2ND GRADE [Chapter 22] by l18hee

2ndgradee

2ND GRADE

─by l18hee

.

Now Playing ► Chapter 22 [Big Plan, Big Family]

Liburan musim panas tidak akan lengkap tanpa rencana besar. Dengan keluarga besar pula.

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Sehun, Baekhyun, Chen |  [CLC] Seunghee | [BTS] Taehyung & Jungkook | [RV] Irene & Wendy | OC(s)

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Family | Fluff | Friendship | Romance

.for

Teen

.

Previous Part:

Prologue | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18| 19 | 20 | 21

.

.

Tak pernah sekalipun terbesit dalam otak Seunghee jika di sela leha-lehanya menikmati angin musim panas, rumahnya kedatangan tamu tak diundang. Tak tanggung-tanggung, ada tiga kepala yang butuh diberi jus dingin di ruang tamu.

“Tumben,” singkat tapi penuh makna. Seunghee meletakkan nampan berisi jus di atas meja yang lansgung disambar para tamunya; Wendy, Chen, dan Baekhyun. Satu paket yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan.

Yang pertama berucap setelah membasahi kerongkongan dengan jus dingin adalah Baekhyun, “Kami tidak ada kerjaan dan memutuskan untuk keluar. Kali saja ada tempat bagus yang bisa dikunjungi secara mendadak.” Dia melanjutkan, “Tapi sampai tadi yang kami dapatkan hanya kepanasan.”

“Jadi?” Alis Seunghee terangkat, tanda ia minta penjelasan lebih. Dia tidak begitu tertarik dengan kegiatan ketiga orang tersebut yang menurutnya tak penting untuk diceritakan.

“Jadi kami mampir ke rumahmu yang lebih dekat.” Usai Baekhyun menjawab, Chen dan Wendy memperlihatkan cengiran tanpa rasa bersalah. Lekas Wendy menambahi, “Tapi kami juga punya ide bagus untuk menghabiskan liburan.”

“Ke pantai!” Baekhyun hampir berseru saking girangnya. “Kita bisa pinjam van milik kakaknya Chen―tidak terlalu besar, tapi kuyakin cukup. Kau, aku, Wendy, Chen, dan Runa. Ini bakal jadi libur musim panas yang menyenangkan.” Sekaligus mengenaskan jika nanti Runa ditinggal sendiri tanpa pasangan. Baekhyun mustahil tidak modus nantinya, bukan?

“Tidak mengajak Jungkook?” Heran, tentu saja. Mana Seunghee tahu kalau Baekhyun memang pada dasarnya sedang berlakon jahat dengan tidak menyebut nama Jungkook. Namun lelaki itu akhirnya menyuguh tawa paksa, “Tadi ketinggalan, aku terlalu bersemangat. Tentu saja dengan Jungkook juga. Tapi aku tidak yakin dia mau.”

“Kurasa dia mungkin akan ikut.” Seunghee pikir bagus juga ide kawan-kawannya. Mendadak ia teringat satu hal, “Ah, kalian belum menentukan pantainya, kan? Bibiku punya satu pondok di daerah pantai timur―atau barat? Intinya ada, deh. Akan sangat bagus jika aku bisa meminjamnya untuk beberapa hari.”

Tepuk tangan yang pertama dilakukan oleh Wendy, “Hemat biaya menginap! Aku tidak masalah ke pantai yang mana, yang penting kita main.”

“Setuju.” Dari tadi tidak bersuara, Chen hanya mengacungkan sebuah oke dengan tangan tanda menyetujui semua. Rupanya masih mengistirahatkan diri berkat tenaganya yang lumayan banyak terkuras. “Kita patungan untuk makan dan biaya lain saja.”

“Ayo tentukan tanggal. Kita harus bikin rencana matang-matang,” usulan Baekhyun langsung disambut sorak setuju.

Sementara keempatnya sibuk menyusun rencana, tak ada yang sadar terdapat telinga Sehun yang peka di dekat mereka. Tadi lelaki itu baru akan mengambil air minum, namun terhenti ketika menangkap nama Runa disebut. Semula dikiranya ada Runa di sana, nyatanya tidak.

Sebenarnya Sehun sebal dia tidak punya acara liburan. Padahal gips-nya sudah dibuka─walau masih tidak boleh melakukan hal terlalu berat dengan tangan kanannya. Tidak terima karena bakal ditinggal liburan, Sehun memutuskan kembali ke kamar. Ada ide yang harus ia lakukan dengan segera. Dia tahu ini mungkin kekanak-kanakan atau malah bagian paling buruknya adalah tak memberi manfaat sama sekali. Tapi, toh, apa salahnya mencoba?

Pertama-tama, ia harus menghubungi ibunya yang sedang ada di luar terlebih dahulu. Sehabis nada sambung hilang dan berganti dengan salam sang ibu, Sehun bertutur pelan-pelan.

“Ma, boleh aku minta nomor telpon Bibi Cho? Aku ingin minta izin menggunakan pondoknya untuk liburan.”

.

.

.

Wajah yang Sehun pasang biasa saja, kepalang biasa sampai-sampai Seunghee tak tahu apa yang tengah dirasakan lelaki itu. Sehun sama sekali tak terlihat seperti baru saja melakukan kesalahan besar; membuat saudari tirinya hampir gagal liburan.

“Mana aku tahu dia juga mau pinjam pondok milik Bibi Cho.” Kunyahan Sehun pada makanannya terkesan sangat santai seperti biasa. Sedang di sampingnya, Seunghee terus menekuk wajah tak suka. Tapi gadis itu bisa apa? Toh juga yang lebih dulu meminjam pondok  memang Sehun.

“Begini saja.” Kemudian ibu merekalah yang menyela, “Bagaimana jika kita liburan bersama? Liburan keluarga?”

“Ma, aku dan temanku bisa pilih hari lain. Kami tidak─” Baru juga Seunghee akan melontar protes, ibunya menambahi, “Oh Seunghee, katakan pada teman-temanmu bahwa kita akan liburan bersama. Tidak perlu mengeluarkan uang terlalu banyak karena kabar baiknya, aku baru memutuskan untuk ikut berlibur. Bagaimana denganmu?” Beliau beralih pada Tuan Oh yang mengedik bahu, “Kurasa aku bisa ambil cuti. Ini bakal jadi liburan besar.”

Seunghee diam, tak berani memutuskan secara sepihak berhubung bukan dia yang meminjam pondok dan usulannya sama sekali tak disambut baik. Lain halnya dengan Sehun. Benar-benar bagus mengetahui efek yang didapat ternyata akan sebesar ini. Dia harus mengucap syukur ide Seunghee tidak disetujui tadi.

“Ya, sudah. Mau bagaimana lagi.” Seolah-olah kecewa dan pasrah, di samping itu dalam hati Sehun ingin bersorak norak. Menjadikan Seunghee melirik curiga. Tapi ia segera menepis pikiran anehnya ketika ingat bahwa akhir-akhir ini Sehun memang tengah  mencoba merubah sikap. Oh, kali saja si saudara tiri sedang dalam misi mengakrabkan diri.

“Baik, tanggal berapa?”

Padahal di balik begitu datar ekspresi yang ia pajang, Sehun diam-diam punya salah satu alasan yang membuatnya menahan senyum mati-matian sekarang.

Well, jika dikira-kira, liburan musim panas dengan Kwon Runa kelihatan tidak buruk sama sekali.

.

.

.

-0-

.

.

.

Menghabiskan beberapa hari dengan sang ibu, adik, dan tetangga-menyenangkan sungguh membuat Runa lebih rileks. Rautnya jadi lebih bahagia dengan pipi lebih merona─mungkin karena efek panas juga. Jadi, kala Baekhyun mengutarakan rencana yang─katanya─sudah disusun matang-matang pun Runa makin berkoar semangat. Sudut-sudut bibirnya tertarik ke samping, membuat lengkung kurva yang memberi kesan tulus di sana. Awalnya ia sudah merencanakan berbagai alasan yang bakal disampaikan tatkala meminta izin pada sang ayah. Dan segalanya terasa lebih ringan. Tuan Kwon mengizinkannya dengan tak begitu sulit. Jelas saja karena keberadaan orangtua Seunghee memang dapat dipercaya. Kalau tidak, mungkin Tuan Kwon yang akan ikut andil dalam liburan.

Hari ini keberangkatannya. Berhubung rencananya mereka akan berangkat siang hari, Runa jadi tidak perlu terlalu terburu untuk bangun pagi. Membuka mata di pagi hari saat libur musim panas termasuk hal yang malas ia lakukan. Semuanya sudah ia siapkan sebelum hari keberangkatan, jadi tidak ada alasan untuk terburu. Tiga puluh menit sebelum jadwal berangkat, Runa sudah berbaring asal di kasur Seunghee; menunggu sang karib membersihkan diri.

“Apa aku harus menghubungi Jungkook lagi?” ujarnya kala sosok Seunghee yang sudah lebih segar ketimbang beberapa menit sebelumnya, menyapa pandangnya.

“Dia bilang akan datang saat selesai kerja.” Perlahan Seunghee mengoleskan krim ke wajahnya. Membiarkan Runa mencipta siku-siku dengan alis, “Aku sempat kaget dia menyetujui akan ikut dengan begitu cepat. Kupikir bakal susah.”

“Mungkin sudah tahu cara menikmati hidup.”

Runa hanya menanggapi dengan gumam setuju, berlagak fokus pada game di ponsel. Semenjak insiden perasaan Seunghee yang ketahuan, Jungkook jadi sedikit berubah. Tidak tahu keduanya sudah jadian atau justru menciptakan perjanjian, yang jelas perbedaannya sungguh kentara sekali. Inginnya, sih, Runa bertanya. Tapi setiap kali membahas perihal cinta, yang ada Seunghee dan Jungkook memilih mengalih topik. Oh, biar Runa coba sekali lagi.

“Kalian jadian?”

Lihat bagaimana raut tak ingin ditanyai begitu terlihat sekarang. Untung krim wajahnya sudah rata, jadi Seunghee bisa menanggapi tanpa terburu seperti tadi, “Begini, Runa.” Dia mengisi jeda dengan bercacak pinggang, “Apa aku pernah bilang paling tidak suka digosipkan?”

“Belum.” Memang begitu nyatanya.

“Aku baru mengatakannya tadi.” Mengedik bahu, Seunghee beralih untuk menyisir rambutnya. Rencananya ia akan mengikat kembali surai legamnya menjadi satu. “Semuanya salah paham. Tentang perasaanku pada Jungkook atau apa pun yang berhubungan dengan itu. Anggap tidak ada.”

“Apa kau ditolak?” Cepat-cepat Runa menunjukkan kedik bahu ketika tahu tatap membunuh milik sang karib tertuju padanya, “Hanya menebak.” Yah, memangnya apalagi alasan logis jika respon yang disuguh seperti tadi, bukan?

“Kau tidak mau menemui Kak Sehun?” Nah, ini salah satu yang membuat Runa tetap menaruh curiga. Setiap membahas Jungkook, seringnya Seunghee memutar topik dengan cepat. Mengesalkan juga, sih, sebenarnya.

“Kau mengusirku?” Dibalas begini, Seunghee memutar mata jengah. Ia mendudukkan diri di depan cermin dan mulai membubuhkan bedak ke wajah. “Kupikir kalian dekat.”

Sejenak Runa melepaskan pandangan dari ponsel, menatap langit-langit kamar seraya menggumam, “Dekat?” Dia meletakkan ponsel sembarang, kemudian mengubah posisinya menjadi tengkurap. “Kau pikir aku dekat dengannya?”

“Memang iya, kan?” Kali ini Seunghee sibuk dengan lipstick-nya, “Sering pulang bersama, menghabiskan waktu untuk mengobrol masalah pribadi─atau bukan, sering mengirim pesan satu sama la─”

“Sebentar,” Runa menyangga dagu dengan kedua tangan sebelum mendengar analisa Seunghee terlalu lebar, “Bukankah itu wajar?” Dia juga melakukan hal yang sama dengan Baekhyun, bahkan beberapa hal juga dengan Jungkook─selain pulang bersama dan berkirim pesan, tentu.

“Jika posisi kalian satu sekolah itu wajar. Sudah jelas-jelas Kak Sehun beda sekolah. Kurasa…” Seunghee membalik tubuh dan menatap Runa, “… dia menyukaimu.”

Lekas Runa menyentuh dadanya dan membelalakkan mata dengan berlebihan, “Astaga, kau membuatku berdebar.” Dan ia langsung nyengir sebelum sisir yang Seunghee lempar mengenainya. Runa terkekeh geli, “Setelah berakhir dengan lelaki tinggi nan tampan serta keren saat bermain basket yang ternyata selingkuh di belakang gadisnya, sepertinya aku terlalu tidak peka.” Membicarakan Chanyeol terkadang tak menimbulkan rasa tak enak lagi di benaknya. Runa malah kedapatan sering menjadikannya lelucon jika bersama karib-karibnya. Tidak tahu, deh, di belakang layar begitu juga atau tidak.

“Jangan jadi jomblo mengenaskan.” Lagi, Seunghee memutar mata, “Buktikan dugaanku salah atau benar dengan menjadi gadis peka seperti sebelumnya, Kwon Runa.”

“Jadi peka itu menakutkan, tahu.” Kekehan ringan Runa tebar, “Menyimpan berbagai persepsi seorang diri─dalam hal ini yang kumaksud adalah masalah cinta. Lalu menunggu si sasaran membuat kode yang lebih jelas. Kalau berakhir sama-sama suka memang baik. Tapi kalau nyatanya cuma salah sangka? Siapa yang akan tanggung jawab kalau kau hanya ke-ge-er-an? Yang ada malah ditertawakan.”

“Apa kau tahu? Kau malah terlihat seperti menutup diri.” Betapa Seunghee tidak suka jika temannya jadi anti cinta gara-gara sang mantan.

“Itu namanya menghindari risiko. Aku sedang ingin hidup tenang, omong-omong.” Permainan di ponsel kembali menyedot perhatian Runa. Untuk beberapa saat Seunghee duduk seraya menyedekapkan tangan, melayang tatap tak megerti. “Setelah pertemuan tidak sengaja di depan kedai es krim, apa kau bertemu Chanyeol lagi?”

Shit. Runa benar-benar malas membicarakan ini. Setelah merenggangkan tangan, ia beranjak, “Aku akan menemui Sehun. Coba kita lihat aku peka atau tidak.”

“Kwon Runa, dia menemuimu lagi, ya?” Seunghee mendelik tak terima, “Runa, hei, jawab dulu!”

Seruan Seunghee tertutup oleh bantingan pintu. Bergegas Runa menyimpan ponselnya di saku. “Lidahku malas bercerita banyak,” gumam alasan ini entah ditujukan untuk siapa. Tak perlu melangkah terlalu jauh untuk menyambah pintu kamar Sehun yang kebetulan sedikit terbuka.

Tangan Runa terulur memegang kenop pintu, mendorongnya terbuka lebih lebar. Tapi dia berhenti ketika tahu Sehun yang tengah berdiri di depan lemari hanya memakai celana pendek selutut; telanjang dada. “Harusnya aku ketuk dulu.” Ia berbalik dan mundur selangkah, menggaruk rambut setengah bingung. “Lho? Kenapa harus canggung? Yang penting dia tidak telanjang, kan?” Baru saja akan melangkah untuk mendorong pintu, Runa lebih dulu menemukan keterkejutannya.

Seorang gadis berambut hitam gelombang muncul dari balik sana. Gadis cantik berkulit putih, tingginya mungkin sama dengan Runa. Gadis itu menutup pintu kamar Sehun dan menatap Runa yang masih melongo di depannya. “Teman Oh Seunghee, ya?”

“I─ya.” Anggukan yang disuguh Runa sungguh terlihat kaku.

“Kamar Oh Seunghee yang sebelah sana. Ini kamar Oh Sehun.” Tanpa memasang wajah bingung, gadis tadi menunjuk pintu kamar Seunghee. Bingung akan menampilkan ekspresi seperti apa, Runa tersenyum saja, “Aku ke sana dulu.”

Hampir saja Seunghee menjatuhkan make-up-nya ketika untuk kedua kali pintu kamarnya dibanting lumayan keras. Matanya memicing menatap Runa yang menunjukkan alis berkerut. Tak perlu menanyakan apa yang terjadi karena Runa lebih dulu membuka suara.

“Hampir saja aku menghancurkan hubungan seseorang.” Ucapan ini nyaris tak memberi petunjuk bagi Seunghee untuk mengerti, “Hubungan siapa?”

“Oh Sehun, memangnya siapa lagi?” Sama sekali Runa tak memberi jeda bagi Seunghee untuk menyela, “Barusan aku mau ke kamarnya, tapi yang keluar adalah seorang gadis cantik. Sangat cantik asal kau tahu saja. Untung aku tidak masuk ke kamar Sehun. Bisa-bisa aku dituduh sebagai perusak hubungan orang. Mana mau aku disamakan dengan tipikal gadis sejenis Han Nami?”

Hening yang ada dimanfaatkan Seunghee untuk berpikir lebih jernih. Tak mengindahkan Runa yang membentur tubuh di kasur, ia menanggapi, “Kudengar itu teman Kak Sehun.”

“Akan kuanggap mereka pacaran saja. Agar lebih menjelaskan hubunganku dengan Sehun yang memang tidak sedekat yang kau kira.” Kembali memainkan game adalah hal yang Runa pilih, “Hampir saja aku kecewa karena terlalu ge-er berkat ucapanmu. Tolong jangan sudutkan aku dengan Sehun lagi.” Jujur saja, Runa memang sempat besar rasa karena Seunghee yang notabene adik Sehun mengatakan lelaki itu tertark padanya. Bahkan ia sempat menghubung-hubungkan kejadian yang lalu dengan perasaan Sehun. Beruntungnya fakta bahwa ia mengetahui ada gadis lain yang kelihatannya dekat dengan Sehun, membuat ia dapat mundur teratur. Kalau kebablasan, bisa-bisa rasa sakit yang pernah menghantamnya kembali lagi. Kan, tidak lucu.

Dan sebelum Seunghee menanggapi, suara Tuan Oh bercampur ketukan pintu lebih dulu menginterupsi, “Segeralah bersiap. Temanmu yang membawa van sudah datang dengan dua yang lain.”

Oh, pasti paket Chen-Wendy-Baekhyun.

.

.

.

“Aku Irene Bae.”

Di sesi perkenalan singkat, Runa menggumam ‘o’ dalam hati ketika mendengar perkenalan Irene. Cocok dengan wajahnya yang cantik. Ah, sudah berapa kali Runa memuji.

“Aku Kim Taehyung, anak Byun Baekhyun.”

Kali ini Runa menyangga dagu malas. Sudah dia duga Taehyung akan seribu persen cocok dengan Baekhyun. Keduanya bahkan sudah lebih dulu berkenalan dengan dramatis sebelumnya. Begitu Sehun memperkenalkan mereka di depan rumah dengan kalimat, “Wah, benar kata Runa. Senyum kalian mirip.” Kemudian mereka berakhir dengan Taehyung yang berseru, “Ibu!” Serta Baekhyun yang menangkap tubuh Taehyung dalam pelukan dengan isak dramatis, “Anakku!”

Yakin, deh, yang lihat pasti mual.

“Nah, untuk pembagian tempat duduk bagaimana kalau kita suit saja?” usul Baekhyun begitu tahu perkenalan singkat telah selesai dilakukan. Berpikir cepat, Seunghee menanggapi, “Mama di mobil, Papa di van, dan Chen jelas di van. Kalau bisa, kita memilih sendiri bagaimana?” Yang lain setuju-setuju saja. Mau memilih atau tidak, yang penting sampai tujuan. Paham bahwa usulannya langsung disanggah oleh Seunghee, Baekhyun yang pertama menanggapi, “Seunghee, kau mau pilih mana?”

“Kurasa mobil saja. Mama butuh teman bicara.”

“Ah, aku juga mau di mobil. Kalau kalian?” Merasa senang sudah mendapat tempat, Baekhyun melayang tanya. Tadinya Runa mau ikut-ikutan dengan pilihan Baekhyun, lebih asyik berkumpul bersama teman, bukan? Tapi akhirnya ia memilih menemani Wendy dan Chen saja di van. Mengantisipasi kemungkinan akan tidak dipedulikan oleh Baekhyun yang sibuk modus dengan Seunghee. Yah, walau Wendy dan Chen juga sama, sih. Tapi setidaknya Runa sudah terbiasa dengan hubungan keduanya. Aduh, menjelaskannya membuat bingung.

Pada akhirnya semua diputuskan dengan cepat. Begini hasilnya, di mobil ada Nyonya Oh, Seunghee, Taehyung, Irene, Baekhyun, dan Jungkook. Sisanya naik van. Namun kala semuanya tengah memindahkan barang, Tuan Oh berkerut heran. Melihat jumlah yang tidak sesuai karena memang dilihat dari sudut mana pun van-lah yang paling bisa menampung banyak orang, Tuan Oh berujar, “Salah satu─atau dua, yang memilih di mobil bisa pindah ke van. Di sana terlalu penuh.”

Mendengar hal tersebut, Baekhyun yang baru meraih tasnya berbisik pada Runa, “Ada cara untuk membuat Jungkook pindah?”

“Bagaimana jika kau bantu aku membawakan ini lebih dulu?” Kesal karena Baekhyun justru mengurus hal tidak begitu penting sekarang, Runa bersungut-sungut. Helaan napas Baekhyun suguh, ia baru meraih salah satu tali tas Runa untuk selanjutnya dibawa bersama ketika maniknya menemukan sesuatu. Di depan sana terlihat Seunghee mengatakan sesuatu pada Jungkook. Tapi si lelaki lebih dulu meraih bawaan Seunghee dan berjalan ke bagasi. Seunghee diam saja, kembali memacu langkah untuk mendekati Jungkook dan mengucap kata.

“Hei, Baek, kenapa tasnya dilepas lagi?!” seruan kesal milik Runa tak menarik Baekhyun untuk kembali. Yang ada lelaki itu hanya bergumam saja, “Aku yang akan pindah van saja.”

“Dia kenapa, sih?” Usai meniup udara cepat, Runa fokus pada bawaannya─ketambahan barang milik Nyonya Oh. Tidak beruntungnya, tak ada satu pun yang menawarkan bantuan sampai ia sampai di depan bagasi. Ah, ada Sehun yang baru meletakkan barangnya di sana.

“Tidak mau membantu gadis yang kesusahan ini?” Sebenarnya hanya ucapan biasa, sama sekali tak bermaksud menyindir. Tanggapan yang diberi Sehun terdengar ringan, “Letakkan sendiri. Aku baru membantu Irene tadi.”

“Oh begitu,” langsung Runa menarik tali tasnya untuk diangkat dan dipindah ke bagasi. Entah dari mana tiba-tiba kekuatannya bertambah─walau wajahnya sampai memerah. Saat Runa kesulitan mendorong tas agar lebih masuk ke dalam, saat itulah Sehun baru menggerakkan tangan untuk membantunya. “Suka pantai?”

“Kecuali panasnya, aku suka.” Begitu selesai dengan barang terakhir, Runa menyandarkan diri di van. “Kau sendiri?”

“Suka. Banyak yang pakai bikini.” Langsung saja Runa memasang tampang sok ngeri, “Mesum.”

“Hei, itu namanya manusiawi. Aku bukan homoseksual.” Sehun menyeringai, menyempatkan diri untuk menyugar surai legamnya ke belakang. Sialan, apa barusan Runa merasa lelaki itu mendadak lebih tampan ketimbang sebelumnya?

“Kau tampan.” Sialan yang kedua, apa Runa baru menyuarakan pemikirannya? Terlihat Sehun sedikit terkejut dengan apa yang baru didengar. Memang ia sudah banyak mendengar dari beberapa mulut kalau dirinya memang tampan. Tapi saat Runa yang mengatakannya, kenapa efeknya berbeda? Selain bangga dan makin besar kepala, Sehun menemukan rasa lain; gugup yang tak biasa.

“Yang barusan, saat menyugar rambut kau kelihatan lebih tampan.” Dengan santainya Runa mengangguk-angguk, “Kau harus sering melakukannya untuk menarik para gadis.” Segera alis Sehun bertaut heran. “Aku sudah punya seseorang yang menarik perhatianku.”

“Oh iya, aku lupa.” Sosok Irene dari kejauhan menyadarkan Runa. Di sisi lain Sehun memicing tak percaya, “Kau sudah tahu?”

“Bukankah terlihat jelas?”

“Apa sangat terlihat jelas?” Sehun justru mengulang ucapan. Dia terlanjur kepalang kaget. Apalagi mendapati Runa menyuguh gesture santai, “Kenapa terkejut?”

“Ada yang memberitahumu?” Si lelaki memajukan tubuh agar lebih dekat, seakan meminta jawaban jujur dari lawan bicaranya. Tak ingin banyak mengambil jeda, Runa menjawab, “Tidak, sih. Omong-omong, bisa biasa saja? Dia bisa salah paham padaku.”

“Dia siapa?” Hampir saja Sehun menduga ada lelaki lain yang memang sudah dekat dengan Runa dan tak terima ia dan gadis itu sedekat ini. Namun jawaban yang didengar malah makin membuatnya bingung. “Irene. Dia melihat ke sini, lho. Aku tidak tanggung jawab kalau kalian makin jauh.”

“Irene?” Suara Sehun satu oktaf lebih tinggi. Dia mengembus napas panjang terang-terangan, sadar jika Runa tak sungguhan tahu siapa yang ia taksir sekarang, “Bukan dia, astaga.” Sehun menyedekapkan tangan dan menatap Runa lurus-lurus, “Begini. Aku dan Irene memang pernah menjalin hubungan, tapi sekarang kami hanya bersahabat saja. Aku punya bukti.”

“Sehun, sejujurnya kau tidak perlu memberi bukti segala.” Sadar jika ia salah menebak, Runa tahu dia tak perlu membuat Sehun melakukan hal lain yang lebih rumit. Tapi Sehun keras kepala, lelaki tersebut justru bersuara lagi, “Perhatikan baik-baik. Kalau setelah ini─atau nanti, Irene marah padamu atau dia menamparku, berarti aku yang bohong tentang hubungan kami.”

Satu sekon pun Runa tak dapat menyela. Sama sekali tak mengantisipasi pergerakan cepat yang Sehun lakukan. Semuanya buram sesaat, pandangan Runa untuk satu─atau dua─detik dipenuhi surai legam Sehun. Begitu paras lelaki itu kembali dilihatnya, Runa sadar ada perasaan ganjal yang tertinggal di pipinya. Tidak butuh waktu lama bagi Runa untuk membuat Sehun mengaduh kaget. Omong-omong dia baru meninju kuat pinggang Sehun.

“Kau menciumku?!” Satu tarikan kuat dirasakan Sehun pada rambutnya seiring dengan seruan Runa. Jelas dia mengaduh lebih kencang, “Hei, Kwon, hei, lepaskan! Astaga, ini sakit!”

“Kau pikir aku ini apa?! Patung lilin idolamu yang bisa kau cium sesuka hati?!”

“Hei, sumpah ini sakit, Kwon!” Seruan-seruan Sehun tak berefek pada pelepasan rambut dari tarikan kesal Runa. Lelaki ini mencoba menggenggam tangan si gadis agar berhenti. “Tidak lagi-lagi, deh. Lepas, kumohon!”

Di sisi lain, tidak ada yang berniat melerai. Jungkook dan Irene yang memergoki mereka pun hanya melengos tak peduli. Yah, jika yang melihat itu Baekhyun atau Taehyung pasti suasananya jadi beda. Makin ramai.

“Kwon Runa! Kau ingin aku botak?!”

.

.

.

.to be continue

“Kau pikir aku ini apa?! Patung lilin idolamu yang bisa kau cium sesuka hati?!” (Jadi ini inspirasinya adalah patung Luhan yang sampe rusak gegara diciumin fans) /kayang.

LAH LAH Sehun udah nyosor 😦 Sehun mah 😦 Kenapa aku yang baper lah 😦 Kesel 😦

Yuhuuu, setelah sebulan aku balik lagi haha Edan ternyata ada aja cobaan ya. Laptop-ku mati total dan perlu nginep beberapa lama di bengkel (?) wkwk Tapi untung deh datanya gak papa. Udah sempet mau setres kalok semisal datanya pada ilang. Edan dataku kusimpen di E semua, sedangkan katanya yang bakal balik itu data yang di D kalok ada apa-apa. Bayangin gimana aku pingin terjun payung aja wkwk. Tapi alhamdulillah semuanya selamat. Termasuk data FF ini wkwk Gila aja ini aku udah ngetik sampe hampir ending dan kalok ilang semua aku kudu piyeeeeee? :’v

Dah gitu aja. Semoga FF ini makin cepet kelar, udah setaun lebih nih ternyata wkwk.

Oh iya, makasih semuanya yang udah ngikutin dampe detik ini. Aku cinta cinta cinta cinta cinta cinta banget deh serius. Aku ngebacain semua komen kok, buat semangat to yaa 😉

Tambahan dikit. Mau tanya dong, kalian lebih suka pairing Idol-OC atau Idol-Idol? Terus kalok misal suka IdolxIdol, Sehun lebih dapet sama Krystalf(x) apa Jisoo BP apa siapa gitu? Atau Sehun-Yeri? Atau Oh-Couple? Atau Sehun-Luhan? /plak/ /yang ini gak masuk daftar, udah jelas jawabannya entar (ya walau sebenernya aku lebih suka ChanBaek) (ini kenapa merembet ke mana-mana sih). Kemarin aku baru stalking SeStal dan itu ternyata kok kiyot 😦 kok aku suka kemistrinya 😦 wkwk Akhir-akhir ini aku lagi ngejodoh-jodohin Sehun wkwk, buat koleksi foto gitu kan unyu. Udah ah gitu ae, kepanjangan entar.

.nida

 

Iklan

15 pemikiran pada “2ND GRADE [Chapter 22] by l18hee

  1. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 24] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 23] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  3. Sehun nyari kesempatan dalam kesempitan hahahaha, kangen epep iniii, baru bisa komentar, telat banget aku bacanyaaa
    Pokoknya mah aku tunggu chapter selanjutnya yaa
    #sehunsemangat
    #runamogapeka
    #sehunrunamenujuhalal
    #nidacepetupdate
    #paiting

  4. Ya ampun akhirnya ceritanya berlanjut, dan bikin tambah baper. Huaa Sehun udah mulai pergerakan nih tapi dia langsung nyosor aja 😀
    Penasaran sama Seunghee dan Jungkook, mereka pacaran gak sih?
    Di tunggu kelanjutannya 🙂

  5. Akhirnya apdet juga thor 😭 kusudah lama menunggu. Btw, ciee Sehun main nyosor” wae 😁 Cepatlah dating kalyan yak. Fighting Author 👍

  6. Ahhhh, terima kasih kak karena sudah lanjut ceritanya
    Jujur ff ini yang paling ditunggu dripada ff yn lain
    ceritanya makin ke sini makin bagus, Sehun takut salah paham akhirnya berakibat fatal di tabok Runa 😄😄

    Kasihan baekhyun nya 😢😢

    Klau mnurutku sih lebih bagus pairing idolxOC, supaya lebih dpat berimajinasi 😃😃😃 #iniapaan #plak

    Lanjutkan kaka
    Semangat nulisnya 💪

  7. Sehun ahh,,, michyeoseo??? Gila gila sumpah,,, aaaaaa, main nyosor aja ni anak, mampus kan lu di jambak runa wkwk,, coba yang lu cium gue😏😏*dilempar ke khayangan kkk,, asdfghjkl insaf ran insaf,,, geblek emang😂😂🔪

    Runa gapekaa😑😑 tapi bagus deng,, daripada ntar kita kegeeran ya kan… aku juga katanya orangnya gapeka sih hehe *curhat mba?✌

    Btw pakabar si tiang listrik buncit kesayangan kuh wkwkwk,, curiga selingkuh lagi ni anak, kamu udh ditinggal runa loh maz,, mau aku tinggal juga?? /Ceye : “monggo, ikhlas lahir batin gue ran,, sujud sukur malah☺”/ laknat kamu mazz😢 *plak

    Terserah kak nida aja mau masangin si cadel sama siapa😂😂 oc ku suka idol juga suka kkkk tpi ucul juga sestal,, aku belom pernah denger soalnya 😂,, tapi kalo kata aku sih mendingan “hunran” sehun-rani😊😊😊😊 *di gampar pake gergaji 😂

    Fighting kaka kkkk😚😚😚❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

  8. Oh, trnyt lappy’ny rsk & br sembuh, untung’ny slmt ya data2ny trmsk ff ni. Dsr licik dg poker face si 세훈 nyabotase ide seunghee minjem villa sodara mrk 😀
    백 modus pdkt ke seunghee gencar trnyt, tp seunghee & jungkook terduga udah jd-an! Kesian 백 😞
    세훈 cm ajak irene & taehyung ja? Kai sm 1 lg bandmate mrk (lupa nm’ny) ga diajak jg?
    첸 di kls jrng dpt scene/dialogue ya, tetiba dy muncul brng 백 & wendy di rmh seunghee.
    Omayaa.. 세훈 lngsng gercep gt ngkiss cheek’ny runa 😍 tp run jgn di jambak gt 세훈’ny 😬 /ckp 크리스 aja yg ‘prnh’ botak krn tuntutan scenario, btw mn 크리스 ya cm prnh nongol 1x dimarih 😢
    Ok fix bntr lg 훈-룬 jd’an ya nid 😁
    Hm.. Klo di ff mostly sk sm pairing oc-idol tp depends jg klo couple’ny bias yg sm2 di sk so pasti sk bgt 😀 klo di RL idol life brhrp 세훈 sm my goddess 윤아 snsd 😍 no other! Especially not irene!! 😤 klo krystal ga jg, blkn sm kai aja..
    Smoga segera ada update’an lg ☺ senang’ny 1thn blkngn brsm ff keren yg trasa sngt natural ini..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s