[#EXOFFIMVT2019] FEBRUARI, TOLONG JAGA DIA – HERMOSAVIDABONA

FEBRUARI, TOLONG JAGA DIA

HERMOSAVIDABONA

28 Februari 2019

Laju angin yang berhembus di jembatan Jamsil itu tak bisa ia tahan. Angin yang menghembuskan semua kenangan yang pernah berlalu, perlahan menghembuskan sepi yang merobek hatinya.

“Selama matahari masih ada, aku akan tetap disini Chae.”

Setidaknya kalimat itulah yang lelaki itu ucapkan untuk meyakinkannya pertama kali. Gadis dengan rambut panjang hitam legam yang tengah berdiri di pinggir sungai Han itu tertawa hampa. Tawanya tak lagi berirama sejak senja kala itu.

Ia menyesal sekarang, kenapa ia bisa sebodoh itu percaya dengan ucapan dua tahun lalu yang terlontar dari mulut seorang pemuda Februari tersebut. Ucapannya telah membuat rasa gadis itu hilang dari muka bumi ini. Semua sirna, hancur yang ia dapatkan.

Dulu, kehadiran lelaki tersebut membuatnya terasa utuh. Tetapi, pemuda itu pula yang membuatnya begitu rapuh saat ini. Pandangan kosongnya, mulai bergerak memperhatikan benda yang ada dalam genggangan tangannya.

Jae Shin & Jung Ae Ra

Lengkap dengan ucapan selamat berbahagia.

Gadis itu terseyum kecil. Akhinrya, yang dulu yang pernah ia bayangkan tak pernah terjadi juga. Disana bukan namanya yang tertera tetapi nama gadis lainnya.

“Februari, boleh tidak? Sekali saja, untuk hari ini. sebelum aku menghadiri pernikahan pria yang pernah kucintai. Bisakah aku kembali bercerita? Aku ingin mengenangnya sekali lagi,” gumamnya kecil.

Seoul, 14 Februari 2019

“Kau serius tak ingin ku temani hari ini?” ucap suara dari seberang telepon.

“Tak perlu Jae Shin. Kau sendiri yang mengatakan jika kau ada konser penting hari ini,” ucap Chaeni sambil memoles tipis lip cream berwarna rosy cheek pada bibir ranumnya.

“Kau serius? Tidak berbohong kan?”

Chaeni menghela napas, “Aku serius Kang Jae Shin, tak usah khawatir,” ucap Chaeni.

“Tapi Chae—”

“Jae Shin,” potong Chaeni.

Lelaki diseberang menghela napas, “Yasudah, cepat kau keluar dari rumahmu sekarang juga,” tutur Jae Shin membuat Chaeni mengernyit kebingungan

“Maksudmu?”

Diseberang sana Jae Shin berdecak pelan, “Sudahlah, cepat keluar dari rumahmu sayang,” ujar Jae Shin.

Mau tak mau gadis itu langsung cepat-cepat keluar agar mengerti apa yang lelaki itu maksudkan. Langkahnya kini telah terpaku di depan gerbang. Terpaku, terpaku karena dari seberang sana ia bisa melihat lelaki senjanya pulang di penghujung Februari tahun ini.

Jae Shin adalah seorang CEO perusahaan besar di Korea, bukan tak mungkin jika lelaki itu tak pernah bersua dengan Jung Chaeni, kekasihnya. Apalagi Jae Shin dua tahun belakangan ini selalu sibuk membuka cabang baru perusahaannya di Amerika Serikat.

“K-kau sudah pulang?” ucap Chaeni sedikit terbata karena bahagia juga terkejut. Ada perasaan lega dalam hatinya.

Lelaki itu mengangguk, memeluk gadis berambut hitam legam panjang dihadapannya. Pemuda itu kemudian melerai dekapannya, membiarkan kehangatan hilang begitu saja dari gadisnya.

“Aku pulang lebih awal dari jadwal, hanya untukmu,” ucapnya lalu mengulas senyum manis.

“Karena aku tahu ini hari ulang tahunmu,” lanjut pemuda tersebut.

Chaeni sedikit terkejut dengan ucapan Jae Shin barusan, “Benarkah? Memangnya ini tanggal berapa Jae?” tanya Chaeni.

Lelaki itu kembali tersenyum, “Ini tanggal empat belas Februari sayang,” tuturnya.

“Menaiki bus berdua, bersepeda bersama, makan es krim berdua—”

“Dan menikmati senja bersama!” potong Chaeni dengan gembira.

Lelaki itu tersenyum, “Kau selalu menceritakan hal itu di telepon,” ucap Jae Shin dan diangguki dengan riang oleh Chaeni.

Sepersekian detik kemudian raut wajah Chaeni berubah muram, terlihat guratan kecewa dalam wajah cantiknya, “Tapi itu semua sepertinya tak akan pernah terjadi karena kau selalu sibuk,” ucapnya lirih yang masih bisa Jae Shin dengar.

Lelaki itu langsung menarik Chaeni kembali dalam dekapannya, “Sudahlah jangan menangis, aku sudah pulang demi kau. Apa kau akan memberiku hadiah sebuah aliran sungai dari wajah cantikmu? Hum?” tanya Jae Shin dan mengelus punggung Chaeni.

“Chae?” panggil Jae Shin.

Gadis itu mendongak, menatap sepasang manik hitam milik Jae Shin. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum, tangannya tergerak untuk menghapus aliran sungai di pipi Chaeni.

“Chae, sayangku. Mungkin kau berpikir jika hal-hal sederhana seperti tadi tak bisa kita lakukan bersama. Tapi apa kau percaya keajaiban? Keajaiban itu benar-benar ada Chae, buktinya aku bisa disini sekarang,” ucap Jae Shin yang tidak jelas.

“Kamu ingat dulu saat pertama kali aku jauh darimu? Aku pernah bertanya padamu, jika kamu diberi satu permintaan apa yang ingin kau wujudkan? Dan kau bercerita banyak hal, meskipun hanya hal-hal kecil tapi aku tahu itu sangat berarti untukmu,” tutur Jae Shin.

Kembali, tangan Jae Shin membelai lembut punggung gadis dalam dekapnya, “Selamat ulang tahun gadisku, untuk hari ini izinkan aku mewujudkan permintaan kecilmu itu,” tutur Jae Shin.

Chaeni hanya mengangguk kare memang ini yang ia inginkan selama ini. Gadis itu tak menunjukan penolakan sama sekali. Tetapi Chaeni bingung apa yang akan mereka lakukab pertama kali?

“Um, Jae? Apa yang akan kita lakukan pertama kali?” tanya Chaeni.

“Aku lihat di internet banyak rekomendasi tempat kencan yang bagus di Seoul,” ucap Jae Shin. Lelaki berkulit putih pucat itu tiba-tiba saja mengejutkan Chaeni dengan menggandeng tangannya dan kontan membuat gadis itu bahagia.

Benar saja, mall adalah tempat paling asyik untuk berkencan setelah keduanya lelah bermain di taman bermain. Jae Shin bersama Chaeni sekarang sedang berada di salah satu departement store yang cukup besar di Seoul.

Chaeni berjalan beriringan dengan merangkul lengan Jae Shin dengan satu buah es krim ditangannya, “Sepertinya es krim punyamu lebih enak,” ucap Jae Shin melirik es krim rasa coklat milik Chaeni.

Chaeni menaikkan kedua alisnya lalu tiba-tiba melepaskan tangannya dari Jaehyun, “Kau mau?” tanya Chaeni yang diangguki oleh Jae Shin.

Gadis itu tiba-tiba berjalan mundur dan berlari kecil menjauh dari Jae Shin membiarkan lelaki itu tertahan dengan kebingungan yang menari dalam benaknya, “Tangkap aku jika kau ingin ini dariku!” seru Chaeni riang meminta Jae Shin untuk mendekat.

Jae Shin yang merasa tertantang langsung mengejar Chaeni hingga berhasil menangkap gadis tersebut, untung saja di dalam mall tersebut tidak terlalu ramai dan sesak. Banyak hal yang mereka lakukan disana. Mulai dari mencoba berbagai pakaian, bertukar es krim hingga sampailah mereka pada etalase tempat dimana boneka berada.

Mata Chaeni langsung berbinar ketika melihat boneka berbentuk panda yang sangat mirip dengan Jae Shin ketika sedang kelelahan.

“Jae! Lihatlah! Dia sangat mirip dengamu!” ucap Chaeni begitu antusias sambil menunjuk boneka panda besar yang ada dihadapannya.

“Tidak, mana mungkin aku seperti itu,” tolak Jae Shin mentah-mentah pasalnya dirinya tak suka disamakan dengan panda yang bermata hitam.

“Sungguh Jae Shin, dia sangat mirip denganmu. Gembil, bermata hitam, dan menggemaskan,” ucap Chaeyun sambil mencubit pipi Jae Shin.

“Harus berapa kali aku mengatakannya Nam Chaeni, beruang itu sama sekali tak memiliki kemiripan denganku,” Jae Shin melakukan pembelaan.

Chaeni menggeleng dan tertawa hingga membuat Jae Shin keheranan memikirkan hal apa yang lucu?

“Kenapa kau tertawa?” tanya Jae Shin sengit.

Gadis dihadapannya menggeleng, “Ini panda Jae Shin bukan beruang. Berapa usiamu hm? Hingga kau tidak bisa membedakan yang mana panda dan yang mana beruang,” ejek Chaeni.

“Sudah-sudah! Kau suka dengan boneka beruang ini?” tanya Jae Shin yang tiba-tiba mengambil boneka panda yang ukurannya kurang ebih dari kepala Chaeni hingga lututnya.

“Panda Jae,” ucap Chaeni mencoba mengingatkan.

“Terserah apa itu namanya. Aku bertanya, kau suka boneka ini tidak?”

Chaeni mengangguk, “Iya, aku suka. Kenapa?”

“Kau suka yang mana? Yang besar atau yang kecil?” lanjut Jae Shin mengambil boneka yang besar dan satu boneka panda kecil.

“Mau yang mana? Suka yang mana?” tanya Jae Shin lagi.

“Aku ingin membelinya untukmu,” ucap Jae Shin.

Chaeni sedikit terkejut, “Untuk apa kau membelinya Jae Shin?” tanya Chaeni yang sebenarnya bingung kenapa Jae Shin ingin membelikannya boneka secara tiba-tiba.

“Untukmu, jika tiba-tiba kau merindukanku, kau bisa memeluknya. Yang ini saja ya? Boneka panda yang besar agar saat kau merindukanku kau bisa memeluknya,” ucap Jae Shin memeluk boneka panda besar tersebut hingga membuat Chaeni tersenyum.

“Kenapa kau tersenyum?” tanya Chaeni karena melihat Jae Shin yang juga ikut tersenyum.

Jae Shin menggeleng, “Tidak, aku hanya suka melihat mata indahmu saat tersenyum. Ah tidak, lebih tepatnya aku menyukai mataku sendiri karena tanpa mataku ini aku tidak bisa melihat mata indahmu.”

Senja muncul kembali di pelupuk mata. Awan menari perlahan. Lalu, teringat kembali awal mula gadis itu mengenal senja.  Senja yang membawanya mengembalikan senyuman yang entah berapa lama telah pudar. Warnanya jingga, lembut, menenangkan, semua terlihat alami tidak berlebihan. Rasanya Chaeni mulai mengenal apa itu jatuh cinta.

Senja itu, Kang Jae Shin.

Senja yang akan selalu menjadi miliknya. Padanya ia bercerita tentang hidup, tentang mimpi, dan tentang apapun yang sudah lama terpedam dalam hatinya.

“Chaeni!” panggil Jae Shin dari jarak lima meter, lelaki itu sudah kembali dengan dua cup kopi ditangannya.

Lelaki itu sedikit berlari menghampiri Chaeni yang duduk di tepi menyerahkan satu cup kopi untuk Chaeni lalu mendudukan dirinya disamping gadis itu. Jae shin langsung bergeser mendekat sambil menepuk bahunya.

“Kenapa?” tanya Chaeni.

Jae Shin kesal, maksud hati ingin menawarkan bahunya tetapi Chaeni malah tidak paham, “Bahuku pegal,” ucap Jae Shin.

“Sini biar ku pijat bahumu,” tawar gadis itu.

Jae Shin sontak menarik kepala Chaeni dan menyandarkannya ke bahunya. Tersentuh, Chaeni langsung menatapnya dengan penuh cinta.

“Jae, apa kau tahu jika senja mengajarkan sesuatu?” tanya Chaeni.

“Hm? Apa itu?” gumam Jae Shin dengan mata terpejam.

Chaeni mengela napas, “Jingga itu memiliki warna yang menenangkan, merah itu warna yang meneduhkan. Menduhkan hati mereka yang tingkat kerinduannya keterlaluan. Senja, dalam artian yang kumiliki selalu sempurna mengajarkan banyak hal. Kesetiaan misalnya, senja itu selalu setia menunggu matahari menemuinya. Ia tak pernah bosan. Ia tak pernah lelah. Ia setia menunggu mentari karena darinyalah warna-warna menakjubkan itu berasal. Dari kesetiaanya menunggu mentari itulah keteduhan yang menenangkan itu dihasilkan. Itulah alasan orang-orang yang jatuh cinta suka sekali dengan senja,” jelas Chaeni.

Jae Shin tersenyum, “Kau tahu mengapa aku menyayangimu Chae?” tanya Jae Shin.

“Sesuatu yang jawabannya juga tidak kamu tahu.”

“Kenapa aku bisa menyayangimu? Kamu tahu pertanyaan itu ku ciptakan tanpa memiliki jawaban,” lanjut Jae Shin.

Chaeni menghela napas, “Kalau aku akan pergi, apa yang akan kau lakukan Jae?” tanya Chaeni.”

“Aku tak akan berbuat apapun, karena aku tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi,” jawab Jae Shin penuh keyakinan.

“Tapi aku akan tetap pergi. Kabar bahwa kau tidak lagi sendiri sampai padaku. Jujur, aku sempat menerka-nerka bagaimana sempurnanya gadis yang dipilihkan ibumu. Dia, yang nantinya ada disisimu,” ucap Chaeni menjauhkan kepalanya dari bahu Jae Shin dan mengeluarkan undangan dari saku mantelnya untuk ia tujukan pada Jae Shin.

Mata Jae Shin membelalak tak percaya melihat kekasihnya memiliki undangan pernikahannya dengan gadis lain ada di tangan Chaeni, “Dulu kita pernah berangan jika namamu dan namaku yang akan ditulis disini, tetapi itu akhirnya tak pernah terjadi,” lirih Chaeni diakhiri senyum kecut.

Jae Shin berlutut dihadapan Chaeni, kepalanya menunduk, bahunya bergetar, beberapa tetesan bisa Chaeni rasakan menjatuhkan diri diatas kaki Chaeni, “Chae.. m-maaf aku tak tahu ini akan terjadi antara kita,” ucap Jae Shin dengan suara yang bergetar.

“Seperti apa yang pernah kau ungkapkan padaku, aku juga ingin kita seperti jingga dan senja yang saling menyempurnakan satu sama lain. Setiap malam aku selalu berdoa semoga Tuhan mengizinkan kita selalu bersama sampai akhir usia hingga maut memisahkan kita. Banyak sekali harapan yang ingin aku wujudkan bersamamu. Tapi…” Jae Shin sengaja tak melanjutkan kalimatnya karena hal itu sangat menyakitkan untuk ia ingat.

“Senja mampu mempertemukan siang dan malam yang menghadirkan keindahan. Tetapi, saat ada pertemuan pasti akan ada perpisahan. Senja juga menjadi sebuah pembatas antara siang dan malam. Senja adalah pemisah agar keduanya tidak bertemu terlalu lama,” tutur Chaeni diakhiri dengan senyuman tulus.

“Chae…” lirih Jae Shin seperti memohon untuk Chaeni agar tidak pergi darinya.

Chaeni kembali tersenyum, “Dua minggu lagi kan pernikahanmu? Aku akan datang ke acara pernikahanmu Jae. Terimakasih, terimakasih sudah mewujudkan permintaan kecilku dan kini seumur hidupku akan selalu menjadi doa untukmu,” ucap Chaeni berdiri dari kursi pinggir sungai Han dan berlalu meninggalkan boneka panda dari Jae Shin, pun meninggalkan Jae Shin yang masih berlutut dengan bahu yang bergetar.

Dan akhirnya yang tertahan di pelupuk mata itu jatuh jua hingga menghasilkan aliran sungai pada pipi gadis itu. Ia mendongak, menatap senja Februari ini, “Untuk senja yang perlahan menghilang, terimakasih sudah menemani dan mendengarkan segala keresahan juga bahagia yang terukir di kota ini,” batinnya lalu kembali menangis sesegukan.

“Februari, tolong jaga dia,” ucap Chaeni pada akhirnya.

Kisah keduanya seperti senja, senja datang membawa keindahan namun hanya sementara sebab senja harus pergi untuk berganti dengan pekatnya malam. Dan kini, senja menjadi saksi berakhirnya sebuah cerita.

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s