2ND GRADE [Chapter 02]

2ndgradepstr

2ND GRADE [Chapter 02]

─by l18hee

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Baekhyun | [CLC] Seunghee

[BTS] Jungkook | [EXO] Chanyeol | [EXO] Chen | OCs | Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Fluff | Friendship | Hurt | Romance | School-life

.for

Teen

.

Poster by NJXAEM

.

Previous Part:

Prologue [Weclome to 2nd Grade] | Chapter 1 [New Place]

.

Now Playing ► Chapter 2 [New Team, Dream Team]

Ayo hela napas bersama.

.

.

Baru saja akan mengganti playlist yang lebih pas dan membenarkan sumbatan earphone di telinga, sebuah panggilan mendadak masuk.

Yang pertama berucap setelah telpon tersambung adalah Runa, “Sudah sampai rumah?” Segera saja sebuah bariton menyahut, “Harusnya itu jadi pertanyaanku.” Kerutan di kening Runa tercipta.

“Hei, apa bangku halte sebegitu nyamannya hingga kau terus di sana?”

Kemudian Runa mengedar pandang, demi menemukan sosok lelaki jangkung berjalan dari arah jalan menuju sekolah. Senyum gadis itu mengembang. Yang sejauh ini merupakan senyum paling lebar sejak hari dimulai.

“Chanyeol? Kukira kau sudah pulang,” ucapnya kala sang lelaki sudah masuk ke wilayah halte. Yang diajak bicara sendiri langsung menempatkan diri di samping si gadis, “Kris minta main lagi tadi. Mumpung masih ada waktu, aku sanggupi saja.” Dia mengambil satu earphone yang menyumbat telinga Runa, memindahkan beda itu ke telinganya, “Katanya mau pulang duluan. Kenapa masih di sini?”

“Malas, hehe.” Tidak mencoba berbohong sepenuhnya, karena Runa memang sedang malas pulang ke rumah. Sementara Chanyeol mengambil ponselnya untuk memilih lagu, ia sedikit mendongakkan kepala untuk menatap sang lelaki, “Tumben tidak mengataiku sedang bohong. Kau sudah tahu, ya?”

Kerutan di kening Chanyeol segera menghilang setelah lagu kesukaan terputar. Ada jeda yang membuat Runa merasa aneh, seperti aura depresi nan menyedihkan kembali menyambah hati.

“Kau satu kelas dengan Han Nami?”

“Eh? Oh, iya, aku sekelas dengannya.” Kendati sedikit terkejut, Runa berhasil menjawab dengan lancar. Perasaannya makin tidak enak. Apalagi saat sekilas raut wajah Chanyeol menyirat gelisah. Kala mendapati Runa berubah menebar aura suram, Chanyeol cepat-cepat menyuguh senyum lebar penuh semangat.

“Tidak apa-apa. 2-8 tidak akan buruk selamanya, bukan?” Sebuah tepukan beberapa kali di pucuk kepala sanggup mengenyahkan rasa khawatir si gadis. Lantas senyum lega terlihat, “Aku sangat terharu, serius.” Mungkin karena Chanyeol orang pertama yang sanggup meniup jauh gelisahnya. Membuat Runa nyaman untuk mengekspresikan penatnya hati yang tengah dirasa.

“Hari ini banyak yang menyebalkan.” Menangkap kode memangnya-kenapa milik Chanyeol, Runa lantas melanjutkan, “Yulbi mengatakan orangtuaku sudah bercerai pada Byun Baekhyun.”

“Sungguh?” Chanyeol yang terkejut terlihat lumayan imut, omong-omong. Kesalnya Runa sedikit menguap karenanya, “Iya. Baekhyun sendiri yang bilang. Dan lagi, Yulbi menjauhiku. Dia bahkan─” mengatakan jika ia risi padaku. Runa tidak suka penutup kalimatnya, jadi ia simpan saja.

“Yulbi tidak bicara tentang alasannya menjauh?”

Satu helaan napas dan Runa menggeleng pelan, “Menatapku saja tidak mau. Kan, sebal!” Mengingat hipotesisnya, ia menatap Chanyeol, “Kurasa Yulbi suka Baekhyun. Dan dia jadi benci padaku karena Baekhyun sering menggangguku.”

Kini Chanyeol sudah menyangga dagu dengan siku bertumpu di paha, menatap gadisnya lucu, “Dia tidak tahu, ya, kalau Baekhyun temanmu sejak SMP? Apa semua gadis yang cemburu seperti itu?”

“Tidak tahu, deh. Walau cemburu harusnya dia tetap menjaga rahasia. Memangnya dia anak kecil? Huh. Aku tidak suka orang seperti itu.” Lagi-lagi kesal meraba hati Runa.

“Jelas saja tidak suka. Kan, Kwon Runa sukanya cuma sama Park Chanyeol.” Dan lagi-lagi pula Chanyeol menepisnya.

Ya, ya, ya, terserah saja, Park Chanyeol. Setidaknya Runa tahu, ada penutup manis dari sang kekasih di hari yang menyebalkan ini.

“Kuantar pulang, ya?”

.

.

-0-

.

.

Di tahun terakhir SMP, Runa dan Baekhyun resmi menjadi teman. Tidak hanya berdua, tentu. Masih ada beberapa anak lain. Hanya saja yang berhasil masuk SMA Chunkuk hanya mereka berdua. Jadi wajar saja Baekhyun masih sering menempel pada Runa. Sayangnya, ada beberapa hal yang membuat Runa ingin menjauh dari Baekhyun. Salah satu alasanya adalah Yulbi. Perkiraan Runa tentang perasaan Yulbi pada Baekhyun sebenarnya sudah sejak lama. Namun baru di tingkat dua ini semuanya terlihat semakin jelas.

Dan, sumpah, itu membuat hari Runa semakin menyebalkan.

Sekolah lebih terihat seperti penjara, rumah pun sama saja. Jika begini terus kapan Runa bisa menikmati kedamaian dambaannya?

“Dia belum putus dengan Chanyeol?”

Sebuah suara dari bangku daerah depan membuat Runa sejenak menghentikan kegiatan menyalin catatan dari papan tulis.

“Mungkin sebentar lagi mereka akan putus.”

Genggamannya pada pena semakin mengerat, Runa mulai menenangkan diri agar tidak terbawa emosi.

“Mana tahan Chanyeol dengan gadis pengganggu dan aneh seperti itu. Iya, kan, Yulbi?”

“Iya, tentu saja.”

Runa tahu betul ia harus menghapus segala kenangan baik yang pernah dialami bersama Yulbi. Hapus semua, hingga tak bersisa.

“Mantan temannya saja mengiakan, apalagi yang lain?” suara para gadis berganti dengan kekeh remeh. Ciri khas perkumpulan penggosip dan pem-bully handal. Serius, penggencetan secara verbal sungguh memuakkan! Runa sampai ingin muntah sekarang.

“Seunghee, boleh aku pinjam catatanmu?” Dia menoleh pada Seunghee yang langsung menyerahkan buku bersampul biru. Lebih baik menyalin dari buku, ketimbang melihat ke papan tulis di mana ketiga wajah gadis penggosip tadi cukup jelas menyambah mata.

Dan, omong-omong, Runa tak mengerti. Kenapa harus membawa-bawa hubungannya dengan Chanyeol? Sebenarnya ini masalah antara siapa dengan siapa, sih?

Membunuh emosi, Runa justru membuat catatannya sedikit berantakan. Tulisan tidak rapi dan terkesan sangat tebal─karena terlalu ditekan, lalu coretan yang mengganggu. Kapan-kapan jika ia membuka kembali catatan ini, pasti emosinya masih menguar.

Tak sengaja melihat tingkah teman sebangkunya, Seunghee mengalihkan pandangan pada Yulbi yang masih sibuk tertawa. Anehnya, dia sama sekali tak menangkap rasa bersalah di sana.

“Aku lanjutkan nanti saja, ah. Kau belum makan siang, kan? Mau makan bersama?” Tawaran tiba-tiba yang Runa lontar memancing Seunghee menoleh cepat. Perlu waktu tiga detik baginya untuk mengeluarkan suara, “Mengajakku? Ya sudah, ayo.” Beberapa kata yang sejauh ini adalah kata terbanyak yang pernah Runa dengar dari Seunghee.

Runa jadi merasa jika sang gadis surai legam itu mungkin kasihan padanya. Buktinya saja tak ada percakapan lagi yang mereka tukar selain saling setuju mengambil tempat di salah satu bangku kantin.

Di hari ketiga sekolah sebagai murid kelas dua, Runa belum merasa bahagia. Makanan pun jadi ikut tidak enak. Menyebalkan, bukan?

“Aku tidak kasihan padamu.”

Mendadak saja setelah sekian lama berleha-leha dalam keheningan, Seunghee membuka mulut. Tak tanggung-tanggung, dia bahkan kembali memamerkan suara yang jarang Runa dengar. Runa sampai berpikir apa ia harus merekam momen langka ini? Ah, ide bodoh ya? Sudahlah.

“Aku kasihan pada Cha Yulbi. Sepertinya dia belum diajari cara bersosialisasi yang benar.”

Sungguh, Runa tidak tahu harus menjawab apa sekarang. Seunghee yang tiba-tiba melontarkan argumennya bahkan tidak pernah terpikir dalam benak Runa.

“Maaf mengatakan ini. Tapi sudah banyak hal tentangmu yang keluar dari mulutnya, di belakangmu. Kurasa dia tidak menyaring ucapan sama sekali.” Seraya membuka kotak susunya, Seunghee berkata dengan nada datar. Runa harus tahu, Seunghee ini memang tipe gadis ketus-cantik-tapi-pintar-oh-astaga-sempurna-sekali. Kekurangannya mungkin hanya dalam bersosialisai. Karena sampai saat ini Runa tidak pernah melihat Seunghee berteman dengan seseorang. Jadi bagaimana bisa gadis itu mengatai Cha Yulbi tidak bisa bersosialisasi sedang dirinya sendiri sama?

Tidak tahu kenapa, Runa ingin tersenyum. Jelas saja membuat Seunghee mengerut heran, “Ada yang salah?”

“Tidak.” Setelah menelan makanan, Runa melanjutkan, “Lucu saja saat sadar jika semua orang tahu rahasiaku. Aku jadi merasa tidak punya rahasia lagi. Apa aku perlu mencari rahasia lain?” Dia hampir tertawa, tapi tidak jadi, hanya tersenyum saja.

Seunghee masih mengerutkan kening, “Kau ini aneh ya? Maksudku, dalam artian positif.” Runa sudah biasa dikatai begitu, jadi dia santai saja. Membiarkan Seunghee melanjutkan, “Ya, masih mending aneh. Daripada terlihat baik-baik saja tapi tukang membicarakan orang di belakang.”

Kali ini Runa mau terkekeh, “Setuju!”

Di detik yang sama, dari kejauhan Baekhyun yang baru saja selesai makan menangkap dua sosok gadis itu. Dia segera menepuk pundak Chen, “Duluan saja. Aku mau menemui Runa.” Segera Chen mencari eksistensi gadis yang dimaksud si tetangga, “Kurasa kau harus meminta maaf padanya karena ucapan frontalmu tempo hari, Baek.”

Menggaruk tengkuk, Baekhyun lantas mengedik bahu. Membiarkan Chen yang segera berlalu. Baekhyun kembali merasa bersalah telah mengungkit masalah keluarga secara terang-terangan waktu itu. Salahkan mulutnya yang suka seenaknya bicara, astaga! Cukup mengulur waktunya, Byun Baekhyun. Lebih baik langsung minta maaf sekarang.

“Wah, kalian berteman?” Pembukaan yang Baekhyun gunakan kala berhadapan dengan Runa dan Seunghee sepertinya tak begitu bagus. Bukannya menyambut hangat, Runa justru langsung kehilangan nafsu makannya. Dia teringat ucapan Baehkyun di hari pertama masuk ajaran baru tentang keluarganya, omong-omong. Walau bukan sepenuhnya salah Baekhyun, tapi Runa rasa mengetahui orang lain tahu rahasianya tanpa izin itu sedikit mengganggu. Seunghee sendiri yang merasa tak perlu menjawab atau memberi respons memilih diam.

“Runa, kau marah padaku ya?” Mengambil tempat duduk di samping si gadis, Baekhyun berkata hati-hati, “Aku minta maaf soal mengatakan sesuatu soal orangtu─eh, bukan, maksudku, tentang tempo hari.” Baik, Baekhyun benar-benar harus belajar mengerem mulutnya. “Sungguh aku tidak bermaksud. Aku tidak sengaja. Aku tidak tahu kau jadi marah karenanya.”

Baekhyun yang dulu masih sama; meminta maaf dengan menyebutkan semua pemikirannya. Tapi, sayangnya Runa yang sekarang berbeda. Tidak mengangguk seraya meminta uang sogok seperti dulu, sekarang bahkan mencoba melayang tatapan pun enggan. Runa justru memilih beranjak dan membawa nampan yang belum tandas sepenuhnya, “Kurasa bel sebentar lagi berbunyi.”

Seraya melirik Baekhyun yang mengerutkan wajah─sejujurnya terlihat imut, Seunghee lantas mengangguk. Ikut beranjak dari duduknya mengikuti Runa. Meninggalkan Baekhyun yang semakin merasa menyesal saja. Hubungan pertemanannya benar-benar berada dalam situasi bahaya.

.

.

.

“Pemilihan kelompok untuk tugas ini boleh kalian pilih sendiri.” Suara Guru Bok yang sedikit ternggelam berkat seruan beberapa anak kembali meninggi, “Pertemuan selanjutnya setiap kelompok mempresentasikan hasil. Untuk tema masing-masing akan ditentukan setelah kalian membentuk kelompok.” Seraya membenarkan kacamatanya, Guru Bok kembali bertitah, “Nah, cepat bentuk kelompok kalian. Kumpulkan selembar kertas berisi nama kelompok di depan. Satu kelompok terdiri dari empat orang.”

Suasana langsung ribut. Saling bertukar aku-denganmu-ya atau masuk-kelompokku-yuk dan sebagainya. Runa menyadari dia tidak termasuk dalam daftar orang yang ingin diajak satu kelompok. Dia sempat menciut juga jika saja tak mendapati Seunghee menguap di sampingnya.

“Hanya pilih kelompok saja berisik.” Seunghee mengambil satu kertas, siap menulis, “Apa kita hanya berdua? Paling tidak harus satu orang lagi karena murid kelas ganjil.” Tanpa mengucapkan bahwa ia sedikit terharu karena merasa tertolong, Runa mengulas senyum. Memilih menebar pandang, kali saja ada yang belum dapat kelompok, kan?

Tadinya Runa akan menyerah dengan kelompok yang hanya berisi dua orang, namun kala menyadari lelaki yang duduk di seberang bangkunya diam saja─sebenarnya tertidur, ia lantas mengambil pena. Dengan hati-hati menjulurkan benda itu untuk menusuk pelan lengan si lelaki beberapa kali.

“Hei, bangun. Guru Bok memberi tugas, tuh.” Di saat seperti ini Runa ingin mengutuk diri karena melupakan nama kawan sekelasnya. “Hei, hei, kau masuk kelompokku, ya?” Masih menusukkan pelan penanya, Runa berucap begitu. Berhasil, lelaki itu menggerakkan tubuhnya, perlahan mengangkat kepala. Runa jadi bisa melihat mata ngantuknya.

“Siapa namamu? Biar kutulis di kertas.”

Sang lelaki menatap Runa, masih dengan mata sayu. Selanjutnya dia bergumam pelan sambil menguap dan merenggangkan tangan.

“Jeon Jungkook.”

Pas sudah. Jumlah siswa di kelas ganjil, jadi mereka sudah melengkapi kelompok. Setelah keadaan kelas sedikit tenang, Guru Bok kembali angkat bicara.

“Serahkan kertas berisi nama kelompok kalian, dan ambil undian temanya.”

Runa sama sekali tidak merasa aneh. Dia saja sudah bersyukur mendapat kelompok saat ini. Namun ketika ia maju untuk mengambil undian tema, ada sesuatu yang mengganggu lagi dalam hidupnya. Setidaknya itu kesan pertama, dimulai dari Guru Bok yang menyebutkan nama kelompoknya.

“Oh Seunghee, Kwon Runa, Jeon Jungkook, kalian di kelompok 8.”

Bukan, bukan bagian nama yang menimbulkan tiupan aneh. Tapi dibagian tanggapan hampir seluruh penghuni kelas.

“Aku tidak salah dengar?”

“Wah! Dream Team!”

“Tim sempurna! Mereka cocok sekali!”

Dream Team mengguncang Chunkuk!”

“Apa aku harus berjoget sekarang?”

“Pas sekali.”

Runa tahu persis itu semua bukanlah pujian. Nada mereka saja terdengar meremehkan. Dia melihat beberapa anak berisik di kelas saling menatap penuh makna sebelum tertawa. Kecuali Baekhyun yang lebih memilih pura-pura mengajak Chen bicara saat Runa tak sengaja melayang tatap.

“Sudah hentikan. Belajarlah mengontrol suara berisik kalian,” ucapan tegas Guru Bok yang dapat mendorong Runa kembali ke tempat duduknya akhirnya terdengar. Ketika maniknya menatap bergantian pada Jungkook dan Seunghee, ia sedikit tertegun. Aneh juga melihat seorang Oh Seunghee tidak punya teman. Dan Jeon Jungkook? Masa seorang lelaki juga tidak punya teman? Setahu Runa lelaki kan makhluk fleksibel yang mudah akrab dengan sejenisnya. Apa jangan-jangan Jungkook yang sengaja menarik diri?

“Apa temanya?”

Runa bergegas mendudukkan diri sebelum menyerahakn kertas undian ke Seunghee.

“Hanya ini? Kenapa hal mudah seperti ini harus dikerjakan di tenggat waktu yang lama?” gumam Seunghee sedikit kesal. Memang tugasnya tidak begitu berat menurut Runa. Hanya mencari beberapa referensi dari media online atau cetak, dan menjelaskan semua cakupan tema di pertemuan selanjutnya.

“Mungkin karena ini baru awal masuk. Semacam, pemanasan?” ucap Runa kemudian dengan suara yang dibuat biasa. Dia masih belum bisa mengenyahkan rasa tak nyaman ketika beberapa teman sekelas terkikik dan melirik ke arahnya.

Embusan napas bersirat kesal milik Seunghee terdengar. Seakan memberi kode dia sedang tidak ingin disentuh satu senti pun. Runa yang memang tidak berniat kembali membuka pembicaraan hanya diam. Melirik satu anggota terakhir yang dengan kurang ajarnya justru kembali menelungkupkan kepala ke dalam lipatan tangan di atas meja.

“Aku ke toilet dulu, ya?”

Bergegas Runa bangkit. Meminta izin pada Guru Bok dan segera keluar kelas. Tak memedulikan cletukan Nami yang menuduh dirinya sedang ingin menghindar dari rasa malu.

Terserah saja, deh.

Yang jelas sekarang dia ingin ke toilet dulu untuk menyentuh air segar. Setelah membasuh muka, ia jadi merasa lebih nyaman. Dia sekarang sedang merapikan ikat rambutnya dalam perjalanan kembali ke kelas. Biarkan saja semua anak mau memaksakan namanya masuk dalam anggota Dream Team atau apa pun itu. Walau tidak semua, penggencetan secara verbal mulai merambat beberapa anak kelas, rupanya. Ia sedikit curiga pada apa yang dikatakan Yulbi di belakang. Iya, memang Runa sedang berburuk sangka sekarang. Setelah apa yang Yulbi lakukan padanya, bukankah itu wajar?

“Melamun!”

Runa hampir terjungkal kala tiba-tiba Chanyeol melompat untuk menghalangi jalannya. Seusai kembali bisa menghirup udara, gadis itu memasang tampang kesal, “Senang, ya, aku hampir terjungkal?”

.

.

.

.to be continue

Maaf, update lama dan hasilnya begini :’)/ditabok/

Dan maaf juga belum sempat bales komen :’))))) /tabok lagi/

p.s: Cast yang dicantumkan setiap chapter kemungkinan bertambah dan berkurang, sesuai isi

.nida

11 thoughts on “2ND GRADE [Chapter 02]

  1. Ping-balik: 2ND GRADE [Chapter 04] | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping-balik: 2ND GRADE [Chapter 03] | EXO FanFiction Indonesia

  3. Chanyeol ganteng gilaaak sumpaah.
    Sehun ganteng gilaaak sumpaah.
    Baekhyun ganteng gilaak sumpah.
    Chen ganteng gilaak sumpaah.
    Suho ganteng gilaak sumpaah.
    Kai ganteng gggilaak sumpaah.
    Xiumin ganteng gilaaak sumpah.
    Lay ganteeng gilaak sumpah
    D.O ganteng gilaak sumpaah.

  4. Aku telat bacaaaa..
    Banyak tugas, internet soakkk (ini kenapa jd curhat)
    Oke, sekarang pertanyaanku adalah
    1. Kapan runa ama sehun ketemu lagi?
    2. Kenapa kau bikin runa tak single lagi?
    3. Kenapa mas chanyeol?(apakah karena di behind the scen festival kemarin runa gk jd sama chan?)
    4. Pasti runa bakalan putus ama chan, iye kagak? Kagak ya? (Sok tau mode on)
    Yaudah lah ya, mending nunggu next chapternya… SEMANGAAATTT

  5. Ahh, aku selalu suka oc runa wkwk. Kasian amat yak dia. Tapi setrong banget dia. Itu mulut si yulbi pen disumpel yak wkwk untung ada chanyeol wkwk tapi aku rasa jangan2 chanyeol bakalan nunggalim runa lagi yak. Ga papa sii, kan ada sehun wkwk si sehun koo ga ada disini? Padahal aku nunggu momen mereka bedua lagi. Next yaaaa ditunggu😄

    • ah izza, lama gak ketemu :’ maafin aku line-nya kuinstal ulang jadi semua chat ilang :’
      iya dia kudu kuat za :’) wah wah wah canyol jahat kalok dia ninggalin beneran😦 jangan ih :’
      hmm sehun disimpen buat chap selanjutnya ini😉 wkwk
      sip makasih banyak izza :*❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s