2ND GRADE [Chapter 11]

2ndgradepstr

2ND GRADE [Chapter 11]

─by l18hee

.featuring

[OC] Runa | [CLC] Seunghee | [EXO] Sehun

[BTS] Jungkook | [EXO] Baekhyun | Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Comedy | Family | Friendship | Romance | School-life

.for

Teen

.

Poster by NJXAEM

.

Previous Part:

Prologue | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10

.

Now Playing ► Chapter 11 [New Fact(s)]

Beberapa fakta baru memberi efek kejut, yang mungkin menyenangkan layaknya mendadak disuguhi es serut.

.

.

Sehari setelah acara keakraban antar sekolah yang ada di pikiran Runa adalah istirahat. Tapi kenyataannya sungguh berbeda. Pelajaran tetap penuh, dan puncaknya adalah di akhir jam belajar mandiri.

“Aku menyerah. Lelah sekali.” Baekhyun menempelkan kening di meja, mengangkat satu tangannya. Detik selanjutnya Runa melakukan hal yang sama, “Aku juga.”

Bangku yang ditata untuk kelompok delapan hanya mendapat lirikan dari beberapa yang lain. Oh, apa ada yang heran kenapa Baekhyun duduk di bangku kelompok delapan? Sederhana saja, lelaki itu memutuskan untuk pindah kelompok. Jika ada yang tanya apakah dia mendapat protes, jawabannya iya. Tapi hanya dua protes, tak cukup tangguh menggulingkan keinginan Baekhyun.

Jadilah kelompok delapan memiliki empat anggota sekarang. Yang sayangnya tidak memberi pengaruh besar. Seunghee jadi pusing sendiri. Biasanya Runa yang semangat melakukan sesuatu, tapi mungkin gadis itu sedang lelah atau bagaimana sampai tak berceloteh seperti biasa. Untuk mengatasi Jungkook, Seunghee belum bisa. Lelaki itu masih saja setia tertidur pulas saat jam sekolah. Ketambahan anggota seperti Baekhyun hanya berdampak pada makin berisiknya suasana.

“Ayolah, kalian bahkan menghabiskan satu hari lagi kemarin untuk bermain di sekolah tetangga.” Mana mungkin Seunghee tidak tahu. Bahkan di hari kedua ia tahu Baekhyun hanya bernyanyi sebentar di acara pembukaan dan saat jeda istirahat siang. Tidak, dia bukannya paranormal atau apa, hanya saja bagaimana ia bisa tidak tahu jika seharian penuh Baekhyun terus menceritakan hal yang sama?

Sialnya tugas mereka belum tuntas hingga bel berbunyi nyaring.

“Maaf, aku sangat lelah sampai-sampai rasanya mataku tidak bisa dibuka. Aku dehidrasi, butuh cepat pulang untuk minum air putih.” Sambil membereskan barangnya cepat, Baekhyun menguar alasan konyol. Memangnya air putih hanya ada di rumahnya?

Begitu Baekhyun yang nyaris tak membuka matanya langsung pergi, Seunghee hanya melongo saja. Apalagi saat Jungkook melakukan hal yang sama. Bedanya, tanpa mengucap apa-apa. Sekarang tinggal Seunghee dan Runa.

Dengan perlahan Runa mengangkat kepala, menampakkan mata segarisnya, “Ayo kerjakan di rumahmu saja. Aku akan meminta izin tukar jadwal pada bos hari ini.” Seunghee bersyukur setidaknya ia tidak sendiri, “Oke, kutraktir kopi bagaimana?”

“Setuju!”

Singkat saja, dalam waktu kira-kira empat puluh lima menit keduanya sudah sampai di rumah Seunghee, dengan gelas kertas berisi kopi di tangan masing-masing. Runa yang sudah lumayan terjaga berkat kopi yang ia sesap, bergegas meletakkan ranselnya di sofa tempat biasa ia belajar di sini. “Apa ayah dan ibumu ada? Aku ingin memberi salam.”

“Ayah belum pulang. Dan kurasa ibu juga belum kembali dari rumah temannya yang hamil muda, sedang menemani sampai suami temannya itu pulang, mungkin.” Seunghee memutuskan untuk tidak duduk lebih dulu, “Aku ganti baju dan ambil laptop dulu. Kau bisa ambil air sendiri di dapur, kan?” Sebuah anggukan Runa tunjukkan. Seiring dengan Seunghee yang langsung menuju kamarnya, Runa melangkah ke dapur. Butuh air putih.

Di dapur, ia menghentikan kaki tak jauh dari bar mini. Mendapati Sulung Keluarga Oh yang pernah Seunghee tuturkan, sedang melongok ke dalam lemari pendingin. Aduh, jika begini mau tak mau Runa harus menyapa. Mengabaikan Seunghee yang pernah berkata jika percuma saja melontar salam pada kakaknya.

Si lelaki berhasil meraih botoh berisi air dan berdiri untuk langsung menegaknya─dengan posisi masih membelakangi Runa. Dengan deheman sebagai awal, Runa akhirnya membuka suara, “Permisi, kak. Aku teman Seung─”

Dia berhenti tepat saat retinanya terpapar paras Kakak Seunghee yang baru menolehkan kepala. Si lelaki batuk akibat terlampau terkejut, untung botol yang digenggam tak sampai jatuh. Dengan wajah panik lelaki itu menunjuk Runa.

“He-hei, apa yang kau lakukan di sini? Kenapa bisa kemari?” Dia terbatuk lagi tapa bisa dikendalikan, kemudian sadar bahwa dirinya hanya terbalut kaus singlet dan celana pendek tiga perempat paha. Dengan segera tangannya menutupi dada, sedikit berjongkok, “Kau menguntitku?”

Awalnya Runa masih tercengang. Namun ketika pertanyaan terakhir terlontar, ia lantas mengerutkan alis tanda tak setuju, “Menguntit katamu? Aku bahkan tidak tahu jika─” dia berhenti untuk berpikir sejenak. “Kau kakaknya Seunghee?”

“Kau tahu Seunghee?”

Pemilik nama yang disebut dua kali barusan rupanya mendengar keributan. Lekas Seunghee setengah berlari ke dapur. Mendapati kedua orang yang ia kenal saling melempar tatapan tak percaya.

“Kak Sehun kenal Runa?”

Oh, astaga, apa tidak ada yang berminat mengeluarkan pernyataan di sini? Semua pertanyaan hanya menimbulkan kebingungan.

Mendengar panggilan ‘kakak’ yang terlontar dari bibir Seunghee, Runa lagi-lagi melongo, “Kakak? Jadi kalian kembar?” Entah kenapa ini yang dapat ia pikirkan dengan cepat. Bukankah wajar karena keduanya memang berada di garis umur yang sama?

Di sisi sana, Sehun terlihat kembali ke ekspresi normalnya. Tak melirik Seunghee sama sekali, justru meletakkan botol minum sembarangan, melirik Runa sebentar, “Besok ketemu di minimarket.” Dia begitu saja pergi. Tak berniat menjawab atau sejenis itu. Runa pikir, ada sedikit keanehan antara Sehun dan Seunghee. Apa keduanya tengah bertengkar? Apalagi ditilik dari raut wajah Seunghee yang berubah, terkesan makin membingungkan.

Selang beberapa saat diam menunggu penjelasan, Runa dapat merasakan sebuah listrik kejut tersendiri yang menggelitik tubuhnya kala Seunghee melontar kata.

“Kami saudara tiri.”

Dan satu kalimat singkat tersebut membawa Runa dan Seunghee pada pembicaraan serius yang pertama.

Kendati diceritakan dengan nada santai, Runa tahu Seunghee sedikit tak dapat menutupi rasa tak nyamannya. Sehun tak pernah menyetujui pernikahan kedua sang ayah. Membuat Seunghee menjadi pihak yang tak dipedulikan selain ibunya semenjak pernikahan itu digelar. Hal yang wajar jika semua anak perlu penyesuaian untuk menghadapi pernikahan kedua orangtua mereka. Seunghee sendiri berusaha menerima keluarga barunya. Hanya saja Sehun tak begitu. Walau lelaki itu mau memanggil ibu barunya dengan sebutan ‘ibu’, tetap saja sikapnya seolah membangun tembok tebal pada sang ibu tiri dan Seunghee.

Ada hal yang membuat Sehun tak bisa beradaptasi dengan baik, namun sayangnya Seunghee tak tahu. Gadis ini hanya tahu jika Sehun kerap kali menuntut Tuan Oh untuk memberikan alamat ibu kandungnya. Tuan Oh sendiri justru memilih menunjukkan sikap pemegang kekuasaan dalam keluarga─dalam artian keras. Menekan Sehun agar cepat beradaptasi, agar selalu berbuat baik pada keluarga baru, agar tak lagi menanyakan kabar si ibu. Jelas saja Sehun yang notabene masih ada di tingkat remaja, merasakan gejolak pemberontakannya makin kuat. Sehun lebih sering pulang larut, bahkan tak jarang menginap di tempat lain. Seunghee sendiri sampai dapat menghitung dengan jari tangan kanan, berapa kali ia melihat batang hidung Sehun selama seminggu.

Semua penuturan Seunghee, membuat Runa maklum. Mulai tahu kenapa Sehun lebih sering menyebut kata markas daripada rumah. Ingatan tentang kejadian Sehun yang ingin mengantarnya pulang menyebabkan Runa membatin, mungkin saja alasan si lelaki waktu itu karena keluarga, bukan?

Pokoknya ini agak sedikit rumit, Runa pikir. Kasus yang hampir sama dengan keluarganya, namun nyatanya begitu berbeda dengan apa yang ia jalani.

“Jangan pasang wajah begitu,” ucap Seunghee karena di akhir cerita, Runa malah terdiam lama. Yang ditegur hanya menunjukkan cengiran, “Habisnya, ini perkara paling serius yang pernah kita bicarakan.” Lantas ia terkekeh sebentar, “Aku masih ingin bercerita banyak, tapi tugasnya juga belum selesai. Aku harus minta libur kerja, sepertinya.”

“Tidak usah. Kita selesaikan pagi-pagi, bagaimana? Masih ada waktu asal kau berangkat pagi.” Kalau sudah begini artinya Seunghee sedang tidak dalam keadaan ingin belajar. Berhubung itu ide bagus, Runa mengangguk-anggukan kepalanya cepat, “Oke, setuju!” Dia membereskan barangnya dengan cepat, “Aku harus sedikit berlari ke sana. Tidak perlu diantar, kau harus jaga rumah.”

Entah kenapa Seunghee tak berniat mengelak, dia menggumam saja.

Jarak rumah Keluarga Oh dengan minimarket tempat Runa bekerja menyita sekitar lebih dari dua puluh menit. Pertama kali terlambat membuat Runa panik. Bagaimana jika tahu-tahu bosnya mengamuk dan melempar meja, lalu memecatnya tanpa hormat. Kan, itu nggak-banget.

Dalam batin waswasnya, Runa merapal doa. Apalagi saat ia melihat siluet lelaki di meja kasir minimarket. Bosnya masih di sana. Eh, tapi kenapa rasanya agak sedikit kurus, ya? Semakin dekat langkah Runa, semakin kelihatan pula wajah penghuni kawasan meja kasir.

Dari berjuta kebetulan di dunia, hari ini Runa mendapat dua kebetulan yang efek keterkejutannya hampir sama. Saat ini, tepat kala langkah kakinya terhenti mendadak berkat paras familier yang sejak tadi ia kira sebagai bosnya.

“Lho? Jungkook?”

Runa bahkan harus menyipitkan mata serta mengerutkan alis sedemikian rupa, sekadar merealisasikan penyebab sengatan tiba-tiba yang hinggap di jantungnya saat ini.

“Kau membuatku melakukan tugasmu selama hampir setengah jam. Jadi berhenti berdiam diri di sana.”

Nah, jika kata-katanya memberi kesan dingin, artinya orang itu memang Jungkook. Tadinya Runa ingin menyapa seperti biasa, tapi semua kata-kata terhenti di tenggorokan. Dia tergagap sebentar sebelum menuju ruang belakang. Ketika kembali lagi dengan celemek miliknya yang sudah terpasang, Runa mendapat tatapan Jungkook.

“Bisa cepat sedikit?”

Oh, Runa lupa dia harus berdiri di balik meja kasir.

Lekas gadis itu berjalan mendekat pada Jungkook, bermaksud mengantikan posisi si lelaki. “Kau mau pulang?” Pada akhirnya ini yang bisa dikeluarkan Runa ketika kawan satu kelompoknya─dan sekarang juga kawan satu tempat kerja─melangkahkan kaki. Sama sekali tak menoleh atau pun menghentikan langkah, Jungkook bicara, “Aku masih harus membereskan beberapa barang.”

Mungkin karena efek masih tak percaya, Runa jadi tak bisa menemukan topik yang pas untuk dibicarakan. Dia terus berpikir hingga beberapa pelanggan dilayaninya. Sementara Jungkook masih menata bagian botol sampo di sudut lain.

Kala pelanggan dengan baju motif kulit jerapah sudah pergi, Runa akhirnya bisa bersuara, “Jungkook?” Yang dipanggil hanya menggumam malas. Sudah cukup untuk membuat Runa melanjutkan, “Kau banyak tidur di kelas karena bekerja sampai larut, ya?” Dia tidak tahu pergerakan Jungkook terhenti sebentar saat meraih satu botol sampo.

“Bukan urusanmu.”

Lalu jawaban barusan diterjemahkan sebagai ‘iya’. Berhubung Runa pernah menonton drama dengan satu tokoh dingin, ia jadi sedikit bisa menganalisa Jungkook. Oh, lumayan mengasyikkan, omong-omong. Baiklah, Runa ingin mencoba kemampuan analisanya sekali lagi.

“Sepulang sekolah dan di akhir minggu, kutebak, kau menghabiskan waktu untuk kerja paruh waktu. Serius, kau keren sekali.” Dia sengaja menyelipkan pujian yang memang ia utarakan, agar tak terkesan sok tahu degan kehidupan pribadi orang. Yang didapati lagi-lagi ucapan malas Jungkook, “Urusi urusanmu sendiri, Kwon Runa.”

Itu artinya ‘iya’ yang kedua. Aduh, kenapa Runa merasa jahat sekali telah mempermainkan si lelaki? Ah, biar saja. Anggap saja sebagai balasan karena kelakukan Jungkook di presentasi yang lalu. Saat pertanyaan ketiga akan terlontar, Runa lebih dulu mendapati Jungkook menghilang di balik pintu belakang.

“Ada gunanya juga menonton drama seharian.” Dia jadi lumayan bisa memprediksi kelakuan orang. Terkadang hobi memang memberi banyak keuntungan. Runa menunduk sejenak guna membenarkan ikat rambutnya. Saat ia kembali menengadah, sosok Jungkook sudah tepat berada di depannya. Membuat gadis itu mengambil satu langkah kaget ke belakang.

Oh, Runa benci segala hal yang tiba-tiba.

Sedang Jungkook sendiri hanya bergumam mengejek dalam hati karena si gadis yang terlalu mudah kaget. Dia mengulurkan telapak tangan, “Gaji tiga puluh menitku.”

“Ha?” Jelas saja Runa ternganga, dia mengerjap beberapa kali. Selanjutnya melayang tatapan kesal, “Kau minta gaji padaku?”

“Memangnya barusan aku menggantikan siapa lagi?” Uluran tangannya makin panjang, “Mau bayar sekarang atau kucatat dalam buku hutang?”

“Jeon Jungkook, kau─”

“Ya sudah. Bayar saat gajian saja.” Belum sampai satu kedipan, Jungkook sudah mendengus kesal dan melangkahkan kaki untuk bergegas pergi. Menyisakan kerut sempurna di kening Runa.

“Selain dingin, menyebalkan, dan tertutup, dia ternyata sangat perhitungan. Pantas saja jomblo,” omelan sepihak ini terlontar dari bibir Runa. Tapi walau bagaimana, dia juga bersalah telah membiarkan Jungkook menggantikan jatah kerjanya barusan. Jadi mungkin ada baiknya jika hitungan tiga puluh menit tadi direalisasikan menjadi lembar uang gaji. Mungkin Jungkook memang sedang butuh uang.

Baiklah, barangkali Runa harus menghitung pembayaran hutang setelah kerja selesai.

Jadi esok paginya Runa bisa dengan santai duduk di bangku kosong di sebelah Jungkook. Lelaki itu sudah memosisikan diri seperti biasa─menenggelamkan kepala di lipatan tangan, padahal bel masuk masih belum berbunyi. Tugas kelompok untungnya sudah beres beberapa saat yang lalu, masih tanpa bantuan Jungkook. Kalau Baekhyun tidak usah ditanya, dia bahkan belum datang.

Sembari mengetuk-ngetuk meja si lelaki, Runa membuka suara, “Gaji tiga puluh menitmu.” Padahal sebenarnya itu uang tabungan. Merasa topik yang ditawarkan memang menarik, Jungkook menegakkan kepala. Dia menyangga pipi dan menatap Runa seolah bertanya.

“Aku sudah menghitungnya dengan benar.” Beberapa lembar won yang dilipat jadi dua diulungkan. Sebelum Jungkook sempat meraihnya, Runa menariknya kembali, “Dengan catatan, kau harus ikut presentasi hari ini.”

“Aku harus melakukan syarat untuk mendapat apa yang seharusnya menjadi hakku?” ujar Jungkook sinis. Untung saja Runa sudah kebal, dia mengangguk mantap, “Kuberi bonus. Jadi uang yang kuberikan totalnya adalah setengah gajiku.”

“Sedang berusaha menyuapku?”

“Iya!” Anggukan yang ini lebih mantap. Mampu membuat Jungkook sedikit berpikir, “Memangnya kau tidak butuh uang?” Lantas Runa menggerakkan manik asal, “Ya, butuh, sih.” Dia memang butuh uang untuk membeli sesuatu, tapi tidak dalam keadaan yang sangat membutuhkan. Lagipula uang dari ayahnya masih banyak dan alasan ia bekerja paruh waktu juga bukan berorientasi pada uang.

Pandangan yang Jungkook layang begitu menyirat heran. Lelaki ini kemudian mendengus dan menodongkan tangannya. Dengan senyum lebar yang langsung tersuguh, Runa menyerahkan uang di tangannya. Lain halnya dengan Jungkook, dia justru memasang tampang biasa saat menghitung uang. Ia hanya menghitung beberapa, lalu mengulurkan kembali sisanya pada Runa.

Mengetahui jika Jungkook hanya mengambil perhitungan gaji selama tiga puluh menit, bahu Runa merosot. Dia benar-benar ingin membuat Jungkook aktif di kelas, atau paling tidak di kelompok. Di kelompok saja, deh. Kalau untuk lingkup kelas rasanya masih jauh.

“Runa,” sebuah panggilan menarik atensi Runa untuk berpaling pada teman sekelasnya yang duduk di bangku tepat di depan milik Jungkook. “Aku bisa minta saran padamu?”

Ini pertama kalinya semenjak Runa menapakkan kaki di 2-8 seseorang meminta bantuannya─dengan kata lain peduli padanya. “Kalau aku bisa,” ucapnya mengenyah heran. Gadis yang tadi memanggil─Kwon Minah, merubah duduknya sedikit menghadap ke belakang.

“Menurutmu, apa gambar atau animasi sederhana bagus untuk hadiah ulang tahun?”

Oh, kalau berhubungan dengan itu Runa lumayan paham. “Menurutku bagus-bagus saja. Asal isinya juga sesuai dengan yang menerima kado. Untuk siapa? Pacarmu?” Segera saja Minah mengangguk, “Dia sangat suka hal berhubungan dengan seni mengedit sesuatu seperti itu. Kupikir karena kau kemarin terpilih sebagai perwakilan sekolah, aku bisa bertanya sedikit padamu.” Dia berhenti sejenak untuk menyilakan rambut ke belakang telinga, “Aku sudah mengunduh salah satu aplikasi yang tidak terlalu rumit. Sudah berusaha belajar sedikit, tapi masih agak bingung.” Minah meraih selembar kertas dan menuliskan nama aplikasi yang mungkin susah ia ucapkan di sana. “Kau tahu ini?”

“Oh, aku tahu. Mudah, kok. Nanti hubungi aku lewat Line, ingatkan aku untuk mengirim beberapa tutorial yang pernah kusimpan di file dalam komputer.”

“Serius?” Lekas Minah tak dapat menahan diri untuk tersenyum lebar, “Terima kasih, ya? Nanti aku hubungi!” Tak dapat menahan gembira, Minah langsung beranjak dari duduk dan menghampiri gerombolan kawannya, sedikit berjingkrak girang. Sepertinya mengumbar sombong atas apa yang akan ia lakukan.

Setelah Minah pergi, justru suara Jungkook yang terdengar, “Kenapa membantunya?” Dua detik jeda, ia kembali membua suara, “Sebelum menjadi perwakilan sekolah, bukannya hampir semua anak kelas tak pernah mau peduli padamu? Kenapa kau bersikap biasa?”

Tak butuh waktu lama bagi Runa untuk menjawab, walau yang pertama keluar dari mulutnya adalah gumaman panjang. “Mungkin mereka hanya tidak tahu bagaimana aku yang asli,” dia menyangga dagu, “Selama ini mereka hanya menilaiku berdasarkan omongan busuk orang lain. Runa begini, Runa begitu. Aneh, membosankan, tidak asyik, apa saja, deh. Kupikir dengan menjelaskan jati diriku sebenarnya malah akan memberi kesan sebagai pembelaan, jadi aku diam saja. Pelan-pelan mereka akan sadar, siapa yang perlu atau tidak perlu diberi kepedulian.” Ia mengembus napas dan tersenyum kecil, “Tidak selamanya akan diam, sih. Suatu saat jika ada hal yang sangat keterlaluan mungkin kau bisa melihatku meledak.” Kekehan yang disuguh si gadis selanjutnya membuat Jungkook menganggukkan kepala, “Kuharap kau cepat meledak.”

Entah candaan atau bukan, yang jelas Runa mendapatkan tawa pertamanya karena Jungkook.

“Runa!” Lagi-lagi panggilan terdengar. Beberapa saat kemudian Wendy sudah menghuni bangku Minah, “Aku lupa minta foto-foto yang kemarin. Dan, kalau kau tahu, kemarin aku dapat majalah fashion baru.” Tahu jika akan ada pembicaraan panjang, Jungkook mendengus kesal terang-terangan. Tanpa permisi langsung mengenyahkan diri untuk duduk di bangku Runa. Sebagai teman sebangku Runa, Seunghee kaget sendiri mendapati Jungkook di sebelahnya. Dia tak sempat bertanya karena Jungkook lebih dulu bicara.

“Biarkan aku tidur di sini sampai gadis-gadis berisik itu berhenti.”

Dan yang Seunghee lakukan setelah mengamati keadaan sekitar─memastikan tak ada yang memerhatikan mereka─adalah melirik Jungkook sedikit lama. Sama sekali tak sadar jika Baekhyun yang baru mendudukkan diri di bangkunya dan menoleh ke belakang mendapati sebuah momen secara tak sengaja. Momen bagaimana Seunghee menyuguh senyum tipis saat menatap raut mengantuk Jungkook, sebelum akhirnya kembali berfokus pada buku pelajaran.

Oh, Baekhyun penasaran. Jenis senyum yang seperti itu, apa artinya?

“Eh, Seunghee!” Bergegas Baekhyun mengambil tempat duduk kosong di depan Seunghee, “Bagaimana? Tugasnya belum selesai, kan? Aku dapat bagian apa?”

“Sudah selesai. Kau ikut presentasi saja. Baca materinya, jangan sampai ada yang terlewat.” Sebenarnya Seunghee kesal karena Baekhyun tak begitu berpengaruh dalam timnya. Mengurus Jungkook saja masih belum ada peningkatan.

“Baik, siap! Aku tidak akan mempermalukanmu saat sesi pertanyaan nanti.” Seiring dengan lirikan Baekhyun pada Jungkook─yang jelas bermaksud menyindir, Seunghee menendang pelan kaki bangku lelaki itu. Tahu jika Seunghee sedang membela Jungkook, Baekhyun santai saja menyuguh cengiran. Mati-matian menahan diri untuk bertanya: “Kau suka Jungkook, ya?” Dia meletakkan susu pisang di meja Seunghee, “Maaf, ya? Besok aku akan lebih berguna.” Baekhyun belum bisa membayangkan bagaimana ekspresi Seunghee nantinya jika ditanyai perihal rasa suka tadi, jadi daripada tak bisa menahan mulut ia lebih memilih kembali ke bangkunya, setelah sempat berbasa-basi agar tak terlihat mencurigakan.

Selanjutnya, bel masuk langsung berbunyi nyaring.

.

.

.

.to be continue

Keknya chapter ini datar-datar aja menurutku :3 Fokus sama beberapa hal yang mulai kebuka sih ya wakakak Keknya bakal greget chapter depan <–mau spoiler tapi tida jadi :’v lol

Udah gitu aja. Makasih banyak semuanya ❤ Cinta banget deh ❤ Lafyu ❤ Chapter 12 rilis cepet kok :3 Mungkin besok xD

.nida

Iklan

14 thoughts on “2ND GRADE [Chapter 11]

  1. oooooaaaaaallllllaaaaahhhhhh mulai ketahuan semua di chap ini.. hahahhahahah
    emang mengetahui kenyataan yg sebenarnya itu bener” mengejutkan kek dikasih es serut.. hahahahah
    suka dehhh…

  2. Salah fokus sama jungkook..
    Dingin bnget ngomng seadanya.
    Cuek, jangan2 seunghee suka sama jungkook.
    Baekhyun sma gue aje wkwk
    Sehun bakal nyerah atau ga ya sma runa ? Penasaran

  3. Oh jadi Seunghee nggak ngilang toh, okay aku paham. Ceritanya makin seru thor… and did you know? Aku jingkrak pas tahu chapter 11 udh up. Pokoknya semangat terus thor. Aku berharap ini sih happy ending. Semoga sehun dapet pencerahan lah ya biar gak dingin2 gitu sama seunghee, hehe. Segitu dulu keep writing thor…

  4. Udah ke bongkar ya kalo si Sehun kakaknya Seunghee. Kayanya Seunghee suka sama Kookie. Kookie disini pemalas banget ya, dingin lgi. Jujur ya thor, sebenernya aku lebih penasaran hubungannya Chan sama Nami. Next chap sangat di tunggu author nim. Berharap Chan sama Runa sih ya hee

  5. Ku kira seungheenya suka ama Baekhyun tahunya ama..Jungkook toh….yah…Baekhyun jadi jomblo disini?
    Apa kabar ama si Yeol? Lg syuting kali ya jd Lee Yeol di missing 9. Wkwkkwkkww..

  6. tidaaaaaaaaaaaaaaakkkkk, ternyata ini baru up toh ku kira udah ada chap 12nya kekekekek. seriously, aku baru pertama kali baca di blog ini, dan langsung baca ini, dan pengen cepet2 di up chapter selanjutnya kalo bisa setelah detik ini. /guyur saja aku mak.
    alurnya bikin enjoy pas baca, ngambil permasalahannya juga gak terlalu rumit, ngejelasin tentang runanya gimana ya, kayak ada kesan tersendiri aja sih. aku ngeliatnya sih kayaknya endingnya runa bakal sama sehun /cenayang detected. pokoknya semangat nulis buat chapter selanjutnya~~~~~
    p.s : spoiler dung sampe chapter berapa ini kira-kira wkwkkw

  7. Kyaaaa… Runa udah tahu kalau Sehun kakaknya Seunghee. Jungkook udah mulai banyak bicara, apa iya Seunghee suka dama Jungkook? 🙂
    Ceritanya kurang panjang. 😀
    Gak ppa tetap seru aku selalu ngikutin tiap chapternya 🙂 semangat!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s