Cold Rain Series – All I Do by AYUSHAFIRAA

`Cold Rain` Series : All I Do

A fanfiction by AYUSHAFIRAA

`Starring Bae Joohyun x Chanyeol feat. Sandara Park`

|| DramaMarriagelifeRomanceSad ||

// PG15 // Oneshot //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

〖PLAYLIST〗

[Irene x Chanyeol] All I Do || [Seulgi x Chen] A Regret || [Wendy x Lay] The Wrong Person || [Joy x Suho] Stop It! || [Yeri x Luhan] The First

© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

.

.

.

The sin of nicely being in love,

You know only when you’re hurt by a bad break up.

It’s raining just in time, a cold rain is falling…

―♫―

“Jadi bagaimana keadaan istri saya, Dok? Istri saya sakit apa?”

Pemuda bermarga Park itu menatap serius ke arah seorang pria berjas putih dengan stetoskop yang menggantung di lehernya. Pria berjas putih itu baru saja memeriksa kondisi istrinya yang tiba-tiba pingsan di kantor tempat mereka bekerja bersama selama 4 tahun terakhir ini.

Pria yang tak lain adalah seorang dokter itu kemudian tampak mengerutkan kening, “Jadi anda belum tahu?”

Oh astaga, Park Chanyeol tidak suka bermain teka-teki di saat genting seperti ini. istrinya yang tiba-tiba pingsan, dirinya yang langsung membawa sang istri ke rumah sakit ini, dan sekarang saat ia bertanya tentang kondisi istrinya, sang dokter malah balik bertanya apa ia tahu atau tidak? Makanya ia bertanya juga justru karena ia tidak tahu!

“Istri anda hamil, Tuan Park. Bahkan sudah menginjak bulan ke-3. Apa anda sungguh tak tahu? Apa istri anda tidak pernah mengatakannya?”

Chanyeol mengangguk. Tunggu! Apa katanya?!

“Ha-hamil, Dok? Istri saya benar-benar hamil?” mata besar Chanyeol terlihat semakin besar seketika, antara rasa bahagia mendengar kabar kehamilan istrinya dan rasa takut kalau dokter itu hanya mempermainkannya.

Dokter itu mengangguk yakin. “Maka dari itu, jangan biarkan istri anda terlalu lelah ataupun stres. Kandungannya masih sangat rentan.”

Chanyeol menutup mulutnya, mencoba untuk tidak berteriak saking senangnya. Pasangan suami istri manapun pasti akan sangat menunggu-nunggu kehadiran buah hati di tengah-tengah mereka. Chanyeol dan istrinya, Joohyun, pun begitu.

“Ba-baik, Do-dokter! Saya… saya akan selalu menjaga mereka! Te-terimakasih!” ucap Chanyeol tergagap dengan binar bahagia yang tak kunjung luput dari wajahnya yang tampan.

Lelaki bertubuh proporsional itu melangkah keluar dari ruangan dokter sambil terus mengulum senyumannya. Sekarang adalah saat baginya untuk melihat kondisi sang istri di ruang rawat dan tak lupa berniat untuk memberi jitakan ke kepala istrinya karena telah berhasil membuatnya bodoh di depan dokter tadi karena tidak tahu apa-apa soal kehamilan istrinya sendiri.

“Eoh? Sayang? kau sudah sadar rupanya.” Chanyeol mengambil langkah mendekat ke arah ranjang putih tempat istrinya bersandar saat ini. Seorang perawat perempuan baru saja melangkah pergi meninggalkan istrinya.

Joohyun, wanita cantik yang setahun lebih tua dari suaminya itu tersenyum. Meski usianya lebih tua dari Chanyeol, wajah Joohyun berkata lain kok, jadi tidak masalah toh siapa yang peduli umur?

“Tapi aku masih sedikit pusing, Oppa.”

Niatan Chanyeol untuk menjitak kepala Joohyun pun akhirnya pupus. Joohyun baru saja mengeluhkan kepalanya yang terasa pusing, masa iya Chanyeol tega menambah rasa pusing itu? haha.

Chanyeol meraih tangan Joohyun, menggenggamnya begitu erat. Manik pualamnya menatap Joohyun penuh kasih, namun ada sedikit kekecewaan terpancar di wajahnya. “Kau ini, kenapa tidak memberitahuku, sih?”

“Memberitahu tentang apa?”

“Tentang kehamilanmu.”

“Ah,” Joohyun mengerti, “Maafkan aku, Oppa. Tadinya, aku ingin memberitahumu tepat di peringatan satu tahun pernikahan kita nanti. Tapi ternyata, sekarang pun kau sudah tahu.”

“Apa kau sedih karena aku tahu lebih dulu?” tanya Chanyeol. Tangannya bergerak mengelus pipi wanitanya. “Hei, dengarkan aku, Sayang! Kalau kau terus membiarkan aku tak tahu, bisa-bisa aku juga akan terus membiarkanmu berlelah-lelah di kantor tanpa tahu resiko yang akan kau hadapi nantinya.”

Wanita itu pun mengangguk, sadar kalau usahanya menutup-nutupi perihal kehamilannya pada suaminya sendiri adalah salah. “Aku mengerti, maafkan aku ya?”

“Kumaafkan tidak ya?~” Chanyeol menahan senyumannya, menggoda Joohyun yang kemudian mendaratkan pukulan lemah di bahunya seraya tertawa lepas tanpa beban.

“Terimakasih untuk semuanya. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Joohyun-ah.” ucap Chanyeol tersenyum tulus lalu mencium kening istrinya lembut.

.

.

.

Joohyun masih terdiam di depan pintu rumah yang terbuka begitu lebar, angin malam yang dingin berhembus masuk dengan leluasa. Baru saja, suaminya, Chanyeol, membawa serta seorang wanita bersamaan dengan kepulangan pria itu dari kantor.  Katanya, wanita itu adalah senior Chanyeol saat SMA yang sekarang tidak memiliki tempat lain lagi untuk dituju. Kebetulan itu lucu sekali.

“Sayang? Kenapa berdiri terus? Apa tidak pegal?” pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut sang suami yang menutupkan pintu segera setelah mengantar wanita yang dibawanya beristirahat di kamar tamu.

“Kenapa tiba-tiba pulang membawa wanita lain?” tanya Joohyun, rautnya terlihat begitu kecewa.

Kedua tangan Chanyeol memegang bahu Joohyun dan tanpa merasa berdosa sedikitpun lelaki itu berkata semuanya akan baik-baik saja setelah ini.

“Sandara hanya butuh waktu sampai ia memiliki rumah baru untuk ditinggali, Sayang. Membantu seorang teman yang sedang kesusahan, bukankah itu suatu perbuatan yang mulia?” Lelaki itu memberikan senyuman indahnya pada Joohyun, meruntuhkan semua kecemasan yang semula melanda batinnya.

Chanyeol merengkuh tubuh kecil istrinya erat sebelum akhirnya pukulan pelan mendarat di punggungnya.

“Jangan terlalu erat! Nanti bisa-bisa bayi kita sesak nafas di dalam sini.”

“Eoh, Chanyeol-ah? Maaf mengganggu waktumu dengan istrimu. Tapi, bisakah kau membetulkan keran air di kamar tamu? Sepertinya rusak.” Sandara, wanita cantik teman lama Chanyeol semasa SMA itu keluar dari kamar tamu yang telah dipersilakan untuk ia tinggali sampai kapanpun ia mau, mengganggu atmosfer hangat yang sudah tercipta di antara Chanyeol dan Joohyun.

“Rusak? Coba kulihat dulu.” jawab lelaki itu.

“Kau istirahat duluan saja ya, Sayang?” entah itu pertanyaan atau apa, bahkan sebelum Joohyun membuka mulutnya pun, Chanyeol sudah lebih dulu memilih masuk ke kamar Sandara dan meninggalkannya.

Chanyeol menggaruk-garuk kepalanya sendiri, tak mengerti apa yang harus dilakukannya untuk membetulkan keran air yang rusak. Ia malah takut, sentuhan tangannya akan semakin memperparah kerusakan tersebut sama seperti kejadian yang sudah-sudah.

“Kamar tamu ini memang sudah lama sekali tidak terpakai. Aku dan Joohyun hanya membukanya saat ada tamu kami yang menginap saja. Kebetulan, sudah berbulan-bulan ini orang tua kami ataupun tamu yang datang tak pernah menginap lagi. Jadi, harap maklum ya?”

Sandara mengangguk, mengerti. “Ah, begitu. Ya sudah, tidak apa-apa.”

“Untuk sementara sambil menunggu orang yang akan membetulkan kerannya, kalau kau butuh untuk menggunakan kamar mandi, pakai saja kamar mandi di kamar kami. Di kamar kami, alat-alatnya masih berfungsi dengan baik.” jelas Chanyeol.

“Baiklah, terimakasih banyak, Chanyeol-ah. Aku tidak tahu lagi harus membalas kebaikanmu dengan cara bagaimana.”

Sret! wanita itu hampir saja terpeleset, beruntung Chanyeol menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Untuk beberapa saat, mata mereka saling bertatap satu sama lain. Adegan ini mengingatkan mereka tentang kisah yang sebenarnya masih belum selesai di antara mereka berdua 8 tahun lalu saat mereka masih sama-sama duduk di bangku sekolah menengah atas.

“Ah, maaf. Sepertinya, selain kerannya rusak, lantainya juga licin. Nanti kau harus lebih berhati-hati lagi, Sandara.” Ucap Chanyeol mewanti-wanti.

.

.

.

Lampu kamar yang temaram, jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam, tak juga membuat mata suami istri itu tertutup. Joohyun menatap ke arah Chanyeol yang sedang terlihat sibuk di depan layar notebooknya dari arah tempat tidur. Ruang kerja memang sengaja disatukan dengan kamar mereka mengingat rumah mereka yang sangat minimalis, sehingga apa yang Chanyeol sedang kerjakan bisa Joohyun lihat dari setiap sudut kamar itu.

Bosan hanya menatapi suaminya saja dari jarak yang ‘jauh’, ia mendekati suaminya sambil membawa setoples kue coklat yang tadinya tersimpan di atas laci kecil di samping tempat tidur mereka.

Joohyun menduduki ujung meja kerja Chanyeol, ia mengambil satu kue coklat dari dalam toples yang dipegangnya,

“Kue?” tawar Joohyun pada suaminya itu.

Chanyeol tak merespon sama sekali.

Dahi wanita itu mengkerut, sedikit kesal dengan suaminya yang sama sekali tak bereaksi. “Hm, baiklah. Sepertinya ia terlalu sibuk sampai-sampai telinganya saja tidak bisa mendengarku.” sindir Joohyun dengan suara imut yang dibuat-buatnya.

Chanyeol melirik sang istri sebentar, lalu kembali menatap layar 14 inchinya.

“Ada apa, Sayang?”

“Cih, aku hanya ingin menawarkan kue ini, agar Oppa tidak terlalu serius bekerja.”

“Kalau tidak serius, hasilnya tidak akan maksimal. Aku harus memperhatikan setiap detail pekerjaanku agar hasilnya memuaskan, dan beberapa bulan kemudian aku bisa dipromosikan.”

“Ya, ya, ya. Tapi yang di sini juga ingin diperhatikan.” Joohyun mengusap-usap perutnya yang datar itu sambil memanyunkan bibir.

Chanyeol tertawa kecil melihat tingkah istrinya yang menjadi lebih manja sejak hamil. Tapi tak apa, ia mengerti, dari waktu ke waktu Joohyun memang akan semakin membutuhkan lebih banyak perhatian dari dirinya.

“Hm, lalu kau inginnya bagaimana?” pria itu memilih menutup layar notebooknya dan menunda pekerjaannya sebentar, hanya untuk sekedar mendengarkan apa yang istrinya inginkan.

“Temani aku tidur!~” pinta Joohyun manja.

“Hanya tidur? Tidak ingin yang lebih dari itu?” Chanyeol menyeringai domba-_-

“Apa sih?! Dasar nakal!” Joohyun memukul kepala Chanyeol spontan, namun sedetik kemudian, “Ah, Oppa maaf! Aku tidak sengaja! Sakit ‘kah?” wanita itu merasa bersalah ketika melihat suaminya meringis seperti kesakitan.

“A-tidak… tidak apa-apa.” Chanyeol malah tertawa. “Kalau begitu, jja.” Ajak pria itu kemudian.

“Apa?” tanya Joohyun polos.

“Tidur.”

“Tidur?”

“Ya, tidur. Bukannya tadi kau ingin kutemani tidur?”

“Ah, iya juga! Aku lupa. Hehehe.”

Chanyeol tersenyum sambil mengacak-acak pelan rambut istrinya.

Jja, Ratuku.” Pria itu membopong tubuh istrinya, sementara sang istri melingkarkan tangannya ke leher pria itu dan tertawa bahagia. Chanyeol membaringkan tubuh Joohyun di atas tempat tidur mereka yang lumayan besar, ia berbaring di samping sang istri dan memeluknya penuh kasih sayang.

“Tidak tidur juga? Apa pelukanku membuatmu tidak nyaman, Sayang?”

“Bukan begitu.”

“Lalu?”

Joohyun menaruh tangan Chanyeol di atas perut datarnya lalu memasang wajah memelas tanpa mengatakan apa-apa. Seperti anak kecil yang ingin membeli permen namun takut untuk bicara, haha.

Chanyeol tersenyum, mengerti. “Kau ingin aku mengelusnya, hm?” Joohyun mengedipkan kedua matanya genit, tanda ia menjawab ‘Ya’. Sebagai suami dan calon ayah yang baik, Chanyeol pun melakukan apa yang Joohyun inginkan.

Oppa, kau ingin calon anak kita ini laki-laki atau perempuan?” tanya Joohyun sambil menatap langit-langit kamar mereka yang disinari remang-remang cahaya lampu.

“Kalau aku bisa memilih, aku ingin anak kita ini perempuan.” Jawab Chanyeol berandai-andai.

“Kenapa?” Joohyun menatap bingung suaminya, karena yang ia tahu, biasanya pria selalu menginginkan anak laki-laki.

“Aku ingin, anak perempuanku itu secantik istriku ini. Aku juga sering mendengar dari orang banyak, cinta pertama seorang perempuan adalah ayahnya sendiri. Aku ingin seperti itu, sepertinya menyenangkan saja. Selain itu, jika ia sudah besar, ia bisa membantumu dan melindungimu kan, Sayang?”

Wanita itu tersenyum, “Kalau begitu, aku berjanji, aku akan melahirkan anak perempuan untukmu, Oppa.”

.

.

.

Bahkan di hari libur seperti hari minggu ini, Chanyeol masih saja disibukkan oleh urusan-urusan kantornya. Dengan senyum tertahan, Joohyun menghampiri lelaki itu yang masih berkutat dengan berkas-berkas tebal di depan layar notebooknya dengan membawa secangkir kopi kesukaan lelaki itu.

“Eoh? sudah ada kopi ternyata,” Ujar Joohyun sedikit keheranan. “Oppa membuat kopi sendiri eoh? padahal aku baru saja mau mengantarkan kopi buatanku.”

Chanyeol melirik kopi yang dimaksud Joohyun sekilas, “Ah, tadi Sandara yang mengantarkannya untukku, Sayang.”

“Sandara?”

Wanita lain itu sudah berani masuk ke kamar mereka tanpa sepengetahuannya ternyata. Jemari Joohyun bergerak meraih cangkir berisi kopi buatan Sandara dan menyeruputnya sedikit, mencoba membandingkan cita rasa kopi itu dengan kopi buatannya yang tentunya telah sesuai selera Chanyeol.

Joohyun terdiam. Rasanya sama persis.

“Kau kenapa, Sayang? Sebegitu penasarannya ya sampai kau mencicipi kopi itu diam-diam?” Chanyeol merebut dua cangkir kopi yang ada di genggaman sang istri. “Pastinya kopi buatan istrikulah yang lebih enak.”

Joohyun memaksakan senyumannya di depan Chanyeol. Suaminya itu sudah pandai berbohong rupanya. Bagaimana bisa Chanyeol menyebut kopi buatannya lebih enak sedangkan kopi buatan Sandara rasanya sama persis dengan kopi buatannya?

“Kau mau menemaniku bekerja?”

“Aku ke dapur dulu sebentar.”

Langkah Joohyun terhenti saat maniknya menangkap sosok Sandara di dapur sedang mencuci piring-piring kotor bekas makan siang mereka bertiga.

“Sandara-ssi, tidak usah repot-repot!”

“Ah, Joohyun-ah? tidak apa-apa. Aku kan sudah banyak merepotkan kalian, ini sih tidak seberapa.” Balas Sandara ramah.

“Kalau urusan rumah tangga, biar aku saja yang mengurusnya. Aku masih sanggup melakukannya kok.” Ujar Joohyun sedikit keras kepala.

Wanita di sampingnya itu tersenyum kecil, “Tidak apa-apa, Joohyun-ah. Kau kan sedang hamil muda, sebaiknya kau banyak-banyak beristirahat. Apalagi kudengar dari Chanyeol, kau sempat masuk ke rumah sakit karena kelelahan. Kau harus memikirkan kesehatanmu.”

Dahi Joohyun mengkerut, “Dari kata-katamu, sepertinya kau jauh lebih berpengalaman daripada aku.”

“Tentu saja,” Sandara menghentikan aktifitasnya dan tersenyum pahit. “Aku pernah kehilangan janinku karena kecelakaan, rasanya begitu menyakitkan ketika kau tahu kau telah menghilangkan sebuah nyawa yang sempat menjadi bagian dalam dirimu.”

“Eoh? Maafkan aku, kau sudah pernah menikah rupanya.”

“Tidak.”

“Tidak? Maksudmu?”

Wanita yang baru saja berbagi sedikit kisah hidupnya itu berpaling menatap Joohyun, “Aku belum pernah menikah, Joohyun-ah. Lelaki itu tak pernah tahu tentang kehamilanku, dan sekarang  yang baru kutahu, dia sudah menikah dengan wanita lain.”

Joohyun kehabisan kata-kata. Bagaimanapun, jika dibandingkan dengan Sandara, ia jauh lebih beruntung karena memiliki Chanyeol di sampingnya.

“Joohyun-ah…”

“Ya?”

“Bukankah sudah seharusnya aku merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku? Kebahagiaan yang dirasakan wanita itu sekarang, bukankah itu seharusnya adalah kebahagiaanku?” tanya Sandara yang masih menatap Joohyun lekat-lekat.

“Bagaimana ya? pertanyaanmu sulit sekali. Kau tidak boleh merusak kebahagiaan orang lain. Aku tahu hatimu pasti sakit sekali melihat kebahagiaan mereka tapi… duh, maaf ya, aku tidak mengerti persoalan rumit seperti itu.” Joohyun menggaruk kepalanya sendiri saking kebingungan memilih kata-kata.

“Oh iya, ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa tahu selera kopi Chanyeol? Sepertinya dulu kalian berteman sangat dekat sekali ya?”

“Teman? Ah, jadi Chanyeol belum pernah bercerita apapun tentangku padamu ya?”

Joohyun menggeleng, “Memangnya dulu kalian sedekat apa?”

Sandara tersenyum lebar, “Sedekat yang kuceritakan tadi.”

‘Sedekat yang kuceritakan tadi’. Maksudnya?

“Lelaki  yang kuceritakan tadi, itu Park Chanyeol.” Ujar Sandara yang mengerti raut kebingungan di wajah Joohyun dengan ekspresi tanpa dosa.

Joohyun menyentuh keningnya sendiri karena tiba-tiba saja dunianya seperti berputar. Bagai petir di siang bolong, ia bersumpah tidak salah mencerna kata-kata yang diucapkan Sandara. Lelaki di masa lalu Sandara yang sudah menikah dengan wanita lain adalah Chanyeol? Kalau begitu, ‘wanita lain’ itu… dirinya?

“Tidak mungkin.” Ucap Joohyun berusaha menenangkan diri.

“Apanya yang tidak mungkin?”

“DASAR WANITA TIDAK TAHU MALU!”

PLAK!

“BAE JOOHYUN!”

Tubuh Joohyun gemetar sesaat setelah tangannya menampar keras-keras pipi putih mulus Sandara dan meninggalkan bekas merah di sana. Di saat yang sama, Chanyeol melihat semuanya dan salah paham.

“Apa kau sadar apa yang baru saja kau lakukan?!” tanya Chanyeol sedikit membentak.

“Dara, kau baik-baik saja?” wanita jahat itu mengangguk lemah di hadapan Chanyeol, mengundang Chanyeol untuk semakin bersimpati padanya. “Pergilah ke kamarmu, biar aku yang bicara pada istriku.”

.

.

.

“AKU TIDAK SUKA! AKU BENCI MELIHAT DIA ADA DI RUMAH INI!”

“MEMANGNYA APA KESALAHANNYA PADAMU SAMPAI KAU BEGITU MEMBENCINYA?!”

“KAU TIDAK AKAN MENGERTI, PARK CHANYEOL! DIA HANYA AKAN MENGHANCURKAN RUMAH TANGGA KITA! DIA TIDAK MAU MELIHAT KEBAHAGIAAN KITA! DIA INGIN MENGHANCURKAN SEMUANYA!”

“SADARLAH, BAE JOOHYUN! KAU SUDAH KETERLALUAN MENILAINYA! SANDARA ITU WANITA BAIK-BAIK YANG PERNAH KUKENAL!”

BRAK!

Di balik pintu kamarnya, Sandara tersenyum menang. Mendengar Chanyeol berusaha keras membelanya di depan istrinya sendiri, ia sepenuhnya yakin bahwa seorang Park Chanyeol tak pernah benar-benar melupakannya. Dulu, cinta seorang Park Chanyeol begitu besar pada Sandara Park. Kalau bukan Sandara sendiri yang menghindar dari Chanyeol sejak hari kecelakaan yang menimpanya, ia dan Chanyeol pasti sudah bahagia sekarang.

“Aku tahu, Bae Joohyun bukanlah tandinganku. Aku pasti bisa mendapatkanmu kembali, Chanyeol-ah.”

.

.

.

Joohyun terduduk di tepi kasur, tangannya meremas ujung rok hitamnya. Sejak bertengkar dengan Chanyeol siang tadi, hingga malam ini Chanyeol belum mau menampakkan diri di hadapannya.

“Bukankah sudah seharusnya aku merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku? Kebahagiaan yang dirasakan wanita itu sekarang, bukankah itu seharusnya adalah kebahagiaanku?”

“Lalu sekarang, apa semuanya menjadi salahku? Aku hanya tidak mau wanita itu merebutmu dariku, apa aku salah untuk itu?” gumam Joohyun di tengah kesendiriannya.

Suara canda tawa dari kamar yang berseberangan dengan kamarnya terdengar sayup-sayup. Oh astaga, jangan katakan kalau itu Chanyeol.

Langkah demi langkah membawa wanita yang sedang hamil muda itu untuk mendekat ke kamar tamu di rumah mereka. Pintu kamar yang tak tertutup sempurna itu sempat membuatnya takut kalau kejadian-kejadian menyakitkan seperti di film-film drama yang pernah ditontonnya kemudian menimpa kehidupannya. Tapi tidak, ia yakin, Chanyeol mencintainya.

“Chanyeol-ah! Hentikan airnya! Tutup kerannya yang benar!” titah Sandara yang tubuhnya sudah basah kuyup terkena semburan air dari keran yang rusak. Chanyeol pun tak kalah basahnya dengan Sandara. Keran air yang sudah rusak itu akhirnya bertambah rusak setelah Chanyeol menyentuh dan berniat membetulkannya.

“Oh ya Tuhan! Bagaimana ini?! airnya tidak mau berhenti!” ujar Chanyeol heboh sendiri sambil terus berusaha menutup saluran air yang terbuka itu.

Sandara menggunakan kedua tangannya untuk membantu Chanyeol menahan tekanan air, hal itu membuat tangannya menyentuh punggung tangan Chanyeol. Chanyeol menatap Sandara dengan bibirnya yang melengkung, tersenyum.

Oppa…” panggil Joohyun, Chanyeol berpaling menatap istrinya yang berdiri gemetar dengan manik berkaca-kaca. “Biar kupanggilkan tukang untuk membetulkan keran itu ya?”

Tanpa menunggu Chanyeol menjawabnya, Joohyun memilih cepat-cepat melangkahkan kakinya keluar. Bukan, mencari tukang bukanlah alasan utamanya, Joohyun hanya… ingin pergi dari kesakitan itu.

“Chanyeol-ah, sepertinya istrimu salah paham lagi padaku. Aku jadi merasa tidak enak padanya.” Ucap Sandara dengan raut menyedihkan yang dibuat-buatnya. Bodohnya lagi, Chanyeol mudah sekali tertipu.

“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Dia hanya sedang sensitif sekali akhir-akhir ini, biasanya tidak seperti itu kok.”

.

.

.

Lelaki itu berlari secepat yang ia bisa dengan raut penuh kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan, menelusuri koridor rumah sakit yang akan membawanya ke ruangan tempat sang istri mendapatkan perawatan intensif setelah mengalami kecelakaan, diikuti Sandara di belakangnya.

“Dokter! Dokter! Bagaimana kondisi istri saya?! dia baik-baik saja kan?!” tanya Chanyeol tepat setelah ia melihat seorang dokter keluar dari ruang rawat sang istri.

“Ah, ternyata anda suaminya. Mari ikut ke ruangan saya.”

“Aku akan tunggu di sini. Pergilah, Chanyeol-ah. Semua akan baik-baik saja.” ucap Sandara berusaha menenangkan Chanyeol. Lelaki tinggi itu melangkah pergi bersama dokter tersebut, meninggalkan Sandara sendirian di depan ruang rawat Bae Joohyun. Sudut bibir Sandara perlahan tertarik ke atas, tersenyum miring.

“Akhirnya kau merasakan apa yang dulu kurasakan, Joohyun-ah.”

“TIDAK! TIDAK MUNGKIN, DOKTER! COBA PERIKSA SEKALI LAGI! PASTI ADA KESALAHAN!” ucap Chanyeol tak terima saat dokter berkata istrinya baru saja mengalami keguguran. Airmata lelaki itu kian membanjiri pipinya sendiri saat kenyataan pahit lain harus ia telan bulat-bulat. Rahim yang satu-satunya Joohyun miliki, harus diangkat sehingga Joohyun takkan pernah bisa mengandung lagi.

Dengan langkah gontay dan airmata yang terus berlinangan, Chanyeol kembali ke ruang rawat Joohyun, mengabaikan pertanyaan-pertanyaan Sandara yang mempertanyakan kondisi istrinya.

Oppa… apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?” tanya Joohyun lemah. Wajah cantik wanita itu kini tampak pucat pasi dengan perban yang menutupi luka bekas benturan di kepalanya.

Chanyeol masih memilih bungkam.

“Joohyun-ah, bagaimana keadaanmu sekarang? Kau benar-benar membuat kami khawatir, terlebih Chanyeol.”

Wanita pucat itu tersenyum lemah mendengar Chanyeol masih sangat mengkhawatirkannya, “Rasanya sudah mendingan. Tapi tak apa, aku dan bayiku kan kuat.”

“Dia sudah tidak ada.” Gumam Chanyeol.

“Siapa yang sudah tidak ada?”

“Bayi kita.”

Mata Joohyun seketika saja berair, airmatanya tumpah. Mata Chanyeol yang sembab secara tidak langsung menyiratkan kalau lelaki itu sedang tidak dalam mode bercanda.

Oppa… a-apa… apa yang harus kulakukan?! Kenapa ini terjadi padaku?! Bagaimana ini?! Bagaimana bisa?! Apa yang harus kulakukan, Oppa?! Maafkan aku… maafkan aku…” Joohyun histeris, tangisnya pecah saat itu juga. Janin yang benar-benar Chanyeol harapkan, kini tak ada lagi dalam rahimnya.

“Tenang, kumohon tenanglah, Sayang! Kita bisa melalui ini semua, aku yakin! Kumohon tenangkan dirimu!” Chanyeol memeluk erat tubuh sang istri, tak pernah ada yang menginginkan hal ini terjadi, tapi kehidupan terkadang memang menyakitkan.

Dalam pelukan Chanyeol, Joohyun menangis tersedu, “Maafkan aku…”

.

.

.

Tak berapa lama setelah hari menyedihkan itu, Joohyun dapat merasakan perubahan sikap Chanyeol. Mereka jadi tak sering bicara apalagi bermesraan seperti dulu. Padahal, Sandara sudah tak lagi tinggal seatap bersama mereka. Chanyeol kini lebih sering menyibukkan diri dengan pekerjaan kantornya dan bersikap lebih dingin tanpa mau menjelaskan pada Joohyun alasannya berlaku seperti itu.

Oppa…”

“Aku sibuk, nanti saja kita bicara.” Sahut Chanyeol tanpa bertanya terlebih dulu apa yang sebenarnya ingin Joohyun katakan.

Joohyun mengangguk, mencoba mengerti sekali lagi. “Ya sudah, kutunggu di meja makan ya? jangan lupa kalau Oppa juga harus makan siang.”

Chanyeol tak membalas ucapannya lagi.

Masakan buatan Joohyun yang semula hangat, perlahan berubah menjadi dingin tanpa sempat tersentuh sedikitpun. Chanyeol tak kunjung keluar dari kamar untuk makan siang bersamanya. Joohyun menghembuskan nafasnya kasar.

“Eoh? Oppa, kau mau ke mana?” tanya Joohyun setelah maniknya menangkap sosok sang suami keluar dari kamar mereka dengan terburu-buru.

“Aku ada urusan.” Jawab lelaki itu singkat.

Oppa! Makanlah dulu!” cegah Joohyun, menghalangi Chanyeol untuk kembali mengambil langkah.

Chanyeol memutar bola matanya malas, “Kau tidak dengar? Apa kau juga sudah mulai tuli? Aku sedang ada urusan!”

Tuli katanya?

“Aku hanya… takut kau sakit. Kalau begitu, hati-hati.”

Lelaki itu pun pergi begitu saja. Dulu, setiap kali Chanyeol ada urusan pekerjaan mendadak, Chanyeol tidak pernah lupa berpamitan padanya dan mencium keningnya. Bulir airmata seketika jatuh dari pelupuk mata Joohyun.

Oppa… aku merindukanmu.”

Langkah tertatih Joohyun membawanya ke dalam kamar. Di kamar itu, ia dan Chanyeol banyak membuat kenangan manis. Seharusnya hari ini menjadi hari membahagiakan bagi mereka, karena tepat setahun lalu, ia dan Chanyeol mengucap ikrar suci pernikahan.

Ting!

Ponsel Chanyeol yang tertinggal di atas meja kerjanya menyala. Sebuah notifikasi pesan dari nomor kontak bernama ‘Sandara’ pun tertera jelas di layar ponsel pintar tersebut.

Chanyeol-ah, kau di mana? Kau tidak melupakan janjimu kan? Aku sudah menunggumu sejak satu jam yang lalu, lho! Awas saja kalau kau mengaku lupa! Sampai jumpa :*

Brak!

“Ponselku ketinggalan!”

Chanyeol merebut ponselnya dari genggaman Joohyun yang terdiam berlinang airmata. Saat lelaki itu hendak melangkah pergi, tangan Joohyun menahannya.

“Semua sudah kulakukan untuk mempertahankan pernikahan kita, tapi semua itu percuma, kalau nyatanya hanya aku yang berjuang di sini, sendirian.” Ucap Joohyun tanpa menatap sang suami.

“Kalau begitu kita sudahi saja sekarang.”

“Apa?” bukan, bukan itu kata-kata yang Joohyun harapkan keluar dari mulut Park Chanyeol.

Chanyeol perlahan menyingkirkan tangan Joohyun yang menahannya. Lelaki itu menatap sendu ke arah wanita yang pernah ia cintai untuk 3 tahun terakhir dalam hidupnya, “Kita berpisah saja, Joohyun-ah.”

Untuk terakhir kalinya, Park Chanyeol meruntuhkan harapan seorang Bae Joohyun. Tak ada kata-kata lain yang diucapkannya untuk kembali mempertahankan sang istri dalam pernikahan yang masih seumur jagung itu. Chanyeol sudah menyerah. Tepat di hari peringatan satu tahun pernikahan mereka, Chanyeol memilih meninggalkan Joohyun… untuk bersama Sandara.
All I Do – End.

Iklan

8 pemikiran pada “Cold Rain Series – All I Do by AYUSHAFIRAA

    • Iyaa begitulah 😭 chanyeol is nappeun ssaeki di sini wkwk /plak😂 niatnya awalnya sih udah sampe situ aja, cuma karena banyak(?) yg nanya insyaallah nanti diusahain ada sequelnya biar gak terlalu ngenes wkwk 😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s