[#EXOFFIMVT2019] A Piece of Story in January – Miranda

A Piece of Story in January

Miranda

Ji Hyun berjalan menelusuri sungai Han dengan tubuh yang lesu. Semangatnya menguap lalu hilang entah kemana. Seperti ada yang mengacaukan pikirannya. Terlalu banyak yang ia pikirkan hingga ia tak tahu apa yang sedang ia pikirkan. Ia mendudukkan tubuhnya di pinggir sungai Han.

Tatapannya kosong. Jiwanya seolah pergi. Tanpa tahu kapan kembali. Hanya raganya yang masih di sini. Ia mengedarkan pandangannya. Ia menatap sepasang kekasih yang tak jauh dari keberadaannya sejenak lalu kembali menatap sungai Han.

Ia menghela napas. “Andai kau ada di sini.” Gumamnya. Ia menundukkan kepalanya. Menyakitkan sekali jika harus di tinggal ketika rasa cinta itu menumpuk. Jika berita itu benar, haruskah semua cinta itu di buang atau di kubur dalam-dalam bersama kenangan yang telah tercipta?

Tanpa terasa hari semakin sore. Ji Hyun segera pulang. Tatapannya lurus ke depan dan begitu hampa. Seperti ada ruang kosong di dalam hatinya. Ia tak mempedulikan sekitarnya. Ji Hyun mendudukkan tubuhnya di halte bis. Tatapannya masih sama. Tak ada yang berubah. Tak lama kemudian, bisnya datang dan ia segera masuk.

Sesampai di rumah, ia langsung berjalan menuju kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang empuknya. Ia menatap langit-langit kamarnya lalu beranjak dari ranjangnya. Lalu pergi ke kamar mandi. Setidaknya dengan membersihkan tubuhnya, semua rasa penat itu akan berkurang. Tepat lima belas menit, Ji Hyun keluar dari kamar mandi lengkap dengan handuk yang membalut di tubuhnya. Ia langsung memakai pakaian kesukaannya yaitu kaus dan celana pendek.

Ketika ia mengeringkan rambutnya, entah kenapa pandangannya tertuju pada foto Seo Jun. Pikirannya kembali melayang. Melayang masuk ke dalam kenangannya. Ia teringat ketika masih bersama Seo Jun. Setidaknya itu masa-masa terindah dalam hidupnya. Meski hanya sesaat. Ia berjalan keluar kamar.

Sendiri. Sepi. Tanpa ada yang menemani. Ji Hyun sudah terbiasa sendirian. Hanya asisten rumah tangga yang bekerja sejak pagi hingga sore. Dan di malam hari, ia kembali sendirian. Kedua orangtuanya meninggal karna kecelakaan. Kini Ji Hyun hanya memiliki  kakak lelaki, Ji Sung. Namun, saat ini Ji Sung sedang kuliah di luar negeri. Meski begitu, ia mencoba tetap tegar. Di balik kokohnya kayu, selalu ada rayap yang selalu mengerogotinya.

Ji Hyun mengambil jaket tebalnya dan berjalan menyusuri kota Seoul dan kembali singgah di sungai Han. Sungai Han terasa lebih indah di malam hari. Bukan hanya itu, ia memiliki banyak kenangan di sana. Tentu saja bersama Seo Jun. Ia berjalan menuju Banpo Bridge yang lokasinya masih di area Sungai Han. Setiap malam selalu ada pertunjukan air mancur dari atas jembatan dengan berbagai warna yang di iringi alunan musik.

Semuanya terasa indah. Hanya saja tak seindah hatinya saat ini. Tanpa di sadarinya, air matanya mengalir dan jatuh tepat di punggung tangannya. Ia langsung menyekanya. Tapi ia tak sanggup lagi jika harus menahan tangis untuk ke sekian kalinya. Dan ia menumpahkannya di sana. Tiba-tiba ada yang berdiri di sampingnya.

Ji Hyun menatapnya lalu menyeka jejak air matanya.

“Menangis saja. Jangan hiraukan aku.” Ucap lelaki itu.

Bulir-bulir bening itu kembali keluar dan membasahi pipi Ji Hyun. Ia menundukkan kepalanya. Ia tak tahu lagi harus melakukan apa. Pikirannya kalut. Begitu juga dengan hatinya. Setidaknya dengan menangis bisa meringankan beban yang ia rasakan. Lelaki itu kalau Ji Hyun tengah bersedih. Ia mengelus pundak Ji Hyun pelan. Ia hanya ingin menenangkan perasaan gadis itu.

“Seo Jun-ah, aku merindukanmu.” Ucap Ji Hyun dengan suara yang terisak.

“Kenapa kau harus pergi waktu itu? Kenapa bukan aku saja yang di sana?” tangis Ji Hyun semakin pecah. Jika Seo Jun harus pergi, kenapa harus di bulan Januari yang notabenenya bulan kelahiran Ji Hyun. Padahal ketika Ji Hyun ulang tahun, Seo Jun sempat merayakannya. Ia bahkan tak menyangka kalau kejadian ini akan terjadi berselang tujuh hari dari hari ulang tahunnya.

Ji Hyun menyeka sudut matanya. Ia menghela napas lalu menatap sekitarnya. Lelaki itu masih bersamanya. Ia menatap Ji Hyun. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya lembut.

“Maafkan aku kalau aku mengganggumu.”

Gwaenchanayo. Mmm… sebelumnya kita belum kenalan. Namaku Bae Jun Hyuk.” Ucapnya sambil menyodorkan tangannya.

“Namaku Hwang Ji Hyun.”

Mereka pun berjabat tangan lalu terdiam. Ji Hyun mengedarkan pandangannya. Jun Hyuk menatap Ji Hyun. “Ji Hyun-ssi, jika kau di berikan satu permintaan, apa yang ingin kau wujudkan?” tanya Jun Hyuk, ia masih menatap Ji Hyun.

Ji Hyun tersenyum simpul. “Jika aku di berikan satu permintaan, aku akan kembali ke masa lalu. Masa di mana masih ada Seo Jun di sisiku.” Ucapnya santai. Ia menatap sekelilingnya lalu menatap Jun Hyuk.

 

Sejak saat itu, mereka sering bertemu. Bahkan di saat Ji Hyun membutuhkan Jun Hyuk, ia langsung datang ke hadapan Ji Hyun. Ia seperti bisa berteleportasi. Berpindah tempat secepat mungkin. Tapi Ji Hyun tak pernah menaruh curiga pada Jun Hyuk. Sebenarnya ada rahasia besar yang belum di ketahui oleh Ji Hyun tentang latar belakang Jun Hyuk.

Setiap kali mereka bersama, pandangan orang-orang selalu tertuju pada Jun Hyuk. Ia memang terlihat aneh dari orang pada umumnya. Kulitnya putih pucat. Bahkan rambutnya pun berwarna putih. Perawakannya yang kurus dan urakan tapi ia selalu menggunakan pakaian putih. Sorot matanya tajam. Ji Hyun tak pernah mempermasalahkan hal itu. Jun Hyuk jarang muncul di siang hari. Ia lebih sering muncul di malam hari.

 

Suatu ketika, Ji Hyun tersentak dari tidurnya. Ia bermimpi kalau Seo Jun di makamkan bersama korban pesawat lainnya. Ia menangis. Berharap kejadian itu hanya sekedar mimpi. Tapi bagaimana kalau itu benar? Sejak kabar pesawat itu jatuh, belum ada kabar tentang Seo Jun. Tangis Ji Hyun pun pecah.

Tiba-tiba Jun Hyuk muncul dan duduk di pinggir ranjangnya. Ji Hyun cukup terkejut. Memang Jun Hyuk selalu muncul tiba-tiba tapi entah kenapa kali ini ia terkejut. Jun Hyuk menatapnya dengan tatapan sendu.

“Kau muncul dari mana? Tunggu! Sebenarnya kau ini siapa?” tanya Ji Hyun sambil sesekali terisak.

“Maafkan aku kalau membuatmu terkejut. Sebenarnya aku dewa mimpi.”

“Berarti kau bisa mencari keberadaan Seo Jun lewat mimpi?” tanya Ji Hyun spontan.

“Aku hanya bisa mencari kekasih lewat dimensi mimpi. Tapi aku tak bisa memasuki dunia nyata lewat mimpi. Karna ini dua dunia yang berbeda. Kalau di paksakan, resikonya cukup besar.” Jawab Jun Hyuk secara rinci.

“Tapi aku mohon Jun Hyuk-ssi” Ji Hyun kembali menangis. “Aku hanya ingin mencari tahu tentang keberadaan Seo Jun yang sebenarnya. Aku muak mendengar berita-berita itu.” Isak Ji Hyun.

Jun Hyuk berpikir sejenak. Ia mengambil sesuatu dari kantung celananya. Ia menggenggam sebuah kantung kain yang terikat seutas tali. Ia membuka ikatan itu dan tenyata berisi kapsul obat berwarna merah. Ia memberikannya pada Ji Hyun. “Ucapkan keinginanmu dalam hati sambil menutup mata.” Ucapnya.

Ji Hyun langsung menelan kapsul merah itu. Dan mengucapkan keinginannya. Tentu saja ia ingin mencari keberadaan Seo Jun. Jun Hyuk memainkan jari jemarinya tepat di depan wajah Ji Hyun. Dan gadis itu tertidur.

 

Ji Hyun membuka matanya. Matanya terbelalak seketika. Ia berada di hutan belantara. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya.

“Ini aku.” Ucap Jun Hyuk.

Hampir saja Ji Hyun mau teriak. Jun Hyuk sibuk mengatur waktu yang sama persis dengan kejadian itu. “Kau lihat.”

Tiba-tiba sebuah pesawat oleng lalu jatuh. Tampak para penumpang dan kru pesawat langsung keluar dan menyelamatkan diri. Ji Hyun melihat Seo Jun keluar dari pesawat. “Itu Seo Jun.” Ucapnya sambil menunjuk ke arah Seo Jun.

“Tapi kau tidak bisa ke sana.” Sela Jun Hyuk.

Ji Hyun menghiraukan ucapan Jun Hyuk dan langsung berlari ke arah Seo Jun. Saat ingin menghampiri Seo Jun, tubuhnya terhempas seketika. Seolah ada dinding pembatas antara ia dan Seo Jun. Mesin pesawat itu mulai mengeluarkan asap. Dan…

DUARRR…

Pesawat itu meledak dan membuat orang-orang yang berada di dekatnya tewas seketika. Tangis Ji Hyun pun pecah. Mereka mencoba mencari keberadaan Seo Jun. Tapi Seo Jun sudah tak ada di sana.

“Bagaimana ini? Kenapa Seo Jun tidak ada? Aku mohon, bantu aku Jun Hyuk-ssi.” Pinta Ji Hyun. Hatinya sudah tak karuan. Ia pikir jika Seo Jun tiada, setidaknya ia bisa melihat jenazahnya untuk yang terakhir kalinya.

Jun Hyuk mencoba semampunya. Gadis itu sudah tak tahu lagi harus meminta bantuan.

Ji Hyun membuka matanya. Ia menangis seketika. Pikirannya kacau. Begitu juga dengan hatinya. Ia sama sekali tak menemukan Seo Jun. Hidup ataupun mati. Ia tak tahu. Yang ia tahu hanya rasa khawatir yang semakin bertambah setiap harinya.

 

Jun Hyuk memasuki ruangan yang serba putih. Ia berjalan menuju rak buku. Jemarinya langsung mencari sebuah buku dan langsung mengambilnya. Buku itu berjudul ‘Hwang Ji Hyun’s Story’. Buku itu berisi kisah hidup Ji Hyun dari masa lalu hingga masa depannya ada di dalam buku itu. Jun Hyuk membuka lembar demi lembar.

Jun Hyuk tersenyum simpul. “Aku percaya mereka akan bersama.”

 

Satu tahun kemudian…

Kejadian itu tak pernah hilang dari ingatan Ji Hyun. Hingga membuat dirinya menjadi pendiam. Gadis ceria itu hilang dari dirinya. Keberadan Seo Jun tak pernah di ketahui bahkan sudah satu tahun berlalu. Ji Hyun belum bisa menerima kejadian itu.

Ji Hyun berjalan keluar rumahnya dengan wajah sembab. Matanya tertuju pada seorang lelaki yang berjalan berlawanan arah dengannya. Wajahnya, perawakannya, gaya pakaiannya. Sangat mirip dengan Seo Jun yang ia kenal. Senyum itu langsung terukir di bibir mungilnya. Ia langsung menghampiri lelaki itu.

“Seo Jun-ah.”

Lelaki itu menatap Ji Hyun heran. “Kau kenal aku?”

Hati Ji Hyun kembali bergejolak. Cobaan apalagi ini?. “Kau Seo Jun kan? Kau tidak ingat aku?” ucap Ji Hyun sambil menunjuk dirinya.

Lelaki itu menggeleng. “Aku Kim Seo Jun. Maafkan aku nona, aku sama sekali tidak mengenalmu.” Ucapnya santai. Lalu berjalan menjauh.

Ji Hyun berlari masuk ke dalam rumahnya dan menghempaskan tubuhnya di ranjang dengan kuat. Ia menangis sejadi-jadinya. Matanya melirik kalendernya di atas meja. Ia mengambil kalender itu. “Seminggu lagi ulang tahunku. Aku pikir kau kado terindah yang di berikan Tuhan padaku. Tapi kenapa… Seo Jun-ah… Kenapa kejadian ini harus terjadi lagi?.” Gumam Ji Hyun. Ia terisak.

Jun Hyuk datang menghampirinya. Ji Hyun mengetahui kalau Jun Hyuk menghampirinya. “Tadi aku lihat Seo Jun. Tapi kenapa dia melupakanku Jun Hyuk-ssi? Aku tidak kuat jika harus seperti ini?” Ji Hyun kembali menangis di hadapan Jun Hyuk.

Ia menggenggam tangan Jun Hyuk. “Jun Hyuk -ssi, bisakah aku mewujudkan satu permintaanku?” ucapnya sambil terisak.

“Apa itu?”

“Aku ingin Seo Jun kembali mengingatku.” Lirih Hi Hyun.

“Hah? Sudah ku bilang sebelumnya, aku hanya bisa membantumu lewat mimpi. Aku tak bisa membuat dia mendapatkan ingatannya terlebih karna kecelakaan. Itu bukan tugasku.” Tegas Jun Hyuk.

“Jun Hyuk-ssi, ku mohon tolong aku.” Pinta Ji Hyun lagi.

Jun Hyuk menghela napas. “Aku akan mencobanya tapi jika ini tidak berhasil, resikonya cukup besar.”

“Aku akan menerima konsekuensinya.” Tegas Ji Hyun.

Ji Hyun menutup matanya. Jun Hyuk mencoba menolong Ji Hyun dengan segala kemampuannya. Ia memainkan jemarinya tepat di depan wajah Ji Hyun. Gadis itu pun tertidur. Jun Hyuk menaburkan bubuk emas di kepala Ji Hyun. Sepersekian detik kemudian, bubuk emas itu hilang bersama Jun Hyuk.

 

Satu tahun berlalu…

Kini hidup Ji Hyun telah berubah. Berubah bukan karena ia telah kembali bersama Seo Jun. Ada yang berbeda. Ia kehilangan seluruh ingatannya. Berarti, seluruh rasa sakit itu pun ikut hilang. Tak ada lagi isak tangis. Kakak lelakinya pun telah menemaninya. Ia tak merasa sendirian lagi.

Ji Hyun berjalan keluar rumah. Ia merasa bosan jika harus seharian di dalam kamar. Ia berjalan tanpa tujuan. Setidaknya rasa bosannya hilang. Tiba-tiba ada yang menarik tangannya. Ji Hyun membalikkan tubuhnya dan menatap orang itu. Tanpa aba-aba, ia langsung memeluk Ji Hyun erat. Gadis itu merasa heran. Ia langsung menepis tangan orang itu.

“Kau kenapa Ji Hyun-ah? Kau tidak ingat aku. Ini aku Seo Jun.” Ucap Seo Jun, ia tak menyangka kalau reaksi Ji Hyun akan seperti itu.

Ji Hyun terdiam. Tiba-tiba kepalanya sakit. Seperti ada yang mengganjal di pikirannya. Tanpa ia sadari, Jun Hyuk menatap mereka dari kejauhan. Tersenyum simpul sambil melipat tangannya di dada. Ia kembali memainkan jemarinya dan…

Entah kenapa tiba-tiba semua ingatan itu kembali. Ji Hyun tersenyum senang. Seolah tak pernah ada terjadi apapun di antara mereka. Mereka pun kembali melanjutkan kisah cinta yang sempat terputus. Setidaknya keinginannya terwujud meski harus melalui banyak rintangan. Entah kenapa, begitu banyak kejadian di bulan Januari. Seolah semua kisah itu harus terjadi di bulan itu. Dan kini, isak tangis itu sudah tak ada lagi. Semua sudah terganti karna pujaan hatinya telah kembali.

-o-

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s