SWITCH – 8th MOSSAIC — IRISH’s Story

irish-switch-2

s      w      i      t      c      h

|  Jongdae x Hyunhee  |  Fantasy x Historical x Mystery x Romance  |  Chapterred x Short Story  |  Teen  |  by IRISH  |

|  prompt from EXO`s 3rd Repackage Album Song Title: She’s Dreaming  |

Show List:

ForewordPrologue1st Mossaic 2nd Mossaic3rd Mossaic4th Mossaic5th Mossaic6th Mossaic7th Mossaic — [PLAYING] 8th Mossaic

I’m going crazy, I wanna be greedy
Even holding you and telling you I love you

♫ ♪ ♫ ♪

In Author’s Eyes…

“Dia tahu tentangku, Woo Ryung.”

“Dia?” Woo Ryung mengulang, tatapannya sekarang tertuju pada Jongdae yang tengah sibuk dengan beberapa buah cawan kayu di meja.

“Hyunhee. Dia tahu aku adalah seorang penyihir.” Jongdae menerangkan, sementara jemarinya masih sibuk dengan beberapa macam dedaunan kering.

“Bagaimana dia bisa tahu?” tanya Woo Ryung tidak menyembunyikan keterkejutannya. Pemuda itu lantas mendekati Jongdae, meninggalkan sebilah pedang yang sedari tadi ditimangnya penuh sayang.

Tak ayal pertanyaan Woo Ryung juga membuat aktivitas Jongdae terhenti. Sesungguhnya ia juga tidak tahu bagaimana Hyunhee bisa tahu tentang identitasnya. Ia ingat benar tak ada satupun tindakannya yang menunjukkan bahwa ia berbeda, tapi Hyunhee tahu.

“Aku juga menanyakan hal yang sama pada Hyunhee.” jawab Jongdae, sekon kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti.

“Selain aku, siapa lagi yang tahu kalau kau adalah penyihir?” Woo Ryung agaknya tengah berucap pada diri sendiri, tapi di telinga Jongdae sekarang ucapan pria itu terdengar seolah ia tengah bertanya.

“Aku tidak tahu, Woo Ryung. Aku sungguh tidak tahu.”

“Lalu apa yang Hyunhee katakan?” tanya Woo Ryung kemudian.

Jongdae terdiam sejenak sebelum ia akhirnya menggeleng pelan. “Tidak ada. Ia tidak mengatakan apapun. Hanya memohon padaku untuk menolong Hyunwoo dan Pelajar lainnya.”

“Dan kau setuju?”

“Ya. Aku berjanji akan menolong adiknya.”

Ucapan Jongdae sekarang malah berhasil membuat Woo Ryung terlongo. Apa yang Hyunhee dan Jongdae lakukan terlampau aneh dalam pemikiran Woo Ryung. Tidak masuk akal. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana bisa keduanya bersikap biasa saja setelah mengetahui sebuah fakta mengerikan seperti itu.

“Dia pasti sudah tidak waras.”

“Siapa? Hyunhee?” tanya Jongdae memastikan.

“Ya. Tentu saja dia. Maksudku, bagaimana bisa dia sama sekali tidak terkejut karena mengetahui kau adalah seorang penyihir? Kupikir dia sudah tidak waras lagi.” ucap Woo Ryung membuat Jongdae tergelak.

“Aku juga berpikir seperti itu,” ucap Jongdae kemudian, “tapi entah mengapa aku merasa senang, karena setidaknya ia tak akan menjauh dariku.” sambungnya membuat Woo Ryung menghembuskan nafas panjang.

“Kau senang? Kau malah terlihat lebih aneh karena merasa senang.”

Hanya sebuah senyum kecil yang Jongdae berikan sebagai jawaban.

“Cinta sudah membutakanmu, hyung?” tuntut Woo Ryung. “Kau tidak ingat siapa dia sekarang? Dia sudah jadi gisaeng di istana, bersama beberapa gelintir gisaeng pilihan lainnya. Tidakkah kau tahu apa hal yang paling masuk akal untuk terjadi?”

Jongdae terdiam sejenak. “Dia akan menjadi salah satu selir Raja, begitu?” tanyanya dijawab Woo Ryung dengan sebuah anggukan pasti. “Kau sudah tahu jelas jawabannya.”

Memilih membiarkan Woo Ryung berspekulasi, Jongdae menyibukkan diri dengan menata cawan-cawan miliknya di atas rak kayu kecil yang ada di meja. Sementara Woo Ryung masih menatapnya penuh tanya, sekaligus berpikir bagaimana bisa keadaan seaneh ini bisa terjadi.

“Sebelum ia menjadi selir Raja seperti perkiraanmu, aku akan mengungkapkan perasaanku padanya.” ucapan Jongdae berhasil membuat Woo Ryung terperangah.

“Kalian berdua rupanya sudah sama-sama kehilangan akal sehat.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Hyunhee’s Eyes…

Aku tidak bisa duduk dengan tenang. Dengan pakaian gelap yang sudah Jongdae berikan padaku kemarin sore. Kini aku sudah siap di dekat pintu, menunggu kedatangan Jongdae.

Ada sebersit rasa takut dalam diriku yang memaksa untuk mundur dan pasrah saja pada takdir yang akan terjadi, tapi aku enggan mengalah. Ego telah memaksaku untuk tetap bertahan dengan rencana yang sudah kususun sekarang, apapun yang akan terjadi.

Tidak banyak waktu tersisa untukku dan aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu dengan duduk manis dan menikmati berjalannya waktu. Kematian mengejarku pada kenyataannya, dan aku bahkan tidak bisa tahu apa yang akan jadi penyebab kematianku.

Kecelakaan kah? Atau kesengajaan?

Semua asumsi-asumsi buruk terus bermunculan dalam benakku. Memicu ketakutan yang mungkin bagian kecil diriku inginkan untuk menjadi alasan mundurnya aku dari rencana ini.

Tapi tidak, sekali lagi aku tidak akan terpengaruh oleh sisi minoritas dalam diriku.

Kematian Hyunwoo sudah di depan mata, dan aku tidak bisa berdiam diri. Meski Lady Jo mungkin lebih menyukai absennya sang adik dari hidupnya, aku tidak bisa menjadi keji seperti itu.

Untuk saat ini, aku lah Lady Jo, dan Hyunwoo adalah adikku, meski sebenarnya bukan. Dulu aku memang tidak menjalin hubungan yang begitu dekat dengan Hyunwoo, tapi kemudian kematiannya menjadi sumber penyesalan terbesar dalam hidupku.

Aku yakin, meski sekarang Lady Jo bersikap seolah ia begitu membenci adiknya, tapi aku tidak ingin ia merasakan penyesalan yang sama di kemudian hari. Aku juga tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi karena ulahku sekarang, tapi daripada membayangkan apa belum terjadi, bukankah lebih baik jika aku berfokus pada apa yang segera aku hadapi?

“Hyunhee?” aku terkesiap saat mendengar suara Jongdae di luar ruanganku.

“Aku siap.” sahutku menjawabnya. Bayangan Jongdae terlihat dari tempatku duduk sekarang, aku juga bisa melihat bayangan sarung pedangnya dan busur panah yang ada di punggungnya.

Segera, aku meraih beberapa senjata yang sudah kusiapkan dan menyelinap keluar dengan hati-hati. Meski semua orang mugkin sudah terlelap, tapi aku tetap ingin menjaga diriku agar tetap waspada.

“Woo Ryung ikut?” tanyaku saat menemukan bayangan Woo Ryung di bawah pohon yang ada di halaman.

“Ya, dia memaksa untuk ikut membantu.” ucap Jongdae, memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah dan akhirnya membuatku tergelitik untuk bertanya. “Mengapa menatapku seperti itu?”

Ia tersenyum tipis, dan menggeleng. “Tidak ada. Woo Ryung sudah membawa beberapa ramuan yang akan membantu. Kau akan pergi denganku setelah Woo Ryung pergi terlebih dahulu.”

“Mengapa tidak pergi bersama-sama?” tanyaku curiga.

“Satu orang saja sudah cukup untuk menebarkan ramuan itu di sekitar tahanan, Hyunhee-ah.” ucap Jongdae menerangkan. Aku ingin sekali bertanya tentang ramuan apa yang sudah ia buat, atau bagaimana efeknya, aku ingin sekali menanyakan semua hal tentangnya yang belum kuketahui tapi aku rasa sekarang bukanlah waktu yang tepat.

Suara gemerasak kecil di dekat kami mengalihkan perhatianku. Woo Ryung sudah tidak terlihat di mana pun. Apa dia sudah pergi.

“Kemari, duduklah di sini, kita hanya perlu menunggu Woo Ryung kembali.” ucap Jongdae kembali mengalihkanku. Ia sudah duduk di dekat pintu kediamanku, menyandarkan tubuhnya dan menatap langit malam.

Aku akhirnya melangkah pelan mendekati Jongdae, duduk di sebelahnya dan ikut berdiam seperti yang ia lakukan sekarang.

“Apa yang kau pikirkan?” tanyaku kemudian.

“Banyak yang kupikirkan, sangat banyak. Tapi aku bisa menanyakannya nanti, jika rencana kita sudah selesai.” ucap Jongdae, memamerkan sebuah senyum kecil padaku.

Aku terdiam beberapa saat. Ada banyak hal yang pasti akan Jongdae pertanyakan padaku, termasuk tentang bagaimana aku bisa tahu tentang identitasnya, apa yang akan kami lakukan setelah ini, kemana aku berencana menyembunyikan Hyunwoo… dan masih banyak lagi.

Tapi sekarang ada satu hal yang menggangguku, jika aku kembali ke kehidupanku, apa yang akan terjadi pada Lady Jo dan Jongdae? Bagaimana jika keadaannya jadi lebih buruk daripada yang sudah kualami? Bagaimana jika Lady Jo tetap tidak menerima fakta bahwa Jongdae adalah penyihir? Apa yang akan terjadi pada Jongdae?

Tidak. Aku tidak bisa membiarkan semuanya menjadi lebih kacau.

“Jongdae-ya.” akhirnya aku berucap.

“Ya, Hyunhee-ah?” ucapnya sambil menatapku, menunggu aku kembali bersuara sementara aku masih tidak tahu darimana harus memulai konversasi ini atau setidaknya sedkit memberinya petunjuk mengenai apa yang sedang terjadi.

“Apa kau… percaya hal-hal yang tidak masuk akal?” tanyaku.

Jongdae tersenyum kecil. “Apa pertanyaan itu untuk menyindir keberadaan orang-orang sepertiku?” ia malah balik bertanya, sedikit mengejutkanku, memang. Karena pada kenyataannya bukankah keberadaan penyihir seperti Jongdae saja sudah dipandang tidak masuk akal?

Tapi situasiku sekarang berbeda. Setidaknya Jongdae punya kepastian tentang identitasnya, tentang apa yang terjadi padanya. Lalu bagaimana denganku?

“Bukan itu maksudku, tapi… apa kau percaya, jika kukatakan bahwa di dunia luar sana… ada hal lain yang juga hidup?” tanyaku membuat Jongdae terdiam. “Dunia luar? Dunia luar mana yang kau maksud?”

Dunia lain tempat aku tinggal, tentu saja. Dunia yang sama dengan tempat ini tapi memiliki waktu yang berbeda. Dunia yang bagaimana proses aku bisa melewati ratusan tahunnya… tidak bisa kujelaskan.

“Lupakan saja… pertanyaanku terlalu rumit, bukan? Aku hanya tengah berpikir, apa yang mungkin terjadi jika aku tidak ada di sini, jika aku berada di tempat lain dan tidak bisa kembali ke sini, apa semuanya akan tetap baik-baik saja?

“Kadang aku juga berpikir, apa di kehidupan sebelumnya aku juga seperti ini? Jika aku mati nanti, apa aku bisa terlahir kembali menjadi seseorang yang lebih baik?”

Aku menghentikan ucapanku, menyadari bahwa apa yang kukatakan sekarang pasti terdengar begitu aneh dan janggal di pendengaran Jongdae. Ia pasti sebentar lagi akan mempertanyakan apa maksud ucapanku, dan apa tujuanku mengucapkan semua itu.

“Kau akan baik-baik saja.”

“Apa?” aku menatap Jongdae saat ia berucap.

“Dimana pun kau berada, seperti apapun kehidupanmu, jika kau tetap punya keinginan untuk hidup, semuanya pasti akan baik-baik saja. Mengapa kau perlu khawatir pada kehidupanmu sebelumnya atau sesudahnya? Kau sekarang hidup di sini, kau sedang menjalani kehidupan ini, untuk apa mempertanyakan hal yang bahkan tidak bisa kau temukan jawabannya?

“Kenapa kau ingin tahu tentang apa yang dulu terjadi dan apa yang akan terjadi? Jika kau bisa melakukan dengan cukup baik di hari ini, yakinlah kalau esok hari akan jadi lebih baik. Jangan memaksakan diri untuk semena-mena ingin mengubah takdir kehidupanmu, tapi jalanilah waktu yang diberikan untukmu dan lakukanlah pilihan yang tepat untuk mendapatkan takdir yang tepat pula.”

Aku terkesiap mendengar ucapan Jongdae. Ia benar. Aku tak akan bisa mengubah takdir, tapi aku setidaknya bisa memilihnya. Jika Hyunwoo memang ditakdirkan untuk mati pada akhirnya, setidaknya aku harus memastikan bahwa ia tidak akan mati dengan tidak adil karena hukuman.

Jongdae juga benar mengenai kehidupanku. Aku sekarang hidup sebagai Lady Jo, untuk apa aku khawatir pada sisa waktu yang diriku—Jo Hyunhee—miliki pada kenyataannya? Kematian toh akan menjemput setiap orang, untuk apa aku mengkhawatirkannya? Yang perlu kukhawatirkan adalah bagaimana aku harus menghabiskan waktu-waktu terakhirku.

“Aku sudah selesai.” sebuah suara menghentikan konversasi kami. Aku bahkan tidak menyadari kalau Woo Ryung sudah kembali, ini saatnya bagiku dan Jongdae membawa Hyunwoo.

Benar, Hyunhee. lakukan yang terbaik sekarang, supaya kau bisa kembali ke kehidupanmu dan menyelesaikan masalah yang ada.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Ramuan yang Jongdae ciptakan dan sudah disebarkan oleh Woo Ryung rupanya adalah bagian dari ramuan penidur yang membuat para penjaga terlelap pasca menghirupnya.

“Jangan khawatir, mereka tidak akan terbangun walaupun kita membuat keributan.” ucap Jongdae saat Hyunhee terlihat tidak yakin untuk melewati penjaga-penjaga tersebut.

“Aku hanya tidak tahu jika rencananya akan berjalan semudah ini.” ucap Hyunhee, sedikit merasa aneh juga karena dibayangannya mereka akan menghadapi situasi yang cukup sulit untuk dihadapi, tapi kenyataannya mereka bisa masuk ke tahanan dengan sangat mudah.

“Bagian tersulitnya bukan di sini.” ucap Jongdae, mengedikkan dagunya ke satu arah, membuat Hyunhee ikut menatap ke arah yang ditunjuknya. Betapa terkejutnya Hyunhee kala menemukan semua tahanan di sana tertidur.

“Woo Ryung sudah menyiapkan kereta di belakang, kita harus membawa mereka keluar dari istana, bukan?” Hyunhee mengangguk mendengar ucapan Jongdae. Dan benar ucapan pemuda Kim tersebut, bagian tersulitnya bukanlah melewati penjaga, tapi membawa Hyunwoo dan beberapa Pelajar lainnya keluar dari tahanan.

Butuh waktu lumayan lama bagi dua orang itu untuk membawa satu persatu Pelajar tidak sadarkan diri di sana untuk keluar dari tahanan dan dibaringkan di dalam kereta yang Woo Ryung bawa.

“Percayakan sisanya pada Woo Ryung. Dia sudah menemukan tempat di pinggir hutan yang aman untuk mereka semua bermalam hari ini.” ucap Jongdae saat melihat kekhawatiran Hyunhee ketika Woo Ryung bergerak menarik keretanya.

“Apa dia bisa melakukannya sendirian?” tanya Hyunhee membuat Jongdae mengerjap cepat. Ini sudah kedua kalinya dugaannya tentang Hyunhee meleset. Dan tentu saja, Jongdae merasa janggal akan hal ini.

Biasanya Jongdae adalah seorang yang bisa menebak dengan pasti tentang apa yang tengah Hyunhee pikirkan dan ingin lakukan.

“Apa kau ingin naik ke kereta juga untuk memastikan Woo Ryung akan membawa mereka dengan selamat?” tanya Jongdae disahuti dengan sebuah gelengan pelan oleh Hyunhee. “Apa kau butuh bantuan?” lagi-lagi Hyunhee bertanya, secara tidak langsung membuat Jongdae sudah salah menduga sebanyak tiga kali.

“Aku bisa melakukannya. Kembalilah bersama Jongdae, aku mungkin tidak akan kembali sampai esok hari.” ucap Woo Ryung, mengabaikan tawaran Hyunhee dan memilih menarik kereta kecil tersebut sendirian.

“Apa yang kau khawatirkan? Hyunwoo?” tanya Jongdae ketika Hyunhee masih juga bergeming di tempatnya berdiri sedari tadi.

“Tidak. Aku mengkhawatirkan Woo Ryung. Dia mungkin terlihat kuat, tapi apa dia akan sanggup membawa enam orang itu ke hutan?” Hyunhee menggumam, tatapannya masih lekat tertuju pada Woo Ryung dan kereta kecilnya yang sudah bergerak menjauh.

Sontak ucapan Hyunhee berhasil membuat Jongdae menahan tawa.

“Apa kau pikir dia akan menarik kereta tersebut sampai ke hutan? Dia hanya akan menariknya sampai keluar istana. Di sana sudah ada dua ekor kuda yang akan benar-benar membawa keretanya ke hutan.”

“Benarkah?” Hyunhee menatap terkejut. Jongdae hanya menggeleng pelan, lantas ia dengan gemas mengacak anak rambut Hyunhee yang terurai. “Hyunwoo sudah keluar dari tahanan. Bukankah sekarang saatnya aku menagih imbalanku?” tanya Jongdae menyadarkan gadis itu.

“Oh, ya. Benar. Tapi… apa yang akan terjadi besok pagi saat mereka sadar Hyunwoo dan yang lain sudah menghilang?” ucap Hyunhee kemudian.

“Sudah kukatakan untuk tidak mengkhawatirkan esok hari, bukan?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Hyunhee’s Eyes…

Aku dan Jongdae tidak banyak bicara sepanjang perjalanan pulang. Ia hanya mengutarakan satu atau dua pertanyaan saja sebelum akhirnya keheningan kembali mendominasi, seolah memberiku waktu untuk berpikir.

Hyunwoo selamat. Sudah tidak ada masalah lagi yang harus Lady Jo khawatirkan—tunggu, bukankah aku ditariknya ke kehidupan ini karena ia punya masalah yang tidak bisa diselesaikan?

Akh…”

“Hyunhee-ah? Gwenchana?” pertanyaan Jongdae membuatku terkesiap. Rasa sakit ini, lagi. Rasa sakit yang dulu seringkali terjadi padaku ketika aku akan kembali ke tubuhku. Apa ini artinya sebentar lagi aku akan tidak sadarkan diri dan terbangun sebagai Jo Hyunhee lagi?

Benar. Jika alasan aku ditarik ke sini adalah Hyunwoo. Itu artinya… sebenarnya Lady Jo tidak ingin melihat Hyunwoo mati, dan ia ingin aku menyelamatkannya. Sekarang, Hyunwoo sudah selamat, sudah tidak ada masalah yang berhubungan dengan Lady Jo lagi.

Satu-satunya masalah yang tersisa hanyalah… penjelasanku pada Jongdae. Dan aku harus secepat mungkin membuat alasan yang masuk akal untuknya, sebelum aku ditarik kembali ke kehidupanku.

“Aku baik-baik saja. Tapi, Jongdae-ya…”

“Kenapa? Ada apa?” Jongdae masih menatap panik.

“Satu malam yang kau minta itu, bisakah malam ini saja?” pintaku, menatap Jongdae penuh harap, aku tidak punya banyak waktu, dan aku juga tidak tahu kapan diriku akan ditarik ke kehidupanku sesungguhnya.

“Mengapa?”

“Aku…” ucapanku terhenti. Haruskah aku katakan padanya bahwa aku tak punya banyak waktu tersisa di kehidupan ini? Bahwa ia bisa saja menganggapku aneh karena tiba-tiba terbangun dan melupakan apa yang sudah terjadi?

“Aku tidak punya banyak waktu, Jongdae-ya. Kau bilang kau ingin penjelasan dariku, bukan? Penjelasan itu, biarkan aku mengatakannya sekarang.”

Jongdae terdiam sejenak.

“Aku tidak memintamu meluangkan satu malam hanya untuk menjawab semua pertanyaanku. Ada apa denganmu, Hyunhee-ah?” tanya Jongdae. Aku baru saja akan menjawabnya ketika rasa sakit lagi-lagi menyerangku. Sekuat tenaga aku berusaha menahannya, berharap aku masih sempat menyelesaikan semua penjelasanku sebelum kesadaranku terenggut.

“Tidak. Kalau begitu kau tidak perlu bertanya, aku akan dengan senang hati menjelaskannya secara singkat.” ucapku memutuskan. Jongdae awalnya menatap curiga, tapi akhirnya ia mengangguk, menyetujui ucapanku.

“Baiklah. Aku akan mendengarkanmu.” tuturnya.

Cukup lama aku terdiam. Membayangkan kekacauan apa yang mungkin terjadi jika aku memberikan penjelasan semacam ini padanya. Apa yang mungkin aku hadapi jika aku kembali… tapi semua itu sekarang percuma. Aku tidak butuh berpikir panjang untuk sekedar mempertimbangkan baik buruknya keputusanku.

“Hyunhee yang tahu kalau kau adalah seorang penyihir, adalah aku.”

“Apa?” Jongdae menatap tidak mengerti.

“Hyunhee yang tidak membencimu meski kau adalah seorang penyihir, adalah aku. Hyunhee yang ingin menyelamatkan Hyunwoo dan berani memintamu untuk membantu, adalah aku. Hyunhee yang… Hyunhee yang tidak kau kenal, adalah aku.”

Jongdae tidak berucap apapun. Ia hanya menatapku dengan pandangan yang sama, tidak mengerti. Sungguh, aku ingin menjelaskan semuanya pada Jongdae, tapi tidak banyak waktu tersisa.

“Ingatlah, Jongdae-ya. Aku, bukanlah Hyunhee yang kau kenal. Aku bukan Lady Jo. Aku Jo Hyunhee, hanya Jo Hyunhee. Aku juga bukan Hyunhee yang ingin tinggal di istana. Aku… bukanlah Hyunhee yang entah kapan akan tiba-tiba saja membencimu.”

“H-Hyunhee-ah, apa yang kau bicarakan sekarang?” tanya Jongdae makin tidak mengerti. Tidak ada waktu, Jongdae-ya. Aku tak punya waktu untuk menjelaskannya.

“Cukup ingat saja, kalau Hyunhee yang memiliki hutang untuk meluangkan satu malam untukmu, bukanlah Hyunhee yang kau kenal, tapi aku, Jo Hyunhee.”

Lagi. Rasa sakit itu lagi.

Aku memejamkan mataku sejenak, menahan rasa sakitnya meski aku tahu tubuhku sekarang mulai mati rasa. Tidak lama lagi, tidak akan lama lagi.

“Jongdae-ya…”

“Ya, Hyunhee-ah?”

“Jika aku terbangun nanti, jangan katakan padaku kalau kau adalah seorang penyihir. Dan juga, jika sesuatu terjadi pada Hyunwoo… tolong, selamatkan dia, aku mohon, Jongdae-ya.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Jika aku terbangun nanti, jangan katakan padaku kalau kau adalah seorang penyihir. Dan juga, jika sesuatu terjadi pada Hyunwoo… tolong, selamatkan dia, aku mohon, Jongdae-ya.” Jongdae terkesiap. Pemuda itu baru saja akan membuka mulut dan bicara saat tubuh Hyunhee tiba-tiba saja limbung.

Dengan cepat Jongdae menangkap tubuh gadis itu. Meski keterkejutannya karena ucapan panjang-lebar Hyunhee tadi belum selesai, tapi ketidak sadaran Hyunhee sekarang sumber kepanikan baru baginya.

“Hyunhee-ah! Jo Hyunhee!” panggil pemuda itu, tangannya berusaha mengguncang tubuh Hyunhee, meski sang pemilik tubuh nyatanya tidak juga terjaga.

Akhirnya, Jongdae menyerah. Bersusah payah dipindahkannya Hyunhee ke dalam gendongan punggungnya, sementara pemuda itu kini melangkah sendirian, sibuk memikirkan maksud ucapan Hyunhee padanya tadi. Terlepas dari kebingungannya, ada hal yang lebih membuat Jongdae tidak bisa merasa tenang.

“Kau tidak tahu, Hyunhee-ah? Aku meminta satu malammu bukan untuk bertanya-jawab saja. Aku ingin… mengungkapkan perasaanku padamu. Tapi aku bisa apa? Kau sekarang bahkan tidak sadarkan diri.” Jongdae tertawa pelan.

Geli juga pemuda itu membayangkan bagaimana ia tadi sudah akan mengungkapkan perasaannya pada Hyunhee jika saja gadis itu tidak mendesak untuk terus bicara dan akhirnya tidak sadarkan diri.

“Apa maksud ucapanmu… Jika bukan kau, lantas siapa yang bicara padaku?”

“J-Jongdae?”

“Oh? Hyunhee-ah? Kau bangun?”

“Kenapa aku… ada di gendonganmu?”

— 계속 —

.

.

.

IRISH’s Fingernotes:

BUAHAHA. ANJIR KASIAN MBA HYUNHEE. Udah enak-enak mulai akrab sama ChenChen malah pingsan. Ehem, btw kemana lagi Hyunhee bakal berpetualang? Abis lepas dari Lady Jo di masa lalu, dia bisa balik ke badannya sendiri gak ya? Mba Hyunhee sih pake ninggal clue segala buat Mas Jongdae.

Anyway, aku heran kenapa aku bisa semangat ngetik cerita ini padahal pendek-pendek semua macem Kyungsoo, LOL. Ya sudahlah, asal tangan aku bahagia aku juga bahagia. OHO! H-3 ulang tahun Chen, kawan-kawan! Siap-siap bertemu series thriller penuh ketjup dariku, wkwk.

See you this weekend, guys!

.

.

.

[HELP! Aku lagi-lagi butuh vote → HELP! I NEED YOUR VOTE (2) ]

.

.

| MY SHOW |

| Instagram | Line | Twitter | Wattpad | WordPress |

42 thoughts on “SWITCH – 8th MOSSAIC — IRISH’s Story

  1. Ping-balik: SWITCH [AFTERWORD] — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping-balik: SWITCH – EPILOGUE — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping-balik: SWITCH – 14th MOSSAIC [FINAL] — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  4. haduhh, kasian mas jongdae, udah mau nyatain perasaan malah mba hyunhee pingssan. hadehhh.. apa jangan-jangan mba hyunhee belum siap ditembak sama mas Jongdae? trus jadinya pingsan kayak gitu /hemm malah ngawur/ -_-”
    lho itu siapa yang digendong mas Jongdae? mba hyunhee bukan? bukan mba hyunhee pasti kan?
    hahh, males ahh mikir. au ahh gelap..

  5. Lah itu si Hyunhee tiba2 pindah lagi wkwk
    Kak IRISH enak banget ya bikin Hyunhee pindah2 kapan aja wkwk
    Chen kasian banget di sini. Udah mau nyatain perasaannya, tiba2 kak IRISH bikin Hyunhee pingsan. Poor uri Chenchen wkwk

    Seharian aku nyuri2 waktu buat baca ini. Penasaran tingkat dewi sama alurnya ihh
    Sayang mata udah capek duluan gegara tugas. Aku komen juga gak di semua chapter, mian kak 😁😁😁

    Kukeep ffnya buat dibaca besok. Tunggu komenku di chapter yang terakhir diupdate ya kak. Aku komen lompat2 abis bingung mau komen apa kalo udah ada lanjutannya 😂

  6. Ping-balik: SWITCH – 13th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping-balik: SWITCH – 12th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  8. Sm” dlm keadaan kritis y jongdae yg mau nyatain cnt sm hyunhee yg akn ketarik kemasa dpn makin seruuuuuu eon neeeeeeext fighting 😀

  9. kadang suka lebih tertarik sama fingernote nya kak irish kekeke😂😂😂, btw, uu ceritanya makin duar gubrak jeder lah :v /abaikan/ kak irish jjang!

  10. Ping-balik: SWITCH – 11th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  11. udah lama di publis tapi baru baca sekarang. mungkin efek tugas sekolah jadi lupa sama ff ini. untung gak sampe lupa sama jalan ceritanya jadi hisa lanjut baca.

  12. Ping-balik: SWITCH – 10th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  13. Ping-balik: SWITCH – 9th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  14. Ah maaf kak aku baru bisa komentar di chapter 8 ini
    tapi aku like kok chap 1-8 soalnya bca nya ngebut
    awal aku baca ceritanya kok muter2 pusing butuh mikir juga hehe
    jujur aja aku gak tertarik awalnya karena sejarah tapi setelah niat baca ehh seru juga dan ini ff udh lama bersarang di email aku sayang jga klw di hapus apalgi karya kak IRISH Klw gak baca sayang mngkin nyesel melewatkan ff menarik ini🙂 mungkin ini ff pertama berebau sejarah yg aku suka karena ada fantasy nya juga..😀

    Semangat kak ^^

  15. Yaahh aku ketinggalan lagi sekarang uda chapter 8 ngebut deh bacanya :v
    Hehehe kak rish cpet bgt ya updatenya seminggu 4x ya? Huu tapi sayang berhubung aku lg sibuk jadi jarang buka exofanfic pas ngebuka tau tau uda chap8 seneng sihh seneng bgtt yang ditunggu updatenye cpt wkwkw

    Kasian ya mas jongdae mau ngungkapin perasaan aja ribetnya minta ampun nah si mba hyunhee malah ilang gtu aja dudu kasiaan sini mas ungkapin perasaannya sama aku aja wuahahaha
    Seperti biasa kak ditunggu next chapternya okeoke?
    Fightinggg kak rishh!!

  16. Emang ya, kalau urusan buat dialog kata2 bijak image chen kena banget dh
    Kata2nya langsung ngebikin yakin gt,hahahahaha

    Nah lo lady jo akhrnya bangun jd gimana nanti
    Penasaran nanti hbs ini apa mereka bakal ketemu lagi ato hyunhee gabakal balik lg dan bakal nyelesein di jamannya sendiri sebelum dia mati

  17. Kak rish, aku suka telat baca jadi komennya belakangan. Terus aku tuh sempet cari sejarah tentang Lady Jo ini, karena ini tentang Historical jadi aku rada penasaran gitu, dan ujungnya ga nemu. Jadi karena aku penasaran semoga kak rish update part 9 secepatnya/berdoa ini/, moga sembuh juga ya kak^^

  18. ditipuk pantat panci mas dio baru tau rasa loo kak! eeeaaa, entah kenapa aku baca setiap chapternya selalu telat sehari. biarin lah. btw, ini menuju akhir? keknya masalahnya mkin selese tapi makin ribet juga deh. sukaa deh sama karakter chen disini. murah senyum. senyumnya murahan. eh? gadeeng. aku rasa sih ya ada beberapa kalimat-kalimat yang aku rasa sekali lagi, itu emng bener bener ka irish yang ngomong. entah kenapa. keknya ada pesan yang secara khusus ka iris sampein lewat jongdae maupun hyunhee. eeaaa. eaaa ka irissh.

  19. mau nembak aja syusah amet ya:'( lah jd chentongqu suka sm mbak lady jo? terus di kehidupan yunhee chentong jg suka jg sm yunhee??aah
    banyak bgt misterinyaT.T
    ciee h-3..aah gtau lah mau ngomobg apa..kailish otakk mu ko encer beud si bikin epep absurd kek gini..aah aku pens mu kak:-D dtunngu next chapny

  20. Pft, kenapa aku ngakak pas bagian wooryung nimang-menimang pedangnya dengan sayang?
    Sempet mikir juga sih, kalo si hyunhee(mbak komposer) masuk di tubuh reinkarnasinya, terus kemana jiwa yang diisi sama si hyunhee?apakah bobo? Atau koma? Atau apa?
    Sebenernya menurut aku sih hyunwoo ini masih gak jelas antara selamet atau nggaknya.
    Kan disejarah kayaknya gak di ceritain kalo si mbak lady jo punya adik atau nggak, jadi kemungkinan besar si hyunwoo selamet.
    Nah untuk masalah mbak lady jo(abaikan antara mbak sama lady) yang tau kalo mas chentong adalah penyihir, sepertinya cara lady jo tau adalah dengan cara ini;
    Mas chentong gak nepatin janji ke mbak hyunhee buat gak ngomong kalo dia itu penyihir karena mas chentong bingung kenapa si lady jo tiba tiba berubah?
    Nah otomatis kalo dia tau dia bakal ngejauhin si chen dan menjadi selir? seperti yang telah di ceritakan sebelumnya. Kan katanya gak bakal ngerubah sejarah? Maka dari itu hipotsis itu muncul.tapi gak tau juga sih… hanya allah dan kak irish yang tau :v
    Aih kak irish, itu temennya mbak hyunhee(mbak komposer) kapan muncul reinkarnasinya?
    Tinggal nunggu next chap aja lah…
    Btw keep writing and fighting!!^^

  21. efek khabisan paket internet jdi hrus ngebut baca dri part 6-8.. kak irish ngepostnya pake kecepatan petir nya mas jongdae, aku kan ketinggalan jdinya… hehe :v

    lah itu kok main gendong2an… kan aku jga mau digendong :’ :v

  22. Owh. Kata2 chennii sungguh motivated bangeeetttt.. 😄
    Btw..
    Sampe deg2an aq baca prnyataan trakhirnya sblum tdur. Tkut gk balik lagi.. 😁😁

  23. “Kalian berdua rupanya sudah sama-sama kehilangan akal sehat.”
    Lah, dirimu waras ya? /plak!/ /asbun mendadak/
    Aiyoo, pingsan lagi -_- udah mulai akrab malah pakai acara pingsan. Mengapa kamu menistakan mereka, kak disaat Jongdae ingin menyatakan suara hatinya? Mengapa?? :’v /ditoyor/

  24. Waaah kalo tangan kak irish lagi bersemangat mataku juga lagi bersemangat soalnya updatannya cepet👍
    ngomong2 itu apa chenchen(ngikutin kak irish😆) nnti sadar maksudnya hyunhee. Kalopun sadar apa masa depan bakal berubah nantinya? Aduub pusing!!
    Habis ini hyunhee msh berpetualang lagi kah?
    Tapi yg masih bikin penasaran itu. Luka yg di dada lady jo kok bisa pindah ke hyunhee? Kalo hyunwoo juga bisa berpindah pindah waktu ap? Matinya itu juga karna kejadian masa lalu?

    • 😄 alhamdulillah kalo kita sama2 bersemangat😄 wkwkwwkwk kira2 dia sadar apa enggak? coba tebak😄 tebak aja😄 nanti di chapter sembilan juga ada jawabannya kok😄 wkwkwkwkwk

  25. KAK, KOK AKU SALPOK KE SERIES H-3NYA BABANG CHEN YAW? EFEK RINDU THRILLER KALI YAW /PLAKK/😂
    MBAK HYUNHEE, KENAPA KAMU NGEGANTUNGIN CHEN MBAK? DIGANTUNG ITU GAK ENAK LO MBAK, EMANG MAS CHEN JEMURAN /PLAKK/😂
    MAS CHEN, KASIHANNYA DIRIMU MAS, MAU NGUNGKAPIN PERASAAN GAK JADI-JADI..😂
    MBAK, CERITANYA MAU KEMANA LAGI NIH? KAYAKNYA MASALAH LADY JO GAK CUMA HYUNWOO, WKWK /PLAKK/😂
    OKELAH KAK, AKU MENUNGGU KELANJUTAN KISAH MAS CHEN DAN.MBAK HYUNHEE INI, GPP PENDEK CEM KYUNGSOO/PLAKK/ YG PENTING UPDATENYA CEPAT /PLAKK/😂
    KEEP WRITING KAK RISH, HWAITING! 😆😆

    • Series H-3 nya udah selesai tapi masih males revisi T.T aku terlanjur fokus buat nyelesein Switch ini dulu, kasian ultah Chen malah teraniaya ya😄 wkwkwkw
      ceritanya nanti dia mau berpetualang algi, tapi masih gatau mau kemana, nunggu ide dari penulsi dulu😄

      • Wkwk, padahal aku udah nunggu epep thriller cincang mencincang ala kak Irish sambil nebak-nebak,kali ini si mas chen diapaain yak? /kemudian dibunuh/😄
        Gpplah kak, anggep aja Switch ini selain memenuhi permintaan teman biar anaknya kelak tidak ileran, sekalian epep buat seorang mas chen, hadiah ultah begituh /plakk/😄
        Sudah kuduga, cerita ini masih penuh mistery. Kalo nggak berarti bukan Kak Irish namanya😄

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s