SWITCH – 4th MOSSAIC — IRISH’s Story

irish-switch-2

s      w      i      t      c      h

|  Jongdae x Hyunhee  |  Fantasy x Historical x Mystery x Romance  |  Chapterred x Short Story  |  Teen  |  by IRISH  |

|  prompt from EXO`s 3rd Repackage Album Song Title: She’s Dreaming  |

Show List:

ForewordPrologue1st Mossaic 2nd Mossaic3rd Mossaic — [PLAYING] 4th Mossaic

You’re asleep in me, I can’t help but smile

I’m just looking at you

♫ ♪ ♫ ♪

In Author’s Eyes…

“Apa kau lupa, Hyunhee? Kalau aku adalah penyihir yang membuatmu terjebak di kerajaan sebagai selir raja? Ingatan lemahmu juga karena aku. Aku begitu bodoh berusaha membuatmu melupakan tentangku dan malah berakibat seperti ini pada kehidupanmu. Sekarang aku mengerti kenapa kau begitu membenciku.”

“Memangnya… mengapa kau ingin membuatku lupa padamu?”

Hening beberapa menit mendominasi, sebelum akhirnya aku punya keberanian untuk menyahuti ucapan Jongdae padaku. Aku tidak tahu apa sebelumnya ia sudah pernah mengatakan pada Lady Jo tentang alasannya, tapi anggap saja jika sekarang Lady Jo yang dikenalnya sedang mengalami ingatan yang buruk lagi, sehingga ia harus mendengar pertanyaan yang sama dua kali.

“Mengapa baru sekarang kau menanyakannya?”

“Apa?” aku tersentak saat ia kembali bicara. Tatapanku bahkan tidak bisa beralih darinya. Apa sebelumnya Lady Jo tidak pernah menanyakan apapun padanya? Mengapa ia bertanya padaku dengan nada yang begitu sedih?

“Alasanku membuatmu lupa, kenapa kau tidak menanyakannya dari dulu?” ia mengulang pertanyaannya, kini tatapannya beradu denganku, tanpa ada kata, aku tahu ia menunggu jawabanku.

“Aku takut.” bibir ini sontak berucap. Meski jika kupikir-pikir lagi, takut adalah alasan yang paling mudah diterima seseorang. Masuk akal jika Lady Jo merasa takut pada alasan Jongdae berusaha membuatnya melupakan pemuda ini, bukan?

Tak lantas menyahuti ucapanku, Jongdae malah bergerak mengikat simpul pada pakaian yang aku kenakan. Beberapa saat ia menatap diam cawan kayu yang ada di atas nampan, kurasa ia tengah berpikir.

“Apa ini benar-benar dirimu, Hyunhee?”

Lagi-lagi aku tersentak mendengar ucapannya. Apa caraku bersikap sekarang terlihat begitu berbeda? Atau karena ia seorang penyihir—seperti yang ia katakan tadi—maka ia bisa tahu?

Apa itu artinya ia sudah tahu siapa aku?

Lamat-lamat kutatap Jongdae, memperhatikan ekspresinya, mencari kebohongan yang mungkin ia sembunyikan, mencari ekspresi mengganjal yang mungkin bisa jadi petunjuk bagiku jika saja ia benar-benar tahu kalau yang sekarang bicara padanya bukanlah Hyunhee yang ia kenal sebelumnya.

“Apa yang sudah terjadi?” pertanyaannya kembali mengejutkanku. Benar. Dia pasti tahu kalau aku bukanlah Hyunhee yang dikenalnya. Karena ia bukan manusia biasa tentu ia bisa tahu bukan?

“Apa kau—”

Hyung, kau di rumah?” sebuah suara terdengar, menghentikan tanyaku sekaligus mengalihkan perhatian Jongdae. Ia menghembuskan nafas panjang sebelum beranjak dari tempatnya sedari tadi duduk dan bicara denganku.

“Kita bicara lagi nanti. Istirahatlah. Aku tidak akan bilang pada Woo Ryung kalau kau sudah sadar.” Jongdae berucap tanpa memandangku. Ia malah melangkah meninggalkanku sendirian, dalam rasa penasaran.

Satu lagi nama muncul. Woo Ryung. Dan Jongdae menyebutkan namanya padaku seolah aku mengenal Woo Ryung ini. Ugh. Lagi-lagi aku punya tugas yang harus kuselesaikan saat aku kemba—tunggu. Aku tidak bisa kembali begitu saja sekarang.

Aku ada di dalam tubuh Lady Jo, dan untuk bisa kembali ke kehidupanku, aku harus menyelesaikan satu masalah Lady Jo di kehidupan ini. Baiklah, mari berpikir tenang, Hyunhee.

Woo Ryung. Woo Ryung. Namanya terdengar tidak asing. Apa Woo Ryung ini juga salah satu tokoh yang ada di dalam sejarah tapi aku tidak bisa mengingatnya? Ugh, harusnya aku lebih banyak belajar tentang tokoh-tokoh sejarah dibandingkan dengan cara hidup di zaman sejarah.

Tidak. Setidaknya aku harus menyusun mozaik yang sudah kudapatkan. Lady Jo dan Kim Sukwon adalah dua orang gisaeng. Dan keduanya pasti mengenal Jongdae.

Menurut ucapan Jongdae, Lady Jo menjadi selir Raja karena ulahnya. Dan Lady Jo juga menjauhi Jongdae, mencemoohnya setelah tahu bahwa Jongdae adalah seorang penyihir.

Apa selama ini Jongdae muncul di hadapan Lady Jo dan Sukwon sebagai seorang biasa dan bukannya penyihir? Tapi bagaimana bisa mereka saling mengenal? Mungkinkah…

“Tidak.” aku lekas menutupi tubuhku sendiri. Well, satu-satunya penjelasan yang bisa kuterima hanyalah kemungkinan bahwa Jongdae sering datang ke rumah Gisaeng, dan sering… bertemu dengan Lady Jo, atau Kim Sukwon.

Saat mengobati luka di dada Lady Jo tadi Jongdae juga tidak merasa aneh—atau di zaman ini melihat tubuh seorang wanita memang dianggap normal?—sama sekali. Bisa kusimpulkan kalau sebelumnya Jongdae pasti pernah melihat tubuh Lady Jo, entah bagaimana caranya, aku tak ingin memikirkannya lebih jauh lagi.

Lalu di mana masalahnya?

Masalah pertama pasti ada pada alasan yang membuat Lady Jo terjebak di istana sebagai seorang selir Raja. Bagaimana bisa Jongdae menjadi penyebabnya? Apa alasannya? Masalah kedua adalah mengapa Jongdae berusaha membuat Lady Jo melupakannya?

Apa alasan yang membuat Lady Jo menjadi selir raja dan juga alasan yang membuat Jongdae ingin Lady Jo melupakannya saling berhubungan? Baiklah, kesimpulan ini memang masuk akal.

Sekarang yang jadi pertanyaanku adalah, bagaimana bisa Jongdae—seorang penyihir—bisa ada di sini? Di istana? Bukankah Lady Jo tinggal di istana? Itu artinya Jongdae, Lady Jo, Raja, dan tabib Heo Jun berada di lingkungan yang sama, bukan?

Ya. Benar. Keberadaan seorang penyihir tentu tidak bisa diterima di lingkungan ini. Tapi mengapa Jongdae bisa ada di sini? Lalu penjaga malam yang Sukwon bicarakan. Apa mereka juga ada hubungannya dengan masalah ini?

Sukwon mencegahku untuk berada di luar ruangan saat matahari terbenam. Tapi hari itu, Jongdae keluar dari ruangannya ketika matahari terbenam. Aneh… Jongdae tidak mungkin berstatus sebagai penjaga malam, bukan?

Apa seisi istana ini tahu bahwa ia seorang penyihir? Atau beberapa orang saja yang tahu? Lalu siapa Woo Ryung? Ini masih malam hari, secara otomatis ada penjaga malam yang berkeliaran dan melarang siapapun berada di luar.

Ugh.

Sial.

Sekarang aku kembali mempertanyakan satu hal, mengapa ada penjaga malam jika keadaan istana baik-baik saja? Apa yang sebenarnya terjadi di zaman ini dan tidak ada di buku sejarah?

“Dia masih tertidur.”

“Benarkah? Bagaimana aku bisa percaya padamu?”

Aku terkesiap saat mendengar pembicaraan kecil di luar ruanganku. Bayangan dua orang lelaki juga terlihat dari tempatku terbaring sekarang.

“Aku juga tidak melakukan apapun padanya.”

“Aneh,” benar, aneh. Aku yang seharusnya merasa aneh dan janggal karena aku tengah jadi topik utama pembicaraan mereka bukan? “Bukankah ini kesempatan yang baik untuk membawanya pergi, hyung?”

Apa? Membawaku pergi? Jongdae? Untuk apa?

“Tidak bisa, Woo Ryung. Aku bisa saja membawanya pergi bersamaku ke dalam hutan, tapi jika kerajaan menemukannya ia akan mendapatkan hukuman. Kau pikir aku ingin melihatnya duduk di kursi penyiksaan lagi?”

Kursi penyiksaan? Bukankah kursi itu yang sering kulihat di drama kerajaan yang ada di kehidupanku? Di mana orang yang bersalah duduk di atasnya dan diikat dengan tali dan mendapatkan cambukan juga pukulan?

Aku—maksudku, Lady Jo pernah duduk di kursi itu juga?

“Lantas apa hukumannya jadi kesalahanmu, hyung?”

“Apa maksudmu?”

Pembicaraan mereka semakin terdengar samar seiring hilangnya bayangan mereka berdua dari depan pintu ruanganku. Tanpa bisa berbohong, aku merasa bahwa mereka pasti tengah membicarakan sesuatu yang sangat penting dan ada hubungannya denganku.

Jika aku tidak bisa bertanya pada siapapun tentang situasi yang sedang kuhadapi, bukankah aku harus mencari tahunya sendiri? Dan ya, itu yang sekarang tengah aku lakukan. Melangkah dengan hati-hati meninggalkan pembaringan untuk mendekat ke arah pintu dan berusaha mencuri-dengar pembicaraan mereka.

Lady Jo yang membuat keberadaanmu diketahui oleh istana, sehingga kau diasingkan seperti ini. Apa kau tidak membencinya sedikit pun?”

Apa? Apa aku… apa aku yang membuat semua orang tahu bahwa Jongdae adalah seorang penyihir? Apa mungkin… aku menjadi selir Raja karena sudah menjebak Jongdae atau sejenisnya?

Suara mereka lagi-lagi tenggelam, samar aku bisa mendengar suara langkah di atas lantai kayu yang jadi pengalas ruangan ini. Mau tak mau, jika ingin mendengarkan pembicaraan mereka, aku harus keluar.

Dengan hati-hati aku menggeser pintu kayu ruanganku, berjingkat-jingkat sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara apapun aku melangkah ke arah satu-satunya ruangan dengan lampu remang yang ada di sudut koridor.

Sebuah bayangan terlihat samar dari tempatku sekarang berdiri, jadi kuyakini mereka berdua tengah bicara di sana. Masih dengan sama hati-hatinya, aku menyelipkan diri di celah kecil yang ada di antara dua ruangan, aku bisa mendengar pembicaraan mereka lagi di sini.

“Minumlah dulu, aku tahu para penjaga malam tidak punya banyak waktu untuk singgah di tempat tinggalku.”

Terdengar hembusan nafas panjang seseorang di sana, mungkin Woo Ryung itu. Sebelum akhirnya suara cawan kaca terdengar. Well, ia pasti tengah minum.

“Setiap kali melihat wajah Lady Jo di istana aku ingin sekali menyarangkan anak panahku di jantungnya.” refleks aku menyentuh dadaku yang masih terluka—meski aku akhirnya menahan rasa sakit karena terlalu keras menyentuhnya—saat mendengar ucapan pria lain di sana.

“Jangan bicara seperti itu. Seseorang pasti berusaha membunuhnya beberapa hari lalu, nyaris saja anak panah benar-benar menembus jantungnya.” kali ini suara Jongdae.

“Aku sungguh tidak mengerti. Apa kau benar-benar tidak merasa marah padanya?”

Jongdae tertawa pelan. Ya, aku tahu Jongdae yang tertawa karena tawanya terdengar sangat familiar di telingaku. Setidaknya aku sudah hidup selama sepuluh tahun bersama seorang Kim Jongdae yang menjadi reinkarnasinya, tentu aku mengenalnya dengan baik meski di kehidupan sebelumnya, bukan?

“Dia tidak salah, Woo Ryung. Akulah yang terlalu percaya padanya.” ucapan Jongdae sekarang membuatku terdiam. Perlahan, mozaik yang ada di dalam kepalaku kembali tersusun tanpa kusadari.

Meski masih sedikit ragu, tapi kiranya aku mulai memahami masalah apa yang sudah membuat Lady Jo meminta bantuanku di kehidupan ini. Walau semua kebetulannya masih tidak bisa kupahami, tapi aku rasa masalah yang ia miliki bukanlah permasalahan tentang Putri Munseong yang membuatku muncul di sini untuk pertama kalinya.

Tapi karena aku yakin, masalah Lady Jo pasti ada hubungannya dengan Jongdae.

“Dia seorang iblis, hyung, di dalam tubuh jelita yang sudah memperdayaimu. Apa kau masih belum sadar juga?” pertanyaan Woo Ryung—kukenali suaranya yang terdengar rendah dan sedikit berat—membekukanku.

Tanpa sadar tungkaiku bergerak melawan keinginanku untuk tetap diam dan mendengarkan pembicaraan mereka dalam diam. Aku tidak bisa seperti ini. Waktu yang kumiliki untuk menyelesaikan masalah Lady Jo tidaklah banyak, dan cepat atau lambat aku harus kembali ke kehidupanku yang juga tidak menyisakan banyak waktu.

Untuk apa aku bersikap tertutup dan memperlambat usahaku sendiri untuk menyelesaikan masalah yang ada di sini? Bukankah terus terang akan memberiku lebih banyak informasi?

“Apa aku… seburuk itu?” pertanyaan itu kuutarakan saat kuputuskan untuk muncul di pintu ruangan tempat mereka sedari tadi berbincang. Dari ekspresi tenang Jongdae sekarang, bisa kutebak ia pasti sudah tahu aku mendengarkan mereka, sehingga aku tidak bisa tahu apa ia sedari tadi tidak merendahkanku karena tahu aku tengah mendengar, atau memang ia tidak menganggapku buruk?

Sosok bernama Woo Ryung itu ternyata adalah seorang pria muda dengan kulit tan dan tubuh tegap juga ekspresi kaku. Saat melihatku ia terlihat terkejut, dan sontak berdiri untuk menarik pedang dari sarung pedang yang ada di pinggangnya.

“Tahan senjatamu, Woo Ryung.” Jongdae berucap. Tapi aku terlalu tuli bahkan hanya untuk sedikit merasa takut pada kemungkinan bahwa sosok Woo Ryung itu beberapa detik lalu akan mengacungkan pedang padaku.

“Kau bilang dia belum sadar, hyung.” Woo Ryung berucap kaku, tatapannya masih tidak beralih dariku, penuh kebencian, dan ada sedikit luka di sana. Caranya menatapku dengan luka di ekspresinya jelas memberiku firasat bahwa bukan hanya Jongdae yang Lady Jo kenal baik di sini, tapi Woo Ryung juga.

“Aku sudah memintanya untuk beristirahat saja, tapi ternyata pembicaraan kita lebih membuatnya ingin tahu.” tutur Jongdae membenarkan kesimpulanku tentang ia yang sudah tahu bahwa aku keluar dari ruangan untuk mencuri-dengar pembicaraan mereka.

“Cih.” Woo Ryung berdecih kasar. “Sejak kapan kau terbangun, wanita murahan?” pertanyaan Woo Ryung membuatku terbelalak. Tatapanku kini beralih pada Jongdae, menuntut jawab darinya yang sedikit-banyak kucurigai sudah tahu benar apa yang terjadi padaku bahkan ketika aku belum mengetahuinya.

“Apa aku seburuk itu, Jongdae?” tanyaku membuat Woo Ryung mendengus kasar, agaknya ia muak mendengar suaraku sekarang. “Beraninya kau menyebut nama itu dari bibir kotormu setelah apa yang kau lakukan padanya?” pertanyaan penuh nada sarkatis itu lagi-lagi keluar dari bibir Woo Ryung.

“Dia mungkin tidak mengingatnya, Woo Ryung.” Jongdae berucap menengahi.

“Apa?” Woo Ryung menoleh, tampak ingin memastikan jika Jongdae tidak sedang berbohong padanya. Sebuah anggukan Jongdae berikan sebagai jawaban. “Kau tahu sendiri aku gagal membuatnya lupa padaku, dan ulahku benar-benar mempengaruhi ingatannya. Banyak hal yang mungkin tidak bisa ia ingat, termasuk tentang hari itu.”

Mulutku sekarang terkatup rapat. Ingin rasanya aku mengumpat pada Lady Jo saat ini, memarahinya habis-habisan karena sudah menjadi wanita tolol yang meninggalkan masalah rumit seperti ini padaku. Tapi aku tidak bisa.

Ia bahkan tidak bisa mengingat kehidupannya dengan benar. Apa gunanya hidup jika banyak memori terhapus begitu saja? Bahkan tanpa adanya aku di dalam tubuh ini, kuyakini ia tidak akan bisa mengingat kejadian itu dengan benar.

Anggap saja kami berdua sama-sama menjadi orang tolol tidak tahu apa-apa di sini. Dan anggap saja Lady Jo tiba-tiba saja sedikit berubah karena nyaris mati beberapa hari lalu.

Setidaknya ada hal yang akan berubah dan bisa kucegah. Kematian sia-sia Lady Jo karena Sukwon menjadi selir Raja, contohnya.

“Aku tidak bisa mengingatnya, jadi jangan gunakan kata-kata kasar itu untuk menyakitiku karena aku tidak akan ingat apapun hanya karena ucapan kasarmu.” aku akhirnya berucap.

Ya, benar, Lady Jo. Anggap saja sekarang ingatanmu lagi-lagi terganggu sehingga kau tidak bisa membedakan mana teman dan mana musuh. Mana yang harus dan tidak harus kau bicarakan. Mana yang seharusnya tidak kau ungkit dan seharusnya diungkit.

Ekspresi Woo Ryung perlahan melunak. Lengannya yang sedari tadi bersiap di gagang pedang bahkan bisa rileks sekarang. Ternyata berpura-pura lupa bisa berefek cukup banyak di sini.

“Bukannya kau tengah berpura-pura lupa?” tanya Woo Ryung masih dengan nada sarkatis yang sama. Tidak Jongdae, tidak Woo Ryung ini, mereka berdua sama-sama suka berkata-kata tajam. Heran sekali, apa di zaman ini mereka diajarkan untuk bicara dengan cara seperti itu pada seseorang yang sudah membuat mereka merasa kesal? Jika iya—

“Jika aku berpura-pura lupa untuk apa aku keluar dari ruanganku dan menahan rasa sakit untuk sekedar mendengarkan pembicaraan kalian? Apa kau tidak bisa berpikir dengan benar? Aku bahkan tidak ingat bagaimana dadaku bisa terluka seperti ini.”

—itu artinya aku juga bisa bersikap dengan cara yang sama bukan?

Aku lantas mendengus kesal. Bersikap seolah sedari tadi aku sudah berpura-pura lemah dan sekarang merasa jengah juga karena ulah mereka berdua dan terutama, karena ucapan sarkatis yang sedari tadi Woo Ryung ucapkan.

Hyung, apa kau benar-benar tidak memberinya ramuan apapun?”

Ramuan? Ramuan apa yang sekarang mereka bicarakan? Memangnya ini ada di Wonderland atau istana Snow White? Sehingga ada ramuan yang diciptakan oleh penyihi—ah, benar. Jongdae di kehidupan ini adalah seorang penyihir. Tidak kusangka dia adalah seorang penyihir yang bisa membuat ramuan juga. Kupikir penyihir di zaman Joseon akan berbeda dengan yang ada di film, ternyata sama saja.

“Tidak ada. Ada banyak hal yang ingin kupertanyakan padanya, itulah mengapa aku menunggunya terbangun.”

“Pertanyaan apa?” tanyaku tidak mengerti.

Apa ia akan melanjutkan konversasi kami tadi? Tidak bukan? Kami baru bicara lebih dari tiga kalimat saat aku tadi baru saja tersadar. Dan dari caranya bicara, ia terdengar seolah sudah merencanakan pertanyaan-pertanyaan tersebut sejak jauh hari.

“Ya, mengenai tindakan anehmu hari itu, sebelum kau terkena serangan. Kau menyebut namaku hari itu, dan aku ingat… kau bertanya padaku ‘Kau, Kim Jongdae?’ seolah kau tidak percaya bahwa aku adalah Kim Jongdae. Mengapa?”

“A-Apa?” aku terkesiap, sungguh, pertanyaannya sekarang diluar dugaanku. Apa ia masih mengingatnya padahal setahuku aku sudah terkena anak panah saat ia belum menjawabnya.

Bukankah ia seharusnya terkejut karena aku tiba-tiba terkena anak panah, lalu dia menolongku dan melupakan pertanyaanku hari itu? Sial. Kenapa pula aku harus mengutarakan pertanyaan bodoh saat itu? Ah, ya, benar. Aku begitu terkejut karena bertemu dengan reinkarnasi dari sahabat dekatku, dengan nama yang sama seperti nama sahabatku juga.

Sama seperti keterkejutanku karena terbangun sebagai Jo Hyunhee di kehidupan yang berbeda. Padahal Sukwon bukanlah seseorang yang kukenal di kehidupanku. Apa Woo Ryung di hadapanku juga seseorang yang aku kenal? Atau hanya aku dan Jongdae saja yang mengalaminya?

“Apa kau benar-benar Jo Hyunhee?” Jongdae lagi-lagi mengutarakan pertanyaan yang sama seperti tadi saat kami hanya bicara berdua. Seolah pertanyaannya bukanlah sesuatu yang rumit untuk kujelaskan, ia mengutarakannya begitu saja, dengan santai.

“Tentu saja aku Jo Hyunhee. Memangnya siapa lagi?” ujarku tidak terima. Lagipula, aku adalah Jo Hyunhee di kehidupanku yang sebenarnya, aku tidak sepenuhnya berbohong saat aku menjawab seperti itu bukan?

“Apa kau Hyunhee yang kukenal?”

Aku kini menatap Jongdae, berusaha mencari makna di balik pertanyaannya yang sungguh mengejutkanku. Ia bicara seolah ia tahu bahwa yang sekarang bicara padanya bukanlah Lady Jo melainkan seseorang yang lain. Kutemukan diriku merasa curiga pada pertanyaannya karena ia adalah seorang penyihir yang kemungkinan besar bisa tahu banyak hal?

Apa ia mengutarakan pertanyaan tersebut karena dengan adanya aku di dalam tubuh Lady Jo sekarang ia merasa seolah Lady Jo yang dulu kembali? Begitukah? Lalu kemungkinan mana yang harus jadi pertanyaanku?

“Apa aku… berubah begitu banyak?”

Jongdae tersenyum. Senyum yang tidak juga bisa kuartikan. Aku bahkan mengutarakan pertanyaan bermakna ganda. Apa aku berubah begitu banyak? Apa keberadaan aku, Jo Hyunhee, di dalam tubuh Lady Jo telah membuat Lady Jo berubah begitu banyak di matanya?

Atau apakah aku—Lady J0—telah berubah begitu banyak semenjak kejadian itu yang sampai sekarang belum aku ketahui?

“Kurasa bukan hanya dadanya yang terluka akibat anak panah, hyung, tapi kepalanya juga.” Woo Ryung berucap, ia geserkan kursi yang sedari tadi menjadi batas di antara kami, sementara Jongdae belum juga memberi sahutan berarti.

Senyum di wajahnya juga sudah berganti dengan ekspresi yang lebih tenang. Tidak sekaku ekspresinya saat aku pertama kali terjaga tadi. Apa pertanyaanku sudah ia dapatkan jawabannya tanpa harus ia utarakan?

Apa sikap Woo Ryung sekarang juga jadi tanda bahwa ia mendapatkan jawaban yang sama? Jika iya, maka kemungkinan… karakterku dan Lady Jo sebelum ia menjadi selir Raja, sebelum kejadian itu, juga sama?

Tidak mungkin. Tidak mu—

Akh!”

“Hyunhee-ah!”

“J-Jongdae, kepalaku—akh!”

Lagi-lagi rasa sakit ini menyerangku. Tidak. Tidak sekarang Jo Hyunhee. Kau tidak bisa kembali ke kehidupanmu sekarang. Belum waktunya. Aku bahkan belum merasa menyelesaikan masalah apapun di—

BRUGK!

Akh!”

“Hyunhee-ah!”

Tubuhku limbung, pening di kepalaku terasa sangat menusuk. Beruntunglah Jongdae segera menangkap tubuhku sebelum aku terjatuh ke lantai. Luka di dadaku mungkin akan memburuk jika aku terjatuh di lantai.

“Jongdae…” aku bergumam lirih, lega rasanya mengetahui bahwa aku tidak kembali ke kehidupanku di saat aku belum—

“Kau idiot, huh? Mengapa tidur di meja?”

Sontak aku menarik diri dari lengan seseorang yang membantuku. Jongdae. Memang Jongdae yang menahan tubuhku sekarang. Tapi aku bukannya berada di ruangan bernuansa jingga tadi, aku sudah ada di kamarku, dan Jongdae lah yang menahan tubuhku barusan, tubuhku terjatuh dari kursi kerjaku.

“Kenapa kau di sini?!” aku hampir memekik mengetahui bahwa Jongdae tidak seharusnya ada di sini. Terakhir kali, aku sendirian di apertemen. Tidak bersama dengan Jongdae.

Dan aku juga sudah meninggalkan kursi kerjaku saat akan melompat dari ge—ah, apa melompat dari gedung punya efek yang berbeda? Jika aku melompat ke air, aku akan terbangun di rumah, atau di rumah sakit, karena orang-orang berpikir aku tenggelam.

Well, memang aku tidak mungkin ditemukan terbaring di tanah karena melompat dari gedung, bukan? Mungkin aku akan berpindah ke tempat terakhir aku beraktifitas. Tapi mengapa ada Jongdae di sini?

“Kenapa kau di sini, bodoh?” sontak aku melepaskan diri dari Jongdae, sementara ia menatapku tidak mengerti. “Kenapa denganmu? Bukannya kau sendiri yang tadi melihat aku masuk ke apertemenmu?” tanya Jongdae membuatku menyernyit bingung.

“Aku? Kapan?”

Jongdae membulatkan matanya, terkejut. Sekon kemudian kedua tangannya membekap pipiku, membolak balik wajahku ke kanan-kiri seolah aku bukanlah seseorang yang dikenalnya.

“Apa kau benar-benar Jo Hyunhee?” pertanyaan Jongdae mengejutkanku. Apa-apaan ini? Bahkan Jongdae dan reinkarnasinya bisa menanyakan hal yang sama.

“Tentu saja aku Jo Hyunhee. Memangnya siapa lagi?” kuputuskan untuk menjawab dengan cara yang sama juga. Lagipula, pertanyaan bodoh apa yang baru saja ia utarakan?

Apa aku ini monster? Atau alien? Harusnya aku yang tidak terima lantaran ia muncul seenaknya di apertemenku. Terutama, karena dia pasti berbohong tentang reaksiku yang mengiyakan kedatangannya. Hey! Aku tertidur saat aku berpindah ke tubuh Lady Jo, tidak mungkin aku bisa terbangun di kehidupan ini bahkan untuk sekedar—

“Apa kau Hyunhee yang kukenal?”

“A-Apa?”

“Aku bahkan mengajak body guard baruku ke sini, dan Yeonhwa juga. Jongin-ah! Kemari, kukenalkan pada mantan body guard-ku!”

Ya! Kau gila?!”

“Ada apa, hyung?” tunggu, suara ini…

“Hyunhee, ini Jongin, Kim Jongin. Adik sepupu jauhku dari Osaka yang sekarang menjadi body guard dengan senang hati. Dan Jongin, ini Hyunhee, Jo Hyunhee.” tatapanku melebar saat mendapati sosok pemuda berpakaian serba gelap di ujung pintu.

Ekspresi kaku itu, wajah dingin itu, dan tatapan tidak bersahabatnya…

Woo Ryung?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Apa sesuatu sudah terjadi di antara kalian?”

Jongdae menatap ke arah Woo Ryung yang kini menatap langit kosong malam.

“Sesuatu apa yang kau maksud?” tanya Jongdae. Dengan tidak nyaman Woo Ryung melirik ke arah gadis yang tengah tertidur di pangkuan Jongdae. Decakan kasar sontak lolos dari bibirnya sementara ia mengalihkan pandangan, seolah enggan melihat pemandangan yang sekarang disuguhkan padanya.

“Terakhir kali, ia melihatmu seolah kau adalah monster, dan sekarang ia bahkan tidur di pangkuanmu. Menggelikan sekali.” komentar Woo Ryung.

Tawa pelan lolos dari bibir Jongdae. Sekon kemudian Jongdae menatap ke arah gadis yang tertidur pulas di pangkuannya, tangannya tanpa sadar bergerak menyentuh anak rambut gadis itu.

“Sudah lama aku tidak melihatnya seperti ini, Woo Ryung. Selama bertahun-tahun ia sudah menjadi Hyunhee yang tidak kukenal. Dan hari ini ia kembali, tidakkah aku seharusnya berterima kasih?”

Woo Ryung berdecih pelan. “Kau tidak akan berkata seperti itu dua puluh tahun lagi, hyung.” sindirnya membuat Jongdae tergelak. “Mau bertaruh denganku? Seratus, tidak, bahkan dua ratus tahun lagi, aku akan tetap melihatnya sebagai seorang yang sama, Hyunhee.”

Tidak ada sahutan dari Woo Ryung. Ia malah menatap dalam diam dua orang itu. Seolah kini pemandangan di depannya adalah sebuah elegi, Woo Ryung akhirnya menghembuskan nafas panjang.

“Takdir tidak akan sebaik itu, hyung. Setidaknya takdir tidak akan mempertemukan kalian untuk kedua kalinya di kehidupan selanjutnya.” ucap Woo Ryung. Jongdae menatap pemuda di sampingnya dengan sebuah senyum kecil.

“Mau bertaruh denganku?”

“Apa kau ingin aku terus terjebak bersamamu sampai beratus tahun lagi?”

“Memangnya kenapa? Bukankah kita sama-sama terlahir dari darah penyihir?”

“Lalu apa menurutmu kita akan terus hidup sampai beratus tahun, jangan bercanda. Kita sama saja dengan manusia lainnya, hyung.”

— 계속 —

.

.

.

IRISH’s Fingernotes:

Yang lagi bersate-sate ria, bagi napa, itu sate jangan dimakan sendiri, pamali. Kemaren kan udah malming sama mbek /apaan/.

DUH, mamas Jongdae, cobaan macam apa yang kali ini kamu kasih ke makhluk lemah ini sampe diri ini harus merelakan godaan sate di dapur demi nyelesein chapter empat sebelum besok kembali disibukkan dengan laporan dan laporan?

Entah untuk ke berapa kalinya aku berterima kasih sama OST drama historical yang versi instrumental karena gregetnya musik-musik itu justru bikin aku bersemangat buat menjajah Mba Hyunhee dan otak aku sendiri.

Iya, sejujurnya aku begitu bingung, gundah, gulana sama cerita ini. Pengen gitu Lady Jo di bunuh gitu aja, tapi engga greget. Pengen gitu Mba Hyunhee cepet dipertemukan sama ajal, tapi engga greget juga. Maaf juga karena di sini kalian harus ikutan mikir sama Mba Hyunhee buat tau apa masalah yang mengganggu dia sebelum mati /kemudian disambit/.

P.s: sebenernya jari-jari aku masih sedikit kaku buat ngetik, tapi enggak tau gimana ceritanya ini ketika aku sadar ngasih tbc-nya pas udah nembus tiga ribu kata… ekspektasi aku tadinya tiap chapter cerita ini enggak akan sampai dua ribu kata padahal… ah sudahlah. Dan juga aku baru inget kalau ini cerita penuh misteri, jadi maaf karena genre mystery baru bisa aku tambahin T.T maaf ya maklum aku penulis penuh kekurangan.

Sekian dariku, selamat bermalam bersama para mbek di dalam perut ya guys, jangan lupa bagi satenya ke sini gitu, biar kita bisa kenyang bersama /slapped/

See you this weekend!

.

.

.

[HELP! Aku lagi-lagi butuh vote → HELP! I NEED YOUR VOTE (2) ]

.

.

| MY SHOW |

| Instagram | Line | Twitter | Wattpad | WordPress |

60 thoughts on “SWITCH – 4th MOSSAIC — IRISH’s Story

  1. Ping-balik: SWITCH [AFTERWORD] — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping-balik: SWITCH – EPILOGUE — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping-balik: SWITCH – 14th MOSSAIC [FINAL] — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping-balik: SWITCH – 13th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping-balik: SWITCH – 12th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  6. Woaaaaaaahhh jongdae ky bs liat masa dpn y eon🙂 apa jgn” iy lg … Bahkan perkataan nya sm yg diucapkan hyunhee sm jongdae jg … Penasaran knp hyunhee bs jd selir raja neeeeeeext eon fighting

  7. Ping-balik: SWITCH – 11th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping-balik: SWITCH – 10th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping-balik: SWITCH – 9th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  10. Wahh wahh wahh, aku jadi ikut mikir disini, padahal aku bukan pemikir /ya iyalah matematika sama fisika aja selalu nyontek, gimana mau jadi pemikir/ wehh malah ngomong gak jelas..
    kasian mba hyunhee mau mati aja susah..
    mas Jongdae perhatian banget yahh sama mba hyunhee /keliatan kalo aku kurang belaian mas Sehun/
    hihihi aku ngakak baca ‘dengan kulit tan’.. Aku nebak pasti kai, ehh ternyata bener..

  11. Ping-balik: SWITCH – 8th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  12. Ping-balik: SWITCH – 7th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  13. Ping-balik: SWITCH – 6th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  14. Ping-balik: SWITCH – 5th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  15. Setelah membaca kata ‘tan’ aku udah yakin si Woo Ryung itu adalah bang Jongin 😄 Duh.. ini mbak Hyunhee kasihan banget yahh 😂 udah mau mati juga masih rempong bolak-balik ke zaman orang 😄 nistaa ini nistaa 😁😂
    Aku mau gigit sate sama pipi kak Irish juga 😁 kenapa ini ep-ep banyak banget teka-teki bersilangnya? /Selalu gitu kok ep-ep kak Irish/ 😂 terus ini mbak Hyunhee sama mas Jongdae akhirnya happily ever after atau sad ending nih kak? /Kemudian di lempar/ Sakin gregetnya aku baca nih ep-ep aku sampai-sampai sambil nari heart b-b-beat 😁😁 /plak/ Syudahlaa aku tunggu mosaic selanjutnya kak Irish 😄😄 ❤

    Btw kak Rish, entar ini sampe berapa chapter? 😄 😅 /Dan akhirnya aku benar-benar di mutilasi/ maaf banyak nanya:v

    • 😄 alhamdulillah aja engga kubikin bang Hun versi item kan ya?😄 wkwkwkwkwkwk kesian juga noh Mba Hyunhee, mau mati aja sudah amat (kemudian ditampol)😄 wkwkwkwkwkw ini teka-teki silang emang, tapi ntar jawabannya jelas kok😄 wkwkwkwkwk

      • kalo mas Hun hitam lah bang Kai apa? Arang gosong kah? /plak dikeroyok Kai stan/ Kakak bikin nasib mba Hyunhee sulit sesulit aku menggapai diaa /apasih?/ kalo jawabannya jelas, aku mah tenang😀

  16. Ecie!!
    Akhirnya kan kalian beratus-ratus tahun berlalu tetap bersama

    Aq sudah curiga itu psti wooryung penggambaran dr kai eh ternyata keai beneran jg muncul dikehidupannya myunhee
    Dan apakah si yeonhwa jg reinkarnasi dr budak si temennya lady jo ini

    Trus td bilangnya si hyunheenya sadar pas nyambut jongdae datang ke apartemennya
    Aih jangan2 dua hyunhee ini bertukar tubuh

  17. hufff ga kerasa udah chap4 aja…tambah seruuu ceritanya
    ..jadi gakerasa udh cha4
    oh itu jongdae yg sekarang reinkreinasi yg dulu kah?wo ryung jg reinkreinasi jongin dikehidupan yg asli gt??haah ini membinggungkan….sebenerny hubungan antara mereka itu gimance????
    haha yakin ka mau sate??papan buat cuci baju udah ga kegoda nih…yakiin?kalo aku kasih papan cucian baju yg warbyasah kebangsatanny yakin masih mau sateny hahaha#abaikan
    keep writing ka..dtunggu chentong” selanjutnya:-V

    • 😄 nanti tunggu aja chapter-chapter selanjutnya😄 wkwkwkwkwkwk heeh jonginnya beneran adaa, si hyunhee tinggal nemuin temennya tuh😄 si yeonhwa, belum ketemu reinkarnasinya dia siapa😄 wkwkwkkwkwk

  18. awalnya bingung sma ff ini sampe² ulang baca dri awal -,- butttt ff ini seru banget,,jdi taruhan jongdae dia bakal hidup 100 tahun kedepan kenyataan?memang ff yang penuh mistery dan sedikit memerlukan konsentrasi yang ekstra😵😵 next capter di tunggu kaa👉👉👉

  19. eaaaa gakerasa udh chapter 4, padahal kaya baru kemaren chapter 3. :v. aku ngertii yeyaaaaaaaaaaaaaaaa. senenngg deehh huu. berasaa jadi org pinter tau gag kaaa. trus pas pertama kali aku mikir woo ryung, aku mikirnya itu jisoo padahal kai, wkwkwkwkwk😄😄 . tapi ga rusak ko bayangan diotak kuunya😄. semangat kaaa chapter 5 nya!!! kalo bagus kukasih sate 1000 tusuk :v. tapi emng udh pasti bagus si. jadi gajadi deh ngasihnya :v😄

    • 😄 buakakakakaka ini emang tiap akhir minggu sih aku apdetnya😄 jadi yahh😄 wkwkkwwk PLIS, KENAPA HARUS JISOO? KAMU BIKIN AKU INGET SAMA DIA /APAAN RISH/😄😄

  20. Misterinya perlahan terjawab meski masih mennjadi misteri (?) 😂
    Berbagai pertanyaan masih berputar di kepala :
    Siapa sebenarnya Jongdae dan Woohyung? Apa mereka masih hidup sampai kehidupan Jo Hyunhee asli atau bukan? Sebenarnya Jongdae dan Woohyung tau kalau Jo Hyunhee tadi bukan Jo Hyunhee zaman itu? Dll.

  21. Hai IRIISHH……!!!!!!!
    Udah lama g maen k EFI,, tiba” d suguhin karya mu yg selalu luar biasa astralnya..
    Kabar terahir yg sempet aku tau kamu kena kecelakaan itu IRISH,, gimana sekarang udh baikan kah?
    Maaf aku baca’y ngebut n baru bisa komen d sini, telat banget kan ya? Btw ni baca fanfic udah kaya ngisi TTS ajah,, mumett.. tapi seru bikin penasaran!
    Dan itu kalimat “계속”nya bikin otak’q lompat kesana kemari ,,”jangan2 jongdae yg sekarang itu reinkarnasi jongdae yg dlu”, “jangan2 hyunhee d tarik kemasa itu buat nyadarin klo d kehidupan sebelumnya dia juga berhubungan ama jongdae” , ato jangan2 jongdae yg sekarang masih jongdae yg dulu? mollaa…. pokonya banyak kalimat larangan berkeliaran d otaku yg udh sesek ini..

    • BUAKAKAKAKA, IYA BENER INI, SELALU LUAR BIASA EMANG ASTRALNYA YA?😄
      gapapa santai aja sama aku mah, baca ngebut juga engga apa-apa😄 wkwkwkwkwkkw itu kata-kata hangulnya udah emang ofisyel ganti sih, engga cuma di ff ini aja jadi jangan kuatir😄 wkwkwkwk

  22. Jongdae-ya..
    I miss you. Lama berkutat dengan tugas d dunia nyata.. 😢
    Dan akhirnya bisa brtemu sgnmu lagi.. 😄😍
    Semanagat kak irishh.. Smoga cpat smbuh ya… 😘😘

  23. Maaf kak irish, dibunuh sama bertemu ajal bukannya satu spesies? *abaikan
    Btw, itu si hyunhee kenapa bisa tidur di meja?
    Eh, iya juga ya? Kenapa si chen ama kai bisa reinkarnasi padahal mereka kan penyihir? Oh atau mungkin reinkarnasi itu berlaku untuk semua mahluk? *apabangetdah

    Ganbate kak irish!!^^

  24. DAN AKU SALPOK KE ADEGAN PENGENALAN WOO RYUNG, EMANG YAH KALO BABANG KAI PASTI KAGAK LUPA TUH ADA KATA TAN, HITAM, GELAP, DAN SEJENISNYA, WKWK..KAI, KENAPA KAMU NISTA?😄
    NEXT CHAP KAK RISH, PENASARAN!!!😄
    EMANG WAJIB DITAMBAH GENRE MISTERY KAK, MISTERY SEMUA SOALNYA😄
    GODAAN SATE? APAKAH GODAAN ABS UDAH KALAH DENGAN SATE KAK RISH? /PLAKK/😄
    HWAITING KAK!!😀

  25. SERU! Pake banget! Entah kenapa karya-karyanya kak Irish itu selalu pas di dalem ati.
    HAPPY EID AL-ADHA MUBARAK!❤
    See u on the top kak lop yu lop yu😀 haha

  26. Apa jangan-jangan jongdae yg sma hyunhee skrang itu adalah jongdae yg ada di jaman joseon,,dia kan bsa hdup seratus dua ratus tahun?? Buat alur sndiri nih gue…abaikan..

    Rish fighting ohh…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s