[#EXOFFIMVT2019] LUCKY GREEN BUTTON – Rizka Oktaviani

LUCKY GREEN BUTTON

Rizka Oktaviani

 

Mata Sun Hee melebar, menatap lekat layar ponselnya. Muncul sebuah notifikasi e-mail. Awalnya sebuah senyum terpancar, tetapi selang beberapa detik napas berat keluar dari mulutnya. “Ah, sudah kuduga. Ditolak.”

Perempuan itu melanjutkan langkah setelah memasukkan ponsel hitamnya ke dalam tas. Ini sudah terhitung enam kali sejak percobaan pertama Sun Hee melamar kerja sebagai editor freelance. Jawaban yang didapatnya selalu masih sama, tak jauh-jauh dari unsur penolakan.

“Tumben kau datang lebih awal, Sun Hee—ya[1]?” tanya seseorang yang sebelumnya melirik Sun Hee, dengan tangan sibuk menata minuman kaleng di lemari pendingin. Lalu ia mengalihkan pandangan ke arah jam dinding. “Oh, sudah jam lima kurang lima menit ternyata. Aku kira masih setengah jam lagi pergantian shift-nya.”

Sun Hee tertawa kecil. “Kau hanya terlalu menikmati pekerjaanmu, Eun Kyung—ssi[2]. Jika saja ada penghargaan pegawai minimarket teladan, pasti kau langsung mendapatkannya.”

“Cih, pegawai teladan pantatmu!” Perempuan itu kemudian berdiri. “Ngomong-ngomong ini minggu terakhirku, aku sudah dapat pekerjaan tak jauh dari rumah,” ungkap Eun Kyung dengan wajah berseri.

“Wah, selamat eonni[3]! Orangtuamu pasti bangga.” Dengan tulus Sun Hee menyelamati. “Aku juga masih berusaha. Mungkin di percobaan ke tujuh nanti, atau… ke tujuh puluh, mungkin?”

Eun Kyung yang sudah berada di samping Sun Hee menepuk pelan bahunya. “Tak apa Sun Hee—ya, keajaiban akan selalu datang pada orang-orang yang mau berusaha. Kau masih aktif menulis, bukan?”

Sun Hee tersenyum tipis, mengusap tengkuknya. “Memang masih, tetapi aku tidak yakin tulisanku sudah ada peningkatan. Mungkin karena itu para penerbit belum mau menerimaku.”

Entah sejak kapan Jung Sun Hee tertarik pada dunia kepenulisan, yang jelas ia begitu ingin menjadi seorang editor. Membaca, meneliti naskah, membenarkan kaidah penulisan, merapikan tulisan, semua hal itu menurutnya menyenangkan. Hampir setiap akhir pekan ia mengunggah karyanya di sebuah platform kepenulisan online, baik itu cerita pendek maupun bersambung. Sesering mungkin ia melatih tulisannya, berharap menjadi semakin baik. Usahanya pun membuahkan hasil, salah satu karyanya diterbitkan. Meskipun tidak terbit di penerbit besar akan tetapi sudah menjadi awal yang bagus, bukan?

Namun, nyatanya bukan itu yang Sun Hee harapkan, bukan menjadi seorang penulis sekedar mau tenar. Impiannya tak berubah, tetap ingin menjadi editor di sebuah kantor penerbitan. Dan karena ia masih kuliah, angannya harus ia tahan dengan menjajal mendaftarkan diri sebagai editor freelance terlebih dahulu, mengingat masih ada dua semester lagi yang harus dilaluinya.

Melihat perempuan yang lebih muda darinya itu menekuk wajah, Eun Kyung meraih satu tangan Sun Hee, meangkupnya dan mengayunkan ke udara. “Semangatlah, uri[4] Sun Hee!”

***

Cahaya langit sudah meredup tatkala seorang pelanggan masuk dan mengitari minimarket yang Sun Hee jaga sebanyak dua kali—oh, hampir tiga kali ini malah. Sosok tinggi itu terlihat kebingungan. Matanya seperti mencari sesuatu, tetapi tak kunjung diperolehnya.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Sun Hee sopan.

“Aku mencari… apa, ya, tadi?” Lelaki itu mengusak kasar wajahnya. “Ah, bagaimana aku bisa lupa?”

Sun Hee yang melihat kebingungan lelaki itu mengerutkan dahi. “Mungkin… Anda lapar, Tuan?” tanyanya hati-hati.

“Bukan, aku tidak mencari makanan. Aku… tunggu—sepertinya kau tak asing, kita saling mengenal?” sergah lelaki itu mendekatkan wajahnya pada Sun Hee. Tiba-tiba ia menepuk dahi. “Maja[5]! Kau Sun Hee, benar? Temannya Hee Young. Aku Jae Yong, Kim Jae Yong, sepupunya. Kita pernah bertemu di pesta ulang tahun si cerewet itu.”

Mencoba mengingat, Sun Hee meringis. Ia tidak berhasil mengembalikan ingatan apapun di pesta ulang tahun teman satu departemennya yang sudah diadakan tiga bulan lalu itu. “Terima kasih sudah mengingatku.” Sun Hee membungkuk. “Senang bertemu denganmu Jae Yong—ssi!”

“Tidak perlu terlalu formal. Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi. Sebulan setelah pesta itu Hee Young sempat memberitahuku jika kau menerbitkan sebuah buku dan aku tertarik untuk membacanya. Kurasa… ide ceritamu itu cukup luar biasa.”

“Be—benarkah? Anda sudah membacanya? Sampai selesai?” berondong Sun Hee dengan tatapan tak meyangka.

Jae Yong mengangguk kecil, kemudian mengeluarkan dompetnya dari saku. Ia menarik sebuah kertas kecil berwarna krem dari sela-sela benda berbahan kulit sintetis itu. “Siapa tahu kau ingin bekerja sama dalam penerbitan buku keduamu,” ucap lelaki itu dengan senyum lebar. “Kau bisa langsung menghubungiku.”

Sun Hee menelan ludah kasar. Matanya mengerjap tak percaya mendapati dua kata yang tercetak tebal dalam kartu pengenal yang Jae Yong berikan. Haneul Publisher. Salah satu penerbit yang terkenal bagus di Seoul. Sudah banyak buku terbitan dari sana yang ia baca. Termasuk karya penulis kesukaannya.

Ia pun bertanya, “A—apa kemungkinan aku bisa menerbitkan tulisanku di sini besar?” Sun Hee menahan napas.

“Bisa dipertimbangkan. Lagi pula aku juga sudah membaca bukumu, beberapa karakter memang masih membutuhkan pengembangan. Namun, secara keseluruhan tulisanmu sudah jjang[6] menurutku.” Jae Yong mengacungkan kedua jempol tangannya.

“Aku ingin bekerja di kantormu, Jae Yong—ssi. Apa bisa?”

“Jika kau ingin menjadi penulis kau tidak perlu bekerja di kantor, tinggal kirimkan saja naskah terbarumu dan aku akan—”

“Tidak! Bukan itu maksudku.” Sun Hee yang memangkas kalimat Jae Yong membuat lelaki itu menjengit. “A—apakah… ada lowongan untuk editor?”

***

Dengan langkah mantap Sun Hee memasuki gedung entah berlantai berapa itu. Netranya memancarkan cahaya takjub, ia berdecak dalam hati mengagumi apa yang sedang dilihatnya. Kini ia tengah menapakkan kaki di Haneul Publisher. Kantor penerbitan yang selama ini begitu ia idam-idamkan, hanya dengan membayangkan bisa berada di sini saja sudah bahagia, apalagi sekarang ia benar-benar di dalamnya. Hah, sungguh luar biasa!

Setelah menghampiri resepsionis di lobi dan menanyakan keberadaan lelaki yang ia temui beberapa hari lalu itu, Sun Hee masuk ke dalam lift untuk menuju ke lantai lima. Kurang dari semenit langkahnya terhenti begitu sampai di depan pintu bertuliskan Public Relations Manager, diikuti nama Kim Jae Yong di bawahnya.

“Dia orang penting ternyata,” gumam Sun Hee. Menarik napas dalam, ia mengeratkan pelukannya pada sebuah map yang berisikan dokumen-dokumen pribadi pentingnya dan beberapa naskah yang sudah ia cetak. Sun Hee telah berusaha memperbaiki tulisannya tiga hari belakangan, mencurahkan segala kemampuannya dengan lembur tiga malam demi hari ini.

Gamang, Sun Hee masih mengumpulkan keberanian untuk mengetuk pintu. Namun, saat dirasa sudah siap, pintu itu tiba-tiba justru terbuka dan menampilkan Jae Yong yang sama terkejutnya seperti perempuan itu.

“Oh, kau sudah datang? Aku baru akan menjemputmu di depan kalau-kalau kau tersesat. Masuklah dan duduk, aku akan ke luar sebentar.” Pintu ruangan pun ditutup dari luar. Sementara Sun Hee mencoba menyamankan diri di sofa abu-abu tua di sudut ruangan.

Teringat sesuatu, Sun Hee tersenyum, ia merogoh sesuatu dari saku jasnya. “Eun Kyung eonni benar, kancing ini memang ajaib.”

“Ambil ini.”

“Kancing baju?” Sun Hee merengut. Untuk apa Eun Kyung memberinya itu?

“Percaya atau tidak, ada sesuatu yang besar di balik benda kecil ini,” jelas perempuan itu meyakinkan Sun Hee. “Sugesti dirimu, akan ada hal baik menghampiri, dan keinginanmu akan terwujud sedikit demi sedikit.”

“Aku masih tidak paham, eonni?” rengek Sun Hee kemudian, tetapi Eun Kyung hanya membalasnya dengan dua sudut bibir yang terangkat ke atas.

Sembari menunggu Jae Yeong, kedua jari telunjuk dan jempolnya ia gerak-gerakkan, memainkan kancing kecil berwarna hijau tua itu, mengamatinya dengan tatapan penuh kebahagiaan. Sampai pada saat seseorang membuka pintu dengan kasar, Sun Hee tersentak dan kancing di tangannya meloncat jatuh ke kolong meja.

Andwae[7]!”

Jae Yong yang ternyata pelaku pembuka pintu itu ikut kaget karena pekikan Sun Hee. “Ada apa Sun Hee—ssi?” Ia yang sedang membawa beberapa bungkus makanan dan dua americano lantas meletakkan semua itu di meja.

“Uhm… itu… aku menjatuhkan sesuatu,” ujar perempuan itu ragu.

“Di sekitar sini?” Jae Yong mengulurkan kepalanya menelisik lantai bawah meja. “Maaf, pasti kau kaget karena aku membuka pintu terlalu kencang. Aku agak kesulitan tadi.”

Haruskah Sun Hee mengaku jika barangnya yang jatuh adalah sebuah kancing? Kancing yang bahkan tak berharga sama sekali, tetapi sudah ia anggap sebagai jimat keberuntungannya. Akankah terdengar konyol jika Jae Yong mendengarnya? Hah, apa yang harus ia lakukan?

“Sudah, tidak perlu dicari, itu bukan apa-apa.” Sun Hee memilih mengalah.

“Kau yakin? Jeritanmu menandakan jika benda itu sepertinya penting. Akan kucarikan terlebih dahulu.” Jae Yong kembali mengalihkan pandangannya, mengamati dengan lebih jeli.

Sun Hee merasa tak nyaman. “Sungguh, aku tak terlalu membutuhkannya. Lagi pula penjepit rambut seperti tadi ada banyak di toko,” sergahnya sembari memaksakan senyum. Ia terpaksa berbohong. Semoga tidak akan ada hal buruk terjadi.

***

Malam ini langit cerah. Banyak bintang terlihat bersinar, bekerlapan menghampar. Terlihat sedikit saja awan yang menutup beberapa bagian biru tua di atas sana. Embus angin pun tak terlalu kencang, sepoi, begitu sejuk. Ah, betapa indahnya suasana malam di musim semi.

Sayangnya, semua itu berbanding terbalik dengan keadaan hati Sun Hee saat ini. Ia meringkuk dalam balutan selimut tebalnya di atas ranjang. Bahunya bergetar kecil, menghabiskan sisa sesenggukannya yang masih ada. Menelengkan kepala, Sun Hee sadar jika bantalnya sudah sangat basah akibat air mata yang sejak berjam-jam lalu ia keluarkan.

Tangannya meraba atas nakas di samping ranjang, hingga ia meraih ponselnya. Segera Sun Hee melakukan panggilan dan selang agak lama barulah panggilan itu tersambung.

Ada apa Sun Hee—ya? Ini sudah hampir tengah malam dan kau belum—Yeoboseyo[8], Sun Hee, kau menangis?

Suara di seberang membuat perempuan di kasur itu kembali terisak. “Eonni.”

Dalam tangisannya, Sun Hee menceritakan segala yang telah ia alami pada Eun Kyung. Semua tanpa ada yang terlewat. Tidak ada selaan dari perempuan berusia dua tahun lebih tua dari Sun Hee itu, ia menyimak dengan seksama.

Eun Kyung sempat terhenyak karena jarang sekali adik tingkat satu fakultasnya itu menghubunginya kecuali membahas perihal pekerjaan atau tugas kuliah. Mereka tidak terhitung dekat-dekat amat, karenanya Eun Kyung merasa bersalah telah memberikan pengertian yang kurang tepat pada Sun Hee saat terakhir kali mereka bertemu sampai-sampai ia menjadi sesedih ini.

Saat di rasa Sun Hee sudah mulai tenang, mulailah Eun Kyung berbicara, “Jung Sun Hee, sepertinya aku telah salah memberitahumu. Maksudku menjadikan kancing itu sebagai jimat keberuntungan, agar kau bersemangat. Supaya kau tidak menyerah dengan impianmu. Bukan berkat kancing itu lantas kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan secara mudah. Tanpa usaha. Semua butuh proses, Sun Hee—ya. Buktinya walaupun kau tidak… uhm… memenuhi kualifikasi sebagai editor di penerbit itu, naskah yang kau ajukan langsung dijadikan pertimbangan, bukan? Siapa tahu mulai dari sanalah pintu masa depanmu mulai terkuak, sedikit demi sedikit.”

“Tapi eonni—”

Dengan atau tanpa kancing itu, semua yang sudah kau dapatkan hingga detik ini sejatinya adalah pemberian Tuhan, balasan yang Dia berikan atas setiap usahamu sendiri,” lanjut Eun Kyung. “Apa aku boleh memberimu masukan?”

Sun Hee refleks mengangguk. “Dengan senang hati aku akan menerimanya.”

Penerbit besar seperti Haneul biasanya menangani berbagai macam naskah yang aku yakin editor-editornya juga bisa jadi cukup kewalahan menangani semua naskah itu. Kenapa tidak mencoba dekati saja salah satu dari mereka lalu meminta tolong padanya agar menjadikanmu asisten secara freelance? Tidak buruk untuk dicoba.”

“Apa bisa seperti itu, eonni?” tanya Sun Hee tak yakin.

Terdengar Eun Kyung tertawa kecil. Ia bukan mengejek, melainkan mencoba menghibur dan meyakinkan Sun Hee. “Dimulai dari yang kecil dulu saja. Tidak ada proses yang instan. Kau juga bisa meminta bantuan si Jae Yong itu, kan? Ah, aku jadi penasaran bagaimana rupanya. Apakah dia tampan?” goda Eun Kyung mengubah suasana. Menunggu Sun Hee yang tak kunjung menjawab, perempuan itu lantas berkata, “Dari diammu aku sepertinya bisa menebak, dia pasti lelaki tampan yang tak ingin kau kenalkan padaku. Kau pasti takut aku mengambilnya darimu.”

Sun Hee mendengus sebelum berucap, “Dasar sok tahu. Ambil saja sana! Lagi pula dia orangnya agak… aneh.” Dan anehnya muncul rona di pipi Sun Hee.

Kali ini tawa lepas yang Eun Kyung berikan. “Baiklah, aku tunggu kabar baik kalian—uhm… maksudku, kabar baik peluncuran bukumu yang selanjutnya, juga pekerjaanmu. Good luck, Sun Hee!”

 

 

Hebatnya, masa depan tak ada yang tahu, karena setahun setelah perilisan buku kedua Sun Hee beberapa bulan kemudian, impiannya tercapai. Sun Hee akhirnya menjadi seorang editor. Bukan tanpa usaha, ia belajar banyak hal dari pengalaman yang ia dapat. Juga satu hal penting, selalu memulai dari hal-hal kecil dan … never give up!

[1]Sufiks dalam Bahasa Korea yang digunakan untuk memanggil nama orang yang sederajat atau lebih rendah.

[2]Sufiks dalam Bahasa Korea yang digunakan kepada orang yang lebih tinggi derajatnya atau orang yang dihormati.

[3]Panggilan untuk kakak perempuan.

[4]Kata ganti kepemilikan –ku/ kita.

[5]Benar.

[6]Ungkapan untuk menyatakan seseorang itu keren atau hebat.

[7]Jangan!

[8]Halo.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s