2ND GRADE [Chapter 12] -by l18hee

2ndgradepstr

2ND GRADE [Chapter 12]

─by l18hee

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Chanyeol | [CLC] Seunghee

[EXO] Baekhyun | [RV] Wendy | [EXO] Chen | Kris | OC | Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Fluff | Friendship | Hurt | Romance | School-life

.for

Teen

.

Poster by NJXAEM

.

Previous Part:

Prologue | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11

.

Now Playing ► Chapter 12 [Fucking Hurt]

Seperti bom, ledakan yang ditimbulkan memberi efek menyakitkan.

.

.

Presentasi hari ini baru akan mulai seusai jam makan siang. Untung saja Runa sudah paham bagiannya, hingga ia bisa melahap makan siang di kantin dengan tenang.

Park Chanyeol:

Mau makan bersama? Aku tunggu di kantin ♥

 

Yah, bukan hanya tenang, tapi santai dan membahagiakan. Runa lantas mengetikkan beberapa balasan seraya menyuguh senyum di bibirnya.

Kwon Runa:

Sedang menuju ke sana, Kapten!

“Makan dengan Chanyeol?” tanya Seunghee yang baru saja menghampiri Runa yang tengah menghentikan langkah beberapa meter sebelum pintu kelas. Yang ditanya mengangguk, “Tidak apa-apa, kan, dia bergabung dengan kita?”

Otomatis Seunghee memaksakan senyumnya, “Kau dan Chanyeol harusnya makan berdua.” Dia tahu baik Runa atau pun Chanyeol tak akan keberatan jika ada teman mereka yang ingin ikut makan siang. Tapi, ayolah, apa itu tidak menggelikan? Kendati tetap dipedulikan, rasanya tentu akan sedikit beda dan tidak begitu leluasa.

“Kau mau makan dengan seseorang, ya?” Alis Runa terangkat, Seunghee langsung menebar pandang, berhenti pada sosok lelaki yang baru beranjak dari bangku, “Dengan Jungkook.” Sedikit aneh, tapi Runa mengangguk juga, “Oke, deh. Aku duluan, ya?” Dia pikir mungkin Seunghee sedang mencoba memberikan selipan materi pada Jungkook.

Padahal kenyataannya adalah Seunghee melahap makanannya sendirian di kantin─setelah berusaha bersembunyi dari pandangan Runa. Namun tidak lama, karena beberapa saat selanjutnya suara nampan diletakkan berlatar obrolan ringan terdengar di sekitarnya. Baekhyun dan Chen baru saja mengambil tempat duduk di depannya, masih sibuk mengobrol tentang level game mereka.

Belum sempat Seunghee bertanya, sebuah nampan lain bersarang di sampingnya. Berimbuh omelan singkat ala anak perempuan, “Mereka benar-benar tidak bisa diam jika sudah membahas komik atau game. Terkadang membuatku pusing.” Itu Wendy. Dia begitu santai meraih sendok sebelum mencicipi supnya, “Aku bahkan bisa membuat yang lebih enak dari ini. Astaga, kapan mereka akan mengganti kokinya?” Seunghee masih melongo, Wendy menoleh padanya, “Padahal aku pernah dengar jika koki sebelumnya punya kemampuan yang hebat. Sayang sekali harus diganti.”

“Oh, iya, sayang sekali.” Seraya mengangguk-anggukkan kepala dan nyengir paksa, Seunghee memutuskan mulai melahap makanannya lagi. Dia pikir kemarin Baekhyun, Chen, dan Wendy makan bersamanya karena ada Runa─mengingat Baekhyun adalah karib si gadis dan perjanjian tak kentara seperti temanku adalah temanmu juga ada dalam kamus mereka. Maksudnya, kenapa sekarang mereka berlakon seolah makan dengan Seunghee itu hal yang memang biasa dilakukan? Aduh kenapa kalimatnya memusingkan?

Mungkin kejadian seperti ini sama dengan kasus milik Runa yang kini sudah makin akrab dengan Wendy berhubung sifat keduanya yang kadang tak tahu malu, serta sering bersama kala acara keakraban waktu itu. Hm, Seunghee lumayan paham, mungkin.

“Eh, Runa makan dengan Chanyeol, ya?” Wendy bertanya lagi. Tak mengindahkan Baekhyun dan Chen yang saling adu sumpit di atas lauk salah satunya. Merasa berkewajiban memberi repons, Seunghee menyuguh anggukan. Sepertinya ada gurat aneh yang Wendy suguh. Semacam khawatir, jika Seunghee perhatikan. Dia baru akan bertanya ketika gadis di sampingnya itu kembali membuka mulut.

“Kau memerhatikan tingkah laku berlebihan Han Nami pada Runa, tidak?”

Seunghee menghentikan ayunan sendok pada kuah sup, terdiam untuk berpikir sejemang. Jika dipikir-pikir, siapa pun tahu Han Nami-lah yang paling gencar menyerang Runa melalui penggencetan secara verbal. Tentu saja karib Nami juga berperan; Cha Yulbi dan Yoon Yura. Lantas Seunghee mengangkat bahu, “Kurasa, dia memang terlalu berlebihan di beberapa hal.” Seperti di kejadian kecil, saat Runa tak langsung merespons kala daftar hadir dibacakan, saat Runa hampir lupa piket, saat Runa salah menjawab soal, pokoknya banyak. Seakan semua hal yang Runa lakukan seratus persen salah.

“Nah!” Sebenarnya bantingan sendok Wendy pada nampan sedikit menarik perhatian. Jadi untuk beberapa saat Wendy diam, berpura biasa saja. Hingga ketika dirasa perhatian orang-orang tak tertuju padanya lagi, ia mulai mendekatkan diri pada Seunghee, “Aku tahu ini bukan wilayahku, jadi sejak kemarin aku diam saja. Sejujurnya aku bingung mau bersikap seperti apa.”

“Sedikit sulit karena Runa sendiri bersikap masa bodoh.” Seunghee benar adanya. “Kita tidak bisa berbuat banyak kecuali Runa sendiri yang meminta, mengingat ini lingkup masalah pribadinya.” Sepertinya sedikt demi sedikit ia paham jika Runa adalah tipikal yang tak suka masalah pribadi disentuh orang lain tanpa seizinnya.

Sementara itu, di sisi lain, yang menjadi pokok pembicaraan tengah menahan tawa akibat lelucon yang kekasihnya koar.

“Kau ingin membuatku tersedak, ya?” ujar Runa setelah menelan makanan. Wajah jenaka Chanyeol masih terpampang, “Salahmu yang cepat tertawa karena leluconku.” Dia menyendok supnya, “Eh, omong-omong, besok Sabtu.” Cengirannya terlihat, “Mau kujemput di rumahmu atau kita ketemuan?”

Kalau perihal kencan yang sudah dijanjikan, Runa ingin mengutuk dirinya karena hampir lupa. Untung saja Chanyeol mengingatkan. “Lebih mudah untukmu yang mana? Kalau aku yang mana saja bisa.”

“Yang mana saja bisa? Kalau jalan-jalan sendiri, bisa?” Segera Chanyeol mendapati Runa memutar mata malas. Lelaki ini terkekeh.

“Ayolah, Chanyeol. Serius, deh.” Merasa nampannya sudah bersih, Runa membereskan sendoknya. “Apa kau mau sekalian bertemu Sunyoung? Eh, tapi kalau kalian bertemu, nanti malah tidak jadi pergi,” tutur Runa yang langsung ingat jika Sunyoung memang selalu senang jika bertemu Chanyeol. Katanya, senang bisa mendapat lawan main game yang lebih lemah. Salahkan Chanyeol yang memang sukanya omong besar, tapi game gampang saja selalu kalah dengan Sunyoung.

“Tidak apa-apa, aku ke rumahmu saja. Sekalian memberi salam pada ayahmu.”

Mau tak mau Runa tersenyum, walau jawaban selanjutnya tak bersirat senang, “Weekend ini ayah pergi mengurus cabang toko roti di luar kota.” Kunyahan Chanyeol terhenti, ia menatap gadisnya beberapa detik, lantas kembali tersenyum, “Aku akan datang lagi saat ayahmu di rumah.”

Setelah meneguk jatah susu kotaknya, Runa mengangguk, “Oke.” Dia menggosok hidungnya yang gatal sebentar, “Nanti ada janji masin basket lagi dengan Kris?” Tadinya Runa ingin meminta Chanyeol mengantarnya ke apotek untuk membeli vitamin, karena gadis ini merasa hidungnya sedikit tersumbat akhir-akhir ini. Tapi begitu Chanyeol mengangguk, ia langsung mengurungkan niat.

“Jangan menungguku, lho. Nanti kau pulang kemalaman, lalu kurang tidur, lalu besok bangun kesiangan, lalu kau bersiap dengan terburu-buru, lalu bisa saja─” Sebuah bekapan di mulut sang lelaki menghentikan kalimat selanjutnya. “Iya, iya, iya, aku langsung pulang. Hari ini juga tidak ada jadwal kerja.” Runa menjauhkan tangannya, menyisakan Chanyeol yang malah menunjukkan cengir lebar di sana.

“Aku menyayangimu.”

Kurang ajar, Runa memerah begitu saja tanpa aba-aba. “Chan, kau ini ….” Dengan gelak berlebih, Chanyeol segera mengulurkan tangan untuk menarik kedua pipi Runa, “Aku ini tampan. Itu yang mau kau bilang, kan, sayang?”

“Astaga, pacaran di muka umum.” Mendadak saja suara seseorang memecah konsentrasi mereka. Begitu menoleh, yang ada hanya Kris di ujung meja.

“Menyingkir sana. Kau mengganggu.” Chanyeol berpura akan melemparkan sendoknya. Sedang Kris hanya terkekeh. “Aku cuma mau bilang. Latihan basketnya diganti─”

Chanyeol terbatuk tiba-tiba. Membuat Kris berhenti dan menatap lurus pada wajah lelaki tersebut, sedikit tak mengerti.

Sedang dilingkupi aura bingung, satu lagi suara menginterupsi, “Runa, kalau sudah selesai langsung ke kelas, ya? Kita maju presentasi urutan ke dua.” Seunghee jaraknya lumayan jauh, tapi Runa yang tanggap langsung membalas, “Tunggu! Kita ke kelas sama-sama.” Dia beralih pada Chanyeol dan Kris, “Aku duluan. Ada presentasi,” dan begitu saja mengambil nampannya dan pergi.

Selepas Runa menjauh, Chanyeol beralih pada Kris, “Jangan bicarakan latihan di depan Runa.” Sebuah kernyitan tercetak sempurna di kening Kris ketika ia berhasil membaca situasi.

“Park Chanyeol, pokoknya aku tidak ikut campur.”

Satu jam lima belas menit kemudian, di lain tempat, Runa sedang menahan diri untuk tidak menjatuhkan rahangnya. Dia menoleh pada Seunghee, “Apa sewaktu makan siang kau memberi Jungkook obat ajaib?” Yang mendapat lontar tanya menggeleng pelan, tak mampu berkata-kata. Keduanya menatap Jungkook yang sedang menunjuk layar presentasi.

Demi Tuhan! Dari mana Jungkook belajar cepat agar dapat lancar menjelaskan sesuatu seperti itu? Hampir seluruh kelas yang semula memandang remeh, kini membungkam mulut. Adalah Baekhyun yang pertama bisa sadar dari keterkejutannya jika Jungkook memang harusnya tak patut diremehkan. Dia mengambil atensi ketika jeda antara penjelasan rinci Jungkook dengan si penanya terlalu panjang.

“Bagaimana Yoon Yura? Kurasa kau ingin menambahkan sesuatu,” dia bertanya dengan nada yang sama persis dengan yang Yulbi lontar di presentasi kelompok delapan yang lalu. “Ayo, ayo, siapa yang ingin bertanya lagi? Tolong acungkan tangan.” Baekhyun berlakon begitu bangga. Walau dia baru masuk ke kelompok delapan, rasanya puas saja wajah remeh enyah dari beberapa siswa di hadapannya. Berkat Jungkook, tentu.

Begitu tak ada yang ingin bertanya lagi, Baekhyun memberi anggukan pada guru, tanda bahwa presentasi mereka selesai. Setelah salam penutup, suasana kelas masih hening. Beberapa sibuk melirik Jungkook, saling berbisik tentang kemungkinan curang yang dapat lelaki itu tempuh barusan. Tapi nyatanya, seberapa gencar pun mereka mencari celah cela, percuma saja. Presentasi sudah selesai dan angka sudah terlanjur dibubuhkan ke buku nilai.

Lagi-lagi Demi Tuhan! Mengetahui presentasi kedua dari kelompok delapan berjalan hebat, rasanya jantung Runa ingin meledak. Seunghee sendiri hanya bisa diam seraya sesekali melirik Jungkook. Untuk Baekhyun, dia tidak perlu ditanya. Walau bukan dia yang berperan penting, wajah super bangga tak luntur-luntur dari parasnya.

Si sumber keterkejutan hari ini, Jeon Jungkook, malah kembali menenggelamkan kepala di lipatan tangan.

Tertidur, jelas saja.

.

.

Sampai sekolah usai, Runa masih menanyakan hal yang sama berulang-ulang pada Seunghee, “Kau pasti memberinya sesuatu, kan?”

“Tidak, Kwon Runa. Harus berapa kali aku bilang?” Lama-lama Seunghee kesal juga. Dia membereskan barangnya lebih cepat.

Sebenarnya bukan masalah jawaban sepintar apa yang Jungkook utarakan tadi, karena jika ditelaah baik-baik pertanyaannya pun tak terlalu sulit. Tapi bagaimana Jungkook bisa berbicara begitu lama, mau menatap ke setiap pasang mata, dan menuturkan jawaban dengan kalimat yang mudah dipahami, itulah yang membuat sebagian besar siswa terkejut. Runa pikir, jika bukan karena obat ajaib dari Seunghee─yang tentu hanya dalam imajinasinya saja, pasti Jungkook bisa begitu karena seringnya sang lelaki berinteraksi dengan banyak orang di pekerjaan paruh waktu.

Kemungkinan paling logis, kan?

Setelah membalas lambaian tangan dari Seunghee, Runa meraih ranselnya. Beranjak untuk memosisikan diri di samping bangku Jungkook.

“Hei, sudah bel pulang.” Diketuknya meja Jungkook sedikit keras, “Cepat bangun.”

Perlahan Jungkook menegakkan kepala. Beberapa detik mengumpulkan kesadaran mudah baginya. Lantas tanpa perlu merapikan barang─karena ia tak pernah mengeluarkan sesuatu dari ransel─ia berdiri, bermaksud segera pergi. Tapi Runa lebih dulu membuka mulut.

“Terima kasih, ya? Kau sangat keren. Apa tadi itu artinya aku harus membayarmu seperti saat perjanjian pagi ini?” Dia pikir Jungkook memang ingin bonus darinya. Namun si lelaki justru memberi lirikan, “Simpan saja uangmu. Kali saja kau butuh tisu.”

“Tisu?” Runa mengulang dengan nada bingung sementara Jungkook memilih menyusul yang lain melewati pintu kelas untuk pulang.

Merasa tak ada gunanya menebak apa arti kalimat Jungkook, Runa mengedik bahu. Sudah cukup baginya rasa senang akibat presentasi yang lancar. Yang pertama dipikirkan adalah ia harus memberi tahu Chanyeol. Menyalurkan bahagia tak ada salahnya, bukan?

Jadi dengan semangat Runa memutuskan untuk menunggu si lelaki di kelasnya. Biar nanti jika Chanyeol sudah selesai, mereka tidak perlu saling mencari. Dia menghabiskan dua puluh menit untuk membuka galeri. Melihat beberapa foto yang sebagian besar berisi Chanyeol─well lelaki ini memang narsis di mana-mana, atau video pendek yang direkam diam-diam oleh Runa. Suatu kebiasaan yang kadang membuat Chanyeol terpojok dengan ancaman video jeleknya akan tersebar. Hanya sekadar gertakan sambal, Runa mana tega menyebarluaskan aib seseorang.

“Aku lupa, astaga.” Harusnya dia mengabari Chanyeol lebih dulu. Bisa-bisa lelaki itu pulang lebih cepat atau sejenisnya.

Kwon Runa:

Aku masih di sekolah.

Hari ini ada kejadian hebat, karena itu aku ingin mentraktirmu kue beras.

Kau pulang jam berapa, Chan?

 

Seraya menunggu balasan, Runa memilih menyedekapkan tangan di depan jendela kelas bagian samping─yang menghadap ke pelataran luas sekolah. Menebar pandang ke bawah sana. Satu, dua murid masih terlihat baru berjalan ke arah gerbang. Diliriknya sekilas ponsel dalam genggaman. “Yah, kenapa belum terkirim?” Runa tahu betul jika koneksi internet di negaranya termasuk super cepat. Tapi terkadang masih saja ada hambatan kecil seperti ini. Mungkin pengaruh ponselnya yang mulai menua.

Setelah mendengus, ia menatap lagi ke bawah. Mungkin sedang ada sedikit gangguan pada sinyal, ditunggu sebentar juga pasti terkirim. Niatnya ingin tahu siapa yang baru muncul dari koridor utama. Ada dua murid berbeda gender, yang perempuan terlihat memeluk lengan yang lelaki.

“Ketahuan Guru Hwang bisa-bisa mereka diomeli.” Runa jadi ingat, waktu di tingkat satu semester dua dulu, dia dan Chanyeol pernah ketahuan sedang bergandengan sepulang sekolah. Alhasil, Guru Hwang dengan tongkat mengajarnya memburu mereka di sepanjang koridor. Bukannya Runa dan Chanyeol ingin kurang ajar. Tapi siapa juga yang mau menurut diteriaki suruh berhenti, jika terus disuguh pemandangan ayun tongkat dengan kekuatan penuh? Saat itu wajah Chanyeol─

“Chanyeol?”

Lamunan Runa buyar tak bersisa ketika maniknya mengenali lelaki tadi sebagai Chanyeol. Tubuh jangkungnya sangat pas. Dan lagi, sebagai pemilik mata normal, Runa bisa dengan jelas menatap wajah Chanyeol di bawah sana …

.

… bersama Han Nami.

.

Runa menahan napas. Ia bisa melihat Chan─tidak! Itu bukan Chanyeol!

Dilihatnya lelaki itu mengambil ponsel, seakan membaca sesuatu sebelum akhirnya menyentuhkan jari ke layar, dan meletakkan benda kotak itu di telinga.

Rasanya Runa ingin mati saja ketika sepersekian sekon kemudian ponselnya bergetar.

.

Park Chanyeol Calling

.

Untuk beberapa detik yang Runa lakukan adalah menatap ponsel dan lelaki di bawah sana bergantian. Keparat, wajahnya mulai memanas.

“Runa, kau masih di sekolah?”

Inginnya Runa mengenyahkan fakta bahwa lelaki yang tengah is perhatikan dari atas sedang berbicara di ponsel. Dia mengatur napas sebisa mungkin, “Iya.” Embusan napasnya berat, “Kau belum mau pulang?” Runa mengigit bibir bawahnya, memejamkan mata sejenak. Menekan kuat-kuat rasa sesak dalam benak.

Otaknya berkata dengan lantang. Yang lengannya sedang dalam pelukan seorang gadis di bawah sana, memang Park Chanyeol.

Di bawah sana, Chanyeol sedikit menjauhkan ponsel, berucap sesuatu pada Nami. Gestur telunjuk di depan bibir dan menggenggam lengan si gadis, jelas-jelas artinya perintah untuk tenang. Lelaki itu kembali mendekatkan ponsel ke telinga, “Belum. Sepertinya masih lama. Kau tahu sendiri, Kris sangat ribut jika sedang ingin main.”

Runa menundukkan kepala dalam-dalam, menarik napas. Dia memegang kening, seolah menyugesti diri agar tak lekas lepas kendali. Namun, rasanya begitu nyeri. Terlalu nyeri untuk dijanani hanya dengan berdiam diri. Napasnya terdengar sulit menyambah paru-paru, “A-aku mau tanya.” Masih terlihat di maniknya bagaimana Chanyeol membiarkan lengan kekarnya dipeluk Nami. Runa hampir terisak, bahkan kakinya semakin melemas saja.

Chanyeol berengsek.

“Apa selama ini kau selalu bermain dengan Kris yang sama?”

Tak perlu memandang langsung Chanyeol dari dekat untuk tahu lelaki itu sedikit kebingungan, “Maksudmu?”

Rasanya Runa ingin membuka jendela dan melemparkan diri ke bawah. Tapi akan terlihat bodoh, dan dia masih bisa berpikir rasional─untungnya. Dia menggertakkan gigi, menahan gejolak emosi. Terbatuk beberapa saat adalah tanda jika dirinya sudah mulai tak kuat. Napasnya masih terputus-putus. Suara Chanyeol kembali terdengar, “Hei, kau baik-baik saja? Kau sakit?” Berhenti mengucap kalimat khawatir, Park Chanyeol. Tiba-tiba saja Runa muak.

“Iya, aku sakit.” Nyerinya semakin terasa, “Harusnya aku tahu. Nama Nami sudah berganti Kris sejak lama, kan, Park Chanyeol?”

Tak ada jawaban. Tapi Runa bisa lihat Chanyeol langsung melepas pelukan Nami di lengannya sebelum akhirnya mengedar pandang. Jelas sangat panik. Semakin membuat Runa yakin akan kesimpulan yang sudah ia buat. Chanyeol mencoba bercanda di seberang sana, “Ah, kau ini ada-ada saja.” Nyatanya si lelaki tengah bergumul dengan khawatir sekarang. “Runa, kau di mana? Kurasa aku bisa─” lelaki ini terhenti kala berhasil menangkap manik Runa. Kebetulan yang perlu diberi umpatan. Hanya beberapa detik mereka bertatapan. Runa bisa melihat Chanyeol bergegas mengambil langkah untuk berlari kembali ke koridor.

Mengetahui si lelaki akan menyusulnya, Runa memilih pergi. Melihat wajah Chanyeol dari jauh saja sudah menyakitkan, apalagi jika bertatap muka? Pemikiran ini menjadikan ia menguatkan diri untuk mengambil langkah keluar kelas. Menyebaban hanya kekosongan yang Chanyeol dapat kala berhasil memacu langkah sampai ke kelas gadisnya.

Menggumam kata sial, Chanyeol melanjutkan langkah.

“Kwon Runa!”

Percuma saja. Mau dipanggil seberapa keras pun Chanyeol tahu persis Runa tetap tak akan muncul. Sambungan panggilan sudah terputus, di telpon balik tidak diangkat. Berbagai jenis umpatan sudah bertebaran di benak Chanyeol. Dia menyusuri koridor lantai dua. Membuka beberapa kelas yang belum terkunci. Meneriakkan nama Runa berkali-kali. Hanya nama, tanpa kata lain, tanpa kata maaf.

Sepertinya, Chanyeol memang tidak ditakdirkan untuk bertemu Runa. Hingga ia mengacak rambut frustasi. Dia hanya tidak sadar, telah melewatkan ruang laboratorium biologi dengan Runa yang terduduk diam di dalamnya.

Sang gadis menengadah, “Berengsek.” Ditariknya napas panjang, seiring dengan embusan yang tercipta, ia mulai membiarkan tangisnya menguar pelan. Telapak tangannya menutup wajah, memberi tekanan kuat. Tak perlu diungkapkan bagaimana rasanya dengan kata-kata. Rasa sakitnya muncul dengan sendirinya. Membelenggu erat, menimbulkan getaran hebat di hatinya.

Degubnya semakin cepat, suhu ruangan rasanya semakin tinggi. Napasnya terus terputus, seakan mengejek hantaman sakit di dadanya. Semua luruh sayang yang sudah dipelihara, begitu saja disingkirkan dengan cara menyakitkan. Runa sudah tidak tahu seberapa keras isakan yang ia cipta. Yang dia tahu, semakin keras menangis, semakin ia ingin membuang hatinya jauh-jauh. Hati yang penuh gores nama Park Chanyeol di dalamnya.

Rasanya kali ini ia ingin menangis saja. Menangisi diri sendiri. Dan rasa nyeri yang semakin membelenggu hati. Menggulungnya dalam larutan emosi. Membantingnya begitu keras pada realita yang ada.

Si keparat yang sedang main belakang, rupanya bukan sekadar dugaan belaka.

.

“Harusnya katakan jika sudah tidak ingin bersamaku, Park Chanyeol.”

.

.

.

.to be continue

UWAW UWAW UWAW /tampar diri sendiri/ Sekian lama terombang-ambing gak jelas sama sikapnya Chanyeol, dan ternyata kejadian ini muncul tiba-tiba /ngguling/ But, clue si Park ini main belakang emang udah terlalu banyak yak wkwk Terus… ini putus gak ya :’v Ah, sial emang.

Padahal nih ya, aku pribadi suka sama moment pacarannya Runa-Chanyeol wahaha /tabok nida/ Engga tau kenapa, Chanyeol keliatan unyu gitu wkwk Padahal ternyata selingkuh sama Nami /tabok Chanyeol/

Btw aku seneng kemarin liat Chan ngepost foto sama Woozi :3 Aku bayangin dia ngegosipin kejadian Sehun-Jeonghan di ISAC lol /inget aja terus nid/ Udah gitu aja, makasih banyak masih mau ngikutin ❤ Aku usahakan cepet selesai hehe Big LOVE :* ❤

k.jpg

Cuma pingin post wkwk Walau udah basi tapi entah kenapa tetep bikin ngekek /receh lu nid/ /tabok Sehun/ :’v (cr: pinterest)

.nida

Iklan

25 pemikiran pada “2ND GRADE [Chapter 12] -by l18hee

  1. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 19] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 18] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  3. Seneng banget Kris muncul (walaupun cuma sekali).
    Demi apa ini emg bner bner fucking hurt😭😭😭. Bisa bisanya Chanyeol main belakang sama Nami. Mana pake ganti nama Nami sama namanya Kris lagi😑😑😑😒😒 kan 💩💩💩 *ehmaafthorhehe

  4. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 17] -by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 16] -by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  6. Diam-diam jungkook menghanyutkan. Btw jungkook itu tipe orang yang juga diam-diam memperhtikan orang, kan? Soalnya dia kaya udah ngasih clue ke Runa.

    Chapter kali ini bawaannya pengen jambak si nami. Emang susah ya kalo punya temen yg tiba-tiba berubah jadi musuh.
    Tapi nggk sepenuhnya salah nami juga sih, mungkin chanyeol udah brengsek dari dulu cuma baru keliatan sekarang.

    Okay lanjut baca next chapter (baca marathon)

  7. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 15] | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 14] | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 13] | EXO FanFiction Indonesia

  10. kasian sehun teraniaya gegara moment memalukan isac kemarin… kkkkkkk tapi sungguh itu hiburan banget hun…
    sampe suho terus”an bilang sehun-a fokus.. fokussss!!!
    hahahahahahha hun hun lu tuh yaaa
    akhirnya kebongkar jg… ya gitu aja daripada kelamaan kasian runa.. sekarang tinggal nunggu jurus sehun deketin runa.. hahahahaha
    kapan mreka ketemu di minimarket, bukannya kemarin sehun mau blng buat ktmu di sana??
    nexxtttttt

  11. Kan kejadian juga, kenapa di fanfic mu chanyeol selalu salah nid???
    Ya udah lah aku tunggu kabar putusnya runa ama chan yaaa../ehh/
    Aku tunghu next chapternya~

  12. Klimaksnya sudah ini yuhuuu sehun siap2 buat taklukin hati runa ,, ga sabar liat mereka jadi pasangan wkwk

    Semangat buat postnya 😄😄😄

  13. PUTUS! PUTUS! (pho detected) RENA SAMA SEHUN AJA WKWKKWKW. gak pernah dicampakin, tapi kenapa rasa sakitnya ikut nular /ngambil tisu dari tangan Jungkook. oke, satu satunya yang bikin aku penasaran cuma ‘apa yang Seunghee lakukan pada Jungkook’. jangan jangan Seunghee ngiming2in video sehun-jeonghan seventeen di ISAC (lol. receh guyonmu mak). dan juga aku kaget, perasaan baru up kemaren ini udah up lagi, besok up lagi bisa? /dilempar mercon sama authornya.
    udah ah curcolnya, sekian, terima lontong.

  14. Chan jahat, aku jadi ikutan sakit hati. Kenapa Chan tega banget selingkuh. Makin yakin kalo tokoh utama si cowok itu si Sehun. Sebenernya penggenya si Chan yg jdi tokoh utama tpi setelah liat kelakuan Chan yg brengsek jdi ikutan sakit hati. Itu si Kookie tau dri mana kalo si Runa bakal butuh tisu? Alasan Chan selingkuh dg Nami jg apa?? Waaaah aku jadi ikutan nyesek liat Runa. Tpi tetep aku dukung Chan-Runa. Next chap sangat ditunggu, penasaran apa mereka bakal putus. Semangaaat author nim

  15. Ah Chanyeol napa gk jujur aja sih…dari pada sakit diputusin lbh sakit diselingkuhin… ckckckkc…
    Jungkook cenayang ya…
    Kasian runa seperti nya hanya dia yg tidak tahu. Bagusnya ost ini chapter lagunya iu yang only I didn’t know yg ada boo youngnya…cucok deh nemenin tangisan runa…
    #berasajadisales…

  16. Jungkook udah tau ya masalah chanyeol?
    Kasian banget runa, si chanyeol mah jahara masa mau aja selingkuh sama si nami.
    Yang tabah runa, masih ada si sehun.

  17. Kok aku ikutan sakit ya (?) *halah abaikan*
    Btw ini aku seneng bgt pas momen chanyeol ketahuan main belakang. Dan runa hebat bgt masih bisa nahan walaupun akhirnya runtuh juga.
    Udh gih putus aja, mending sama sehun biar sehun juga cepet move on dari mantannya. Biar gak sama vivi
    Btw gilak vivi beruntung bgt dipeluk-peluk ohse terus. /potek aku mas liatnya/
    Keep wriring thor.. gak sabar kelanjutan critanya.. semangat!! ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s