HELP! I NEED YOUR VOTE [2] — IRISH

HELP! I NEED YOUR VOTE!

irish-vote-your-colors

Hello again, fellas!

Berakhirnya Agustus sekaligus jadi akhir bagi vote yang sudah kalian lakukan sebelumnya di sini → HELP! I NEED YOUR VOTE!

Dan kalau di sana sama sekali enggak ada clue apapun mengenai cerita on progress ini, maka voting kali ini akan memberi kalian godaan, serius! Ini saingan sama godaan Lotto-nya EXO (lirik Do Kyungsoo si penyabung ayam yang sebentar lagi masuk sinetron religi).

Ready? Just read more this post!

Nah, jumpa lagi dengan diriku, masih dalam misteri dan teka-teki yang sama mengenai sebuah fanfiksi yang rencananya akan aku publish di tahun 2017 dengan 9 (sembilan) buah series mengenai masing-masing member EXO, aku sudah menyimpan hasil vote kalian sebelumnya, aku beri screenshotnya di bawah sebagai bukti nyata kalau voting ini benar-benar fair dan nanti hasil akhirnya juga akan fair, gak ada istilah ‘the power of bias’ lagi yang  aku berlakukan di sini. Tidak ada juga ‘the power of rayuan’ atau power lainnya.

capture-20160828-115856

Sejauh ini, nomor 1, 4, dan 2 jadi tiga terbesar. Well, aku sudah bilang kalau misal rampungnya cepet, satu kurun waktu akan ada tiga cerita yang publish secara bersamaan bukan? So… tiap awal bulan aku akan buat iming-iming ke kalian tentang cerita ini. Dan another vote tentunya. Jadi semoga kalian enggak bosen tiap bulan akan aku minta untuk vote!

Hasil akhir insya Allah akan aku berikan di awal bulan Januari tahun 2017. Karena aku bilang kalau aku masih menerima voting meski itu tanggal 31 Desember 2016 jam 23.59 sekalipun.

Eits! Jangan ngomel dulu lantaran aku bakal ngasih voting yang berbeda tiap bulannya. Karena tentu aja aku enggak hanya menyiapkan votingbiasa’ untuk cerita ini. Akan ada tema berbeda di tiap voting yang mungkin akan menggoyahkan pilihan kalian.

Perlu diingat bahwa aku akan menjumlahkan semua hasil voting tanpa pandang bulu, tanpa peduli kalau kalian ganti angka voting. Aku rasa ini cukup adil untuk menarik ‘minat sebenarnya’ kalian yang pasti bisa berubah-ubah bukan?

Kembali ke tema awal, tentang fanfiksi ini sendiri, sudah ada beberapa hal jelas yang bisa kalian lihat, sebenernya. Seperti: tema dari fanfiksi ini sendiri adalah hal yang sudah sering aku angkat, jadi… kurasa enggak perlu ada bocoran mengenai genre utama. Yang pasti membuat kalian penasaran adalah genre tambahan, juga alurnya. Karena genre pemanis dan alur dari masing-masing cerita akan jauh berbeda, aku merasa bangga karena sembilan cerita ini akan memberi kalian kesan yang berbeda-beda pula. Enggak gitu-gitu doang yang bikin kalian akhirnya menyesal karena sudah membuang waktu untuk voting.

Enggak bisa aku deskripsikan juga apa aja yang bakal aku jadikan spoiler alias bocoran di tiap voting, tergantung mood dan tergantung hasil voting juga. Ya aku enggak marahin kalian karena ada salah satu yang votingnya sedikit, tapi aku justru akan membuat kalian menyesal karena sudah menciptakan tiga angka terendah dalam voting ini.

Aku adil kan?

OKE. Jadi, karena tema untuk voting pertama adalah murni ‘memilih nomor’ dan iming-imingnya juga sedikit, aku tiba-tiba aja terpikir untuk memberi tema lain pada voting kali ini.

“ COLOURS ”

Warna. Ya. Warna bisa bermakna macam-macam. Bisa berarti mood, murni sebagai warna, emosi, ekspresi, nama, dan sejenisnya. Jadi kali ini aku membawa sembilan warna sebagai iming-iming untuk kalian.

Lalu? Apa aku minta kalian untuk memilih tiga warna favorit kalian? NO. JELAS NO. Simak saja di bawah, apa iming-iming sebenarnya yang sudah aku siapkan.

#1 – RED

“Merah.”

“Apa? Mengapa kau tiba-tiba bicara tentang merah?”

“Cih, apa kau benar-benar seorang yang sudah menghabiskan lima tahun di dunia kriminal? Apa clue yang ia tinggalkan kurang jelas? Semua properti yang ada di loker ini berwarna merah; mulai dari sepatu, jaket, cangkir, sampai bolpoin yang ia tinggalkan, semuanya berwarna merah.”

“Lalu, apa alasan ia membunuh?”

“Darah berwarna merah, bukankah begitu? Kemungkinan besar ia suka melihat darah, membuatnya jadi suka membunuh dengan cara yang keji untuk melihat darah di mana-mana.”

“Tapi kau juga bilang kalau aku adalah sasarannya.”

“Kukatakan begitu karena sasarannya adalah wanita muda di usia 20-30 tahunan. Bukankah kau masuk dalam kategori itu juga?”

“Wah, lalu kau mau bilang kalau dia suka membunuh karena darah itu berwarna merah? Dan aku jadi sasarannya karena aku wanita muda? Mudah saja, aku tinggal mengatakan padanya bahwa aku adalah wanita berdarah biru, jadi dia tidak akan mengincarku.”

“Aku baru tahu kalau ada wanita berdarah biru. Setahuku, hanya ular yang punya darah berwarna biru?”

“Benarkah? Ular berdarah biru?”

“Bodoh, aku sedang menyindirmu.”

♫ ♪ ♫ ♪

#2 – YELLOW

Lelaki ini lagi-lagi mengukungku. Di antara kedua lengan kekarnya juga ekspresi lembut namun tak bisa di deskripsikan miliknya. Apa lagi yang sekarang ia inginkan?

“Menjauh dariku.”

“Tidak bisa, nona. Kau harus jelaskan padaku mengapa kau tak ingin kusentuh.”

Tiap kata ia tekankan. Dan seolah kata-kata menyentuh tidak jadi hal yang tabu, ia bisa dengan lantang mengucapkannya. Memang, siapa pun bisa menyentuhku, tapi kenapa sekarang aku merasa terganggu saat dia ingin menyentuhku?

Kali ini aku menatapnya, memberanikan diri untuk mengadu pandang dengan sepasang manik kelam miliknya yang seringkali meneduhkan. Bahkan di bawah remang lampu bernuansa kuning di kamar ini pun, ia masih terlihat sebagai seorang yang sanggup melindungi.

“Aku tidak pantas untuk kau sentuh, Tuan.”

Tatapannya melebar, sekon kemudian tubuhnya bergerak kasar untuk meraihku, mencumbu bibirku—dan tentu saja kutahan.

“Lepaskan aku! Apa kata-kataku kurang jelas?!” teriakku padanya, tidak peduli bahwa ia mungkin seseorang yang sangat dihormati, atau bahkan tak pernah dianggap berbuat kesalahan.

“Aku menginginkanmu, bukankah sudah kukatakan hal itu berulang kali?”

Ya, ia sudah mengatakannya berulang kali. Dan aku jelas tahu bahwa keinginannya untuk memilikiku adalah sebuah kesalahan fatal yang tidak bisa kubiarkan.

♫ ♪ ♫ ♪

#3 – GREEN

“Mengapa kau terus mengacaukan rencanaku?!”

Entah, sudah berapa kali aku berteriak padanya dalam waktu satu jam. Bagaimana bisa ada wanita sepertinya, yang sanggup merusak rencana rapi yang sudah kususun selama tiga hari hanya karena sentuhan jemarinya! Sialan.

“Apa!? Apa yang sudah aku lakukan?” ia bicara dengan nada meninggi, manik lebarnya bahkan menatapku dengan pandangan menantang. Sungguh, rasanya aku ingin mendorongnya saja ke jurang.

“Kau sudah mematikan kamera pengintaiku!”

“Oh!” ia mengerjap cepat, mencengkram ujung dress hijau yang ia kenakan sebelum lantas mengulum bibir plumnya—yang terkadang membuatku ingin menyerangnya saat ia bersikap melakukan itu—dan memamerkan ekspresi bersalah. “Maaf, aku tidak tahu kalau benda itu bisa mati.”

Aku kini memejamkan mata, menahan kekesalan yang rasanya sudah sampai ke ubun-ubun. Kuingatkan diriku bahwa dia hanya wanita, seorang wanita muda yang meninggalkan keluarganya demi sesuap nasi dan kehidupan.

“Ini alasanku benci ada di rumah, karena ada pengacau sepertimu. Aku harusnya sudah tahu kau itu sebuah bom waktu!”

“Tapi aku tidak bisa meledak.” ia menyahut enteng.

“Ya, maksudku adalah, aku yang kemungkinan besar bisa meledak karenamu.”

“Senang mendengarnya, haruskah aku lebih sering membuatmu kesal?”

♫ ♪ ♫ ♪

#4 – BLUE

“Kenapa kau melakukannya?”

“Melakukan apa?”

“Kenapa kau menyelamatkanku jika pada akhirnya kau mengancamku seperti ini? Sudah kukatakan kalau aku tidak bodoh, aku cukup dewasa untuk bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Tapi kau—”

“Sejak kapan kau bisa banyak bicara seperti ini?”

“Memangnya kau saja yang boleh banyak bicara padaku? Setiap hari aku mendengar omelanmu yang kau sampaikan dengan wajah tanpa ekspresi, tapi aku tidak protes.”

Hey, nona. Dengar, pertama, aku bukannya mengancammu, aku hanya memberimu sebuah batas yang tidak seharusnya kau lewati. Kedua, aku tidak mau kau terlibat dengan mereka karena aku tahu kau belum cukup dewasa untuk nantinya bisa terlepas dari semua ini. Ketiga, bukannya aku banyak bicara, tapi kau lah yang selalu dan selalu melakukan hal-hal tidak masuk akal yang lantas membuatku kesal setengah mati. Keempat, apa sudah ada yang memberitahumu kalau kau tampak begitu jelek saat mengenakan seragam biru ini? Cih, memangnya di tempat kerjamu tidak ada seragam lain?”

“Mengapa kau sekarang jadi membicarakan seragamku? Memang apa masalahnya?”

“Tentu saja masalah, kau tidak tahu lekuk tubuhmu itu terbentuk jelas saat mengenakan seragam ini, huh? Kau mau para lelaki berpikiran tentangmu, bukankah begitu? Kau benar-benar keterlaluan.”

“Apa?!”

♫ ♪ ♫ ♪

#5 – VIOLET

“Bagaimana kabar Violet?”

Lagi. Ia menyebut nama itu lagi. Mengapa ia selalu menyebut nama putriku dengan nada yang—ugh, bagaimana aku harus mendeskripsikannya? Bagaimana juga aku bisa lepas dari pesonanya jika ia terus peduli padaku—dan putriku—dengan alasan yang tidak pernah ia jelaskan?

“Ia baik-baik saja. Well, kau tahu sendiri Violet tak pernah menyukai pekerjaanku ini.” ucapku akhirnya. Sebuah tawa pelan ia berikan sebagai jawaban. Oh, sungguh, aku ini orang bodoh macam apa? Usiaku agaknya sudah cukup tua untuk bisa merasakan euforia aneh remaja yang mereka sebut sebagai jatuh cinta.

Tapi mengapa jantungku terus berdegup kencang saat melihatnya, atau mendengar suaranya? Parahnya lagi, mengapa dia selalu terbayang di benakku?

“Ya, aku tahu. Mungkin juga Violet rindu sosok Ayah. Apa kau ada waktu akhir pekan ini? Aku bisa mengajakmu, juga Violet, ke taman bermain. Kurasa dia akan suka.”

Lagi. Lagi. Dia melakukannya lagi. Tawaran mematikan yang memabukkan. Yang pasti akan membuatku tidak jadi satu-satunya yang jatuh pada pesona mematikannya. Violet juga akan jatuh ke dalam pesonanya.

Tapi hubungan bodoh apa yang sekarang aku jalani bersamanya?

♫ ♪ ♫ ♪

#6 – GRAY

Langkahnya memburu. Kaki pendeknya ternyata bisa berusaha keras juga di saat seperti ini. Ia benci hujan, aku tahu itu. Dan langit kelabu yang kini jadi naungan kami adalah hal yang ia benci juga. Tentu saja, ia tidak tahu aku tengah mengikutinya, karena ia terlalu fokus untuk melarikan diri dari kejaran langit kelabu.

Rasanya sedikit menggelikan, mengingat bagaimana sebelumnya gadis mungil ini selalu mengikutiku—tanpa aku tahu—dan berakhir pada sebuah bencana yang pada akhirnya melibatkanku. Aneh juga mengetahui bagaimana ia sama sekali tidak terusik tentang diriku. Well, diusianya yang belia ia sudah jadi sosok wanita dewasa di mataku—

Auw!”

—meski sisi kekanakannya masih ada.

“Bukankah aku sudah pernah berpesan padamu, hati-hati dengan tali sepatu, saat ia terlepas kau bisa jatuh karenanya.” akhirnya aku bersuara saat ia terjatuh, menginjak tali sepatunya sendiri, tentu saja, kecerobohan konyol kecil miliknya yang seringkali membuatku geli.

“K-Kau!” ia menunjukku dengan jemari mungilnya yang selalu berhias warna-warni cat kuku, sementara tatapannya membulat, terkejut. Sempat ia menggeleng keras-keras—mungkin ingin meyakinkan diri kalau aku benar-benar ada di sana.

“Sepertinya akan segera turun hujan, butuh tumpanganku?”

♫ ♪ ♫ ♪

#7 – DARK BROWN

“Sudahlah, jangan menangis. Toh, ini bukan pertama kalinya mereka melakukan hal itu padamu bukan?”

“Ya, memang. Mereka—tunggu, bagaimana kau bisa tahu?”

“CCTV dimana-mana. Aku bisa tahu dengan mudah.”

“Bisa kutebak kalau kau pasti menerwataiku dari sana bukan? Aku pasti terlihat sangat menyedihkan saat mereka menggangguku seperti ini.”

“Tidak, kau terlihat sangat cantik. Sungguh. Aku tak pernah melihat seorang wanita bisa terlihat cantik bahkan saat ia menangis. Dan kau satu-satunya wanita itu, yang terlihat cantik bagaimanapun keadaanmu.”

“Jangan berusaha menghiburku.”

Hey, sungguh, tidak. Kalau aku berniat menghiburmu, aku akan katakan kalau aku bisa menggantikan biola cokelat tua kesayanganmu itu.”

“Tidak bisa… bahkan kau sekali pun, tidak akan bisa memberiku biola yang sama.”

“Mengapa tidak?”

“Biola ini sudah menemaniku selama sembilan belas tahun.”

“Baiklah, kalau begitu, biarkan aku hibur kau dengan mengatakan bahwa aku sudah menemukan keberadaan adikmu yang hilang. Bagaimana? Apa aku berhasil menghiburmu?”

♫ ♪ ♫ ♪

#8 – ORANGE

“Tidak! Tidak! Jangan mendekat! Atau aku akan berteriak memanggil polisi!”

Teriakanku mungkin menggema di ruang ganti, tapi ia tidak peduli. Dengan setelan serba hitamnya—ditambah dengan senyum sempurna di wajah tampan itu, ugh!—dia melangkah ke arahku, jemarinya lantas bergerak menarik lenganku, mengikis jarak yang seharusnya tercipta saat aku bersama dengannya.

“Sudahkah aku bilang kalau kau begitu cantik malam ini? Aku melihatmu di televisi, tapi rasanya sangat tidak memuaskan, jadi kuputuskan untuk langsung menemuimu.”

Tatapanku membulat. Psikopat! Ia bilang ia ada di Los Angeles satu jam lalu saat ia menelepon, tapi apa sekarang yang ia katakan?

“Bohong! Mana mungkin kau bisa berada di Seoul hanya dalam waktu satu jam? Kau pikir aku bodoh—ya, memang sih, aku tidak pintar juga—tapi bukan berarti kau bisa membodohiku.”

Ia mengedikkan bahu, sebelum mendekatkan wajahnya ke arahku. Aroma orange sekarang menguar dari tubuhnya. Sialan, bagaimana ia bisa begitu menggoda seperti ini? Tampan, punya senyum menawan, dan aroma tubuh yang sangat seksi juga—tidak! Hentikan. Ingatlah siapa dia, dia seorang yang mengerikan.

“Kenapa memejamkan matamu seperti itu? Apa kau menunggu ciuman dariku?”

“Apa!?”

“Ayolah, aku tahu kau rindu bibirku, bukan? Aku tahu, walau kau berjuta kali memintaku menjauh, sebenarnya kau menginginkanku.”

Sialan!

♫ ♪ ♫ ♪

#9 – PINK

Ini bukan pertama kalinya aku datang ke tempat ini, tapi memang, pertama kalinya aku melihat wanita itu ada di sini. Apa ia pekerja sementara? Bagaimana ia bisa bekerja dengan benar jika atensinya hanya tertuju pada laptop 14 inch dan notebook di sebelahnya. Ia bahkan tidak akan tahu apa yang orang-orang lakukan tanpa sepengetahuannya.

Iseng, jemariku bergerak nakal meraih gelas ukur kecil yang ada di depanku dan bergerak untuk memasukkannya ke dalam—

Hey, Tuan. Apa kau ingin mencuri?” segera aku menatap ke arah wanita itu, menyadari bahwa ia tengah menunjuk ke arahku dengan bolpoin merah muda yang ada di jemarinya.

Well, ia tidak seperti yang kuduga.

“Aku hanya mengujimu.” ucapku santai, melangkah ke arahnya sambil meletakkan gelas ukur tersebut—juga beberapa perlengkapan lain yang akan kubeli—di meja cashier.

Ia melirikku sekilas, meneliti pakaianku sebelum akhirnya bibirnya bersungut ketus, tanpa bicara apapun ia menghitung jumlah belanjaanku.

“Kau membeli barang-barang aneh, Tuan. Apa ini untuk rencana pembunuhan atau semacamnya?” aku tahu pertanyaan itu keluar karena ia merasa kesal karena tindakan-hampir-mencuriku.

Aku lekas memutar pandang, dan menangkap beberapa paragraf kecil di layar monitor laptopnya. “Kalau memang iya, apa kau mau menjadikan kisahku sebagai bagian dari cerita yang kau tulis?”

OTOKEH?

Apa aku berhasil menggoda kalian dengan sembilan kejutan kecil di atas? Apa sembilan warna di atas nyatanya berkhianat? Apa kalian sebenernya demen sama warna A tapi warna B malah ngegodain?

Aku tau kok pasti ada yang godain kalian. Minimal ngebuat imajinasi kalian menari-nari dan mulai menerka-nerka who will be who. Sengaja aku kasih tiga macam POV berbeda biar kalian semakin penasaran. HAHA. Aku di balik layar mah bagian tertawa, karena yakin cuplikan di atas sudah bikin kalian membayangkan bias kalian ada di sana.

Sekali lagi aku ingatkan kalau ini OT9, dan murni urutan publish cerita akan urut berdasarkan jumlah total voting (dari semua voting yang masing-masing akan aku publish setiap awal bulan) sampai akhir Desember 2016.

Jangan meminta aku buat memberi clue lain tentang siapa akan jadi siapa. Aku yakin insting kalian akan banyak yang bener, anggep apa main lotere, siapa tau bias kalian menang. (terus ceritanya bagian aku itu ketawa-ketiwi lantaran liat hasil votingnya).

FINALLY, jangan lupa tinggalkan vote (maksimal 3 voting) pada warna-warna yang ceritanya (maupun murni warnanya) menarik perhatian kalian, ya! Thank you! Salam dua jari dikali sepuluh, Irish! Jaa mata!

irish-vote-your-woman

68 thoughts on “HELP! I NEED YOUR VOTE [2] — IRISH

  1. Ping-balik: HELP! I NEED YOUR VOTE [4] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping-balik: HELP! I NEED YOUR VOTE [3] — IRISH | EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s