SWITCH – 14th MOSSAIC [FINAL] — IRISH’s Story

irish-switch-2

s      w      i      t      c      h

|  Jongdae x Hyunhee  |  Fantasy x Historical x Mystery x Romance  |  Chapterred x Short Story  |  Teen  |  by IRISH  |

|  prompt from EXO`s 3rd Repackage Album Song Title: She’s Dreaming  |

Show List:

ForewordPrologue1st Mossaic 2nd Mossaic3rd Mossaic4th Mossaic5th Mossaic6th Mossaic7th Mossaic 8th Mossaic 9th Mossaic 10th Mossaic 11th Mossaic 12th Mossaic13th Mossaic [PLAYING] 14th Mossaic

It’s hard for me

Because when morning comes

You’ll wake up as if nothing happened

♫ ♪ ♫ ♪

Hanyang, 1623.

In Author’s Eyes…

“Apa kau yakin ingin mati dengan cara seperti ini, Hyunhee-ah?”

Pertanyaan itu membuat Hyunhee terdiam. Apa benar dirinya ingin mati? Setelah beberapa hari memperjuangkan kehidupannya, menganggap jika mungkin dirinya bisa kembali dengan sendirinya ke waktu yang ia tinggali, apa sekarang Hyunhee akan menyerah?

“Kita tidak punya pilihan lain.”

“Apa kau tidak ingin menunggu saja hingga—”

“Tidak bisa, Jongdae. Aku sudah banyak membuang waktu di sini. Apa aku akan mati jika aku meminum ini?” pertanyaan itu akhirnya Hyunhee utarakan. Seolah ia enggan memikirkan tentang bagaimana hidupnya akan berakhir setelah ini.

“Ya. Kau hanya akan merasa dirimu tengah mengantuk.” ucap Jongdae, tidak ingin lagi berbantah kata dengan Hyunhee. Ia tahu keputusan gadis itu sudah begitu bulat.

“Baiklah. Kalau begitu aku tidak akan menunggu lagi.” tepat setelah mengucapkan kalimat tersebut, Hyunhee meneguk habis cairan dari dalam cawan kecil yang ada di tangannya. Membiarkan Jongdae menatapnya tidak percaya—seolah pemuda itu sebenarnya mengharapkan keraguan lainnya dari Hyunhee.

“Ini.” Hyunhee mengulurkan cawan kosong tersebut pada Jongdae, sementara Jongdae sendiri menerimanya dengan sedikit ragu, manik pemuda itu masih lekat menatap ke arah Hyunhee.

“Jangan khawatirkan aku. Bukankah kau bilang kalau aku tidak akan merasa sakit? Kau bisa tinggalkan aku, aku akan tidur di sini sampai seseorang menyadari kepergianku.” ucap Hyunhee, menepuk-nepuk pengalas yang sedari tadi menjadi pengalasnya duduk, sementara gadis itu tersenyum, berusaha menenangkan Jongdae, agaknya.

“Aku akan menemanimu.” putus Jongdae, meletakkan cawan tersebut tidak jauh dari jangkauannya sementara ia memperbaiki posisi duduk, mencari tempat ternyaman untuknya agar bisa tetap memperhatikan Hyunhee.

“Apa? Tidak perlu, Jongdae. Aku akan baik-baik saja.” tolak Hyunhee mentah-mentah. Sementara Jongdae berkeras, gelengan tegas ia berikan pada Hyunhee, tanpa ada kata.

“Setidaknya aku harus memastikan kau kembali ke kehidupanmu.”

“Bagaimana kau akan memastikannya?” Hyunhee bertanya, sementara ia membaringkan diri, memutuskan untuk tidak berdebat dengan Jongdae dan mengusirnya.

Tidak malah menjawab, Jongdae hanya memberikan sebuah senyum kecil.

“Biarkan saja aku memastikannya dengan caraku, Jo Hyunhee.”

Akhirnya, Hyunhee terdiam. Cukup lama sampai ia memutuskan untuk kembali membuka konversasi. “Kau tahu darimana aku mengetahui tentang kematianku, Jongdae-ya?” tanyanya membuat Jongdae mengalihkan pandang.

“Bagaimana?” tanya Jongdae.

“Aku terjebak di tubuh reinkarnasiku yang lain. Dan secara kebetulan aku harus datang ke sebuah pemakaman. Di sana… aku melihat makamku sendiri. Aku mati di hari ulang tahunku yang ke dua puluh sembilan. Kalau kupikir lagi, mungkin saat aku kembali nanti ke kehidupanku, aku hanya punya beberapa hari saja tersisa sebelum ulang tahunku.”

Jongdae terdiam sejenak, tampak berpikir.

“Bagaimana kau bisa yakin?” tanya pemuda itu akhirnya. Hyunhee mendesah pelan, sebenarnya gadis itu juga tidak yakin.

“Entahlah. Firasat?” ucapnya membuat Jongdae tertawa pelan.

“Kau tidak bisa mengandalkan firasat di saat seperti ini, Hyunhee-ah.”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

 Seoul, 2016.

Jongdae terdiam, kedua maniknya terpejam. Sejak tadi ia berusaha untuk mengingat tiap keping kenangan yang sudah beratus tahun ia simpan. Meski ia tidak pernah berniat melupakan kenangan-kenangan tersebut, berlalunya waktu juga sudah mengikis, hingga sekarang Jongdae sendiri merasa kesulitan untuk mengingatnya.

Perlahan-lahan pemuda itu berusaha menyusun mozaik yang ada di dalam benaknya, mulai dari pertemuannya dengan Hyunhee di masa dulu, sampai bagaimana ia bertemu dengan gadis itu di kehidupan yang sekarang.

Tidak pernah Jongdae merasa curiga pada Hyunhee yang dikenalnya sekarang, mengira jika gadis itu hanya satu dari beberapa orang yang memiliki paras sama persis dengan Jo Hyunhee—yang dikenalnya dulu—meski pada akhirnya, kesamaan nama lah yang membuat pemuda itu merasa mereka berdua begitu mirip.

Sekarang, Jongdae dihadapkan pada pertanyaan dan misteri lainnya, tentang bagaimana Hyunhee bisa terjebak di kehidupan orang lain, dan bagaimana bisa ia mati untuk menggantikan kematian orang lain.

Ya, tentu Jongdae ingat jelas bagaimana di keesokan harinya—setelah Hyunhee malam itu meminum racun yang dibuatnya—Hyunhee kembali terbangun. Tidak, lebih tepatnya, Lady Jo yang terbangun.

Hal yang menjadi beban bagi Jongdae selama beratus tahun, karena ia tahu sesuatu yang buruk pasti terjadi pada Hyunhee yang mengatakan ‘ia kembali ke kehidupannya’ saat itu.

“Aku sudah bicara padanya.” atensi Jongdae kini beralih, pada pemuda yang entah sejak kapan berdiri di ujung pintu, mengawasinya.

“Hyunwoo?” ucap Jongdae dijawabnya dengan anggukan pelan. Pemuda itu kemudian melangkah mendekati Jongdae, duduk di sebelahnya dan terdiam.

“Aku tidak mengerti, hyung. Jika kau katakan kalau Hyunhee yang kau kenal di sini adalah Hyunhee yang beratus tahun lalu kau ceritakan, lalu apa yang sebenarnya terjadi?” tanya pemuda tersebut—Jongin.

Jongdae menggeleng pelan. “Aku juga tidak tahu pasti, Jongin-ah. Mungkin, saat itu seharusnya ia pergi bersama Lady Jo, bukannya memilih untuk mengakhiri kehidupannya sendiri.” Jongdae kemudian mengaitkan jemarinya dengan khawatir.

“Semua orang mungkin tidak merasa aneh karena kemunculan Hyunwoo. Tapi kita berdua tahu apa yang terjadi. Jo Hyunwoo, seharusnya sudah mati. Dan jika kupikir-pikir lagi, mungkin ada yang berubah tanpa sepengetahuan kita.”

“Apa maksudmu?” tanya Jongin.

“Seperti misalnya, Hyunhee melewatkan dua waktu yang sama di kehidupan Lady Jo. Sehingga ada beberapa perubahan yang juga terjadi, Hyunwoo yang hidup, dan Hyunhee yang mati.”

Jongin terdiam sejenak, berpikir.

“Menurutmu, Hyunhee mungkin pernah melewati waktu dimana Hyunwoo seharusnya mati? Jadi… Hyunwoo sebenarnya mati, tapi karena Hyunhee datang ke waktu kematian Hyunwoo, ia membatalkan takdir kematian itu?” tutur Jongin setelah menarik kesimpulan sendiri di dalam benaknya.

“Ya, menurutku seperti itu.”

“Lalu… itu artinya, Hyunhee bukan satu-satunya orang yang berkelana dengan singgah di tubuh orang lain? Adiknya, juga seperti itu?” ucap Jongin memastikan.

Jongdae mengangguk pelan.

“Itulah mengapa aku memintamu untuk bicara padanya.” mendengar ucapan Jongdae, Jongin kini menatap dengan mata membulat.

“Apa yang sedang kau rencanakan, hyung?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Hanyang, 1623.

“Kami ditakdirkan bersama?”

Jongdae menyernyit saat mendengar ucapan pemuda di sebelahnya. Well, seharusnya saat ini Jongdae duduk di sebelah Hyunhee, menemani gadis itu menghabiskan waktu terakhirnya, tapi tiba-tiba saja adik Lady Jo—Hyunwoo—datang menemuinya dan mengatakan hal yang sangat tidak masuk akal.

“Bukankah noona-ku sudah mengatakannya padamu? Jika dia berasal dari masa depan? Aku juga seperti itu, hyung. Dan aku datang hari ini, padamu, untuk memperingatimu agar tidak menuruti keinginan noona jika ia ingin kau membunuhnya.”

Jongdae menatap tidak mengerti.

“Memangnya kenapa Hyunhee akan memintaku untuk membunuhnya?”

“Dia akan memintamu. Sudah berapa kali kukatakan? Kau tidak mati, hyung. Bahkan kau adalah Jongdae yang sama yang dikenalnya di masa depan. Kau… adalah Jongdae yang ada di masa depan, yang dikenal baik oleh noona-ku. Apa kau tahu alasanku kembali melakukan perjalanan waktu seperti ini?

“Semua ini karena kalian sama-sama tidak mengerti. Noona berpikir dia akan kembali ke kehidupannya saat kau membunuhnya, tapi sebenarnya, dia lah yang mati. Lady Jo akan tetap hidup, dan noona yang akan mengambil kematiannya.

Noona pikir, takdir kematiannya ditentukan karena ia melakukan perjalanan waktu. Tapi saat aku melompati waktu dan pergi ke masa depan, aku tahu ia mati karenamu.”

“Karenaku?” kali ini Jongdae menatap tidak mengerti.

“Ya, hyung. Di usianya yang ke dua puluh sembilan, kau memberinya sebuah kejutan dengan berpura-pura meneleponnya dari ruang gawat darurat rumah sakit. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat itu tapi… dia mati dalam perjalanan untuk menemuimu. Sebuah mobil menabraknya, di sisa kesadarannya ia berusaha meneleponmu tapi kau tidak menjawab panggilannya. Jadi… noona-ku seharusnya mati dalam keadaan seperti itu.”

Jongdae terdiam. Ia mungkin mengira ucapan Hyunwoo tidak masuk akal jika saja pemuda itu tidak dilihatnya menangis saat ini. Hyunwoo, mengusap likuid yang hampir jatuh membasahi pipinya sesaat sebelum ia kembali berucap.

“Aku tahu ini tidak masuk akal. Tapi di masa depan, kau adalah orang yang menceritakan padaku tentang bagaimana aku seharusnya mati di usia sembilan belas tahun, tapi tiba-tiba saja hidup kembali dan bahkan… kau adalah seorang yang menjelaskan padaku tentang bagaimana noona menyelamatkanku di masa ini.

“Saat itu, aku terjebak di tubuh Hyunwoo—adik Lady Jo—dan dalam ingatanku, aku mati menyedihkan dengan siksaan. Tapi tiba-tiba saja esok paginya aku terbangun di tempat tinggal yang tidak kukenali, dan seseorang mengatakan padaku jika noona sudah mati.

“Semuanya saling berhubungan, hyung. Semua yang diubah noona-ku di masa ini, ada pengaruhnya di masa depan. Dan jika kau benar-benar ingin ia tetap hidup… pergilah dari kehidupannya. Tinggalkan dia di sini, dan jangan pula temui dia di masa depan. Dengan begitu, Jo Hyunhee tidak akan mati.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Hyunhee’s Eyes…

Noona?”

Aku menyernyit saat menyadari sebuah suara memanggilku. Seperti suara Hyunwoo. Ah, apa aku benar-benar mati karena minuman yang Jongdae berikan? Sampai-sampai aku bisa mendengar suara Hyunwoo?

Noona? Gwenchana?”

Tidak. Tunggu. Mengapa suara Hyunwoo terdengar sejelas ini? Apa aku tidak mati? Apa aku kembali ke kehidupanku dan Hyunwoo masih hidup?

“H-Hyunwoo?” suaraku tercekat di tenggorokan, sementara tubuhku berusaha beradaptasi dengan keadaan yang sekarang aku hadapi. Aku ada di apertemen, aku benar-benar kembali.

Hyunwoo.

Dia ada di hadapanku, Hyunwoo masih hidup.

“Kau… Hyunwoo…” tanpa bisa menahan tangis, aku merengkuh Hyunwoo erat-erat. Memastikan jika aku tidak sedang bermimpi atau berhalusinasi. Dan ya, Hyunwoo memang benar-benar nyata.

Dia masih hidup. Setelah sepuluh tahun aku kehilangan Hyunwoo, tiba-tiba saja aku terbangun dan mendapati Hyunwoo masih hidup. Tidak masuk akal, memang. Tapi untuk sekarang, kurasa aku tidak perlu mempertanyakan tentang bagaimana dia bisa hidup.

“Ada apa denganmu? Kau tidak biasanya memelukku seperti ini.” Hyunwoo berucap. Aku tertawa tanpa sadar, Hyunwoo bahkan masih ingat tentang aku yang tidak sering memeluknya, apalagi menangis di hadapannya.

Tapi sekarang aku terlalu berbahagia.

“Apa yang terjadi padaku?” tanyaku kemudian, kulepaskan pelukanku pada Hyunwoo sementara aku memperhatikannya lekat-lekat.

“Kau tidak sadarkan diri saat bekerja, noona. Beruntung saja Yeonhwa noona meneleponku jadi aku bisa membawamu pulang.” ucap Hyunwoo menjelaskan.

“Ah… Kupikir aku kelelahan bekerja saja.” gumamku, kemudian teringat pada keadaan yang mungkin kutinggalkan. “Tanggal berapa ini? Jongdae, apa Jongdae baik-baik saja?” tanyaku membuat Hyunwoo menyernyit bingung.

“Jongdae?” tanyanya.

“Iya, Jongdae. Kenapa kau malah menatapku begitu?” ujarku tidak mengerti.

“Jongdae mana yang kau bicarakan sekarang, noona?”

“A-Apa?”

Hyunwoo terkekeh pelan.

“Kurasa kau masih kurang istirahat. Tidurlah lagi, noona. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu.” ucap Hyunwoo, menepuk pundakku lembut sebelum ia melangkah keluar dari kamar, meninggalkanku.

Tunggu, mengapa Hyunwoo bicara seolah ia tidak mengenal Jongdae?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Jongdae tidak ada. Seorang bernama Kim Jongdae di kehidupanku, tidak pernah ada. Sudah satu tahun berlalu sejak aku terbangun di apertemen dengan Hyunwoo yang ada di sana. Dan hari itu, adalah hari ulang tahunku. Mengingat bagaimana di malam harinya, rekan-rekan kerjaku datang dan merayakan ulang tahun bersamaku.

Aku tidak mati. Hyunwoo juga tidak mati. Dua keanehan itu kusadari terjadi tidak sesuai dengan takdir yang seharusnya terjadi. Berulang kali aku bertanya pada Hyunwoo tentang pertukaran tubuh yang mungkin juga terjadi padanya, tapi ia tidak tahu apa-apa. Selama ini, aku sendiri lah yang berusaha berspekulasi… jika masa depan, berubah karena apa yang aku lakukan di masa lalu.

Satu-satunya tempat yang tersisa bagiku—dimana aku bisa mengenang eksistensi Jongdae—baik yang kukenal di masa lalu maupun masa ini—hanyalah sebuah pohon yang ada di wilayah Hongdae.

Aku tahu benar pohon ini dianggap sebagai pohon tertua di Hongdae karena dipercaya sudah berusia ratusan tahun. Dan ya, memang aku percaya jika pohon ini sudah ada di sana selama ratusan tahun. Di pohon ini juga lah aku menyimpan surat yang kutujukan untuk Lady Jo.

Mengabaikan keinginanku untuk kembali ke rumah dan menyelesaikan pekerjaanku yang menumpuk, aku malah memutuskan untuk berjalan ke arah pohon itu, berusaha mengingat-ingat dimana celah yang kujadikan tempat menyimpan suratku.

Apa Jongdae sudah mengambilnya? Atau malah… ia belum mengambilnya? Sudah berapa lama waktu di sana berlalu? Menemukan bagian yang terlihat familiar, aku akhirnya memutuskan untuk menyingkirkan rerumputan yang menutupi pohon tersebut, bahkan tidak merasa risih untuk menggunakan tanganku menggali tanah di dekatnya.

Butuh beberapa menit bagiku sampai akhirnya kutemukan sebuah pipa kayu kecil di sana, terkubur cukup dalam dari akar mencuat pohon. Pipa yang rasanya kuletakkan di sana dalam warna sangat bagus dan sekarang sudah terlihat rapuh, menyedihkan.

Ah… Jongdae pasti tidak membaca catatan yang kutinggalkan di sini.

Perlahan aku membuka simpul tali di pipa tersebut, mengeluarkan kertas lusuh yang ada di dalamnya dan—

Jongdae membacanya.

Dia membaca catatan yang kutinggalkan, dan membalasnya. Aku bisa membaca apa yang ia tuliskan di atas kertas lusuh ini walaupun sudah tidak begitu jelas karena selama ratusan tahun terkubur. Tapi benar Jongdae, dia yang membalas suratku. Karena ia tuliskan namanya di sana.

Untuk wanitaku, Jo Hyun Hee

Jika waktu memang benar berputar

Jika takdir memang memberi yang terbaik

Maka tunggulah waktu dan takdir membiarkanku menemuimu

Tidak dengan kehidupan yang kau ceritakan

Tidak juga dengan perasaan yang kita rasakan

Saat kau sudah siap dengan semua ini

Saat itulah aku akan datang dan menemuimu

Jika memang takdir dan waktu tidak mengizinkan

Maka biarkan perasaanku lenyap bersama hilangnya ragaku

-Kim Jong Dae-

FIN

IRISH’s Fingernotes:

YA LORD!

Akhirnya selesai ya Lord cerita ini! Setelah sebulan setengah akhirnya kelar ya Lord! Bayangkan bagaimana bersyukurnya diriku ya Lord! Tinggal besok doang epilog biar endingnya enggak senggantung ini ya Lord.

Izinkan kuota dan waktuku bertahan sampai besok ya Lord :”)

Diriku sudah rindu mempublish cerita-cerita chapterred lainnya ya Lord.

.

.

.

BANTU AKU MENEMUKAN CINTA DI SINI → HELP! I NEED YOUR VOTE [3]

.

| MY SHOW |

| Instagram | Line | Twitter | Wattpad | WordPress |

34 thoughts on “SWITCH – 14th MOSSAIC [FINAL] — IRISH’s Story

  1. Ping-balik: SWITCH [AFTERWORD] — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping-balik: SWITCH – EPILOGUE — IRISH’s Story | EXO FanFiction Indonesia

  3. Aq ketinggalan banyak chap
    Dan akhrnya baca maraton
    Dan efeknya kepalaku berputar2 krna mikirin masa lalu dan masa sekarang dan ini kehidupannya yang tiba2 berubah2

    Tp hyunhee tetap ingat jongdae walaupun dikehidupan aslinya sejarah hidup dia udah berubah yg tiba2 hyunwoo msh hidup dan hilangnya keberadaan jongdae

    Tapi kalau takdir mengizinkan *eeeeaaaaak
    Jongdae si raja berkata2,hehehehe

    Ditunggu aja epilognya irish

  4. Aku kira ceritanya bakal lebih panjang lagi, ternyata udah finish aja._. Sangking serunya, jadi ga berasa bacanya.. Tapi keren banget ceritanyaaaa. Keep writing kak irish😍😍

  5. Tuh kan, kak irish ini seneng banget bikin reader jadi greget, jadinya pengen gigit kak irish deh… *abaikan kanibalisme dirikuh
    Hm, sebenernya di chap terakhir ini emang ngejawab dari pertanyaan aku sebelumnya, tapi kok dari jawaban ini bikin pertanyaan lainnya ya? *avaikan, ini abstrak
    Di tunggu epilognya…
    Keep writing and fighting!!^^

  6. akhir dari kebingungan antara ingin membunuh hyunhee yang mana, pada akhirnya jongdae yang mati. wew. bener bener ending yg ga keduga. kenapa di cuap cuap chapter kmren gadikasih tau klo chap 14 itu ending? kaget aku ka. kek “whaat udh ending?” ngegantung pulaaa. bener bener kudu makee epilog. dan kutunggu project winternya!

  7. Gantung banget wkwk
    Jongdaenya jangan lenyap please😦
    Akhirnya semua terjawab. Dan pas bacanya gak seribet bagian yang ada sejarahnya Sejarahnya semacem bumbu aja ternyata 😁

  8. eiih ini endingnya ngegantung ka…ada epilogny?
    jadi sebenerny chentong tuh.gada reinkreinasiny gt?waah terus yg ada dkehidupan hyunhee itu siapa weh?
    aah hyunwo idup lagi senengny
    oke dtunggu cerita” astral lainny ka fighting

  9. YALORD, INI KOK GANTUNG SANGAT? OTTOKHE? APA YG TERJADI SAMA MAS CHEN KAK RISH? ANDWAE,JANGAN TAMAT SEBELUM RASA PENASARAN EKI TERPUASKAN /PLAKK/ ITU UDAH FIN COEG /😂
    KAK, SERIUS INI END? -,-

  10. Huaaaaaaaaaaa knp sad ending eon msh g puas 😀 q bertanya” knp kl hyunhee smp mati itu krn jongdae eon?atau lbh tpt krn mengenal jongdae ?benarkah?? Greget yakin hehehe …. the best ka irish semangat y bt next ff ny ^_^

  11. Akhirnya jongdae yg mati .
    di satu sisi aku seneng hyunwoo sam hyunhee bsa bersama lagi

    tapi ini nyesekk banget jongdae mati😦 sebuah akhir yg tak terduga.. huu
    surat balasan nya bikin nyesekk nihh.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s