2ND GRADE [Chapter 29] by l18hee

2ndgradee

2ND GRADE

─by l18hee

.

Now Playing ► Chapter 29 [Status: Updated]

From friend to girlfriend.

 

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Sehun, Baekhyun, & Chen| [CLC] Seunghee | [BTS] Jungkook | [RV] Wendy | Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Family | Friendship | Romance

.for

Teen

.

Previous Part:

Prologue | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18| 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 | 25| 26 | 27 | 28

.

.

Bisa bangun dari tidur seenak hati di hari Sabtu sudah bukan hal yang  baru bagi Sehun. Apalagi mengingat ia baru saja terpejam dini hari tadi―setidaknya satu atau dua jam sebelum matahari terbit. Jadilah di siang yang tak terlalu terik ini dirinya masih betah menebar dengkuran dengan tubuh tenggelam di ranjang empuk kamar. Ah, jangan lupakan tubuh setengah telanjangnya. Padahal musim gugur jelas-jelas memberi banyak efek ke suhu udara, bagaimana bisa dia masih tengkurap nyaman dengan punggung terbuka? Gila.

Namun semua tak berjalan sedamai yang Sehun harapkan kala rungunya menangkap suara barang pecah dari luar kamar. Dengkurannya terputus seiring dengan kelopak mata yang terbuka. Suara jeritan panik beberapa kaum hawa menarik lelaki tersebut menggumam sebal.

Jelas Sehun kembali untuk terlelap, sayangnya walau waktu yang ia gunakan lama, tetaplah gagal. Menyerah dalam usahanya, lantas ia memutuskan bahwa inilah saatnya beranjak dan mencari kegiatan lain sebelum pergi latihan sore nanti.

Dia bangun dari ranjang, memakai kaus yang ia sampirkan sembarang dan dilanjutkan mengusap wajah sambil menguap. Matanya belum terlalu fokus, jadi wajarlah hanya terbuka seperempatnya. Tepat saat ia membuka pintu kamar dan melangkah keluar, sebuah suara menyapanya.

“Aku baru akan membangunkanmu, Oh Se.”

Sebentar, Sehun tahu persis Seunghee punya model suara sedikit lebih bass ketimbang barusan. Di sisi lain, ibunya tidak pernah memanggilnya dengan panggilan ‘Oh Se’.

“Buka matamu, astaga!”

Detik pertama Sehun sadar yang di hadapannya sekarang adalah gadis yang baru ia cium semalam―atau tadi pagi-pagi sekali? Kemudian detik kedua yang terpikirkan hanya kembali masuk ke kamar untuk mengecek wajah, namun yang terjadi adalah pelipisnya beradu lumayan keras dengan bingkai pintu. Jelas yang ada di detik ketiga adalah sebuah suara mengaduh keras yang meluncur dari katup bibir si lelaki.

“Baru saja kubilang buka matamu.” Runa memandang Sehun penuh rasa prihatin. Tangannya hampir akan mencapai pelipis sang lelaki saat suara Seunghee menginterupsi, “Kak Sehun sudah bangun? Mama mau minta tolong sesuatu.” Lekas Runa menarik dirinya sedikit menjauh dari Sehun.

Yaa! Kwon, kenapa tidak jadi? Ini masih sakit!” protes Sehun mendapat tepukan cepat di tangan oleh gadis di sampingnya. Yang memberi tepukan cepat-cepat mengalihkan perhatian, “Seunghee, kurasa Jungkook dan Baekhyun sudah menunggu terlalu lama di perpustakaan. Sudah beres persiapannya?”

Tak terima diabaikan, Sehun malah menarik tangan Runa untuk diarahkan ke pelipisnya yang memerah, “Jangan kejam pada pacarmu.” Gadis itu menutup mulut si lelaki.

“Pacar?!” Nada Seunghee berada lebih tinggi ketimbang biasanya, reflek terkejutnya lumayan juga. “Kalian pacaran? Sungguh?” Oh, matanya hampir keluar.

“Kujelaskan nanti, aku akan menyusulmu setelah bicara padanya,” kata Runa seraya memberi gestur terburu pada sang karib. Tak banyak ba-bi-bu Seunghee berbalik pergi dengan kening berkerut. Dia harus menyusun pertanyaan untuk Runa setelah ini.

Selepas Seunghee tak terlihat, Runa menjauhkan tangan dari Sehun dan menatap sang lelaki. “Mari jalani hubungan dengan tenang dan tanpa koar-koar tidak penting, Sehun.”

“Tidak adil,” Sehun benci ide Runa. “Aku sudah berencana akan pamer pada teman-temanku―ah, dan followers Instagram, agar tidak ada yang mengirimiku pesan ajakan kencan buta lagi.” Satu fakta konyol Sehun mencuat tiba-tiba.

Runa benar-benar tak habis pikir. Bukan perihal Sehun yang rupanya dianggap terlalu lama men-jomblo dengan wajah serupawan itu, sampai ditawari kencan buta segala. “Mereka akan tahu cepat atau lambat, aku yakin. Tapi bisakah kau tidak membuat pengumuman? Biarkan mereka tahu dengan sendirinya, bagaimana? Secara natural, lebih singkatnya. Oke?”

Langsung wajah Sehun mengkerut, “Tidak adil! Aku kan juga mau pamer kalau kita baru jadian dan semalam juga berci―” Dia kehilangan suara tatkala kedua pipinya ditangkup penuh oleh telapak tangan Runa, begitupun dengan tarikan yang mebuat dirinya menunduk―hingga jarak mereka hanya sekian senti.

“Secara natural, oke?” Manik Runa menguasai fokus Sehun kala kata itu terucap tegas di samping nadanya yang tak terdengar mengintiminasi. Sejuta persen Sehun tahu ia bodoh jika langsung mengiakan. Namun setelah menggali kamus kosa kata dalam otaknya, hanya satu yang dapat ia tuturkan, “O-oke.”

“Sekarang …”

Ucapan menggantung Runa menarik Sehun melirik bibir gadisnya. Bukankah ini waktu yang tepat untuk berciuman?

“Sekarang?” ulang si lelaki.

Tiba-tiba saja Runa menepukkan kedua tangannya yang berada di pipi sang kekasih, “Mandi, jorok!” Sementara Sehun langsung mengaduh dan membelai pipinya lebay, gadis tersebut mengedik bahu, “Seunghee sudah menunggu lama, aku pergi dulu, ya?” Ia berbalik dan bergegas pergi.

Bodohnya Sehun cuma tertegun, dia merosot hingga posisi jongkok dengan satu tangan berpegangan pada bingkai pintu. Dia menunduk sambil memijit kening, membiarkan poninya menggantung tak beraturan di dahi.  “Bagaimana bisa aku semudah itu dibujuk?” Lalu senyumnya mendadak mengembang, “Tidak apa-apa, karena aku sangat suka padamu, Kwon.” Kalau ada yang mendengar pastilah merinding geli.

Yang lebih mendadak lagi selanjutnya adalah lelaki ini yang kembali berdiri dalam hitungan sepersekian detik. Kemudian berseru semangat seraya mengangkat dua tangan untuk meninju udara, “Dan dia juga menyukaiku,” suaranya merendah seolah tak percaya, “―astaga, apa yang kulalukan? Norak sekali.”

Namun senyumnya masih menggantung jelas.

.

.

.

Harusnya ia segera mengajak Runa untuk berkencan, begitu pikir Sehun. Padahal baru saja beberapa menit yang lalu ia mengumpati pembatalan latihan―merasa sia-sia sudah menyempatkan diri untuk mandi dan sedikit bergaya. Namun untunglah otaknya dapat berpikir cepat dan lekas menghubungi gadisnya.

Oh Sehun:

Masih di perpustakaan?

 

Kwon Runa:

Masih, tapi kami hampir selesai.

Kenapa?

 

Nah, pas sekali, bukan? Memang keberuntungan sedang menyukai Sehun akhir-akhir ini. Lantas Sehun menjejalkan dompetnya ke saku jeans, meraih topi hitam dan kacamata dalam sekali gerakan sebelum bergegas pergi.

 

Oh Sehun:

Tetap di sana, kususul.

 

Kemudian dengan beberapa menit yang tak terlalu lama, Sehun berhasil sampai di perpustakaan kota. Tak perlu masuk dan mencari Runa karena rupanya gadis tersebut sudah menunggu di luar gedung utama. Setengah berlari Sehun menghampiri si gadis, senyumnya mengembang lebar.

“Ada buku yang ingin kau cari?” tanya Runa sebelum sedetik selanjutnya Sehun menghentikan langkah. Kawan sekelompoknya masih ada di dalam gedung, tepatnya di ruang auditorium untuk pemutaran film gratis, maka dari itu ia sendirian.

“Tidak.” Sehun nyengir, matanya tinggal segaris di balik kacamata bundar yang dipakai―hanya fashion, tentu saja.

“Lalu?”

Si lelaki membasahi bibirnya sekilas dan menghalau gugup.

“Kencan, yuk?”

Agaknya Runa kurang mengantisipasi kalimat itu hingga ia mengerjap dua kali dengan raut bingung, “Sekarang?” Cepat-cepat ia menambahi, “Kau tidak memberitahuku lebih awal.”

“Ada hal yang harus kau kerjakan hari ini?” Harusnya Sehun ingat ia perlu menanyakan terlebih dahulu Runa ada jadwal atau tidak.

“Tidak, sih. Tapi aku belum bersiap sama sekali. Lihat?” Runa menunjuk dirinya sendiri dengan satu telunjuk dari atas sampai kaki. Hari ini ia mengenakan jeans, kaos panjang bergaris, sweater cardigan, serta sepatu vans―oh, jangan lupakan tas selempang sederhananya.

“Bagus, kok,” tutur Sehun seraya menyedekapkan tangan. “Memangnya kau mau pakai gaun pesta?”

“Ya, tidak juga, sih.” Sadar bahwa memang inilah model pakaian yang biasa ia kenakan saat keluar, suara Runa merendah. Kadang para gadis selalu memikirkan apa yang mereka kenakan, walau kadarnya masing-masing individu berbeda. Dia menatap Sehun yang mengenakan turtle neck, jaket, dan jeans―oke, lelaki itu juga mengenakan topi dan kacamata. Tidak terlalu mencolok, kecuali di bagian wajah rupawan. Oh, Runa heran kenapa baru-baru ini tingkat ketampanan Sehun makin meroket?

Lamunan sang gadis terputus kala si kekasih merangkulnya erat dan mulai berjalan, “Jangan cantik-cantik di tempat ramai. Ke Hongdae, ya?”

“Kau mau merangkul atau mencekik, sih?” protes Runa menguar saat Sehun makin kuat memeluk lehernya dengan lengan. Yang kena protes cuma terkekeh, “Tenang saja, oppa begini karena ingin melindungimu.”

Bisa Runa rasakan ia merinding geli, “Oppa, jidatmu!” Kekehan Sehun makin keras karenanya.

Tepat saat mereka menapaki kawasan Hongdae, ada salah satu band indie yang tengah memainkan sebuah lagu. Sehun menatap Runa yang sedang sibuk mencepol rambutnya. “Mau lihat itu dulu?”

“Boleh. Ayo.” Baru saja katup bibirnya menutup, Runa bisa merasakan Sehun berdeham dan mendadak menggenggam tangannya.

Ini mengejutkan karena Runa baru sadar sepertinya sentuhan Sehun bisa berefek pada percepatan degub jantungnya. Dibalasnya genggaman tersebut, dalam benak mengira-ngira apa si lelaki sebahagia dirinya saat ini? Faktanya, Sehun pun begitu. Mendapati kenyataan bahwa ia dan Runa pergi ke sebuah kencan tanpa rencana membuatnya senang, tentu.

Well, Runa sudah menjadi pacarnya, Sehun paham karena sudah mengulang kalimat tersebut berkali-kali sejak ia bangun tidur. Namun tetap saja hal tersebut masih terasa menggelitik hatinya dan sedikit tak dapat dipercaya.

Usai menonton band indie dan beberapa pertunjukan street dance dari segelintir mahasiswa Universtas Hongik, keduanya berkeliling. Mampir di setiap toko yang terlihat menarik dan mencoba berbagai barang. Hanya mencoba dan tidak membeli, bersenang-senang seenak diri. Ketika mata pemilik toko sudah memicing sebal, barulah mereka keluar dengan tawa tertahan. Beberapa spot foto membuat mereka menghentikan langkah sejenak, bergantian mengambil gambar.

“Harusnya aku bawa kamera.” Dia mengatakannya berulang. Sehun menanggapinya dengan santai, “Aku tahu  aura modelku sangat terlihat, tapi jangan jadikan hal ini alasan untuk membuatmu sedih. Kau bisa memotretku kapan saja, kok.”

“Itu sebuah usaha menenangkan orang atau memuji diri sendiri?” Mata Runa berputar, malas. “Baiklah lupakan saja. Ayo makan sesuatu. Tteokbokki*?”

“Dan sundae**?” Sehun menggenggam tangan Runa lagi dan mulai berjalan. “Ide bagus,” sahut si gadis, mengikuti tuntunan teman kencannya. Sementara itu sore mulai tertinggal di belakang, perlahan berganti malam. Padahal sedari tadi hanya berputar-putar tidak jelas, ternyata menghabiskan waktu yang lama juga.

“Oh, ya. Ada sesuatu yang ingin kau beli?”

“Jangan boros.”

“Ayo beli sesuatu dulu―setidaknya sebuah hal fisik hasil kencan pertama. Ada banyak barang diskon di sini, tenang saja.” Bujukan Sehun mempan juga karena dapat membuat Runa mengangguk setuju. “Tidak perlu yang terlalu mencolok.”

Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di sebuah toko aksesoris. Sementara Sehun sibuk meneliti gelang-gelang yang menarik hatinya, Runa menemukan beberapa aksesori kepala berlabel harga miring. Dari beberapa yang dipajang, ia menemukan satu yang berwarna hitam dengan tulisan yang mau tak mau membuatnya terkekeh. Tepat saat itu, Sehun sudah berdiri di belakangnya, “Run? Maksudnya lari?” Ia membacanya.

“Ini lucu, seperti memenggal namaku jika diucapkan dengan cara biasa. Aku mau beli, deh.” Sepertinya Runa bangga menemukan barang bagus dengan potongan harga. “Sudah menemukan sesuatu, Sehun?” Yang ditanya mengangguk seraya menyuguh senyum. Mereka melakukan pembayaran dengan cepat sebelum keluar dari toko.

Saat Runa baru akan meraih bungkusan di tangan Sehun, lelaki ini mencegahnya. “Ini punyaku. Kau ambil barang yang kubeli.” Dia menyerahkan bungkusan yang lebih kecil, “Bukankah memang seharusnya kita bertukar barang? Apa gunanya jika beli sendiri-sendiri?”

Ah, Runa harusnya mengantisipasi kelakuan seenak jidat milik Sehun. “Sehun, aku suka topi itu. Akan kubelikan yang lain untukmu.” Jelas saja sebuah penolakan dilayangkan padanya, “Tidak bisa, Kwon. Ini ritual kencan.”

“Makan, tuh, ritual kencan!” Runa bersidekap dan memalingkan wajah, sudah kesal tak ingin berdebat lagi. Sejemang hening menyapa, sampai pada akhirnya gadis tersebut sadar Sehun sudah menggandengnya lagi, “Ayo, makan sebelum terlalu malam.”

Walau tak menjawab, Runa tetap mengikuti langkah lelaki di sampingnya. Masa bodoh dengan tatap yang diberi untuknya sedari tadi. Sehun tahu Runa kesal, jadi lelaki ini mengambil barang yang baru ia beli. Perlahan dia memakaikan sebuah gelang sederhana berwarna merah tua di pergelangan tangan Runa, lalu menggandengnya lagi. Tak hanya itu, Sehun melepas topinya untuk si gadis kenakan. “Tidak keberatan, kan, dengan topi second-hand?” Ucapan ini membuat Runa menengadah, raut kesalnya masih tertinggal.

“Kau sudah merencanakan ini, ya?”

Sehun hanya mengedik di sela senyum tipisnya, kini ia sudah memakai topi yang dibeli Runa. “Sebelum makan sundae, makan daging dulu, yuk.” Langkah mereka tercipta dengan serasi di tengah beberapa orang yang berlalu-lalang.

“Lalu es krim?” Suasana hati Runa sudah kembali baik, sepertinya. Ingat kalau perutnya butuh makan sejak sarapan pagi tadi. Jadi ia tak terlalu mempermasalahkan keinginan Sehun untuk makan banyak.

“Tidak ada es krim di malam musim gugur.”

“Oh Sehun, aku mau es krim.”

“Tidak.”

“Satu saja dan tidak perlu beli sundae.”

Sang lelaki melirik gadisnya dan mengerutkan kening. “Oke satu saja. Aku tetap mau makan sundae.” Sebelum Runa sempat bergumam setuju, Sehun sudah menambahi, “Es krimnya aku yang beli, kau hanya boleh memintanya sedikit.”

Mendadak wajah Runa berubah datar, sedatar suaranya, “Itu sama saja bohong, idiot.” Langsung saja Sehun tertawa kecil karena berhasil menggoda si gadis. “Jangan es krim, dasar keras kepala. Nanti kubelikan cokelat panas.”

Tadinya Runa kira setelah makan daging Sehun akan kekenyangan dan memutuskan untuk langsung pulang. Namun ternyata lelaki itu tetap menariknya menuju sebuah kedai yang menjual sundae dan tteokbokki.

Sekarang keduanya duduk berhadapan dengan sundae berlumur saus tteokbokki. “Enak, enak, enak.” Sehun menggumam di sela kunyahan, menarik Runa tersenyum lebar. Ada sesuatu yang mengganjal di benaknya sejak kemarin yang mungkin harus diutarakan.

“Sehun,” panggilnya. Si pemilik nama hanya menggumam dan kembali menyantap makanan.

“Maaf―” Runa berhasil mendapatkan manik Sehun, “―karena menolakmu sebelumnya.” Lalu kunyahan lelaki itu terhenti, hanya beberapa detik karena ia sudah berdeham dan mengirim masuk makanan ke lambung. “Aku paham kau  tidak menyukaiku waktu itu. Tidak apa-apa.”

“Bukan begitu,” sebuah gelengan Runa suguh. “Aku sudah mulai menyukaimu saat kau mengatakan perasaanmu. Hanya saja, aku terlalu takut. Itu baru kusadari ketika kita tak pernah bertemu. Rupanya memang sebenarnya aku yang terlalu menutup hati dan terus membatasi diri.”

Sehun membuang napas dan mengiring tangan Runa dalam genggaman hangatnya. “Itu wajar. Aku bisa paham alasannya. Tidak apa-apa, Runa.” Pikir Runa, rasanya ini pertama kali Sehun memanggilnya begitu. Atau malah yang kedua? Entah. “Seharusnya memang aku tak terlalu bersemangat untuk mengatakannya terlalu cepat,” lanjut Sehun.

“Ini lucu, kita bahkan hanya anak SMA tapi sudah bertingkah layaknya dalam drama.” Sekilas Runa tersenyum, merasakan jantungnya masih bertalu tak normal. “Sehun, kenapa jantungku makin berdebar saat kau serius seperti ini?”

Sejenak Sehun tercenung, lantas ia berdeham, “Jangan mengatakan sesuatu yang membuatku ingin menciummu.” Dia berpaling dan menarik tangannya untuk kembali menyantap sundae. Jelas saja Runa terkekeh melihatnya. Agaknya ia berhasil balas dendam untuk menggoda si lelaki.

“Kau mengerjaiku, ya?” ucap Sehun sok kesal. Namun beberapa sekon selanjutnya malah tersenyum kecil berkat kekehan Runa yang tak kunjung berhenti.

“Goda aku sesukamu, Kwon.”

.

.

.

Selagi memindahkan sepatu yang baru ia kenakan ke rak, Runa melayang sapaan pada sepupunya, “Selamat malam Sunyoung-ku. Kau sudah makan?”

Mendapat sapaan dengan penuh kata menggelikan, Sunyoung lantas memasang kerut di dahi. “Aku sudah makan tadi.”

“Sayang sekali,” Runa berujar seraya melepas cardigan dan menyampirkannya ke bahu, “padahal aku sedang ingin membuatkan sesuatu untukmu.” Dengan cepat ia mengambil segelas air dan berjalan menuju Sunyoung yang tengah duduk di depan televisi. Ia mendudukkan diri dan meneguk airnya.

“Topi baru?”

Teringat pada benda  yang masih bertengger di kepalanya, Runa lantas meraih topi tersebut dan memosisikaannya di depan wajah. Niatnya menutupi senyum yang tercipta karena teringat kencan beberapa menit lalu, tapi ia malah mencium sesuatu. Jelas wangi sampo Sehun.

“Kenapa ini wangi?” Tak disangka, Runa justru tertawa tak jelas. Makin lama makin keras, ditambah lagi ia menepuk-nepuk lengan Sunyoung tanpa sadar. Lelaki itu sampai ingin menjatuhkan rahangnya, apalagi ketika si sepupu tiba-tiba menarik kepala untuk mencium rambutnya. “Sunyoung sayang, mau kakak belikan jelly?”

“Kwon Runa, jangan buat aku merinding,” sergah Sunyoung. Usahanya menjauhkan gadis itu rupanya sia-sia, ia malah makin jatuh dalam pelukan paksa. “Kenapa setiap kau senang aku malah merasa susah?”

“Ayolah Kwon Sunyoung. Aku tidak bisa bertingkah seperti ini di hadapan orang lain, kecuali keluargaku. Image-ku benar-benar harus dijaga,” tutur Runa, masih setia menggandeng lengan lawan bicara.

“Kukira kau gadis tak tahu malu.” Lelah, akhirnya Sunyoung berhenti mengelak juga. Dipikir-pikir ada benarnya, walau bagaimanapun Runa pasti jauh lebih nyaman bersikap seenaknya bersama orang yang dikenal sejak kecil. “Siapa yang membuatmu senang?”

Ada degub luar biasa yang mengiringi Runa beberapa detik selanjutnya. Dia tertawa kecil dan mengucap ‘gila’ berkali-kali dalam hati. “Oh Sehun. Sumpah, dia sangat cute.”

“Oh Sehun?”

Dari nada terkejut yang miring ke arah perasaan negatif, Runa ingat jika sepupunya ini tak terlalu menyukai si lelaki yang namanya baru ia sebut. Lantas ia membungkam tawa dan bicara seadanya, “Jangan marah. Kami sudah pacaran sekarang.” Tidak, Sunyoung tidak marah. Ia hanya kesal.

“Kau sudah dengar penjelasannya tentang hubungannya dengan Irene?”

Belum, tentu saja. Bahkan Runa hampir melupakannya karena kepalang terlena dengan suasana layaknya harum-manis yang baru ia lewati bersama Sehun. “Mereka tidak ada hubungan lebih dari teman, kok.” Lantas jawaban ini menarik Sunyoung membuang napas, “Kau belum menanyakannya.”

“Untuk apa? Bukankah yang penting kami sudah ada dalam hubungan yang lebih jelas sekarang?” Mendengar sang saudara sudah hampir kesal, Sunyoung segera tersadar. Direndahkannya suara agar tak menimbulkan amarah nantinya, “Kak, aku hanya khawatir. Cukup tanyakan hal ini pada Sehun atau Irene, dan apa pun jawabannya aku akan percaya.”

“Janji, tidak?”

“Janji. Tapi tidak dengan jari kelingking, aku sudah pensiun melakukannya.” Penuturan Sunyoung langsung dibalas cepat oleh Runa, “Memangnya bocah? Aku bahkan tidak kepikran mengajakmu janji kelingking.” Satu lirikan dari Sunyoung dan lelaki ini begitu saja meraih topi Runa, kemudian menekannya di depan wajah si gadis. “Nih, cium lagi. Katanya wangi.”

Kendati cemberut, Runa tak menarik topi itu dari depan hidungnya. “Memang wangi, kok! Kalau kau iri, aku bisa katakan pada Sehun untuk memberikan satu topi untukmu―yang paling wangi.”

“Memangnya aku butuh hal seperti itu?! Kau pikir aku homoseks?!” Sunyoung makin kesal saja saat Runa tergelak keras.

.

.

.

-0-

.

.

.

Mengenai hubungan barunya Runa hanya telah bercerita pada Seunghee―dalam lingkup pertemanan, tentu. Gadis tersebut tidak terlalu menyukai sebuah pengumuman besar di bidang percintaan. Seperti dalam hubungannya yang sudah-sudah, ia akan membiarkan semua tahu secara perlahan.

Tapi dengan tegas Baekhyun menentang pemikiran tersebut saat dirinya baru mengetahui secara tak langsung dari pembicaraan Runa dan Seunghee di perpustakaan kemarin. Sayangnya waktu itu Baekhyun tak sempat bertanya karena Runa lebih dulu pamit pergi.

“Pengkhianat! Pokoknya pengkhianat!” Telunjuk Baekhyun terarah ke wajah Runa. “Kau meninggalkanku jomblo sendirian? Untuk apa kita berteman selama dua tahun lebih? Dan kau tidak meneritakannya padaku? Aku merasa dikhianati!”

Runa melongo dibuatnya. Dia mengedar pandang ke beberapa siswa di kantin yang melirik ke arahnya―sebenarnya lebih ke Baekhyun. Lantas tatapannya berlabuh pada lelaki di depannya. “Jadi Byun Baekhyun, sejujurnya kau mendukung hubungan kami, tidak, sih?”

“Mendukung!” Baaekhyun seperti idiot, pikir Runa. “Ini hanya reaksi yang ingin kutunjukkan karena tingkat kefrustasianku masalah cinta makin meningkat usai mendengar kau dan Sehun pacaran.” Kemudian dwimanik keduanya jatuh pada Jungkook dan Seunghee yang hampir selesai mengantre makanan. Runa tercenung sekian lama selagi Baekhyun melahap nasinya tanpa selera.

Saat Runa menatap karibnya lagi, ia angkat bicara, “Kalau dipikir-pikir, aku masih penasaran pada mereka.” Matanya menyipit detik selanjutnya, “Baekhyun, kenapa tidak kau katakan saja perasaanmu itu.” Baekhyun tersedak kuah sup, sebenarnya ini sudah dapat diprediksi, bukan?

“Kau terinspirasi dari tindakan Sehun atau bagaimana?” mata si lelaki melotot. Semenara Runa mengedik bahu, ia kembali melanjutkan, “Makin ke sini aku makin ingin menyerah karena sikap Seunghee begitu-begitu saja padaku, tak ada yang spesial. Aku ragu jika mengatakannya sekarang malah akan mendapat penolakan seperti yang Sehun alami.”

“Bukankah pada akhirnya aku tetap menerima pernyataan Sehun? Siapa tahu, kan, Seunghee juga―” ucapan Runa diputus cepat oleh Baekhyun, “Tidak, tidak. Jangan beri aku harapan. Biarkan begini saja.” Lantas lelaki ini bisa merasakan pipinya ditangkup sempurna oleh sang karib.

“Jujur padanya, Baek. Diterima atau tidak, setidaknya hatimu lega.”

Bukannya menanggapi, Baekhyun malah ternganga keheranan, “Kau membuatku jantungan jika begini. Aku merinding.” Detik selanjutnya Runa sudah menarik tangannya kembali dan melanjutkan makan setelah bergumam, “Kenapa ini tidak berlaku padamu?”

“Apanya?”

“Yang barusan. Aku melakukan hal yang sama pada Sehun dan dia langsung menjawab oke pada permintaanku.”

“Kenapa kau samakan aku dengan lelaki mabuk cinta itu?! Sedang pamer ya?!” Alis Baekhyun bertaut saat ia berseru begitu.

“Santai, dong.” Runa berdecih setelah mengatakannya.

Pembicaraan mereka lalu berganti topik saat Seunghee dan Jungkook mengambil tempat duduk untuk memulai makan siang. Disusul Wendy dan Chen, tentu saja―jangan lupakan mereka.

Tidak ada hal penting yang terjadi selanjutnya. Kelas berjalan seperti biasa hingga bel pulang menggema di sepanjang koridor sekolah.

“Mau beli cokelat panas dulu sebelum naik bus?” tanya Seunghee. Belum sepat Runa menjawab, Baekhyun yang berjalan paling lambat lebih dulu menyahut seraya menyusul barisan gadis tersebut, “Tentu! Ayo!”

“Eh, Jungkook,” Runa beralih pada Jungkook yang berjalan tenang di belakang, “kau masih kerja di minimarket, kan?”

“Kenapa?”

“Apa Sehun masih sering ke sana?” Kini Runa sudah menyejajarkan langkah dengan si lawan bicara, dengan sengaja meninggalkan Baekhyun dan Seunghee jalan berdua. Lalu Jungkook membuka katup bibirnya, “Iya. Seperti dulu.”

“Aku tiba-tiba rindu bekerja lagi di sana.” Helaan napas sang gadis mendukung suasana.

“Agar bisa lebih sering bertemu Oh Sehun?” Nah, pertanyaan Jungkook tepat sasaran. Buktinya Runa langsung memberi lirikan, “Ya, seperti itu, deh. Lagian, apa lagi alasan kami bertemu selain itu?” Entah kenapa dia tak berusaha menyembunyikan apa pun, mungkin karena yakin Jungkook tak akan memberi cletukan menggoda seperti yang lain.

“Kau bisa menguunjungi Oh Seunghee.”

“Itu akan terliat jelas. Aku, kan, malu kalau ketahuan hanya ingin melihatnya.”

“Kenapa malu?” Suara ini jelas bukan milik Jungkook. Arahnya pun bukan. Lantas ketika detik selanjutnya Runa menoleh ke spasi kosong di sampingnya, detik itu pula ia berteriak kaget, “WAKH!”

Si topik pembicaraan ada di sana; Oh Sehun.

“Sejak kapan kau di sini?! Apa yang kau lakukan?! Jantungku hampir copot, tolol!” Napas Runa tersengal, sedari tadi ia sudah reflek memeluk lengan Jungkook karena kaget. Melihat hal tersebut, Sehun menyusupkan diri di antara Runa dan Jungkook. “Ya, tidak perlu peluk-peluk lengan orang.”

Mendapati eksistensi tiba-tiba Sehun, Baekhyun beralih mundur, sementara Jungkook  yang merasa sesak langsung menyejajarkan diri pada Seunghee.

“Sehun, kau harus mentraktirku! Kau tahu, aku berperan penting dalam hubungan kalian,” ujar Baekhyun seraya menghentikan langkah karena mereka sudah sampai di halte. “Aih, kalian ini, akhirnya pacaran juga. Sama-sama tidak jelas, gengsian, nah sekarang benar-benar jadian!”

“Minggu ini aku sibuk. Lain kali saja bersama yang lain. Sudah sana.” Dengan sengaja ia mendorong Baekhyun menjauh. Mau tak mau Baekhyun mengumpat juga walau dirinya mau beringsut pindah tempat. Kemudian Runa membuka suara pertamanya semenjak marah-marah karena kaget, “Tidak latihan?”

“Hari ini kosong.” Sehun membenarkan ranselnya sebelum melanjutkan, “Pertunjukan dramaku Jumat depan, jadi akan lebih ketat latihan mulai besok. Kupikir aku hanya punya waktu kosong hari Minggu sore.”

“Kau harus menggunakannya untuk istirahat.” Seraya bicara Runa bisa merasakan jemari Sehun menggenggam tangannya. “Makanya itu. Rasanya menyedihkan karena kita malah akan jarang bertemu.”

Pembicaraan mereka terhenti sejenak karena bus sudah datang. Untunglah tak terlalu penuh hingga semua kebagian tempat duduk. Oh, hari ini Runa tak ada jadwal les tambahan, jadi ia pulang.

“Bukannya minggu-minggu lalu pun sama sekali tidak bertemu?” Lalu Runa mendapat sanggahan dengan cepat, “Makanya aku tidak mau lagi! Nanti kalau kau rindu pada oppa-mu ini, kan, aku juga yang repot.”

“Sumpah, ya, Oh Sehun.” Runa masih merinding geli, apalagi saat suara Baekhyun terdengar mengejek, “Sehun Oppa ….”

“Byun Baekhyun!” Runa malu setengah mati karena kawannya yang duduk di deretan belakang sibuk berhaha-hihi ria. “Sialan Sehun, jangan mempermalukanku.” Yang ada si lelaki ikut-ikut tertawa.

Mereka terjebak hening beberapa saat hingga Sehun memutuskan untuk memainkan tangan yang ada dalam genggamannya. “Oh, kau memakai gelangnya?”

“Retorik, Oh Sehun.”

Sehun tersenyum sedikit dan kembali sibuk bermain-main. Sedang Runa tadinya sudah membuka mulut untuk menajukan pertanyaan. Namun niatnya terhenti. Dia pikir mungkin lebih baik menanyakan masalah Irene saat pertunjukan drama Sehun selesai. Barangkali tak begitu membebani pikiran si lelaki. Yah, walau Runa tidak tahu itu bakal membebani atau tidak. Tapi tak salah ia berjaga-jaga.

Lagipula, ia percaya Sehun.

.

.

.

.to be continued

(*)  : Tteokbokki adalah penganan Korea berupa tteok dari tepung beras yang dimasak dalam bumbu gochujang yang pedas dan manis. Tteok yang dipakai berbentuk batang atau silinder. Penganan ini merupakan makanan rakyat yang banyak dijual di pojangmacha. Wikipedia
(**) : Sundae adalah hidangan Korea yang umumnya dibuat dengan merebus atau mengukus usus sapi atau babi yang diisi dengan berbagai bahan. Hidangan ini adalah jenis sosis darah dan diyakini telah dimakan sejak lama. Wikipedia

Aih, akhirnya setelah segunung gengsi dan kawan-kawannya, mereka bener-bener pacaran juga 😦 Agak terharu akihrnya Sehun gak jomblo lagi /kamu kapan nid?/ /kayang/ Kencan Runa sama Sehun ke Hongdae itu bayangin aja latarnya kek di salah satu episode awal EXO Showtime yak, aku lupa episod berapa wkwk Cuma inget bayangannya doang ahaha. Makanya urutannya sama kan? Dari mulai jalan-jalan liat barang, makan daging, terus sundae suas tteokbokki wkwk Kalo gak salah inget sih.

Ih udah chapter 29 aja yak. Btw kemarin aku salah perkiraan ternyata, kemungkinan ff ini bakal ending di chapter 33. Empat chapter lagi dong. Kok aing berasa gak rela yah :v /gagitu Oh ya, biar gak kejutan, biasanya aku emang protect chapter terakhir. Kenapa? Ya gapapa sih, pingin aja, lagian ini hampir dua tahun aku nulis 2nd Grade, itung-itung yaa ucapan terima kasih aja sih buat yang mau baca wkwk Tapi baru rencanaa, entah ada realisasinya atau engga hoho.

Makasih banyak yak yang masih mau baca! Tenang gengs, ini hampir ending kooooook, jangan bosen dulu maneh teh wkwk Makasih bangettt, buat yang masih ngikutin, masih sudi ningalin komen, dan yang baca ulang jugaaaa, lafyulah!! ❤ ❤ ❤

Oiya, berhubung aku labil, jadi profil 2nd Grade aku posting per chapter yah, gakjadi tak taru di satu episode bonus wkwk Biar deh, biar cepet kelar nih ff, entar biar aing buat yg baru :v

Sekali lagi, MAKASIH BANYAK, SAYA SAYANG KALYAND ❤ Ayo nunggu Dear Archimedes rilis sama-sama! (Cie yang nunggu setahun lebih uhuk)

p.s: yuk follow wattpad-ku, cus @l18hee (bakal update secepatnyaa)

.nida

─Dears’s Dabechen as Kwon Runa & CLC’s Seunghee as Oh Seunghee─

 

 

15 tanggapan untuk “2ND GRADE [Chapter 29] by l18hee”

  1. Ngakak so hard ama baekhyun.. Masyaallah baek, ngomongnya dikondisika yaaa…
    Aku gk nyangka runa kalo seneng nyeremin.. Muahahhaaa
    Kok aku mencium bau bau mau berantem ya, agak takut ama masalah irene sehun .. Huhuhuu
    Kutunggu next chapternya yaa

    1. bekyun punya style lucu sekaligus ngeselin yang bikin pen bawa pulang 😦 lucu dia tu ah
      baru keliatan yak runa versi barbar haha
      hmmm masalah mantan emang bau baunya hmmm sekali :3

  2. Kyaaaaaa~ akhirnya update juga. Langsung disuguhi moment manis mereka, uh sweett 🙂 akhirnya ya Hun setelah sekian lama jadian juga hahah 😀 Masih menunggu kepastian Seunghee dan Jungkook.
    Btw kayaknya gak rela deh kalo ceritanya bakal segera End, ditunggu kelanjutannya. Semangaaatt 🙂

    1. iya manis gitu, kapan yak aku juga gitu /yaudah nid gausah gini/ /g
      haha iya akhirnya jadian astaga lama bener wkwk
      menunggu kepastian itu berat :’)
      aku juga garela HUHUHUHUHU FF DUA TAUNKU ABIS HUHU tapi kalok kelamaan juga beban idup gitu wkwk udah hampir rampung ini yey

  3. Warning : Baper berkelanjutan!!

    AAAHHHHHH dari awal baca senyum2 aja terus..iiihhh lucu banget ini couple 😚😚
    Panjangin lagi bisa gak/gktaudiri/
    Amteun fighting kkaaa
    Jangan cpt2 ending deh klo bisa/gampar/
    Love you 😘😘

  4. kyaakk kyaakkk kyakkk… bikin senyum2 sndri kyk org gila bacanya… yg lu cunya wktu si runa nyium bau topinya sehun… wkwkwk terbius ama wangi cinta…

  5. Kyaa~ 😍 1st date!!
    Itu apa yg pecah smp bikin 세훈 kbangun & ga bs tdr lg? 😀
    Kbayang bgt Nid 😁 yg mlm2 para cogan jelong2 sante di Hongdae, window shopping trus ngrusuh di ‘bbrp’ t4 mkn 😂 ㅋㅋㅋㅋㅋ karung bolong smua tu prut 😙 kaga ada kenyang2 nyah!! 😅 /sm sih, lupa jg tu eps exo’s showtime yg ke brp 😋
    Ah.. Kangen moment2 Kris~Hun akuh 😘
    Co cwitt bgt sih nih newly couple 💏 gemeshin.. ikut 두근두근 ky mrk ke 1 sm lain 😁
    Itu reaksi 백 yg mrasa dikhianati kocak!! 😄
    Ku senang good fortune sedang menyukai 세훈 di bbrp eps menuju ending 2nd grade ini ☺
    Tolong puaskan 1lg my devil’s desire Nid, pertemukan si pelakor & tkng slingkuh 😈 ke pasangan yg sedang berbahagia ini 😀
    Pementasan drama sklh 세훈 bkl jd closing ff ni kah? Brhrp kelak akan ada sequel di college/work life even married life’ny 😍
    Thank you for this sweet love story 💞 made my sunday morning brighter than ever ✨
    Loph you Nid! 💋

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s