SWITCH – 3rd MOSSAIC — IRISH’s Story

irish-switch-2

s      w      i      t      c      h

|  Jongdae x Hyunhee  |  Fantasy x Historical x Mystery x Romance  |  Chapterred x Short Story  |  Teen  |  by IRISH  |

|  prompt from EXO`s 3rd Repackage Album Song Title: She’s Dreaming  |

Show List:

ForewordPrologue1st Mossaic 2nd Mossaic — [PLAYING] 3rd Mossaic

A night thick with moonlight
It’s our only time together

♫ ♪ ♫ ♪

In Author’s Eyes…

Putri Munseong. Kim Sukwon. Heo Jun. Kim Jongdae.

Empat nama itu terus berputar di benakku. Mengingat bagaimana rasa nyeri—yang muncul ketika aku berada di tubuh Lady Jo—menyerangku ketika aku mengingat tentang Heo Jun, aku rasa Lady Jo punya masalah dengan Heo Jun, tabib istana itu.

Dan Putri Munseong jelas sumber masalah utamanya—dari yang kubaca di sejarah yang semalam kucari. Sukwon, dan Jongdae, adalah dua orang yang sama-sama belum aku ketahui tujuannya.

Bagaimana Jongdae bisa ada di zaman itu, bagaimana Sukwon bisa menjadi selir raja karena Lady Jo mendapatkan serangan senja itu… semuanya masih menjadi tanda tanya.

Well, aku sendiri sekarang terjebak di sudut perpustakaan. Memang aku bisa disebut sebagai seseorang yang terlampau sering berada di perpustakaan. Tapi sejak terakhir kali menyelesaikan masalah Myunghee, aku tidak lagi berkutat dengan pelajaran sejarah.

Kali ini ada banyak sejarah yang harus aku ketahui mengenai kepemimpinan Raja Gwanghae. Di dalam sejarah—yang belum berubah karena keterlibatanku nanti—ia dikatakan memiliki dua orang keturunan, seorang Putra Mahkota dari Putri Munseong dan seorang Putri dari selirnya.

Raja Gwanghae sendiri sebenarnya bukan keturunan kerajaan. Ia hanya putra dari salah seorang petinggi kerajaan di saat itu. Lalu apa masalah Lady Jo sebenarnya? Apa?

TAP!

Hey!” tanpa sadar aku memekik saat seseorang menepuk dahiku dengan cukup keras. Saat aku membuka mata, tampak Jongdae dengan cengiran khas miliknya, dan ya, ia baru saja membuatku jadi sasaran lirikan tajam beberapa orang di perpustakaan.

Aku berdecak kesal saat Jongdae tak kunjung mengucap sekedar kata maaf, kusadari ia juga baru saja menempelkan sebuah stick notes berwarna merah muda di dahiku.

“Apa-apaan ini? Kenapa kau ada di sini?” tanyaku sembari mengambil stick notes yang ada di dahiku. Jongdae sendiri dengan santai duduk di kursi kosong yang ada di sebelahku, masih dengan sikap santai yang sama ia membolak-balik buku sejarah tebal yang sedari tadi sibuk kubaca.

“Kau meninggalkanku bersama Yeonhwa. Tahu sendiri aku sama sekali tidak suka berduaan dengannya.” ujarnya, tatapannya masih sibuk meneliti kertas usang berisikan tulisan hanja yang sejak satu jam lalu membuatku mengabaikannya dan Yeonhwa.

“Anggap saja aku memberimu kesempatan untuk sedikit akrab dengan Yeonhwa.” balasku sengit, kuperhatikan apa yang Jongdae tulis di stick notes merah muda tersebut, sebaris kalimat segera menyambutku.

Night Walkers Of Gwanghaegun? Apa ini?” tanyaku tidak mengerti.

“Kejutan yang kujanjikan untukmu.” sahut Jongdae, sekon kemudian ia menatapku dengan senyum terukir di wajahnya. “Aku sudah bilang ada kejutan untukmu, bukan? Karena semalam kau sudah memberiku tumpangan di apertemenmu, jadi aku juga harus menepati janjiku.”

Aku menatap Jongdae lamat-lamat, berusaha memahami ucapannya saat kini sebaris kalimat yang ada di stick notes tersebut kembali memberiku pertanyaan. Gwanghaegun. Bagaimana bisa Jongdae menulis kalimat ini saat aku tengah kelimpungan karena hal yang sama?

Bukankah di zaman ini orang-orang sering menyebut dinasti ke-15 sebagai Gwanghaegun? Apa ini kebetulan lainnya? Atau ada hubungannya juga dengan alasan aku terjebak di dalam tubuh Lady Jo?

“Lalu apa kejutannya?” tanyaku membuat Jongdae menatap dengan alis bertaut.

“Apa kau sudah tidak ingin bekerja, huh? Baiklah, aku akan berikan tawaran ini pada pencipta lagu lainnya.” ucap Jongdae dengan nada kesal, tangannya dengan cepat berusaha merebut stick notes yang ada di tanganku tapi tentu saja aku mengelak dengan tidak kalah cepat.

“H-Hey! Seenaknya saja menuduhku, jelaskan dulu apa maksud kalimat ini.” gerutuku setengah kesal.

Jongdae menghela nafas panjang. Sekon kemudian ia menumpukan sikunya di meja, dan menatapku dengan tatapan mencemooh khas miliknya.

“Kau tahu aku sudah jadi pemeran pembantu selama tujuh tahun, bukan?” ia mulai berkelakar. Ya, memang. Seorang Kim Jongdae yang tak lain adalah sahabatku merupakan aktor yang memulai karirnya tujuh tahun lalu, dan memang, selama tujuh tahun ia tidak pernah mendapatkan gelar ‘pemeran utama’ malah selalu menjadi peran pembantu.

Itu juga alasan yang membuatnya masih bisa berkeliaran seenaknya bersama aku dan Yeonhwa. Karena ia bukanlah aktor papan atas yang dikenal semua orang. Kebanyakan orang seringkali mengira ia mirip dengan pemain film—padahal sebenarnya pasti memang Jongdae yang dimaksud—tanpa ada yang benar-benar pernah mengenalinya.

“Ya, aku tahu. Lalu apa hubungannya?” tanyaku setelah terdiam beberapa saat.

Jongdae memamerkan senyum bangga, sekon kemudian ia mendekatkan wajahnya ke arahku, ekspresinya sekarang terlihat seolah ia akan membocorkan rahasia negara pada seorang teroris.

“Kali ini aku akan jadi pemeran utama sebuah drama.”

“B-Bena—” Jongdae membekap mulutku saat aku hampir saja memekik histeris karena kalimatnya barusan.

“Jangan berisik, bodoh. Syutingnya bahkan belum dimulai.” gerutu Jongdae memperingatkanku. Aku mengangguk-angguk cepat seperti orang bodoh, tanganku dengan cepat mendorong lengan Jongdae.

“Benarkah?”

“Ya, aku lolos audisinya, dan mereka bilang bahwa wajahku punya sedikit kemiripan dengan karakter utama drama tersebut.” tutur Jongdae.

“Dan judul dramanya adalah ini?” kataku menunjukkan stick notes yang tadi ia tempelkan di dahiku. Jongdae mengangguk-angguk cepat mengiyakan ucapanku. Baiklah, jadi ia akan menjadi pemeran utama sebuah drama yang dari judulnya bisa kuduga sebagai drama saegukhistorical—dan ia—

Tunggu dulu.

“Lalu apa kejutan untukku? Mengetahui kalau kau akan jadi pemeran utama sebuah drama bukanlah sebuah kejutan untukku tapi kemajuan bagimu, Jongdae-ya.” aku kemudian menyadari bahwa sedari tadi ia membicarakan tentang keuntungan yang sudah ia dapat tanpa memberitahuku tentang kejutan yang sejak kemarin ia pamerkan.

“Apa kau tidak bisa menebaknya dengan sekali melihat?” tanya Jongdae, memamerkan ekspresi terluka seolah aku adalah orang bodoh yang sedari tadi ia ajak bicara dan tidak memahami maksud ucapan Jongdae sebenarnya.

“Aku tidak mengerti. Aku akan bisa melihatmu syuting, begitu?” tanyaku membuat Jongdae mencibir kesal. Tangannya sudah bergerak untuk mengacak rambutku saat aku memamerkan tinjuku padanya.

Tsk, kau ternyata masih saja bodoh seperti dulu.” gerutunya, menatap ke arah pintu perpustakaan sejenak sebelum melanjutkan. “Sudah jelas kau itu pencipta lagu, dan aku akan bermain di drama saeguk. Bukankah dari dulu impianmu adalah menciptakan sound track untuk drama saeguk?” tanya Jongdae membuatku terperangah.

“Bagaimana kau tahu?” tanyaku tak percaya.

Jongdae menatapku. “Kau menulisnya di lembar profile-mu, saat kita dulu sama-sama akan ikut audisi untuk entertainment. Kau tidak ingat? Aku bahkan masih mengingatnya dengan jelas.”

Ah, ya benar. Mengingat aku dan Jongdae bertemu sepuluh tahun lalu saat aku memberanikan diri untuk mendaftar sebagai salah seorang penulis lagu di entertainment kecil yang ada di Seoul, aku ingat Jongdae memilih bagian akting saat itu.

Ya, Jongdae benar, kami memang sama-sama diminta menulis keinginan untuk karir kami kedepannya, dan aku dulu menulis bahwa aku ingin menciptakan sound track untuk sebuah drama historical.

“Jadi, apa kejutannya adalah aku… bisa membuat sound track untuk drama ini, begitu?” kataku, tersadar bahwa Jongdae benar-benar sudah membawakan sebuah kejutan untukku.

“Mereka tidak bilang begitu. Mereka bilang padaku kalau aku bisa merekomendasikan penulis lagu yang berbakat untuk menciptakan musik bernuansa sejarah.”

“Sebenarnya aku tidak mau merekomendasikanmu, karena aku tahu kau tidak pernah membuat musik bernuansa sejarah. Tapi… aku ingat tentang impianmu, jadi aku dengan bangga merekomendasikan namamu, Hyeon.” tutur Jongdae, menekankan nama akhirku sebagai tanda bahwa ia pasti sudah bersusah payah merekomendasikan namaku pada tim produksi, sekaligus memperingatkan padaku bahwa aku tidak boleh membuatnya malu.

“Berapa lama waktunya?” tanyaku.

“Mereka bersedia menunggu dua minggu untuk demo berdurasi satu menit. Kalau musikmu bagus, mereka bisa menerima sekitar dua atau tiga lagu yang kau ciptakan.” Jongdae tersenyum, tangannya bergerak mengacak-acak rambutku sembari berucap.

“Kau tahu aku akan lebih bersemangat untuk syuting adegan yang penting jika musik ciptaan sahabatku sendiri dimainkan, bukan?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku membolak-balik stick notes yang Jongdae berikan padaku. Sudah hampir dua jam aku berkutat di depan laptop tapi tak ada sedikit pun musik yang terlintas di benakku. Aku sudah menghabiskan dua kaset berisi lagu sejarah tapi nihil, aku sama sekali tidak punya ide.

Jongdae mengingatkanku kalau ia baru akan memulai syutingnya di akhir bulan depan. Itu artinya, beberapa minggu sebelum ulang tahunku, sebelum kematianku. Dan jika aku mendapatkan tempat sebagai pengisi sound track drama ini… bisakah kukatakan kalau aku sudah memenuhi impianku sebelum mati?

Tapi permasalahannya sekarang, pikiranku bahkan tidak bisa berfokus sedikit pun karena judul drama yang akan Jongdae mainkan. Gwanghaegun. Mengapa harus tentang zaman itu?

Apa ini juga ada hubungannya dengan Lady Jo? Atau ceritanya—benar. Ceritanya. Aku harus bertanya pada Jongdae tentang skrip dramanya dan peran apa yang ia dapatkan.

Lalu bagaimana aku bisa mendapatkan ide untuk musi—ah. Ya. Mungkin kembali ke kehidupan Lady Jo bisa membantu. Bukankah di zaman itu juga ada musik? Aku rasa aku bisa mendapatkan ide dengan mendengarkan musik asli di sana.

Lekas aku mematikan laptop dan perangkat musikku, beranjak keluar dari kamar dan menyalakan lampu ruang tengah apertemenku sebelum melangkah keluar dari apertemen tanpa membawa apapun.

Jika Lady Jo masih terbaring tidak sadarkan diri di kehidupannya karena serangan panah yang ia dapatkan, itu artinya tidak ada jalan bagiku untuk ia panggil ke kehidupannya.

Satu-satunya cara adalah berpindah sendiri ke kehidupan Lady Jo, sekaligus membangunkannya sebelum tiga bulan purnama. Entah di masa apa aku akan terbangun, atau berapa lama ia sudah habiskan dalam ketidak sadaran, tapi aku harus mencoba.

Karena sekarang bukan hanya kehidupan Lady Jo taruhannya, tapi impianku juga.

Dengan menaiki lift aku sampai di puncak gedung apertemen yang menyisakan ruang kosong. Aku tidak bisa berlari ke tempat tertentu dengan kolam di malam hari seperti ini, jadi jalan satu-satunya hanya berusaha bunuh diri.

Ragu, aku berdiri di ujung gedung, menatap ke tanah di bawah sana yang siap menyambutku jika aku gagal berpindah waktu. Tenang, Hyunhee. Tenang. Aku hanya perlu melompat dan memikirkan Lady Jo saja. Aku pernah melakukan perpindahan dengan cara ini sebanyak dua kali, dan jika sekarang aku berhasil, maka kehidupanku maupun kehidupan Lady Jo bisa berlanjut.

Aku merangkul lenganku kuat-kuat, menutup mata dan merasakan hembusan angin di ujung gedung ketika kurasakan bagaimana jantungku berdegup tidak karuan karena rasa takut.

Dua kali perpindahan sebelumnya kulakukan dengan melompat ke air, dan ini pertama kalinya aku nekat melompat dari ketinggian. Berhasil atau tidak, semuanya ditentukan oleh keinginanku untuk berpindah.

Tak lagi mengulur waktu, aku melangkah ke udara hampa yang kemudian menyambutku. Kurasakan bagaimana tubuhku terjatuh bebas melawan angin. Lady Jo. Lady Jo. Pikiranku terus memutar ingatan yang kudapatkan tentang Lady Jo dan apa yang sudah kulalui di sana.

Sukwon. Jongdae. Anak panah yang menembus dadaku. Aku—

Akh!”

Aku membuka mataku ketika rasa sakit luar biasa menusuk sisi tubuhku. Atap kayu yang menyambut jadi tanda bahwa aku berhasil berpindah untuk ketiga kalinya. Cepatlah beradaptasi, Hyunhee.

Lady Jo terbangun. Masa bodoh dengan bagaimana keadaan seorang Jo Hyunhee saat nanti kembali ke kehidupannya. Aku lekas melebarkan pandang, menatap sekelilingku dan kudapati pintu kayu di dekatku terbuka, menunjukkan gelapnya malam juga temaram bulan purnama.

Apa tiga bulan purnama sudah berlalu?

Sontak aku bangkit dengan panik dan—

Akh…”

“Bagaimana kau bisa terbangun?” kutolehkan pandangan saat sebuah suara familiar menyambutku.

Jongdae. Kim Jongdae. Jongdae berdiri tidak jauh dariku, dengan membawa nampan berisi dua buah cawan kayu. Tatapannya sekarang memberiku pertanyaan.

“Berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanyaku, tanganku refleks berusaha menyentuh dadaku yang terakhir kali kuingat terkena anak panah.

Rasa sakit segera menyambutku ketika kusentuh bagian yang saat itu juga merasakan nyeri. Aku meringis menahan sakitnya, karena berteriak kesakitan karena ulahku sendiri hanya akan terlihat sebagai tindakan bodoh.

“Empat malam.” jawab Jongdae—tidak dengan nada ramah yang selalu ia gunakan saat bicara denganku di kehidupanku sebagai Jo Hyunhee. Jongdae di zaman ini sangat berbeda. Heran sekali bagaimana reinkarnasinya bisa sebaik Jongdae, sahabatku.

“S-Sukwon?” tanyaku membuat Jongdae mengedikkan dagunya ke arah luar pintu kayu ruangan tempatku sekarang berada.

Tatapanku segera tertuju pada tanah kosong di luar sana, mengenali pintu kayu berwarna kuning terang di seberang ruang ini sebagai pintu bilik tempat aku tempo hari terbangun.

Jika Sukwon ada di sana, lalu aku?

“Apa ini tempat tinggalmu?” sontak aku melemparkan pandang ke arah Jongdae, sementara ia menaruh nampan di sebelahku. Sekarang ia duduk di sampingku, menatap tanpa ekspresi.

“Kau tiba-tiba saja bicara padaku. Seseorang menyerangmu dengan dua anak panah yang hampir saja membunuhmu. Hari itu kau terjatuh padaku, mengotori pakaianku dengan darahmu. Pikirmu budak itu akan berani datang ke sini untuk sekedar memastikan kau masih hidup atau tidak?” pertanyaannya sekarang membuatku menyernyit bingung.

“Memangnya kenapa?” tanyaku masih tidak mengerti.

Ia mendengus pelan, kebiasaan yang sama persis seperti Jongdae—sahabatku—lakukan ketika ia merasa kesal akibat perbuatan tidak menyenangkan seseorang.

“Ucapan orang-orang tentangmu ternyata benar. Kau memang bodoh dan punya ingatan yang sangat lemah.” ucapnya sarkatis.

Setidaknya aku harus merasa senang karena terus dan terus bertanya di kehidupan ini tidak akan membuat orang lain curiga terhadapku, bukan?

“Kau tidak menjawab pertanyaanku.” ujarku karena ia tidak lekas memberiku jawaban. Tidakkah ia tahu bagaimana bingungnya aku sekarang? Satu-satunya yang membuatku merasa senang hanya karena aku berhasil bangun sebelum tiga bulan purnama berlalu.

“Apa ingatan yang lemah juga membuatmu tidak lagi berusaha menghindariku juga mencemoohku?” pertanyaannya kini membuatku menyernyit bingung.

Sialan, sebenarnya apa masalah yang dimiliki Lady Jo ini? Dan juga, dengan siapa sebenarnya ia punya masalah? Apa Putri Munseong bukan satu-satunya sumber masalahnya?

Mengapa sekarang ucapan Jongdae ini membuatku berpikir bahwa mereka juga punya masalah pribadi yang tidak terselesaikan?

“Sebenarnya aku tidak ingat—akh!” aku memejamkan mata saat rasa sakit lagi-lagi menyerangku. Benar. Rasa sakit ini jadi alarm bagiku bahwa aku sudah benar menduga masalah seseorang.

“Berbaringlah. Aku akan membersihkan lukamu.” suara Jongdae menyadarkanku, sekaligus mengingatkanku bahwa selama empat hari absennya Sukwon di dekatku berarti bahwa dia lah yang selama empat hari ini merawat lukaku.

“Terima kasih…” lirihan itu berhasil lolos dari bibirku. Sebenarnya aku ingin menolak tawarannya dan beralasan bahwa aku bisa melakukannya sendiri. Tapi bukankah penolakan akan membuatnya bertanya-tanya tentang sikapku?

Aku akhirnya berbaring lagi, membuang pandang ke luar ruangan saat ia dengan hati-hati menyingkap sedikit bagian pakaian yang menutupi tubuhku. Sempat kulirik di mana bekas luka anak panah itu sebenarnya. Beruntungnya, dua noktah kehitaman di bagian dada atasku jadi pertanda bahwa ia tidak akan begitu banyak melihat tubuhku.

“Aku sekarang berpikir apa serangan dan anak panah itu membuatmu kembali seperti dulu, Hyunhee.”

“A-Apa?” aku tersentak mendengar ucapannya. Bagaimana bisa ia menyebut namaku seperti—seperti cara Jongdaeku?

Aku ingat benar bagaimana Jongdae—sahabatku—selalu menyebut namaku dengan cara yang berbeda. Karena orang-orang selalu menyebut namaku sebagai ‘Hyeon’ dan ‘Hee’ yang jelas menunjukkan namaku, Jongdae seringkali memanggilku dengan cepat sehingga dalam pendengaranku ia menyebut namaku sebagai ‘Hyeon-i’ dan bukannya ‘Hyun-hee’.

Lalu bagaimana bisa sekarang seseorang yang serupa dengan Jongdae menyebut namaku dengan cara yang sama?

“Kau memanggilku apa?” tanyaku tanpa sadar.

“Hyunhee.” ujarnya membuat alisku terangkat. Sama persis, ia menyebutku dengan cara yang sama seperti sahabatku lakukan. “Kenapa? Kau ingin marah karena aku tidak memanggilmu Lady Jo hanya karena kau sekarang adalah selir Raja?”

“Bukan. Bukan itu yang aku pertanyakan sekarang.” tanpa sadar aku berucap.

Jongdae—di hadapanku—tersenyum simpul, cara tersenyum yang sama persis dengan Jongdae yang kukenal. Entah mengapa membuatku merasa senang sekaligus sedih secara bersamaan. Aku merasa benar-benar tengah bertemu dengan sahabatku di kehidupan sebelumnya.

Apa mungkin… aku di kehidupan ini juga berteman dekat dengan Jongdae?

“Sejak mengetahui siapa aku, kau berubah.”

“A-Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

Masa bodoh jika ia mengatakan bahwa aku beringatan lemah lagi. Masa bodoh jika ia mengabaikanku, setidaknya aku harus mencoba untuk mencari tahu apa hubungannya dengan diriku di masa ini. Dan mengapa dari ucapan Sukwon sebelumnya, hubungan kami terkesan begitu buruk tapi sekarang ia bicara seolah ia mengenalku dengan baik.

“Apa kau lupa, Hyunhee? Kalau aku adalah penyihir yang membuatmu terjebak di kerajaan sebagai selir raja?”

P-Penyihir? Kim Jongdae di kehidupan ini adalah seorang penyihir? Tidak mungkin. Fakta konyol apa ini? Mana ada penyihir lelaki seperti—tidak. Tidak mungkin. Lagipula di buku sejarah, penyihir terakhir Joseon sudah dilenyapkan oleh Heo Jun.

Tunggu. Tubuhku di kehidupan ini akan memberi alarm berupa rasa sakit saat aku mengingat tentang Heo Jun. Dan tadi juga aku merasa kesakitan karena ingatan tentang Jongdae.

“Ingatan lemahmu juga karena aku. Aku begitu bodoh berusaha membuatmu melupakan tentangku dan malah berakibat seperti ini pada kehidupanmu. Sekarang aku mengerti kenapa kau begitu membenciku.”

Ucapannya sekarang berhasil membuatku membisu. Terlalu rumit. Masalah yang kali ini kuhadapi agaknya terlalu rumit. Mengapa semuanya membuatku merasa harus menanyakan kejelasannya padahal aku seharusnya bisa dengan mudah beradaptasi dengan kehidupan yang kutumpangi?

Jadi, Lady Jo memiliki ingatan yang lemah karena Jongdae? Dan ia juga menjadi selir Raja karena Jongdae? Lalu bagaimana dengan Heo Jun? Ia adalah tabib yang dulu melenyapkan penyihir terakhir Joseon bukan? Dan fakta apa yang sekarang aku ketahui? Jika ucapan Jongdae di hadapanku ini benar, ia adalah seorang penyihir—yang konyolnya ingin membuatku tertawa karena tahu bahwa ada penyihir laki-laki.

Bukan hanya itu, jika Jongdae sekarang berbohong, untuk apa pula ia berbohong? Membodohiku saat ia tidak tahu bahwa ada seorang Hyunhee lain yang sekarang bicara padanya? Jelas tidak. Membodohiku karena aku di kehidupan ini dikenal sebagai seorang yang bodoh dan beringatan lemah juga jelas tidak bisa menjadi alasannya.

Apa mungkin… ada hal lain yang Heo Jun sembunyikan dan juga tidak dibahas dalam sejarah? Lantas, apa aku—Lady Jo—ada hubungannya dengan masalah ini? Apa kematianku dalam sejarah… sebenarnya dimanipulasi?

Apa Jo Hyunhee di kehidupan ini membuatku terjebak di dalam tubuhnya karena ia ingin aku mengungkap masalah itu dan mencegah kematian sia-sianya yang tercatat dalam sejarah sebagai bunuh diri?

— 계속 —

.

.

.

IRISH’s Fingernotes:

Lagi-lagi, bermodalkan ost drama historical aku berusaha menyelesaikan part ketiga dari cerita ini. Meski aku tau cerita ini semakin ngalor-ngidul dan mbuletisasi (percayalah kalau aku sendiri sebenernya pusing) tapi semoga aja ada titik terang yang membuat kalian enggak tersasar semakin jauh.

Bibit-bibit masalahnya juga sudah mulai aku munculkan di part ini, supaya cukup di dua part aja ceritanya jadi blur, abu-abu, dan enggak jelas. Well, sedikit klarifikasi aja sebelum ada yang menuduh kalau ide cerita ini mengikut drama sejarah yang sedang/sudah tayang atau gimana. Aku klarifikasi kalau alur cerita ini aku usahakan mengikuti sejarah Raja Gwanghae yang sesungguhnya kutemukan di Gugel Oppa, kekasih virtualku.

Selebihnya, sisi fantasynya dan perjuangan Mba Hyunhee aku karang sesuai sama jalannya imajinasi aku, sekuat tenaga aku berusaha supaya alurnya masih ikut sama sejarah yang bener meskipun ini sepenuhnya fiksi.

Klarifikasi kedua adalah Mba Hyunhee di sini bakal sering bolak-balik teleportasi ke kehidupannya dan kehidupan Tante Jo. So, this is totally different dibanding sama drama yang sedang/sudah kalian tonton, okay. Kokoro aku sedikit terluka karena sejarahnya di sama-samain, padahal aku belajar sejarah dinasti Joseon ke-15 bukannya yang ke-1. Kebelutan aja salah temen aku yang ngidam sejarah.

Sekian dariku, selamat malam!

.

.

.

[HELP! Aku lagi-lagi butuh vote → HELP! I NEED YOUR VOTE (2) ]

.

.

| MY SHOW |

| Instagram | Line | Twitter | Wattpad | WordPress |

48 thoughts on “SWITCH – 3rd MOSSAIC — IRISH’s Story

  1. Ping-balik: SWITCH [AFTERWORD] — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping-balik: SWITCH – EPILOGUE — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping-balik: SWITCH – 14th MOSSAIC [FINAL] — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping-balik: SWITCH – 13th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping-balik: SWITCH – 12th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping-balik: SWITCH – 11th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping-balik: SWITCH – 10th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping-balik: SWITCH – 9th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping-balik: SWITCH – 8th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  10. Ping-balik: SWITCH – 7th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  11. Ping-balik: SWITCH – 6th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  12. Ping-balik: SWITCH – 5th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

    • 😄 buakakakakakka alhamdulillah kalo sejarah bisa jadi sedikit seru😄 bayangin ajaahh perlukah aku gugling kali aja ada fan editing chen pake hanbok gitu😄

  13. Ping-balik: SWITCH – 4th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  14. ayeyaaay.. alurnya udh gag abu abu lagi. jadi makin penasaran kelanjutan ceritanyaaaa. dan sekali lagi aku suka kak disini makeknya jongdae. walaupun kaka makek jongdae karena permintaan dari temen kaka yang ngidam, atau emng itu keinginan kaka sendiri, aku rasa karakter ini cocok banget ama troll chen. jadi aku enaak bacanyaa~ ngebayanginnya juga enaak. /opor buatan mamah kali yang enak./

    • 😄 alhamdulillah kalo alurnya udah engga abu-abu, aku ikut seneng😄 wkwkwkwkwkwkwk aduh ini Jongdae bias temen SD aku juga btw jadi aku pake dia😄 berhubung posternya belum ada Jongdae jadi… mungkin besok-besok posternya aku kasih Jongdae deh😄

  15. Aahh jadi si Hyunhee mau mati ya sebentar lagi? Duuhhh, aku penasaran banget sama chap selanjutnya nih kak Rish 👻👻

    Btw kak, nih kakak ‘kan belajar sejarah negara oppa, awas nanti lupa tanggal kemerdekaan negara bundaa 😂😂

  16. Woooo chen penyihir… Ceritanya bener2 ngajak yg baca juga buat mikir anjiirr. Keren banget huhuhu😭 SUKAAAAKKK. Keep writing kak irish, semangat!!

  17. Chen penyihir? ada ya cowok jadi penyihir? serah kak irish dah, orang ceritanya gregetan kayak begini, bikin penasaran binggo, wkwk😄
    Kak, ini updatenya cepat sekaleeee, eki suka deh, wkwk.😄
    Keep writing kak rish, hwaiting baca buku sejarah negara orang yaw /plakk/😄

  18. sebelum comment aku mau bilang OMG….FINALLY CHENTONGQUEE KETEMU SAMA ANAKNYA DAEUL AAKNCXSSAGQWE HUHU SUMPAH SENENG LIATNYA YEEEY XIUCHEN KUMPUL KELUARGA#haha

    woow disini sudah lebih jelas sekarang..sebagia pertanyaan terjawab syudah…jd chentong jadi penyihir?? tp ko dia nolongin hyunhee??kukira chentongque jahad….terus yg sukwon itu gimana si msh penasarin bgt huhu..waah cara reinkrainasiny ngeri juga yeth…jan” mereka jodoh eeaa
    oiya aku mo minta maaf sm kailish sambalado..aku ngerasa waktu itu comment alurny mirip drakor……tp sumpah itu seketika aja inget sm drama itu…tp tetep 100%beda ko alurnya ish maapkeun saya ya ka mwehehe

    eh btw btw ciee eksoh ot10.wkwkwk cukek yeth ahahaaha ciee fighting kailish

    • Buakakakakak ziyal ane sempet salfok sama Daeul jadinya😄 wkwkwkwkwkwk iya chentong kujadiin penyihir biar greget gitu idupnya😄 wkwkwkwkwkwkwkwk sebenernya alur itu yang engga bisa disamain, kalo konsep kerajaan mah gapapa disama-samain, tapi alur ini engga bisa😄 wkwkwkwkwk exo ot10 sama jaesuk ya hahaha

  19. wah, udah publish.. Aish.. Ceritanya bikin kepo, penasaran banget..
    Eum.. Kak rish aku juga minta maaf udah nyamain drama ini itu, tapi sumvah kak gak ada maksud lain. Cuma keinget aja kalo baca ff ini. Maaf ya kak kalo udah nyinggung perasaan kak rish😥. Ku sadari memang daku readers gak tau diri.. Hehehe🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s