SWITCH – EPILOGUE — IRISH’s Story

irish-switch-2

s      w      i      t      c      h

|  Jongdae x Hyunhee  |  Fantasy x Historical x Mystery x Romance  |  Chapterred x Short Story  |  Teen  |  by IRISH  |

|  prompt from EXO`s 3rd Repackage Album Song Title: She’s Dreaming  |

Show List:

ForewordPrologue1st Mossaic 2nd Mossaic3rd Mossaic4th Mossaic5th Mossaic6th Mossaic7th Mossaic 8th Mossaic 9th Mossaic 10th Mossaic 11th Mossaic 12th Mossaic13th Mossaic14th Mossaic — [PLAYING] Epilogue

s      w      i      t      c      h

♫ ♪ ♫ ♪

Seoul, 2018.

In Hyunhee’s Eyes…

Terkadang, takdir tidak seburuk yang kita pikirkan. Terkesan mempermainkan, tapi sebenarnya takdir hanya mengulur-ulur waktu kita saja. Meski kita mengajukan protes atas apa yang telah terjadi, kita tidak bisa mengubahnya. Karena begitulah cara takdir bekerja, tidak bisa kita duga.

Hal yang sama juga terjadi padaku, meski aku tidak benar-benar memahami apa tujuan takdir mempermainkanku, tapi setidaknya aku tahu… bagaimana pada akhirnya takdir memperlakukanku.

Sudah dua tahun berlalu, sejak terbangunnya aku dari tidur yang kukira sebagai kematian. Tapi, aku tidak lagi berpindah-pindah tubuh, yang ada hanya… mimpi buruk. Tentang apa yang terjadi pada reinkarnasiku di waktu yang berbeda, tanpa aku bisa berbuat apapun atau ikut terlibat lagi di dalamnya.

Hyunwoo baik-baik saja. Meski ia mengatakan padaku jika tidak ada yang terjadi padanya—hal yang membuatku kembali tidak mengerti tentang bagaimana ia bisa kembali hidup—tapi kupikir aku tidak lagi membutuhkan penjelasan.

Lady Jo mati di tahun 1653, cukup lama dari masa dimana aku menempati tubuhnya. Tidak dituliskan dalam sejarah tentang bagaimana ia mati, tapi setidaknya… aku bisa berpikir ia tidak mati sia-sia karena bunuh diri.

Saat kubaca kembali tentang sejarah kehidupannya, di tahun-tahun setelah aku pergi, Lady Jo banyak berperan penting di kehidupan istana. Yang artinya, ia pasti banyak bertemu dengan Gwanghae-gun, bukan? Kembali, benakku berspekulasi, tentang hubungan macam apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua, tapi kupikir aku tidak perlu memikirkannya lagi…

Kurasa aku tahu apa yang terjadi.

Lady Jo, dan Raja Gwanghae, kupikir di kehidupan sebelumnya, mereka saling mencintai. Tidak seperti perkataan Jongdae padaku bahwa Gwanghae-gun membawa Lady Jo ke istana hanya untuk menarik perhatian Jongdae saja, tidak juga seperti ucapan Jongdae tentang bagaimana Raja tidak pernah menyentuh Lady Jo sedikit pun karena tahu tentang perasaan Jongdae pada Lady Jo.

Tapi kupikir, mereka berdua saling mencintai, dan mengungkapkannya dengan kebisuan, cara yang salah—karena pada akhirnya tidak berujung kebahagiaan bagi keduanya.

Mengapa kukatakan begitu? Tentu saja karena di kehidupan ini, aku—reinkarnasi dari Lady Jo—dan seorang pria yang beberapa tahun lalu kuumpat sebagai pria brengsek bernama Park Chanyeol—yang kuyakini sebagai reinkarnasi dari Raja Gwanghae—akan bersama-sama menginjakkan kaki di atas altar.

Ingat tentang pria brengsek yang menjadikanku kekasihnya kesepuluh? Yang juga menjadi mantan tunangan dari Yeonhwa—reinkarnasi Putri Jeongmyeong—yang menjadi sahabatku?

Ya, jalinan tali kasih kembali teruntai di antara kami delapan bulan lalu, dan berujung pada sebuah keseriusan untuk bersama-sama berencana membangun sebuah rumah tangga. Meski terkesan konyol, dan tidak masuk akal, tapi alasan ini paling masuk akal.

Mereka katakan, jika kehidupan kita tidak akan bernasib jauh dari diri kita di kehidupan sebelumnya. Jika Lady Jo bersama dengan Raja Gwanghae dengan cara yang menyakitkan, bukankah aku dan Chanyeol bisa bersama dengan cara yang lebih baik?

Kim Jongdae.

Ah, pria itu tidak pernah terlihat dimana pun. Tidak juga dikenal oleh siapapun. Aku tidak tahu, apa yang terjadi pada Jongdae di kehidupan sebelumnya, sejarah tentangnya tidak bisa kutemukan. Seolah ia tidak pernah hidup di zaman Gwanghae-gun. Dan aku… bahkan tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi padaku di masa itu.

Satu-satunya yang kuingat hanya siluet dirinya sesaat sebelum aku menutup mata untuk selamanya di tubuh Lady Jo. Tapi… aku terbangun dan hidup, sementara Lady Jo juga hidup. Apa yang sudah terjadi sebenarnya? Bekas luka yang ada di dadaku juga menghilang, apa sesuatu terjadi di masa lalu saat aku meninggalkan tubuh Lady Jo?

Terlebih… mengapa Jongdae menghilang? Di kehidupan Lady Jo, dan di kehidupanku? Ia tidak mungkin membuat dirinya tidak terlahir, bukan? Ia bahkan bisa meninggalkan surat balasan untukku. Apa mungkin, ia menghilang di kehidupan Lady Jo hingga di kehidupan ini kami tidak dipertemukan?

Entahlah. Anggap saja seperti itu.

“Kau terus saja melamun sejak tadi.” aku tersentak saat Yeonhwa bicara padaku. Kusadari ia sedari tadi memperhatikan aku yang terus terdiam dan hanya tersenyum sekilas pada tamu yang datang dan mengucapkan selamat padaku, sementara Yeonhwa sendiri tampak cantik dengan balutan dress putih mewahnya.

“Sebenarnya siapa yang menikah di sini? Kau atau aku?” Yeonhwa tergelak mendengar ucapanku, dengan gemas ia memukul pelan lenganku, hal yang kemudian membuatku menatapnya dengan mata membulat.

“Ada apa denganmu?” ucapku berpura-pura kesal.

Yeonhwa baru saja akan membuka mulut dan bicara saat pintu masuk menuju ruang tunggu pengantin kembali terbuka.

“Nah, kau tidak bisa mengomel karena ada yang datang.” ledekku pada Yeonhwa, ia hanya mendengus kesal melihat reaksiku. Hal yang kemudian membuatku membawa tungkaiku bergerak untuk melangkah ke arah pintu.

“Bisa aku menemui pengantin wanita sendirian?” sebuah suara terdengar di luar pintu. Hyunwoo? Ah, apa dia membawa kejutan? Sejak pagi tadi ia tidak juga terlihat di gedung pernikahan.

“Tidak bisa, Tuan. Pendamping pengantin yang ada di dalam tidak boleh meninggalkan ruangan, ini keinginan mempelai pria.”

“Kalau begitu biarkan aku menemui pendamping pengantin itu dan bicara padanya.”

“Apa itu Hyunwoo? Mengapa dia bicara hal konyol?” Yeonhwa berceloteh, sementara ia melangkah mendekati pintu. Aku sendiri terkekeh pelan, heran juga mengapa Hyunwoo memilih cara yang begitu tidak praktis?

Dia cukup katakan kalau dia adalah adik dari—

“Nona Jo? Seseorang ingin menemui Anda.” pemikiranku terhenti saat pelayan yang ada di depan pintu masuk secara tiba-tiba—menghentikan Yeonhwa yang tengah berencana menggapai gagang pintu dan keluar ruangan.

“Oh, kau mau bertemu dengan Hyunhee saja?” Yeonhwa berucap, bisa kulihat ia melemparkan pandangan curiga pada sosok yang ada di depan pintu. Apa yang datang bukan Hyunwoo?

“Aku hanya akan bicara sebentar padanya.”

“Menemuiku? Yeonhwa-ya, memangnya siapa yang—”

Lidahku kelu, semua kata yang hendak terucap kini tersendat, aku membisu secara tiba-tiba. Pria yang sekarang melangkah masuk ke dalam ruangan tempatku berada dan melempar pandang ke arahku itu… bukan Hyunwoo. Meski mereka punya suara yang terdengar serupa, tapi dia bukan Hyunwoo.

“Kau mengenalnya, Hyunhee-ah?” pertanyaan Yeonhwa terdengar.

“Bisa tolong… kau tinggalkan aku dengannya sebentar, Yeonhwa-ya?”

Yeonhwa mengerjap cepat, menatap tidak mengerti. Tapi sekon kemudian tanpa bicara apapun ia melangkah keluar ruangan, menutup pintunya, benar-benar meninggalkan kami berdua.

“Kau pengantin wanita paling cantik yang pernah kulihat, Hyunhee-ah.”

Mendengar suaranya, melihat parasnya yang selama dua tahun ini tidak pernah kutemui di manapun, menyadari bahwa eksistensinya di tempat ini adalah hal paling tidak logis dan tidak mungkin terjadi, aku terkesiap.

Aku sadar benar apa alasannya tiba-tiba muncul di sini, tanpa basa basi menyapaku seolah tidak ada yang salah di antara kami. Aku sadar jika aku bukanlah satu-satunya orang yang merasa yakin tentang kehidupan yang sudah kujalani sebelumnya.

Bahwa Jongdae tetap ada, bahwa Jongdae bukannya menghilang dari kehidupanku maupun kehidupan Lady Jo. Untuk alasan yang tidak kumengerti, ia menghilang. Dan muncul saat dirasanya waktu sudah tepat untuk kami berdua.

Tapi, apa hari pernikahanku adalah hari yang tepat baginya?

Dan jika ia muncul saat ini, ketika aku harus memilih antara kebahagiaan yang menungguku di altar, dengan kehidupan yang tidak kumengerti bersama pria yang sudah kunanti kedatangannya…

Haruskah aku melepaskan semua yang kudapatkan selama dua tahun ini demi sebuah perasaan yang kembali bangkit saat pandangku bertemu dengan miliknya? Milik pria yang begitu kurindukan meski tidak kuketahui alasannya?

“Maaf sudah membuatmu menunggu, Hyunhee-ah.”

“Kenapa? Kenapa sekarang?” aku menatapnya tidak mengerti.

Pria itu, tersenyum. Jemarinya bergerak menyentuh jemariku, menarikku lembut untuk mendekat ke arahnya sementara manik pria itu sekarang bersarang pada cincin yang melingkar di jari manisku.

“Untuk kedua kalinya, Hoon kembali mendahuluiku. Apa yang harus aku lakukan sekarang, Hyunhee-ah? Siapa yang akan kau pilih kali ini?”

Apa… hanya aku seorang yang merasa jika waktu sekarang terhenti?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Hanyang, 1619.

In Jongdae’s Eyes…

Mereka katakan, kalau seseorang bisa bahagia hanya dengan melihat orang yang mereka cintai bahagia, meski itu artinya kebahagiaan seseorang harus dikorbankan. Bagiku, mencintai seorang wanita dalam keadaan mengerikan seperti ini… adalah sebuah kutukan.

Dan ya, membiarkan wanita yang kucintai untuk bersama dengan seorang yang dicintainya, kupikir merupakan akhir yang paling pantas untuk perasaan cinta yang aku rasakan. Meski tidak sepenuhnya menghilang, tapi perasaan cinta itu tetap ada, tertidur di dalam diriku, menunggu sosok lain untuk membangunkannya dan kembali mengajarkannya tentang makna dari cinta.

Kurelakan kebahagiaanku, Jo Hyunhee, pergi dari kehidupanku saat ia memutuskan untuk menjadi selir dari pria yang telah menjalin kasih dengannya selama beberapa tahun. Hoon, pria yang kini menyandang status sebagai pemimpin dari negeri ini.

Pria yang juga tahu tentang identitasku yang sebenarnya, yang juga secara tidak sengaja telah mengetahui perasaan yang kusimpan untuk wanita itu, Jo Hyunhee. Pahitnya, kami sama-sama mencintai wanita itu.

Jika saja Hyunhee terlahir dari garis keturunan bangsawan, sudah bisa kupastikan ia tidak akan sekedar menyandang status sebagai selir dari Raja. Jika Hoon tidak terlahir sebagai seorang Putra Mahkota, mungkin Hyunhee tidak akan menyimpan perasaan begitu mendalam terhadapnya.

Aku lah satu-satunya orang yang tidak beruntung di tempat ini. Aku lah yang harus mengorbankan kebahagiaanku demi orang yang kucintai. Karena aku percaya, jika aku tidak cukup beruntung di kehidupanku sekarang, aku mungkin akan terlahir sebagai seorang yang lebih beruntung di kehidupan yang akan datang.

Dan jika… kehidupan itu nantinya datang, apakah mungkin bagiku untuk mencintai Hyunhee sekali lagi? Merasakan bagaimana ia membalas perasaanku sehingga kami bisa hidup berbahagia dan menghabiskan usia bersama-sama?

Jika Hyunhee terlahir kembali, apakah ia ditakdirkan untuk bersama denganku?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Seoul, 2016.

In Author’s Eyes…

“Bagaimana kau bisa tahu?”

Jongdae tersenyum kecut mendengar pertanyaan dari pemuda yang ada di hadapannya. Jo Hyunwoo, pemuda yang seharusnya sudah mati beberapa tahun lalu, dan kini dengan ajaibnya bisa muncul di hadapan Jongdae dalam keadaan baik-baik saja.

“Menurutmu, apa yang membuat kematianmu menjadi hal yang tidak masuk akal? Hyunhee sudah menyelamatkanmu.” ucap Jongdae membuat Hyunwoo menyernyit bingung.

“Apa kau tahu aku mengalami switch selama ini?”

Switch?” ulang Jongdae.

“Ya, pertukaran tubuh di waktu yang berbeda. Bagaimana kau tahu kalau aku mengalaminya? Apa kau… juga mengalami hal yang sama?” tanya Hyunwoo membuat Jongdae tertawa.

Seorang Kim Jongdae, mengalami perpindahan waktu? Jangan bercanda.

“Aku sudah hidup cukup lama untuk tahu apa yang terjadi, Hyunwoo. Aku ingat, kau mati karena alasan yang tidak diketahui, sepuluh tahun lalu. Dan aku juga ingat, memoriku telah berbohong, memaksaku untuk merekam jelas bagaimana Jo Hyunhee, ratusan tahun lalu, telah membawaku menyelinap ke tahanan dan menyelamatkanmu.

“Itu adalah alasan kau masih bertahan hidup, bukan? Karena kau tidak mendapatkan eksekusi mati. Dari apa yang terjadi padamu… kupikir aku bisa menarik sebuah kesimpulan, kalau apa yang terjadi pada tubuh yang kau tempati, luka, atau kematian… akan terjadi pada tubuhmu yang sesungguhnya.”

Hyunwoo kali ini terdiam.

“Jadi, bagaimana kau menjelaskan tentang Hyunhee yang menyelamatkanku?” tanyanya dengan nada menuntut penjelasan. Sejenak, Jongdae terdiam. Ingatan juga kerinduannya pada eksistensi si gadis yang petang ini direncanakan untuk dikremasi sungguh mendominasi.

“Yang menyelamatkanmu malam itu, adalah Hyunhee yang sekarang terbaring di peti mati, Jo Hyunwoo.” kalimat itu berhasil membuat Hyunwoo membeku. “Noonaku? Kau pikir aku akan percaya jika noonaku mengalami hal yang—” kali ini ucapan Hyunwoo terhenti.

“Mungkinkah… noona mati karena… Jo Hyunhee yang ada di masa lalu juga mati?” ucap Hyunwoo, menyadari hal tidak masuk akal yang baru saja terjadi dengan sangat cepat. Beberapa menit lalu ia baru saja mendengar seorang pria bertutur jika ia adalah seorang dari masa lalu yang masih mengingat kehidupan Hyunwoo dan apa yang terjadi di masa lalu.

Kemudian ia juga harus mendengar fakta tentang kematiannya yang tiba-tiba saja menghilang karena Hyunhee telah menyelamatkannya di masa lalu. Secara tidak langsung hal itu juga memberitahukan Hyunwoo jika saudarinya, kemungkinan besar mengalami kematian yang sama dengannya.

“Bagaimana aku bisa percaya padamu?” tanya Hyunwoo sekon kemudian.

Jongdae akhirnya tersenyum simpul, tahu jika penjelasannya sekarang bisa diterima oleh Hyunwoo dengan kepala dingin. Tahu jika pemuda di depannya ini percaya padanya meski bibirnya mengutarakan sebuah ketidak percayaan.

“Mengapa kau tidak kembali ke masa lalu dan yakinkan aku untuk menjauh dari Hyunhee?” mendengar perkataan itu, Hyunwoo lagi-lagi terdiam.

“Mengapa kau ingin aku melakukannya?”

“Hanya itu cara untuk menyelamatkannya. Jika aku di masa lalu, menghilang dari kehidupan Hyunhee, ia akan kembali dengan sendirinya ke dalam tubuhnya. Mungkin juga, ia tidak akan mati.

“Aku tahu, saat pertama kali kau terbangun di kehidupan ini, kau merasa jika dirimu beberapa saat yang lalu akan mati tapi kemudian kau terbangun dan baik-baik saja, bukan?

“Hyunhee pasti akan mengalami hal yang sama. Jika kau berhasil membuatnya tetap hidup di masa lalu, ia akan hidup di masa ini. Dan saat kau berhasi mengembalikannya ke kehidupan ini, kau juga akan kembali.

“Bukankah seperti itu aturan pertukaran tubuh yang terjadi pada kalian?”

Hyunwoo bungkam. Meski tidak yakin dengan ucapan pria di hadapannya, tapi ia menemukan hal lain dalam penuturan pemuda itu. Ketulusan. Yang secara tidak langsung memang Jongdae utarakan demi kebaikan Hyunhee, demi kehidupan gadis itu.

“Apa yang akan terjadi padamu jika aku mengubah masa lalu kalian?” tanya Hyunwoo sekon kemudian. Jongdae tersenyum kecil. “Aku akan menemuinya, jika waktunya sudah tepat.”

Kalimat itu berhasil membuat Hyunwoo tersenyum tanpa sadar. Dipandanginya pria di hadapannya dengan sebuah senyum penuh makna sebelum ia lantas berucap.

“Apa kau begitu mencintai kedua Hyunhee yang ada di hidupmu?”

“Aku mencintai keduanya. Tapi yang kedua—kakakmu—adalah yang paling kucintai. Karena dia adalah Hyunhee lain yang langit kirimkan untuk kucintai setelah aku merelakan Hyunhee yang pertama bahagia bersama orang lain.”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Hanyang, 1623.

In Hyunhee’s Eyes…

Kematian.

Ya, kematian adalah hal yang diinginkan Lady Jo. Saat aku pertama kali masuk ke dalam tubuhnya, dan sejarah kematiannya, semuanya dikarenakan bunuh diri. Usaha yang Lady Jo lakukan untuk mengakhiri hidupnya. Dan sekarang, sudah jelas aku akan kembali ke kehidupanku jika Lady Jo mati, karena keinginannya sudah aku penuhi.

Karena masalahnya sudah terselesaikan.

“J-Jongdae-ya…”

“Ya, Hyunhee?”

Aku kini menatapnya, mengumpulkan keberanianku untuk mengucapkan kalimat yang mungkin terdengar begitu konyol baginya, kalimat mengerikan yang pasti dipikirnya muncul dalam benakku.

“Ada apa?” tanyanya.

Aku menarik dan menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya bangkit dari pangkuan Jongdae. Aku duduk di sebelahnya, menatap langit malam sementara benakku memikirkan berapa banyak waktu yang harus aku habiskan untuk menunggu saat sebuah jawaban sebenarnya sudah terpatri di depan mata.

“Apa yang ingin kau katakan?” lagi-lagi suara Jongdae terdengar.

“Kematian, adalah keinginan Lady Jo. Jadi… bisakah aku memintamu untuk membunuhku?”

“A-Apa?” tatapan Jongdae melebar saat mendengar ucapanku.

“Saat pertama kali datang ke tempat ini, aku muncul saat Lady Jo sudah mencoba bunuh diri. Dan saat aku menyelamatkannya—menyelesaikan masalahnya kemudian kembali ke kehidupanku—aku juga mendapatkan fakta kalau ia bunuh diri.

“Aku tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi di sini. Dan Lady Jo juga menginginkan kematiannya. Bisakah… kau membunuhku cara yang tidak menyakitkan?” Jongdae kini terdiam mendengar ucapanku.

“Kau tidak harus mati, Hyunhee-ah.” ucapnya membuatku menyernyit bingung.

“Apa maksudmu?”

Lagi-lagi ia terdiam. “Kau tidak harus mati jika kau ingin kembali. Apa menurutmu, keinginan Lady Jo yang sebenarnya adalah kematian? Kau salah.” ucapannya kini semakin kupertanyakan.

“Apa yang sebenarnya berusaha kau katakan?”

Jongdae menghela nafas panjang.

“Hal yang Hyunhee inginkan, adalah kepergianku. Keberadaanku, adalah hal yang dibencinya, hal yang membebaninya dan membuatnya tidak bisa hidup dengan baik. Hyunhee tahu aku mencintainya, tapi dia tetap diam, enggan memberiku kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku padanya.

“Tapi ia juga enggan untuk menolak perasaanku secara terang-terangan. Jika aku menghilang, mungkin saja kau bisa kembali ke kehidupanmu, tanpa harus mengorbankan kehidupan siapapun bukan?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Seoul, 2018.

In Jongdae’s Eyes…

 “Untuk kedua kalinya, Hoon kembali mendahuluiku. Apa yang harus aku lakukan sekarang, Hyunhee-ah? Siapa yang akan kau pilih kali ini?”

“J-Jongdae-ya…”

Suaranya terdengar begitu nyata. Bahkan ekspresinya masih sama persis seperti terakhir kali kupandang. Mereka mungkin dua orang berbeda yang terlahir kembali dalam keadaan yang berbeda, tapi keduanya sama-sama memberiku sebuah perasaan yang sama.

Bahkan, momentumnya masih sama. Hyunhee yang ratusan tahun lalu melepaskanku demi kebahagiaannya bersama Hoon, dan Hyunhee yang sekarang berdiri di hadapanku, tengah menanti menit menuju kebahagiaannya bersama pria yang tak lain adalah reinkarnasi dari Hoon.

“Ada cerita, yang belum kuceritakan padamu, tentang aku dan Lady Jo.” ucapku membuat Hyunhee mengerjap cepat, bisa kulihat lapisan likuid yang menutupi pandangannya.

“L-Lady Jo?” ia menyernyit tidak mengerti.

“Ah, bukankah begitu caramu menyebut Jo Hyunhee, selir Gwanghae-gun yang tubuhnya kau tempati selama beberapa waktu?”

Tatapan Hyunhee membulat.

“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?” aku tahu ia tidak percaya, tapi toh ia bertanya, meski ia terlihat tidak kuasa menahan tangis, Hyunhee akan tetap bertanya. Seperti itulah ia yang kukenal, di kehidupan ini, dan di kehidupan sebelumnya.

Hyunhee sebenarnya tidak pernah berubah.

Tidak lantas melanjutkan ucapanku, aku memilih untuk melangkah mendekatinya, merekam bagaimana cantiknya ia dalam balutan pakaian pengantin, sama cantiknya seperti saat ia akan meninggalkanku ratusan tahun lalu untuk kebahagiaannya bersama Hoon.

“Di malam itu, saat Lady Jo akan diresmikan sebagai selir dari Gwanghae-gun, aku sebenarnya sudah mengutarakan perasaanku secara tidak langsung padanya. Kukatakan padanya jika aku ingin hidup bersamanya. Tapi, Lady Jo tidak ingin melepaskan kebahagiaannya. Maaf, karena tidak sempat memberitahumu hal ini, Hyunhee-ah.”

Hyunhee masih terpana, bahkan saat aku sudah berdiri di hadapannya, ia masih menatapku dengan cara yang sama. Tidak percaya.

“J-Jongdae… Kau…”

“Kali ini, apa aku boleh menjadi seorang yang egois, Hyunhee-ah?” pertanyaanku kini membuatnya terhuyung mundur menjauhiku.

Aku tidak ingin sebuah persetujuan, aku hanya ingin meyakinkan diriku bahwa kepergianku di masa lalu, dan keputusanku untuk tidak muncul di kehidupannya sekarang, adalah sebuah hal yang benar.

“Aku… Aku akan menikah, Jongdae-ya. Dan juga, bagaimana bisa kau tahu—” akhirnya Hyunhee berucap.

“Aku tahu.”

“Apa?”

“Aku tahu kau akan menikah. Aku juga tidak ingin merusak kebahagiaanmu. Aku hanya ingin memberitahumu, kalau Kim Jongdae yang dikenal Lady Jo, dan Kim Jongdae yang kau kenal… adalah satu orang yang sama.”

“J-Jadi kau—”

Aku tidak memberi Hyunhee kesempatan untuk menyelesaikan ucapannya. Lekas kurengkuh tubuhnya, hal yang tidak pernah bisa kulakukan padanya selama beratus tahun, sebelum aku akhirnya dengan egois merenggut satu ciuman darinya.

Hanya satu kecupan kecil, wujud pemberontakan dari keegoisan yang selama ini sudah kupendam.

“Selamat atas pernikahanmu, Hyunhee-ah.” ucapku saat kulepaskan pagutanku pada bibir Hyunhee, sementara kurasakan lengan Hyunhee menyentuh bahuku, tatapannya kali ini sungguh tidak bisa kuartikan.

“Kau berhutang banyak penjelasan padaku, Jongdae-ya.” tuturnya.

Aku tersenyum kecil. “Kita bisa bertemu untuk membicarakannya.” jawabanku tidak lantas membuat Hyunhee puas, rupanya.

“Bagaimana jika kau menghilang lagi?” tanyanya.

“Sudah kukatakan aku akan kembali ketika waktunya sudah tepat bagi kita, bukan? Kupikir, sekarang adalah waktu yang tepat.” ucapku membuatnya kini mencengkram jemariku, erat.

“Ada apa, Hyunhee-ah?”

“Mengapa kau muncul di hari pernikahanku? Kau tahu kan, kedatanganmu akan berdampak sangat besar bagiku. Apa kau sudah merencanakannya? Ya, kau pasti sudah merencanakannya, bukan? Kau pasti sengaja datang di hari pernikahanku karena kau tahu aku akan—”

“Apa rencanaku berhasil?”

“Apa?” Hyunhee menatapku tidak mengerti.

“Katakan, jika rencanaku kali ini berhasil. Jadi aku tidak perlu merebutmu saat kau sudah menjadi istri dari seorang pria yang kukenal di kehidupan sebelumnya.” ucapanku kini membuat Hyunhee terdiam.

“Apa kau akan merelakanku lagi?” pertanyaan Hyunhee mengejutkanku. Apa ia benar-benar sadar jika aku sengaja muncul di hari penting seperti ini untuk menguji pilihannya? Untuk benar-benar mendapatkan atau malah melepaskannya?

“Haruskah aku membawamu dengan paksaan?” tanyaku, perlahan melepaskan kaitan jemari Hyunhee dan bergerak merengkuh pinggangnya, mengikis jarak yang tercipta di antara kami.

“Kemana kau akan membawaku?” aku tersenyum tanpa sadar, pertanyaannya sekarang terdengar sebagai sebuah persetujuan di telingaku. “Kau akan meninggalkan pengantin pria demi seorang pria yang baru kau temui?” tanyaku kembali mencoba menguji Hyunhee.

“Aku sudah mengenalmu selama bertahun-tahun. Bukankah kau kembali untuk membawaku pergi bersamamu? Jika di kehidupan ini, aku membiarkanmu sendirian lagi, tidakkah aku terlalu egois?”

Jemariku kini bergerak menyentuh sudut bibir Hyunhee yang tengah membentuk sebuah senyum penuh makna. Sekarang aku sadar, jika saja aku tidak ditakdirkan untuk terlahir sebagai seorang penyihir, apa aku akan bertemu Hyunhee?

“Kemana kau akan membawaku pergi?” lagi-lagi kudengar Hyunhee bertanya. Hal yang kemudian membuatku menariknya ke dalam pelukan, hal yang sangat ingin kulakukan sejak dulu, memilikinya.

“Kemana kau ingin pergi?”

“Apa kau bisa membawaku ke tempat yang aku inginkan?” kurasakan lengan Hyunhee melingkar di tubuhku. Aku tahu, mungkin kami lagi-lagi menyakiti seseorang untuk perasaan dan kebahagiaan kami. Egois, memang. Tapi bukankah cinta memang egois?

 “Apa kau lupa kalau aku adalah seorang penyihir, Hyunhee-ah?”

FIN

.

.

.

IRISH’s Fingernotes:

Diriku gatau ini ending macam apa, epilog macam apa, cerita macam apa, dan perasaan macam apa. Efek ngedengerin lagu yang mellow dan ngebeat di waktu yang bersamaan sama ngetik epilog akhirnya perasaan aku ikut campur aduk kayak es campur…

Ya pokoknya, hepiendingeu ~ untuk diriku yang membenci sad ending sungguh ending macem ini yang paling masuk akal dalam imajinasi aku. Hiks. Btw, gabisa bercuap-cuap banyak di sini karena masih ada afterword yang menunggu.

Dududu ~

.

.

.

BANTU AKU MENEMUKAN CINTA DI SINI → HELP! I NEED YOUR VOTE [3]

.

| MY SHOW |

| Instagram | Line | Twitter | Wattpad | WordPress |

16 thoughts on “SWITCH – EPILOGUE — IRISH’s Story

  1. Hiks, telat baca T.T
    Dan apoh ikoh?????? Kenapa bang cunyul yang jadi reinkarnasi raja? Kenapa si chan yang ternyata si cowok b*ngs*t yang dulunya hianatin hyunhee? Kenapa si chan yang kawin? Aku tuh gak bisa diginiin!!!! Pokoknya kak irish harus tanggung jawab udah memporak gandakan hatiku??
    Tapi gak papalah… aku ihlas kok chen ama hyunhee karena bang chan kan hanya milik daku seorang, its oke bang ditinggal kawin, masih ada aku yang always be there waiting for you*hoek
    Sekian.
    Keep writing and fighting kak!

    • 😄 IYA ITU SI CAHYO REINKARNASINYA. ABIS SELAIN CAHYO GA ADA YANG RAJAABLE GITU. WKWKWKWKWKWKW. gapapa ya Chanyeol nampang buat kawin doang😄 wkwkwkwkwkwk

  2. Aduh rish aku galau bacanya…habis kamu putar balik putar balik. Emg ngeswitch bgt otakku dibuatnya. Tp keren kok…aplg ini emg short chapter yang kebablasan kan? Tp ini mendinglah dari pada evening sky. Entah mengapa aku merasa itu krg greget. Gak se greget one and only…Soo the question is…..
    When one and only??? Miss Baekhyun and Yeri a lot…><

    • 😄 jangan galau ~ aku pas bikin galau juga kok ~ wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkw ya ampun evening sky itu ff lama yang aku editin dikit2😄 wkwkwkwkwkwkwkw sabar yaa One and Only mungkin akhir pekan nanti ~

  3. INI KEREN BANGET SUMPAH. JONGDAE NYA SUMPAH DAH. YAAMPUUUUNN😍😍😍. GA TAU LAGI HARUS BILANG APA. YG JELAS INI KEREN SANGAT. Ditunggu ya kak karya2mu yg selalu bikin jiwa gua terombang-ambing. Keep writing kak irish

  4. uncch ulalaaaaa~ /ikut taburr bungaa/ sukaaaa heueuueueueue samaa epilognyaa yawlaaa. klo sad ending lebih eeeuuuungg kayaknya. tapi ini udh cukup bikin aku meleleeeh yang sekarang dalam masa pemulihan bentuk semulaaaa. ku bacaaa dulu deeeh afterwordnya. kutandai epilog ini dalam list ff fav ku. keeey kaa

  5. TUHAN, EDNINGYA YA TUHAN, KENAPA GREGET SEKALEH? KENAPA CHANYEOL SUAMI AKUH DI DUNIA SANA /PLAKK/ DITINGGAL KAWIN SAMA HYUNHEE? ITU KENAPA SI MAS CHEN GAK SELOW AMAT DATENG” PAS ORANG MAU NIKAH? NGAJAK RIBUT DIA? WAE? KENAPA ENDINGNYA SAYA SUKA SEKALEHH? /PLAKK/
    😂

  6. wow wow…jadi sebenerny tuh chentong yg dulu sm sekarang itu orang yg sama ya…..hmm
    ya ampun jadi inget mamang jun ki.wkkk#apalahini
    weew trus klo mbak yun sm chentong itu si tiang apa kabar ?lol
    hmm happy ending nih..unch

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s