2ND GRADE [Chapter 21] by l18hee

2ndgradee

2ND GRADE

─by l18hee

.

Now Playing ► Chapter 21 [Feeling]

Hanya masalah hati satu sama lain. Apa keduanya mulai terhubung seperti rajutan kain?

.featuring

[EXO] Sehun | [OC] Runa

[CLC] Seunghee | [BTS] Taehyung | [RV] Irene | [RV] Yeri | OC | Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Fluff | Friendship | Romance | School-life

.for

Teen

.

Previous Part:

Prologue | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18| 19 | 20

.

.

Berkat tangan kanannya yang sakit, Sehun harus bergantung pada tangan kiri. Sebagai seseorang yang tidak kidal, ini merupakan hal sulit. Menulis materi saja susah. Jadi dengan gampangnya Sehun mengeluarkan ponsel dan memotret papan tulis di depan. Guru yang menyadari bahwa tangan Sehun memang sedang tak dapat digunakan tak bisa melayang protes apa-apa. diam-diam Sehun senang juga tak perlu menghabiskan waktu untuk menggores tulisan.

Tapi jika waktu makan tiba, sudah beda lagi ceritanya. Sehun bisa saja mencomot camilan dengan tangan kiri tanpa kesusahan. Tapi memegang sendok untuk mengambil nasi dan lauk itu susah luar biasa. Ditambah perutnya yang lapar, makin membuatnya tersiksa. Beruntung Taehyung atau Irene yang sedang tidak bersama Junhong mau membantu mengambilkan lauk, sementara Sehun menyendok nasinya susah payah.

“Aku masih bingung padamu,” kata Taehyung di sela kunyahan pada Sehun yang malah fokus pada makanannya. Sedang Irene hanya melirik saja sebelum meletakkan lauk di atas nasi dalam sendok Sehun.

“Akhir-akhir ini kau tidak mau ke minimarket. Sudah benci Runa, ya?” Tanya milik Taehyung sukses membuat Sehun menjatuhkan lauk yang baru diletakkan Irene.

“Siapa Runa?” Irene sukses mejadi orang yang pertama menanggapi. Oh, sepertinya ada yang lumayan banyak tertinggal cerita, sekarang. “Kenapa tidak ada yang bercerita padaku? Dia pacar baru Sehun?”

On the way.” Taehyung nyengir, lantas mengunyah makanannya. “Salah sendiri sibuk dengan Junhong.”

“Lombanya hampir dekat, tahu. Aku tidak suka melewatkan sesi latihan Junhong,” Irene berujar seraya meletakkan lauk lagi ke sendok Sehun, “Makan dan jawab pertanyaan Taehyung. Jangan sok kaget.”

Usai mendengus jengah, Sehun melahap makanannya. “Setelah gips ini dilepas, aku akan menemuinya.” Dia mengirim makanan ke lambung dan kembali berbicara, “Jika Runa tahu tanganku retak. Dia akan menanggap aku begini karena menuruti sarannya dan tidak akan mau memberiku saran lagi karena merasa bersalah.”

“Sebegitu pentingnya saran dari gadis itu,” komentar Irene langsung menadapat tanggapan kedikan bahu dari Sehun. Lagi, Irene membuka suara seraya memicingkan mata, “Kau benar-benar tertarik padanya?” Dia mendengus kesal tatkala Sehun kembali mengedik bahu. Gadis ini beralih cepat pada Taehyung, “Katakan berapa persen.”

Mengerti akan apa sebenarnya permintaan Irene, lantas Taehyung membuka mulut, “72% tertarik, 25% penasaran, sisanya lelah jomblo.”

“Sebanyak itu?” Sepertinya Irene tak percaya, “Sejak kapan kau mengenalnya?”

“Minggu pertama tingkat dua─eh, bisa minta tolong lauknya lagi?” Sehun lalu mendapat lauknya dari Taehyung.

“Ini belum sampai satu semester, Sehun. Bedakan baik-baik antara hanya penasaran dan murni tertarik karena kepribadian atau tingkahnya.” Si gadis mulai mengutarakan pemikirannya, “Hampir sama tapi jika salah arti malah berbahaya. Bisa saja kau hanya penasaran. Penasaran bagaimana rasanya mengobrol bersama, bagaimana rasa mendengar tawanya karenamu, bagaimana rasanya berbagai hal kalian lakukan berdua, pokoknya sejenis itu. Lantas jika rasa penasaranmu habis, kau akan bosan,” dia menyangga dagu, “Dan meninggalkannya untuk bersama gadis lain yang lebih membuatmu penasaran. Berhati-hatilah sedikit, Sehun.”

Lama Sehun terdiam, meresapi yang baru ia dengar. “Terdengar serius.”

“Main-main dengan hati bisa berefek panjang.” Kadang sialan sekali mengetahui Irene banyak benarnya. Memancing Sehun mengembus napas panjangnya diam-diam.

“Tolong bukakan kotak susu ini untukku.” Dia tidak menemukan kata yang pas untuk menanggapi, mungkin.

.

.

.

Harusnya ada Taehyung atau Jongin yang berjalan bersamanya  menuju markas malam ini. Tapi nyatanya Sehun malah sendiri. Salahnya juga, sih, masih sakit dan tidak bisa ikut bertanding futsal dengan anak kelas menari. Walau futsal tidak sepenuhnya menggunakan tangan, tetap saja sebagian besar anak tidak setuju Sehun ikut.

“Kenapa tadi tidak ambil jalan memutar?” Mendadak saja ia bergumam saat menyadari minimarket sudah terlihat. Ketika tahu yang berdiri di belakang meja kasir bukanlah sosok Runa, Sehun dapat mengembus napas lega. Diayunkannya lagi kaki untuk bergegas sampai ke markas. Dia sampai sudah beli camilan lebih dulu di minimarket lain. Baru saja ia meniup udara usai melewati minimarket, sebuah suara menginterupsi.

“Bukankah seharusnya kau istirahat di rumah saja?”

Sehun tahu persis suara ini milik Runa. Dan sosok pemilik suara tersebut dapat menyambah retinanya tatkala Sehun menoleh ke belakang, “Kukira kau libur.” Tidak ada kata lain yang dapat Sehun utarakan. Ia sudah tidak bisa sembunyi sekarang.

“Memang.” Runa melangkah lebih dekat, “Aku bawakan cheese cake, lho. Mau makan di mana?”

Merasa ada tatapan merasa bersalah yang disuguh, Sehun jadi bimbang sendiri. Dengan tangan kiri, ia mengambil kotak yang Runa bawa, “Aku akan makan ini. Kau pulang saja.” Tak ingin mendengar protes yang akan dikuar, dia kembali berucap, “Sebaiknya manfaatkan hari liburmu untuk istirahat. Kau terlihat tidak terlalu baik.”

Jelas sekali Runa kecewa, “Apa kau─” dia berhenti untuk memutus tatapan sejenak, seolah menahan diri untuk berucap banyak. Kala sirinya kembali menemukan manik Sehun, mulutnya terbuka, “Semoga tanganmu cepat sembuh. Aku pulang duluan.”

Cukup lama Sehun hanya memandang bagaimana punggung Runa perlahan menjauh. saat sang gadis sepenuhnya tak lagi tertangkap oleh irisnya, Sehun memandang kotak di tangan, “Kenapa jadi begini?”

Sungguh, sama sekali Sehun tidak menaruh amaran pada Runa yang telah memberinya saran. Karena memang jika dipikir pun kesalahan jatuh pada dirinya sendiri. Coba saja waktu itu ia tidak malas pergi membeli paling tidak satu kantong plastik apel, dan malah punya ide tidak waras dengan memanjat sendiri pohon apel tetanggaya. Sehun harus tahu jika berat tubuhnya tak lagi sama dengan berat tubuh kala ia duduk di sekolah dasar. Intinya, ranting patah yang ia pijak bukankah tidak ada hubungannya sama sekali dengan Runa?

Dan yang paling mengesalkan, kenapa juga menahan gadis itu untuk pergi menjadi perihal susah?

.

.

.

-0-

.

.

.

Hari Jumat kemarin Sehun baru saja mendapat tugas baru dari gurunya. Tugas yang terdengar menyenangkan mengingat itu berhubungan dengan keahliannya selama ini; memainkan sebuah drama. Kocokan pemain sudah dilakukan, kendati tak mendapat peran utama Sehun sudah merasa beruntung menjadi salah satu dari peran penting yang ada. Dia harus memainkan peran sosok ayah dari pangeran sebuah negeri. Berhubung ada beberapa kelas peran, maka sebagai nilai semester semua kelas akan melakukan pertunjukan.

Tangannya pasti sudah sembuh saat pertunjukan itu terjadi. Jadi Sehun tak perlu susah khawatir. Maka dari itu Sabtu ini rencananya ia akan menikmati hari libur dengan tiduran di kasur saja. Karena main game dengan satu tangan sama sekali tak terdengar asik.

“Oh Sehun.” Pintu kamarnya diketuk tiba-tiba. Saat otaknya mengenali siapa si pemilik suara, Sehun langsung mengumpat. Entah kenapa jadi bingung setengah mati.

“Tidak dikunci,” serunya setengah hati. Sesaat sesudah ia bicara, pintu dibuka. Sebuah kepala yang mengintip terlihat, “Apa aku mengganggu?”

“Tergantung, kau bawa sesuatu?” Sehun mendudukkan diri dan berujar begitu. Sungguh ia canggug, tapi ada rasa senang yang hinggap juga di hatinya. Apalagi kala sebuah kotak dipamerkan dari balik pintu, berimbuh suara gadis yang sedikit canggung, “Tiramisu, bagaimana?”

“Masuklah.” Kali ini Sehun benar-benar beranjak dari ranjangnya. Dia menggeser meja pendek ke tengah karpet, dekat dengan pintu menuju balkon. Catatan, dengan satu tangan.

“Tidak di ruang tamu saja? Aku agak tidak enak berada di kamar lelaki berdua saja.” Mendengar tanya tersebut, Sehun menaikkan satu alis, “Kau pikir aku akan melakukan apa dengan tangan begini, Kwon?”

Membahas perihal tangan, Runa menurut saja. Tidak tahu bahwa diam-diam Sehun ingin tertawa. Lelaki ini lebih dulu duduk, menunggu Runa melakukan hal yang sama─duduk, di sisi meja seberangnya.

Ketika kotak yang lumayan besar tadi diletakkan, dengan tangan kirinya Sehun berusaha membuka. “Aku bisa,” ujarnya tatkala Runa ingin membantu.

Suasananya sungguh … canggung dan tidak nyaman. Siapa yang mulai menciptakan aura seperti ini, sih? Sehun sangat kesal.

“Oh Sehun,” ada ragu yang menguar dari panggilan yang dilayangkan Runa, pun dengan kata-kata yang kembali terlontar dari katup bibirnya, “Kau ini memang tolol, ya?” Lantas bayangan permintaan maaf yang akan Sehun terima begitu saja hancur. Sehun menunjuk wajahnya setelah menghabiskan waktu dengan terkaget tidak penting, “Super tampan begini dibilang tolol?”

“Super tampan, pantat kuda.” Begitu saja Runa mengambil alih kegiatan membuka kotak, membiarkan Sehun terkekeh kecil. “Ada apa denganmu? Kelihatan beda dengan gadis yang tempo hari memberiku cheese cake,” Sehun menerima uluran garpu dengan tangan bebasnya. Tak habis pikir, bisa juga Runa merubah suasananya jadi santai lagi.

“Kau sendiri kenapa? Kelihatan beda dengan lelaki yang memasang tampang bingung, jelek, dan sedikit frustasi ketika diberi cheese cake kemarin.” Hanya permainan kata, sepertinya. Berhubung Runa memang sengaja membawa lebih banyak tiramisu, ia jadi bisa ikut menikmatinya. “Cepat makan. Tangan kirimu bisa pakai garpu, kan?”

“Mau menyuapiku?”

“Maaf saja, ya. Salah sendiri bertingkah bodoh.” Runa mencibir dan mulai memotong-motong tiamisunya menjadi bagian yang lebih kecil. “Sejak menyerahkan cheese cake padamu waktu itu, aku sudah berpikir baik-baik,” dia menunjuk Sehun dengan garpu di tangan, “Pokoknya aku malah akan marah kalau kau bersikap tidak jelas. Aku akan tetap membantumu, jangan berpikir aku jadi segan memberi saran. Kan, memanjat pohon juga bukan saranku. Salahmu sendiri, tahu. Bagaimana bisa di zaman serba ada begini kau malah berniat memetik apel sendiri. Dan kenapa perihal memanjat pohon jadi hal yang susah untukmu? Payah.” Runa menjulurkan lidah dengan cepat, jelas megejek Sehun yang malah tertawa di seberang sana.

“Khawatir, tidak?” Sempat Sehun tertegun, ketika begitu saja Runa menukarkan tiramisu bagian mereka.

“Tidak.”

Sesungguhnya susah bagi Sehun untuk percaya, jika kini yang tersaji di hadapannya adalah tiramisu yang sudah dipotong asal dan mudah diambil dengan garpu─yang mana memudahkannya untuk makan. Ah, rasanya ada yang menendang satu kupu-kupu agar membentur lambungnya sekarang. Sehun memakan potongan tiramisunya dengan senyum mengembang, melabuhkan tatapan pada gadis di depannya.

“Kenapa senyum-senyum?” Delikan yang Runa suguh semakin melebar. Satu-satunya alasan adalah tangannya yang tengah memegang garpu berisi potongan tiramisu begitu saja ditarik. Dalam sekejap Sehun telah memindahkan makanan tersebut ke mulutnya.

“Manis,” ujar Sehun seraya menaikkan dagu Runa yang seperti mau jatuh. “Tiramisunya, manis,” tepat saat lanjutan kalimat usai diberi, Sehun mendapat pukulan dari garpu Runa. Membuatnya mengaduh terang-terangan.

“Suka seenaknya!” protes Runa tak suka. Dia memandang garupu di tangannya, “Bekas Oh Sehun, ew.”

“Memangnya aku rabies sampai kau memandangnya tak suka begitu?” sungut Sehun sok kesal. “Aku tidak menempelkan bibirku tadi, hanya pakai gigi.”

Walau sedikit tak percaya, Runa akhirnya mau menggunakan kembali garpunya. Sehun kembali diam, menyantap tiramisu yang rasa-rasanya langsung meleleh di mulutnya, sangat manis.

Dia masih menatap Runa agak lama. “Kau kemari untuk menemuiku?” Bisa dilihatnya gadis itu menelan makanan sebelum menjawab, “Setengah iya, setengah tidak.” Satu alis Sehun terangkat. Lantas Runa memberi jawaban yang lebih jelas, “Aku mau menjengukmu. Lalu sekalian menunggu Seunghee bersiap-siap. Kami mau keluar.”

“Ke mana?” Penasaran, jelas saja.

“Rahasia.” Tidak minat menjawab, kentara sekali. Menjadikan perasaan ingin tahu milik Sehun makin menjadi, “Kencan ganda?”

“Mau ikut? Tiga pasangan bukan hal buruk. Cari pasanganmu, cepat!” ujar si gadis seraya memasang wajah sok terburu.

“Aku denganmu saja, bagaimana?”

“Maaf, kau harus melewati pesona Ji Changwook dulu.” Runa menangkupkan tangan di pipi dan menggeleng-geleng kecil, aktor tersebut terlalu menyilaukan untuknya. Di sisi lain Sehun mencibir, “Korban drama.”

“Dan aku bangga.” Kekehan ditunjukkan Runa setelah menelan makanan. Sedang Sehun masih saja penasaran, “Kau serius akan kencan?”

“Tentu saja. Ji Changwook baru saja mengirimiku pesan, lho.”

“Serius, Kwon.” Lantas Sehun mendengus karena Runa hanya menjulurkan lidah sekilas. “Habiskan tiramisu-mu, Sehun. Jangan ikut-ikutan urusan kaum hawa.” Tepat saat itulah sosok Seunghee muncul di pintu kamar Sehun.

“Berangkat sekarang? Kau sudah selesai, bukan?” Tanya yang dilontar lalu menarik Runa lekas beranjak, “Ayo.”

“Oh Seunghee, aku sedang bosan dan tidak ada kerjaan. Apa ada masalah jika aku ikut?” Entah dari mana Sehun berani berucap begitu. Jelas saja Runa mendelik sebal, “Tidak usah. Kenapa tidak istirahat di rumah saja, sih? Sudah tahu sedang sakit.” Tapi Sehun justru beranjak, membuat sang gadis bercacak pinggang, “Dasar keras kepala. Tukang ingin tahu. Kurang kerjaan.”

Semuanya lewat begitu saja di telinga Sehun. “Tutup mulutmu, aku mau tidur.” Mendengar Sehun yang sudah mengalah, Runa terkekeh kecil, sementara Seunghee langsung melengos pergi. Sebelum Runa mengikuti si adik tiri, Sehun menyempatkan diri untuk berucap, “Katakan dengan jujur. Ya atau tidak, kau khawatir padaku?”

Ada tatap berbeda yang bisa Runa cerna. Ia lantas membuat siku-siku dengan alisnya, menggandeng hening beberapa saat. Dirasa terlalu lama berpandangan, dia memutus kontak dan memilih melangkah keluar pintu. Menyisakan jawaban yang entah kenapa menciptakan senyum Sehun sebegitu lebar.

“Khawatir. Makanya cepat sembuh.”

Sang lelaki lekas merebahkan diri di kasur dan membuat bantalan dengan tangannya, menatap langit kamar dengan iring degub tak beraturan. “Norak, hanya sebuah kekhawatiran dan aku sesenang ini. Pokoknya norak sekali kau, Oh Sehun.”

Monolog tersebut berakhir dengan kekeh ringan.

.

.

.

-0-

.

.

.

Hari-hari ke depan, semuanya berjalan seperti biasa bagi Runa. Dimulai dari sekolah dengan segala tumpukan tugasnya, kerja sampingannya di minimarket─Sehun masih jadi pelanggan setia omong-omong, memotret banyak orang dan membuat memorinya penuh, dan sejenisnya. Tidak ada peristiwa penting yang terjadi kecuali di bagian Baekhyun yang berani mengajak Seunghee mengobrol hanya berdua, waktu itu di sela jam istirahat. Oh, ada lagi, Sunyoung masuk final di salah satu lomba futsal dan akhirnya mentraktir Runa semangkuk besar Sup Ayam Pedas paling terkenal di wilayah mereka.

Tanpa pengumuman yang penting selain harus mengerjakan setumpuk tugas, akhirnya libur musim panas diresmikan. Berhubung tidak ada yang mengajaknya pergi, beberapa hari pertama Runa habiskan dengan istirahat di rumah selain pergi bekerja. Dia mengarang alasan pada ayahnya dengan mengatakan akan pergi mengerjakan tugas. Sekarang ia tengah membutuhkan uang untuk ditabung, kali saja ada keperluan mendesak yang harus ia lakukan, bukan?

Ada yang ingat Runa punya rencana sendiri saat libur musim panas? Nah, rencana tersebut baru terlaksana ketika ia tak punya jadwal kerja. Lebih tepatnya hari ini. Runa sudah terlihat siap dengan pakaian musim panas andalannya: romper. Warnanya navy, bercorak bunya mekar. Jangan lupa tas kecil selempangnya. Surainya diikat lumayan tinggi, menyisakan beberapa anak rambut yang sesekali teracak karena angin.

Dia baru saja mendudukkan diri di dalam kereta kala ponselnya bergetar. Oh, dua pesan. Yang satu baru sampai barusan, yang satu lagi sudah sejak tadi.

 

Kwon Sunyoung:

Aku lupa mengatakan ini.

Katakan pada Daera, aku merindukannya.

 

Kwon Runa:

Ah, kakak yang manis.

 

Sesungging senyum Runa suguh. Ia beralih pada pesan lain.

Oh Sehun:

Aku baru membelikan Mama beberapa buku resep.

Senyum Runa masih ada di sana. Cukup bangga karena Sehun memang serius dengan niatnya untuk lebih membuka diri pada keluarga barunya. Ketimbang sebelumnya, sekarang Sehun sudah begitu terbiasa melontar panggilan pada ibunya.

 

Kwon Runa:

Kerja bagus, Oh Se.

Aku menyesal tidak bisa lihat ekspresi Mama Seunghee saat kau menyerahkannya.

 

Usai membalas, dia menyandarkan punggung ke belakang. Semula ia berniat menyimpan ponsel ke sakunya. Namun benda kotak itu kembali bergetar.

 

Oh Sehun:

Kau bisa melihatnya besok karena Mama mengajakku berfoto tadi.

Kekehan kecil tercipta, lama-lama Runa paham dengan sifat ceria milik Mama Seunghee. lumayan menyenangkan, tentu. Selanjutnya keduanya malah saling bertukar pesan. Menghancurkan niat Runa untuk tertidur di kursi kereta.

Ketika dirinya sudah lelah, gadis itu baru menyimpan ponsel dan mengembus napas panjang. Saat perjalanan ini berakhir, lelahnya pasti akan terbayar.

Mari buktikan.

Kendati letih menghabiskan lumayan banyak waktu di kereta, Runa tetap melangkah semangat hingga ia sampai di depan salah satu rumah. Tangannya terulur untuk memencet bel yang ada. Begitu pintu dibuka, yang muncul adalah seorang wanita berkisar 40 tahunan─pada dasarnya lebih. Serta merta Runa memberikan pelukan yang langsung disambut hangat.

“Ibu, aku kangen.”

Di tengah peluk serta elusan sayang di kepala, Runa tersadar akan sosok lain tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia melepas pelukan dan mencium sayang pipi sang ibu, lantas bergegas menghampiri sosok tadi yang nyatanya masih terfokus pada hal lain.

“Daera kangen Kak Runa, tidak?” Yang Runa dapat adalah tawa kencang dari si gadis cilik. Oh, jangan lupakan pelukan super kencang khas anak kecil.

.

.

.

“Ibu lupa bertanya tadi. Kenapa kau datang sendiri?” Miteki Han─ibu kandung Runa, berucap setelah meletakkan semangkuk buah di meja bar. Runa sendiri langsung semangat menusukkan garpu ke salah satu stroberi incaran untuk dilahap.

“Sunyoung sibuk latihan futsal. Dia kemarin masuk final. Dan aku pikir teman-temanku sedang menikmati liburan,” ujar si gadis di sela kunyahan. Usai mengajak Daera pergi untuk membeli es krim dan bermain gelembung sabun, rasa lelahnya datang lagi.

“Tidak mengajak Park Chanyeol?” Jelas saja pertanyaan tersebut terdengar mengagetkan untuk Runa. Tapi bisa diprediksi juga, sih. Karena terakhir kemari saat liburan lalu ada Chanyeol yang menemaninya.

“Kami sudah putus, Bu.”

“Kenapa? Ibu lihat, kalian sama-sama suka.” Oh, ayolah. Apa Runa juga harus membahas itu lagi? “Sudah beda, Bu. Kami tidak cocok.” Pada akhirnya Runa memilih bungkam, ketimbag menceritakan perselingkuhan Chanyeol yang sama sekali tidak bermanfaat untuk diingat kembali. Cerita basi.

“Lalu pacar barumu?” Miteki terkekeh geli melihat Runa merajuk, “Aku jomblo, Ibuku sayang.” Gadis itu bersungut kesal, dan beberapa saat kemudian berucap pelan, “Aku tidak mau pacaran dulu untuk waktu yang lama.” Firasat seorang ibu tentu lebih dari segalanya, kan? Miteki tentu paham ada hal yang membekas yang dilakukan Chanyeol pada putrinya. Ditusuknya sepotong semangka dari dalam mangkuk, ia lalu menyerahkannya ke Runa. Diulungi buah kesukaan, Runa langsung makan saja. Telinganya dengan cermat mendengarkan suara wanita di sampingnya.

“Aku tidak tahu apa yang Chanyeol lakukan padamu. Tapi kurasa menutup hati tidak akan menyelesaikan masalah.” Seraya meneguk air untuk membasahi kerongkongannya, Miteki mengambil jeda sejenak. “Dan akan susah bagiku untuk mendapat cucu.”

“Ibu!” Di atas keterkejutannya, Runa malah menemukan ibunya tertawa geli. “Yang benar saja, Bu. Lulus SMA saja belum.” Bergurau, tentu. Tapi efek kagetnya lumayan juga membuat jantung hampir jatuh dari tempatnya.

“Bercanda, sayang,” tandas Miteki. Masih tersenyum karena putrinya mengerucutkan bibir. Diulungkannya tangan untuk membelai sayang pucuk kepala si gadis, “Mengistirahatkan hati tidak apa-apa. Tapi jangan menahan diri jika suatu saat ada yang dapat membuat jantungmu berdegub lebih kencang lagi.”

Kali ini Runa mau tertawa kecil, meraih tangan Miteki untuk ditangkupkan ke pipinya. Cukup lama ia terdiam, sampai bibirnya melontar ucap pelan, “Aku rindu Ibu di rumah.” Tak mendapati jawaban, dia membuka mulut lagi, “Jika hati Ibu sudah selesai beristirahat, pulang, ya?” Tarikan napasnya terasa makin berat, “Sekarang aku punya dua cita-cita, satu yang utama dan sisanya akan kugunakan sebagai hobi. Seorang perancang busana dan fotografer. Akan aku coba pelajari lebih dalam keduanya.” Mendadak Runa merindukan bagaimana suasana makan bersama di rumah. Ah, sialan, kenapa matanya makin berkaca-kaca?

“Terlihat rakus, tapi aku suka,” tanggap Miteki, ibu jarinya mengusap garis air mata yang Runa suguh. Gadis tersebut menarik napas panjang, menahan matanya untuk memanas lebih dari ini, “Aku ingin merubah rencanaku. Boleh tidak kalau aku menginap beberapa hari?”

“Jangan sampai seminggu. Ayahmu bisa menelponku tiap detik nanti.” Senyum yang Miteki pasang merambat pada Runa. “Siap, Kapten!”

Berhubung sama sekali tidak membawa baju ganti, Runa memutuskan untuk bertandang ke flat tetangga. Ada satu gadis yang tinggal di sana. Gadis ramah yang masih duduk di awal tahun SMA.

“… yang ini, lalu ini juga.” Dengan semangat Yerim mengeluarkan beberapa potong pakaian yang ia rasa cocok untuk Runa. Yang dipinjami sampai bingung sendiri, “Terlalu banyak, Kim Yerim. Aku hanya menginap beberapa hari saja, kau tahu?”

“Oke, oke. Sepertinya aku yang terlalu bersemangat kakak memutuskan untuk menginap.” Mengedik bahu dan meletakkan pakaiannya kembali adalah yang Yerim lakukan. “Kau wajib meluangkan waktu untuk mendengar ceritaku tentang Mark, kak. Tidak boleh menolak.”

Astaga, anak ini.

“Baiklah,” sebuah kedikan malas Runa tunjukkan, “kau harus membuatkan makanan enak, Yerim. Sisa pudingmu waktu itu terus menempel di lidahku sampai aku pulang.”

“Bukan hal sulit.” Yerim menjentikkan jari dan menyungging senyum lebar, “Ganti bajumu dan istirahatlah. Besok aku akan ikut denganmu mengantar Daera berkeliling.”

Tidak tahu kenapa, Runa memutuskan untuk meninggalkan segala beban pikiran yang ia alami di rumah. Sejenak saja dia akan menikmati udara Nowon.

Ah, sepertinya Runa harus minta izin bolos kerja dengan segera.

.

.

.

.to be continue

EAK YANG TISERNYA SEMALEM UDAH KELUAR EAK, YANG DIKODEIN MAMANG EAK, YANG LIAT LIVE SI BAEK EAAK, PA KABAR NIH YANG BIASNYA PADA MAU NGEWAR KOKOBOP/apasihnid/ Aku belum paham kokobop apaan tapi ya sudahlah, pada akhirnya kita semua akan tau wkwk

Btw, Sehun kenapa masih ganteng walau rambutnya ubah-ubah? Kan kesel 😦

.nida

Iklan

15 pemikiran pada “2ND GRADE [Chapter 21] by l18hee

  1. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 25] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 24] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 23] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 22] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  5. Happy bgt bc ff ni 😁 can’t stop smiling /ky 세훈 yg lg kasmaran ke runa 😄 jg krn teaser kmrn mlm, 🍊 head ky souma kyo di manga fruits basket. Nida prnh bc komik’ny/nonton cartoon’ny di tv ga dulu? Smp koleksi buku komik & vcd’ny jg.
    Suka bgt sm interaksi’ny hun-run 😘 Wkt bc nm2 casts smpt mikir si yeri kyny blm prnh muncul, trnyt emang br debut di eps x ni ya. Itu daera step sist’ny runa? Which means nykp’ny runa dah remarried? Tp td runa blng ke nykp’ny klo dah slese mengistirahatkan ht, pulang ke rmh 😕 ah, complicated ya mslh rmh tangga ortu.
    백 baik2 ya ma seunghee, moga cpt da progress ☺ ga sbr liat 세훈 maen drama sklh lg 😊 Wah, timing di ff sm RL sm2 lg summertime ya 😃 itu 👙 yg udah di beli kmrn-an kpn mo di pk run?
    Iyah, in d’end we’ll know d’meaning of d’mksd kokobop yg di kode2in 세훈 dr bbrp wkt yll 😀 thx 4 this update nid! Loph.. Lpoh.. ❤💗💖💞💋

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s