[#EXOFFIMVT2019] IS IT A TRUE LOVE – ZIYALIM

IS IT A TRUE LOVE?

 

Cahaya oranye kemerahan merambat melalui celah jendela, keramaian mulai terdengar, bising penjual di pasar saling bersahutan, lalu lalang langkah kaki terdengar begitu merdu serentak melangkah menjemput impian.

Pusat tata surya itu perlahan naik ke permukaan menggantikan warna langit dengan cerah kebiruan, awan putih membentuk senyum dari tempatnya, menyapa sang pemimpi memberi isyarat agar segera keluar dari peraduannya, meninggal kan kain hangat yang menemaninya berkunjung ke dunia ilusi.

Mata indah itu perlahan terbuka, mengerjap perlahan menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya, menutupi wajah cantiknya dengan telapak tangan, menghalangi silau mentari yang menembus kaca bening di samping tempat tidurnya.

“Sudah pagi rupanya”

Jam dinding di pojok kiri kamarnya seakan mempercepat putaran detiknya, membawa langkah kaki putih itu menjauhi dunia khayalnya.

“Rin cepat bangun!”

Teriakan itu seakan menjadi penyemangat tersendiri baginya, suara 8 oktaf milik ibunya.

“Aku sudah bangun, mom!”

Gadis itu, Rin Young  Park, seorang blasteran Korea-Amerika, pemilik rambut panjang menjuntai sampai punggung dengan poni tipis menutupi dahi putihnya, penyuka sneakers, tergila-gila dengan segala sesuatu berwarna pastel, pergi ke cafe dua kali dalam seminggu hanya untuk menyesap manisnya matcha latte. Menjawab teriakan ibunya dengan tak kalah kerasnya.

“Cepat turun dan sarapan!”

Suara melengking itu kembali terdengar, bagaikan playlist yang sering Rin putar di ponselnya. Derap langkah kaki teratur itu perlahan menyapa ruang tengah keluarganya, mendekati meja makan di pojok ruangan.

“Selamat pagi!” Seulas senyum terukir dari bibir mungilnya. Tangannya segera mengambil piring di depannya, memasukkan potongan roti itu dengan sedikit tergesa sambil melirik jam kecil yang bertengger manis di pergelangan tangan kirinya.

“Mom, hari ini aku ingin mengunjunginya sebentar”

Melihat anggukan ibunya, Rin segera berlari keluar setelah mencuri satu kecupan di pipi orang terkasihnya itu.

Kebiasaan Rin setelah memasuki mobilnya adalah ‘bercermin’ terdengar sederhana memang, tapi baginya itu adalah hal yang wajib dia lakukan, “Sudah cantik” berakhir dengan pujian untuk dirinya sendiri.

Sesekali bersenandung dalam perjalanannya sembari melirik kaca spionnya, satu hal favoritnya dari mobil hitamnya selain bercermin. Entah mengapa senyum itu selalu mengembang hanya karena melirik benda seperti telinga itu di mobilnya. Bukan, bukan spion yang menjadi daya tariknya, melainkan benda berwarna kuning cerah berukuran sebesar tutup botol itulah yang membuatnya tak bisa berpaling dari sisi kirinya. Stiker berbentuk ayam itu bagaikan penyemangatnya, meskipun kenyataannya hidupnya sekarang sedang tidak baik-baik saja.

Kejadian setahun lalu masih belum luntur dari ingatan Rin, peristiwa yang membuatnya menjalani kehidupan dibalik topeng senyumnya. Takdir yang tuhan gariskan untuknya seakan memporak porandakan rencana yang sudah ia tulis rapi dalam bucket list nya, mencoreng satu persatu kalimat yang tertera diatasnya.

Hari itu ia berencana memberikan kejutan untuk kekasihnya, senyum menggiring langkah kakinya menuju toko kue langganannya, memesan beberapa cup cake bertuliskan ‘happy birthday’, menancapkan lilin dengan angka 26 disana, tak lupa memberikan figure berbentuk anak ayam kesukaannya.

Mobil hitam itu memelankan lajunya ketika melintasi kawasan elite tempat tinggal kekasihnya, matanya tak berhenti mengawasi sekitar, menengok kanan kiri berharap pangeran tampannya itu tidak sedang keluar dan memergokinya berada di daerahnya. Namun indera penglihatannya menajam ketika mobil merah di depannya mendadak berhenti. Dapat ia lihat kerumunan orang disana, polisi sibuk dengan telepon genggamnya, beberapa ada yang mengamankan lokasi kejadian.

“Selamat siang nona, maaf untuk sementara anda tidak bisa melewati jalan ini, sedang terjadi kecelakaan mobil di depan. Anda bisa memutar melalui jalan lain. Terimakasih”

Rin menganggukkan kepalanya, menutup kembali kaca mobilnya, ingin melanjutkan perjalanan. Mengamati jalanan di sekitar mobilnya sudah mulai sepi. Mendadak ada perasaan aneh menjalar ke hatinya, seperti ada yang menariknya untuk mendekati kerumunan massa di depannya. Bimbang untuk beberapa saat, memantapkan hati melangkah perlahan. Dilihatnya seseorang tergeletak dengan darah segar mengalir dari belakang kepalanya. Seketika tubuhnya membeku melihat sosok yang tertidur di tengah jalan itu, mata indahnya tidak bisa lagi berhenti mengeluarkan liquid bening yang membasahi dres pink yang ia kenakan. Kabut tebal seolah menggelapkan matanya, sebelum kegelapan mendominasi penglihatannya. Samar-samar indera pendengarannya menangkap suara teriakan memanggil namanya berpadu dengan sirine ambulance yang memekakkan telinga.

Bayangan itu seolah tak pernah lelah menghantuinya, kejadian itu sudah sangat lama tetapi ingatan Rin begitu kuat. Memikirkan masa lalu membuatnya lupa tujuan utamanya datang ke tempat ini.

Di depannya sekarang berdiri kokoh bangunan bercat serba putih, bau obat-obatan menyengat sampai puncak hidungnya, suara bersahutan petugas medis membuat kepalanya pening sesaat.

Menghiraukan kesibukan di depannya, ia memilih untuk beranjak menuju tempat kekasihnya, menekan angka 12 ketika ia memasuki lift.

“Ting”

Pintu lift terbuka, penampakan pintu bercat coklat itu memenuhi pandangannya.

‘Room 9 VVIP: Tn. Jessen Kim’

 

Hati Rin seakan berontak melihat tulisan yang tertempel di depan pintu, antara amarah dan kesedihannya berperang menimbulkan tetesan air mata yang berlomba turun dari pelupuk matanya.

Menghembuskan napas sesaat sebelum tangan kirinya memutar gagang pintu di depannya.

“Jes aku datang”

“Kau sudah makan?”

“Mau makan bersama?”

“Aku masih lapar, tadi aku terburu-buru kesini, jadi belum sempat sarapan” Bohong.

Nyatanya tadi ia menelan habis roti buatan ibunya dan menegak susu di meja makannya sampai tandas.

“Hei, kau bisu ya? Jawab aku!”

Tersenyum. Saat ini yang bisa ia lakukan hanya tersenyum dengan diiringi isakan kecil dari bibirnya.

“Cepatlah sadar, kau tidak merindukanku?” suara lirih itu mengalun bagai musik klasik dalam ruangan sunyi, tak ada yang menyahuti.

“Aku merindukanmu Rin”

Selalu seperti itu, bertanya dan dijawab sendiri, seperti orang gila. Rin tidak peduli akan hal itu, ia akan selalu melakukannya sampai mata itu terbuka dan bisa menjawab pertanyaan darinya.

 

 

 

 

 

 

***

Siang itu terik matahari tak dapat diindahkan dari jangkauan. Menurut Rin musim panas selalu membuatnya kesusahan. Dia benci musim panas. Disaat orang-orang menunggu kedatangan musim ini, justru Rin sebaliknya. Dia tak pernah suka matahari yang terlalu terik seakan menertawakan kebodohannya. Terkadang memang dia merasa seperti orang yang sedang berjuang sia-sia. Inginnya melupakan dan memulai dari awal, menata hidupnya kembali perlahan. Tapi dia tidak pernah melakukannya. Dia tidak bisa, hatinya sudah beku, pikirannya terfokus hanya pada satu orang. Kekasihnya, Jessen Kim.

Hari ini seperti biasa, ia pergi ke kedai dekat kampusnya untuk membeli minuman kesukaannya.

“One matcha latte please!”

Sambil menunggu pesanannya, dia berjalan perlahan menuju meja kesukaannya. Meja nomor 9. Letaknya di dekat jendela. Dia sangat suka duduk disana, seperti bisa melihat seluruh dunia. Melihat semua aktifitas di luar sana. Melihat senyum indah setiap orang yang melewati kedai.

“Kamsahamnida”

Maniknya berbinar melihat minuman yang dia pesan sudah tersaji di meja bulat itu. Menyesapnya perlahan, menikmatinya penuh perasaan.

“Manisnya”

Rin merogoh tasnya mencari benda tipis persegi panjang yang selalu menemani harinya. Ponselnya. Dahinya berkerut ketika melihat layar pipih itu. 3 panggilan dari rumah sakit, 11 panggilan dari ibunya. Tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan ada panggilan masuk, itu nomor ibunya.

“Halo mom, ada apa?”

Tanpa aba-aba dia langsung berlari meninggalkan kedai setelah mendengar jawaban ibunya. Memasukkan kunci dengan tergesa-gesa, mengendarai mobilnya dengan kacau, berkali-kali terdengar suara klakson bersahutan. Rin tak peduli, yang ada dipikirannya saat ini adalah dia harus segera sampai rumah sakit.

Panggilan ibunya yang dia dapatkan saat di kedai adalah berita buruk. Perasaannya mengatakan demikian, akan terjadi hal buruk setelah ini.

Memarkirkan mobilnya secara asal, Rin berlari sekuat tenaga, menekan berkali-kali tombol lift, kesabarannya mulai habis ketika pintu lift tak kunjung terbuka. Segera ia langkahkan kakinya menuju tangga darurat. Rin tak peduli seberapa kali dia melangkah, berapa ribu anak tangga yang dipijakinya. Dia hanya ingin cepat melihat keadaan kekasihnya.

Rin terengah, napasnya tak beraturan, pikirannya kacau saat inderanya melihat banyak orang mengerumuni kamar rawat Jessen. Hatinya berkecamuk, pemikiran aneh menyelimuti otaknya.

“Mom, Eomma”

Suaranya sangat lirih, hampir tak terdengar. Ibu Jessen yang mendengar panggilan untuknya itu, segera merengkuh tubuh Rin yang hampir menyentuh lantai.

“Rin!”

Ibunya juga tak kalah khawatir melihat keadaan anaknya, wajah memerah yang penuh lelehan air mata bercampur keringat. Segera dipeluknya tubuh itu, bersamaan dengan ibu Jessen.

“Jessen, mana Jessen mom?”

“Eomma, mana putra eomma yang nakal itu? Hukum Jessen setelah ini eomma, Jessen udah bohong sama Rin”

Satu persatu orang berpakaian putih keluar dari ruangan. Kim Hyun. Ayah Jessen segera bangkit dari duduknya, menghampiri seorang dokter yang keluar dari ruangan puteranya itu.

“Bagaimana?”

Tak ada jawaban yang keluar, hanya sebuah gelengan dan senyum kesedihan serta tepukan menenangkan di pundak tuan Kim.

Rin yang melihat hal itu segera berlari menerobos masuk ke ruangan kekasihnya. Tak ada yang menarik, hanya kain putih yang menutupi sosok itu. Tangisannya semakin menjadi, tangannya menyibak kain itu, menggoyang-goyangkan dengan brutal sosok kaku dihadapannya.

“Bangun! Hei bangun pemalas!”

Rin tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya, hatinya belum terima dengan kenyataan didepannya.

“Bukan, ini bukan Jessen”

“Rin”

“Bukan mom, Jessen pasti bangun kalau aku goyang-goyang badannya kayak tadi, tapi itu enggak”

“Itu bukan Jessen mom, bukan eomma”

“Aku akan susulin Jessen, dia pasti di rumah, jam segini dia biasanya sedang membaca buku”

Rin berlari meninggalkan rumah sakit, berkali-kali menabrak orang disekitarnya. Ibunya menyusulnya dari belakang, raut khawatir itu belum juga menghilang dari wajah cantiknya.

Kacau. Itulah yang tergambar saat ini. Rin terus berlari tanpa arah, bukannya menuju mobilnya seperti tujuannya sejak awal. Tetapi langkahnya mendekati jalanan yang ramai dengan lalu lalang kendaraan.

“Rin! Awas!”

Seruan itu bagaikan bisikan baginya ketika dia sadar tubuhnya sudah tergeletak di tengah jalan bermandikan darah. Perlahan mata indah itu tertutup dengan seulas senyum yang menghiasi bibir pucatnya.

“Jessen, aku pasti akan jemput kamu”

“Aku janji”

Jalanan Seoul kali ini benar-benar ramai, suara teriakan menggema. Derap langkah petugas medis bersahutan. Orang-orang meninggalkan kendaraannya demi melihat kejadian miris itu. Sirine polisi memekakkan telinga. Mengamankan lalu lintas. Suara orang terdengar sayup-sayup menambah ramai keadaan.

Seseorang itu telah terbujur kaku di tempatnya berbaring saat ini. Apakah ini akhir yang sebenarnya?

Jessen dan Rin, bukan cinta yang menyatukan mereka, tapi kematian.

Lantai 12 room 9, Seoul Hospital, serta ramainya jalanan Seoul turut menjadi saksinya.

 

-END –

 

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s