2ND GRADE [Chapter 23] by l18hee

2ndgradee

2ND GRADE

─by l18hee

.

Now Playing ► Chapter 23 [Libur Musim Panas #1]

Taruhan, apa yang Sehun rasakan sangat sesuai dengan ekspektasinya; super menyenangkan.

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Sehun, Baekhyun, Chen |  [CLC] Seunghee | [BTS] Taehyung & Jungkook | [RV] Irene & Wendy | OC(s)

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Family | Fluff | Friendship | Romance

.for

Teen

.

Previous Part:

Prologue | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 | 18| 19 | 20 | 21 | 22

.

.

Perjalanan dimulai dan Runa masih menyimpan kesal dalam hati. Kalau boleh menjelaskan, yang kini ia rasakan adalah setengah kesal dan sisanya dibagi sama rata antara malu dan mencoba tak peduli. Jika saja mereka tengah menumpang di mobil Sehun, pastilah lelaki itu yang duduk di depan─bersandingan dengan sang ayah yang memegang kemudi. Tapi sialnya posisi tersebut lebih sopan untuk Chen, kendati lelaki ini tak begitu peduli masalah penempatan tempat duduk. Imbasnya langsung pada Runa. Dengan alasan belum terlalu mengenal Baekhyun atau Wendy, sebelum masuk van Sehun memohon agar Runa bersedia duduk berdampingan dengannya. Yang awalnya kasihan dan menyetujuinya, sekarang Runa malah ingin menampar pipinya sendiri. Bukan tanpa sebab, pasalnya Sehun malah tergolong mudah akrab dengan Baekhyun akibat mengatakan judul game yang sama. Tahu begini Runa duduk di sebelah Wendy saja.

“Apa perlu kita berganti posisi?” Seraya bersidekap, Runa memandang Sehun dan Baekhyun bergantian. Yang duduk di depannya─Baekhyun, langsung menyahut, “Oh, apa aku mengganggu waktumu dengan Sehun?”

“Lupakan saja.” Tanpa mengambil jeda, Runa lantas menyandarkan kepala ke boneka yang berkat tekanan kuat semakin menempel pada kaca. Beriring lagu dari earphone miliknya, gadis ini memejamkan mata. Membayangkan beberapa hal yang akan ia lakukan nanti.

Beberapa menit berselang dan Sehun sudah menyelesaikan pembicaraannya dengan Baekhyun. Dia menyandarkan kepala di bangku depan, menatap lurus pada Runa yang beberapa kali kedapatan terjatuh serta membenarkan kepalanya. Awalnya Sehun berniat meraih satu earphone si gadis untuk disumbatkan di telinganya sendiri. Namun tangannya yang sudah terulur malah berubah haluan meraih ponsel di saku celananya.

Kemudian sekian potret sang gadis dari samping sudah tersimpan di galeri ponsel Sehun. Dia baru akan menyimpan kembali ponselnya kala mendadak punya ide lain. Agar tidak ketahuan, pelan-pelan dia mengambil SLR milik Runa. Ketika sudah siap memencet tombol, Sehun menggores senyum. Merasa dirinya sedang berada di posisi Runa seperti biasa.

Usai mengembalikan kamera dan mengambil posisi bersandar di bangku, Sehun memerhatikan potret yang sempat ia ambil memakai ponselnya. Mati-matian menahan diri untuk tidak gegabah menuruti ego dalam hati. Begini, ada satu dorongan kuat pada benak Sehun agar dirinya menyentuh ikon salah satu media sosial dan mengunggah foto Runa. Bisa-bisa dikatai gila sambil diinjak-injak dengan tidak manusiawi nanti. Insiden saat mengangkat barang saja Sehun sampai khawatir beberapa rambutnya tak bisa tumbuh lagi. Apalagi jika ia berani mengunggah gambar si gadis.

Gumam ya-tidak terus menggema di hatinya. Bagaimana bisa Sehun sesemangat ini? Bukan hal bagus kalau nantinya malah membuat Runa risih.

“Sialan, kapan aku berhenti jadi lelaki norak.” Tentu Sehun mengucapkannya dalam hati. Dengan imbuhan senyum lebar memperlihatkan deret gigi. Sungguhan, deh, rasanya lucu sedari tadi Sehun bergumul dengan pikirannya sediri seperti ini. Jika ada yang memergoki, yakin si lelaki bakal malu setengah mati.

Inginnya Sehun membenturkan kepala ke jendela agar otaknya berjalan normal seperti sedia kala.

.

.

.

“Mau titip sesuatu?”

“Camilan apa saja, deh.” Wendy yang sedari tadi mencari baju ganti belum menemukan yang pas. Meninggalkan Wendy, Runa menoleh pada kawan sekamarnya yang lain, “Irene? Mau titip?” Yang ditanya menoleh, “Yoghurt stroberi.”

“Oke. Aku akan kembali secepatnya.” Bergegas Runa menghampiri Baekhyun yang sudah lebih dulu menunggu di depan pondok.

Tadi, setelah sampai tujuan dan beristirahat, mendadak saja Baekhyun mengajak Runa untuk keluar sebentar. Berhubung yang lain sepertinya masih sibuk menata barang, membersihkan diri atau bahkan tidur, menjelang malam ini dimanfaatkan Baekhyun dan Runa untuk membeli camilan. Kali saja mereka butuh makanan saat tengah malam.

Menggunakan sepeda kayuh yang ada di garasi, Baekhyun membiarkan Runa membonceng. “Omong-omong,” yang pertama membuka suara tentu Baekhyun, “menurutmu, Seunghee dan Jungkook sudah pacaran, belum?” Nah, sudah Runa duga pasti si lelaki mengajak pergi itu karena ada apa-apanya. Rupanya mau melakukan sesi curahan hati.

“Bagaimana, ya?” Yang disuguh adalah hela napas bingung, “Setiap kusinggung masalah Jungkook, Seunghee pasti mengalih topik.” Sementara Baekhyun diam dan menyimak, Runa kembali melanjutkan ucapan, “Ada tiga kemungkinan di balik sikap Seunghee. Pertama, mereka pacaran tapi memilih diam-diam─atau malu untuk mengakui. Kedua, mereka belum pacaran dan memilih melewati masa pendekatan. Ketiga, Seunghee ditolak.”

“Aku lebih suka yang terakhir.” Jelas saja, Byun Baekhyun. Tanggapan Runa justru berbeda, “Tapi kenapa makin ke sini aku makin sering melihat mereka berdua ya? Maksudku, bersama.”

“Baru saja akan berharap, kau seperti menghancurkannya.” Kayuhan Baekhyun menurun kekuatannya. Lalu Runa mendengus dan melayang tepukan ringan di punggung lelaki tersebut, “Yang semangat sedikit.” Dia memberi jeda dua sekon, “Lagipula, entah kenapa aku melihat peluang kemungkinan nomor dua yang paling besar. Intinya mereka belum sepenuhnya memutuskan pacaran.”

Sejemang, Baekhyun mengerutkan alis─tanda ia memikirkan sesuatu, “Dengan kata lain, kesempatanku masih ada, kan?”

“Kira-kira 10-15%.” Menanggapi perkiraan Runa, sang lelaki merengek jelek, “Sedikit sekali. Bisa kau naikkan untuk menghibur sahabatmu ini?”

“Kalau langsung kuberi persentase tinggi, nanti kalau kau gagal malah makin sakit hati, lo.” Ada benarnya juga, sih. Kadang Baekhyun suka kehati-hatian yang Runa miliki. Walau seringnya mengesalkan mendengar gadis itu bicara tentang tak-ingin-ambil-risiko. Ayolah, apa enaknya hidup dengan tidak mencoba sesuatu yang baru dan mengambil tantangan menghadapi kemungkinan terburuk?

Mereka berhenti di depan sebuah minimarket yang lumayan ramai. Sepertinya banyak yang sedang liburan juga. Ah, kan, memang Pantai Eunwrangi selalu ramai sepanjang tahun. Apalagi ini musim panas, pasti semakin banyak yang datang berkunjung. Usai memarkirkan sepeda, Baekhyun dan Runa berdampingan memasuki minimarket. Sebuah suit dilakukan untuk menentukan siapa yang bertugas membawa keranjang. Akhirnya dengan wajah setengah terpaksa Runa melakukannya─sambil merutuki kebiasaannya mengeluarkan simbol kertas saat suit.

“Kripik jagung, kripik ubi, kripik kentang,” begitu saja Baekhyun melempar beberapa bungkus camilan ke keranjang. “Jelly, Baek, jelly,” usul si gadis bertubrukan dengan karibnya yang sibuk menambahkan beberapa choco chips. Runa baru akan melontar protes tatkala lelaki yang datang bersamanya itu menunjukkan kerut heran dengan manik memandang ke arah lain.

“Sehun!”

Tadinya Runa kira Baekhyun bercanda, tapi ketika ia menoleh memang ada sosok Sehun di sana. Sedang memegang beberapa kaleng minuman. “Oh, kalian juga kemari?”

“Kenapa tidak titip saja?” tanya Baekhyun seiring dengan mendekatnya jarak Sehun. Yang ditanya masih memasang tampang biasa saja, “Sepertinya aku sampai lebih cepat beberapa menit ketimbang kalian.” Meninggalkan dua kawan baru yang sibuk mengobrol, Runa pergi ke rak yang menyuguh berbagai merek jelly. Ah, dia jadi ingat perlu membeli yoghrut juga. Maka dari itu, usai menjejalkan beberapa kotak jelly ia langsung bergegas menuju lemari pendingin.

Berhubung telihat menggiurkan, Runa mengambil yoghrut juga untuk dirinya─bedanya dia ambil rasa mix berry. Hampir saja gadis ini terlonjak karena mendapat beban tambahan di keranjang secara tiba-tiba. Beberapa onggok minuman kaleng baru ditaruh oleh Sehun.

“Mudah sekali kaget,” komentar Sehun tak ditanggapi dengan peduli. Runa hanya menggumam kecil, “Pura-pura kaget adalah keahlianku.” Padahal cuma menutupi malu saja. Dia sedikit mendongak untuk membalas tatapan sang lelaki, “Butuh apa lagi?” Sehun bungkam, masih memberi tatap dengan makna yang sukar dijelaskan. Mendadak mata Runa memicing, telunjuknya menunjuk lelaki tersebut dengan tegas, “Jangan coba main-main lagi.” Masih terlalu waswas karena insiden pipinya mendapat ciuman singkat tadi siang. Lantas Sehun tersadar, ia terkekeh sebentar sebelum mengangkat bahu sekilas, “Yang tadi itu bukan main-main, padahal.” Makin membuat Runa curiga, “Jadi maksudmu tadi kau serius … ingin menciumku?” Ah, lidahnya mendadak geli.

Tak ada jawaban, yang ada hanya Sehun yang memindahkan topi miliknya ke kepala Runa, “Baekhyun sudah menunggu di kasir.” Begitu saja sang lelaki mengambil keranjang dari tangan gadis di depannya, meninggalkan gadis itu mendengus seraya membenarkan topi.

“Seratus persen aku tolol kalau yang barusan itu benar-benar membuatku berdebar kecil,” gumam kecil yang hanya dapat ia dengar meluncur mulus dari bibirnya. Cepat-cepat dia menyusul Sehun yang sudah lumayan jauh di depan sana.

Tidak ada percakapan yang berarti tatkala ketiganya sudah keluar minimarket dengan belanjaan di tangan. Baekhyun yang sudah duduk di sepeda meletakkan plastik belanja di keranjang besar bagian depan. Ditolehkan kepalanya ke arah Sehun, “Kau jalan?”

Sebuah anggukan Sehun beri, membuat Baekhyun beralih melirik teman gadisnya, “Cepat naik.” Belum sempat menjawab, Runa lebih dulu merasakan lipatan sikunya di genggam Sehun bersamaan dengan suara si lelaki, “Dia jalan denganku saja. Kau boleh duluan, Baekhyun.”

“Hei! Apa-apaan?!” Runa mendelik ke arah Baekhyun, “Kalau sampai kau berani meninggalkanku, pokoknya aku─” Ucapan Runa tak selesai, yang katanya menyebut diri sebagai teman dekat sejak SMP sudah lebih dulu mengayuh pedal dengan kekuatan penuh, “Runa, maafkan aku!”

“Byun Baekhyun, kurang ajar! Berani-beraninya kau─HEI!” tidak peduli pada beberapa tatapan orang di sana, Runa mengeluarkan seluruh suaranya.

Di sisi lain, Sehun sedikit ngeri jadi diam-diam ia melepaskan cengkraman. Tidak berhasil secara mulus, tentu. Karena selanjutnya Runa sudah menoleh dengan tatap kesal dan melemparkan topi Sehun sekuat tenaga, “Maumu apa, sih?!”

Pelan-pelan Sehun menundukkan badan untuk mengambil topinya, begitu mendongak lagi ia malah mendapati Runa melangkah pergi. “Kwon!” Disejajarkannya langkah kaki dengan milik sang gadis, “Mau ke mana?” Serius, Runa sebal sekarang, “Jauh-jauh, deh!” Saat akan menambah kecepatan langkah, dia malah dihadang sempurna oleh Sehun.

“Kau berjalan ke arah yang berlawanan jika ingin kembali ke pondok.”

Sumpah, ya, bisa-bisanya Runa mempermalukan dirinya sendiri di saat seperti ini? Tanpa mengucap kata, ia lekas meraih topi dari tangan Sehun dan memakainya untuk sekadar menutupi malu. Dia berjalan lagi, setelah membalik badan, tentu saja. Diam-diam Sehun menahan kekehan. Namun lelaki tersebut terkejut sendiri ketika tahu-tahu saja Runa limbung ke depan─beruntung tak sampai jatuh. Ia sedikit berlari menyusul gadis itu untuk sekadar berucap, “Kenapa?”

Runa menoleh memperlihatkan tatapan lelahnya. “Sehun,” ia memanggil seakan putus asa, “sial sekali, sandalku putus.” Sungguh, deh, tawa Sehun sepersekian sekon kemudian terdengar begitu menjengkelkan.

Tidak ada cara lain selain jalan telanjang kaki, mengingat mereka hanya bawa uang pas untuk ditukarkan dengan camilan. Runa sudah pasrah berjalan menggunakan sisa kekuatan yang ada, sementara kedua tangan menenteng masing-masing sandal tak layak pakai kepunyaannya. Di sisinya ada Sehun yang masih menahan kikik geli seraya sekali-kali melirik teman pulangnya kali ini.

“Capek?”

Bukannya menjawab, Runa malah menunjuk ke arah pantai, “Jalan lewat sana saja, yuk. Setidaknya biar lelahnya tidak terlalu terasa.” Sebuah persetujuan tak kentara ditunjukkan Sehun dengan mengikuti langkah Runa. Tangannya tenggelam sempurna pada saku celana, membiarkan maniknya menatap bagaimana gadis tak jauh di depannya itu memandang laut malam.

“Aku mau jadi desainer.” Runa memelankan jalannya agar Sehun dapat menyamai langkahnya.

“Hm?”

“Kalau tidak, ya, fotografer.”

Semula Sehun mengerutkan alis, mencoba meresapi maksud topik pembicaraan yang tiba-tiba Runa suguh. Di lain sisi Runa kembali menambahkan, “Saat melihat laut bebas, tiba-tiba aku teringat impian baruku.” Ia menatap Sehun, “Mau kuceritakan sesuatu yang rahasia?”

Langkah keduanya berhenti, posisi Runa lebih depan dari Sehun. Gadis ini masih memandang lelaki di depannya, “Hampir semua orang mengira Ayah dan Ibuku bercerai. Nyatanya mereka hanya pisah hunian saja.” Baru kali ini Sehun tahu keadaan keluarga Runa hampir sama seperti miliknya. Sedikit mengejutkan, jelas.

“Tapi … harapan untuk bersama lagi kurasa makin ke sini malah makin menipis. Kadang aku sampai stres sendiri memikirkan penyebab mereka begitu. Ada beberapa hal yang mereka pikir tak boleh kuketahui.” Berhubung badannya menghadap ke Sehun, Runa lantas berjalan mundur pelan-pelan, “Sejujurnya aku lebih suka tinggal bersama Ibuku. Padahal Ayah juga sama baiknya, sih. Tapi sayangnya ayah kepalang fokus menjadikan sosok anak gadisnya menjadi pengacara di masa depan.” Gadis ini mengedik bahu, “Well, aku tak begitu suka jadi pengacara. Salah satu akibatnya adalah aku yang menggunakan waktu les tambahan untuk bekerja paruh waktu.”

Oh, Sehun paham sekarang. Dia sedikit memiringkan kepala dan kembali fokus pada ucapan Runa. “Ayahku baik. Masalahnya, aku tidak tahu bagaimana meyakinkan bahwa pengacara bukan hal yang ingin aku raih.” Ia menggunakan telunjuk dan ibu jari dari masing-masing tangannya dan membentuk persegi tepat di depan mata sebelah kiri─sementara mata kanannya tertutup. “Aku mau memotret dan mendesain sesuatu,” ucapannya tidak menyirat bohong. Lalu dia mengedik bahu lagi, “Bagaimana ceritaku? Bagus, tidak? Kuhitung kita impas di bagian saling bertukar cerita.”

Dan tahu-tahu saja kakinya terhenti. Satu-satunya alasan adalah gerakan Sehun yang tak pernah diprediksi sebelumnya. Lelaki itu kini membiarkan tangan kirinya menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Runa yang terlindung topi.

“Maaf.” Untuk segala rasa bahagia yang pernah muncul kala melihat Runa sengsara, Sehun menyesal. Yah, walau sengsara yang dimaksud adalah saat dimana Runa dan Chanyeol mengakhiri hubungan mereka. Tapi tetap saja, Sehun merasa sedikit tak enak. Pikirnya, pastilah Runa bisa merasa bahagia saat bersama Chanyeol di sela berbagai pikiran menumpuk yang gadis tersebut tanggung. Sehun penasaran, untuk sekarang adakah yang mampu memberi sengat kebahagiaan ke nadi Runa seperti saat hubungan si gadis belum berakhir?

“Aneh, deh.” Begitu sadar dirinya terlalu lama hanyut dalam tepuk menenangkan yang ia terima, Runa menepis tangan Sehun cepat. Namun yang Sehun lakukan malah makin mengesalkan. Seenaknya menangkup pipi Runa dengan kedua tangan.

Hal yang paling sialan di antara semua sialan bagi Runa hari ini adalah jarak Sehun yang terlampau dekat. Jantungnya jadi seperti dipaksa tiba-tiba mengganti tempo detak menjadi lebih kencang. Di saat seperti ini ia baru merasakan betapa perbedaan tingginya dengan Sehun lumayan jauh. Buktinya dia harus menengadah lebih tinggi sekarang. Manik mereka saling menumbuk, hingga Sehun angkat bicara, “Taruhan, beberapa detik lagi pasti kau akan memukul pinggang atau perutku.” Bah, seolah sudah siap.

Malahan Runa mendengus malas, sadar dirinya tengah dipermainkan. Rasanya sia-sia dia berdebar. “Tergantung kau mau pilih mana. Melepaskanku atau tidak.”

“Pilih ciuman saja, bagaimana?”

Tidak menunggu banyak waktu bagi Runa untuk memberi tinju tak main-main di perut Sehun. Suara mengaduh kencang terdengar bersamaan dengan Sehun yang beralih memegangi perutnya. Ditambah sebuah injakan keras di kaki, Sehun benar-benar hampir terjatuh.

“Tidak pernah lihat gaya bercanda yang barusan, ya?” sungut Sehun. Bekas rasa nyerinya masih tertinggal, jadi ia masih sedikit menunduk. Di depannya Runa menyedekapkan tangan, “Padahal tinju dan injakan di kaki itu juga kumaksudkan untuk candaan, lho. Jangan terlalu dianggap serius.” Tak mau kalah, tentu. Dia masih di tempatnya sementara Sehun malah berjongkok dengan alis tebal mengerut jelek.

“Kau selalu menggunakan candaan seperti itu pada para gadis?” Tanpa diduga Runa menjulurkan tangan tepat di depan wajah Sehun. Usai menerima uluran tangan, Sehun lantas beranjak. Gantian dia mendengus sebal, anehnya tanpa melepas tangan si gadis. “Sudah aku putuskan,” ia memasang tampang menantang, “Jadi asisten dua harinya, dimulai dari sekarang.”

“Kau mau menghancurkan liburanku, ya?” Runa mendebat tak trima. Memang ia yang menyetujui perjanjian tersebut, tapi apa harus sekarang? Seakan mendapat reaksi yang ia inginkan, Sehun menyeringai sambil berkata dengan suara pelan─seperti melakukan bisik-bisik tetangga, “Nah, asisten, mari nikmati liburan musim panas dengan penuh kebahagiaan.” Dilepaskannya genggaman pada tangan Runa sebelum akhirnya merantangkan tangan lebar-lebar menghadap laut, “Ah, bebas rasanya.”

Bukannya meniru, Runa justru menebar pandang untuk mencari sesuatu untuk menulis di pasir pantai. Tak menemukan ranting atau sejenisnya, membuatnya mendengus. Diam-diam Sehun sudah memerhatikan. Dipandanginya sang gadis yang akhirnya menggunakan sandalnya sendiri untuk membuat tulisan.

Nulis apa?”

“Bukannya kau bisa baca, ya?”

Sehun melabuhkan lirikan ke gadis yang kini di sampingnya. Sejenak merasa gugup, mengingat hari ini ia banyak melakukan kontak fisik pada sang gadis. Pikirannya bertanya-tanya, apa Runa merasa sedikit gugup seperti apa yang ia rasakan? Atau malah kenyataannya cuma dia saja yang merasa gugup di sini. Oh, bukan fakta yang menyenangkan.

“Sehun, lihat. Bagus, tidak?” Kala Runa mendekat dan menunjukkan ponsel, Sehun baru tersadar dari lamunannya. Maniknya kini menatap hasil potret di ponsel Runa. “Coba lihat,” dia mengambil alih ponsel, berusaha lebih mengamati. Sementara alih-alih menunggui ponselnya kembali, Runa malah berlari kecil untuk kembali menggores pasir-pasir pantai.

“Kwon, tuliskan buatku juga.” Tak sengaja Sehun malah melencengkan niatnya dan mengamati galeri foto si gadis. “Ini adikmu?” ucapnya saat mendapati foto seorang gadis kecil menggunakan seragam taman kanak-kanak. Tanpa menoleh, Runa menjawab, “Cantik seperti kakaknya, kan?”

“Mana ada!” Sehun mencebik setelah sedikit mengeraskan suara, di kalimat selanjutnya ia lebih merendahkan volumenya, “Tapi iya, sih. Cantik.” Senyum Sehun begitu lebar begitu foto Runa terpampang. Oh, ini bakal mengasikkan. Dia berjongkok, mengamati satu per satu foto yang tersimpan di galeri.

Tapi, tahu-tahu saja jarinya berhenti menggeser layar. Dia melirik Runa dan foto di depannya beberapa kali. Saat memutuskan untuk bertanya, Sehun sadar betul suaranya penuh rasa tak trima. “Kau masih menyimpan foto mantanmu?”

“Benarkah?” Di sana Runa tengah bercacak pinggang dan memasang tampang ragu. Namun sedetik kemudian ia mengedik bahu, melontar “Ya sudah, hapus saja,” dan kembali sibuk dengan sandalnya.

“Kau serius?” Malahan Sehun yang bingung sekarang. Tadinya ia kira Runa masih ingin sebuah kenang-kenangan atau bagaimana. Jika begini dapat dipastikan memang gadis itulah yang lupa menghapus salah satu foto Chanyeol.

“Kalau tidak mau, biar aku hapus nanti.” Runa berhenti menulis sejemang dan membenarkan rambutnya yang terkena angin pantai. Meninggalkan Sehun dengan bimbang yang sesungguhnya tak perlu. “Oke, deh,” tak mau membuang waktu lagi, ia langsung menghapus foto tersebut. Senyum yang dipasang makin lebar ketimbang sebelumnya.

“Kemarikan ponselku.” Oh, rupanya Runa baru selesai dengan kegiatannya. Tanpa pikir panjang Sehun berjalan mendekat seraya mengulungkan ponsel. “Jangan sakit? Ingin kau kirimkan pada siapa?” katanya tepat saat Runa mengambil benda kotak yang ia suguh.

“Ibu dan adikku─ah, ayah juga.” Sibuk memilih angle yang pas, Runa berucap tanpa menoleh pada si lawan bicara. Sehun hanya diam, memandang gadis itu dengan tangan tersembunyi di saku celana. “Tidak mengunjungi ibumu?”

“Sebelum kemari, aku sudah pergi menemuinya─hei, bisa minggir sedikit? Bahumu sedikit mengganggu.” Padahal Runa sendiri yang bergeser sesuka hati dan menjajah tempat Sehun berdiri. Tanpa protes Sehun bergeser juga. Ada yang ia pikirkan saat ini. Sejujurnya dia sedikit iri pada Runa yang sudah mengunjungi orangtuanya. “Kwon,” panggilannya terdengar setengah memohon, sedang gadis yang dipanggil menggumam kecil.

“Mau menemani saat aku dibolehkan mengunjungi ibu kandungku?”

Menjauhkan kamera dan menatap Sehun, Runa memilih keheningan. Dirinya diam-diam memainkan jemari, “Jika aku menjawab oke apa akan menjadi sebuah janji?” Dan kedikan bahu Sehun sebagai jawaban awalnya, “Boleh aku menganggap begitu?”

Entah berguna atau tidak, perlahan senyum di bibirnya mengembang, “Oke, mari anggap itu sebagai janji.”

Yang terjadi sekon selanjutnya, mati-matian Sehun menahan diri untuk tak langsung mencium Runa.

Ah, Sehun rasa dia makin gila.

.

.

.

.to be continue

Aku udah bacain komen chapter kemarin, ternyata jawaban dari pertanyaan tentang lebih prefer ke OCxIdol atau IdolxIdol itu beda-beda yah wkwk Aku pribadi sampai detik ini lebih sering nulis pakai tokoh OCxIdol. Karena buat ngecocokin karakter yang udah aku rencanain sama visual emang susah banget :’v Ada sih beberapa ff yang sengaja aku pakein IdolxIdol, nah itu karena aku milih visual dulu baru nyesuain karakter, atau semacam itu deh.

Oh ya, kalok masalah genre kalian suka genre apa? Kalok romance, jelas ya :’v Aku pribadi sebenernya suka kek misteri, action, sci-fi, fantasy ya gitu-gitu deh kalok buat baca novel. Tapi bukan berati aku gak baca selain itu, aku baca apa yang aku mau ajasih hehe. Kadang ngerasa minder atau gimana gitu kalok ditanya udah baca novelnya si ini belum (anggep aja penulis besar baik Indo atau bukan),  aku jawabnya belum. Karna akunya sendiri lebih suka langsung baca apa yang ada di  muka :’ Gatau itu yang nulis dikenal luas apa engga, kalok tulisan pengantarnya bagus biasanya cus baca deh.

Sering nih ya aku nyesel karena kurang bisa nginget jelas nama penulis yang bukunya pernah aku baca (karna itu aku insyaAllahnya berusaha nginget terus sekarang kalok baca buku wkwk biar gampang nyari lagi). Tapi kalok masalah judul sih aku inget wwkwk. Nginget nama yang nulis jelas penting, coba kalok gak sengaja ketemu gitu di RL, ya mampus gasih kalo gatau itu orang yang kita idolain /misalnya lho wkwk Anjir ah aku ngomongnya merembet ke mana-mana ih gimana sih 😦 Yaudah curhatan gjls ajasih dari aing wkwk

.nida

20 tanggapan untuk “2ND GRADE [Chapter 23] by l18hee”

  1. astaghfirullah ak blm juga komentar di chap ini..
    ak benar2 gila!!
    maafkan aku tolong!!!/buang kelaut/
    🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏

  2. Gas terus hun gasssss! Bagian to be continue ini nih yg paling bikin ga suka baca ff. Nunggu sambungannya ga sabaran, berasa lama banget. Update nya jgn lama2 ya thor. Ga sabar pengen tau kelanjutan kisah sehun n runa. Gmn reaksi sehun ketemu sm ibunya, gimana sehun ketemu sm kk’y n gmn runa dibuat deg2an lg oleh sehun si kutu loncat yg bikin jantung loncat2. Hahaha

  3. Maju terus hun wkwkwkwk nambah seru nih ff.. nid abis ini end bikin genre yg fantasy, supranatural, mystery. Pasti itu yg baca banyak semangat nid.

  4. Gas terus hun jangan kasih kendor *apaan 😂
    Suka deh banyak moment sehun-runa unch.
    Btw penasaran sama jungkook, beneran suka sama seunghee dia?

  5. Sehun ngegas terussss.. Aku suka aku suka..
    Aku kalo baca gk milih genre sih, kalo kelihatannya menarik ya aku baca, okelah.. Semangat nulis next chaptenyabya kaka nidaa
    #sehunsemangat
    #sehunrunabersama
    #nidasemangat

  6. SIAL!! Ini keren banget ka, seriusan ✌
    Sehun kamu wokeh banget 😉
    Kalau aku lebih beratnya ke romance sih 😆
    lanjutkan kaka
    semangat nulisnya 💪👍

  7. Wah.. Akhr’ny summer break brng 😊 lngsng akrab gt 백 sm 세훈 😙 game apa tuh yg trnyt sm2 mrk sk maenin? Deuh.. Yg lg kasmaran 💕 love is in d’air bgt bwt 세훈 😘 scene 백 blanja di mini market tu lngsng bw memory ke slh 1 eps exo’s showtime yg dy bli mcm2 cmilan & drinks bwt mmbr2ny 😄 백 pengertian ya ma 세훈 yg lg pdkt-in runa. Kirain 세훈 bkl nwrn bwt gendong ala piggyback runa sm t4 nginep mrk. Itu 세훈 tetiba nymp duluan di mini mrkt, jln kaki pula, udah dy rencanain diem2 sblm’ny krn tau runa mo prg blanja sm 백 ya? /curiga 😅 gegara kmrn dy sabotase ide seunghee minjem villa bwt liburan brng runa dkk. Bnrn msh ada foto 찬열 nyempil di gallery hp’ny runa, yg lg pose ky gmn emang? Ah, enak’ny runa jln2 santai di pantai bdua 세훈 😞 sdngkn diri ini wkt jln2 di bbrp pantai di 발리 kmrn cm by myself aja 😢 nulis2 di pasir, foto2, smua all alone.. Ah, knp 세훈 pk blng mo cium bkn lngsng cium aja 😆 kan jd kna bogem tnp hsl! Klo genre bc-an sih sk mcm2 jg, nvl dah komik & nvl dah jrng bc, wkt msh sklh sring bc komik, & nvl smp jmn kuliah jg msh sk bc krn emang jrsn sas-ing. Klo dah bc komik/nvl bgs sk ga bs brenti bc (ga mkn, ga tdr, klo blm tamat bc’ny 😅) kbawa smp ke habit nntn k-drama jg gt. Sk bgt sih yg genre friendship & adventure, ky Harry Potter, Eragon saga, Chronicles of Narnia, Twilight saga (bnyk romance’ny yg ini), putri huan zhu, etc. Klo yg indo2 bbrp yg genre religi ja. Gpp a/n mrembet ke mn2, emang ini wadah’ny qt bs ngobrol2 menjalin keakraban kan 👭 di tunggu lnjtn chptr slnjt’ny..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s