[Oneshot] UNBELIEVEABLE

fiction by. bebhmuach

 

[EXO] Kim Jongin & [FX] Jung Soojung

Adult, Romance, Fluff (maybe?) || NC

 

WARNING!!

BAGI YG BELUM LEGAL MENGKONSUMSI RATING NC DIMOHON DENGAN SANGAT JANGAN BACA. JIKA BANDEL, SAYA SELAKU AUTHOR TIDAK BERTANGGUNG JAWAB ATAS APAPUN (apasih ini 😂😂)

 

~~~~~~~~~~~~0o0~~~~~~~~~~~~~

 

“Ya sudah kalo begitu, kita pacaran saja.”

Suara laki-laki itu menggetarkan telinga Jung Soojung. Kim Jongin, nama laki-laki itu, membuat jantungnya berhenti bekerja sepersekian detik.

“Ma–mana bisa begitu?”

“Lagipula semua orang juga mengira kita pacaran, kan ?”

Atmosfer pembicaraan mulai diselimuti kecanggungan kala Soojung diam untuk berapa belas detik lamanya.

“Sudah.” Tanpa pikir panjang Jongin mengalungkan lengannya di atas bahu si gadis. “Ikuti alur permainan saja.”

Permainan, katanya? Soojung membatin seraya membidik Jongin dengan tatapan tajam.

“Tidak mau.” Soojung buru-buru melepaskan rangkulan dan mundur selangkah untuk menghindar bila saja Jongin melakukan gerakan ulang yang sama. “Aku hanya akan pacaran dengan orang yang kusukai. Bukan karena terpaksa, apalagi denganmu. Pergi sana.”

Jongin tersenyum kecil memerhatikan kelakuan jenaka Soojung saat salah arah menuju pintu keluar ruang latihan. Gadis itu tidak pandai menyembunyikan rasa. Detik berikutnya Jongin mendapati sosok pemuda yang sudah berdiri di depan pintu.

“Hyung, kau sudah kembali.”

Jongin membetulkan letak topinya dan kembali menggerakkan tubuhnya mengikuti alunan musik.

“Kau sudah mendengar beritanya dari manajer?” tanya pemuda itu sambil melangkah masuk.

Jongin diam, dia fokus mengamati refleksi dirinya di depan cermin-cermin besar.

“Kau pasti sudah tidak waras, Kim Jongin.”

Satu decakan dikeluarkan oleh Jongin yang kini memutar tubuhnya berhadapan dengan Park Chanyeol.

“Ayolah, Hyung. Biar saja mereka yang atur. Aku tidak mau menjadi pemberontak.”

“Astaga, anak ini,” sambar Chanyeol yang hampir saja mendaratkan satu pukulan di atas kepala Jongin. “Kau kan tahu, mereka hanya mencari keuntungan. Jangan-jangan, kau ingin terkenal karena skandal, eoh? Kau akan membintangi sebuah film sebagai pemeran utama. Lakukan itu karena kemampuanmu.”

Jongin menghela napas dan lantas mendudukan diri di atas lantai. “Bagaimana, ya … aku hanya mengikuti alur permainan saja. Jika mereka ingin menjadikannya seperti sepasang kekasih–” Jongin menghentikan ucapannya sejenak, satu sudut bibirnya menjungkit. “–aku akan membuatnya menjadi kenyataan.”

Mendengarnya, Chanyeol mengerutkan kening. Ia lantas turut duduk di samping Jongin.

“Maksudmu?”

“Jung Soojung cantik, kan? Menurutku dia juga lucu, menggemaskan. Dia pintar dan–” Kedua bola mata Jongin bergulir untuk melirik Chanyeol yang dipenuhi kebingungan atau mungkin keanehan. “Kenapa wajahmu begitu, Hyung?”

“Apa otakmu baik-baik saja? Jika kau melakukannya, Soojunglah orang pertama yang tersakiti.” Nada suara Chanyeol berangsur meninggi. Ia pun memberi Jongin pelototan kesal.

Jongin menepuk-nepuk pelan bahu Chanyeol dan kembali membuatnya mengernyitkan dahi.

“Tenanglah, Hyung. Aku bukan pemuda seperti itu.”

Melihat Chanyeol masih memberikan tatapan tidak percaya, Jongin pun mengimbuhkan, “Aku sudah lama menyukai Soojung. Dan kumohon kau rahasiakan ini dari yang lain, ya.”

—–0o0—–

“Aku menyukaimu.”

Soojung merasakan ada desiran aneh menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Aku sudah lama memendam perasaan ini. Maukah kau menjadi pacarku?”

Tangan besar itu membawa jemari Soojung ke dalam genggamannya. Bibirnya melengkungkan senyuman dan tatapannya begitu teduh. Lantas membuat Soojung nyaris hilang akal.

“A-aku–”

Belum sempat Soojung melengkapi ucapannya, tiba-tiba pemuda di hadapannya itu membawa tubuh rampingnya ke dalam pelukan. Ia menenggelamkan kepalanya ke dalam tengkuk Soojung dan dapat menghidu aroma shampoo yang gadis itu gunakan.

“Aku sungguh-sungguh menyukaimu.”

Si gadis Jung merasa seluruh organ tubuhnya hilang fungsi. Bahkan ia tak menghindar ketika pemuda itu tahu-tahu mendekatkan wajahnya. Semua terjadi begitu cepat. Kedua bibir itu saling bertaut. Si pemuda mengecup lembut hingga berangsur mengeksplor seluruh isi mulut Soojung. Gadis itu menangkupkan satu tangannya pada pipi si pemuda. Ia hanya mengikuti alur, membiarkan pemuda itu menyelesaikan apa yang telah dimulai.

“Cut!”

Teriakan itu lantas membuat Soojung tersadar dan buru-buru melepaskan tautan. Disusul suara riuh tepuk tangan para kru yang juga merasa puas.

“Kalian berdua sangat cocok memerankan sepasang kekasih. Baiklah, kita lanjutkan besok.” Sutradara Lee pun mengacungkan kedua ibu jarinya ke udara.

“Kim Jongin, Jung Soojung, kalian hebat. Aku yakin, kita akan mendapat rating bagus kali ini.”

Keduanya pun menundukkan kepala seraya mengucapkan terima kasih pada asisten sutradara. Tak lupa pada semua kru film yang bertugas di sana.

Soojung pun melangkah pergi menuju ruang ganti, karena setelah ini ia akan bertemu Jessica di sebuah cáfe.

“Soojung-a.”

Suara itu nyaris membuat si empunya nama terlonjak kaget. Buru-buru Soojung menoleh.

Jongin.

“A–ada apa?” ucap Soojung dengan nada tinggi lantaran terhenyak.

Senyum kecil Jongin menguar sebelum ia menjawab. “Kau punya waktu hari ini?”

“Tidak,” jawab Soojung sekenanya dan beralih membuka pintu ruang ganti.

“Hanya sebentar.” Dengan sigap Jongin menahan lengan Soojung.

“Aku bilang tidak, ya tidak. Aku akan bertemu Jessica eonni.” Soojung melepaskan lengan Jongin dengan paksa. “Lagipula kalau orang-orang melihat kita jalan bersama lagi, mereka akan berpikir kalau rumor itu memang benar.”

Soojung memerhatikan Jongin yang terdiam. Tanpa ingin melanjutkan perdebatan lagi, ia kembali menekan gagang pintu.

“Hei!”

Itu teriakan Soojung sedetik setelah pintu terbuka beberapa mili.

“Kim Jongin, lepaskan!”

Jongin semakin mengeratkan genggamannya dengan senyum begitu lebar. Lain halnya Soojung, ia berusaha menampilkan senyum ‘baik-baik saja’ ketika beberapa pasang mata mulai menatap aneh ke arah mereka.

–0o0–

Soojung melotot tak percaya. Ia menyilangkan tangan di depan dada.

“Kenapa kau mengajakku kemari?”

Jongin mengibaskan tangan, tanda bahwa Soojung harus tenang.

“Duduklah.” Jongin menepuk-nepuk spasi kosong di sebelahnya dan lantas menyandarkan punggungnya di sofa. “Tinggallah di sini sebentar.”

Entah datang darimana, tiba-tiba terlintas pemikiran negatif di dalam kepala Soojung.

“Dasar pria mesum! Kau pasti mau berbuat macam-macam, kan?” Soojung memukul Jongin dengan bantal sofa bertubi-tubi hingga si pemuda mengerang kesakitan.

Buru-buru Jongin berdiri guna menghindar.

“Ya! Aku sedang menyelamatkanmu!” sergah Jongin dengan nada tinggi.

“Menyelamatkan?” Soojung kembali memukul Jongin. “Menyelamatkan apanya, eoh? Kau membawa gadis ke apartemen sepi seperti ini, apa namanya kalau bukan mesum?” Soojung setengah berteriak.

Jongin lekas meraih remote televisi yang tergeletak di atas meja. Ia menyalakan benda itu dan beberapa menit setelahnya Soojung diam mematung.

“Ap–apa-apan ini?”

“Tinggallah di sini sebentar. Nanti malam akan kuantarkan kau pulang.”

Jongin berjalan menuju pintu, meninggalkan Soojung yang masih mematung di depan televisi. Baru saja akan memulai langkah pertama setelah pintu terbuka, telinganya menangkap suara riuh dari arah bawah. Ia menilik sesaat dari balkon lantai empat, beruntung kedua bola matanya tidak jatuh bebas dari tempatnya. Jongin yang panik, buru-buru kembali masuk ke dalam apartemen.

Soojung yang kini duduk di sofa, menoleh ke arah Jongin. Terlihat sekali ekspresi panik Jongin dengan napasnya yang terengah-engah. Belum lagi tubuhnya yang bersandar pada pintu, mirip sekali seperti cicak yang sedang merayap di dinding.

“Di luar banyak sekali orang-orang berkumpul. Sial, bagaimana mereka bisa tahu tempat ini.”

Soojung kembali mengalihkan fokusnya pada layar televisi.

“Penggemar lebih akurat dibandingkan cenayang. Bahkan, jika ingin mereka bisa memprediksi warna pakaian dalam yang sekarang kau pakai,” ucap Soojung datar.

Sayangnya Soojung melewatkan ekspresi terkejut Jongin yang langsung menutupi bagian sensitif di bawah perutnya sedetik setelah kalimat itu diucapkan.

“Kau punya apa untuk dimakan?” Kedua mata Soojung kembali bergulir ke arah Jongin.

Si pemuda buru-buru merubah gayanya, ia menggaruk tengkuknya yang padahal tak gatal sama sekali. “Entahlah, aku akan melihatnya dulu di kulkas.”

Jongin lekas menuju dapur, namun dalam hitungan detik ia menelan kekecewaan.

“Hanya itu yang kau punya?”

Tiba-tiba presensi Soojung sudah berada di belakang Jongin. Mencibir lemari pendingin Jongin yang hanya terisi oleh beberapa kaleng bir saja. Si pemuda mendengus sebal.

“Memang, apa yang kau harapkan pada apartemen yang jarang ditempati lantaran si pemilik harus tinggal di dorm?” Jongin memasang wajah manis dengan nada suara lembut yang dibuat-buat. “Sudah. Kita delivery order saja.”

Secepat kilat, Soojung langsung merebut ponsel yang berada di tangan Jongin.

“Kita pergi ke mini market dekat sini saja.”

“Apa kau tuli? Aku kan sudah bilang, di luar banyak or—”

Kalimat Jongin seketika berhenti kala Soojung memakaikan masker pada wajahnya. Ia menelan segumpal air ludah dengan kikuk. Dalam jarak sedekat ini, Jongin baru mengamini kata ‘cantik’ memang pantas disematkan pada Jung Soojung. Pantas saja para penggemar di luar sana banyak memuja dan memujinya. Kedua mata Jongin masih terperangkap diam menilik tiap lekuk wajah Soojung yang begitu memesonakan.

“Kau kenapa?”

Tanya Soojung mengembalikan Jongin dari alam bawah sadarnya. Pemuda itu berdeham-deham kecil sebelum berujar, “Ayo.”

Ternyata, bukan hanya Soojung yang tidak pandai menyembunyikan rasa, Jongin pun demikian. Ia terus berdeham-deham kecil hingga pintu terbuka. Sementara kedua belah bibir Soojung membentuk senyuman selama memerhatikan gerak-gerik Jongin.

“Semua ini gara-gara kau!”

Kedua bola mata Jongin terarah pada telunjuk Soojung yang berada tepat pada ujung hidungnya. Soojung sudah sedari tadi meracau; mulai dari bicara cinta pertamanya, bahkan kekesalannya pada Jessica, dan menyalahkan Jongin atas kesialan yang sedang menimpanya.

“Kau tidak tahu kan, bagaimana sulitnya aku menjadi seperti saat ini?” Bibir merahnya menekuk sedih.

“Kau sudah tiga kali memberi tahuku,” jawab Jongin setengah kesal.

Lain kali, Jongin tidak akan mengajak Soojung untuk minum alkohol. Soojung dan alkohol bukan kolaborasi yang baik. Belum habis kaleng ketiganya diminum, gadis itu sudah terlihat abnormal.

Soojung sudah menghindari alkohol sejak lama, bahkan dia hanya akan minum cola jika berada di klub. Tapi pengecualian untuk hari ini, Soojung membutuhkan lebih dari sekedar minuman berkarbonasi untuk menenangkan isi kepalanya yang sudah menyerupai benang kusut.

Soojung adalah seorang anggota girlband terkenal di Korea Selatan. Selain pandai menyanyi dan menari, ia juga piawai berakting. Sudah banyak judul film dan drama seri yang dibintanginya dan mendapat rating bagus. Sementara Jongin adalah adik tingkatnya di management artis yang sama dengannya. Tak jauh beda dengannya, Jongin seorang anggota boyband yang tengah digilai para gadis se-Korea Selatan. Ia baru akan memulai debutnya menjadi aktor dalam sebuah drama seri, yang juga dibintangi Soojung sebagai tokoh utama wanitanya. Namun—baik Jongin dan juga Soojung—tidak mengira jika dewi fortuna memberikan hukuman kali ini.

Bermula, selepas seluruh artis management menggelar konser di sebuah gedung yang letaknya tidak begitu jauh dari apartemen Soojung. Mereka semua diberi ijin ‘bebas’ dan kembali lagi ke dorm esok lusanya. Secara kebetulan, Jongin yang akan pulang mengendarai mobil barunya (ya, bagian itu tidak boleh di-skip, Jongin benar-benar ingin kalian tahu jika sekarang ia memiliki SIM sekaligus mobil impiannya) menawari Soojung untuk pulang bersama. Sebenarnya sih, hanya tawaran biasa, namun jika pemuda itu boleh jujur ia benar-benar senang bisa mengantarkan Soojung pulang.

Jongin sudah lama menaruh hati pada Soojung, lantaran gadis itu sangat baik pada adik-adik tingkatannya. Bukan berarti yang lain tidak peduli, hanya saja di mata Jongin, Jung Soojung memiliki aura yang unik sekaligus intimidatif. Saat gadis itu tersenyum, entah mengapa seperti ada banyak kilauan cahaya yang mengelilinginya.

Malam itu pula dunia keduanya seperti runtuh. Wartawan dari berita gosip mendapatkan foto Jongin dan Soojung saat di parkiran apartemen Soojung. Terlihat Jongin membantu Soojung membawakan barang dan keduanya yang masuk ke dalam lift.

Dalam hitungan detik, nama mereka mulai menjadi headline berita-berita gosip. Keadaan itu dimanfaatkan oleh management untuk mendongkrak naik popularitas. Apalagi, banyak penggemar yang senang memasangkan mereka menjadi sepasang kekasih.

Yah, semacam ‘dream come true’ para penggemar yang mencintai mereka.

“Aku harus berdebat dengan ayahku demi meraih impianku. Ini kerja kerasku. Sekarang … hanya sekali tepuk, kau menghancurkan semua yang telah kubangun.” Isak tangis Soojung pun menguar, namun terdengar dibuat-buat.

Gadis itu menempelkan dahinya di atas meja, masih dengan racauan yang lebih mirip kicauan burung.

Tapi di sini, bukan hanya Soojung yang bekerja keras. Jongin nyaris tak bisa menari lagi lantaran kakinya yang terkilir seusai latihan untuk konser tur dunia grupnya. Jongin bisa dua, bahkan tiga kali lipat berlatih menari dibandingkan teman-temannya yang lain karena dia sebagai lead dancer. Meski suaranya tak semerdu Baekhyun atau Jongdae—teman satu grupnya, sebagai main vocal—posisinya sama-sama penting.

“Kim Jongin!”

“Oh!” Jongin yang sedang meneguk birnya nyaris tersedak melihat kepala Soojung mendongak ke arahnya secara tiba-tiba.

Soojung bergerak mendekat, menumpukan bagian perutnya di atas meja guna mencapai Jongin.

“Kenapa kau beli benda ini?”

Jongin mendelik, sekonyong-konyong membuatnya refleks merebutnya—memastikan jika benda itu tidak akan terjatuh dan membanting harga dirinya hingga menembus belahan bumi. Ia mendengus kesal. Saat di mini market beberapa waktu lalu, tanpa sengaja Jongin ditabrak seorang pria. Kemungkinan yang akurat, kardus kecil persegi empat—kau bisa menyebutnya kondom jika kuasa—milik pria itu terjatuh ke dalam keranjangnya.

“Kau pria penuh persiapan rupanya.”

“Ya! Itu bukan milikku. Pria tadi yang menjatuhkannya,” sambar Jongin yang ditanggapi kekehan sarkastis Soojung setelahnya.

“Kau menggemaskan saat marah Kim Jongin.” Soojung mencubit gemas kedua pipi Jongin dan menarik paksa wajahnya agar mendekat pada si gadis. Tatapan mereka saling beradu, Jongin dengan napas tertahan mendadak kehilangan fungsi organ. Hening menjadi spasi beberapa detik lamanya hingga Soojung kembali buka suara. “Kau tampan juga. Kau mengajakku pacaran, bukan? Ayo, kita lakukan.”

Jongin berharap ia tidak terkena serangan jantung sekarang.

Pemuda itu mengecup singkat bibir Soojung, dan sukses membuat si gadis terkesiap. Meskipun bukan kali pertama Jongin mengecup bibirnya, lantaran mereka pernah melakukannya dalam beberapa adegan drama. Tetap saja, jantungnya berdebar-debar.

“Aku menyukaimu Jung Soojung.”

Sontak gelak membahana meluncur dari mulut Soojung. Dalam waktu singkat ia tertawa begitu terpingkal-pingkal. Melihat tindakan si gadis, Jongin merasa harga dirinya dibanting dan diinjak-injak hingga sama rata dengan tanah. Ingin mempertahankan kehormatan, ia segera bangkit dan mengunci tubuh Soojung di dalam pelukannya.

“Aku sungguh-sungguh.”

Saling memandang, Soojung menelan segumpal air ludah dengan kikuk. Kesadarannya tidak sepenuhnya diambil alih alkohol, kok. Dia bisa merasakan saat ini pelukan Jongin semakin mengerat. Hembusan napasnya menerpa sebagian wajah Soojung.

“A—ku tidak bisa bernapas,” gumam Soojung pelan.

Mendengarnya, membuat Jongin semakin mendekatkan tubuh ramping itu pada tubuhnya. Ia bisa merasakan sesuatu menekan dada bidangnya.

“Soojung–a.”

Si empunya nama mengerjapkan matanya berkali-kali, menunggu bibir Jongin kembali merapalkan kalimat lanjutannya.

“Aku mau kau memaafkan aku.”

“Ma–maaf untuk apa?” Kening gadis itu berkerut dengan binar mata yang melempar tanda tidak mengerti.

Tanpa pikir panjang Jongin melumat pelan bibir Soojung dengan penuh perasaan. Bahkan ia bisa memahami bagaimana rasa yang ingin Jongin sampaikan untuknya. Lama-kelamaan makin ia menuntut dan menelusupkan lidahnya untuk mengeksplorasi rongga mulut Soojung.

Si gadis tampak gugup dan kehabisan napas, tetapi juga menikmati hal ini. Jongin semakin ganas. Belum puas, pemuda itu pindah ke daerah yang lebih bawah. Soojung mendesah penuh kepuasan, lalu Jongin mendaratkan satu lagi kecupan di leher bawah gadis itu. Ia merebahkan pelan Soojung di atas karpet. Soojung tak menolak ataupun berontak ketika tangan kekar itu beranjak menuju kancing baju teratasnya.

Jongin tiba-tiba terdiam, ia perlahan melepaskan ciuman panasnya. Soojung sedikit terhenyak, melihat Jongin yang sengaja menjeda.

“A–aku … maaf.”

Jongin memalingkan wajahnya. Ia memejamkan matanya yang perih, menahan isakannya. Entahlah, Jongin merasa begitu tolol membuat Soojung—gadis yang disukainya—terlihat hina.

Soojung tersenyum lembut, menatap Jongin dan mendekapnya penuh hangat. Bukannya naif, sudah naluri jika berawal dari ciuman akan berakhir dengan kegiatan fisik yang lebih ekstrem. Soojung tahu itu, dan ia pun menginginkan Jongin.

“Aku … sudah lama menyukaimu. Kupikir, kau pemuda sombong dan pelit bicara. Ternyata, kau pemuda baik hati dan murah senyum.” Soojung mengusap lembut rambut Jongin. “Aku jatuh cinta tiap kali melihatmu menari. Seolah, tari dan musik adalah jiwamu. Aku jatuh cinta padamu Kim Jongin.”

“Sungguh?”

Soojung menatap lamat-lamat wajah Jongin. “Apa kau melihat kebohongan?”

Raut wajah Jongin sedikit menghitam ketika ia menilik ke arah Soojung yang tengah menutupi tawanya sebisa mungkin.

“Kenapa?”

“Oh, Kim Jongin. Kau ternyata benar-benar manis.”

Soojung gemas melihat ekspresi lucu Jongin yang mengerucutkan bibir meski wajahnya terlihan sendu.

“Dan kau sangat cantik.” Jongin memberi kecupan singkat di atas bibir si gadis.

Soojung segera menunduk malu akibat rayuan kecil Jongin. Tangan keduanya bertaut, berharap agar tak ada yang memisahkan mereka. Lantas kembali berciuman dengan penuh cinta.

“Aku harus membawamu ke tempat semestinya,” bisik Jongin seduktif.

Jongin menidurkan Soojung di atas tempat tidurnya. Perlahan membelai surai panjang gadisnya sembari tersenyum. Jongin mengawali dengan mengecup lembut pada kedua mata Soojung satu per satu, beralih ke hidung, begitu seterusnya hingga sampai di leher si gadis. Tangannya sembari bergerak membuka kancing kemeja gadis itu, pelan tapi pasti sampai akhirnya terbuka sempurna seluruhnya.

Soojung terengah-engah, jelas sekali ia sangat menikmati perlakuan Jongin padanya. Si pemuda sampai di titik sensitif pada dada gadisnya. Karena tak ada perlawanan, Jongin makin merasa bebas melakukan apapun sesuka hatinya. Ia dengan lihai lantas membuka bra yang membungkus payudara Soojung. Segera, satu tangannya sibuk meremas payudara Soojung yang berhasil membuatnya mengeluarkan desahan kecil. Mulutnya menghisap puting si gadis yang mulanya perlahan tapi lambat laun–hanya dalam hitungan detik–menjadi rakus.

Soojung menggelinjang, benar-benar Jongin membuatnya mabuk kepayang. Kedua tangan gadis itu meremas seprai kuat-kuat, membiarkan Jongin leluasa memanjakannya dengan cara nakal.

“Aku benar-benar tidak ingin berhenti.” Jongin tersenyum bak serigala yang sudah mendapatkan mangsanya.

Masih dengan terengah, Soojung mencoba menanggapi ucapan Jongin. “Jangan sampai membuatku berubah pikiran.”

Jongin mendecih senang mendengarnya.

Lagi-lagi bibir Jongin menciumi bagian tubuh atas Soojung, tangan lihainya kembali bekerja membuka celana jins panjang yang gadis itu kenakan. Jongin menaikkan satu alisnya kala Soojung sedikit mengangkat pinggulnya, memudahkannya untuk membuka celana itu.

“Aku suka itu.”

Kini hanya celana dalam yang menutupi bagain tubuh Soojung. Jongin menyeringai ke arah Soojung yang membuang muka, malu. Lekas-lekas Jongin pun membukanya dan kini menampilkan bagian kewanitaan Soojung. Tidak mau munafik dan karena naluri lelaki, ia dengan semangat menanggalkan seluruh pakaiannya.

Mereka kini sama-sama tak berbusana.

“Jung Soojung, aku tidak menyukaimu. Tapi aku mencintaimu,” bisik Jongin sedetik sebelum akhirnya meregangkan kedua paha Soojung.

Jongin lantas bergerak nakal; menjilat, bahkan sesekali mengisap kliroris vagina Soojung. Membuat gadis itu menggelinjang bak ulat bulu yang disemprot pestisida. Tidak sampai disitu, ia mulai memasukkan satu jari tengahnya ke dalam lubang vagina. Mengaduk-aduk dinding rahim Soojung dengan napsu. Tak lama, ditambahnya jari telunjuk dan kembali berputar-putar di dalam sana.

Soojung tak menyangka jika Jongin piawai dalam hal ini. Dua jarinya saja, sudah mampu membuatnya kewalahan. Sampai-sampai ia tak mampu membayangkan bagaimana jadinya jika kejantanan Jongin yang masuk ke dalam vaginanya.

Jongin tak dapat lagi membendung hasratnya. Ia menghentikan aksinya itu dan lantas menarik kedua paha Soojung mendekat ke arahnya. Kedua kaki kecil itu diangkat sejajar dengan perutnya. Terekspos sudah kewanitaan Soojung.

Setelahnya, ia perlahan memasukkan kejantanannya sedikit demi sedikit.

“Akh!” pekik Soojung tertahan kala benda tumpul itu tertanam sempurna di dalam tubuhnya.

“Kau milikku sekarang.”

Jongin mengecup singkat bibir tipis Soojung mencoba menyalurkan ketenangan pada gadis kecil dibawahnya. Jongin mulai menggerakkan pinggulnya pelan menciptakan sensasi hangat nan nikmat di dalam sana. Pemuda itu terus saja menekan semakin dalam, membuat Soojung tak henti mengeluarkan desahan-desahan yang malah menaikkan libidonya.

Soojung baru menyadari, rasanya begitu nikmat melakukannya bersama Jongin. Pikirannya melayang entah kemana, bahkan ia tak merasakan dingin kala angin membelai tubuhnya yang polos. Jongin benar-benar membawanya ke langit ketujuh.

“Egh!” Soojung meremas bantal disampingnya ketika si pemuda semakin mempercepat gerakannya.

Susah payah Soojung menahan desahan erotisnya, tetap saja gagal. Ia memekik keras saat Jongin kembali menghunjam dirinya.

“Jongin–a.” Dalam rima gerak teratur, Soojung secara intens memanggil namanya dengan lirih.

Seolah paham, pemuda itu menggesekkan satu ibu jarinya pada klitoris Soojung. Tentu saja, gadis itu menggeliat frustasi lantaran hampir sampai pada puncaknya lebih dulu.

Soojung merasakan ada rasa asing yang memenuhi vaginanya; sesuatu yang dingin dan perlahan menghangat menjalar hingga ujung kuku jari kakinya. Tiba-tiba ada rasa gatal menggelitik yang malah membuatnya mengeluarkan teriakan penuh rasa lega. Soojung bisa merasakan ada sesuatu yang hangat meleleh dari dalam vaginanya.

Tubuh Jongin melengkung memeluk Soojung. Gerakannya semakin cepat, menunjukkan rasa puncak yang akan segera diraihnya.

“Agh.” Jongin memenggelamkan wajahnya pada leher Soojung, meredam pekikannya sendiri.

Soojung mengalungkan kakinya menyilangi pinggul Jongin. Menyambut rengkuhan si pemuda, mengusap lembut punggung kekar Jongin. Hasratnya terlepas bebas membasahi kedua perut yang masih saling menyatu. Sebuah kehangatan asing memenuhi tubuh keduanya. Begitu menggelitik, tapi juga melegakan.

—0o0—

“Soojungku makin pandai menari.” Taemin membelai sayang rambut panjang Soojung.

Tanpa memerhatikan pemuda yang berada beberapa langkah darinya, Taemin tetap bersikap lembut–seperti biasanya.

“Soojungku, katamu?” Jongin lekas berjalan menuju sisi Soojung yang satunya.

“Iya, Soo-jung-ku.” Taemi memberikan penekanan di tiap pemenggalan katanya.

Berbeda dengan Soojung yang terkikik geli memerhatikan tingkah lucu kedua pemuda di kedua sisinya.

“Awas saja, kalau bicara seperti itu lagi.”

Jongin mengucapkannya sepenuh hati, membuat Taemin menatapnya heran.

“Memangnya kenapa?” Nada suara Taemin meninggi lantaran Jongin lebih dulu menaikkan volume suaranya.

“Dia Soojungku. Dia milikku. Dia kekasihku. Kau mengerti? Ke-ka-sih.”

Tak mau kalah dengan Taemin, Jongin pun memberi penekanan di tiap penggalan katanya.

“Apa? Kalian benar-berpacaran? Kukira itu hanya strategi pemasaran.”

Taemin menampilkan eksresi bingung. Begitupun semua teman satu agensi mereka yang berada di dalam ruangan sama.

Soojung tahu-tahu menggamit lengan Jongin dan menyandarkan kepalanya tanpa malu.

“Iya, kami pacaran,” ucap Soojung bangga disusul senyum kemenangan Jongin yang mengejek Taemin.

Siang ini, baik Soojung maupun Jongin membuat geger seluruh orang satu agensinya. Yah, meskipun berita mereka—yang awalnya hanya buatan media—sudah lebih dulu menggemparkan publik. Tapi setidaknya dari kejadian ini, keduanya bisa saling jujur mengungkapkan perasaan masing-masing. Indah, bukan?

End.

Gimana gaez menurut kalian? Maafkeun ya ini nc pertama yg kubuat. Trims yg sudah mampir😚😚

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s