2ND GRADE [Chapter 13] -by l18hee

2ndgradepstr

2ND GRADE [Chapter 13]

─by l18hee

.featuring

[EXO] Sehun | [CLC] Seunghee | [OC] Runa

[BTS] Taehyung| [BTS] Jimin | Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Friendship | Romance | School-life

.for

Teen

.

Poster by NJXAEM

.

Previous Part:

Prologue | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12

.

Now Playing ► Chapter 13 [Dilema]

Coba katakan, yang harus Sehun rasakan itu senang atau sedih karena kasihan?

.

.

“Kembar katanya?”

Pagi sudah datang dan entah kenapa Sehun masih saja memikirkan kejadian semalam. Jelas saja ia terkejut. Bagaimana bisa sosok yang sebelumnya menarik perhatiannya, kini mendadak terpampang dengan status baru. Dari sekadar seorang kenalan biasa, bergeser menjadi teman adik tiri. Omong-omong, sebenarnya tidak ada unsur lucunya sama sekali. Tapi Sehun tetap menggores senyum, walau kesannya begitu tak habis pikir sampai saat ini.

“Memang mukaku dengan gadis itu sama?” Yang Sehun maksud tentu saja wajahnya dengan  milik Seunghee. Bagaimana bisa Runa menyimpulkan hal aneh sejenis ‘anak kembar’?

Oh, mungkin karena umur mereka yang terlihat sepantaran.

Sehun manggut-manggut sendiri. Tanpa sadar menarik perhatian Taehyung yang tengah berfokus pada layar laptop di depannya. Disenggolnya siku sang karib kemudian, “Daripada senyum-senyum tidak jelas, lebih baik lihat ini.” Dia menggeser laptopnya─sebenarnya milik Ten, anak kelas sebelah─hingga ke perbatasan meja.

“Ini foto yang diambil Ten kemarin. Banyak gadis manisnya, lho,” dengan senyum semangat Taehyung malah seperti pedagang yang menawarkan sesuatu. Oh, hanya bercanda, tolong jangan tersinggung dan langsung berpikir ambigu.

Sehun bisa melihat layar laptop tengah menampilkan beberapa hasil foto yang diambil kala acara keakraban sekolah yang lalu. Memang manis-manis, sih. Terlihat sekali jika kesan yang dibangun para murid SMA Chunkuk berporos pada kesopanan dan kecerdasan, atau sejenis itu. Pokoknya Sehun sampai berpikir, apa SMA Chunkuk menganut sistem pembelajaran layaknya putra-putri kerajaan?

Ketika menemukan sesuatu yang ganjil, Sehun menunjuk salah satu sosok di layar, “Sepertinya Ten mengincar gadis ini.” Lekas Taehyung memicingkan mata, “Mungkin saja, fotonya paling banyak. Kau tahu namanya?” Layaknya sudah tahu jawaban yang akan dilontar, ia memilih melanjutkan, “Ah, mana mungkin tahu. Kau hanya memerhatikan satu gadis saja kemarin.”

“Tanya Jimin, dia biasanya hafal banyak nama.” Tak memedulikan sindiran Taehyung, Sehun kembali mengganti slide foto. Kernyitan tergambar di dahinya saat melihat gadis incaran Ten tengah merangkul sosok yang ia kenal.

“Dia temannya Runa?” Sehun setengah melotot tak percaya ketika pandangan Taehyung jatuh padanya, “Siapa Runa?”

Oh, iya. Sehun lupa karibnya satu ini belum tahu apa-apa. “Kwon.”

Setelah sebuah ‘o’ super panjang, Taehyung mengangguk saja, “Manis kok, manis. Apalagi jika tertawa seperti itu.” Dengan sengaja Taehyung menggoda. Reaksi yang Sehun tunjukkan adalah dengan cepat mengganti slide dan berucap sedikit sinis, “Sudah punya pacar, jangan lihat-lihat.” Sontak saja kekeh puas Taehyung tunjukkan, “Harusnya kalimat itu untukmu.”

Ah, Kim Taehyung memang sialan.

“Semoga kau tersandung batu.” Kutuk Sehun terang-terangan. Lelaki yang dikutuk tak peduli, justru memilih menyeru Jimin untuk mendekat.

“Apa?” Dengan permen loli di tangan, Jimin mengangkat alis untuk bertanya.

“Siapa namanya?” tanya Taehyung langsung, jarinya menunjuk sosok di layar laptop─foto dengan Runa yang sudah dipindah slide lagi. Tak butuh waktu lama bagi Jimin untuk menganggukkan kepala, “Yang perempuan, Wendy Son dan Kwon Runa. Taken semua.”

“Hebat. Kau juga tahu status mereka.” Sebagai bentuk apresiasi Taehyung bertepuk tangan tiga kali. Wajah yang Jimin pasang seperti mengatakan Jimin-gituloh, “Status itu yang terpenting.” Dia mengambil tempat duduk di depan meja kedua kawan sekelasnya, “Pacar Wendy, anak yang mengalahkan sekolah kita di lomba terakhir di bidang vokal solo. Pacar Runa yang kemarin ikut estafet, pokoknya yang paling tinggi dan punya lesung pipi. Kebanyakan bilang, tidak ada celah melakukan pendekatan kecuali mereka putus sungguhan.”

Sumpah, Jimin seperti presenter gosip versi pria, rasanya semua hal dia tahu.

“Kau menelan buku sensus, ya?” Mendengar Sehun, Jimin hanya berdecih remeh, “Itu yang dinamakan kekuatan bersosialisasi lelaki tampan, man.”

Ah, terserah saja, deh. Percuma menghentikan Jimin.

“Siapa yang kalian taksir?”

“Sehun naksir Runa.” Begitu cepat Taehyung menjawab, hingga lelaki yang duduk di sampingnya hanya ternganga. Lekas Jimin memasang wajah terkejut, “Serius? Pilihan tepat, Oh Sehun. Dia sudah tidak sendiri. Jadi, selamat patah hati.”

“Kaupikir aku tahu jika ternyata dia sudah punya pacar?” Lama-lama Sehun suntuk juga. Entahlah, hanya saja rasanya tidak nyaman berkali-kali mendengar istilah lain dari kekasih hati.

Setelah menyempatkan diri menemani Jimin tergelak, Taehyung menepuk pundak karibnya sekali, “Aku punya feeling yang bagus. Jalani saja, man.”

.

Dan mungkin kalimat tersebut menjadi pemegang penghargaan pertama untuk judul ‘Kata-Kata Taehyung Paling Membekas Tahun Ini’ di benak Sehun. Hari ini ia langsung pulang, tidak mampir ke markas dulu. Rasanya dia ingin tidur lebih cepat. Embusan napas yang dibiarkan menyatu dengan udara bebas terdengar panjang.

Feeling yang bagus? Memangnya sebagus apa prediksi hati seorang Kim Taehyung?

Sehun melakukan kegiatan lepas-melepas kancing seragamnya dengan cepat. Kemudian lekas menenggelamkan diri di balik pintu kamar mandi. Mungkin air segar dapat meluruhkan pemikiran tak perlu dari otaknya. Lumayan juga, pikirannya sedikit teralihkan ke beberapa film  yang akan rilis sebentar lagi. Artinya ia harus mengatur jadwal untuk menonton semua film yang menarik minatnya nanti.

Ia baru sampai berpikir tentang teman menonton saat keluar kamar mandi, kala suara Seunghee samar-samar menyapa indera pendengarannya.

“Hanya sebentar, Ma. Aku akan menjemputnya di halte.”

Satu setengah detik berjeda, “Ini sudah terlalu larut. Kau berani?”

Cuek saja, Sehun melangkahkan kaki berniat kembali ke kamar. Dia sibuk mengeringkan surainya dengan handuk. Dipikirnya tak penting apa pembicaraan kedua sosok bergender wanita itu. Namun suara sang ibu tiri mendadak menginterupsi.

“Ajak kakakmu, Seunghee. Setidaknya kau tidak sendiri selarut ini.”

Sehun menoleh, mendapati Seunghee seperti tergagap. “Ah, itu…” Sudah dia duga, berkata saja gadis itu tidak bisa. Begitu membuang waktu. Membuatnya mengalih tatap dan melanjutkan langkah.

“Sehun, antar adikmu sebentar ke halte. Dia bilang akan menjemput─” sepertinya lupa, wanita berumur itu beralih pada putrinya, “ah, siapa tadi, sayang?”

“Runa. Dia akan menginap.”

“Tunggu di depan.” Sehun tahu persis harusnya dia lebih pintar mengatur sikap. Paling tidak memberi jeda dengan sok jual mahal atau memang tak peduli seperti biasa. Kenapa pula ia harus langsung menyanggupi dalam kurun waktu tak sampai satu sekon? Rekor hebat yang mampu menyentil rasa heran dalam benak Seunghee.

Bohong jika Sehun tak merasa kesal pada dirinya sendiri. Yang ia lakukan setelah masuk kamar adalah menarik kaus dari lemari, memakai jeans secepat yang ia bisa dan meraih topi. Tarikan kasar pada jaket yang tersampir asal membuatnya terlihat garang. Sebuah gumaman sebal terdengar sebelum pintu kamar ditutup kencang.

“Persetan dengan pacarnya. Yang penting bisa bertemu.”

.

.

.

Sepanjang mereka berjalan menuju halte, tak satu pun kata terlontar. Wajah tak ingin diganggu yang Sehun suguh membuat Seunghee sedikit kesulitan berkata. Perlu waktu hingga keduanya sampai di halte untuk memancing si gadis bicara.

“Sebenarnya Runa belum sampai halte.” Seunghee melirik Sehun. Ketika didapatinya si kakak tiri membalas dengan lirikan datar, cepat-cepat ia menambahi, “Kakak bisa tunggu di halte saja. Aku akan menyusulnya sendiri.”

Tadinya Seunghee kira Sehun setuju saja. Tapi setelah sampai halte dan bus sudah datang, lelaki itu tetap mengikuti langkahnya. Setelah membayar menggunakan kartu bus, Seunghee beralih pada Sehun. Tanpa diduga justru sang lelaki yang pertama bersuara, “Di mana dia? Di minimarket?”

“Bukan, tadi dia bilang masih dalam perjalanan menuju halte dekat sekolah kami.” Tak ada jawaban lagi. Mereka kembali tenggelam dalam hening. Diam-diam Seunghee mengeluh juga karena perasaan tak nyaman yang selalu timbul saat bersama dengan lelaki yang duduk di bangku tepat di belakangnya. Harusnya dia langsung berangkat saja tadi, tidak perlu minta izin segala. Aura yang Sehun kuar rasanya dapat membekukan suasana apa pun, jadi percuma Seunghee ingin mencairkannya. Lebih baik membunuh kesal dengan menyalakan ponsel saja.

Gadis itu lekas menyalakan ponsel, membuka salah satu aplikasi percakapan dan mengetikkan beberapa kata di sana.

Oh Seunghee:

Aku hampir sampai halte dekat sekolah.

 

Beberapa menit yang lama terlewati dengan perasaan campur aduk versi Seunghee. Antara bingung, cemas, berbumbu sedikit bosan dan tak sabar. Sementara Sehun sendiri tidak beda jauh. Dia hanya terus memulai kembali game yang sudah gagal dimainkan berkali-kali. Mengenyahkan berjuta rangkai huruf yang membentuk sekian ‘kenapa’ dalam hati.

Kenapa begini, kenapa begitu? Bah, intinya memusingkan.

Sehun yang baru sadar rambutnya membutuhkan angin agar cepat kering lalu melepas topi. Untung rambutnya cepak, jadi tidak perlu waktu yang lama jika ingin segera kering. Buktinya saja ketika bus sudah berhenti di dekat halte SMA Chunkuk, surainya lumayan tak lembab.

Dia beranjak mengikuti Seunghee yang lebih dulu melangkah keluar bus, seraya mengenakan topi lagi. Sehun pikir adik tirinya terlampau cemas hingga begitu terburu-buru. Akibatnya─

“Aduh!”

Nah, belum juga Sehun selesai menggumam dalam hati, Seunghee sudah mengaduh sendiri. Gadis itu sedikit meringis ketika mendapati kakinya sedikit terkilir berkat keteledorannya menuruni tangga bus cepat-cepat. Bagus, saat yang tidak tepat.

Sebagai seorang lelaki, tentu Sehun membantu seorang gadis yang notabene terluka. Ia meraih lengan Seunghee dan menuntunnya ke bangku halte. “Kau tunggu di sini. Biar aku yang menjemputnya.” Kemudian ia menyodorkan ponsel di tangan, “Kemarikan ponselmu, aku tidak punya nomor Runa.” Maksudnya adalah, ia ingin bertukar ponsel sementara dari pada meminta nomor atau sejenis itu yang menurutnya menghabiskan banyak waktu. “Tapi baterainya hampir habis.” Walau sedikit tak yakin, Seunghee tetap mengulungkan ponselnya. Dengan cepat Sehun menerimanya, “Masih cukup. Kau di sini saja.”

Dan Sehun begitu saja berlari kecil ke arah SMA Chunkuk. Matanya awas memperhatikan jalan. Kali saja Runa berjongkok di suatu tempat. Sehun tidak tahu kenapa Seunghee bisa terlihat cemas seperti tadi. Yang jelas ia tahu jika ada sesuatu yang belum gadis itu jelaskan di sini mengenai Runa. Seuatu yang penting.

Tangannya menyentuh layar ponsel milik Seunghee untuk menghubungi Runa. Sayangnya tak ada tanda-tanda panggilan akan diterima. Sehun tahu betul ia tak boleh ikut panik. Dia harus mengatur rencana. Intinya tidak perlu berlari, jalan cepat saja sudah cukup. Sementara itu perhatikan sekitar sambil terus menelpon. Suara telpon pasti akan memberi tanda, setidaknya jika Runa tidak mengaktifkan mode diam. Jika sampai di sekolah tak ada tanda-tanda keberadaan Runa, rencananya Sehun akan mengunjungi minimarket. Karena tidak mungkin selarut ini sekolah masih buka, kecuali jika ada kegiatan tertentu.

Mungkin bisa disebut rencana kilat yang matang, atau hanya sebuah keberuntungan ketika Sehun mendapati seorang gadis di depan tangga sebuah toko. Itu jelas-jelas Runa, yang sedang duduk dan menenggelamkan kepala di lipatan tangan di atas paha. Ponsel sang gadis terlihat menyala, menunjukkan panggilan masuk. Baru saja Sehun mengembuskan napas lega, refeleknya sudah bekerja begitu cepat.

Jadi begini kejadian ringkasnya. Semua terjadi bagaikan kilat. Sehun tak menyadari seorang lelaki kumal yang berjalan melewati Runa akan sesigap itu bergerak. Meraih ponsel Runa yang diletakkan sembarang dan bergegas pergi. Sontak saja Sehun memacu langkah seraya berseru keras:

“Hei! Kembalikan!”

Diteriaki begitu, si lelaki kumal hampir tersandung. Kaget karena ternyata ada yang memergokinya berulah. Lantas saja ia memacu langkah lebih cepat, tak berniat menoleh ke belakang, ke tempat di mana Sehun memasang tampang mengerikan. Walau larinya lelaki kumal sudah sekuat tenaga, nyatanya belum mampu menyaingi kaki jenjang Sehun. Sedikit lama mereka bermain kejar-kejaran, ketika kemudian salah satu di antaranya merasa ini lelah dan percuma. Lelaki kumal itu tanpa menghentikan langkah begitu saja melemparkan ponsel yang baru ia ambil ke semak terdekat.

“Hei!” Sehun perlahan menghentikan larinya untuk menumpu tangan di pinggang, lelah. Masih dengan napas tersengal, ia lekas menuju semak buatan di pinggir jalan. Dipungutnya ponsel Runa yang punya bekas gores baru di tepi.

“Untung tidak pecah. Dasar.” Tanpa sadar Sehun marah-marah sendiri. Dalam perjalanan kembali ke tempat di mana Runa berada, ia menyempatkan diri untuk memeriksa apakah ponsel itu baik-baik saja atau tidak. “Dia harus beli pelindung ponsel.”

Sewaktu mendongak, Sehun mendapati Runa masih setia dengan posisi yang sama. Tak habis pikir, si lelaki yang sekarang sudah berdiri di tangga terakhir pelataran toko─tepat di depan sang gadis─membuka suara, “Apa ini kebiasaanmu? Tidur di sembarang tempat?”

Hanya ada hening membuat Sehun berdecih kecil. “Hei, Seunghee sampai terkilir karena mengkhawatirkanmu. Jadi menginap, tidak?” Prediksinya benar. Jika menyangkut teman, pasti Runa melepaskan aura tidak teganya. Kenyataannya, gadis itu mau menegakkan kepala, menatap Sehun dengan mata sayunya. Mau tak mau yang ditatap merasa sedikit bersalah juga.

Tanpa mengucap kata, Runa beranjak dan mengambil langkah lebih dulu, menyisakan Sehun yang mengerut heran. Sang lelaki lekas menyusul, tadinya ingin melontar lelucon mendadak, tapi suasananya benar-benar tidak enak. Sebuah decihan terdengar lagi. Kali ini Sehun bergerak cepat untuk melepas jaketnya, begitu saja meletakkan kain itu di kepala Runa. “Pakai. Sudah dingin.”

Jaket merah marun itu melorot dan jatuh berkat tak langsung disambut. Runa menghentikan langkah, menatap jaket tadi sedikit lama sebelum berjongkok untuk meraihnya. Tanpa diduga Sehun meraih ransel sang gadis. Membawanya dengan maksud agar lebih mudah bagi Runa untuk menggunakan jaket, “Cepat pakai. Atau mau kupakaikan?” Satu tepukan dilayangkan ke Sehun, dan Runa akhirnya mau mengenakan jaket yang dipinjamkan.

“Aku pakai ponselmu untuk menelpon Seunghee, ya? Ponsel yang kubawa mati.” Tidak butuh jawaban, Sehun sudah mengetikkan nomornya di ponsel Runa. “Sudah ketemu. Tunggu saja.” Hanya itu yang ia katakan setelah Seunghee menerima panggilan. Sama sekali tak ada basa-basinya. Dia lebih tertarik untuk mengamati gadis di sampingnya yang tak kunjung bicara. Semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Sehun yakin jika Runa baru saja menangis, entah untuk berapa lama yang jelas mata si gadis menunjukkannya. Yang bisa Sehun pikirkan hanyalah pertengkaran sebuah pasangan seperti biasa.

Oh, sialan, sepertinya ada secuil sengatan di sudut hati si lelaki.

Berselang tak lama, sosok Seunghee sudah terlihat baru beranjak dari duduknya. Gadis ini tak menguar rangkai kata. Baru saat Sehun dan Runa sampai di halte, ia menggumam kecil, “Um, Runa─” Maniknya dan milik Runa bertemu. Saat itulah ucapannya dipotong paksa oleh gadis yang menunjukkan mata sayu.

“Seunghee,” Runa tak menunjukkan ekspresi yang berarti, “sepertinya aku mau putus dengan Chanyeol.”

Dia sama sekali tidak menyadari Sehun hampir saja menjatuhkan ransel di tangan.

Keheningan menyambah ketiganya untuk beberapa saat. Sehun dengan keterkejutannya, Seunghee yang bingung akan menjawab bagaimana, dan Runa yang semakin menundukkan kepala. Tarikan napas yang terdengar jelas dari arah Runa membuat Sehun sadar, ada hal berat yang sedang ditanggung si gadis. Lelaki ini lalu begitu saja menaikkan tudung jaket untuk menutupi kepala Runa.

“Bahas di rumah saja. Busnya sudah datang.”

Jika diprediksi, menurut Sehun kedua gadis itu baru akan saling bertukar cerita ketika sudah berada di rumah. Benar saja, di dalam bus pun tak ada hal yang dilakukan. Hanya Seunghee yang menepuk-nepuk pelan punggung tangan Runa. Sehun yang duduk di belakang mereka juga tak berniat memecah sunyi. Membiarkan waktu berjalan sia-sia.

Sesampainya di rumah, Sehun memilih berbaring di kamar. Tahu persis bahwa tak ada alasan yang bagus untuk mencoba masuk dalam pembicaraan antara Runa dan Seunghee. Dia menekan kuat rasa penasarannya untuk menyembul keluar. Namun sepertinya ia tak bisa diam. Alhasil, dengan dalih ingin mengambil air minum di dapur, ia sengaja berjalan pelan ketika melewati kamar Seunghee. Yang terdengar hanya gumaman kecil, tidak memberi informasi sama sekali.

Tanpa sadar Sehun meletakkan gelas─yang baru ia teguk habis isinya─dengan sedikit keras, “Tidak mungkin aku langsung masuk dan ikut-ikutan mengobrol.” Sumpah, deh, memikirkannya saja begitu memalukan.

Saat melewati kamar Seunghee untuk kembali ke kamarnya, Sehun perlahan menghentikan langkah. Berpura menikmati minum di tangan. Dia menoleh kanan-kiri sebelum pelan-pelan mendekatan telinga ke pintu kamar sang adik tiri. Suara samar dua gadis yang bertukar kata menyambah telinganya. Sayangnya tidak terlalu jelas.

“… menggandengnya … keparat … berapa lama ….” Sehun hanya mendengar secuil kata yang dilontar dengan nada yang lebih tinggi. Ini benar-benar tak memberi efek sama sekali.

Baru saja Sehun berdecih dan memilih meminum kembali airnya, mendadak pintu dibuka dari dalam. Tak dapat dicegah, si lelaki yang baru akan menelan air langsung tersedak dan mencipratkan beberapa air dari mulutnya. Untung saja posisinya sedang tidak menghadap pintu.

Melihat Sehun sibuk terbatuk dan menepuk dada, Seunghee yang baru membuka pintu menyuguh tanya, “Sedang apa?”

“Tersedak!” Sehun tak dapat menahan kesal, “Aku sedang lewat dan minum air. Lain kali jangan mendadak buka pintu begitu. Ah, dasar.” Begitu saja ia melayang tatapan sebal sebelum meneruskan langkah ke kamarnya sendiri, masih sambil terbatuk kecil. Meninggalkan Seunghee yang hanya menggaruk tengkuk tak gatalnya.

“Memangnya aku harus mengetuk pintu juga saat keluar kamar?”

Serius, membayangkannya saja rasanya aneh.

.

.

.

.to be continue

AYO HUN GASSS POL!!!

/dibejek/

Apa feeling Kim Tae bakal bener? :3

.nida

Iklan

24 pemikiran pada “2ND GRADE [Chapter 13] -by l18hee

  1. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 19] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 18] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  3. “Persetan dengan pacarnya. Yang penting bisa bertemu.” Hahaha Sehunnnn pengen banget ketemu Runa, Hun😂😂😂
    Sehun pasti seneng banget kalau Runa sama Chanyeol putus beneran.
    Ga sabar nih nunggu Sehun sama Runa pacaran~~ 😍😍😍

  4. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 17] -by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 16] -by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 15] | EXO FanFiction Indonesia

  7. Taehyung benar. Terus pepet Hun peluang makin besar 😀
    Seneng deh Sehun sama Seunghee udah banyak berinteraksi. Mulai sekarang Sehun harus bersikap baik sama Seunghee biar gampang buat deketin Runa 🙂

  8. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 14] | EXO FanFiction Indonesia

  9. yahaaaa… kalo sehun tau langsung gas polll dia buat deketin runa..masalahnya runanya mau gk… kan bisa jadi trauma gitu kannn hahahahhaha
    nexttt….

  10. Aku ngeship SEHUNRUNAA!!
    Pkoknyaa aku setuju banget kalo sehun ama Runa trus bikin chanyeol nyesel siasiain runaa, semangaat sehunnn!! Semangat thor!!

  11. Sehun ngegemesin
    Gak apa2 putus kan ada sehun 😁😁
    Aku udah baca ff ini dari awal hanya gak sempat comment, sekarang baru sempat
    Ffnya bagus banget kaka
    Lanjut kaka
    Semangat 💪

  12. Ngakak bayangin ekspresi sehun nguping+kesedak.. hahaha
    Runa cepet putus sama chan gih, udh ditunggu sehun tu..
    Aku tunggu next chapternya yaaaaa

  13. Ngakak bayangin wajah sehun nguping + kesedak…
    Runa buruan putus gih ama chan, udah ditunggu sehun tu.. hahahaa
    Oke aku tunggu next chapternya yaaa

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s