuh cinta itu bukan salahku, atau salahmu. Mungkin hanya masalah waktu.

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Sehun, Baekhyun, Chen |  [CLC] Seunghee | [BTS] Taehyung & Jungkook | [RV] Irene & Wendy | OC(s)

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy |Hurt | Family | Fluff | Friendship | Romance

.for

Teen

.

Previous Part:

Prologue | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24

.

.

Sambil menggigit semangkanya, Baekhyun masih terus bercerita dengan semangat. Membuat yang lain tertawa karena leluconnya. Kadang Taehyung, Sehun, atau Wendy menambahi. Sisanya hanya menyumbang tawa, termasuk Runa. Dia rasa tawanya paling keras, tidak tahu mengapa.

Mendadak saja ponselnya bergetar.

“Hm, Sunyoung, ada apa?”

“Runa, ini Bibi.”

“Ah, Bibi, apa Bibi sedang berkunjung?” Lalu selanjutnya terjadi obrolan singkat di antara keduanya. Usai mengucap salam perpisahan, Runa tersenyum lebar. Sepertinya memang banyak hal bagus terjadi di musim panas kali ini. Tiba-tiba alisnya mengerut saat melihat notifikasi yang belum ia lihat.

“Apa-apaan?” Ada firasat tak enak saat membaca akun Nami menandainya di sebuah foto. Dibatinnya dua kemungkinan yang ada. Pertama, Nami memposting quotes yang menyindirnya. Kedua, Nami mengunggah foto berunsur Chanyeol.

“Norak!” cetusnya segera, mendapati kemungkinan kedua adalah yang paling benar. Nami benar-benar seperti anak kecil. Tidak masalah jika mengunggah foto berdua dengan Chanyeol atau apalah sejenis itu. Tapi apa harus menandai Runa? Astaga.

Sedang mengerucut jelek, tahu-tahu saja Runa teringat hal yang membuatnya tergelak. “Aku bahkan tidak follow dia. Hebat.” Ia merasa perutnya kaku, “Dia mempermalukan diri sendiri.”

Sebenarnya tak hanya Runa yang menyadari foto baru milik Nami, ada Wendy yang juga mengetahuinya. Mari kembali sebentar beberapa menit ke belakang, saat di mana Runa baru saja beranjak menjauh untuk mengangkat panggilan ponsel. Begitu Runa sibuk dengan telponnya, Wendy langsung menyenggol lengan Baekhyun─berhubung tempat mereka duduk bersebelahan. “Nami mengunggah fotonya dengan Chanyeol.”

“Ha?” Baekhyun baru membuka mulut sementara Wendy sudah cekatan menggeser layar ponselnya. “Lihat,” sodoran ponsel yang Wendy lakukan langsung menarik seluruh atensi Baekhyun. Sejemang, Baekhyun hanya memandang foto tersebut. Nami terlihat melakukan self-camera dan sosok Chanyeol yang tidak menghadap ke lensa ada di belakangnya. Mungkin diambil tanpa sepengetahuan Chanyeol. Caption di bawahnya bertuliskan ‘Liburan~ @pcyeol’ berimbuh tiga emoticon love. Wow.

“Apa para gadis selalu melakukan itu?” Malahan Baekhyun tertawa kecil, tak habis pikir. “Aku jamin Chanyeol merasa tak nyaman.”

“Nami bahkan menandai Runa, Baek. Dia benar-benar sudah hilang kewarasan.” Sebuah decihan terdengar dan Wendy kembali membuka mulut, “Mungkin niat gadis itu mau pamer─sebenarnya bukan mungkin lagi, sih. Pasti.” Lagi, Baekhyun terkekeh, “Chanyeol yang kasihan. Semua tahu bahwa dia baru putus dengan Runa. Dan jika ada gadis lain dalam waktu dekat, pasti persepsi orang sudah negatif.”

“Nami memang tidak menggunakan otaknya dengan benar. Jika saja dia bersabar sedikit, paling tidak setelah libur musim panas, mungkin orang-orang tidak makin menuduhnya sebagai perebut pacar orang,” ujar Wendy panjang lebar. Iseng-iseng dibukanya akun milik Chanyeol yang tertera di caption Nami. Langsung ia menyepit tatkala melihat satu gambar.

“Hebat. Byun Baekhyun, kau harus lihat bom yang lebih besar.”

c7cf4faa5154ef72995dabd4e846817e.jpg

♥319 likes

pcyeol (…)

7 coments

kriswufan no tag? no caption?

choirachel ini Runa? kalian balikan?

luciapark kak -_-

Sampai-sampai Baekhyun tak bisa berkata apa pun. Dia hanya melongo dan memandang Wendy, seolah ingin mengucapkan sesuatu tapi tak sampai. Mengerti, Wendy hanya berdecak, “Ini foto unggahan semalam. Yang kutahu, semalam Runa menghabiskan banyak waktu dengan Sehun, aku mengira dia belum melihatnya.”

“Jika setelah ini sikapnya masih biasa, kemungkinan dia belum lihat,” putus Baekhyun kemudian. Dia mengambil botol minum dan meneguknya banyak-banyak. Hampir saja tersedak karena terlalu terburu. Dia terbatuk kecil beberapa kali dan menyeka mulutnya, mengembus napas panjang tepat saat Wendy bergumam sebal, “Kenapa lelaki itu tidak menyingkir saja secara perlahan?”

“Susah melupakan Runa, mungkin.” Sebuah kedikan bahu Baekhyun tunjukkan. Sejenak berpikir, sampai akhirnya ia menatap Wendy dengan alis bertaut, “Omong-omong,” dia mengedar pandang sesaat, memastikan tak ada yang mendengar obrolan mereka dengan baik─kecuali Chen yang notabene masih melahap semangka di samping Wendy, “Menurutmu bagaimana? Kurasa Sehun tertarik pada Runa.”

“Nah!” Cepat sekali Wendy menjentikkan jari. “Aku baru mengenalnya kemarin dan bahkan bisa menyimpulkan itu dengan cepat.”

“Hm,” lama Baekhyun bergumam, “Coba kau tanyakan perihal Sehun pada Runa.” Dan kali ini Chen yang menanggapi, “Dia akan curiga karena Wendy, kan, tidak begitu mengenal Sehun. Bagaimana jika kau atau Seunghee saja?”

“Tidak bisa. Seunghee itu adiknya Sehun, pasti Runa bakal berpikir lebih lama untuk jujur sejujur jujurnya. Kalau aku─” Secepat kilat Baekhyun bungkam, menyadari sosok Runa berjalan mendekat. Tahu situasi, Wendy maupun Chen ikut diam. Begitu Runa sampai, gadis ini mendudukkan diri di antara mereka, “Apa ini? Aku datang dan kalian diam. Sedang membicarakanku?”

“Itu ….” Garis cengiran Baekhyun suguh. Dan Runa memutar mata cepat, “Aku sudah lihat foto yang diunggah Nami.” Mengetahui ketiga kawannya menunjukkan tatap berbeda, Runa bisa menyimpulkan dengan cepat, “Nah, pasti baru membicarakan itu juga.” Dia berdecih, selanjutnya tertawa seolah baru meneguk kemenangan, “Kalian tahu hal yang lucu? Aku tidak pernah follow Nami. Bahkan unname-nya saja aku tak tahu.”

Di atas tawa Runa yang menguar, Baekhyun menyenggol lengan Wendy, “Lihat? Bahkan tanpa melakukan apa pun dia sudah menang.” Lelaki ini menggelengkan kepala seakan tak percaya, “Runa beruntung lawannya hanya gadis kurang pengetahuan seperti Nami.”

.

.

.

“Bagaimana? Cocok untukku?” Bangga, Wendy berpose di depan Runa. Gadis tersebut sudah rapi menggunakan pakaian pilihannya; kaus crop-tee dan rok selutut. Dipikir angin malam di pantai tidak memberi efek dingin?

“Kau mau mengejekku karena belum bersiap atau bagaimana?” Bukannya menjawab Runa malah menanggapinya dengan canda. Habisnya, dia baru saja resmi selesai membersihkan diri dua menit yang lalu, dan malah Wendy sudah mengganggunya begini.

“Cocok, kok,” ujar Irene yang langsung berlalu berkat ia yang harus cepat mandi. Begitu mendengar ucapan Irene, Wendy menjulurkan lidah ke Runa. Yang diejek cuma melengos tak peduli. Lebih memlih memakai pakaian seadanya. Ia berencana berdandan lebih dulu sebelum memakai baju yang sudah ia siapkan.

Tadinya Wendy ingin keluar kamar untuk menghampiri Chen, namun sebuah dorongan mendadak muncul menendang lidahnya. Lalu ia membuka mulut, “Sudah lihat foto yang diunggah Chanyeol?”

Curiga penuh, Runa memberi lirikan penuh selidik, “Aku sedang pakai baju, lho. Apa ini saat yang tepat membicarakan lelaki?” Padahal penasaran juga. Sayang, Wendy tahu persis hal itu, terlihat jelas di manik karibnya. Dia bersidekap dan menyandarkan punggung ke pintu, “Ya atau tidak. Kau belum sepenuhnya move on dari Chanyeol?”

“Satu tahun lebih tidak bisa hilang begitu saja, bukan?” Tak disangka, Runa mengatakannya santai sembari memakai kaus. “Tapi bukan berarti aku mau kembali─masih tak sudi. Susah menjelaskannya.”

“Kau menutup hati.”

“Jangan mengajakku bertengkar, tolong.” Runa berdecih seraya memakai celana pendeknya, memasang ekspresi sebal. Semua menganggapnya menutup hati. Padahal Runa pikir dia hanya ingin istirahat lebih dulu dan membebaskan diri.

“Bagaimana jika ada yang tertarik padamu?” Masih di posisinya, Wendy bertanya. Dia melihat Runa belum mau unjuk suara. Oh, harus lebih jelas, sepertinya. “Bagaimana dengan Sehun?”

“Bagaimana apanya?” Kali ini Runa mau menatap Wendy dengan pandangan kesal. “Ada apa dengan aku dan Sehun? Apa ada yang sedang menjodoh-jodohkan kami di sini?” Ia menarik napas panjang, “Kemarin Seunghee yang membual tentang lelaki itu yang menyukaiku. Sekarang kau juga ikut-ikutan mau mengatakan hal yang sama?” Diraihnya ponsel secepat yang ia bisa, “Serius, kalian mencoba menjodohkanku? Begini, ya, aku tidak semenyedihkan itu karena ditinggal selingkuh!”

“Bukan begitu─” Wendy sudah menelan ucapannya sendiri kala Runa terlanjur pergi dengan bedebam pintu penuh kekesalan. “Sial, dia malah salah paham.” Sudah Wendy duga harusnya Baekhyun yang bertanya perihal ini semua.

“Baekhyun!” Suara Wendy melengking indah, berharap yang dipanggil peka dan datang lebih cepat. Dia melangkah menyusuri dapur, kemudian ke ruang tengah, mendapati Baekhyun sibuk melahap sesuatu di sana. “Mau jelly?”

Tak menggubris tawaran, Wendy mendekatkan diri untuk berbicara, “Runa salah paham. Dia mengira sedang dijodoh-jodohkan dengan Sehun. Barusan kelihatannya marah.” Sejenak Baekhyun berpikir, mengabaikan jelly-nya. Ternyata itu alasan Runa bergegas keluar pondok beberapa saat yang lalu. Ia mengembus napas cepat, “Biarkan saja dan jangan dicari. Dia akan kembali sendiri.”

“Serius, nih? Tapi dia marah, lho.”

“Biarkan saja,” Baekhyun mengulang, “Kalau sekarang diganggu, dia malah akan tambah marah.”

Di sudut lain, tepatnya tak jauh dari pondok, Runa sedang berjongkok. Menggunakan ranting di tangannya untuk menusuk-nusuk pasir pantai menggunakan kekuatan penuh. “Menyebalkan pokoknya. Semua menyebalkan,” gumaman ini sudah berulang berkali-kali. “Menutup hatilah! Belum move on-lah! Tidak pekalah! Dipikir hidupku cuma mengurus hal begitu?” Makin dalam tusukannya pada pasir. “Yang begini ini yang bikin susah lupa masalah mantan!” Suaranya hampir seperti seruan, “Aku jelas sedang membahagiakan diri dengan bersikap tidak peduli. Siapa yang terus mengingatkanku, ha? Mengesalkan!” Dilemparkannya ranting ke sembarang arah dan meniup udara cepat.

“Aku butuh es krim untuk mendinginkan kepala.” Tidak terlalu saling berhubungan, sih. Tapi toh Runa lumayan lega juga. Bukan hanya karena sudah marah-marah tidak jelas, tapi juga berkat es krim yang beberapa saat kemudian bertengger di tangannya.

Kurasa dia menyukaimu.

Suara Seunghee mendadak bergema di telinga. Runa cuma mendengus, “Siapa? Oh Sehun? Lelucon lucu.” Namun ia tak tertarik untuk tertawa.

Bagaimana jika ada yang tertarik padamu? Bagaimana dengan Sehun?

Langkahnya terhenti, memutuskan untuk berpikir. Beberapa potong ingatan tentang Sehun mulai berterbangan di kepalanya. Perlakuan si lelaki yang makin hari makin terasa dekat. Sehabis memakan es krimnya, Runa bergumam ragu.

“Jangan-jangan Sehun memang menyukaiku.”

Dan detik selanjutnya dia tertawa dan mengibaskan tangan di depan muka, “Idiot. Mana ada!” Lagi, ia menikmati es krim sambil melangkahkan kaki, “Paling kelakuannya seperti itu hanya karena penasaran.” Dia mengedik, menikmati dinginnya sensasi es krim di kerongkongan. Lalu, bergumam dengan pelan.

“Siklusnya bisa ditebak. Penasaran, pacaran, bahagia sebentar, bosan, dan pergi untuk penasaran pada yang lain.” Entah kenapa dia memberi senyum kala menyambung gumaman, “Seperti Chanyeol.”

Jadi, sia-sia jika aku mulai sering berdebar karena Sehun.

.

.

.

“Dia tidak marah?” bisik Wendy pada Baekhyun. Omong-omong semuanya tengah berjalan bersama-sama untuk berkumpul menonton pertunjukkan kecil dan kembang api di pantai.

“Marahnya sudah selesai,” jawab Baekhyun enteng. Seakan menyakinkan Wendy bahwa Runa yang menyapa gadis itu dan bersikap biasa memang tak dibuat-buat. “Yang penting kau sudah minta maaf. Marahnya seseorang ke teman dan lawan tentu beda, bukan?” tambah si lelaki lagi. Sekarang Wendy mau manggut-manggut.

Sementara itu Runa sedang berjalan di samping Irene, membicarakan sesuatu perihal referensi buku tentang desain. Keduanya masih asyik mengobol ketika tiba-tiba lengan Runa disenggol keras oleh Sehun yang berlagak lewat. Gadis itu cemberut kesal, sedang Irene tahu persis Sehun hanya mencoba menarik perhatian. Buktinya, lelaki tersebut menoleh ke belakang dan menatap Runa, “Apa? Pendek diam saja.”

“Dia pernah mengataimu begitu?” Dengan telunjuk terarah pada Sehun, Runa bertanya pada gadis di sampingnya. Sebuah jawaban lalu tercetus, “Tidak. Dia malah menyebutku imut dulu.”

“Dasar pilih kasih! Denganku saja mengesalkan begitu.” Tak terima tentu saja. Runa baru akan menghardik lagi tatkala merasakan sesuatu di kandung kemihnya. “Ah, sial. Aku mau buang air kecil.” Kenapa efek makan semangkanya muncul lagi? Apa karena Runa terlalu banyak makan buah kesukaannya itu? Sepertinya, sih.

“Mau kuantar?”

“Tidak, tidak. Kau duluan saja. Nanti aku tanya lokasi di multichat saja.” Tanpa menunggu lama Runa berbalik dan pergi untuk menjalankan misi barunya; mencari toilet. Butuh waktu yang tak sebentar bagi si gadis agar urusan pribadinya selesai.

Usai membersihkan tangan, ia berjalan seraya mengedar pandang. “Kenapa mendadak ramai, ya?” Lantas ia mengeluarkan ponsel, mengetikkan beberapa kata.

Kwon Runa:

Kalian di mana?

Kim Taehyung:

Bagian depan.

Wendy Son:

Coba menelusup ke depan, kau pasti melihat kami.

 

Kwon Runa:

Oke.

Selanjutnya jelas yang Runa lakukan adalah mencoba menerobos kerumunan. Butuh tenaga lebih untuk menelusup di sela tubuh orang-orang asing yang berbeda bentuk. Hingga saat ia terperangkap sempurna di sela teriakan di sekitarnya, ponsel kembali bergetar.

 

Oh Seunghee:

Pertunjukannya sudah mulai.

Apa kau kesulitan kemari?

Sebenarnya Runa sudah mengetikkan balasan berbunyi: Iya, bisa satu saja jemput aku? Namun seseorang lebih dulu muncul di multichat.

Oh Sehun:

Di mana? Angkat tanganmu tingg-tinggi, kujemput.

Dari semua orang kenapa yang peka harus Sehun? Omong-omong, Runa jadi merasa aneh jika bersama lelaki itu. Berhubung segala yang terjadi sampai detik ini begitu membingungkan untuknya. Ah, sudahlah, memusingkan.

Kwon Runa:

Di sini pertunjukkannya terlihat jelas. Tidak perlu dijemput.

Ketemuan saat selesai saja.

Masa bodoh, deh.

Sudah terlanjur memutuskan, yang kini Runa lakukan hanya berdiri terombang-ambing di antara senggolan beberapa orang di dekatnya. Tak terlalu sesak, sesungguhnya. Cuma, berkat pertunjukan yang begitu menarik mood jadi baik, hampir semua orang tertawa dan bergerak seenaknya untuk dapat melihat lebih jelas. Apalagi ditambah iringan musik yang sialannya dinyalakan dengan volume maksimal.

Ini yang tidak Runa suka dari kerumunan; terlalu sedikit ruang, menyebabkan sumpek yang berlebihan. Akhirnya dia memutuskan mundur perlahan. Melihat sambil berdiri di barisan paling belakang sepertinya lebih membuat napas lega. Walau mungkin tidak akan kelihatan apa-apa.

“Astaga!” Runa yang merasakan jantungnya seperti jatuh dari tempat, langsung bernapas lega saat mengetahui yang memegang lengannya secara tiba-tiba itu Sehun. Eh, sebentar … Sehun?

Lelaki tersebut mencoba mengatakan sesuatu, yang ada malah Runa mengedik bahu, “Apa?” Dan Runa seratus persen menyesal sudah tidak berpura mendengar, karena Sehun begitu saja mendekat ke telinganya. “Kalau tidak mau tubuh pendekmu tenggelam, sebaiknya pegang tanganku. Kita ke belakang.”

Kalau dipikir-pikir sama saja sebuah pemaksaan. Nyatanya walau tahu begitu, Runa pasrah saja menggenggam erat tangan dan lengan Sehun. Toh juga ini kepentingan mendesak. Dalam benak ingin menahan napas mati-matian. Runa merasa dirinya gila karena yang ia pikirkan justru bagaimana cara agar degub jantungnya biasa saja. Semua salah Sehun yang terlihat memesona dari sudut ini. Kan, ini yang Runa sebal jika bersama Sehun. Semuanya perlahan menjadi tidak normal.

Berkat Sehun yang cekatan, mereka cepat sampai di barisan paling belakang. Bukan barisan lagi, sih. Hanya beberapa orang pasrah yang malas berdesak-desakan di depan.

Sejemang, keduanya terdiam. Inisiatif memecah hening dimiliki oleh Runa. Berhubung tidak betah ditatap lama-lama.

“Yah, cuma kelihatan lampunya. Apa pertunjukannya bagus?” Gadis ini berjinjit percuma. Menarik Sehun mendengus pelan, “Sudah kuduga kau tidak melihatnya. Kenapa tidak mengaku saja tadi? Aku bisa menjemputmu daripada kau tenggelam di kerumunan dengan tubuh pendekmu.”

“Maaf, deh. Aku tidak enak merepotkan salah satu dari kalian.” Bohong. Terpikir sampai ke sana pun tidak. Namun memang tak mungkin Runa mengatakan alasan sejujurnya, bukan? “Kau bisa ke depan lagi, kok.”

“Kau pikir aku mau berdesak-desakan lagi?” Dengan cacak pinggang, Sehun berhasil membuat Runa terdiam. Lelaki ini lantas mengedar pandang. Kala sudah menemukan yang dicari, ia beralih lagi pada gadis di sampingnya, “Ayo.”

Tidak bertanya akan ke mana, Runa menurut saja. Dia mengikuti Sehun ke sebuah pohon dengan lingkaran beton yang mengelilinginya, lumayan tinggi.

“Naik,” titah Sehun.

“Ha?”

Sehun berdecak dan membawa dirinya lebih dulu untuk naik ke lingkaran beton. Lalu menjulurkan tangan untuk menarik Runa ke sampingnya. Baru saja Runa sampai dan belum melepas tangan Sehun, lelaki ini lebih dulu meloncat turun. “Sehun!” Kaget, pastinya.

“Kelihatan, tidak?” Tak acuh pada respons Runa, Sehun malah menunjuk ke depan. Sang gadis mengikuti telunjuk si lelaki, menemukan bahwa ada sedikit hal yang dapat ia lihat, “Lumayan kelihatan,” ia beralih, “kenapa tidak di atas juga?”

“Lebih enak bersandar. Lagipula kelihatan, kok.” Benar juga kata Sehun. Ah, Runa kadang iri para orang bertubuh tinggi. Tapi dia tidak terlalu ingin setinggi Sehun. Bakal ngeri kalau betulan.

Mendadak saja Runa sadar satu tangannya masih berada dalam genggaman Sehun. “Eh, tangannya tidak enak menggantung begini,” ia pengarang ucapan yang baik. Faktanya memang Sehun akan pegal jika terus berada di posisi yang sama. Akhirnya lelaki itu malah membawa tangan Runa ke pundaknya, “Pegangan. Kalau kau jatuh nanti aku bisa tertawa habis-habisan.”

“Apa-apaan.” Selesai memutar mata, Runa melirik rambut si lelaki. Hawa ingin menyentuh surai itu tahu-tahu saja menguat.

Aku sudah gila jika benar-benar melakukannya. Batin Runa terus berucap. Semuanya mendadak susah diajak untuk konsentrasi. Makin menahan diri, Runa merasa makin tak bisa bernapas. Setengah gugup, setengah bingung harus bagaimana. Segala fokusnya selalu berakhir pada Sehun.

“Hei, kembang apinya mulai dinyalakan.”

“Hm?” Jelas Runa tergagap. Tak bertanya lagi, ia memandang langit. Satu per satu kembang api terlihat. Pasti pertunjukan di depan sudah hampir selesai. “Wah, keren! Setidaknya walau di belakang kita bisa melihat kembang apinya dengan jelas. Iya, tidak?” Balasan yang ada hanya gumam setuju.

Setelah ini Runa akan berpura mengantuk agar tidak ditanyai pendapatnya mengenai pertunjukan tadi. Karena sejujurnya dia tidak memerhatikan dengan jelas. Bukankah memalukan jika ia ketahuan memikirkan hal lain seputar gugup dan bingung karena Sehun? Biar semuanya tersimpan secara rahasia saja.

Ah, andai Runa tahu. Bahwa bahkan Sehun tak dapat melihat pertunjukan dari bawah sana. Bahwa lelaki itu sibuk menahan senyum lebarnya saat merasakan genggaman di pundak semakin menguat. Bahwa yang ada di otaknya hanya bagaimana cara agar semua terasa semakin lama.

Oh, klasik sekali.

“Aku ngantuk.” Kalau saja Runa bisa mengatakan alasan lain.

Sambil menaikkan alis, Sehun berucap sangsi, “Ini belum terlalu malam.” Baru juga ia ingin membuat waktu berjalan lebih lama, malah kalimat Runa seakan menghancurkannya. Ia lantas mengangkat kepala agar paras si gadis hinggap dalam maniknya, “Sebentar lagi selesai, lho.”

“Aku duluan saja, ya?” Dengan satu kali gerakan, Runa melompat turun. Dia menepuk sekilas lengan Sehun, “Kau di sini saja sampai selesai,” dan mulai mengambil langkah. Sebelum terlalu jauh, Sehun segera meraih lengan si gadis, memberi tatap heran sedetik lalu pasrah di sekon selanjutnya, “Aku ikut denganmu, asisten.”

Sejujurnya Runa ingin sendiri. Jika lebih lama bersama Sehun entah kenapa rasanya jadi aneh. Suasananya tak tahu mengapa sudah mulai berubah. Tidak seperti biasanya. Tapi, ya, mau bagaimana lagi? Masa dia mau menolak?

“Hm, baikalah.”

Menyusuri tepi pantai adalah yang keduanya lakukan. Hening yang ada Sehun kira tercipta karena pihak Runa yang sudah mulai mengantuk. Nyatanya Runa malah kehilangan kantuknya tiba-tiba, otaknya berputar ingin mencairkan suasana yang dirasa aneh.

“Cuacanya bagus, ya?” Sumpah, yang berkata adalah Sehun. Sontak saja Runa tergelak, “Bisa katakan hal yang lebih menggelikan lagi?” Di sampingnya, Sehun hanya tersenyum lebar. Lelaki ini membuka suara lagi, “Setelah ini masih harus berkemas. Jangan mengantuk dulu.”

“Apa aku perlu beli kopi?”

“Tidak perlu. Nanti kau malah tak bisa tidur cepat seperti kemarin malam.” Mendadak Sehun merutuki kata-kata terakhirnya. Kenapa pula ia harus membahas itu? Nah, kan, wajah Runa jadi agak berbeda.

“Omong-omong tentang kemarin malam, aku jadi ingat sebuah pertanyaan.” Perlu keberanian yang cukup bagi Runa untuk mengatakannya. Sehun sendiri sudah tahu persis apa yang bakal menjadi bahasan. Namun ia masih memilih diam, lebih suka mendengar lebih dulu bagaimana Runa bertanya. “Apa yang terjadi─bukan, maksudku kenapa kau─ah, tidak, tidak.” Gadis tersebut mengehela napas, menepis canggung, “Jujur saja, aku sedikit kaget pagi tadi.” Sepertinya memutuskan untuk menggunakan kalimat yang tidak langsung mengarah pada penggambaran jelasnya.

“Tentang aku yang menggenggam tanganmu?” Sehun meneguk ludah. Menggumam sialan dalam hati karena mendadak saja merasa grogi. Dia berdeham dan menyedekapkan tangan di depan dada, mengedar pandang ke lautan luas.

“Um, iya.” Melirik sejenak adalah yang Runa lakukan sebelum melanjutkan dengan nada yang gugup, “Oh, mungkin kau tidak sengaja, ya? Mungkin aku yang terlalu menanggapi dengan–”

“Sengaja, kok.” Sekali tebas dan Sehun membuat satu langkah lebih dulu ketimbang Runa, menghentikan jalan dengan yakin. Kini mereka berhadapan, sementara Sehun menumbuk pandang, “Aku memang sengaja─” dia berdeham lagi dan menyusupkan tangan ke saku celana, “─menggenggam tanganmu semalaman.”

“Kenapa?” Dalam hati Runa berharap jawaban yang akan ia dengar nantinya bakal memberi efek kejut pada perutnya. Sedang Sehun tengah berperang dalam benak, degubnya sialan menggila. Ada luapan perasaan yang harus ia tangani secepatnya. Dengan satu kali embusan napas, ia menjawab begitu jelas.

“Karena aku nyaman bersamamu, Kwon Runa.” Sehun serius mengatakannya sekarang, hari ini, malam ini, di tepi pantai dengan iringan samar teriakan orang-orang di festival, “Tidak tahu sejak kapan aku menyukaimu sampai begini.” Dia maju selangkah, mengambil sebelah tangan sang gadis untuk digenggam, “Kau punya cara sendiri membuatku jatuh cinta.”

“Sehun, aku─” Runa seakan kehilangan kalimat kala manik Sehun sialan membuatnya berdebar. Namun pada akhirnya ia memutuskan untuk menarik telapak tangannya yang berada dalam genggaman si lelaki, berkata menggunakan nada yang sedikit bergetar.

“Kupikir … ini terlalu cepat.”

Sehun tahu, saat Runa berucap begitu seraya mengalih tatapan rasanya ada tonjokan besar tepat di dadanya. Lelaki ini terdiam, masih memandang paras gelisah yang Runa tunjukkan. Seakan baru saja terkesiap, Sehun mengerjapkan kedua matanya, menyadarkan diri bahwa ada konversasi menggantung yang harus di selesaikan di sini.

“Apanya?” Dia khawatir pada apa yang akan Runa jawab, namun tetap saja pertanyaan itu lolos dari bibirnya.

“Kau,” Runa memeluk lengannya sendiri, masih belum mau mencipta tatapan, “Apa kau yakin ini bukan perasaan sesaat?” Dia mengumpulkan niat untuk menengadah, menambatkan maniknya di kedua mata Sehun, “Apa kau yakin ini bukan efek dari kita yang terlalu lama berbagi kesedihan atau cerita? Simpatimu, maksudku.”

Diamnya Sehun bukan tanpa alasan. Tak ingin gegabah menjawab sekaligus mencoba memahami apa yang sedang ingin Runa utarakan. Yah, dia akui ini memang lumayan cepat. Bisa saja apa yang Runa tuturkan benar adanya, bukan? Sehun mulai merasa dirinya kepalang semangat hingga melupakan hal penting. Bukankah akan semakin rumit saja jika apa yang ia rasakan pada Runa hanyalah angin lembut yang lewat begitu saja?

“Kita,” Runa seakan merasakan lidahnya kaku, tapi ia tetap melanjutkan, “seperti ini saja. Seperti biasa.” Dia menyelipkan anak rambutnya yang sedikit berantakan ke belakang telinga, lalu sedikit menunduk untuk menendang pasir yang memasuki sandalnya. Di saat kembali menengadah, Runa bisa melihat kerutan alis yang Sehun buat.

“Lantas,” Tangan Sehun bergerak untuk menyentuh dada kanannya. Kali ini Runa yang mengerjapkan mata, beriring suara Sehun yang menyirat kecewa.

“Kenapa ini tidak mau berhenti berdebar lebih cepat, setiap segala hal tentang Kwon Runa masuk ke otakku?”

“Oh Sehun―”

Jangan begini.

“―yang aku bisa, hanya mengajakmu kembali ke hubungan kita yang biasa.”

Jangan terjebak dalam perasaan sesaatmu seperti apa yang Chanyeol lakukan padaku.

Kala sadar ada air mata yang hadir di manik gadis di depannya, Sehun hampir bisa mendengar degub jantungnya sendiri. Ada sesuatu yang Runa khawatirkan, dan mungkin Sehun harus berhenti melontarkan apa pun sekarang. Lelaki itu menggaruk tengkuk dan mengalihkan pandangan,

“Oke … aku ditolak.”

.

.

.

.to be continue

BOM! di-to-lak.

Maap yak, aku balik-balik malah ada kabar duka :’) Kalau ada yang inget, dan ngerti beberapa pesan tersirat di episode-episode sebelumnya, pasti tahu kenapa Runa nolak. Dilihat dari dialog antartokoh, dan kejadian yang pernah Runa alami. Ea seketika berubah jadi genre mystery/g. Nah, sampe sini, apa kalian kecewa dan mutusin buat stop baca 2nd Grade? haha

Well, pilihan masing-masing sih wkwk Aku cuma bisa mbocorin kalok ini belum end di tiga chapter depan (atau bisa lebih, mungkin) Lagi usaha buat up seminggu sekali, doakan wkwk

.nida

17 tanggapan untuk “2ND GRADE [Chapter 25] by l18hee”

  1. astaga ak baru komen disini???? ak pasti gila!!!!!
    maafkan aku 🙏🙏🙏🙏🙏

    setiap kali baca chap ini selalu sebel karena Sehun ditolak😭😭😭😭 Kwon runa kurang ajar tpi cute eh😂😂

    ahh tipe ff pke Poto updetan sns itu keren banget lah..ak sukaaaaa buanget!!!

  2. 화이팅 훈아😍
    백 mana ya?
    SeungheexJungkook udah ada progress kah?
    Mnantikan moment 우리 cute couple runa-세훈 ktmu sm si tukang slingkuh–찬 & brainless pelakor–nami 😏 pengen liat muka 찬 jeles ke 세훈! Pa lg dg new hair color’ny 세훈 😘 biar nami tau rasa, runa bs dpt yg jauh lbh ganteng dr 찬 yg dy rbut dr runa!

  3. Setelah sekian lamaaa ff ini gk muncul…
    Q sampe bolak balik liatin blog mu lohh mbakk…
    Alkhamdulillahhhh akhirnya up juga…
    Q ngerti jika runa bereaksi kyk gituu…
    Tp klo jd ruma gk bakal kyk gituu wkwkwkkwkw
    Di tembak sehunnn gitulohhh 😚😂😂😂
    Semangat buat next chap nya..

  4. Lamanya..
    Akhirnya.. 2nd grade yg sngt ku nanti comeback jg 😍 ku rindu! 😘
    Wondering why ko ga da update’an sjak trakhr x.
    Eps x ni sputar socmed & chat ya. Moga bneran bs update weekly 😀
    Kyaa~ 😍 itu ada 크리스 comment di ig cahyo!! No tag, No caption, No more space left di ht runa bwt sohib mu sayang.. 😄
    Biar makin gigih & lbih manis lg hsl akhr’ny nanti bwt 세훈 ☺ 화이팅 my dearest bronis!
    Ada good news apa dr bi2 runa? #kepo_bin_pnasaran!

  5. Sehunn kumohonnn jangan ptah semangaatttt terus berjuang ya nakkk, kudoalakan kau dan runa menuju halall
    Untuk nida semangat yaaa.. Kutunggu chapter berikutnya😘

  6. apa apaan ini ???????? seorang Sehun ditolak???!!!!!
    dimana??? dimana rumah cwe yg punya nama Kwon runa itu!!!!! biar gue bom!!!!
    😠😠😠😠😠

  7. gegara gk bisa nglupain mantan,, runa mlh jd negative thinking dluan k sehun… kacian sehun dtolak… ttp brjuang sehun… huhuhu😭😭

  8. gak ditolak kok… cuma runa belum siap aja, masih terbayang” pengkhianatan chanyeol, takut terulang kembali… bukan berarti blm move on dari chanyeol
    wkwkwk
    semangat lagi buat meyakinkan runa ya hunn.. tapi kalo aku sih udah yakin banget sma kamu kok hun.. wkkwkkk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s