SWITCH – 10th MOSSAIC — IRISH’s Story

irish-switch-2

s      w      i      t      c      h

|  Jongdae x Hyunhee  |  Fantasy x Historical x Mystery x Romance  |  Chapterred x Short Story  |  Teen  |  by IRISH  |

|  prompt from EXO`s 3rd Repackage Album Song Title: She’s Dreaming  |

Show List:

ForewordPrologue1st Mossaic 2nd Mossaic3rd Mossaic4th Mossaic5th Mossaic6th Mossaic7th Mossaic 8th Mossaic 9th Mossaic [PLAYING] 10th Mossaic

When the deep night is about to be over
I’ll disappear like smoke

♫ ♪ ♫ ♪

In Author’s Eyes…

Jongdae sesekali tertawa kecil saat melihat tingkah laku gadis di hadapannya. Setelah Hyunhee terdiam akibat pertanyaan Jongdae yang tidak bisa dijawabnya, akhirnya gadis itu begitu pilih-pilih kata ketika akan menyahuti ucapan Jongdae.

“Apa kau tidak lapar?” tiba-tiba saja Jongdae membuka konversasi, sementara maniknya masih memperhatikan ekspresi Hyunhee, sadar benar jika gadis itu menatapnya dengan dahi berkerut curiga.

“Kau belum makan sejak semalam.” ucap Jongdae lagi.

Sebuah gelengan pelan Hyunhee berikan sebagai jawaban. Diam-diam gadis itu berpikir, bagaimana bisa ia lagi-lagi terjebak di tubuh Lady Jo? Well, Hyunhee memang tidak pernah mengalami hal seperti ini selama sepuluh tahun. Tapi Hyunhee bahkan tidak tahu bagaimana cara untuk menyelesaikan masalahnya.

“Hyunhee?” Hyunhee akhirnya mengerjap cepat, sadar jika sedari tadi ia hanya terdiam dan tidak menyahut apapun pada Jongdae. Bagaimanapun, keadaan gadis itu sekarang semakin membingungkan.

Jongdae sudah tahu jika ia dan Lady Jo adalah dua orang yang berbeda—meski yang Jongdae pikir Hyunhee hanya bagian lain dari Lady Jo—dan tidak ada alasan lagi bagi Hyunhee untuk pura-pura bersikap seperti Lady Jo di hadapan pemuda itu.

“Aku tidak lapar, Jongdae. Dan kau sudah menawarkanku untuk makan sebanyak tiga kali.” ucap Hyunhee pada akhirnya. Mendengar jawaban gadis itu, Jongdae tersenyum kecil.

“Aku hanya ingin tahu bagaimana kau menjawabku, Hyunhee-ah. Apa kau merasa terganggu karena aku sudah tahu tentangmu?” tanya Jongdae. Hyunhee menatap pemuda itu sejenak, dan menghela nafas panjang.

“Bukan seperti itu, aku hanya… khawatir.” jawab Hyunhee.

“Apa yang kau khawatirkan?” lagi-lagi Jongdae bertanya.

“Semuanya,” tutur Hyunhee akhirnya, “aku khawatir tentang diriku sendiri, juga tentang Lady Jo. Aku khawatir tentang Sukwon juga. Aku juga khawatir tentangmu.” sambungnya membuat sudut bibir Jongdae terangkat sedikit.

“Mengapa kau mengkhawatirkanku? Aku baik-baik saja.” ucap pemuda itu berhasil membungkam Hyunhee sejenak. Ingin Hyunhee berkata pada pemuda itu tentang sumber kekhawatiran gadis itu sebenarnya, tapi percuma saja. Jongdae tidak akan mengerti, dan memberitahu Jongdae tidak akan jadi sebuah solusi.

“Apa kau ingin kuberitahu sebuah rahasia?” tawar Jongdae lagi-lagi merenggut atensi Hyunhee. Konversasi mereka sedari tadi sebenarnya bisa dikatakan begitu kaku, tapi sekarang agaknya dua orang itu mulai bisa sedikit lebih terbuka.

“Mengapa ingin memberitahuku?” tanya Hyunhee curiga.

“Anggap saja karena kau satu-satunya yang bisa kuberitahu rahasiaku dan tidak akan memberitahu orang lain.” ucap Jongdae santai.

Hyunhee menyernyit bingung mendengar ucapan pemuda itu. “Kau bisa memberitahu Woo Ryung, atau Lady Jo. Mengapa harus memberitahuku?” tanyanya semakin menaruh curiga.

“Rahasia yang akan kuberitahukan padamu ini, bukan rahasia yang bisa aku beritahukan pada mereka berdua. Umm, lebih tepatnya, mereka berdua sudah tahu.”

“Rahasia macam apa yang sudah diketahui oleh banyak orang seperti itu?” tanya Hyunhee tidak mengerti. “Rahasia yang hanya kuungkapkan pada orang-orang yang dekat denganku.” sahut Jongdae.

“Lalu mengapa kau mengatakan aku adalah satu-satunya yang bisa kau beritahu?” tuntut Hyunhee tidak terima. Jongdae tertawa pelan melihat kekesalan gadis itu. “Karena rahasia yang akan kuberitahukan, bukan hanya satu.” sahutnya.

“Mengapa tidak memberitahu Woo Ryung dan Lady Jo?” lagi-lagi Hyunhee berucap.

“Aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

Jongdae mengerjap cepat mendengar nada menuntut yang ada di dalam suara gadis itu. “Mana yang harus lebih dulu kuberitahu? Alasan aku tidak bisa memberitahu Hyunhee, atau rahasia yang akan kuberitahukan padamu?” tanya pemuda itu membuat Hyunhee terdiam.

“Keduanya.” ucap Hyunhee mantap.

Jongdae akhirnya tersenyum kecil melihat ekspresi gadis itu. Pada akhirnya, Hyunhee bisa juga bicara dengan santai padanya dan tidak menaruh kecurigaan, atau rasa khawatir.

“Sebenarnya, hubunganku dengan Hyunhee tidak begitu baik sejak malam itu. Aku sadar, kau bahkan lebih peduli pada Hyunwoo dibandingkan dia. Jadi, saat Hyunhee terjaga dan menanyakan mengapa ia bersama denganku, kukatakan jika aku menemukannya tidak sadarkan diri.

“Ia tidak percaya pada ucapanku malam itu, dan mungkin karena tahu aku membohonginya, Hyunhee menjaga jarak denganku. Kupikir, aku bisa membuat keadaan kami menjadi lebih baik dengan sebuah kejujuran. Tapi ternyata aku salah mengambil langkah.”

“Apa maksudmu? Memangnya, kejujuran apa yang kau katakan padanya?” tanya Hyunhee hati-hati. Gadis itu tentu ingat, jika Lady Jo dulunya pasti bukan seorang yang pelupa, mengingat ia jadi pelupa karena alasan yang sudah Hyunhee cegah, Lady Jo tidak tahu jika Jongdae adalah seorang penyihir.

“Pengakuan.”

“Apa?” Hyunhee menyernyit mendengar jawaban Jongdae sekarang.

“Aku mengungkapkan perasaanku padanya. Kau mungkin tidak tahu, tapi aku sudah menyukai Hyunhee sejak pertama kali melihatnya di rumah gisaeng. Ia terlihat sangat cantik, dan berbeda dengan gisaeng lainnya. Itulah mengapa aku jatuh cinta padamu.”

“Padaku?” ucap Hyunhee terkesiap.

“Tidak. Maksudku, Hyunhee. Lady Jo.” ralat Jongdae, sadar jika ia secara tidak sengaja menganggap gadis di depannya adalah Hyunhee yang ia kenal.

Hyunhee terkekeh pelan, lucu juga baginya memperhatikan ekspresi terkejut Jongdae karena ucapannya tadi.

“Lalu, apa yang terjadi padamu dan Lady Jo?” tanya Hyunhee.

“Kau tahu apa yang ia katakan?” Jongdae malah balik bertanya.

“Mana bisa aku tahu?” ucap Hyunhee tidak mengerti.

Jongdae tersenyum kecil. “Ia memberiku sebuah penolakan.” ucapan pemuda itu membuat tatapan Hyunhee membulat terkejut. “Menolakmu? Bagaimana bisa? Kupikir Lady Jo selama ini juga menyukaimu.” ucap Hyunhee tanpa sadar.

“Woo Ryung juga pernah mengatakan hal serupa. Dan kupikir, Hyunhee juga begitu. Tapi Hyunhee menjelaskan semuanya dengan kelewat jelas padaku. Ia menolakku, karena perasaannya terhadapku tidak lebih dari sekedar rasa kasihan pada seorang teman, yang sudah dibuang oleh keluarganya.”

Hyunhee terdiam.

“Apa kau diabaikan oleh keluargamu?” tanyanya hati-hati.

“Ya. Aku bukanlah seorang yang mereka harapkan untuk terlahir ke dunia, lantas untuk apa mereka menerimaku?” ucap Jongdae membuat Hyunhee berdecak pelan.

“Memangnya kau jadi penyihir bukan karena kedua orang tuamu? Seharusnya penyihir itu keturunan, bukan? Lagipula, kau bukan seorang penyihir yang jahat, mengapa mereka harus membuangmu? Apa kau itu Pangeran yang disembunyikan kelahirannya atau sejenisnya?” pertanyaan Hyunhee kini berhasil membuat Jongdae terkesiap.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya pemuda itu dengan nada terkejut.

“Apa?”

“Apa kau bisa tahu hal-hal yang Hyunhee ketahui juga?” pertanyaan Jongdae makin membuat Hyunhee menyernyit bingung. “Kenapa? Memangnya aku tadi bicara apa—ah. Pangeran. Sekarang aku mengerti.”

“Apa maksudmu?” tanya Jongdae menyelidik.

Hyunhee tersenyum kecil. Gadis itu menatap Jongdae lamat-lamat, dan akhirnya menghembuskan nafas panjang, seolah larut dalam pikirannya sendiri.

“Kau adalah Pangeran yang dibuang karena kau berbeda, begitu?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Hyunhee’s Eyes…

“Kenapa? Memangnya aku tadi bicara apa—ah. Pangeran. Sekarang aku mengerti.” ya, sekarang aku mengerti. Apa alasan yang membuatku dipanggil oleh Lady Jo sejak awal ke dalam kehidupannya, adalah Jongdae.

Aku ingat benar, pertama kali aku datang ke kehidupan Lady Jo, dia baru saja terlibat pertengkaran dengan Putri Munseong. Dan di sejarah yang terakhir kali kubaca, Lady Jo terlibat pertengkaran karena berusaha mengungkap keberadaan Pangeran yang sebenarnya.

“Apa maksudmu?” aku menatap Jongdae saat ia bertanya. Sebuah senyum kecil kuselipkan, senyum yang kupaksakan untuk muncul, karena nyatanya, alasan aku terjebak di kehidupan ini masih sama.

“Kau adalah Pangeran yang dibuang karena kau berbeda, begitu?” tanyaku dijawab Jongdae dengan anggukan pelan. Tunggu dulu, aku tidak tahu berapa usia Raja sekarang hingga ia memiliki seorang putra seumur Jongdae. Ah, aku bahkan tidak tahu berapa usia Jongdae di kehidupan ini.

“Jongdae-ya.”

“Hmm?”

“Mungkin pertanyaanku akan terdengar bodoh tapi… sejujurnya, aku tidak tahu… berapa usia Raja sekarang sampai-sampai ia bisa membuang seorang anak seusiamu?” pertanyaanku tentu saja membuat Jongdae mengerjap terkejut. Apa sekarang aku terlihat benar-benar bodoh? Biarlah. Toh ia sudah tahu seperti apa keadaanku.

“Lee Hoon dan Imhae, adalah kakakku, Hyunhee-ah.”

“Lee Hoon? Imhae?” aku menyernyit bingung.

“Kau tidak tahu nama Rajamu sendiri dan hanya tahu nama besarnya?” tanya Jongdae dengan mata menyipit.

“YYa! Tidak mungkin. Aku ingat benar, Lady Kim hanya punya dua orang putra.” ucapku membantah. Ya, walaupun aku sekarang terjebak di dalam tubuh orang lain, tapi ingatanku tidak pernah berbohong.

Aku mengubah sejarah kecil yang tidak ada hubungannya dengan kelahiran Raja, secara otomatis aku masih ingat dengan jelas silsilah kerajaan, di masa Gwanghae-gun sekalipun.

Gwanghae-gun adalah pangeran yang terlahir dari selir bermarga Gong, ayahnya adalah Raja Seonjo. Dan dia punya seorang kakak bernama Imhae. Lalu, putra sah dari Raja Seonjo sendiri adalah Pangeran Yeongchang. Dan di dalam sejarah, Gwanghae-gun menjadi Pangeran karena kecakapannya dalam berpolitik.

Dia kemudian menjadi Raja karena kematian Ayahnya yang mendadak. Padahal, Raja menginginkan Pangeran Yeongchang untuk menjadi—

“Mungkinkah…” aku menatap Jongdae terkejut. Mungkinkah, kelahiran Jongdae bahkan tidak diakui? Jadi namanya tidak tertulis di dalam sejarah?

“Mungkinkah apa?” tanya Jongdae.

Aku terdiam sejenak.

“Jawab aku, apa Ratu Inmok sudah memiliki anak?” Jongdae mengerjap cepat saat mendengar pertanyaanku.

“Aku.” jawabnya.

“Apa?” aku makin terkejut mendengar ucapannya. “Bagaimana bisa? Bukankah Pangeran Yeongchang meninggal saat usianya—”

“Apa kau tidak mengizinkanku untuk menjelaskannya?” potong Jongdae membuatku bungkam. Benar. Akan lebih baik jika dia sendiri yang menjelaskannya, bukan?

“Baiklah, jelaskan padaku.”

Jongdae tersenyum kecil mendengar nada pasrah dalam ucapanku. “Sudah lebih dari dua puluh tahun sejak kematian Ratu pertama Raja Seonjo, dan Ibuku—Ratu Inmok—belum juga memiliki keturunan. Jadi, Ibu membiarkan Ayahku untuk memiliki seorang selir, Lady Kim. Dan dalam kurun waktu satu tahun, Pangeran Imhae lahir. Dan tiga tahun kemudian, Pangeran Hoon lahir.

“Aku tidak tahu, apa yang membuat Ibu begitu ingin menyingkirkan Lady Kim tapi… ia akhirnya menemui peramal dan membuat perjanjian yang tidak kumengerti. Yang jelas, saat Ayah sudah memutuskan untuk memberikan kedudukan Raja pada Pangeran Hoon, Ibuku hamil.

“Putri Jeongmyeong, kakakku. Tapi Ibu rupanya begitu ingin memiliki seorang putra. Karena Raja mengharap-harapkan kehamilannya, kupikir Ibu lupa diri dan kembali membuat perjanjian dengan peramal tersebut.

“Tiga tahun setelah Putri Jeongmyeong lahir, aku dilahirkan. Tapi Ibu tahu aku berbeda. Saat usiaku dua tahun, Putri Jeongmyeong tiba-tiba saja sakit keras. Dan setahun kemudian, berturut-turut Ayahku meninggal, lalu kau tahu sendiri apa yang terjadi, bukan?”

Aku memperhatikan Jongdae lamat-lamat, berusaha mencerna tiap kata yang ia jelaskan padaku meski entah mengapa sekarang rasanya begitu sulit. Jadi, ia katakan jika ia adalah Pangeran Yeongchang?

“Gwanghae-gun menjadi raja, begitu?”

“Ya,” Jongdae mengangguk-angguk membenarkan. “Setelah dia diangkat menjadi Raja, Ibu mulai sakit-sakitan. Lady Kim terus mendesaknya untuk keluar dari istana, sementara Ibu dengan mudah dikelabuhi oleh Fraksi Utara.

“Karena Ibu begitu ingin aku menjadi Raja, ia dan beberapa orang yang berdiri di sisinya berusaha menggulingkan pemerintahan kakakku, tapi ia—”

“Ia dan seorang pegawai pemerintah bernama Yeong-gyeong dari Fraksi Utara berusaha menyembunyikan dokumen Pangeran Gwanghae dan membuatnya tidak bisa dilantik menjadi Raja, selama beberapa tahun bukan?

“Pada akhirnya, Yeong-gyeong tertangkap dan dieksekusi, sementara kau menjadi tawanan dan mati di tahun berikutnya. Kau mau menjelaskan semua itu padaku, Jongdae-ya?” aku menatap Jongdae, memperhatikan ekspresinya saat ia mendengar bagaimana aku begitu tahu tentang sejarahnya yang tengah ia ceritakan padaku.

Tentu aku ingat jelas bagaimana Pangeran Yeongchang meninggal di usia yang sangat belia dan bahkan tidak ada yang mengingat kematiannya. Selama ini kupikir kematiannya hanya karena masalah politik, tapi apa yang sekarang kuhadapi?

“Tidak, tidak seperti itu.”

“Apa?” aku menata Jongdae tidak mengerti.

“Ibu tahu aku berbeda. Dan ia meminta Yeong-gyeong untuk membakar semua dokumen tentangku, membuatnya seolah terlihat seperti ia tengah memanipulasi pemerintahan Gwanghae.

“Yeong-gyeong memang dieksekusi, dan orang-orang memang tahu kematianku. Tapi sebenarnya tidak begitu, Hyunhee-ah. Ibu hanya meminta, agar Yeong-gyeong menyelamatkanku, membiarkanku hidup tanpa tekanan.

“Ibu juga membuangku, karena ia tidak ingin orang-orang tahu bahwa ia sudah melahirkan seorang pangeran dengan kutukan sepertiku. Karena Ibu tidak bisa menemui peramal itu lagi… hanya Yeong-gyeong yang bisa membantunya saat itu.”

Aku terdiam mendengar penuturan Jongdae. Apa benar seperti itu? Apa benar? Lalu apa yang ada di sejarah? Mengapa ceritanya berbeda? Jika ucapan Jongdae benar, maka alasannya menjadi penyihir bukan karena ia keturunan dari penyihir tapi karena kelahirannya adalah sebuah manipulasi.

Kelahirannya adalah hasil dari keegoisan Ibunya kala itu, yang akhirnya membuat Jongdae hidup sendirian seperti ini, tidak diakui, dan bahkan tidak punya siapapun di sisinya.

“Kau mungkin tidak tahu, Hyunhee-ah. Tapi kau—tidak, maksudku, Lady Jo. Dia adalah seorang yang menyelamatkanku saat itu. Ketika Yeong-gyeong menyembunyikanku dan kematianku, di waktu itu… aku bertemu dengan Hyunhee.

“Dia yang menghiburku di saat aku sedih. Dia juga yang merawatku saat aku sakit. Meski beberapa tahun kemudian ia sudah menjadi gisaeng, tapi ia tetap menganggapku sebagai temannya.

“Keadaannya berubah ketika aku tahu Hoon tertarik pada Hyunhee dan bahkan menjadikannya gisaeng di istana. Itu juga alasanku mengikutinya ke istana, meski aku harus menahan keinginan untuk menemui Ibu dan kakakku, meski aku harus menahan keinginanku untuk membuat semua orang tahu jika aku adalah Yeongchang, aku harus menyelamatkan Hyunhee.”

Aku terdiam, lagi-lagi tak sanggup berkata apapun ketika ia menjelaskan semuanya padaku. Sudah jelas alasan ia berada di istana, dan sudah jelas juga alasan Lady Jo bertengkar dengan Putri Munseong.

Bisa kuduga, Lady Jo menjadi selir Raja karena keinginannya untuk mengungkap pada Gwanghae-gun tentang keberadaan Jongdae. Dan aku jelas mengerti sekarang, alasan Lady Jo menolak perasaan Jongdae bukan karena ia tidak memiliki perasaan apapun pada Jongdae, tapi karena ia belum bisa mengungkapkan perasaannya.

Jongdae katakan ia berada di istana untuk menyelamatkan Lady Jo, padahal Lady Jo terjebak di tempat ini karena alasan yang sama, ingin menyelamatkan Jongdae. Ia ingin keberadaan Jongdae diakui, ia tidak ingin Jongdae dianggap mati.

Apa itu juga alasan yang membuatku kembali terbangun di dalam tubuh Lady Jo? Karena masalah yang harus kuselesaikan adalah… aku harus mengungkap keberadaan Jongdae?

Atau alasan lain? Dari cara Jongdae sekarang bicara, ia jelas tidak ingin menjadi Raja, ugh, lagi-lagi aku merasa begitu bodoh karena tidak tahu berapa usia Gwanghae-gun sekarang.

“Jongdae-ya. Apa aku… boleh bertanya padamu?” ucapku akhirnya.

“Menanyakan apa?”

“Berapa usiamu sekarang?” Jongdae menyernyit mendengar pertanyaanku. Mungkin di telinganya pertanyaanku sekarang terdengar begitu aneh dan tidak penting. Tapi ada alasan yang membuatku harus tahu berapa usianya.

“Delapan belas tahun.” jawabnya membuatku terdiam.

Pangeran Yeongcheong lahir di tahun 1606 dan meninggal di tahun 1614, saat usianya sembilan tahun. Jika sekarang ia berusia delapan belas, maka sekarang pasti tahun 1623, tahun terakhir tahta Gwanghae-gun.

Apa-apaan ini? Apa keberadaanku akan mengubah sejarah lagi? Jika aku melakukan sesuatu di sini, apa akan ada perubahan dengan tahta Gwanghae-gun? Aku tidak mati, Lady Jo tidak mati, itu adalah perubahan pertama.

Hyunwoo, adik dari Lady Jo, kemungkinan besar juga masih hidup. Lantas bagaimana dengan Sukwon? Mengapa ia tiba-tiba menjadi selir Raja? Apa Lady Jo dan Sukwon sudah merencanakan sesuatu?

Apa Sukwon menjadi selir Raja juga untuk mengungkap keberadaan Jongdae? Benar. Mungkin saja begitu. Sejak awal kedatanganku, Sukwon seolah sudah ditakdirkan untuk menjadi selir Raja. Meski aku mengubah masa ini, tapi Sukwon tetap menjadi selir Raja. Apa karena masalah utama Lady Jo masih sama?

“Jongdae-ya, dimana Yeong-gyeong ini sekarang? Dia masih hidup bukan?” tanyaku kemudian. Sekarang aku mengerti dimana harus memulainya. Bagaimanapun, percuma saja jika aku menyelesaikan masalah lain Lady Jo, karena masalah utamanya adalah ia ingin mengungkap keberadaan Jongdae demi kebaikan pemuda ini.

Dan satu-satunya jalan bagiku untuk kembali adalah dengan mengungkap keberadaan Jongdae juga. Tapi apa yang akan terjadi jika aku mengungkap keberadaan Jongdae? Apa sejarah akan berubah juga?

“Yeong-gyeong… adalah Woo Ryung. Dia putra tunggal peramal yang kuceritakan tadi. Dan bisa kukatakan, Woo Ryung sama sepertiku.” ucapan Jongdae sekarang mengalihkan fokusku.

“Woo Ryung… penyihir juga?” tanyaku tak percaya.

“Ya. Dia juga penyihir,” Jongdae tersenyum kecil, sekon kemudian ia menyipitkan matanya, menatapku dengan cengiran jahil—yang serupa dengan Jongdae, sahabatku—sebelum ia berucap lagi, “tapi dia suka menggunakan sihirnya untuk hal-hal gelap.”

“Gelap?” ulangku tidak mengerti.

“Hmm. Aku suka membuat ramuan untuk menolong orang, Woo Ryung suka mengerjai orang-orang yang membuatnya kesal. Dia juga, tidak bisa membuat obat-obatan sepertiku, karena Woo Ryung, adalah seorang penyihir pelindung.” aku mengerjap cepat mendengar penjelasan Jongdae.

“Aku tidak mengerti.” ucapku jujur. Karena di kehidupan nyata aku tak pernah menghadapi situasi membingungkan seperti ini, aku sungguh tidak memahami dimana perbedaan mereka berdua.

“Anggap saja, Woo Ryung menggunakan sihirnya untuk melindungi—dan terkadang mencelakai orang lain—sedangkan aku hanya menggunakannya di obat-obatan.” ucap Jongdae membuat mulutku membulat tanpa bisa berkata-kata.

“Ah, jadi dia penyihir hitam, dan kau putih.” seperti yang ada di film-film.

“Hitam dan putih? Jangan bercanda, Hyunhee-ah, semua penyihir adalah penyihir hitam yang jika kekuatannya disalah gunakan, bisa berbahaya.” tutur Jongdae. Aku mengangguk-angguk mengiyakan, meski masih tidak mendapatkan poin utama ucapannya.

Setidaknya anggap saja aku memahami ucapannya tapi aku menerimanya sebagai pemahaman tentang penyihir hitam dan putih. Walaupun aku masih menganggap keberadaannya sebagai penyihir sangat tidak masuk akal, anggap saja saat ini semuanya masuk akal.

“Lalu mengapa kau tidak bersama dengan Woo Ryung kemana pun?” tanyaku kemudian. Jongdae berpikir sejenak sebelum ia berucap. “Kami tidak boleh terlalu sering bersama.” jawabnya.

“Mengapa?”

Alis Jongdae terangkat, tatapannya sekarang tampak bingung. “Sudah kujelaskan kalau kami adalah dua penyihir dengan aliran yang berbeda bukan?” ya, aliran hitam dan putih dalam pemahamanku.

“Ya, lalu dimana letak masalahnya?”

“Kami tidak boleh terlalu sering bersama. Karena seseorang mungkin akan berasakan aura kami.” penjelasannya sekarang baru bisa kumengerti.

“Ah… Benar. Orang-orang mungkin akan merasa aneh saat kalian bersama.” ucapku menggemakan penjelasannya.

“Jangan beritahu siapapun.” ucap Jongdae kemudian.

“Apa?”

“Jangan beritahu siapapun kalau aku sudah menceritakan semua ini padamu.” terangnya membuatku menyernyit bingung. Mengapa tidak boleh? Lagipula, kepada siapa aku mungkin akan—tunggu.

Mengapa ia bisa dengan mudah mengalihkan pemikiranku? Tidak. Tadi aku yang lebih dulu membelokkan pembicaraan karena bertanya dimana keberadaan Yeong-gyeong, bukan?

“Omong-omong, Jongdae-ya. Aku juga punya sebuah rahasia untuk kubagi denganmu.” ucapku akhirnya, mengembalikan konversasi kami ke titik awal, tentang keinginan dan keharusanku untuk mengungkap keberadaannya agar bisa kembali.

“Rahasia apa?” tanyanya.

“Aku akan membuat semua orang tahu tentangmu.”

“Apa?” Jongdae tampak terkesiap.

“Jika semua orang sudah tahu tentangmu, aku akan memberitahumu satu rahasia lagi, nanti.” ya nanti, jika aku dan Jongdae lagi-lagi harus menghadapi perpisahan. Setidaknya, aku ingin ia tahu tentang aku, entah mengapa.

Mengingat waktuku tidak akan lama lagi, setidaknya aku ingin seseorang tahu tentang aku yang terus berpindah tubuh dari waktu ke waktu. Karena aku tak bisa menceritakannya pada Yeonhwa, atau pada Jongdae—sahabatku—karena mereka tak akan mengerti.

Setidaknya, Jongdae yang ada dihadapanku sekarang memiliki kondisi tidak masuk akal yang sama sepertiku. Bukankah ceritaku nanti akan terdengar masuk akal baginya?

“Mengapa kau ingin mengungkap tentangku? Aku sudah katakan kalau Ibuku bahkan tidak ingin keberadaanku terungkap, bukan?” tanyanya.

“Aku bukannya ingin mengatakan pada semua orang kalau kau adalah penyihir. Aku hanya ingin semua orang tahu tentangmu, setidaknya jika kau tidak ingin semua orang mengenalmu sebagai Pangeran Yeongchang, aku harus membuat semua orang tahu tentangmu, Kim Jongdae.” ucapku membuat Jongdae menatap tak mengerti.

“Kenapa? Kenapa kau ingin melakukannya?”

“Karena aku tahu Lady Jo juga menginginkan hal yang sama. Dan juga… itu adalah satu-satunya cara bagiku untuk pergi.”

“Pergi?” ucap Jongdae.

Aku memandang Jongdae, tersenyum kecil melihat kebingungan yang sarat dalam ekspresinya. Meski ingin, aku harus menahan diri untuk tidak mengatakan apapun pada Jongdae sekarang. Setidaknya, sekarang belum waktunya.

“Suatu hari, entah pagi, atau tengah malam seperti hari itu, aku pasti akan pergi lagi, menghilang bagai asap dan bahkan tidak diingat kemunculannya. Aku sudah katakan kalau aku akan memberitahumu satu rahasia lagi, bukan?

“Nanti, jika malam itu datang lagi—malam seperti hari itu saat aku memberitahumu tentangku—aku akan memberitahumu rahasia itu. Setidaknya, kau jadi satu-satunya orang yang akan tahu tentang rahasiaku.”

Rahasia yang tidak bisa kuungkapkan pada siapapun, rahasia yang… akan kubawa sampai akhir kehidupanku nanti. Bukankah lebih baik jika punya seorang teman yang tahu tentang rahasiaku juga? Seperti Jongdae yang menceritakan kehidupannya padaku?

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Tahukah kalian kalau aku mabok saat ngetik chapter ini? Tahukah kalian kalau ngurutin kelahiran para pangeran sama maksain buat nyocok-nyocokin waktunya itu sulit sekali bagi aku yang enggak pernah demen sejarah? Hiks. /kasih emot menangis sambil peluk Bogum/.

Ya gapapa sih, hasil mabok sejarah bisa nembus 3000 kata juga buat chapter ini. Dan juga, karena kemoloran seminggu aku (yang harusnya cerita ini selesai di bulan September tapi jadi molor sampai Oktober) jadi aku bakal kasih ekstra chapter. Yap. Harusnya sih, harusnya, di chapter 12 dia sudah end. Tapi aku kasih bonus dua chapter (insya Allah) sebelum nanti ketemu Epilogue dan Afterword.

Sekian dariku. Terima kasyih ~

.

.

.

BANTU AKU MENEMUKAN CINTA DI SINI → HELP! I NEED YOUR VOTE [3]

.

| MY SHOW |

| Instagram | Line | Twitter | Wattpad | WordPress |

40 thoughts on “SWITCH – 10th MOSSAIC — IRISH’s Story

  1. Ping-balik: SWITCH [AFTERWORD] — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping-balik: SWITCH – EPILOGUE — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  3. hadehhh. masalahnya belum kelar yakk.. oalah, tak pikir lady jo itu emang gak suka sama Jongdae, ohh ternyata karena belum bisa ngungkapin ya..
    what? Jongin juga penyihir?.. hemmm. hemm-in aja.. hihihihi

  4. Ping-balik: SWITCH – 14th MOSSAIC [FINAL] — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  5. Yang baca aja pusing gimana authornya? Wkwk
    Efek sejarah bener2 bikin kita mesti teliti bacanya… kalo gak gak bakal ngerti dan nyambung sama alurnya huhu
    Selain keberhasilan misi Hyunhee ini, aku penasaran sama kisah cinta Hyunhee-Jongdae. Hyunhee-Jongdae penyihir sama Hyunhee-Jongdae sahabatnya hohoho

    • Ketahuilah Ly kalau aku juga galau pol saat ngetik Switch ini😄 wkwkwkwkwk efek ada sejarahnya dikit-dikit kayaknya ya😄 wkkwkwkwkwkwk kisah cinta mereka tidak bahagia

  6. Ping-balik: SWITCH – 13th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  7. Aku jadi berfikir,kayak e sesuatu yang hyunhee lakukan dizaman lady jo berpengaruh sama kehidupan hyunhee. Soale luka panah e jadi pindah ke tubuh hyunhee. Dan,kemungkinan besar adike hyunhee juga mati karena dia juga mati pas dia berada di tubuh orang lain. Makanya sebab kematiannya dikehidupan nyata nggak diketahui kebenarannya

  8. Ping-balik: SWITCH – 12th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ada yang aku paham dan ada yang bikin aku bingung wkwkwk tapi gapapa aku tetap penasaran sama kelanjutannya jadi ditunggu yaa kak next chapternyaa ^^

  10. Woaaaaaaahhh keren jd jongdae tu pangeran pantesan saat nanti main film ktny jd pemain utama krn dy mirip sm pangeran jaman dlu kali 😀 neeeeeeext

  11. okee cukup :”. materi biologi yg udah aku pahami dari jam 1 siang ilang seketika😭. hoho malah curhat😭
    terima kasi sekali kak, kau membuat daku /alay/ galau mlm ini.

    kenapa fanfic ini keren? kenapa fanfic ini bikin aku berpaling dari biologi? :v kenapaa? /alay pt.2/ kak irish jjang!😊

    • XDD buakakakakakakkaka kenapa kamu belain epep daripada biologi? kenapa?😄 wkwkwkwkw
      kenapa epep ini aku rasa astral dan enggak bisa dipahamin?😄

  12. Seketika kata gelap mengalihkan dunia. Jongin penyihir gelap? Item? Hideng? Jangan jangan si kamjong saking jailnya nyihir kulitnya sendiri jadi item? :v *ditabok ital
    Kasian sekali dirimu mas centong jadi anak yang tak dianggap… berdoa aja supaya happy ending*kodekeras/lirik seseorang dan kemudian di tabok
    Btw keep writing and fighting!!^^

  13. Ping-balik: SWITCH – 11th MOSSAIC — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  14. Aku penasaran, ini Hyunhee tetep mati beneran kah? Terus adeknya gimana? Pokoknya masih banyak pertanyaan aku yang muter-muter tiap kali baca ini. Ditunggu kak rish kelanjutannya^^

  15. ini sejarahya asli kan ka? ku tandai chap 10 sebagai pelajaran sejarah non kurikulum apasih. walaopun bukan sejarang indo ekhem tapi seenggaknya klo ada ngoongin sejarang korea aku ga bengong bengong amat. eaaaa jongdae ribet amat ya kehidupannya oemji sama lagi hyunhee jugaa kebanyakan rahasiaa sih jadi kudu ditutup tutupin mulu. blak blak an aja kali hyun, dae. kayak aku yang blak blakan bakal jadi istrinya sehun, misal. wlee /muntahbaut/

    • 😄 sejarahnya? beneran itu, tapi bukan Jongdae aslinya bukan penyihir juga aslinya😄 wkwkwkwk tapi urut-urutannya bener kok si raja punya anak siapa dari ratu siapa😄 wkwkwkwkwkwk

  16. gak nyangka kalau jongdae pangeran..
    makin sini ada titik terang
    agak gak berbelit belit lagi
    tinggal nunggu hyunhee nyelesaian mslah lady jo
    penasaran jga gimana hidup hyunee di kehidupan normal nya gimana..
    di tunggu next chapter nya keren banget kak🙂

  17. lol belajar sejarahhny ngurutin kelahiran pangeran nih ka.kkk
    kereen ka ceritanya makin jelas aja..hmm jd sebenerny epep ino mau kelar nih….haah padahal bagus bgt epepny sambil bljar sejarah pula..
    oya ka aku mau tanya dong jaman joseon sama ryeo itu duluan mana sih??

    • 😄 iya ane belajar sejarahnya buat ngurutin pangeran2😄 wkwkwk sampe mabok tengah malem ane belajar sejarah😄 wkwwk
      ryeo dulu ~ Goryeo itu yang pertama kali ada, baru setelah Ryeo runtuh, ada pemerintahan Joseon ~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s