Freelance ? Read This!

Saya terpaksa mengeluarkan peraturan baru ini karena email EXOFFI yang sebelumnya, yaitu exofanfictionindonesia@yahoo.com mengalami kerusakkan, sehingga mulai sekarang, mohon FF dikirim ke alamat email exofanfictionindonesia@gmail.com

Semua author FF Freelance yang merasa telah mengirimkan FF-nya ke alamat email lama dan belum di share, mohon mengirimkan kembali ke alamat email yang baru seperti yang tertera di atas:-)

-RULES FF FREELANCE-

 

  • Fanfic original alias hasil buatan sendiri. Kami tidak bertanggungjawab seandainya fanfic yang kalian kirim adalah hasil plagiat fanfic lain.
  • Tidak menerima fanfic YAOI/Genderswitch
  • Untuk fanfic chaptered, kalian harus mengirimkannya secara terpisah. Maksudnya, satu hari kalian cukup publish satu chapter.
  • Fanfic boleh diberi poster dan tidak, jika diberi cover cukup lampirkan 1 foto/gambar saja, Jika memakai Poster jangan masukkan ke MS.Word karena itu sama saja tidak memakai Poster, Jadi tolong dilampirkan.
  • Fanfic & poster yang dikirimkan harus di-attachement/lampirkan  secara terpisah, dan diketik di Microsoft Word .
  • Fanfic yang akan dikirimkan disini boleh dipublish di tempat lain, asalkan tanggal waktunya lebih dulu di tempat lain itu
  • Tidak menerima fanfic dengan format tulisan “kHayaQ ghIn13″

 

-Format Penulisan Fanfic (wajib ada)-

 

  • Tittle/judul fanfic:
  • Author:
  • Length:
  • Genre:
  • Rating:
  • Main cast & Additional Cast:
  • Disclaimer: (untuk konfirmasi jika fanfic itu benar-benar original buatan kamu, ditambah berikan link “tempat lain” dimana kamu mempubulish fanfic yang kamu kirimkan #ribet)
  • Author’s note: (jika perlu)

 

Kirim Fanfiction ke email : exofanfictionindonesia@gmail dengan SUBJECT : [EXOFFI] Freelance – Nama Pengirim/Nama Author Freelance-Judul Fanfiction

sparkies-attention-symbol

Sebelumnya terimakasih telah setia menjadi reader diblog ini. terimakasih juga untuk yang sudah setia meninggalkan jejak kaki setelah membaca setiap fanfic di blog ini. komen kalian sangat berguna untuk membangun author untuk manjadi lebih baik lagi.

Nah, disini ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk para AUTHOR FREELANCE demi kebaikan kita bersama. Berikut adalah hal yang harus diperhatikan sebelum mengirim FANFIC kalian: (lebih…)

Winter Story (Chapter 1)

Judul                : Winter Story (chapter 1)

Nama Author : Catur Anggraheni

Gendre            : Sad, Romance. (maybe)

Length             : Chaptered

Rating    : G

Main Cast         : – Park Kinar (OC)

  • Xi Luhan
  • Wu Yi Fan

Disc                 : Hai.. Ini ff pertamaku. Maaf ya kalo ada typo atau ceritanya mungkin gak menarik. Kalo mau kasih kritik dan saran, ke twitter aku aja ya @Caturanggraheni . Happy Reading.*bow*

Baca lebih lanjut

Destiny (Prolog)

PicsArt_1407826217553

Tittle :
DESTINY (Prolog)

Author :
Ha Hoon (@arsyilahnf)

Cast :
•Byun Baek Hyun
•Jung Soo Jung
•Oh Se Hoon

  • Suho (OC)
    •Byun Baek Hee (OC)

Genre :
Sad, Romance

Length :
Chaptered

Rating :
T
 
Disclaimer :

FF ini murni imajinasi author. Di setiap chapter genre akan berubah dan cast akan bertambah. DON’T PLAGIAT! Tokoh milik Tuhan dan Orang Tua cast masing-masing.

Baca lebih lanjut

New Feelings

new feelings

 

 

 

Title : New Feelings

Main Cast : Park Hyemi, Oh Sehun

Support Cast :Lee Min Gi, Park Chanyeol , Xi Lu han (Oh Luhan), kim jongdae

Author : @aishadewi

Genre : sad, drama, romance

Summary : I was falling in love with you. Since the first time, god make me meet you

Annyeonghaseyo reader, maaf author baru lagi bikin FFnya karena belum sempet nemu waktu kosong. Nah, sekarang FF baru lagi biasa main castnya biasnya author sehun semoga kalian suka.. oh ya mohon tinggalkan jejak baik itu like atau komen, tolong hargai author yang udah bikin ini.. saran kalian berharga banget untuk author.. PLEASE DON’T BE A SILENT READER…. Gomawo ^_^ dan satu lagi harap maklum kalau masih ada typonya yaaa…..jangan lupa tinggalkan jejak..jejak…jejak ^^

“ya! Park Hyemi ayo bangun, apa kau akan terus tidur seperti itu hah” ucap ahjumma membangunkanku dari luar kamar dengan teriakkannya yang cukup bisa membuat kuping orang yang mendengarnya kesakitan.

“ne ahjumma, sebentar lagi” ucapku malas. Aku tinggal bersama paman dan bibi ku di Seoul. Kedua orang tuaku bekerja di New York, ibuku seorang designer dan ayahku seorang pengusaha biasa. Aku tinggal bersama paman dan bibiku sejak aku SMA. Kedua orang tuaku tidak bisa membawaku ke New York, karena kedua orang tuaku sibuk dan takut tidak bisa menjagaku jika aku ikut bersama mereka.

“cepat, jangan bermalas-malasan apa kau tidak akan pergi ke kantor hah” teriak ahjumma. Ya ahjumma memang sangat tegas bukan hanya padaku, tapi pada anaknya sendiri juga seperti ini.

“ne, aku sebentar lagi keluar” teriakku. Aku pun mencoba bangun dari tempat tidurku dan melangkahkan kakiku keluar dari kamar. Saat aku membuka pintu kamarku, aku melihat saudaraku atau bisa dibilang anak ahjumma yaitu park chanyeol.

“hyemi-ah selamat pagi” ucap chanyeol sambil menggaruk-garuk kepalanya. Dan bisa kulihat chanyeol masih mengantuk. umurku dan chanyeol sama bahkan kami awalnya bekerja di tempat yang sama tapi, sekarang kami berbeda chanyeol sekarang bekerja sebagai seorang jurnalis. Sedangkan aku sekarang bekerja sebagai sekertaris di salah satu perusahaan.

“selamat pagi chanyeol-ah, hari ini kau tidak bekerja?” tanyaku pada chanyeol.

“hari ini? Aku bekerja. Memangnya kenapa?” tanyanya padaku.

“ah, ani hanya bertanya. Ayo cepat kita harus segera sarapan kalau tidak segera ke ruang makan ahjumma akan marah pada kita, kajja” kami berdua pun berjalan menuju ruang makan yang disana sudah ada kedua orang tua chanyeol, atau paman dan bibiku.

“kalian ini , anak muda pemalas sekali sudah jam berapa ini” omel ahjumma padaku dan chanyeol.

“eomma tidak bisa kah kau tidak berteriak. aku sedang pusing” ucap chanyeol sambil melahap sarapannya pagi ini.

“chanyeol-ah kau ini tidak sopan” ucapku berbisik pada chanyeol.

“kalau eomma tidak secerewet itu bagaimana kalian akan bangun” ucap ahjumma.

“ne, ne arraseo” ucap chanyeol singkat. Kami pun melanjutkan sarapan tanpa ada yang berbicara seorang pun.

“selesai” ucap chanyeol lalu pergi kembali menuju kamarnya. Hubungan chanyeol dan kedua orang tuanya yang kutau memang kurang baik tapi aku sendiri tidak tau memangnya ada apa.

“ahjumma biar kubantu” ucapku berjalan mendekati ahjumma yang sedang mencuci semua piring. Setelah semua piring selesai aku pun berniat kembali ke kamar dan besiap-siap untuk pergi ke kantor.

“hyemi-ah” ucap ahjumma. Aku pun berbalik dan mendekati ahjumma yang masih berada didapur.

“ne ahjumma, waeyo?”

“apa kau sedang buru-buru hari ini?” Tanya ahjumma padaku.

“hm, memangnya ada apa ahjumma? Tapi mungkin jika ahjumma ingin berbicara padaku kita mengobrol saja dahulu”

“baiklah, sebaiknya kita mengobrol di ruang tamu saja” ahjumma pun pergi menuju ruang tamu yang diikuti olehku, ada apa dengan ahjumma tidak biasanya ahjumma seperti ini.

“ada apa ahjumma” ucapku setelah kami duduk diruang tamu. Ruang tamu yang minimalis yang hanya tersedia 2 kursi berhadapan untuk satu orang dan satu kursi panjang untuk 3 orang, dan beberapa hiasan seperti vas dan meja-meja kecil.

“begini, sebenarnya aku juga tidak ingin berbicara seperti ini tapi ini terpaksa” ucap ahjumma

“memangnya ada apa ahjumma?”

“sebaiknya kau segera pindah dari sini, bukan kami tidak menerima dirimu hyemi-ah hanya saja ada beberapa hal yang sudah kami pertimbangkan, lagi pula sekarang kau sudah bekerja tetap.” Jelas ahjumma, cukup membuatku kaget ada apa dengan ahjumma apa aku merepotkan tinggal disini.

“tapi jika kau membutuhkan kami, kami pasti akan membantumu hyemi-ah” tambah ahjumma padaku. Entah sekarang apa yang ada didalam pikiranku, apa yang harus kulakukan?apa yang harus ku katakana pada ahjumma sekarang.

“hyemi-ah?” ucap ahjumma membuyarkan lamunanku.

“ah, n…ne ahjumma?”

“apa kau mengerti? Aku bukan mengusirmu tapi ada sesuatu yang kami tidak bisa beritahu padamu hyemi-ah”

“ah, itu … tenang saja ahjumma. Aku mengerti aku akan segera mencari tempat tinggal dan membereskan barang-barangku” ucapku sesantai mungkin pada ahjumma.

“mianhaeyo hyemi-ah” ucap ahjumma sambil menggenggam tanganku.

“arraseo ahjumma, tenang saja” ucapku santai. setelah berbincang-bincang dengan ahjumma selesai aku segera kembali ke kamar dan tiba-tiba ponselku berbunyi yang ternyata dari luhan.

“Yeobeoseyo?” ucapku

“hyemi-ssi hari ini kau tidak akan ke kantor?” Tanya luhan padaku

“ah itu, sebentar lagi aku akan segera kesana” ucapku terburu-buru.

“baiklah kalau begitu kau siapkan saja untuk rapat nanti sora arra” ucap luhan padaku.

“ne” setelah sambungan telefon terputus aku segera masuk ke dalam kamar mandi dan bersiap-siap menuju kantor. Luhan adalah atasan ku dikantor sekaligus sunbaenim saat aku duduk dibangku universitas.

Hanya butuh 15 menit untuk bersiap-siap setelah itu aku segera keluar dari rumah dan pergi menuju kantor. Aku pun segera berjalan cepat menuju halte bis, semoga saja bis tidak terlambat untuk datang. Yang sekarang ada dalam pikiranku bukan bagaimana nanti saat di kantor tapi , apa yang sekarang harus kulakukan jika aku keluar dari rumah paman dan bibi. Jam sudah menunjukkan pukul 08.45 KST dan aku masih berada didalam bis menuju kantor ini sudah telat yang keterlaluan, ayolah hyemi hwaiting.

“hyemi-ah tumben sekali kau terlambat, tidak biasanya” ucap sahabat terbaikku selama dikantor ini Lee Min Gi.

“Mingi-ah selamat pagi, iya mianhae aku terlambat” ucapku dengan nada lesu dan tidak bersemangat.

“ada apa denganmu hyemi-ah? Apa ada masalah?” Tanya mingi yang berjalan menghampiri ku yang masih berada dekat pintu masuk.

“hm, nanti akan kuceritakan sekarang aku harus membereskan beberapa file untuk rapat nanti sore” ucapku dengan nada tidak bersemangat.

“baiklah, semangatlah hyemi. Oh ya tadi kau dicari oleh luhan-nim” ucap Mingi padaku.

“ya baiklah aku harus segera ke ruangannya, gomawo minGi-ah” aku pun segera berjalan menuju ruanganku mempersiapkan semua dokumen yang harus aku beserkan, dan semoga dengan kesibukanku dengan semua dokumen ini aku bisa lupa akan masalahku sesaat.

‘ya tuhan kenapa file nya harus sebanyak ini’ keluhku dalam hati. Sudah 2 jam aku duduk didepan laptop dan memebreskan beberapa file yang harus ku serahkan pada luhan sunbae. Sejak aku menjadi sekertaris luhan sunbae belum pernah aku memanggilnya dengan sebutan pak, karena hubunganku dengan luhan sunbae memang cukup dekat sejak dulu, maka dari itu aku memanggilnya sunbae sampai detik ini.

Kringggg

“hyemi-ssi tolong bawakan dokumen yang harus kutanda tangani sekarang.”

“ne” segera kututup telefon kantor yang berbunyi. Dan segera membereskan dokumen untuk luhan sunbae tanda tangani. Cukup banyak sekarang ada 8 map yang berada ditanganku, map yang berisi surat-surat untuk luhan sunbae tanda tangani. Saking tidak ingin aku sempat terburu-buru berjalan menuju ruangan luhan dan tidak sengajak menabrak seseorang.

BUUKKKKKKK

“ah, mianhae” ucap seseorang yang kutabrak yan sekarang sedang memunguti kertas-kertas yang berserakan.

“saya yang seharusnya meminta maaf, sekali lagi saya minta maaf” ucapku sambil membantu memunguti kertas dan map yang berserakan.

“tidak apa-apa” ucap namja tersebut sambil membantuku berdiri dan memberikan map yang dia bereskan padaku lalu tersenyum.

“g..gomawo” ucapku. ‘1,2,3’ ucapku dalam hati. Namja tersebut pun pergi dari hadapanku dan aku pun segera sadar dari lamunanku ‘3detik?’.

“sunbae maaf , tadi saya sempat melakukan kesalahan maka dari itu saya terlambat” ucapku menjelaskan pada luhan sunbae yang sekarang berada dihadapanku.

“arraseo, baiklah mana dokumennya?” ucap luhan sunbae yang masih duduk tegap didepan mejanya. Segera kuberikan dokumen yang masih kupegang, untung saja aku sempat merapihkannya sebelum masuk kesini karena kejadian tadi. Setelah dokumen itu kuserahkan pada sunbae, segera aku keluar dari ruangan tersebut. Tapi belum sempat aku melangkahkan kakiku keluar luhan sunbae sudah memanggilku.

“hyemi-ssi” panggil luhan sunbae. Aku pun segera berbalik dan melihat luhan sunbae “bisakah nanti kita makan siang bersama? Ada yang harus kubicarakan denganmu”

“ba…baiklah” ucapku lalu membungkuk dan keluar dari ruangan tersebut. Sebenarnya apa yang akan dibicarakan apa karena masalah aku telat datang? oh tuhan pasti aku akan dimarahi oleh luhan sunbae. Aku pun berjalan lunglai menuju ruanganku, saat kubuka pintu ruanganku ternyata didalam ruanganku sudah ada chanyeol yang sedang duduk manis di sofa ruanganku.

“annyeong hyemi-ah” ucap chanyeol sambil mengangkat tangan kanannya, dan ditambah dengan senyumannya yang memperlihatkan jejeran giginya teresebut.

“chanyeol-ah? Apa yang kau lakukan disini?” tanyaku heran. Aku pun segera berjalan mendekati saudara ku tersebut dan duduk tepat dihadapannya.

“sebenarnya aku kabur” ucap chanyeol dengan nanda berbisik padaku, dan cukup membuat mataku terbuka lebar karena kagetnya.

“mwo?!!!!!” teriakku saking kagetnya sedangkan orang yang sudah membuatku kaget seperti ini hanya tertawa puas dihadapanku.

“hahahaha tenang saja hyemi-ah, aku sebentar lagi tidak akan menjadi jurnalis lagi” ucapnya menengangkanku.

“tenang? Ya! Kau gila memangnya kau mau bekerja dimana lagi?” tanyaku.

“aku ingin mengejar cita-citaku menjadi seorang photographer” jelasnya padaku.

“jadi kau akan bekerja sebagai photographer  mulai sekarang?”

“hm” angguknya padaku. Aku pun hanya membalas mengangguk lalu berdiri dan berjalan menuju meja kerjaku. “kau tidak protes terhadap ucapanku?” tanyanya padaku yang sedang sibuk membaca beberapa dokumen yang belum selesai.

“kenapa harus protes? Itu kan cita-cita mu, aku tidak berhak menentukan cita-citamu dan jalanmu” jelasku tanpa mengalihkan pandangan ku dari kertas yang sedang kupegang.

“yap, itulah kenapa aku lebih suka bercerita padamu, dibandingkan dengan appa dan eomma” ucapnya. Tanpa menggubris ucapannya aku tetap berkonsentrasi pada dokumen yang harus kuselesaikan. Sedangkan chanyeol berjalan-jalan melihat-lihat ruanganku, yang kadang dipenuhi dengan komentarnya. Tapi tak satupun kutanggapi komentarnya.

TOK TOK

“masuklah” ucapku

“hyemi-ssi” ucap luhan sunbae padaku. Aku pun segera berdiri dan membungkuk pada luhan sunbae begitu juga chanyeol. “ah, sedang ada tamu maaf” ucap luhan sunbae yang berniat keluar dari ruanganku.

“ah, sunbae bukan ini saudaraku park chanyeol, hanya sedang berkunjung” jelasku.

“park chanyeol imnida” chanyeol pun membungkuk meperkenalkan dirinya.

“Oh Luhan imnida” luhan sunbae pun membalas memperkenalkan dirinya. “hyemi-ssi kutunggu dilobby bawah” jelasnya lalu keluar dari ruanganku.

“hyemi-ah, apa dia namjachingumu?” Tanya chanyeol dengan memperlihatkan ekspresi curiganya padaku.

“tentu saja bukan, dia atasanku” jelasku sambil membereskan meja yang masih berantakn oleh map dan kertas.

“oh, arraseo. Apa kau mau pergi dengan atasanmu itu?” tanyanya padaku.

“entahlah, memangnya ada apa?” tanyaku heran.

“yah, baru saja aku menikmati ruanganmu. Sekarang kau sudah harus pergi” keluhnya padaku.

“sebaiknya kau pulang saja” ucapku sambil berjalan menuju pintu berniat keluar dari ruangan. Tanpa perlu aku melihatnya chanyeol mengikutiku dari belakang yang sepertinya dia akan pulang.

“baiklah, aku pulang hyemi-ah berhati-hatilah nanti jika kau pulang. Tapi jika kau ingin aku menjemputmu telefon saja aku” ucapnya padaku.

“tenang saja aku bisa menjaga diriku sendiri chanyeolie” godaku sambil mencubit perut chanyeol yang sekarang berjalan sejajar denganku.

“ya! jangan panggil aku chanyeolie aku tidak suka” perotesnya, sedangkan aku hanya tertawa puas karena aku sangan hafal tentang kelemahannya. Kami pun berpisah chanyeol berjalan keluar dari gedung ini sedangkan aku mencari luhan sunbae.

“hyemi-ssi” terdengar suara dari arah belakang badanku yang ternyata luhan sunbae. Yang sekarang sedang berdiri dibelakangku dan tersenyum.

“sunbae? Kau mengagetkanku” ucapku dengan tangan memegang dada karena kaget.

“mian, ayo kita segera pergi ke cafeteria” ucap luhan lalu berjalan mendahuluki menuju cafeteria. Kami pun segera memilih tempat duduk untuk 2 orang setelah memesan makanan.

“ada apa sunbae? Apa yang ingin anda bicarakan?” ucapku sambil meminum yoghurt yang baru kubeli. Entah kenapa aku tidak merasakan rasa lapar sedikitpun, jadi kuputuskan untuk meminum yoghurt saja.

“begini, mulai lusa sampai kira-kira 3 bulan kedepan saya harus pergi ke China karena ada urusan mendadak disana. Saya sudah bilang pada beberapa staff.” Jelas luhan sunbae padaku.

“tapi sunbae siapa yang akan mengganti anda?” tanyaku.

“oh ya saya hampir lupa, adikku yang akan menggantikan posisiku nanti”

“adik? Sunbae memiliki adik?” tanyaku heran. Sejujurnya sungguh miris sekali aku sekertaris luhan sunbae tapi aku tidak mengenal keluarganya sama sekali.

“ne, aku memiliki seorang adik laki-laki. Mungkin besok dia akan kembali ke sini lagi karena ada beberapa yang harus kujelaskan dan akan kukenalkan padamu, karena mulai lusa kau akan menjadi sekertarisnya arra” jelas luhan sunbae panjang lebar. ‘kembali ? apa adik luhan sunbae pernah kemari?’ tanyaku dalam hati.

“baiklah” ucapku tegas. Setelah beberapa lama kami menyantap makan siang kami pun berjalan menuju ruangan masing-masing. Sesampainya diruanganku kulipatkan kedua tanganku diatas meja dan menundukan kepalaku, sejujurnya kepalaku sudah tidak bisa diajak kerja sama untuk melihat isi dokumen semua ini.

Tiba-tiba teringat dibenakku tentang perkataan ahjumma tadi pagi, aku pun segera membuka Koran harian hari ini untuk mencari tempat tinggal yang sekiranya bisa kutinggali, karena jika harus mencari satu persatu secara langsung itu tidak mungkin. Apalagi dengan statusku sebagai sekertaris itu sangat susah. Kutandai pada beberapa informasi mengenai rumah dan apartemen yang mungkin jika aku punya waktu akan ku kunjungin.

****

Jam menunjukkan pukul 17.00 KST yang artinya ini waktu untuk pulang, segera ku bereskan semua barang-barangku dan keluar dari ruanganku. ‘mungkin masih ada waktu untuk melihat apartemen sekitar sini sebentar’ ucapku dalam hati. Saat aku keluar dari ruanganku kulihat luhan sunbae juga keluar dari ruangannya yang tidak jauh dari ruanganku.

“hyemi-ssi kau akan pulang?” Tanya luhan sunbae padaku.

“ne” ucapku singkat. kami pun berjalan bersama hingga keluar dari gedung kantor.

“naiklah, biar kuantar kau pulang” ucap luhan sunbae padaku sambil menaiki mobilnya yang sekarang berada didepan ku.

“tidak usah sunbae, ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan” jelasku pada luhan sunbae yang sekarang sudah berada didalam mobil tepatnya pada jok kemudi.

“hm, baiklah kalau begitu hati-hatilah dan sampai bertemu besok hyemi-ssi”

“baiklah sunbae, gomawo” ucapku. Lalu kulihat mobil luhan sunbae pergi menjauh dari hadapanku dan sekarang aku harus mencari tempat tinggal didaerah ini. Aku pun berjalan dan tidak jauh dari gedung kantorku  menjulang gedung apartemen, aku pun segera masuk dan melihat-lihat apartemen tersebut.

Apartemen yang menurutku cukup jika aku hanya tinggal sendiri. Akhirnya kuputuskan untuk tinggal diapartemen ini dan jika ada hari libur mungkin akan kugunakan untuk memindahkan semua barang-barangku. Setelah memenuhi beberapa persyaratan dan mendapatkan kunci apartemen tersebut aku segera keluar dari apartemen tersebut dan beniat untuk pulang.

Tiba-tiba terdengar ponselku berdering dan kulihat nama yang tertera pada layar ponselku adalah kim jongdae

“wae?” ucapku saat mengangkat telefeon tersebut.

“kau ini tidak pernah berubah hyemi-ah” ucap jongdae dari jauh sana.

“berubah? Memangnya aku kenapa? Aku tetap sama seperti dulu setelah kau pergi, aku tetap sama” jelasku dengan nada ketus.

“itu sudah lama hyemi-ah, kenapa kau tidak pernah membuka hati lagi?”

“sudah aku sibuk annyeong” segera kututup sambungan telefonku dengan jongdae. Ya jongdae namja yang pernah mengisi hatiku cukup lama tapi karena satu alasan hubungan kami harus kandas, ya mungkin karena sifatku yang masih terlalu anak-anak juga salah satu faktornya.

***

“aku pulang” ucapku saat membuka pintu rumah dan herannya tidak terdengar suara ribut dari dalam rumah. ‘kemana orang rumah’ tanyaku dalam hati. Aku pun berkeliling rumah mencari chanyeol yang biasanya betah diam dirumah. Sesudah berkelilng rumah ini tetap tidak ditemukan siapa-siapa akhirnya kulangkahkan kakiku menuju kamarku dan tepat di depan kamarku ada note yang di temple di depan pintu ternyata dari chanyeol.

To : Hyemi

Aku mengantar appa dan eomma ke rumah Halmoni di Busan dan mungkin akan pulang besok jadi berhati-hati lah dirumah hyemi-ah

Park chanyeol

‘Aish benar saja ahjumma,ahjussi dan chanyeol pergi dan aku harus dirumah sendirian, sungguh menyedihkan’ keluhku dalam hati. Kuputuskan untuk segera masuk ke dalam dunia mimpi tapi ternyata itu tidak mudah karena sejak tadi ponselku terus berdering, yang bisa kutebak siapa lagi kalau bukan jongdae yang menelefonku.

Ponselku terus berdering yang akhirnya kuputuskan untuk mengangkatnya.

“ya! jongdae-ssi kuharap kau tidak menggangguku terus. Kau tidak lihat jam berapa ini?” ucapku dengan nada tinggi.

“ah, maaf hyemi-ssi saya menelefon selarut ini tapi ada yang perlu saya beritahu tentang dokumen untuk besok” ucap seseorang yang kupikir adalah jongdae ternyata itu salah, yang menelefonku adalah luhan sunbae.

“ah, sunbae maaf kupikir temanku yang menelefon maaf” ucapku dengan penuh penyesalan.

“tenang saja, baiklah besok kau serahkan dokumen yang harus kutanda tangani pada staff lain, karena besok kau harus memberitahu apa saja yang harus adikku kerjakan sebagai penggantiku arra”

“oh, begitu baiklah sunbae” akhirnya sambungan telefon antara aku dan luhan sunbae terputus. sungguh memalukan kenapa aku tidak memeriksa siapa yag menelefonku dan langsung memarahi saja.Kucoba menutup mataku dan masuk ke dalam alam mimpiku dan berdoa semoga besok menjadi hari yang baik untukku.

***

Pip pip pip pip pip

Alarm pagi ini memang ku pasang sebelum matahari memunculkan sinarnya untuk membangunkan setiap orang. Jam menunjukkan pukul 06.00 KST , rumah sudah kubersihkan, sarapan sudah siap dan aku sudah rapih dan siap untuk pergi. Setelah selesai sarapan aku pun segera keluar dari rumah untuk pergi ke kantor, tapi tiba-tiba muncul seseorang yang keluar dari mobil yang berada didepan rumahku.

“selamat pagi hyemi-ah” ucap namja tersebut yang tidak lain tidak bukan adalah jongdae.

“kau lagi” ucapku ketus dan berjalan melewati jongdae. Tapi belum sempat aku berjalan jauh jongdae sudah menarik tanganku dan membalikan tubuhku untuk melihatnya.

“kenapa kau tidak pernah mendengarkanku hyemi-ah?” ucap jongdae sambil memegang kedua bahuku, membuatku tidak bisa leluasa bergerak.

“untuk apa lagi hah! Aku sudah bosan mendengarmu dan aku mohon lepaskan!” ucapku sambil menatap lekat-lekat kedua mata jongdae.

“kau tidak pernah mengerti, aku melakukan semua ini untukmu!” ucap jongdae dengan nada yang cukup tinggi.

“untukku? Dengan cara kau pergi bersama yeoja lain? Dan kau bilang itu semua untukku? Cukup! Aku muak. Lepaskan!” dengan sekuat tenaga aku pun berhasil melepaskan lengan jongdae dari bahuku dan aku pun segera berlari menjauh darinya. aku pun berlari sekuat tenaga menuju halte tapi bisa kurasakan bahwa jongdae mengerjarku, tanpa berpikir lagi aku pun memberhentikan taksi dan segera masuk kedalam taksi tersebut.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai kantor menggunakan taksi berbeda sekali dengan menggunaan bus, ini pun karena terpaksa aku tidak ingin hari ini telat lagi. Apalagi telat karena mengobrol dengan orang yang tidak penting dalam hidupku yaitu jongdae. Aku berjalan ke arah ruangan ku dan berpaspasan dengan dengan min gi.

“mingi-ah” teriakku pada mingi yang akan masuk kedalam ruangannya dengan membawa secangkir air putih.

“ah, hyemi-ah kau tidak terlambat lagi” ucap mingi menggodaku dengan candaannya.

“tentu saja tidak, masa aku harus telat setiap hari. Oh ya apa luhan sunbae sudah datang?” tanyaku pada mingi.

“hm, tadi kalau tidak salah lihat sudah datang bersama seorang namja, yang katanya itu adiknya. Dan akan menggantikannya selama beliau ke China” jelas min gi padaku.

“oh begitu, baiklah aku harus buru-buru nanti kita berbincang-bincang lagi ne” aku pun bergegas bejalan menuju ruanganku, menaruh tasku dan segera menuju ruangan luhan sunbae.

Tok tok

“permisi” ucapku saat membuka pintu dan benar saja diruangan luhan sunbae ada seorang namja yang duduk tepat didepan meja luhan sunbae.

“hyemi-ssi masuklah” ucap luhan sunbae padaku. Aku pun berjalan mendekati luhan dan namja yang mungkin ini adalah adik luhan sunbae.

“sehun-ah kenalkan ini hyemi yang akan menjadi sekertarismu selama menggantikanku”

“ah, kau yang kemarin bertabrakan denganku kan?” ucap namja yang bernama sehun padaku. Cukup lama aku berdiam diri dan mengingat-ingat seseorang yang kutabrak kemarin.

“a..ne” ucap ku sambil menundukan kepala lalu kembali menatapnya.

“kalian pernah bertemu?” Tanya luhan sunbae pada kami berdua.

“hanya kecelakaan saja, kemarin aku menabraknya dan membuat semua dokumen-dokumen yang hyemi-ssi berserakan dimana-mana. Ah iya perkenalkan Oh sehun imnida”

“oh begitu” ucap luhan sunbae sambil mengangguk-angguk.

“ah, park Hyemi imnida” ucapku sambil membungkuk pada sehun.

“baiklah kalau begitu sehun-ah , hyemi akan menjelaskan semua dan bagaimana pekerjaanmu. Sekarang aku harus segera menyiapka untuk besok pergi ke Cina. Kuharap kau bisa melakukannya dengan baik sehun-ah”

“baik hyung, akan kulakukan yang terbaik”

“baiklah, hyemi-ssi tolong jelaskan semuanya pada sehun arra.”

“ne” luhan sunbae pun keluar, sedangkan aku mulai menjelaskan semua apa yang harus sehun lakukan. Jam sudah menunjukkan waktu makan siang aku pun memberhentikan menjelaskan pada sehun dan memberitahunya bahwa ini waktu makan siang.

“baiklah, sehun-ssi sepertinya ini sudah waktunya makan siang. Sebaiknya kita beristirahat dulu setelah itu kita kembali bekerja lagi” jelasku.

“oh, arraseo” aku pun berniat keluar dari ruangan tersebut tapi sehun memanggilku. “hyemi-ssi”

“ne? ada yang bisa saya bantu?” ucapku diambang pintu.

“sebaiknya kita makan siang bersama karena aku baru disini dan sambil mendiskusikan apa yang tadi kau jelaskan padaku. Bagaimana?”

“hm, baiklah” kami berdua pun berjalan bersama menuju  cafeteria dan memilih tempat duduk untuk berdua.

“hyemi-ssi” ucap sehun padaku.

“ne?” ucapku sambil menatap wajah sehun.

“aniyo” ucap sehun. Ada apa dengan namja ini aneh sekali tingkahnya. Tidak lama dari itu makanan yang kami pesan pun datang. dengan segera aku menyantap makan siang ku kali ini entah kenapa makan siang kali ini terasa sangat lezat, padahal makanan ini makanan yang biasa kupesan dan biasanya rasanya tidak selezat ini. Apa mungkin karena aku lelah dan sangat lapar makanan yang kumakan inin pun terasa lebih lezat.

Selesai makan siang aku dan sehun pun kembali keruangan dan kembali dengan dokumen-dokumen yang harus kami berdua selesaikan. Karena sehun masih membutuhkan bantuanku aku pun mengerjakan semua dokumen yang berada diruanganku ke ruangan luhan sunbae yang sekarang menjadi ruangan sehun.

“sehun-ssi ini semua dokumen yang harus kau tanda tangani” ucapku smbil menyerahkan dokumen tersebut sedangkan sehun hanya mengambil dokumen tersebut. Sehun memang terlihat berbeda jika ia sedang serius. Setelah kuserahkan dokumen tersebut aku pun keluar dari ruangan tersebut dan bertemu dengan min Gi di luar ruangan sehun.

“hyemi-ah ada apa dengan wajahmu kusut sekali” sindir Min Gi padaku yang sedang pusing karena dokumen-dokumen yang kukerjakan tadi, tapi untungnya sekarang semua dokumen sudah selesai aku bisa beristirahat sebentar.

“aku muak pada semua dokumen yang ku kerjakan hari ini” ucapku. Kami berdua pun berjalan menuju ruanganku.

“wajar saja kau ini sekertaris, sebaiknya sekarang kau istirahat saja” ucap Min Gi padaku. Min gi pun pergi keluar dari ruanganku, aku pun mencoba mengistirahatkan pikiranku sejenak samai akhirnya aku pun terlelap.

Aku pun membuka mataku dan sadar bahwa aku masih di kantor, segera ku lirik jam yang berada diatas mejaku jam menunjukkan pukul 16.30 KST. ‘astaga kenapa aku bisa terlelap begini’ ucapku dalam hati. Tidak lama dari itu aku sadar ada tumpukan map diatas meja ku, kubuka map tersebut ternyata ini dokumen yang tadi kuberi pada sehun dan semuanya sudah sehun tanda tangani, yang artinya ini akan menjadi tugasku lagi.

Kubereskan dokumen-dokumen tersebut sampai jam menunjukkan pukul 17.00 KST aku pun bersiap-siap untuk pulang dan sisanya dokumen ini akan kulanjutkan besok. Setelah semua selesai aku pun keluar dari ruanganku, karena tadi aku tidur siang kepalaku agak pusing dan membuatku harus berjalan berhati-hati. Saat aku keluar dari gedung kantor dan berniat untuk berjalan menuju halte tanpa aku sadari ada mobil yang hampir menabraku.

“Rara-ya” teriak seseorang lalu mendorongku ke samping jalan.

“s..sehun-ssi?” ucapku kaget. Ternyata sehun yang menyelamatkanku.

“rara-ya gwenchanayo??” ucap sehun lalu memeluku. Rara? Ada apa dengan sehun kenapa memanggilku rara? Memangnya siapa rara?.

“sehun-ssi maaf aku bukan rara, aku hyemi” ucapku dalam pelukan sehun.

“rara-ya gwenchanayo? Untunglah kau selamat” ucap sehun menariku agar bertatapan dengannya.

“s…sehun-ssi ini aku hyemi” ucapku menyadarkan sehun. Bisa kulihat ekspresi sehun berubah menjadi biasa sepertinya ia sudah sadar bahwa aku hyemi.

“ah, mian. Lain kali berhati-hatilah” sehun pun berbalik dan pergi dari hadapanku. Ada apa dengan sehun ekspresinya berubah drastis setelah mengetahui aku hyemi bukan rara. memangnya siapa rara? ‘ya! hyemi-ah untuk apa kau mencampuri urusan orang lain sadarlah’ ucapku dalam hati.

“gomawo sehun-ssi” teriakku pada sehun yang semakin menjauh dari hadapanku. Aku pun memegang jidatku masih terasa pusing sebaiknya sekarang aku harus berhati-hati sekali.

***

Sesampainya dirumah aku bertemu ahjumma yang sedang membereskan meja makan, aku memang melewati acara makan malam bersama keluarga chanyeol.

“aku pulang ahjumma” ucapku pada ahjumma. Ahjumma hanya melihatku lalu tersenyum dan tidak mengucapkan apa-apa. Aku pun segera berjalan menuju kamarku ‘sebaiknya aku harus secepatnya keluar dari sini, ahjumma terlihat berbeda padaku’ ucapku dalam hati. Aku pun segera mengemas beberapa barang mungkin besok aku harus izin pada sehun untuk pindahan.

Kuambil ponselku dan membuka kotak masuk dari luhan sunbae yang memberikan nomor ponsel sehun.

“Yeobeoseyo” ucap sehun.

“Yeobeoseyo sehun-ssi?”

“nuguya?”

“hyemi”

“ah, hyemi-ssi waeyo?”

“a…begini besok aku izin untuk telat datang karena ada hal yang harus kuselesaikan terlebih dahulu”

“oh, baiklah”

“gomawo sehun-ssi” sambungan telefon kami berdua pun terputus, aku pun segera mengemas semua barang yang ada dikamarku dengan rapih. Sampai akhirnya aku pun tidak tidur sama sekali. Tapi akhirnya semua barang dikamarku terkemas dengan baik dan siap untuk dibawa.

Aku pun meminta tolong min gi untuk menelefon beberapa pekerja untuk mengangkat barang-barangku dan membawanya ke apartemen ku. Setelah itu aku pun keluar dari kamar berniat untuk pamit kepada paman, bibi dan chanyeol. Dan untung saja semuanya sedang berkumpul diruang makan. Aku pun keluar membawa koper besar berisi baju-bajuku.

“h…hyemi-ah kau mau kemana?” ucap chanyeol heran padaku yang sedang mendorong koper besarku.

“pindah” ucapku dengan tersenyum.

“p…pindah? Wae? Kenapa kau tidak disni? Memangnya orang tuamu sudah kembali?” pertanyaan chanyeol bertubi-tubi padaku.

“sudah lah chanyeol-ah, itu semua keputusan hyemi” ucap ahjumma lalu menatapku.

“tapi eomma kenapa sejak SMA hyemi kan tinggal disini, kenapa sekarang kau pindah?” Tanya chanyeol padaku.

“aku hanya ingin mencoba hidup dengan kemampuanku sendiri chanyeol-ah” ucapku berbohong pada chanyeol. ‘mainhaeyo chanyeol-ah’

Flashback

“hyemi-ah kapan kau pindah?” Tanya ahjumma padaku

“sebenarnya aku sudah menemukn apartemen yang akan kutinggali hanya tinggal mengemas barang-barangku saja” jelasku pada ahjumma.

“oh kalau begitu segeralah dan satu hal lagi jangan bilang pada chanyeol bahwa aku yang menyuruh mu keluar dari rumah ini”

“hm, arraseo”

“baiklah, sekali lagi mianhaeyo hyemi-ah”

Flashback end

“tapi kenapa semendadak ini hyemi-ah, tidak biasanya kau selalu memutuskan dengan terburu-buru” ucap chanyeol.

TING TONG

“ah sepertinya orang yang akan mengangkut barang-barangku sudah datang, ahjumma,ahjussi,chanyeol-ah terimakasih telah merawatku selama ini. Aku pergi dulu” aku pun berjalan menuju pintu utama dan benar saja orang-orang yang akan membantu mengambil barang-barangku sudah datang, mereka pun mengambil barang-barangku dan memasukannya dalam truck box yang berhenti tepat didepan rumah. Saat semuanya sudah selesai aku pun berpamitan kembali pada paman, bibi dan chanyeol.

“Ahjumma, ahjussi, chanyeol-ah gomawo sudah merawatku selama ini maaf aku tidak membalas yang telah semua kalian berikan padaku” ucapku.

“tidak apa-apa berhati-hati lah hyemi-ah” ucap ahjussi padaku.

“hati-hatilah hyemi-ah, kami akan sangat merindukanmu” ucap ahjumma padaku.

“ada apa sebenarnya hyemi-ah? Kau ada masalah ? kenapa tidak kau ceritakan padaku, biar aku membantumu” ucap chanyeol padaku.

“tidak ada apa-apa chanyeol-ah ini semua keputusanku” ucapku sambil menepuk pundak chanyeol.

“tapi..” belum sempat chanyeol menyelesaikan kalimatnya. “gwenchanayo tenang saja arra, baiklah aku pergi annyeonghaseyo” ucapku lalu berjalan menuju halte, sedangkan truck box yang membawa barang-barangku sudah pergi terlebih dahulu.

Saat dalam perjalanan menuju apartemenku tiba-tiba ponselku berbunyi dan ternyata ada pesan masuk dari chanyeol.

From : park chanyeol

Ya! hyemi-ah ada apa denganmu aneh sekali. Ada apa denganmu?

‘mianhaeyo chanyeol-ah sebenarnya aku ingin sekali bercerita padamu tapi, itu semua tidak mungkin’ ucapku dalam hati. Akhirnya kumasukan lagi ponselku kedalam tas dan pesan dari chanyeol tidak kubalas sama sekali. Sesampainya dihalte dekat apartemen sekaligus kantorku, aku pun segera turun dan masuk kedalam gedung apartemen tersebut dan naik sampai lantai 10 gedung apartemen tersebut. Karena apartemenku ada dilantai 10.

“terimakasih atas kejasamanya ahjussi” ucapku pada petugas yang membantuku memasukan barang-barang ke dalam apartemen ku. Setelah semua petugas selesai dan sudah kembali semuanya sekarang saatnya merapihkan baju dan barang-barang yang lain.

Kriiing

“Yeobeoseyo sehun-ssi”

“ah, hyemi-ssi apa hari ini kau tidak akan datang ke kantor?”

“memangnya ada apa? sepertinya sebentar lagi saya akan kesana”

“oh begitu, ini dokumen yang kubutuhkan untuk presentasi sekarang ada yang hilang apa kau punya copyannya?”

“hilang? Baiklah sekarang saya ke kantor” kututup sambungan telefon dari sehun dan segera mengambil tas dan berlari menuju kantor. Untung saja apartemenku sekarang tidak jauh dari kantor berjalan kaki pun cukup. Aku pun harus sedikit berlari dengan menggunakan style yang cukup menyusahkan sepatu berhak cukup tinggi, rok span pendek, dan kemeja. Setelah sampai gedung kantor aku pun berlari menuju ruangan ku melihat dokumen yang sehun kemarin beri padaku dan untungnya aku memiliki copyannya.

Tok tok

“sehun-ssi apa dokumen ini yang kau cari?” ucapku sambil membawa map berwarna biru.

“biar kulihat” ucap sehun sambil membaca tiap lembar yang berada dalam map tersebut. “ya benar yang ini gomawo hyemi-ssi”

“ne” aku pun membungkuk dan berniat keluar dari ruangan tersebut.

“hyemi-ssi?” ucap sehun padaku

“wae?” tanyaku sambil berbalik melihat sehun.

“apa kau akan kembali pulang?” Tanya sehun.

“tentu saja tidak aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaanku” ucapku santai

“mian” ucap sehun

“mian? Untuk apa?” tanyaku heran.

“merepotkanmu”

“gwenchanayo, ini memang tugasku sebagai sekertaris. Sekarang fokuslah pada pekerjaanmu sehun-ssi” ucapku sambil tersenyum pada sehun lalu berbalik membuka pintu ruangan sehun.

“gomawo rara-ya” ucap sehun tanpa sadar.

“ne?” tanyaku heran. “maksudku hyemi-ssi” sela sehun

“baiklah jika butuh bantuanku, kau bisa memanggilku” aku pun segera keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menuju ruangan Min Gi. Saat aku tepat berada dekat ruangan Min Gi aku heran kenapa pintu ruangannya tidak tertutup dan tunggu sepertinya Min Gi sedang berbicara dengan seseorang. Aku pun mengintip dari pintu yang sedikit terbuka, kupikit Min Gi bersama seseorang ternyata Min Gi sedang menelefon seseorang. Aku pun mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam ruangan Min Gi saat aku akan berjalan menjauh dari ruangan tersebut, masih bisa terdengar suara Min Gi yang sedang mengobrol tersebut.

“luhan oppa kapan kau kembali dari China, Bogoshipoyo” ucap Min Gi pada seseorang yang sedang menelefonnya. Tunggu luhan oppa? Apa luhan sunbae dengan Min Gi ? akhirnya kuputuskan menyelidiki dengan siapa Min Gi berbicara

“aigoo oppa, ne aku sudah bertemu dengan adikmu. Mirip sekali denganmu oppa tapi kenapa dia terlihat lebih dingin daripada dirimu”

“ne oppa baiklah, cepatlah kembali dari China. Saranghae luhan oppa” terdengar Min Gi memutuskan sambungan telefonnya. Membuatku semakin berpikir keras apa Min Gi bersama luhan sunbae. Kuputuskan untuk masuk kedalam ruangan Min Gi.

Tok tok

“masuklah” ucap Min Gi.

“annyeong Min Gi-ah” ucapku sambil masuk kedalam ruangan Min Gi dan duduk pada sofa yang tersedia dalam ruangan tersebut.

“hyemi-ah, kupikir kau tidak akan masuk hari ini” ucap Min Gi yang berjalan menghampiriku dan duduk tepat disebelahku.

“haha mana mungkin aku tidak masuk, apalagi atasan kita ini masih baru dan masih butuh bantuanku seperti yang luhan sunbae bilang”ucap ku memancing Min Gi agar berbicara tentang luhan sunbae.

“oh, begitu arraseo” ucap Min Gi singkat. Ternyata Min Gi tidak terpancing oleh topik pembicaraanku. Sebaiknya aku to the point saja lagi pula Min Gi kan sahabatku apa salahnya saling berterus terang.

“Min Gi-ah ada yang ingin kutanyakan padamu” ucapku memulai

“waeyo hyemi-ah?”

“maaf tadi aku tidak sengaja mendengarkan pembicaraanmu yang sedang menelefon, dan aku mendengar nama luhan. Apa kau mempunyai hubungan khusus dengan luhan sunbae?” ucapku. Bisa kulihat ekspresi Min Gi berubah menjadi kaget saat kutanya tentang hubungannya dengan luhan sunbae. Kecurigaanku semakin besar saat aku melihat ekspresi Min Gi.

“hm.. gwenchanayo hyemi-ah, mianhae aku baru berterus terang padamu sekarang sebenarnya aku dan luhan sudah berpacaran” jelasnya yang sontak membuat mataku membulat selebar-lebarnya yang kubisa.

“m..mworago???” ucapku mulai gagap.

“iya aku dan luhan sudah berpacaran” jelas Min Gi. Astaga tuhan aku benar-benar shock mendengarkan luhan sunbae dan Min Gi sahabatku berpacaran.

“sej..sejak kapan?” tanyaku masih dengan ekspresi yang sama.

“belum lama ini” ucap Min Gi malu-malu padaku.

“astaga aku tidak percaya, tapi baiklah yang terpenting sahabatku ini bahagia” ucapku sambil tersenyum pada Min Gi. Saat aku dan Min Gi sedang mengobrol tiba-tiba telefon kantor ruangan Min Gi berbunyi, Min Gi pun segera berlari mengangkat telefonnya.

“yeobeoseyo?”

“ah, ne ada disini. Baiklah akan saya sampaikan” Min Gi pun menutup telefonny dan segera melihatku.

“hyemi-ah kau dipanggil oleh sehun” ucapnya. Aku pun hanya bisa menghela nafas panjang dan segera bangkit dan berjalan keluar dari ruangan Min Gi.

Tok tok

“apa anda memanggil saya sehun-ssi?”

“ne, ini sudah selesai terimakasih” ucapnya sambil menyerahkan map biru padaku.

“ne” ucapku lalu berbalik keluar dari ruangannya tersebut. Ku pikir ada sesuatu yang penting ternyata map ini. Baiklah hyemi semangat kerjakan semua pekerjaan nya hari ini agar besok kau tidak pusing.

***

3 jam berkutat dengan semua dokumen ini sungguh memuakan, tapi beruntungnya diriku karena semua ini bisa selesai dengan cepat. Sekarang waktunya pulang dan kembali membereskan barang-barangku yang masih berantakan di apartemen, tak bisa kubayangkan saat aku memasuki apartemen nanti pasti seperti kapal pecah. Aku pun berjalan keluar dari ruanganku dan kebetulan sekali aku bertemu Min Gi yang baru keluar dari ruangannya juga, aku pun berjalan mendekati Min Gi dan mengajaknya pulang bersama-sama.

“Min Gi-ah kau mau pulang?” tanyaku sambil berjalan mendekati Min Gi yang baru saja berbalik menghadaptku.

“ne, kau juga? Ayo kita kebawah bersama” ucap Min Gi padaku. Kami berdua pun berjalan bersama menuju lobby kantorku dan berpisah ketika keluar dari gedung kantor, karena Min Gi pulang menggunakan mobil yang dia bawa.

“hyemi-ah ayo, biar kuantarkan kau pulang” ucap Min Gi yang berjalan didepanku ke arah mobilnya.

“ah, tidak aku bisa sendiri” ucapku. Min Gi memang belum mengetahui tentang kepindahanku dan mungkin akan kuberi jika memang sudah waktunya.

“waeyo? Tidak usah sungkan hyemi-ah aku ini kan sahabatmu” ucap Min Gi memaksaku.

“hm, sebenarnya aku sudah pindah” ucapku.

“mwo? Pindah kemana? Kenapa kau tidak memberitahuku?” ucap Min Gi kaget.

“apartemen dekat sini, jika kau punya waktu kau bisa datang berkunjung hehe.” Ucapku santai.

“baiklah, ayo sekarang kita pergi ke apartemenmu” ucap Min Gi dengan semangatnya.

“mwo? Sekarang?”

“ne, kapan lagi”

“tapi, aku baru saja pindah dan belum membereskan apa-apa. kau bisa shock jika melihat keadaan apartemen ku sekarang”

“tidak apa-apa, biar kubantu. Kajja” aku pun ditarik masuk kedalam mobil Min Gi dan mobil pun berjalan menuju gedung apartemen yang tidak jauh dari kantorku. Kami pun segera turun dan berjalan menuju apartemenku di lantai 10.

“astaga ini benar-benar berantakan” ucap Min Gi shock setelah menlihat keadaan dalam apartemenku.

“kan sudah ku bilang ini masih berantakan” protesku.

“baiklah kubantu kau membereskannya” tanpa basa-basi kami berdua pun membereskan tiap sudut ruangan dan barang-barang yang kubawa dari rumah ahjumma. Apartemenku memang belum diisi oleh banyak barang besar karena sejak aku tinggal di rumah ahjumma, semua barang-barang yang kugunakan adalah barang-barang milik ahjumma. Jadi wajar saja apartemen ku sekarang masih terbilang kosong. Waktu makan malam pun tiba Min Gi yang masih setia berada dalam apartemenku pun membantuku membuat makan malam dan kami pun makan malam bersama.

“sebenarnya ada apa denganmu? Tiba-tiba memutuskan untuk pindah dari rumah paman dan bibimu?” Tanya Min Gi saat kami sedang makan malam bersama.

“tidak apa-apa, aku hanya ingin mencoba tinggal sediri dengan kemampuanku” ucapku santai sambil melahap makan malam kali ini.

“hm, baiklah jika itu keputusanmu. Tapi jika kau butuh bantuanku, kau harus segera menghubungiku arra?”

“ne, arraseo. Gomawo Min Gi-ah” kami berdua pun melanjutkan makan malam dengan topik lain, hingga jam menunjukkan pukul 20.00 KST.

“aish, sudah jam segini. Hyemi-ah aku harus pulang mianhae aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi” ucap Min Gi sambil membereskan barang-barangnya kedalam tas.

“gwenchanayo, seharusnya aku yang berterimakasih padamu. Kau membantuku membereskan semua barang-barangku ini”

“tenang saja, baiklah aku pulang ne. hati-hatilah ne” ucap Min Gi sambil membuka pintu apartemenku. Aku pun menghampirinya dan melambaikan tangannya. Setelah kulihat Min Gi pergi menjauh dari apartemenku, aku pun kembali masuk dan bersiap untuk tidur. Mengistirahatkan pikiranku dan badanku yang seharian ini sudah bekerja sama denganku.

***

‘oke, semuanya sudah selesai. Semoga hari ini menjadi hari baik untukku’ ucapku dalam hati sebelum memulai aktifitasku hari ini. Setelah selesai sarapan aku pun segera keluar dari apartemen ku untuk pergi berjalan ke kantor. Tapi ternyata hari ini tidak selancar yang kuharapkan saat aku turun dan berada di lobby apartemen, aku melihat jongdae sedang duduk dilobby apartemen. ‘aish, namja ini kenapa selalu membuntutiku’ protesku dalam hati. Aku pun berjalan dengan tergesa-gesa dan berharap jongdae tidak melihatku. Tapi semua itu sia-sia jongdae tetap melihatku.

“hyemi? Hyemi-ah” teriak jongdae yang lalu mengejarku. Aku pun mempercepat langkah kakiku, tapi itu semua sia-sia heels yang kupakai ini mempersulitku untuk berjalan, apalagi untuk berlari itu tidak mungkin. Tanpa menggubris panggilan jongdae aku tetap berjalan cepat tanpa melihat siapa yang berada didepanku, karena aku ingin memastikan apa jongdae mengejarku atau tidak. Sampai akhirnya aku menubruk seseorang.

BUUUUK

“Cwe song hamnida” ucapku lalu membungkuk pada orang yang kutubruk tanpa melihat siapa yang kutabrak.

“Kwen chan seumnida” ucap orang tersebut. Lalu aku pun mengangkat badanku yang awalnya membungkuk untuk melihat siapa yang kutabrak. “hyemi-ssi?” ucap sehun. Ternyata yang kutabrak adalah sehun.

“ah, sehun-ssi Cwe song hamnida” ucapku sekali lagi. Lalu aku pun berjalan menuju kantor tanpa melihat pada sehun lagi, karena jika aku berlama-lama disana bisa-bisa jongdae melihatku lagi. Setibanya diruang kantorku, tiba-tiba ponselku pun berbunyi yang ternyata dari jongdae.

Kriiiiing

“mwo?” ucapku singkat.

“kenapa kau melarikan diri dariku hyemi-ssi?” ucap jongdae padaku.

“astaga, berapa kali aku harus memberitahumu jongdae-ssi tolong jangan ganggu aku lagi” segera ku tutup telefon tersebut dan melempar ponselku ke atas meja dengan sembarang. aku pun teringat pada barang yang kusimpan di laci mejaku, barang yang cukup berharga untukku. Ya, sepasang cincin yang diberikan oleh jongdae untuk kami berdua. Dahulu kami memiliki janji bahwa suatu saat cincin ini akan mempersatukan kami berdua, tapi itu semua masa lalu dan tidak akan mungkin terjadi. Cincin yang tidak bisa ku buang dengan Cuma-Cuma. Semua kenanganku dengn jongdae semua ada disini. ‘apa sampai sekarang aku masih memiliki sedikit perasaan padamu jongdae-ssi’.

Tok tok

“ne, masuklah” ucapku. Dengan segera kumasukan kotak cincin tersebut kedalam laci mejaku.

“hyemi-ssi, ini tolong cek apa sudah benar” ternyata sehun datang membawa setumpuk map, yang tidak lain tugas baruku.

“baik” aku pun segera menghampirinya dan mengambil map tersebut.

“apa kau sedang tidak enak badan?” Tanya sehun padaku, aku pun hanya menggelengan kepalaku menandakan aku tidak apa-apa. “jangan paksakan dirimu” ucap sehun lalu keluar dari ruanganku. Dengan segera ku kerjaan tugas yang diberikan sehun padaku, yang sesekali membuatku pusing karena aku tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Aku pun memutuskan untuk keluar sekaligus mengambil air minum di pantry kantorku, saat melewati ruangan sehun aku sempat mengintip kegiatan sehun di dalam ruangannya. Cukup aneh apa yang sehun perhatikan, foto? Atau dokumen? Tapi kenapa wajahnya harus sesedih itu.

“mengintip itu tidak baik” ucap seseorang yang ada dibelakangku. Aku pun segera berbalik dan cukup mengagetkan ternyata chanyeol.

“chanyeol-ah kenapa kau ada disini?” ucapku heran, karena chanyeol menggunakan pakaian yang rapih sekali. Kemeja, jas, dasi? Jangan bilang bahwa chanyeol akan melamar kerja disini.

“kau tidak tau aku pegawai baru disini. Mohon kerja samanya” ucap chanyeol sambil tersenyum memperlihatkan jejeran giginya.

“mworago?kau bercanda kan?” ucapku masih tidak percaya.

“aku serius, lagi pula untuk apa aku berbohong padamu. Oh ya tolong minggi sebentar aku harus menyerahkan beberapa tugas yang telah kuselesaikan pada sehun-nim” ucap chanyeol dengan lagaknya.’kalau kau bukan sodaraku sudah kumakan kau detik ini juga’ rutukku dalam hati.

“ne” ucapku malas

“akan kuberitau apa yang kau lakukan pada atasanmu ini” ancam chanyeol padaku.

“ya! chanyeol-ah awas kalau kau macam-macam” aku pun segera pergi dari hadapan chanyeol menuju pantry, dan mengambil segelas air putih untuk menenangkan pikiranku. Setelah itu aku pun segera kembali keruanganku dan kembali mengerjakan semua tugas-tugasku.

Waktu makan siang pun tiba, aku pun segera keluar dari ruangan ku dan berjalan menuju cafeteria. Saat aku memilih makanan ternyata aku melihat sehun sedang makan sendirian, duduk dekat jendela mengarah keluar kantor. Setelah aku memilih makanan aku pun segera menghampiri sehun yang sepertinya sedang melamun.

“masih siang sudah melamun seperti ini, pak” ucapku memecahkan Susana, karena sehun tidak menyadari aku yang sudah duduk didepannya.

“rara” ucapnya lalu sadar adanya aku sehun pun segera membalikan wajahnya untuk melihatku “ah, maaf. Tunggu kau bilang tadi pak?” ucap sehun dengan nada yang cukup serius.

“maaf, maaf saya hanya bercanda dan untuk memecahkan suasana” ucapku sambil memakan makan siangku.

“oh” ucap sehun singkat lalu memalingkan pandanganya ke arah luar kantor seperti semula. Akhirnya aku merasa seperti makan siang sendirian walaupun didepanku sekarang ada sehun, anehnya lagi sehun tidak membawa makanan atau pun makanan jadi dia kesini hanya untuk duduk dan memandang keluar kantor seperti itu. Setelah selesai menghabiskan makan siangku, aku pun segera berdiri tanpa mau mengganggu sehun yang sejak tadi seperti itu.

“oh, sudah selesai rupanya” ucap sehun lalu berdiri berjalan mendahuluiku, aku pun hanya diam dan mengikuti sehun dari belakang. ‘apa yang terjadi pada sehun apa dia sedang tidak enak badan?’ tanyaku dalam hati. Setelah masuk kedalam ruanganku, aku berniat untuk memberikan beberapa dokumen baru atau tugas sehun yang baru.

Tok tok

Aku pun segera masuk yang ternyata sehun sedang tertunduk diatas meja kerjanya. ‘apa mungkin dia tertidur? Sebaiknya kutaruh dimejanya saja’ saat kutaruh dokumen yang kubawa kudengar sehun memanggil nama Rara berkali-kali.

“maaf sehun-ssi” ku gerak-gerakan tubuhnya berniat untuk membangunkannya. Saat kepalanya menghadap padaku kulihat muka sehun berkerigat. ‘apa yang terjadi padanya, apa sehun baik-baik saja?’ kutaruh tanganku pada keningnya dan benar saja badannya panas sekali. Tidak lama dari itu sehun sadar bahawa aku memegang keningnya, dengan cepat aku meminta maaf.

“Cwe song hamnida” ucapku sambil membungkuk.

“Kwen chan seumnida, ada apa?” Tanya sehun sambil tersenyum padaku.

“saya membawa beberapa tugas yang harus anda periksa sehun-ssi” jelasku pada sehun yang terlihat sedang memaksakan dirinya.

“oh, baiklah terimakasih hyemi-ssi” ucap sehun padaku. Sejujurnya aku tidak tega melihatnya memaksakan diri seperti ini.

“em, begini sehun-ssi maaf kalau saya lancang. Tapi sebaiknya anda beristirahat saja anda sedang tidak enak badan sepertinya” ucap ku sesopan mungkin bagaimana pun sehun atasanku.

“tidak apa-apa, saya baik-baik saja” ucap sehun sambil memegang keningnya.

“biar saya panggilkan staff untuk membantu anda pulang” ucapku dengan segera.

“tunggu hyemi-ssi tidak usah” teriak sehun. Tapi aku tidak mempedulikannya sama sekali, akhirnya sehun pulang bersama supir pribadinya.

***

Akhirnya waktu pulang kantor tiba, aku pun segera membereskan barang-barangku dan segera pulang dan aku baru sadar hari ini aku belum bertemu Min Gi kemana anak itu. Sesampainya di lobby apartemen aku cukup berhati-hati kalau-kalau aku bertemu jongdae lagi. Dan yang paling kucurigakan apa mungkin jongdae tinggal disini juga. Setelah melihat situasi aman aku pun segera masuk ke dalam lift dan sesampainya di lantai apartemenku, aku cukup kaget hingga membuat mataku terbuka selebar-lebarnya, karena ada  sehun tepat didepan pintu apartemen yang bersebelahan denganku.

“a..annyeonghaseyo sehun-ssi” ucapku kaget sambil berjalan menghampiri sehun yang akan masuk ke dalam apartemennya dengan style baju hangat tebal dan wajah yang sangat pucat.

“h..hyemi-ssi ada apa kau disini?” Tanya sehun dengan nada nyaris tidak terdengar olehku.

“oh, saya tinggal disini” ucapku masih heran.

“oh begitu” sehun pun membuka pintu apartemennya dan berniat untuk masuk. “baiklah kalau begitu aku masuk dulu, beristirahatlah hyemi-ssi” ucap sehun lalu masuk kedalam apartemennya, sedangkan aku hanya berdiri kaku ditempat karena heran. Aku pun segera masuk ke apartemenku dan menaruh barang-barangku di sofa ruang tv, sejujurnya apartemenku memang sudah memberi fasilitas yang lengkap jadi aku tidak perlu repot beli barang-barang lainnya. Yang sekarang ada dipikiranku bagaimana keadaan sehun sepertinya keadaannya semakin buruk tadi kulihat.

Aku pun berjalan menuju dapur dan membuat makan malam untukku dan entah apa yang membuatku berniat untuk membuatkan makanan untuk sehun. Setelah membuat makan malamku aku pun membuat bubur untuk sehun, siapa tahu sehun belum makan. Setelah selesai membuat makanan untuk sehun muncul rasa ragu memberikannya. Tapi dengan segera kuhilangkan rasa ragu tersebut dan berjalan keluar dan memencet bel apartemen sehun, tapi tidak jawaban ‘apa sehun baik-baik saja?’. Aku mencoba membuka pintu apartemen tersebut dan untungnya tidak dikunci, akhirnya kuberanikan diri untuk masuk dan segera mencari sehun. Kutaruh nampan berisi semangkuk bubur diatas meja makan dan mencari sehun, yang ternyata sehun ada dikamar tidurnya terbaring menggunakan selimut tebalnya.

Kuberanikan diri untuk menghampirinya dan kulihat sehun sangat pucat dan mukanya dipenuhi dengan keringat. Ku pegang keningnya dan benar panasnya naik dan tidak turun saat tadi sehun masih berada dikantor. Dengan segera aku mengambil sapu tangan dan mengompresnya. ‘sehun-ssi kasian sekali dirimu’ ucapku dalam hati. Tiba-tiba sehun menggenggam tangan kananku yang berada disamping badannya, bisa kurasakan tangan sehun yang panas akibat suhu tubuhnya sekarang ini.

“rara-ya” ucap sehun. Lagi-lagi sehun menyebut nama rara, siapa sebenarnya rara itu kenapa sehun selalu menyebutnya. “rara-ya mianhae, jebal” ucap sehun lagi sambil menggenggam tanganku dengan erat dan semakin erat.

“sehun-ssi, sehun-ssi” ucapku menyadarkan sehun, tapi semua itu percuma sehun tetap memanggil-manggil nama rara.

“arraseo ,sehun-ah gwenchanayo” ucapku reflex. Karena aku tidak tega melihat sehun terus memanggil-manggil nama rara yang tidak ku ketahui siapa itu rara. setelah aku berkata seperti itu sehun pun bisa tidur dengan tenang dengan tetap memegang tanganku. Jam menunjukkan pukul 00.00 KST tapi aku masih belum bisa tidur, kuputuskan untuk mengganti kompresan yang berada dikening sehun lalu aku pun keluar dari kamar sehun dan duduk diruang TV apartemennya.

***

“hyemi-ssi, hyemi-ssi” ucap seseorang yang membangunkanku. Aku pun membuka satu mataku menerawang siapa orang yang berani membangunkanku dari tidurku yang nyenyak. Saat aku melihat sebelahku ternyata seorang namja, aku pun berpikir sejenak mengumpulkan semua nyawa ku yang masih beredar dimana-mana. Setelah beberapa lama mengumpulkan nyawa aku sadar namja disebelahku ini adalah sehun. ‘astaga kenapa sehun bisa ada disini’ ucapku dalam hati. Aku tidak ingat bahwa tadi malam aku tertidur diapartemen sehun.

“ah, sehun-ssi Cwe song hamnida” ucapku. Aku pun langsung berdiri dan merapihkan rambutku yang sedikit berantakan.

“gwenchanayo, tidak usah seformal itu ini bukan di kantor. Oh ya satu lagi hyemi-ssi gomawo” ucap sehun yang sekarang berdiri dihadapanku.

“g…gomawo? Untuk apa?”

“semalam kau yang merawatku kan, sekali lagi gomawo. Oh ya bubur yang kau taruh diatas meja sudah kumakan sekali lagi gomawo” ucap sehun sambil tersenyum padak. DEG perasaan aneh muncul, perasaan apa ini. Perasaan yang pernah kurasakan pada jongdae, kenapa sekarang kurasakan saat berada disebelah sehun. “hyemi-ssi” sehun melambai-lambaikan tangannnya dihadapan wajahku, membuatku sadar dari lamunanku.

“a….ah, ne i…itulah gunanya tetangga” ucapku yang sedikit gagap. “oh ya kalau begitu aku pulang dulu” aku pun segera berlari keluar dari apartemen sehun dan segera masuk kedalam apartemenku, perasaan aneh yang tadi muncul masih belum hilang ada apa denganku dan kenapa pipiku juga terasa panas. Cinta? Jatuh cinta? Tidak mungkin, tidak mungkin. Aku segera berlari menuju kamar mandi, membersihkan badanku karena aku harus bersiap ke kantor.

Setelah semua beres dan semua sudah rapih aku pun membuka pintu apartemenku, yang ternyata sehun pun baru keluar dari apartemennya. Kami berdua secara bersama-sama keluar dari apartemen masing-masing, entah kenapa rasanya malu sekali menatap sehun yang akhirnya aku hanya bisa menunduk dan tidak melihat wajahnya. ‘kau tidak boleh begini hyemi-ah, ada apa denganmu bersikaplah normal’ ucapku dalam hati.

“pergi bersama?” ucap sehun padaku yang masih berdiri didepan pintu apartemen.

“ah, ne” aku pun berjalan mendekatinya. Kami pun berjalan bersama menuju kantor, yang sempat membuat orang-orang seisi kantor heran karena pagi ini aku datang bersama sehun. Saat aku berada di lobby kantor salah satu staff datang menghampiriku.

“hyemi-ssi ada yang mencarimu” ucapnya padaku.

“nugu?” tanyaku.

“saya kurang tau, tapi orang tersebut ada diruanganmu sekarang” ucap staff tersebut. Aku pun segera berjalan menuju ruanganku meninggalkan sehun, karena takut orang yang menjadi tamu ku itu adalah orang penting. Saat aku membuka pintu ruanganku betapa kagetnya yang kulihat adalah jongdae.

“selamat pagi Park Hyemi” ucap jongdae yang sedang duduk di sofa ruanganku.

“mau apa kau kesini” ucapku ketus. Aku pun berjalan menuju mejaku dan segera membuka dokumen-dokumen yang menjadi tugasku.

“menemuimu” ucapnya dengan ceria.

“aku sibuk” ucapku ketus dan tidak mempedulikannya sama sekali.

“baiklah kalau begitu kubuat kau tidak sibuk” tiba-tiba jongdae menghampiriku dan menarik tangan kananku hingga membuatku sekarang berdiri tepat dihadapannya.

“ya! sakit mau apa kau?” ucapku dengan nada tinggi. Jongdae hanya melemparkan senyumannya padaku lalu mendekatkan wajahnya padaku. Sedangkan aku dengan seger memalingkan wajahku, tapi itu semua tidak berhasil yang akhirnya

Chuu~ . tiba-tiba jongdae menciumku lalu menundukan kepalanya pada bahuku. Amarah timbul dalam dadaku sekarang ini, ‘apa maksudmu jongdae-ssi apa yang kau lakukan. Kau tega sekali’ ucapku dalam hati.

“mianhaeyo hyemi-ah aku tidak bermaksud apa-apa, aku terpaksa melakukan ini sekarang lihatlah aku hyemi-ah kumohon, lupakan masa lalu kita” jelasnya lalu mengangkat kepalanya dari bahuku hingga kami bertatapan sekarang ini. Aku hanya bisa berpandangan kosong pada jongdae sekarang ini.

PLAAAAK . tanganku yang reflex menapar pipi kanan jongdae,membuat pipinya menjadi berwarna merah. Hanya itu yang bisa kulakukan, aku pun segera keluar dari ruanganku berjalan menuju ruangan Min Gi yang ternyata kosong. Meninggalkan jongdae sendiri diruanganku, aku pun duduk disofa ruangan Min Gi dan tanpa sadar air mata turun dari kedua mataku. ‘kau benar-benar jahat jongdae’ ucapku dalam hati.

Seharian ini kuhabiskan diam didalam ruangan Min Gi dan tidak keluar sampai tibanya waktu pulang, aku tidak peduli jika harus dimarahi oleh sehun lagi. Aku pun keluar dari ruangan Min Gi dan berniat kembali ke ruangan ku untuk mengambil tasku yang masih ada disana.

“hyemi-ssi kau masih disini ternyata tadi atasanmu mencarimu dan tadi chanyeol-ssi juga mencarimu” Tanya salah seorang staff yang sedang lewat didepan ruangan Min Gi.

“ne, aku sejak tadi ada diruangan Min Gi-ssi”ucapku ditambah dengan senyumanku yang terpaksa.

“Min Gi-ssi? Bukannya dia sedang tidak ada?”

“iya memang sedang tidak ada, aku hanya ikut berdiam disana. Oh ya, kau tau kemana Min Gi?”

“setau saya Min Gi pergi ke Beijing, menyusul atasan kita yang kesana”

“luhan? Maksudmu luhan sunbae?”

“ne”

“oh, biklah kalau begitu terimakasih” aku pun segera melanjutkan berjalan menuju ruanganku, untung saja jongdae sudah tidak ada. Setelah mengambil tas aku pun mengambil beberapa dokumen yang mungkin bisa kukerjakan di apartemen nanti.

Aku pun berjalan pulang dengan lemas dan tidak bersemangat sama sekali, setelah kejadian yang jongdae lakukan membuatku terlihat seperti orang bodoh. Sesampainya di depan pintu apartemenku tiba-tiba ada tangan yang menepuk bahuku membuatku takut, aku pun segera berbalik yang ternyata itu sehun berada dibelakangku.

“m..maaf apa aku mengagetkanmu, maaf aku tidak bermaksud begitu. Aku ingin mengajak kau untuk makan malam bersama sebagai ucapan terimakasihku karena kemarin kau yang merawatku” ucap sehun panjang lebar. Tumben sekali namja ini berbicara panjang padaku tidak biasanya dan tumben sekali tidak menggunakan kata-kata formal seperti saat dikantor.

“ah, ne” ucapku singkat dengan nada yang tidak bersemangat sama sekali.

“apa kau sakit?” Tanya sehun ragu-ragu.

“ani” ucapku singkat dan memperlihatkan senyumku walaupun itu kupaksakan.

“baiklah kalau begitu sebaiknya kau ganti baju saja terlebih dahulu” ucap sehun lalu pergi masuk kedalam apartemennya, aku pun begitu segera masuk ke dalam apartemen dan segera mengganti bajuku lalu keluar. Memang tidak membutuhkan waktu lama apalagi disaat moodku tidak bagus seperti ini. Baru saja aku keluar dari apartemenku, sehun sudah menungguku didepan apartemennya dengan pakaian tebal dan syal yang menyelimuti lehernya. ‘apa yang akan terjadi dimusim dingin kali ini?’ tanyaku dalam hati

“sudah siap, kajja” sehun pun berjalan didepanku. Sesampainya dilobby sehun menyuruhku menunggu karena dia harus mengambil mobilnya, aku pun hanya menjawabnya dengan mengangguk. Kutunggu sehun didepan pintu masuk gedung apartemen udara dingin yang terus berhembus padaku membuatku memasukan kedua tangan ku kedalam saku mantel panjang yang kupakai. Tidak lama dari itu sehun pun datang dengan mobil sedan hitam miliknya dan berdiri tepat didepanku, lalu sehun menyuruhku untuk segera masuk. Aku pun masuk dan duduk tepat disebelah sehun yang sedang mengemudi.

“sebaiknya kita pilih maka malam dimana?” Tanya sehun padaku. Aneh sekali kenapa sehun cerewet sekali hari ini tidak biasanya apa atasanku ini sedang atau apa. aku hanya menatap sehun heran tanpa menjawab pertanyaannya. “baiklah kalau begitu bagaimana kalau makan ramyun di tempat favoritku?” Tanya sehun lagi padaku. Aku hanya mengangguk, tempat makan kali ini tepat di pinggiran jalan kota seoul, kedai ramyun yang sehun bilang ini adalah tempat favoritnya. Kami pun segera turun dan masuk ke dalam kedai tersebut.

“annyeonghaseyo ahjumma” ucap sehun pada ahjumma yang sedang membersihkan meja yang sepertinya ahjumma tersebut pemilik kedai ini.

“ah, sehunie kemana saja dirimu nak” ucap ahjumma tersebut sambil membelai rambut sehun tersebut. “kau sudah lama sekali tidak kesini, dan kau ini memang benar-benar awet bersama rara ne?” ucap ahjumma tersebut, tiba-tiba ekspresi wajah sehun berubah dari yang gembira menjadi sedih.

“ahj…ahjumma ini..” belum sempat sehun menyelesaikan kalimatnya ahjumma tersebut tiba-tiba memegang kedua pipiku.

“rara-ya kau masih tetap cantik ne.. oh ya ayo kalian duduk biar ahjumma buatkan seperti biasa kan” ucap ahjumma itu lalu pergi untuk membuatkan kami berdua makanan. Kenapa ahjumma itu memanggilku rara.

“mianhae hyemi-ssi” ucap sehun yang sekarang duduk dihadapanku.

“gwenchanayo sehun-ssi” ucapku sambil tersenyum. Awalnya aku ingin bertanya pada sehun tentang rara tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat, jadi mungkin lebih baik nanti saja.

“nah ini makanan favoritmu sehunie, rara-ya selamat menikmati” ahjumma tersebut datang membawa satu porsi panic berukuran sedang berisi ramyun. Aku sempat heran apa aku harus makan satu tempat seperti ini dengan sehun.

“gomawo ahjumma” ucap sehun sambil tersenyum. Lalu setelah ahjumma tersebut pergi, sehun menatapku “apa kau tidak keberatan hyemi-ssi?” tanyanya padaku.

“ah, ne gwenchana” ucapku sambil mengambil sumpit. Lalu kami pun makan ramyun tersebut dengan obrolan-obrolan kecil. Sekarang hubungan ku dengan sehun tidak seformal dulu yang hanya sebatas sekertaris dan atasannya. Sekarang aku dan sehun seperti seorang teman, kami tertawa, bercerita, bercanda bersama.

“baiklah sudah selesai, kajja” ucap sehun lalu berdiri. Aku pun ikut berdiri, sehun yang berjalan mendekati ahjumma yang sepertinya untuk membayar makanan yang kami pesan setelah itu sehun mendekatiku bersama dengan ahjumma tersebut.

“lain kali mampirlah kembali kesini sehunie, rara-ya dan aku senang sekali melihat kalian selalu bersama sejak dulu” ucap ahjumma tersebut lalu memegang kedua tanganku.

“baiklah ahjumma aku harus pergi, kajja” ucap sehun yang keluar dari kedai tersebut, sedangkan aku masih tertahan karena ahjumma memegang kedua tanganku.

“rara-ya jagalah sehun, dia sangat mencintaimu” ucap ahjumma tersebut lalu memegang pipiku. Aku hanya membalas dengan tersenyum kemudian aku keluar dari kedai tersebut dan masuk kedalam mobil sehun.

“terimakasih sehun-ssi” ucapku saat kami berdua berada didalam mobil.

“sama-sama. Hyemi-ssi?” ucap sehun padaku.

“ne?”

“bisa kau temaniku ke taman didekat sini sebentar?” tanyanya padaku.

“hm, baiklah” mobil pun melaju dengan cepat dan berhenti dekat taman yang tidak jauh dari apartemen kami. Sehun pun segera turun dan duduk pada bangku taman tersebut tanpa mementingkan udara yang sekarang ini menyelimuti kota seoul. Aku pun turut turun dari mobil dan duduk tepat disebelah sehun.

“maaf” ucap sehun sambil memandang langit malam ini.

“untuk?” tanyaku heran sambil menatapnya.

“masalah ahjumma tadi” jelasnya padaku.

“oh itu tenang saja aku mengerti” ucapku santai sambil mengosok-gosokan kedua tanganku yang kedinginan.

“rara itu yeojachinguku, kami sering pergi ke kedai tersebut sejak SMA” ucap sehun tanpa perlu kutanyakan “tapi semua itu tidak berlangsung lama, rara meninggal saat kami duduk dibangku universitas. Rara tertabrak mobil didepan kampusku dahulu dan sejak saat itu aku tidak pernah datang ke kedai tersebut, maka dari itu ahjumma seperti itu” jelas sehun lagi padaku dan penjelasannya tersebut menjawab pertanyaanku selama ini.

“wajah rara memang sangat mirip denganmu maka dari itu ahjumma menganggapmu sebagai rara” tambahnya lagi dan bisa kulihat mata sehun sudah berkaca-kaca yang membuatku tidak tega kalau harus melihatnya menangis.

UHUUUK! Karena udara dingin yang menusuk ini membuatku batuk yang membuat suasana antara aku dan sehun menjadi aneh. Sehun pun melepaskan syal yang ia gunakan dan memasangkannya dileherku  yag sekarang ini sudah dingin seperti es.

“maaf hyemi-ssi aku menceritakan hal seperti ini pada orang baru sepertimu maaf” ucap sehun sambil membenarkan syal yang berada dileherku sekarang.

“g…gwenchanayo itulah gunanya teman sehun-ssi” ucapku santai dengan nada ceria.

“teman?” ucap sehun heran sambil menatapku.

“iya teman sekarang ini kita teman dan itulah gunanya teman” ucapku.

“kalau begitu bisa aku memanggilmu hyemi-ah ?”

“tentu saja sehun-ssi”

“sehun saja itu cukup”

“ah.. s…sehun?”

“ya begitu, oke baiklah kita harus segera pulang sebelum mati membeku disni” canda sehun padaku. Tidak kusangka sehun bisa bercanda juga dari sikapnya yang dingin.

Sesampainya di depan pintu apartemen kulepaskan syal sehun yang masih membalut leherku dan mengembalikannya pada sehun.

“gomawo sehun-ah, tidurlah yang nyenyak” ucapku lalu aku masuk ke dalam apartemenku tanpa mendengar balasan dari sehun.

‘Jadi semua ini karena aku mirip rara, pantas saja sehun saat menyelamatkanku sebelum terserempet mobil memanggilku dengan rara. sepertinya rara memang begitu berarti untuk sehun. Tapi kenapa aku harus sesedih ini kenapa air mataku turun begitu saja, aku bukan siapa-siapa untuk sehun kenapa aku harus sedih.’

Aku pun berjalan menuju kamarku dan merebahkan tubuhku diatas kasur tanpa mengganti baju terlebih dahulu dan tiba-tiba wajah sehun terbesit dalam pikiranku yang membuatku sekarang harus mengeluarkan air mata lagi. Kuhapus air mata yang jatuh ke kedua pipiku dengan punggung tanganku dan menutup mataku mencoba masuk kedalam alam mimpiku. Melepaskan bebanku hari ini.

***

‘astaga aku terlambat jam berapa sekarang’ kulirik jam disebelah tempat tidurku ternyata sudah jam 08.30 KST. Ini benar-benar fatal aku sangat terlambat, aku segera berlari kesana kemari bersiap untuk ke kantor. Setelah semua beres aku segera keluar dari apartemenku dengan tas dan mantel yang belum kugunakan dengan benar. ‘pasti sehun akan memarahiku saat di kantor nanti. Hyemi-ah kau ini bodoh sekali kenapa bisa sampai terlambat’.

Sesampainya dikantor segera ku bereskan penampilanku yang sedikit berantakan karena aku harus berlari dari apartemen menuju kantor. Sesampainya diruangan ku kulihat dimejaku ada sebuah undangan berwarna abu-abu, ‘siapa yang akan menikah’ tanyaku dalam hati. Kubuka undangan tersebut dan sungguh mengejutkan undangan tersebut milik Min Gi dan luhan sunbae. ‘mereka akan menikah secepat ini kah?’ . segera kuambil ponselku yang berada didalam tas dan menelefon Min Gi.

“Yeobeoseyo” ucap Min Gi

“ya! Lee Min Gi kemana saja kau tidak ada kabar?” ucapku dengan nada cukup tinggi tapi tidak dengan nada emosi.

“hahah mianhae hyemi-ah aku tidak memberi kabar padamu, aku ada di Beijing ada sesuatu hal” ucapnya santai

“haha aku tau sesuatu hal yaitu persiapan pernikahan kan hahahaha”

“kau sudah tau? Kau sudah menerima undangannya?”

“tentu saja sudah, astaga Min Gi-ah secepat itukah kau akan menikah?”

“aku juga tidak menyangka akan secepat ini hyemi-ah”

“kau ini tega sekali tidak menungguku, jangankan menikah namjachingu pun aku tidak memiliki hahahah”

“tenang saja Min Gi-ah, aku yakin tidak lama lagi kau juga akan menikah”

“haha gomawoyo, oh ya apa ini benar-benar serius kau akan menyelenggarakannya di Beijing?”

“iya, luhan oppa bilang tugas nya disini masih belum selesai jadi kami selenggarakan disni”

“oh, arraseo”

“kau akan datangkan?”

“akan kuusahakan ne Min Gi-ah”

“baiklah, oh ya sepertinya kau tidak bisa lama bercerita denganmu masih harus ada yang kuselesaikan. Jika ada waktu aku akan menelefonmu hyemi-ah. Bye” setelah sambungan telefon terputus aku pun segera membereskan barang-barangku dan siap untuk bekerja.

Kriiing

“ne” ucapku setelah mengakat telefon kantorku yang berbunyi.

“hyemi-ah kemarilah” ucap sehun dengan santainya. ‘ada apa dengannya sepertinya semangat sekali’ ucapku. Aku pun segera datang ke ruangannya dan melihatnya sedang konsentrasi pada tugasnya.

“sehun-ssi ada yang bisa saya bantu” ucap ku seformal mungkin.

“sehun-ssi?” ucap sehun sambil melirik tajam padaku.

“maksudku sehun-ah” ucapku dengan segera, karena melihatnya dengan melirik tajam seperti itu membuatku cukup takut.

“baiklah, antar aku ke suatu tempat” ucapnya sambl menutup map dan segera berdiri lalu menarikku hingga masuk kedalam mobilnya.

“kita akan kemana? Pekerjaanku masih banyak”ucapku saat berada didalam mobil sehun.

“tenang saja hanya sebentar” sehun memang menjadi berbeda dan padaku tidak sedingin dulu, ada apa dengannya. Mobil melaju sampai pada sebuah butik yang berada di tengah kotak seoul. Sehun pun segera turun diikuti olehku. ‘untuk apa sehun kesini?’ ucapku dalam hati.

“baiklah, hyemi-ah tolong pilihkan gaun yang cocok kuhadiahkan untuk calon kakak iparku” ucap sehun. ‘kakak ipar’ aku memang sempar lost mind mendengar kata kakak ipar, dan baru sadar bahwa kakak ipar yang sehun maksud itu berarti kan Min Gi. “kau tau kan hyungku akan menikah?” Tanya sehun lagi setelah melihat aku sempat diam.

“ah, ne. ya aku tau”ucapku dengan cepat

“baiklah bantu aku memilihnya arra?” ucapnya. Lalu sehun pun berjalan-jalan ke bagian tuxedo untuk pria yang sepertinya sehun akan menghadiahkan tuxedo untuk kakak laki-lakinya tersebut. Aku pun berjalan melihat dress yang terpajang banyak dan kulihat satu persatu yang mana yang cocok untuk Min Gi.

Setelah satu jam aku bekeliling-keliling mencari dress, begitu pun dengan sehun kami pun mendapatkan yang kami sukai.

“sehun-ah ini sepertinya cocok untuk Min Gi” ucapku sambil membawa 2 buah dress yang satu berwarna putih dan yang satu berwarna biru langit.

“hm, dua-duanya?” Tanya sehun heran.

“ani, pilih saja salah satu dari kedua dress ini.” Ucapku santai.

“hm, baiklah yang putih itu saja” ucap sehun. Lalu sehun membawa kedua dress tersebut menuju tempat pembayaran. ‘katanya salah satu tapi dia bawa dua-duanya aneh’ protesku dalam hati. Daripada harus mempermasalahkan hal seperti itu lebih baik aku istirahat rasanya pegal sekali harus menggunakan sepatu setinggi ini. Tidak lama dari itu sehun pun datang dan segera mengajakku keluar dari butik tersebut.

“sudah selesai?” tanyaku padanya, sedangkan yang ditanya hanya memberikan senyum tanpa menjawab kami berdua pun keluar diikuti oleh satu orang staff butik yang membawa 3 kotak besar yang sepertinya berisi dress dan tuxedo yang kami pilih.

“sekarang kita kemana lagi? Ini bukan jalan menuju kantor”tanyaku pada sehun yang fokus pada jalanan.

“kita sudah melewatkan waktu makan siang, jadi ayo cari tempat makan daerah sini” ucap sehun sambil melihat kiri-kanan siapa tau ada tempat makan. “ah, itu dia ada café kita makan disana saja” ucap sehun lalu memarkirkan mobilnya tepat didepan café tersebut. Kami berdua pun segera turun dari mobil dan mencari tempat duduk untuk berdua.

“baiklah, rara-ya apa yang ingin kau pesan?” Tanya sehun dengan wajah yang begitu gembira. Sedangkan aku hanya melihatnya tidak berkomentar apa pun apalagi tentangnya yang memanggilku rara. “ah, maksudku hyemi-ah apa yang ingin kau pesan?”

Setelah kupilih beberapa menu pelayan pun segera mencatat apa yang kami berdua pesan. Hening yang sekarang menyelimuti kami berdua tidak ada topik perbincangan, yang akhirnya membuatku mulai bertanya terlebih dahulu.

“sehun-ah boleh aku tau tentang rara?” tanyaku ragu-ragu

“maksudmu?”

“iya boleh aku tau rara itu seperti apa?”

“ah, rara gadis biasa yang sangat peduli terhadapa orang lain, malah dia pernah peduli terhadap orang lain sampai lupa tentang dirinya sendiri. Gadis periang yang selalu menghiburku dan kau tau tidak hyemi-ah , rara pernah merawatku saat aku jatuh sakit sampai dia tidak sekolah dan dimarahi oleh guru. Lalu rara itu paling bisa menyebunyikan perasaanya, lalu….”

“sepertinya banyak sekali kenanganmu bersama rara ne sehun-ah?” tanyaku pada sehun

“bukan banyak lagi, dia telah memberi banyak kenangan padaku baik itu senang, sedih, tidak masuk akal, dan masih banyak lagi…… maka dari itu aku belum bisa melupakannya sampai detik ini” jelas sehun lalu menundukan kepalanya. DEG! Entah kenapa sepertinya dadaku terasa terpukul mendengar semua yang sehun ceritakan terutama saat sehun mengatakan ‘belum bisa melupakannya’ kenapa terasa sakit sekali. ‘Apa ini artinya aku mulai menyukai sehun?’ aku pun sempat melamun dan berkutat dengan pikiranku sendiri sampai aku tidak sadar bahwa pesanan yang kami pesan sudah datang.

“hyemi-ah apa kau baik-baik saja?” Tanya sehun padaku.

“ah, ne aku baik-baik saja” kami pun segera menyantap makanan yang telah tersedia dihadapan kami. Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 KST, kami pun segera membereskan barang-barang dan bersiap kembali ke kantor. Saat keluar dari café tersebut yang lebih mengagetkan aku bertemu dengan jongdae.

“hyemi-ah?” Tanya jongdae dengan wajah kaget. Aku tidak menjawab dan segera menuruni tangga café tersebut tapi tangan kananku ditahan olehnya.

“lepaskan!” ucapku sambil berusaha melepaskan tangan kananku yang ditahan olehnya. Tanpa perlu menggunakan tenaga ternyata sehun membantuku melepaskan tanganku yang digenggam oleh jongdae.

“maaf kami harus pergi” ucap sehun lalu menarikku untuk masuk kedalam mobil. “apa kau tidak apa-apa hyemi-ah?” Tanya sehun saat kami berdua sudah berada didalam mobil.

“hm, gwenchanayo” ucapku sambil memegang bekas genggaman jongdae yang masih berbekas ditangan kananku.

“kalau boleh aku tau, memangnya siapa namja itu?”

“bukan siapa-siapa hanya orang asing” ucapku singkat. Mobil pun melaju bukan ke arah kantor melainkan ke arah apartemen.”apa tidak apa-apa kita tidak kembali ke kantor?”

“tenang saja tidak apa-apa, lagi pula aku sudah mengizinkanmu” ucap sehun santai. aku pun hanya mengangguk menuruti perkataan sehun.

“gomawo sehun-ah ucapku sambil membuka pintu apartemen”

“ne, terimakasih juga kau sudah menemaniku. Tidurlah yang nyenyak” ucap sehun lalu masuk kedalam apartemennya.’apa perasannku terhadap sehun termasuk perasaan cinta?atau hanya sebatas perasaan kasian dengan masa lalunya?’ tanyaku dalam hati.

***

Hari sabtu bahagia rasanya untuk sementara aku tidak berkutat dengan setumpuk dokumen yang harus kuselesaikan. Aku pun bangun sepagi mungkin, membereskan barang-barang gar lebih tertata dengan rapih.

Ting tong

“ne, tunggu sebentar” teriakku dari dalam apartemen. Dengan segera aku berjalan menuju pintu masuk dan membuka pintu apartemenku. “s..sehun-ah? Ada apa?” tanyaku heran karena sekarang ini yang ada dihadapanku adalah sehun, atasan sekaligus teman baruku.

“i..ini aku hanya membawa kan ini untukmu” ucap sehun sambil menyerahkan nampan berisi roti dan segelas susu.

“he? Ini, untukku?” tanyaku heran sambil mengambil nampan tersebut.

“ne, i…itu tadi aku membuatnya terlalu banyak. Lagi pula saying sekali kalau harus dibuang” ucap sehun sedikit kaku.

“oh, baiklah terimakasih. Oh ya, masuklah tidak enak kalau harus mengobrol diluar seperti ini” ajakku pada sehun yang masih berdiri didepan pintu apartemenku.

“apa tidak apa-apa?” tanyanya.

“tenang saja, aku tinggal sendiri disini jadi kau tidak perlu sungkan. Lagi pula kau kan temanku juga” ucapku sambil masuk kedalam apartemen dan segera menaruh nampan tersebut diatas meja makan.”duduklah biar kubuatkan minum untukkmu” ucapku sambil membuat minuman untuk sehun.

“kau tinggal sendirian?” Tanya sehun sambil melihat-lihat isi apartemenku.

“ne, memangnya kenapa?” tanyaku heran dan berjalan menuju ruang TV, lalu menaruh minuman untuk sehun diatas meja kecil didepan TV.

“aniyo, hanya bertanya” sehun pun berjalan dan duduk tepat disebelahku. Aku pun segera menyalakan TV untuk mencari hiburan. Disaat aku dan sehun sedang asik menonton TV ponsel ku yang berada diatas meja makan pun berbunyi, dengan segera aku berdiri tapi karena aku terburu-buru aku tidak bisa menjaga keseimbanganku. Akhirnya aku pun terjatuh tepat diatas sehun. Kulihat sehun menatapku kaget karena aku tiba-tiba terjatuh menimpanya. Suasana menjadi aneh dan entah kenapa bukannya bangun aku tetap diam dengan posisi seperti itu, jarak wajahku dengan sehun sangat dekat.

“ah, maaf sehun-ah” ucapku lalu segera bangun dan mengangkat telefon yang ternyata dari Min Gi.“Yeobeoseyo Min Gi-ah ada apa?” ucapku saat mengangkat telefon. Tidak terdengar balasan suara dari Min Gi. “Min Gi-ah?” ucapku terus tapi tidak ada balasan, akhirnya kuputsan sambungan telefon dari Min Gi mungkin saja tidak sengaja tertekan oleh Min Gi.

“ada apa dengan Min Gi-ssi?” Tanya sehun saat aku berjalan mendekatinya untuk melanjutkan menonton TV.

“entahlah, sepertinya tidak sengaja tertekan nomor ponselku olehnya” ucapku. “oh ya aku ada beberapa cemilan tunggu sebentar ne” aku pun berjalan kea rah lemari es dan mencari beberapa cemilan. Kuambil satu piring puding yang sempat kubuat, dan beberapa buah-buahan. “ini cobalah buatanku” ucapku sambil menyerahkan piring berisi puding rasa coklat pada sehun, setelah itu aku pun kembali duduk disebelah sehun dan memakan buah apel yang kupegang. Kulihat sehun mengambil satu sendok dan segera memakan puding tersebut.

“enak” ucap sehun lalu menatapku dan tersenyum. Aku pun membalas senyuman sehun tersebut, DEG perasaan aneh itu muncul lagi setelah aku melihat senyum sehun itu padaku, aku pun segera memalingkan pandangan dan tidak melihat sehu lagi.

“ah ya hyemi-ah kau tau tidak, Rara itu tidak bisa memasak berbeda sekali denganmu walaupun wajah kalian mirp” ucap sehun yang sepertinya berniat memecahkan suasana.

“ohahahaha” aku pun hanya bisa tertawa terpaksa. ‘apa dalam pikiran sehun hanya ada rara? apa sehun tidak bisa menerima yeoja lain dihatinya. Kenapa yang sehun ceritakan hanya rara?’ ucapku dalam hati. Tiba-tiba ponsel sehun berbunyi dengan segera sehun mengangkat telefonnya dan menjauh dariku. Tidak lama setelah itu sehun pamit untuk pulang, aku pun mengantarnya hingga pintu masuk. Setelah sehun pulang aku berniat untuk kembali melanjutkan bermalas-malasan karena ini hari sabtu.

Saat aku akan menutup pintu apartemenku, tiba-tiba ada yang menahan pintu tersebut. Sempat terbesit dipikiranku apakah itu maling atau orang jahat.

“annyeong hyemi-ah” ucap seseorang dibalik pintu ternyata jongdae. Sempat kesal saat melihatnya muncul dibalik pintu tapi aku berusaha untuk tidak marah seperti biasanya, aku ingin mencoba menikmati hari-hari ku tanpa perlu marah-marah dan kesal. Aku pun membiarka pintu terbuka lebar dan melihat jongdae yang sekarang ada dihadapanku.

“ada apa?” ucapku sebiasa mungkin.

“ada yang ingin kubicarakan denganmu” ucap jongdae padaku.

“masuklah” ucapku lalu membalikan badanku berniat untuk masuk kedalam apartemen tapi jongdae menarik tanganku.

“sebaiknya kita pergi keluar saja, bagaimana?” Tanya jongdae padaku. Karena aku sudah malas ambl pusing ku iyakan tawaran jongdae dan membiarkannya menunggu didepan apartemenku. Aku pun segera masuk dan bersiap-siap untuk pergi tidak membutuhkan waktu lama aku segera keluar dengan style sesantai-santainya. Kami pun segera pergi menggunakan mobil jongdae dan mengarah pada pusat perbelanjaan terdekat. ‘untuk apa namja ini mengajakku kemari’ protesku dalam hati. Kami pun segera turun aku mengikuti kemana jongdae pergi tanpa protes sedikit pun. Kami masuk ke dalam toko baju, toko aksesoris semua toko kami masuki, bahkan kadang jongdae memintaku memakai baju yang dipilih olehnya. Aku pun hanya menurut, lalu setelah itu jongdae membeli baju tersebut tapi tidak diberikan padaku, mungkin untuk orang lain. Setelah berkeliling kurang lebih 4 jam disana, jongdae segera mencari tempat makan.

Setelah memilih tempat makan yang cukup nyaman kami pun duduk lalu jongdae memilihkan makanan untukku tanpa bertanya padaku terlebih dahulu, jongdae memang sudah hafal bagaimana seleraku. Apa yang kusuka, apa yang aku tidak suka. Jadi wajar saja dia yang memilih semuanya. Kalau saja dulu tidak ada kejadian yang merusak hubunganku dengan jongdae pasti sekarang aku sudah bahagia dan mengukir banyak kenangan indah dengannya. Setelah memesan makanan tiba-tiba ponselku berbunyi, ternyata ada pesan masuk yaitu dari sehun.

From : Oh sehun

Hyemi-ah kau tidak ada diapartemenmu? Kau dimana?

Reply : mian sehun-ah aku sedang ada diluar. Ada perlu apa?

From : Oh sehun

Aku perlu bantuanmu. Tapi kalau kau sedang diluar baiklah. Hubungi aku jika kau sudah diapartemen arrra?

Reply : ne, arrseo

‘perlu bantuan? Bantuan apa yang sheun butuhkan dariku’ ucapku dari dalam hati.

“hyemi-ah, ada apa?” Tanya jongdae padaku.

“tidak, tidak apa-apa. oh ya, apa yang ingin kau bicarakan padaku?”

“mianhae, sekali lagi aku minta maaf padaku aku tidak akan pernah tenang sampai kau memaafkanku hyemi-ah. Aku singguh-sungguh menyesal” ucapnya. Aku pun hanya mengehela nafas sudah bosan aku mendengarnya meminta maaf seperti ini.

“hm, baiklah jongdae-ssi aku sudah memaafkanmu. Dan cukup tolong tidak usah mengerjarku seperti ini lagi, aku sudah memafkanmu. Jika kau terus mengejarku seperti ini kau membuatku akan membencimu” jelasku sambil meminum air putih yang ada diatas meja.

“aku melakukan ini karena aku menyesal hyemi-ah aku, aku benar-benar menyesal” ucapnya sambil menunduk dan terlihat sekali dari ekspresinya, jongdae sangat menyesal.

“hm, baiklah lebih baik sekarang kita berteman jongdae-ssi. Kau tidak perlu menyesal lagi semua sudah terjadi dan mulai sekarang mari perbaiki hubungan kita layaknya seorang teman, bagaimana?” ucapku sambil tersenyum dengan tulus pada jongdae yang ada dihadapanku. Aku memang tidak bisa seperti ini terus, aku harus berubah. Tidak mungkin aku harus selalu dendam pada jongdae dan lagi pula apa salahnya berteman dengannya.

“b…baiklah kalau begitu hyemi-ah mari kita berteman dan jangan seperti kemarin kita seperti musuh” ucap jongdae padaku.

“baiklah” makanan yang kami pesan pun datang dan kami pun dengn segera menyantapnya.

***

“gomawo jongdae-ssi” ucapku pada jongdae saat kami sampai di lobby apartemen.

“kenapa kau seformal itu padaku, panggil aku biasa saja” protes jongdae. Aku hanya mengangguk mengerti. “oh ya ini hadiah untukmu” jongdae meberikan semua barang belanjaan yang ia beli seperti baju yang sempat kucoba dan beberapa aksesoris juga.

“tidak usah, sekali lagi terimakasih” ucapku sambil menolak yang akan jongdae beri.

“ini hadiah sebagai pertemanan kita, arra” jongdae pun menarik tanganku untuk mengambil barang belanjaan tersebut dan berlalu pergi. ‘aish, dasar namja aneh’ ucapku dalam hati. Aku pun segera berjalan menuju apartemenku. Saat aku akan membuka pintu apartemenku, sehun pun keluar dari  apartemennya dan  langsung meilhatku.

“ah hyemi-ah kebetulan sekali, darimana saja kau?” Tanya sehun padaku.

“hanya berjalan-jalan sebentar” ucapku lalu membuka pintu apartemen dan segera masuk diikuti oleh sehun.

“kau perlu bantuan ku apa sehun-ah?” tanyaku pada sehun yang sekarang duduk diruang TV apartemenku.

“hm, kajja kau ikut denganku”sehun menarik tanganku keluar dari apartemen dan memasuki mobilnya yang entah akan melaju kemana. Mobil pun berhenti di taman yang pernah aku dan sehun kunjungi waktu itu. Kami berdua pun segera turun dan duduk tepat pada tempat yang sama waktu itu.

“apa yang perlu kubantu sehun-ah?” aku pun bertanya pada sehun yang sekarang duduk disebelahku dan memandangi lagi.

“mainhae rara-ya” ucap sehun yang memandang langit, lalu menatapku dan berdiri lalu berlutut didepanku.

“a..ada apa ini sehun-ah?” tanyaku aneh pada sehun hari ini.

“hyemi-ah bagaimana jika aku menyukaimu?” Tanya sehun yang sontak membuatku kaget dengan ucapannya “mungkin menurutmu ini terlalu cepat, apalagi ditambah dengan rara yang selalu ada dipikiranku. Tapi maukah kau membantuku untuk membuka hatiku untuk orang lain hyemi-ah” aku hanya terdiam kaku kaget dengan semua pernyataan sehun, apa yang harus kujawab sekarang pun aku tidak tau.

“hyemi-ah mau kah kau membantuku?” Tanya sehun sekali lagi.

“tapi… tapi kenapa kau memilihku untuk membantumu sehun-ah?”

“karena aku nyaman berada didekatmu hyemi-ah” ucap sehun. Hening selama beberapa saat aku memikirkan apa yang harus kujawab, jika ditanya apakah aku suka pada sehun. Aku pasti akan menjawab ya aku suka, tapi jika ditanya apa itu rasa cinta aku tidak bisa menjawabnya. Aku tidak tau apa perasannku terhadap sehun ini rasa suka atau rasa cinta.

“hyemi-ah?” ucap sehun membuyarkan lamunanku.

“hm, b….baiklah akan kucoba membantu mu sehun-ah” ucapku dengan nada yang masih ragu-ragu.

“gomawo hyemi-ah” ucap sehun dan langsung memelukku.

“chonmaneyo sehun-ah” ucapku sambil membalas pelukan sehun, yang sejujuran aku belum mengerti arti pelukan ini sendri apa ini cinta?

“baiklah ayo kita pergi jalan-jalan, bagaimana?”Tanya sehun padaku.

“baiklah” kami pun segera masuk ke dalam mobil dan mobil pun melaju. “kita akan kemana?” tanyaku pada sehun yang masih fokus pada jalanan.

“suatu tempat yang tidak akan kau percaya” ucap sehun lalu tersenyum padaku. Mobil pun berhenti dipinggir jalan dan kami berdua pun turun. Yang masih membuatku heran tidak ada restoran atau kedai disini hanya sipenuhi dengan pedagang makanan kecil disetiap pinggir jalan.

“kajja” ucap sehun. Lalu kami berdua pun turun dan berjalan melihat jajanan kecil khas negeri ginseng ini. Yang kadang kami beli lalu memakannya sambil berjalan tapi sejujurnya itu sangat menyenangkan entah kenapa perasaan ini muncul yang sudah lama tidak pernah kurasakan.

“aish, kau ini mirip sekali dengan rara makan tidak rapih” ucap sehun sambil membersihkan makanan disudut bibirku. Aku  masih memalumi kalau sehun masih mengingat rara kami baru saja memulai, jadi wajar saja.

“biar saja wlee” ucapku sambil melanjutkan makan, makanan yang sedang kupegang. Kami pun kembali berjalan. Tiba-tiba sehun berhenti pada pedagang yang menjual aksesoris seperti gelang, bondu dll. “ada apa sehun-ah” tanyaku lalu menghampirinya yang sedang memilih bondu.

“kau ingin memakai bondu sehun-ah? Hahaha” ucapku menjahilinya lalu memilih bondu dengan asal dan memakaikannya pada sehun. “astaga, neomu yeppeo” ucapku sambil sedikit tertawa geli.

“ya! hyemi-ah kau ini” sehun pun melepas bondu yang berada dikepalanya. Lalu ia kembali serius memilih bondu dan memakaikannya padaku.

“ini lebih bagus, neomu yeppeo” ucap sehun lalu tersenyum dan langsung membayarnya. Kami pun terus berjalan-jalan hingga ujung jalan tersebut. “sudah habis, sebaiknya kita kembali sekarang” ucap sehun lalu menarik tanganku untuk lebih dekat dengannya, tapi karena sehun terlalu keras menarikku aku pun tersandung.

“gwechanayo rara-ya?” Tanya sehun sambil menatapku dengan tatapan khawatir. ‘rara lagi?’ tanyaku dalam hati.

“ne, gwenchana. Kajja” ucapku lalu tersenyum. Kami pun kembali ke apartemen, sesampanya di apartemenku. Aku segera mengganti baju dan membereskan barang-barangku, kulihat bondu yang sehun beri tadi padaku. ‘apa kau memberi bondu ini untuk hyemi atau untuk rara, sehun-ah?’ tanyaku.

***

Ting tong … ting tong

“hyemi-ah kajja cepatlah bangun” teriak seseorang dari luar apartemenku, siapa lagi kalau bukan sehun. Aku pun segera bangun dengan malas dan membuka pintu apartemen dengan wajah yang masih kusut karena bangun tidur.”astaga kau ini benar-benar masih tidur, kajja bangun kita pergi” ajak sehun dengan penampilan yang sudah sangat rapih.

“pergi? Lagi? Eodiga?”tanyaku

“hari ini kan hari minggu, ayo kita jalan-jalan” ajak sehun dengan semangtnya,

“astaga sehun-ah ini masih terlalu pagi dan kemarin kan kita sudah berjalan-jalan” protesanku

“sudahlah cepatlah kau mandi dan bersiap-siap” sehun mendorongku masuk ke dalam kamar mandi untuk segera mandi. Mau tidak mau aku langsung mandi dan segera bersiap-siap. Setelah siap ponsel ku tiba-tiba berbunyi.

“Yeobeoseyo?” ucapku karena nomor yang tertera pada ponselku ini tidak ku ketahui milik siapa.

“hyemi-ah, apa kau baik-baik saja nak? Bagaimana keadaanmu sekarang?” suara dari jauh sana terdengar tidak asing lagi untukku.

“eomma?” ucapku untuk memastikan.

“ne? ada apa sayang?” ucap eomma.

“aku baik-baik saja eomma, bagaimana eomma sendiri. Aku merindukanmu eomma” ucapku dengan cepat.

“eomma juga sangat merindukanmu hyemi-ah, susah sekali untuk menghubungimu nak. Dan kata paman dan bibimu kau keluar dari rumah paman dan bibi?ada apa?” Tanya eomma padaku.

“hm, ne aku hanya ingin mencoba tinggal sendiri eomma” ucapku.

“oh begitu, appa dan eomma sudah memutuskan untuk membawamu ke new York” ucap eomma yang sontak membuatku kaget.

“new York? Aku sudah nyaman disini eomma, lagi pula aku bisa menjaga diriku eomma” ucapku

“eomma tau, lagi pula disini eomma membutuhkan mu kau mengerti kan?”

“tapi…”

“eomma harap kau tidak menolaknya”

“baiklah” ucapku dengan nada tidak bersemangat.

“eomma akan mengurus semua tiket mu kesini, ne?”

“tidak usah eomma biar aku urus sendiri, lagi pula aku juga harus mengurus surat pengunduran diriku dikantor”

“baiklah kalau begitu hubungi eomma kalau kau membutuhkan sesuatu arra?”

“ne, eomma arrseo”

“eomma harap kau secepatnya datang kesini nak” sambungan telefon eomma pun terputus dan sekarang masalahku bertambah apa yang harus kulakukan aku tidak bisa menolak permintaan eomma.

“hyemi-ah kau belum selesai” teriak sehun dari luar kamarku.

“aku sudah selesai, sebentar lagi aku keluar” teriakku. Aku pun segera mengambil tas kecil untuk berpergian dan segera keluar dari dalam kamar.

“lama sekali ada apa denganmu ?” Tanya sehun padaku.

“tidak ada apa-apa. kajja” ucapku. Lalu kami pun keluar dari apartemen dan pergi berjalan-jalan ke namsan tower, salah satu tempat wisata yang cukup terkenal di seoul. Kami pun menulis nama kami berdua dalam gembok dan menulis apa harapan kami. Setelah itu kami berjalan-jalan ke kedai ramyun yang waktu itu sehun dan aku kunjungi, lalu tempat terakhir adalah han river. Kami berdiam di han river cukup lama sampai matahari tidak menampakan lagi sinarnya yang mengartikan ini sudah malam.

“ini menyenangkan sekali rara-ya, lain kali kita kemari lagi ne” ucap sehun padaku

“ne, sehun-ah aku senang kalau kau senang” kami pun segera bersiap untuk pulang, karena jika sampai semakin larut bisa-bisa besok kami akan terlambar ke kantor.

***

Sudah 3 minggu hubunganku dengan sehun berjalan, dan tidak ada perubahan yang sehun perlihatkan. Dia masih tetap kadang memanggilku rara walaupun aku sudah melakukan hal yang biasa ku lakukan dan rara tidak lakukan. Sepertinya sehun memang tidak akan pernah bisa melupakan rara, tapi jika hubungan ini terus berlanjut aku akan menyukai sehun dan tidak bisa melepaskannya. Perasaan suka ku pada sehun sudah berubah dalam seminggu ini, sehun yang merubahnya dia telah merubah hidupku saat aku menjadi yeojachingunya.

Paspor ku untuk pergi ke new York sudah selesai, surat pengunduran diriku juga sudah selesai hanya tinggal kuberikan pada sehun. Hanya saja apa aku bisa pergi meninggalkan sehun dengan perasaanku yang semakin menyayanginya.

Kringgg

“ne eomma?”

“kapan kau berangkat hyemi-ah?”

“entah eomma tapi akan kukabari nanti, ada persoalan yang harus kubereskan terlebih dahulu”

“baiklah terus kabari eomma ne”

“ne eomma”

Mungkin sebaiknya kuakhiri saja hubunganku dengan sehun, jika seperti ini akan membuatku tersiksa apalagi sehun yang tidak akan memberikan ruang dihatinya untukku. Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 KST tapi aku belum pergi ke kantor karena aku berniat menyerakan surat pengunduran diriku sekarang.

From : Oh sehun

Hyemi-ah kenapa kau belum pergi ke kantor? Apa kau masih tidur? Cepat lah bangun chagiya <3

Setelah membaca pesan dari sehun, aku pun segera pergi berjalan menuju kantor dengan membawa surat pengunduran diri. Sesampainya di kantor aku segera menyerahkan surat tersebut pada staff yang bersangkutan dan segera membereskan barang-barang diruanganku, lalu sudah terdengar yang akan menggantikan posisiku adalah chanyeol. Syukurlah chanyeol yang akan menggantikan posisiku. Setelah selesai mengemas baran-barang aku segera keluar dari kantor tanpa menemui sehun terlebih dahulu.

Aku pun segera kembali ke apartemen dan menaruh barang-barang dari kantor yang kubawa, lalu aku pun segera pergi untuk membeli tiket pesawat menuju new York. Sesampainya di tempat pemesanan tiket aku bertemu jongdae yang ternyata akan pergi liburan ke luar negeri juga.

“jongdae-ssi” sapaku pada jongdae.

“h..hyemi-ah kau disini? Kau akan pergi liburan?” Tanya jongdae padaku

“ah iya” ucapku berbohong. Aku pun segera memesan tiket tersebut dan saat aku akan pulang ternyata jongdae masih menungguku di ruang tunggu. “kau masih disni?” ucapku.

“ne, kau liburan kemana?” Tanya jongdae sambil berjalan keluar denganku.

“new York, kau sendiri?” tanyaku

“China” ucapnya

“sebenarnya aku tidak akan liburan, aku akan pindah ke new York” jelasku lalu aku pun berjalan meninggalkan jongdae yang masih berdiam dibelakangku.

“p…pindah?” teriak jongdae lalu berlari menghampiriku dan menariku masuk ke dalam mobilnya.

“ya! kita mau kemana?” ucapku. Jongdae tidak menggubris pertanyaanku sama sekali dia tetap fokus pada jalanan dan kami pun berhenti didepan café yang biasa kami kunjungi waktu kami masih bersama. Jongdae pun segera turun dan masuk kedalam café tersebut diikuti olehku.

“apa benar kau pindah ke new York ?ada apa? apa kau punya masalah disini?” Tanya jongdae bertubi-tubi padaku.

“ne, aku hanya bosan tinggal diseoul” ucapku singkat

“bohong, pasti ada sesuatu. Aku mengenalimu hyemi-ah kau tidak bisa berbohong padaku” aku pun hanya tertunduk dihadapan jongdae dan tidan berbicara. “ada apa hyemi-ah?”

“aku hanya diminta kedua orangtuaku untuk membantu mereka disana” jelasku dengan nada lemas.

“tapi sebenarnya kau tidak ingin meninggalkan seoul kan?”

“mwo? Hm…”

“kau tidak meninggalkan namja yang selama ini bersama mu kan?” tanyanya lagi padaku, jongdae memang sering sekali bertemu denganku dan sehun. Dan sudah mengetahui hubunganku dengan sehun.

“hm” ucapku sambil mengaduk-aduk cappuccino yang kupesan.

“aku tidak bisa ikut campur kalau tentang itu semua, kau yang bisa menyelesaikannya. Semua keputusan ada ditanganmu. Pilihlah yang menurutmu itu akan baik untukmu dan dia”ucap jongdae. Aku pun hanya diam. Kami pun segera menikmati makanan yang kami pesan tanpa berbicara satu sama lain. Setelah selesai makan jongdae pun mengantarku kembali ke apartemen, saat aku akan turun jongdae menahan tanganku.

“kapan kau akan berangkat?” tanyanya padaku.

“lusa” ucapku lalu keluar dari mobil tersebut dan segera masuk kedalam lobby apartemen. Sesampainya di apartemen ku jatuhkan tubuhku diatas sofa ruang TV. Tiba-tiba mataku melihat kartu undangan yang berada diatas TV, ya kartu undangan luhan sunbae dan Min Gi yang akan dilaksanakan minggu depan. ‘bagaimana ini aku tidak mungkin bisa datang ke acara itu?’

Ting tong

“hyemi-ah kemana saja kau kenapa tidak masuk tadi?” ucap sehun yang langsung masuk kedalam apartemenku.

“mianhae, ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan” ucapku sambil berjalan menyusul sehun yang sudah duduk diruang TV.

“ada apa denganmu?” tanyanya sekali lagi, sedangkan aku hanya diam dan tidak menjawab.”apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?” Tanya sehun dengan tatapan serius padaku. Aku pun segera merubah topik pembicaraan agar sehun tidak bertanya aneh-aneh padaku.

“oh ya, sehun-ah bisakah besok kau mengantarku ke suatu tempat?” pintaku pada sehun yang masih menatapku heran.

“eodiga?” Tanya sehun.”tapi tunggu, kalau besok kau tidak akan masuk lagi?”

“sekali saja, aku ingin membeli hadiah untuk pernikahan Min Gi. Bisakah?”

“hm, aku tidak tahu. Tapi nanti aku cek jadwal dahulu arra” ucap sehun padaku.

“baiklah kutunggu kabar darimu”

“baiklah, aku harus pulang dan istirahat. Dan kau juga istirahat ne hyemi-ah” ucap sehun lalu berjalan menuju pintu apartemenku, saat sehun akan membuka pintu. Aku pun segera berlari menghampirinya dan dengan cepat mencium pipinya.

“saranghae sehun oppa” ucap ku dengan cepat. Sehun pun berdiri kaku tidak mengucapkan apa-apa dan melihatku heran dengan apa yang kulakukan.

“coba kau bilang sekali lagi, tadi kau memanggilku apa?” Tanya sehun padaku.

“tidak ada pengulangan haha. Kajja cepatlah pulang dan beristirahat” ucapku. Sehun pun keluar dari apartemenku dan segera kututup pintu tersebut.’mianhae sehun-ah aku tidak bisa cerita apa-apa padamu, mungkin besok terakhir kita bersama’

***

Jam menunjukkan pukul 10.30 KST, aku yang masih berada diapartemen dan menunggu kabar dari sehun sejak pagi sudah mulai kesal dan bosan. Akhirnya kuputuskan untuk membeli kado untuk Min Gi sendirian. Aku pergi ke salah satu toko aksesoris dan mencari hiasan rambut untuk Min Gi berbentuk tiara yang kupikir mungkin ini akan terlihat bagus jika, Min Gi yang kenakan. Setelah membeli kado untuk Min Gi aku pun berjalan-jalan disekitas kota seoul sebentar dan berhenti tepat di depan kedai ramyun yang pernah sehun beritahu padaku.

“ah, rara-ya masuk lah” teriak ahjumma saat aku datang. dan dengan segera menyuruh ku untuk duduk ditempat yang dipilihnya.”tunggu sebentar biar kuambilkan pesanan kesukaanmu” ucap ahjumma lalu pergi dari hadapanku.

To : Oh sehun

Sehun-ah apa kau masih sibuk?

Tidak ada jawaban dari sehun sama sekali, apa mungkin sehun sibuk? Tidak lama dari itu ahjumma datang membawa ramyun tapi dengan porsi yang kecil, tidak sewaktu aku kemari bersama sehun.

“kemana sehun?” ucap ahjumma yang sekarang duduk didepanku

“ah, itu.. sehun sepertinya ada banyak pekerjaan dan tidak bisa kesini” ucapku ragu-ragu.

“oh begitu, anak itu sangat rajin” ucap ahjumma.

“ahjumma begini…” saat aku akan menjelaskan bahwa aku bukan rara ahjumma yang awalnya sedang mengobrol denganku mengalihkan pandangannya karena ada pengunjung yang datang.

“tunggu ahjumma melayani pelanggan lain dulu ne, makanlah dengan santai” ucap ahjumma lalu pergi. ‘bagaimana cara menjelaskannya kalau aku itu bukan rara pada ahjumma’. Aku pun segera menyantap ramyun tersebut dan setelah selesai aku segera pamit pada ahjumma tersebut.

‘harus kemana lagi sekarang? Barang yang kubawa besok sudah kusiapkan. Apa sebaiknya aku telefon sehun? Tidak, tidak jangan mengganggu sehun’. Akhirnya aku pun berjalan pulang dan sesampainya di apartemen segera kutelefon sehun.

“sehun-ah?”

“ne?”

“kau diapartemen?”

“ya, sedang menyelesaikan beberapa dokumen yang belum selesai. Ada apa hyemi-ah?”

“aku akan kesana” ucapku lalu menutup sambungan telefon dan segera berjalan menuju apartemen sehun. ‘sepertinya sehun belum mengetahui pengunduran diriku. Lebih baik seperti ini sepertinya’

Tok tok . segera ku buka apartemen sehun yang tdak terkunci dan benar saja sehun sedang duduk dimeja makan dengan laptopnya dan banyak kertas berserakan diatas meja makan. Sepertinya sehun sangat sibuk dan tidak bisa diganggu.

“kau sudah datang” ucap sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari depan laptop.

“ne” ucapku singkat dan duduk tepat didepannya.

“ada apa?” ucap sehun serius tanpa memandangku.

“ini” ucapku sambil menyerahkan kotak kecil pada sehun.

“apa ini?” Tanya sehun heran lalu membuka kotak tersebut.

“aku titip ini untuk luhan sunbae dan Min Gi” ucapku smbil tersenyum

“kenapa kau serahkan padaku? Memangnya kau tidak akan datang?”

“bukan aku takut lupa,jadi kutitipkan padamu ne?” lagi-lagi aku harus berbohong pada sehun.

“hm, kau ini benar-benar semakin mirip rara. mudah lupa hahha” ucap sehun sambil tertawa kecil.

“sehun-ah besok pagi bisakah kau mengantarku?”

“besok? Kau tidak akan masuk lagi? Walaupun kau nyeojachinguku tapi kalau kau tidak masuk terus seperti ini aku tidak bisa terus diam” ucap sehun.

“mian” ucapku lalu menunduk.

“sebaiknya kau masuk dan jangan cari masalah. Luhan hyung bisa marah padamu”nasihat sehun padaku.

“ne, baiklah aku pulang. Jangan terlalu memaksakan dirimu sehun-ah. Istirahatlah” ucapku lalu keluar dari apartemen sehun. Sehun memang tidak tau apa-apa wajar saja dia marah padaku.’kenapa kau harus menangis hyemi-ah, yang sehun lakukan tidak salah wajar saja sehun itu kepala perusahaan. Wajar sekali kalau sehun harus seprti itu’

***

Seoul 07.00 KST

Pesawatku berangkat pukul 9 masih ada waktu 2 jam. Untung saja aku datang pagi jadi tidak perlu buru-buru. ‘apa sehun sudah bangun ya?’ tanyaku dalam hati. Kutengok ponsel yang sedang kupegang, tidak ada pesan masuk atau pun telefon mungkin sehun masih tidur.

To: Oh Sehun

Sehun-ah ayo bangun jangan sampai kau terlambar ke kantor

Reply: tenang saja aku sudah bangun ayo kita berangkat bersama. Aku tunggu di lobby.

To: Oh Sehun

Mian aku tidak bisa

Reply: waeyo?

Pesan terakhir sehun memang tidak ku balas aku sengaja karena jika aku terus membalasnya sehun akan curiga padaku. Jam menunjukkan pukul 08.40 KST, aku pun memeriksa paspor dan tiket pesawat kalau-kalau ada yang tertinggal. Tiba-tiba ponselku berbunyi yang ternyata dari sehun.

“ne” ucapku

“kau dimana? Apa benar yang dikatakan chanyeol-ssi kau sudah mengundurkan diri? Kenapa kau tidak memberitahukanku dulu?” Tanya sehun terburu-buru.

“mian sehun-ah”

“ada apa denganmu sebenarnya?” aku pun hanya diam dan tidak menjawab. Tiba-tiba panggilan pada semua penumpang pesawatku pun sudah berbunyi yang sepertinya sehun telah mendengarnya.”kau dimana? Hyemi-ah kau dimana?”

“bandara” ucapku singkat lalu tanpa mendengar ucapan sehun aku pun segera menutup telefonnya. Dan mengirim pesan teks pada sehun.

To : Oh sehun

Mianhae sehun-ah aku tidak bisa berbicara lama padamu. Semakin aku mendengar suaramu semakin aku tidak bisa meninggalkanmu. Oppa, boleh kan sekali saja aku memanggilmu oppa. Sebaiknya sekarang hubungan kita berakhir, aku tau kau tidak akan pernah melupakan rara. aku tau rara sangat berarti untukmu dan aku bisa melihat itu semua dari semua tingkah lakumu.oppa mian selama ini aku tidak bisa membantu membuatmu melupakan rara, dan yang perlu oppa ketahui, aku adalah park hyemi bukan rara. aku sudah cukup sedih mendengarmu memanggilku dengan rara, lihatlah aku sebagai hyemi. Semua yang kulakukan kau selalu melihatnya sebagai rara, aku sempat berpikir mungkin suatu saat oppa akan menganggapku sebagai hyemi tapi ternyata aku salah oppa tetap menganggapku sebagai rara. mianhae oppa aku tidak bisa kalau seperti ini terus, dan terimakasih oppa sudah memberikan kenangan yang indah untukku , untuk Park hyemi.

Saranghae sehun oppa.

Setelah mengirip pesan pada sehun segera kumatikan ponsel sehun dan berniat tidak akan pernah menyalakannya lagi. Berniat melupakan untuk selamanya.

***

5 month later

Akhirnya aku kembali ke Seoul setelah tinggal beberapa saat di New York dan kembali bersama appa dan eomma adalah yang paling menyenangkan untukku. Aku , eomma dan appa pergi menuju apartemenku yang dulu pernah kutinggali kami berniat tinggal disana untuk sementara waktu. Saat aku melewati apartemen sehun muncul perasaan yang dulu telah ku kubur dalam-dalam. ‘bagaimana keadaan sehun sekarang? Apa sehun sudah bahagia ?’

“hyemi-ah tolong bantu eomma memasukan koper ini nak” ucap eomma didepan apartemenku. Aku pun segera berlari menghampiri eomma dan membantunya setelah semua barang-barang berada diapartemen aku segera meminta izin keluar sebentar. Aku pun berjalan menuju kantor dan bertemu dengan Min Gi.

“hyemi??!!” teriak Min Gi dari dalam ruangannya.

“suuut”kataku karena suara Min Gi bisa membuat orang-orang berpikir aku menyakitinya.

“ya! kau kemana saja, kenapa tidak datang ke pesta pernikahanku” protes Min Gi padaku.

“mian ada sesuatu yang membuatku tidak bisa datang ke pestamu sekali lagi maafkan aku”

“hm, baiklah oh ya tiara yang kau beri langsung ku pakai waktu itu, gomawo ne” ucapnya

“ne, chonmaneyo” ucapku sambil menggenggam kedua tangan sahabat terbaikku ini.”oh ya apa luhan sunbae sudah kembali ke kantor ini?” tanyaku.

“tentu saja, setelah kami menikah di China luhan oppa segera kembali ke seou karena ada masalah disini”

“masalah apa?”

“entahlah katanya berhubungan dengan adik laki-laki luhan oppa, tapi sampai detik ini juga aku tidak tau” jelas Min Gi. ‘adik laki-laki luhan sunbae? Sehun? Apa yang terjadi pada sehun selama aku di new York?’

“hyemi-ah” panggil Min Gi padaku

“ne?” aku pun diam sejenak “Min Gi-ah aku pergi dulu sebentar, oh ya ucapkan salamku pada luhan sunbae ne” ucapku singkat lalu aku pun segera berlari, yang sebenarnya aku tidak tau harus kemana. Aku harus mencari sehun kemana. Kuputuskan untuk mencarinya di kedai ramyun, taman, han river, café tapi disemua tempat yang biasa kami kunjungi sehun tidak ada. Sempat putus asa karena tidak bisa menemukannya akhirnya aku mencoba untuk mencarinya di apartemennya.

Tok Tok . tidak ada jawaban dari dalam apartemen tersebut apa sehun sudah pindah?. Tok tok

“nugu?” ucap seseorang dari dalama sana yang bisa ku kenali suaranya. Ini suara sehun. Aku pun diam menunggu sehun membukakan pintu apartmennya untukku, tidak lama dari itu sehun pun membuka pintu apartemennya. Sehun yang keluar dengan wajah pucat dan kusut kaget saat melihatku ada tepat didepan apartemennya.

“h..hyemi?? kau hyemi ?? park hyemi??” ucap sehun sambil memegang kedua pipiku dengan tangannya yang terasa panas. Sepertinya sehun sakit.

“ne, sehun-ah annyeong” baru saja aku menyapanya sehun langsung memelukku erat dan menundukan kepalanya dibahuku. ‘apa sehun menangis? Namja sepertinya menangis?’

“kenapa kau pergi saat itu hyemi-ah ?kenapa tidak mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu dan membuatku tidak bisa menghubungimu sama sekali? Kenapa kau…” belum sempat menyelesaikan kaliamatnya sudah kupotong.

“mianhaeyo sehun-ah, semua itu salahku mianhae” lalu sehun melepaskan pelukannya dan masuk kedalam apartemennya membiarkanku diam berdiri didepan apartemennya. ‘namja aneh, ada apa dengannya’ aku pun berniat berbalik untuk pulang tapi tiba-tiba sehun menarikku mengikutinya. Sehun yang terlihat tidak enak badan menyuruhku untuk masuk ke dalam mobil. Sehun pun mengendarai mobilnya dengan hati-hati dan membuatku khawatir karena wajahnya yang sangat pucat.

“sehun-ah kita mau kemana?”tanyaku pada sehun dan ternyata mobil sehun berhenti di taman yang dahulu sehun pernah menyatakan perasaanya padaku. Kami berdua pun segera turun lalu sehun menyuruhku untuk duduk dan sehun berjalan kembali ke mobil. Tidak lama sehun pun sudah kembali membawa kotak besar dan menaruhnya di sampingku lalu sehun berlutut didepanku.

“sekarang aku tau yang ku lihat selama ini bukan rara tapi kau, park hyemi. Kau berbeda dengan rara aku menyadarinya saat kamu pergi kamu berbeda kamu tetaplah park hyemi. Maaf karena kau yang selalu menyamakanmu dengan rara aku salah” ucap sehun

“gwenchanayo sehun-ah tenang saja. Aku sudah melupakan semuanya” jelasku dan meminta sehun berdiri.

“untuk yang terakhir kalinya, park hyemi maukah kau menjadi yeojachinguku?” ucap sehun yang membuatku heran dan tidak bisa berkata-kata.”yang sekarang ada dihadapanku adalah park hyemi bukan rara dan sampai kapan pun kau teap hyemi” tambah sehun.

“aku..aku tidak tau” ucapku sambil menunduk.

“apa kau tidak mau memberiku kesempatan?” Tanya sehun.

“aku hanya tidak ingin memaksakan perasaanmu sehun-ah”

“aku tidak pernah terpaksa, selama ini yang selalu ada didekatku adalah kamu. Ya kamu park hyemi” ucap sehun tegas. Sejenak keheningan menyelimuti kami berdua, apa yang harus kulakukan aku menerima sehun lagi atau aku menolahnya.

“hm..aku akan memberimu kesempatan sehun-ah” ucapku sambil tersenyum

“jadi kau menerimaku lagi?” ucapnya dengan senang. Aku pun hanya membalasnya dengan tersenyum, lalu sehun memberikan kotak besar padaku yang ternyata berisi dress berwarna biru langit. Dress yang pernah kupilih untuk Min Gi.

“ini bukannya dress yang kupilih untuk Min Gi?” ucapku heran

“ya aku memang sengaja membelinya untukmu, dress ini akan cocok untukmu. Awalnya aku ingin memberikanmu pada saat akan pergi ke Beijing tapi kau malah pergi ke new York secara mendadak dan membuatku berantakan.” Jelas sehun

“mianhae sehun-ah” ucapku.

“gwenchanayo yang penting sekarang kau ada disini bersamaku. Dan kita mulai semuanya dari awal arra”

“ne”

THE END

The Game

poster (2)

 

 

 

Titte : The Game | Author : Yulvika | Cover : Yulvika | Twitter : @Sulll_Sull |

Length : One Shoot | Rating : General | Genre : sad, angst, tragedy| Cast : Oh Sehun,

Park Chaerin | Desclaimer : Semua cast milik Allah SWT dan SM Ent, Author cuman minjem. Jika ada kesamaan cerita itu merupakan ketidaksengajaan. Warning ! typo bertebaran. Plagiator? dosa tanggung sendiri. Silent riders? segeralah bertobat |

.

.

.

.

.

Baca lebih lanjut

Story of Polarlight

story-of-polarlight1

 

 

 

 

Title : Story of Polarlight | Author : Julia Hwang

Leght : Oneshoot | Genre : Romance, Sad, Friendship | Rating : PG13+

.

Main Cast :

Byun Baekhyun | Stephanie Lee (OC)

Other Cast :

EXO | Kim Jia

-

Cover by : elevenoliu @CafePoster

 

Disclaimer :

Fanfiction ini adalah fiksi dan bukan merupakan kisah nyata dari para cast yg ada. Baekhyun dan EXO milik Tuhan, agency dan keluarga mereka. Para OC hanya buatan saya semata. Fanfiction ini dibuat atas imajinasi semata dan terinspirasi dari fansites favorite dari Byun Baekhyun, Polarlight ^^ Konsep ff tentang Polarlight eonni sudah pernah di buat oleh Kak Dira dari Hangukffindo dan di post di Indonesian Fanfiction Kpop. Tapi untuk alur cerita, tidak ada kesamaan dari cerita dari Kak Dira ataupun yg lain. Jika memang ada itu hanya unsur ketidaksengajaan !

 

Summary :

“Terimakasih Byun Baekhyun, karena kau selalu memberikan tatapanmu padaku.”

 

Warning for typo!

Happy READING~! ^^

 

~Story of Polarlight~

 

Baca lebih lanjut

I’m Telling You Chapter 2

hg

Title: I’m Telling You Chapter 2

Genre: Romance,Sad,School Life

Cast: Oh Sehun aka Sehun EXO

Park Jeon aka Jeon (OC)

Nari aka Nari Wassup

Rating: G (Untuk Semua Umur)

Length: Chaptered

Author: Claralaluchaipark aka TianiEXO

Summary:

“Ku katakan kepadamu, untuk mencintaiku kan?”

Sebelumnya: Teaser | Chapter 1

I’m Telling You Chapter 2

“Haduuh, banyak nyamuk sekali malam ini” Jeon menepuk-nepuk kaki dan tangannya karena dipenuhi oleh banyak nyamuk yang siap menerkam dan menghisap darahnya, itu dramatis sekali. Baca lebih lanjut

Uncle #Sobekan Kedua bag.II

Movie_Uncle

|| Uncle #Sobekan Kedua bag. II

// Dalang Zulaipatnam // Leght TwoShoot [1 . 2A. 2B] // Gendre AU. Lolicon. Incest. Romance. Crime // Rated T semi M // Cast Xi LuHan. Lee Hayi // CoCast Nam Gyuri. Lee DongHae. Jung DaeHyun. Moon JongUp. Lee ChaeRin. Wu YiFan. Park Bom. Kim JoonMyeon {©NgalagaIngZulaipatnam}

Baca lebih lanjut

Red Little Daisy [Strike 1]

redlittle

Title : Red Little Daisy

Author : fishprincess

Length : Chaptered

Rate : PG15

Genre : Alternative Universe. Romance, Family

Cast :

  • Kim Junmyeon (EXO)
  • Oh Jaehee (OC)
  • Others

Disclaimer : All cast belongs to God, but the story clearly mine. Published at indaylee.wordpress.com

Author Note College life was sucks, sorry that I didn’t update much when I enter this awesome blog. Hopefully I can entertain you guys all here XoXo

Baca lebih lanjut

Red Little Daisy [Strike 1]

redlittle

Title : Red Little Daisy

Author : fishprincess

Length : Chaptered

Rate : PG15

Genre : Alternative Universe. Romance, Family

Cast :

  • Kim Junmyeon (EXO)
  • Oh Jaehee (OC)
  • Others

Disclaimer : All cast belongs to God, but the story clearly mine. Published at indaylee.wordpress.com

Author Note College life was sucks, sorry that I didn’t update much when I enter this awesome blog. Hopefully I can entertain you guys all here XoXo

Baca lebih lanjut

The Succubus and The Vampire [Chapter 3]

The Succubus and The Vampire Poster

The Succubus and The Vampire
(Sequel of The Killer)

Own : echaminswag~
Characters : Kai, Hyemin, Sehun, Jaerin, Kris, Ellie, Emma and Others | Genre : AU, Bit Action, Fantasy, Mystery, Romance, Bit Supranatural | Lenght : Chaptered | Rating : PG-17+

Disclaimer : Cast belong to God and their agency. OC is mine. Story and poster are mine too. Don’t claim as yours and don’t be plagiator!

Summary : “Jangan berusaha mendekati kaum mereka, karena itu berarti perang.”

Recommend Song : B.A.P – 1004 ♪ | VIXX – Eternity ♪

 

 

THE SUCCUBUS AND THE VAMPIRE © 2014

[Teaser][Prolog][1][2] – [3]

.

.

Baca lebih lanjut