2ND GRADE [Chapter 19] by l18hee

2ndgradepstr

2ND GRADE

─by l18hee

.

Now Playing ► Chapter 19 [It’s Over]

Ciumannya tidak lagi terasa manis, sejujurnya.

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Chanyeol | [EXO] Sehun | [EXO] Baekhyun

[RV] Joy | [17] Sunyoung | Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Fluff | Friendship | Hurt | Romance | School-life

.for

Teen

.

Poster by NJXAEM

.

Previous Part:

Prologue | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18

.

.

follow my wattpad l18hee

Pada akhirnya mereka mengunjungi satu toko olahraga rekomendasi Sehun. Tentu saja Runa tidak lupa akan hobi Sunyoung. Sepupunya itu terlalu suka dengan olahraga futsal. Sepasang sepatu futsal baru bukan ide buruk, kan?

“Memangnya ulang tahunnya kapan?” Sehun masih terus mengikuti Runa yang sibuk membandingkan sepatu satu dengan yang lain. “Besok, kok,” jawab Runa dengan alis berkerut bimbang, “Setelah ini aku mau pesan kue. Kutraktir, mau?”

“Bukannya uangmu sudah habis untuk beli bikini?”

“Bisa pelan sedikit?” Mengesalkan juga harus mendengar hal yang menurut Runa masuk dalam kategori pribadi lantas dibicarakan oleh lelaki.

“Apa aku harus mengulanginya dengan berbisik di telingamu?” Ucapan Sehun membuat Runa merinding geli, “Kau membuatku risih. Jauh-jauh, sana.” Untuk yang kesekian kali hari ini, Sehun terkekeh, bangga telah berhasil membuat si gadis merasa terganggu.

“Pilih yang kanan saja, bahannya lebih nyaman.” Pada akhirnya Sehun menyuarakan sarannya. Membuat Runa berdecih sebal, “Kenapa kau tidak bilang sejak tadi?” Dia hanya tidak tahu, Sehun sedang senang-senangnya mengulur waktu.

Seusai merelakan beberapa lembar uang dalam dompetnya, Sehun berucap yakin, “Sepupumu pasti suka. Bilang saja mantan kapten futsal yang memilih modelnya.”

“Oh, apa kau sedang pamer?” ledekan Runa langsung dibalas kedikan bahu oleh Sehun, “Sedang mempromosikan diri, lebih tepatnya. Omong-omong, jadi pesan kue?”

Dan berselang sekian menit kemudian, Sehun sudah melangkahkan kaki  memasuki sebuah toko roti. Dia mengedar pandang sejenak sebelum akhirnya menatap Runa yang sudah lebih dulu bicara pada salah satu pegawai. Sehun menyandarkan tangan di atas meja kasir yang ia punggungi, memasang telinga untuk mendengarkan─karena tidak ada hal lain yang bisa dilakukan.

“… dan lilinnya yang kecil saja, bukan angka, lho.” Runa menggaruk dagu, “Lalu, jangan lupa tulisannya pakai cokelat. Tolong kertas, aku akan menuliskan ucapan untuk ditulis di kuenya.”

“Sepertinya ini malah kue kesukaanmu, Run.” Mendengar sapaan yang lumayan akrab, Sehun menoleh pada pegawai yang tadi diajak Runa bicara. Oh, sepertinya gadis magang dan umurnya tak jauh beda dengan mereka. Pantas bisa akrab.

“Kau tahu aku, Joy.” Kali ini Runa terkekeh, menyerahkan kertas berisi tulisan yang baru ia goreskan. “Besok pagi minta Kak Minseok antarkan ke rumah ya?”

Setelah menyatukan kertas pesanan dan kertas pemberian Runa, Joy mengangguk, “Kau tidak mau menyapa Ayahmu?”

“Ayah di sini?” Layaknya terkejut pada umumnya, wajah Runa tidak dibuat-buat kali ini, apalagi Joy mengangguk membenarkan, “Di kantornya. Mungkin kau ingin memperkenalkan pacar barumu.” Diam-diam Sehun berdeham di sela senyumnya. Tukang besar rasa.

“Eii, aku jomblo, tahu,” ucap Runa tak rela. Sehun pun sama tak relanya, bedanya ia tak rela tidak dipedulikan sekarang. Langsung saja Joy mendelikkan mata, “Jadi kau benar-benar sudah putus dengan Park Chanyeol?”

“Miris, ya?” Runa terkekeh, “Aku baru akan mempertemukan Chanyeol dengan Ayah lagi, tapi dia malah kencan dengan gadis lain.” Tak ingin membuat suasana jadi mendung, Joy memilih mengalih topik. “Mau kue obat patah hati?” Tawarannya terdengar menarik. Buktinya Runa mengangguk cepat, “Sekarang? Mau! Aku akan duduk di tempat biasa dan─oh, tolong satu cheese cake untuk orang ini.” Yang disebuat sebagai ‘orang ini’ tadinya akan protes, namun lebih memilih mengikuti Runa untuk duduk di salah satu meja.

“Kubilang apa, aku yang traktir.” Senyum kemenangan adalah senyum yang Runa suguh sekarang. Sedang Sehun hanya berdecih meremehkan, “Aku tidak heran kau tak perlu uang. Setidaknya beri aku yang paling mahal.”

“Jangan salah, cheese cake resep Ayahku yang paling enak di sekitar sini.” Walau begitu, Runa tetap menjadikan kue berlumur cokelat sebagai favoritnya. Senyum yang semula ia suguh langsung sirna begitu tanya Sehun menguar, “Apa Ayah dan Ibumu menjalankan bisnis ini bersama?” Ada canggung yang dapat Sehun temukan dalam manik gadis di depannya. Sesekon kemudian Runa menyuguh senyum kecil. Sama sekali tak menemukan kata tercepat yang dapat digunakan untuk menjawab.

Untuk sekian waktu, keduanya tenggelam dalam hening. Sehun sungguh tak suka ini. Maka dari itu ia memutuskan mengeluarkan alasan kenapa semalam meminta untuk bertemu dengan Runa.

“Aku mau minta tolong.” Pemilihan kata yang digunakan Sehun lumayan aneh, jujur saja. Tapi masa bodoh, sudah terlanjur diucapan mau bagaimana lagi? “Punya saran artikel berjudul ‘Cara Menjadi Kakak untuk Pemula’?” Sekarang Runa mau terkekeh kecil. “Ya ampun, ternyata aku bertemu kakak yang manis sekarang.” Dia menangkup pipi dengan kedua tangan dan tersenyum, menatap lelaki di depannya, “Aku juga bukan kakak yang sepenuhnya baik. Tapi mari lihat seberapa bisa aku memberi saran padamu.”

“Jika kau gagal, apa yang bisa kuminta darimu sebagai ganti rugi tenaga dan harga diriku?”

“Apa sekarang kau sedang ada di posisi meminta ganti rugi, Oh Sehun?” Runa menyudahi tangkupan di pipi, ia menatap manik coklat di depannya; berlagak sebal. Sedang yang ditatap hanya mengedik bahu.

“Bagaimana jika ngobrol-nya sambil makan?”

Segera Runa enyah dari bangkunya, menatap sosok pria yang baru saja meletakkan pesanan di meja. “Kukira Ayah sibuk.”

Kali ini giliran Sehun yang bergegas berdiri. Dia menggunakan refleknya dengan baik ketika menunduk lumayan dalam untuk dua detik, “Aku Oh Sehun. Om pasti ayahnya Runa.”

Tuan Kwon mengangguk dan tersenyum sebelum beralih menatap Runa, “Apa ini kekasih─”

“Dia temanku. Sekolahnya sama dengan Sunyoung dan kebetulan kami sering bertemu,” jelas Runa cepat. Dia sedikit gugup, seolah tengah menutupi sesuatu. Dalam hati berharap semoga tak ada konversasi lain yang mengarah ke topik pekerjaan sambilan─yang membuat ia dan Sehun sering bertatap muka. Di sisi lain, Sehun berpikir sejenak begitu menangkap nama yang terasa familier di otaknya. Namun perhatiannya tersedot kembali ke konversasi awal.

“Sering bertemu, ya? Kalian teman les?” Tuan Kwon beralih lagi pada Sehun dengan senyumnya. Segera Sehun menggeleng, merasa tak masalah ditanyai banyak-banyak seperti ini, “Sebenarnya kami sering bertemu di mini─”

Lekas Runa memotong, “Ayah ada-ada saja. Dia di sekolah seni, masa mau diminta les yang sama denganku.” Mengamit lengan Sehun yang akan membuka mulut lagi, Runa menatap si lelaki dengan sirat penuh arti, “Hari ini dia berbaik hati menemaniku membeli kado untuk besok. Makanya aku mentraktirnya cheese cake andalan Ayah.” Sehun yang merasakan lengannya digenggam terlalu erat hanya tertawa canggung, “Ah, benar Om. Aku baru akan mencobanya.”

Untung saja Tuan Kwon tidak menaruh curiga. Beliau memersilakan kedua anak itu untuk duduk. Lantas Runa mencari celah untuk sedikit berbisik pada Sehun, “Jangan bahas pekerjaanku.”

Ini sungguh bukan kejadian yang terlintas dalam benak Runa walau hanya sepintas; perpaduan duduk dengan sang ayah dan Oh Sehun. Dan lagi, kenapa malah bukan dia yang mengobrol dengan santai di sini? Ayahnya bertanya beberapa hal umum, Sehun menanggapi dengan semangat. Sampai-sampai keduanya terkekeh bersama. Apa-apaan? Siapa yang berperan jadi anak di sini?

“Apa Chanyeol tidak cemburu kalian keluar berdua?” Begini-begini juga Tuan Kwon masih mengira sang anak menjalin ikatan dengan lelaki yang sama. “Lama aku tidak bertemu dengannya.”

Baiklah Kwon Runa, ini mungkin topik yang lebih baik ketimbang membicarakan masalah pekerjaan sambilan. Dia sudah membuka mulut untuk mengatakan hubungannya telah berakhir. Namun begitu ia ingat kemungkinan ayahnya akan bertanya lebih banyak di depan Sehun, Runa mengungkapkan yang lain, “Tidak ada yang akan cemburu, Ayah. Aku dan orang itu berteman.”

Setelah disebut orang ini, kini Sehun mendapat sebutan lain yang lebih spektakuler: orang itu. Tapi bukan itu titik paling fokus yang tengah Sehun perhatikan. Dia penasaran kenapa Runa tidak bercerita kejadian sesungguhnya. Yah, walau jawaban terakhir yang terdengar bukan kebohongan, sih.

Pembicaraan sore ini berakhir dengan ajakan Tuan Kwon pada Sehun untuk menghadiri pesta kecil esok Minggu. Begitu keluar dari toko, Runa langsung berujar was-was, “Pokoknya jangan datang besok.”

“Aku punya undangan khusus, lho.” Tak henti-hentinya Sehun tersenyum bangga. Padahal Runa yakin ajakan ayahnya hanya sebatas formalitas belaka. “Kau tidak kenal sepupuku. Itu akan sangat aneh,” masih saja Runa berusaha membujuk.

Berlagak santai, Sehun hanya mengedik bahu dan terus berjalan dengan senyum tipis terkembang. Di sampingnya, Runa terus melontar alasan tak masuk akal agar si lelaki tak tertarik untuk datang.

Well, lihat saja besok siapa yang akan menang.

Sehun terlalu menikmati jalannya perdebatan tidak mutu ini. Sampai-sampai lupa akan pertanyaan yang seharusnya ia utarakan sejak tadi; mengenai peran menjadi kakak, tentu. Dia baru ingat kala memandang Runa yang baru saja turun dari bus.

“Bisa-bisanya aku lupa.” Bersungut kesal, Sehun meraih ponsel di sakunya.

Oh Sehun:

Apa permulaan yang harus aku lakukan? Tentang Seunghee, maksudku.

Aku lupa menanyakannya tadi.

 

“Apa aku telpon saja, ya?” Terdengar menyenangkan, sebenarnya. Tapi Sehun langsung melek kenyataan jika baru saja mereka bahkan bertatap muka dalam waktu yang lama. Tidak terlalu sesuai rencana, namun jelas Sehun tak memunculkan kata sesal dalam pikirannya. Kala menatap layar ponselnya yang memunculkan balasan, ia tersenyum kecil.

Kwon Runa:

Cari tahu apa yang dia suka dan tidak suka.

Kalau kau sanggup, langsung berikan juga boleh.

“Kwon Runa.” Gumam penuh makna ini Sehun kuar sambil menyandar pada sandaran kursi bus, sedikit mengangkat ponselnya ke atas. Semenjak Runa putus, entah kenapa ada saja hal yang terjadi di antara mereka. Dan lagi, keinginan Sehun untuk lebih menerima keberadaan Seunghee juga akan lebih lancar nantinya─dia harap.

Jadi, inikah yang dinamakan sekali dayung dua, tiga pulau terlampaui?

.

.

.

-0-

.

.

.

“Kukira pesta ulang tahun hanya untuk orang normal saja.” Seraya meletakkan kadonya di samping Sunyoung, Runa meledek pelan. “Oh, kau tidak mengundang banyak orang.”

Sebuah decihan mencuat dari arah Sunyoung. “Aku tidak mengundang siapa-siapa. Kau yang meminta mereka datang.” Dan bahunya ditepuk kencang, “Hanya Jihoon, Chae, Fern, dan Seungkwan. Belajarlah menghargai kehadiran temanmu.” Sunyoung hanya menggaruk lehernya, seolah perlu kekuatan untuk melontar kata. Memang susah mengundang temannya, mengingat sifat Sunyoung yang kadang terlalu menjaga image dan seenaknya, “Oke. Terima kasih, kak.”

Dan sebelum mendengar tanggapan Runa, Sunyoung lebih dulu beranjak dan menghampiri Chae yang baru saja menandaskan jus. Meninggalkan sang sepupu yang menahan kikik geli.

Pesta kecil-kecilan kali ini hanya dihadiri beberapa orang. Tidak terlalu berlebihan karena tentu Sunyoung tak akan suka. Jika bukan karena kejutan, mungkin Sunyoung lebih ingin mengadakan makan sup rumput laut bersama.

“Untung saja dia tidak datang.” Runa pikir akan sangat aneh jika Sehun benar-benar mengambil undangan dari Tuan Kwon untuk datang. Lagipula, walau satu sekolah, hanya ada kemungkinan kecil Sehun mengenal Sunyoung─atau sebaliknya. Yang ada hanya akan menimbulkan persepsi baru yang lebih tidak mengenakkan saja.

“Runa, tamumu, nih.”

Sialan, baru saja Runa bersorak girang dalam hati, kenapa Sehun tiba-tiba datang seperti─sebentar! Sosok itu lebih tinggi dari Sehun.

“Apa aku melewatkan sesi potong kuenya?”

Oh, sungguh, Runa benci saat menyadari degub kecilnya masih ada ketika menemukan senyum lebar Chanyeol dalam pandangannya.

.

.

.

“Cara terakhir untuk mengajakmu bicara sepertinya berhasil.” Denting cangkir yang mencumbu meja terdengar bersamaan dengan ucapan Chanyeol. Di sela oleh satu meja, ia dan Runa tengah duduk di balkon kecil sekarang, menghadap ke depan.

“Aku tidak yakin kau akan membukakan pintu untukku jika alasanku datang adalah menemuimu.” Kendati Chanyeol terus mencoba mengeluarkan kata, Runa masih setia pada heningnya. “Tak masalah kau tidak ingin bicara. Aku hanya … yah, mengatakan apa yang harusnya kukatakan.”

Sepertinya Runa memang belum menemukan keinginan untuk berbicara sekarang. Lalu, Chanyeol memutuskan untuk membuka suara kembali.

“Memang benar, aku salah sudah bermain dengan Nami selama beberapa waktu.” Chanyeol meneguk saliva, menguatkan hati agar mengatakan semuanya sekarang, “Waktu itu aku sempat jenuh dengan hubungan kita, dan ingin sejenak beristirahat. Tapi bukan berarti perasaanku hilang, aku masih menyayangimu …” dia menatap sosok yang enggan membalas tatap, “… sampai sekarang. Dan belum pernah berhenti.”

Inginnya, Chanyeol mengenyahakan meja dan langsung memeluk Runa untuk kemudian tenggelam dalam ciuman panjang. Tapi alih-alih mendapat sambutan, paling Chanyeol dapat tamparan. Padahal Chanyeol sialan merindukan gadis tersebut.

“Mungkin terdengar seperti omong kosong kalau kuakui betapa rindunya aku sekarang.” Kekehan Chanyeol sama sekali tak menyirat bahagia. “Kwon Runa,” ia memanggil setelah membuang napas panjang, “Aku sungguh minta maaf karena semuanya jadi berubah.”

Suguhan napas panjang Runa lakukan.

“Betapa aku ingin membencimu.”

Ada getir hebat yang dapat Chanyeol rasakan tatkala Runa membuka katup bibirnya.

“Kita sudah melalui banyak hal bersama, hampir satu tahun lebih.” Runa menekuk lutut di atas kursi, memeluknya. “Bodohnya selama sekitar satu setengah bulan aku tidak tahu pacarku selingkuh. Alasan-alasan yang kubuat sendiri sama sekali tak membuatku lebih baik.” Ia mengedar pandang, mengizinkan angin kecil menerpa wajahnya, “Aku sampai berpikir, mungkin Chanyeol bosan, mungkin Nami punya rasa sayang yang lebih dariku. Dan, mungkin dengan adanya status yang masih kupegang, Chanyeol dan Nami yang notabene ingin bersama jadi tidak bisa.” Kali ini dia mengedik, “Siapa yang tahu, kalau ternyata ada yang lebih tersakiti dariku di sini? Berhenti memperlakukanku sebagai orang yang paling menyedihkan.”

“Runa,” Cukup sudah, Chanyeol terlalu merasa bodoh sekarang. Dia beranjak untuk berdiri di depan sang gadis. Setelah menunduk dan menyejajarkan wajah, Chanyeol dapat melihat manik itu dengan jelas. “Beri aku kesempatan untuk memperbaiknya.” Perlahan ia mendekatkan wajah dengan satu tangan yang memberi usapan di pipi Runa.

Chanyeol memberi kecup tanpa pergerakan di bibir si gadis. Sejemang, Runa tahu ini akan terjadi. Dia tahu akan ada ciuman yang tak seharusnya tercipta di sini ketika Chanyeol mulai memberi lumatan kecil. Satu minggu tak bersama di tengah hati yang tak karuan keadaannya, Chanyeol merasa sebagian bebannya menghilang. Dia menekan leher gadis yang tak berniat membalas ciumannya. Seusai kecup panjang, Chanyeol menarik diri, memandang dua iris yang kini menatapnya enggan.

“Park Chanyeol, untuk sementara yang lama tolong jangan temui aku. Lebih baik kita tidak bertatap muka beberapa waktu ke depan.” Runa masih menunjukkan ekspresi tak berarti, “Dan yang barusan itu anggap saja salam perpisahan. Semuanya benar-benar selesai.”

Kesempatan yang sempat Chanyeol kira akan diberikan, kini runtuh tepat di depan mukanya.

.

.

.

Sampai Chanyeol pergi, Runa masih di tempatnya. Mencium lutut dalam rengkuhannya. Lamat-lamat bibirnya tertarik ke samping, memunculkan senyum tipis yang hampir tidak kelihatan.

“Degubnya … tidak sekeras dulu,” gumamnya kemudian. Perasaannya pada Chanyeol memang sudah berbeda walau masih ada─Runa enggan tahu persentasenya seberapa. Tapi ia sudah cukup puas menguji degubnya pada Chanyeol. Setidaknya dia tahu bahwa semua yang terjadi antara ia dan Chanyeol sampai detik ini benar-benar berbeda dengan yang lalu. Ciuman seorang Park Chanyeol tak lagi manis. Bariton si lelaki tak lagi menjadi hal yang patut dirindu. Sosok bertelinga peri itu, sadar atau tidak, memang sudah berbeda. Yah, termasuk hatinya, mungkin. Siapa tahu setelah ini Chanyeol justru akan berpesta sampai dini hari dengan Nami, bukan? Masa bodoh, deh.

Beranjak dan kembali ke ruang tengah adalah yang Runa lakukan. Pesta kecil-kecialannya sudah hampir berakhir. Sekarang hanya ada sekian potong kue sisa dan ruangan yang berantakan. Bagian paling mengesalkannya yakni Sunyoung yang langsung kabur dengan alasan akan mentraktir temannya di game center. Jadilah Runa bercacak pinggang dengan kain lap di tangan.

“Sudah kuduga dia tidak akan betah menjadi sepupu manis, cih.” Mula-mula dia membersihkan meja dan sofa. Kemudian membersihkan karpet dan lantai dengan cepat. Ayahnya tengah membersihkan diri ketika Runa baru selesai dan mencuci tangannya.

Seusai membungkus kue yang masih banyak, Runa meraih tas kecilnya yang hanya berisi dompet dan ponsel. Setelah berteriak di depan kamar mandi untuk meminta izin, ia bergegas keluar rumah. Ada seseorang yang ingin dia temui sekarang.

Tidak perlu waktu banyak baginya untuk sampai di taman dekat gereja. Beberapa orang baru saja selesai membereskan barang. Di antaranya munculah Baekhyun yang langsung tahu jika kawannya datang. Lelaki itu melambaikan tangan dengan cengiran lebar, bergegas menghampiri sang karib.

“Pas sekali. Kami baru saja selesai membagikan makanannya.” Dengan kedua tangan yang digosokkan seakan tak sabar, Baekhyun menatap apa yang Runa bawa, “Apa itu? Makanan?”

“Penciumanmu sangat tajam, Baek.” Seraya mengulungkan kotak yang ia bawa, Runa mengedik, “Kue sisa ulang tahun Sunyoung.” Langsung saja Baekhyun menyambarnya dan duduk. Membuat Runa mendelik seketika, “Setidaknya cari tempat duduk, astaga Baekhyun.”

“Ini taman, semua bebas duduk di mana saja.” Baekhyun baru akan membuka bungkusannya ketika tangan Runa menahan, “Tapi tidak di tengah jalan. Kau buta? Ada bangku di sana.” Gadis itu mengambil alih kembali kotaknya dan berjalan melewati Baekhyun yang mash terduduk di jalanan, untuk membenturkan pantat di bangku kosong.

“Kapan kau dewasa?” sungut Runa saat Baekhyun merebut kotaknya lagi. Tak mengindahkan gadis di sampingnya, Baekhyun sudah siap dengan garpu plastik, “Selamat makan!”

Untuk beberapa saat Runa memilih diam dan membiarkan Baekhyun sibuk mengunyah. Ternyata memulai bercerita tidak semudah niat awal. Memang, sih, Baekhyun sudah tahu bagaimana hubungan Runa dengan Chanyeol. Walau Runa hanya bercerita hal-hal intinya saja, si lelaki setidaknya sudah paham pola yang ada. Dan lagi, lelaki itu saksi pertengkaran Chanyeol dan Nami yang tak sempat Runa nikmati. Tapi bercerita tentang hal barusan pada Baekhyun, rasanya Runa mulai bingung lagi akan memulainya dari mana. Ah, sudahlah, yang penting bicara.

“Baek.” Seperti biasa, dimulai dari panggilan untuk mengecek perhatian, lalu dibalas dengan gumaman. Runa menyandarkan punggung ke sandaran bangku, “Barusan Chanyeol menemuiku.” Sejenak Baekhyun memutuskan untuk menoleh. Namun ia kembali menyarangkan kue ke mulut dan berucap cepat, “Lalu? Lalu?”

Runa melirik Baekhyun, “Dia menciumku.” Tak ada jawaban, yang ada hanya batuk-batuk panjang dari arah Baekhyun. “Kalian─” untuk menanggapi pun dia masih kalah kuat dengan batuknya. Yang Runa lakukan hanya menepuk-nepuk punggung si lelaki dengan malas, tak tahu kenapa reaksi yang diberikan terlalu berlebihan. Well, sebenarnya wajar, sih, kalau Baekhyun seterkejut itu.

“Kalian baikan?” Ada nada sinis yang digunakan Baekhyun di sela seruannya sekarang. Dengan kesal Runa menangkup semua wajah Baekhyun dengan satu telapak tangan, mendorongnya, “Telan dulu, jorok!” Lalu Baekhyun segera memindahkan kue yang sudah ia kunyah ke kerongkongan. “Jadi, kalian berciuman?”

“Bedakan antara berciuman, dicium, dan mencium.”

“Apa peduliku? Yang jelas intinya dua bibir yang menyatu, kan?” Lantas Baekhyun mendapat toyoran. Runa memilih mengabaikan, “Entah ini hanya alasan yang kukarang saja atau bagaimana, tadi aku sempat berpikir untuk menguji jantungku─jangan menyela!” Ia menggertak saat Baekhyun menunjukkan tanda-tanda akan membuka mulut. Melihat Baekhyun diam lagi, Runa kembali bersuara, “Dan walau aku tahu masih ada sebagian hatiku yang menginginkan kami kembali seperti dulu, tapi nyatanya … memang sudah berbeda. Semuanya, degubnya, rasanya.”

“Rasa ciumannya? Apa kemampuan berciuman Chanyeol sudah hilang?” Toyoran kedua Baekhyun terima. Lelaki itu hanya mengangguk-angguk, “Sepertinya memang sudah hilang.” Tahu pembicaraan akan melenceng jika ia meladeni Baekhyun, Runa kembali ke topik. “Setiap aku melihat Chanyeol, yang kuingat hanya ekspresinya saat bersama Nami. Persetan dia bilang jika masih mencintaiku. Faktanya dia juga bahagia dengan Nami.” Runa mengembus napas, “Menurutmu, apa aku terlalu pengecut saat tak memberikan kesempatan padanya?”

“Untuk menahan hati dan pura-pura sebahagia dulu?” Sesuap kue Baekhyun lahap, “Saranku, sudahi saja jika semuanya memang beda. Yang aku takutkan jika kalian bersama lagi adalah kau yang penuh kekhawatiran tentang Chanyeol─berkali lipat ketimbang sebelumnya. Jika begitu, kapan kau akan menikmati hubunganmu?”

“Hmm, kau tahu aku, Baekhyun,” ucap Runa dengan senyum kecilnya. “Mungkin ini egois, tidak lapang dada, atau apalah. Tapi aku memang tidak bisa menerimanya seperti dulu. Sesuatu yang pernah rusak tidak bisa utuh kembali seperti di awal, pikirku.”

“Oh, lihat siapa yang sangat benci pengkhianatan di sini.”

“Telan dulu, Baekhyun. Kuemu ke mana-mana, ew.” Cepat-cepat Runa menjauhkan diri dari Baekhyun. Sedang sang lelaki mencibir sebal, “Biarkan aku menikmati ini. Mengobrol masalah cinta membuatku kehabisan energi.”

Mendadak saja ada sesuatu yang terlintas cepat dalam otak Runa. Ia menatap Baekhyun penuh arti, “Mau mengisi energimu lagi?” Dengan mengusap dagu, Baekhyun menatap sangsi, “Seberapa gila idemu?”

.

.

.

.to be contiune

KISSING SCENE. Tapi sama Chanyeol. Tapi sebentar. Tapi tapi tapi /dibakar/

Yuhuu akhirnya update juga 😀 wahaha

(follow my wattpad l18hee)

.nida

Iklan

21 pemikiran pada “2ND GRADE [Chapter 19] by l18hee

  1. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 23] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 22] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 21] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 20] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  5. Omg Chanyeol nyium Runaa wkwk😂😂
    Bagus deh kalau Runa udah ga ngerasain apa-apa pas Chanyeol nyium dia:))
    Jadian aja sama Sehuuunnnnn.
    Dtggu chapter selanjutnya thor, gasabar nih baca♥️♥️♥️😍

  6. SERIUSAN DIKIRIAN RUNA BAKAL BALIK DENGAN CHANYEOL 😑
    TERIMA KASIH KAKA
    SEMOGA RUNA CEPAT JADIAN DENGAN SEHUN
    LANJUTKAN KAKA
    SEMAMGAT 💪

  7. Chanyeol ngarep banget dapat kesempatan buat balikan sama runa tapi ditolak kan runanya nanti sama sehun ya kan thor, di tunggu lanjutannya.

  8. Huaah akhirnya update juga thor..
    Omo omo itu apa coba maksudnya nyosor nyosor si chan. Untung gaada sehun disitu, kan kasian bebeb gue klo liat kissing scene runa *digampar fans sehun*

    Penasaran sm kisah cintanya baek-seunghee.
    Semangat thor..
    .
    .
    .❤chai😘

  9. Kirain yang dateng si sehun eh taunya akang chanyeol. Pake nyosor2 segala lagi. Sebenernya penjelasan chanyeol masuk akal sih, tapi karena udah ada sehun aku pilih runa ama sehun 😂😂

  10. Akhirnyaa yeayyy update jg. Ya ampun penantian panjang dan yah chapter ini gokil seruuuu bgt. Semoga aja Runa bisa cpt cerita ke ayahnya klo dia sm chanyeol udh putus. Trs sm sehun deh 😄
    Keep writing eaeaaaa semangat!!! ^^

  11. Yeee akhirnya update juga setelah sekian lama menunggu 😀
    Kenapa harus kiss scene sama CY sih? Untung Sehun gk liat ya. Kalo dia liat aduh bisa potek dia. Semangat kak. Jangan lama lama update selanjutnya! 🙂

  12. Ah.. Akhr’ny.. ☺ update yg ku nanti2. 세훈 mantan kapten futsal? Udah prnh di mention di chptr sblm’ny blm ya 😕 kyny blm. Akrab ya 세훈 sm bpk’ny runa 😊 pertanda baik tuh! Itu 민석 krj di toko bakery bpk’ny runa jg? Tp ko sm joy 😒 bkn reen? Yah.. Kirain 세훈 bkl dtg bwt mengakrabkan diri sm bpk’ny runa lg 😟 knp ga dtg? Bw seunghee gt, 1xan kan bs mule dayung smp ke 2-3 pulau, trus bs jeaolus pas liat kissing scene runa-찬열 😁
    Ah, 백현 yg kurindu pa kbr? Msh broken hearted ya? Tuh mo di ksh asupan gizi & energi grts lg dr runa, mkn yg bnyk ya 😊 tp plan2 ja, tar tersedak lg, jgn lupa minum, biar ga seret 😋. Pen dngr crita’ny 백 pas liat 찬 brantem ma si tkng tikung nami sialan itu 😤! Smoga update slnjt’ny ga lama.. Thx Nid! 😀

  13. OOWH MY GOD chanyeol nyium runa tapi syukur deh runanya g mau balikan m chanyeol runa cocoknya ma sehun jah..d tunggu lanjutannya☺☺

  14. Hai kak salam kenal aku reader baru disini. Maaf baru sempet komen di part ini, soalnya aku ngebut bacanya.

    Ceritanya bagus ga bikin bosen, feelnya dapet banget, jadi ga sabar buat next chaptenya. Ijin baca chap sebelumnya ya kak😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s