SWITCH – 1st MOSSAIC — IRISH’s Story

irish-switch-2

s      w      i      t      c      h

|  Jongdae x Hyunhee  |  Fantasy x Historical x Mystery x Romance  |  Chapterred x Short Story  |  Teen  |  by IRISH  |

|  prompt from EXO`s 3rd Repackage Album Song Title: She’s Dreaming  |

Show List:

ForewordPrologue — [PLAYING] 1st Mossaic

The moon is alone in the sky
As it softly falls through the window and shines
It makes you dream of me

♫ ♪ ♫ ♪

In Hyunhee’s Eyes…

Apa gunanya menjadi jenius jika kejeniusan itu tidak digunakan?

Terkadang, aku membenci diriku sendiri yang tidak jenius dan tidak mudah mengingat semua hal seperti yang bisa Yeonhwa lakukan.

Well, bukan salahnya juga. Tidak juga jadi salahku. Dan sebenarnya, tidak ada yang menuntutku untuk jadi jenius. Hanya saja… keadaan memaksaku untuk mengubah diriku untuk menjadi seseorang yang cukup ‘pintar’.

Reinkarnasi. Apa kalian pernah mendengarnya? Jika waktu tiba-tiba berganti, apa kalian akan menerimanya? Tidak, bukan? Sudah bisa dengan mudah kuduga kalau tidak semua orang di dunia ini bisa menghadapi situasi tidak masuk akal ini.

Semuanya berawal dari sepuluh tahun lalu, ketika Hyunwoo—adikku—menjadi korban tabrak lari, tanpa ada alasan yang bisa kupikir cukup masuk akal untuk menjadi alasan mengapa polisi tidak bisa menemukan pelaku penabraknya.

Aku mencoba mengakhiri hidupku di malam kematian Hyunwoo—dengan melompat ke dalam kolam renang rumah kami dan menenggelamkan diri—ketika aku menyadari bahwa aku tidak seharusnya mati saat kematian adikku menjadi misteri.

Memikirkan bagaimana Hyunwoo bisa tiba-tiba saja mati, aku tidak sadar bahwa tubuhku sudah cukup lelah di hari itu, hingga akhirnya aku terlelap dan… di sanalah mimpi buruk itu dimulai.

Aku ingat benar aku tertidur malam itu, malam kematian Hyunwoo, saat esok harinya aku terbangun di ruangan yang tidak kukenali, diajak bicara oleh orang-orang yang tidak kukenal… dan aku bukanlah seseorang yang kukenal.

Tubuh itu memang tubuhku. Tapi dandanannya, penampilannya, semua berbeda. Orang-orang bahkan memanggilku Hyemi saat itu.

Mencoba melepaskan diri dari kemungkinan bahwa aku tengah bermimpi menjadi seorang ‘Hyemi’ aku akhirnya secara tidak langsung terlibat dalam kehidupannya yang serupa denganku.

Hyemi adalah seorang seniman jalanan, dengan kekasih yang… ugh! Bagaimana mungkin ia menjadi kekasih dari seorang pria pecinta wanita selama tujuh tahun?

Well, selama empat hari terjebak dalam identitas Min Hyemi, aku berhasil melepaskan diri dari pria yang membelenggu perasaannya selama tujuh tahun, mempermalukannya, membuat pria itu sadar bahwa Hyemi bukanlah seorang wanita tolol yang lantas terus mencintainya.

Semua orang memang terkejut melihat sikapku—yang mereka pikir sebagai Hyemi—saat itu, tapi saat aku tertidur di malam hari setelah hubungan Hyemi dengan pria itu berakhir… aku terbangun di kamarku.

Aku. Jo Hyunhee.

Saat itu, kupikir aku hanya memimpikan Hyemi saja. Tapi ternyata tidak.

Karena hal aneh itu terus berlanjut, hingga saat ini.

Terakhir kali, aku terbangun dalam tubuh Gye Seunghee. Tepatnya, enam bulan lalu saat aku secara tidak sengaja jatuh dari lantai dua rumahku, aku terbangun di dalam tubuhnya.

Tidak seperti yang lainnya, Seunghee adalah seorang wanita berusia tiga puluh empat tahun yang belum menikah. Ia punya kehidupan yang paling menyedihkan, dan karenanya…

Aku tahu aku akan mati tahun ini, saat usiaku menginjak tiga puluh sembilan tahun. Melalui Seunghee aku menemukan makamku, bersebelahan dengan makam Hyunwoo dan kedua orang tua kami.

Dan sampai hari ini, aku belum terbangun di tubuh reinkarnasiku lagi.

Oh, apa aku lupa menjelaskan tentang konsep yang sudah kupelajari selama sepuluh tahun ini?

Reinkarnasi. Ya. Mereka semua yang tubuhnya selama beberapa hari kupinjam, adalah reinkarnasiku. Terdengar tidak masuk akal memang, tapi nyatanya mereka memang sosokku di kehidupan yang berbeda.

Alasan mengapa aku muncul di kehidupan mereka secara tiba-tiba juga sama dengan alasan yang mengawali bagaimana aku terjebak dalam situasi aneh ini.

Ketakutan.

Aku ingat bagaimana aku takut mati ketika aku mencoba bunuh diri malam itu, kemudian esok harinya aku terbangun dalam tubuh Hyemi—dan kusadari selama tujuh tahun ia pasti begitu takut untuk mengakhiri hubungannya dengan pria yang menjadi kekasihnya—dan saat aku berhasil mengatasi ketakutan Hyemi, aku kembali sebagai Hyunhee.

Polanya selalu sama. Ketika aku terjebak dalam ketakutan, aku akan kehilangan kesadaran dan terbangun dalam tubuh reinkarnasiku di waktu lain, dan nyatanya di saat yang sama mereka juga tengah menghadapi masalah. Dan aku baru bisa kembali sebagai Hyunhee ketika aku sudah membantu mereka menyelesaikan masalahnya.

Beberapa tahun aku menjalani pola monoton itu sampai kemudian aku sadar bahwa aku tak hanya bisa terbangun dalam tubuh reinkarnasiku ketika aku takut.

Mereka—reinkarnasiku—juga pasti sadar tentang keanehan yang terjadi pada mereka. Meski mereka tidak tahu siapa aku, meski mereka tidak memahami konsep yang menjadi alasan kehidupan mereka tiba-tiba saja hilang selama beberapa hari, tapi mereka menerimanya.

Dan saat mereka membutuhkanku, tak perlu ketakutan bagiku untuk ditarik ke waktu kehidupan mereka. Ya, melihat bagaimana Yeonhwa mengatakan bahwa beberapa tahun terakhir aku sering tiba-tiba pingsan atau tidak sadarkan diri, aku sadar aku sudah terjebak begitu jauh.

Tapi ada satu pola lain yang baru kusadari dua tahun belakangan.

Bahwa aku juga bisa memanipulasi. Aku juga bisa berpindah ke kehidupan yang aku inginkan ketika aku takut. Tapi caraku untuk memanipulasi cukup sulit. Aku harus benar-benar merasa takut dan terancam secara psikis dan fisik untuk bisa merenggut kehidupan mereka.

Dan satu-satunya cara adalah: menghadapi kematian yang membutuhkan waktu.

Jadi dua tahun terakhir, aku sering bunuh diri.

Tidak dengan meminum racun tentu saja. Karena aku butuh tempo untuk tetap sadar dan berfokus pada kehidupan yang aku inginkan.

Melompat ke dalam air dan gedung tinggi adalah dua pilihan. Karena keduanya sama-sama memerlukan waktu dan kubuktikan, tidak membuatku terbangun sebagai sosok yang terluka ketika aku kembali menjadi Hyunhee.

Tapi enam bulan ini… semua usaha itu sia-sia.

Apa mereka semua sudah bisa menyelesaikan masalahnya?

Ada dua kemungkinan paling logis yang bisa kuterima. Pertama, mereka semua sudah bisa menyelesaikan masalahnya sehingga mereka tak lagi membutuhkan pertolonganku. Kedua, mereka tak lagi bisa meminta bantuanku karena aku… tak lama lagi akan mati.

Dan kurasa aku lebih suka pada pilihan pertama.

Mengingat bahwa aku… masih takut untuk mati.

Dua puluh hari lagi. Aku masih punya waktu dua puluh hari sebelum kematianku.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Dia melakukannya lagi?!”

Aigoo, tidak perlu berteriak begitu, Yeonhwa-ah. Ini juga bukan yang pertama kalinya, aku tertipu oleh lelaki seperti itu.”

Ya! Jo Hyunhee!”

“Apa?”

Dua orang gadis yang kini tengah duduk berhadapan di sebuah café ternama di kota Seoul tersebut saling beradu pandang. Salah satu diantaranya, Im Yeonhwa, kini menatap tidak sabar.

“Benar, bukan yang pertama kalinya. Tapi ini sudah ke sepuluh kalinya, Nona Jo.” peringat gadis bermarga Im tersebut, mengingatkan rekan kerja sekaligus sahabatnya—Jo Hyunhee—tentang bagaimana gadis Jo tersebut selalu dan selalu saja mengakhiri hubungan cintanya karena perselingkuhan.

Ya! Memangnya aku yang minta untuk diselingkuhi seperti ini?” tuntut Hyunhee tidak terima. Well, meskipun Yeonhwa sebenarnya menjadi teman dekatnya secara tidak sengaja, tapi tetap saja, terkadang Hyunhee tidak mengerti bagaimana bisa Yeonhwa bicara seenaknya sendiri.

“Lagipula, ini semua karenamu.”

“Apa?!” Yeonhwa memekik tertahan, atensi seisi café kini mulai tertuju pada mereka. Mungkin mereka terlihat seperti dua orang gadis yang tengah memperebutkan seorang pria, agaknya.

“Kalau saja kau tidak mengutukku seperti itu, dulu, aku mungkin tidak akan berakhir dengan kisah cinta menyedihkan seperti ini.” balas Hyunhee tak mau kalah.

Tsk,” kini Yeonhwa menyandarkan tubuhnya dengan tidak nyaman di kursi, kedua tangannya terlipat di depan dada, sementara alisnya menyatu, tatapannya masih juga tertuju pada Hyunhee yang tampak memasang ekspresi santai.

“Memangnya aku serius mengutukmu seperti itu?” ucap Yeonhwa kemudian.

“Entah, bagaimana aku bisa tahu?” balas Hyunhee membuat Yeonhwa akhirnya menghembuskan nafas panjang.

“Kau tahu jika bukan karena perselingkuhan itu, kita tidak menjadi teman dengan semudah ini.” ujarnya berhasil merebut atensi Hyunhee.

“Menurutmu begitu?” tiba-tiba saja seseorang ikut dalam konversasi mereka.

Ya! Kau mengagetkanku!” Yeonhwa memekik, tangannya dengan segera bergerak memukul lengan pemuda yang entah sejak kapan sudah duduk di kursi kosong yang ada di sana.

Hey! Hey! Jangan salahkan aku, kalian berdua yang terlalu serius bicara.” pemuda tersebut mengelak, sudut bibirnya mengembang membentuk senyum samar sementara netranya bergiliran menatap dua gadis di sebelahnya.

“Kau datang sendiri, Jongdae-ya?” tanya Hyunhee, ekspresinya tidak tampak begitu terkejut seperti reaksi Yeonhwa barusan.

“Hmm, ya. Memangnya aku harus bersama dengan sekertarisku?” tanya pemuda itu, Kim Jongdae.

“Cih, dasar playboy.” gerutu Yeonhwa melihat bagaimana Jongdae menyunggingkan senyum genitnya ketika menyebut kata ‘sekertaris’. Oh, tentu Hyunhee dan Yeonhwa tahu benar bagaimana kelakar Jongdae biasanya.

“Omong-omong, apa yang sedang kalian bicarakan?” Jongdae mengalihkan pembicaraan, dengan santai tangannya bergerak mengambil gelas latte yang ada di hadapan Hyunhee.

Sadar bahwa pemiliknya masih begitu serius memperhatikan langit malam di luar café. Well, Jongdae tahu benar bagaimana Hyunhee bisa berkonsentrasi menatap bulan di malam hari tanpa alasan.

Sekon kemudian, jemari Hyunhee bergerak untuk meraih gelas latte-nya—yang sudah berpindah tempat—sehingga membuat si gadis menoleh lantaran tidak menemukan eksistensi latte miliknya.

“Itu milikku.” ujar Hyunhee setengah kesal saat melihat bekas latte di sudut bibir Jongdae, juga gelasnya yang sekarang bertengger di hadapan si pemuda.

“Milikmu adalah milikku, Hyunhee-ah.” sahut Jongdae santai.

Hyunhee hanya melengos kesal. Jika saja dia tidak ingat bahwa Jongdae sudah menjadi sahabatnya selama satu dekade, dia mungkin sudah menendang pemuda itu sekarang, atau minimal menyikutnya hingga latte yang tengah ia seruput tumpah.

“Jangan percaya ucapannya, Hyunhee-ah. Dia mengatakan hal itu pada semua gadis yang bicara padanya.” ucap Yeonhwa.

Hey, aku tak pernah mengatakan hal itu padamu.” Jongdae mengelak tidak terima, diletakkannya gelas latte tersebut dengan hati-hati di atas meja—seolah tahu bahwa lirikan Hyunhee padanya sekarang mengisyaratkan keinginan untuk menyikut pemuda tersebut—setelah ia lagi-lagi menyeruputnya dengan santai, sebelum ia kemudian menatap Yeonhwa dari balik frame bulat kacamatanya.

“Kau ingin aku membenturkan kepalamu ke meja?” ancam Yeonhwa membuat tawa Jongdae meledak. “Aigoo, Yeonhwa-ya. Sejak dulu kau memang selalu kasar seperti ini.” ujar Jongdae di sela tawanya.

Hyunhee sendiri memilih untuk tidak mengikuti ledekan Jongdae. Mau bagaimana lagi, memang kenyataannya Yeonhwa punya sikap yang kasar. Lagi-lagi atensi gadis itu tertuju pada langit malam yang membiaskan cahayanya melalui jendela kaca café.

Jongdae sendiri memperhatikan kegiatan gadis itu, dan jelas tahu apa yang sedang Hyunhee pikirkan. Ia tahu apa yang tengah memenuhi benak Hyunhee kala ia melakukan hal itu, tapi Jongdae memang tak ingin mengusik si gadis.

“Apa kau kesini hanya untuk menghabiskan latte milik Hyunhee?” Yeonhwa berucap kemudian, diperhatikannya bagaimana Hyunhee mengeluarkan saputangan dari tas kecilnya yang ada di meja dan mengulurkan benda itu pada Jongdae.

Paham benar alasan Hyunhee mengulurkan benda tersebut, Jongdae menyambutnya dengan senyuman di wajah. Sedari tadi Yeonhwa sendiri memang melihat bagaimana latte yang diminum Jongdae mengotori sisi bibir pemuda itu. Tapi, hey! Memangnya Yeonhwa mau repot-repot memberitahu Jongdae?

Aigoo, aigoo. Lihat bagaimana kalian berdua… aku cemburu sekali.” sindir Yeonhwa lagi-lagi membuat Jongdae terkekeh.

Dengan santai Jongdae mengusap sudut bibirnya dengan saputangan milik Hyunhee sebelum ia menatap Yeonhwa. “Jangan cemburu, Yeonhwa-ya. Sekarang kau tahu apa beda Hyunhee dengan gadis-gadis lain bukan? Aku tidak sembarangan menerima saputangan sekertaris-sekertarisku.”

JTAK!

Hey!” Jongdae bersungut tidak terima ketika tiba-tiba saja Hyunhee memukul kepalanya dengan cukup keras dari belakang.

“Jangan bercanda dan cepat habiskan saja latte itu, lalu pergilah dari sini.” ucap Hyunhee, rupanya ia sedari tadi menahan kekesalan karena sikap santai Jongdae.

“Kau yakin mau mengusirku?” ucap Jongdae, dikedipkannya sebelah mata pada Hyunhee sebelum ia tertawa pelan. “Aku membawa berita sangat membahagiakan untukmu.”

“Berita apa?” tanya Hyunhee penasaran.

“Imbalan apa yang akan aku dapat jika aku memberitahumu?” tanya Jongdae kembali menggoda Hyunhee.

Melihat bagaimana pemuda Kim itu kembali membuatnya dongkol, tangan Hyunhee akhirnya bergerak meraih gelas latte yang ada di hadapan Jongdae.

“Kuturuti satu keinginanmu.” ucap Hyunhee menawar.

“Ah, aku yakin kau tidak akan bisa memenuhi keinginanku meskipun hanya satu.” sahut Jongdae santai. Hyunhee lekas menyeruput latte-nya sejenak sebelum ia kembali berucap.

“Baiklah.” Hyunhee menggumam, ia memutar pandangan sejenak sebelum senyum kecil tersungging di wajahnya. “Satu hari bermalam di apertemenku?” hampir saja Yeonhwa tersedak mendengar ucapan Hyunhee barusan.

“Tanpa lampu? Hanya kita berdua?” ucap Jongdae membuat tatapan Yeonhwa membulat sempurna. Sementara Hyunhee hanya mengulum senyum dan mengangguk. “Ya, baik—”

Hey! Kalian berdua!” ucap Yeonhwa kesal. “Aigoo! Aku tidak tahan mendengar kalian berdua sekarang. Di telingaku ucapan kalian terdengar begitu mesum.” gerutu Yeonhwa membuat tawa Hyunhee dan Jongdae sama-sama tertahan.

Lantas Jongdae mengerling kecil pada Hyunhee, seolah meminta persetujuan gadis itu untuk kembali menggoda Yeonhwa. Anggukan samar Hyunhee berikan sebagai persetujuan, dan ya, lagi-lagi Jongdae membuka mulut.

“Kenapa? Apa kau juga ingin aku bermalam di apertemenmu, Yeonhwa-ya?”

“Apa?!”

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Butuh perjuangan cukup keras buat menyelesaikan chapter pertama. Meskipun di sini alur ceritanya masih begitu blur dan abu-abu, tapi segera, kalian akan mengerti mengapa di awal ceritanya aku bikin blur.

Dan kenapa di awal chapter pertama ini ada babblingan Hyunhee?

Ya supaya kalian bener-bener mengerti konsep yang sedang Hyunhee bawa dalam cerita ini, supaya kalian bisa serius gitu nanti, enggak nyasar kemana-mana. Maklum yang bikin cerita suka bikin pusing.

Cukup sekian dulu dariku.

See you tomorrow, guys!

.

.

.

[HELP! Aku lagi-lagi butuh vote → HELP! I NEED YOUR VOTE (2) ]

.

.

| MY SHOW |

| Instagram | Line | Twitter | Wattpad | WordPress |

64 thoughts on “SWITCH – 1st MOSSAIC — IRISH’s Story

  1. Ping-balik: SWITCH [AFTERWORD] — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping-balik: SWITCH – EPILOGUE — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping-balik: SWITCH – 14th MOSSAIC [FINAL] — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping-balik: SWITCH – 13th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping-balik: SWITCH – 12th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping-balik: SWITCH – 11th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping-balik: SWITCH – 10th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping-balik: SWITCH – 9th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  9. Udah lama pengen baca ini, dan baru mood sekarang wkwk
    Terima kasih atas tidak masuknya guru ekonomi-ku nyahahaha aku jadi bisa nyatai2 baca ff

    Castnya Jongdae 😂
    Baperku bener2 ilang setelah baca ff ini wkwk

  10. Ping-balik: SWITCH – 8th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  11. Ada typo kk, dua tapi nulisnya tiga. Tiga pulub sembilan. Hehehe. Gpp. Menarik. Dan kenapa jongdae jadi begitu play nya. Ya ampun. Bayangin senyumnya. Gomawo dah buat cerita sebagus ini. Ini bukan abu2 tapi aba2. Hahahaha

  12. Ping-balik: SWITCH – 7th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  13. Ping-balik: SWITCH – 6th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  14. Kok Jongdae karakternya jadi genit gitu sihh haha lucu.. Seru ya punya temen cowok yang kayak gitu /udah pengalaman punya temen kaya gitu, tiap hari nggombal ambigu/ hadehh, ini ngebahas apaan sehh..
    itu Jongdae ngapain hayoo, pengen ke apartemen tanpa lampu sama hyunhee, Jongdae pengen gelap-gelapan sama hyunhee ya, main petak umpet ya?? Hehehe
    itu hyunhee mau mati ya? Lah kok mati..

    • 😄 buakakakakakakak iya dia di sini genit gitu ya😄 wkwkwkwkwk iyepp bener banget, si Chen versi masa depannya demen gombal, versi lamanya enggak😄 wkwkwkwkwkwk

  15. 계속

    Plis kak, jangan baperin aku pake kata2 ini… T T entar aku nyangkanya si ceweknya kembali ke dunia nyata… Huhu, semangat ya kak Rish! GWS yah, terus cepetan nongol lagi di NCTFFI /maksa/

  16. Ping-balik: SWITCH – 5th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  17. Nah di sini aku baru bisa nangkep ceritanya, (hihi maklum otak lemot). Yang biasanya gk suka baca fic castnya Chen kok sekarang jadi kesemsem yakz… aduh masyallah mas jong kamu tuh yah penuh dengan keusilan kayaknya. ya udahlah lanjut chap 2. Fighting kak rish ^^

  18. Ping-balik: SWITCH – 4th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  19. Pft pft ternyata masih pengenalan. Heyak reinkarnasi, terus teleportasi antar masa, mengingatkan ku akan doraemon yang bisa menjelajahi masa *abaikan dan lemvar pake CHENtong

    Ganbate kak irish^^

  20. Ka Rish, maaf baru baca sekarang. Habisnya baru bisa buka ff hari ini 😗 btw ff yang ini ngusik pikiran banget, jadi pengen ngurbanin kak Irish deh -,- aku harus baca dua kali baru bisa ‘ngeh’ sama ff-nya dan akhirnya aku bisa ngerti meski sebagian masih ‘blur’ kayak ka Irish bilang, udah ah aku mau next dulu:v

  21. Ping-balik: SWITCH – 3rd MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  22. Telat sehari? Dua hari?
    Ah gapapa laah.. yg penting sekarang saya udah baca sekaraang..
    Mau komen apa ya?? Bingung kak, masih blur ssih ceritanyaa.. 😊

  23. Ping-balik: SWITCH – 2nd MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  24. Yeay irish nulis chapter buat bang Dae lagi hehe. Yg ini pasti kuikuti Krn idenya menarik, ttg jiwa yg bisa lompat2 gitu kalo aku menangkap. Sisi historikal nya masih blm keliatan tapi justru itu yg bikin penasaran. Pun kepribadian mas Dae di sini aku suka bgt, tengilnya in character sekali😄
    Keep writing!

    • 😄 ya Allah kak Li kembali nyasar di cerita astral wkwkwk😄 iya historikalnya masih belum nampang, masih kukenalin sama calon suami (Jongde maksudnya) dulu gitu😄 wkwkwkwk thanks ya kak Li ~

  25. Iyasih masih blur banget tapi can’t wait for next chaptnya kak.
    yaelah akhirnya kk sadar juga kalo ff kaka tuh bikin pusing sama bikin sebel😅 soalnya biar pusing tapi malah makin greget bacanya😅

  26. uwahh.. Keren kak, jadi keinget drama baekhyun nih.. kak rish bisa tali temali ya?
    Soalnya kak rish pinter banget buat simpul tali untuk menarik hati readers seperti aku.. Haha
    *gak jelas.. Lemvar sandal

  27. Ooooo,,Jongdae jd sahabat hyunhee,,jd makin penasaran peran Jongdae d kehidupan Hyunhee yg aneh itu,,,,!bakal ada bumbu bumbu romance ga antara Jongdae dan hyunhee..??
    – next next Rishh

  28. “Kenapa? Apa kau juga ingin aku bermalam di apertemenmu, Yeonhwa-ya?”
    Chen mesum. Belajar darimana kamu nak? 😅 😅 😅
    Lumayan ngerti epep chapter 1 /iyanya?/
    Next Next 😂😂

  29. cocok deh karakter chen disini. cocok ama julukan troll nya. dapet feelnya. buat hyunhee ama yeonhwa /yang sering aku baca jadi yeonghwa/ juga sama feelnya dapeet. soo kaaa cepet sembuh dan cepet sembuh dan cepet sembuh dan update segera. dan ah ya, cepet sembuh kaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.

  30. Sepertinya nanti aku akan memerlukan penjelasan lebih agar bisa memahami nya 😂😂

    Cepet sembuh ya kak irish, lupakan abs Baekhyun biar cepet sembuh, yaa
    Semangat yapp 😇😂😂

  31. Wkwkwkk kocak kocak😀 ini pikiran yeonhwa yg ngeres atau emang kenyataan nya jongdae ama hyunhee begitu ??😀 gak mungkiiinnn😀

    neeexxxtttttt fighting😉

  32. uwaahh chapter 1 udah publish aja…aaaah chentongquee.huhu iya masih abu” nih ka alurny..jadi y pikiranny masih jalan” .hehe but gpp aku syukaa ko ff chentong:-V
    btw gimana kabar tanganny kailish udah baikan kah?waah kuharap begitu..aah pokokny fighting nee buat chap selanjutnya ka

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s