[#EXOFFIMVT2019] A LITTLE DREAM OF SPRING – Rina B.

A LITTLE DREAM OF SPRING

Rina B.

Kakiku tanpa sadar bergetar di tempatnya, melihat PD[1] Ha yang sedang mendengarkan rekaman musik latar yang kubuat untuk drama tv terbaru.

“Belum,” katanya ringan.

Seriously! Ini sudah yang ketiga kali, ayolah PD Ha,” desakku.

“Aku juga berharap padamu. Pokoknya satu bulan lagi!” sembari menyerahkan pemutar lagu ke tanganku.

“Kau memang tidak mengerti klasik,” ledekku.

“Aish, orang ini, kau masih mau bekerja disini atau tidak? Tonton lagi referensi drama yang kuberikan. Ingat, satu bulan lagi itu waktumu.” sergahnya.

“Baiklah baiklah.”

Dengan berat hati aku keluar ruangannya. Lagi-lagi musikku ditolak. Minggu lalu,  alasannya musikku terlalu kaku. Minggu ini, musikku tidak memiliki perasaan, padahal sudah berulang kali kubaca dialog dan ceritanya.

Pulang ke Korea berarti menyerahkan semua kontrak kerja, konser tunggal dengan orkestra, dan ketenaranku di London sebagai komposer musik klasik. Demi kesembuhan Eomma[2], demi semangatnya melawan kanker payudara yang mulai melemahkan tubuhnya, demi bisa melihatku sebelum dia menyerah pada kondisi kesehatannya.

Setelah terbangun dari lamunanku tentang London, aku mulai bisa sedikit mengenal kembali Korea. Sedari perjalanan tadi, di halte, toko serba ada, dan di gedung milik PD Ha, lagu yang diputar hanyalah lagu kpop dan RnB. Seperti inikah selera lagu orang korea sekarang?

“Aaarrgh,, eh mianhamnida[3],” saat ku meninju udara, tanganku terselip di kabel earphone wanita yang duduk disampingku. Dia hanya menganggukan kepalanya dan mencoba memasang earphone ke handphone lagi.

Sesaat seperti kukenal lagu yang sempat terdengar dari speaker handphone miliknya. Iya, tidak salah lagi, suara Doris Day dengan lagunya “Dream a Little Dream of Me”.  Wanita itu seperti merasa terganggu mengetahui aku sedang memperhatikan penampilannya dari ujung sepatu hingga ujung rambutnya.

“Maaf, ada masalah apa?” tanyanya yang menyadarkanku dari memikirkan latar belakang wanita ini. Kenapa penumpang bis biasa bisa mengenali lagu Doris Day di belantara lagu Kpop dan RnB.

“Memangnya salah kalau aku mendengarkan lagu jazz klasik ini?” sergahnya lagi, seakan pertanyaan itu terbaca dari wajahku yang tercengang.

“Ah ani[4]. Doris Day?” tanyaku sambil menunjuk earphone.

Nde[5], anda tau juga?” kini matanya sedikit berbinar, mungkin karena dia merasa ada orang lain yang memiliki selera musik yang sama, yang sama-sama langkanya di kota Seoul ini.

Tak terpikirkan sama sekali, perempuan ini dengan fasih menyebutkan nama-nama penyanyi seperti Ella Fitzgerald, Betty Carter, Julie London, dan bahkan Anita O’Day beserta lagu-lagu terbaik yang mereka nyanyikan. Bahkan pertanyaanku mengenai drama korea juga dilahapnya karena dia pendengar Yirume. Kenapa tidak dari awal semesta memberiku keajaiban seperti ini. Dari sekian banyak orang yang kuajak diskusi tentang musik, mulai dari komposer lagu drama korea hingga penyanyi di sebuah club jazz, orang ini akan lebih bisa membantuku. Ya, aku yakin.

Aku menawarkan pertemuan kedua karena sepertinya dia sudah bersiap untuk turun dari bus. Aku masih membutuhkan banyak informasi terutama dari orang awam yang mengerti lagu sepertinya. Setelah aku meyakinkan bahwa aku di tengah menyusun musik latar untuk drama, aku menyebutkan nama dan memberikan nomor handphone. Dia hanya memberikan kartu nama yang berisi nomor kantor dan alamat email kantor. Kutebak, sepertinya seumuran denganku yang masih bisa dipanggil oppa[6] oleh anak-anak SMA.

Setelah wanita itu turun, kuperhatikan kartu namanya, Han Chun Ja, begitu yang tertulis di kartu. Seorang supervisor pengembangan produk di perusahaan pangan raksasa. Betapa otaknya bekerja sangat berat agar bisa menyeimbangkan antara bekerja di perusahaan besar dan menikmati lagu yang disebut-sebut sebagai lagu berat.

Di akhir pekan ini, Chun Ja setuju memberikanku masukan mengenai musik latar dan berjanji untuk tidak mebocorkan cerita yang ku bagikan. Pertemuan kami singkat. Lebih kepada Chun Ja menginterogasiku selama setengah jam. Setelah mendengar pengalamanku di London, alasanku pulang ke Korea, dan demo musik latar yang kubuat, dia menggelengkan kepala dengan pelan.

“Musikmu sudah bagus, tidak terlalu kaku, tapi…”

“Tapi apa?”

“Hambar,” jawabnya singkat.

“Selasa depan aku ada riset di Seogwipo[7], kau harus datang!” lanjutnya.

“Itu saja?” tanyaku.

“Selasa depan! Nanti aku share waktu dan lokasi persisnya,” jelasnya sembari beranjak dengan cuek, pergi meninggalkanku yang masih ragu dan curiga. Jangan-jangan dia sudah menjual cerita drama yang kubagikan, jangan – jangan dia berasal dari agency saingan PD Ha, bisa-bisa aku dipecatnya.

Seperti di sihir, Selasa pagi aku tetap terbang ke pulau Jeju, aku menyewa mobil, bahkan memesan hotel di daerah Seogwipo untuk menginap satu malam seperti yang Chun Ja sarankan. Ini gila.

Chun Ja mengajak untuk bertemu di sebuah kafe daerah Seogwipo, 2222 Soboridang-ro coffee shop. Langit disini lebih luas dibanding Seoul. Pemandangan yang langka apalagi dibandingkan dengan riuh dan kakunya gedung-gedung di London. Aku lupa bahwa Korea masih punya banyak tempat seperti ini.

Satu setengah jam perjalanan dari bandara ke kafe. Bau angin laut bercampur dengan aroma bunga jeruk yang berterbangan dari perkebunan jeruk milik warga mulai memasuki mobil begitu kuturunkan kaca jendela.

Sesampainya di depan kafe, yang kulihat dari parkiran berkerikil ini hanya rumah kotak putih dengan pintu coklat tua di tengahnya. Sepi. Hanya dua pot berisi batang pohon kering menyapaku dari luar. Namun saat aku masuk kedalam, nuansa rustic dengan kain linen putih, sofa putih, furniture kayu, dan bunga yang lagi-lagi kering membuatku merasa tidak berada di Korea. Untungnya bau jeruk yang tadi kuhirup diluar juga menyeruak di dalam kafe ini.

Chun Ja memanggilku dari kursinya disamping jendela kaca besar. Wanita itu memakai dress sebetis yang dibalut dengan jaket hangat cokelat membuatnya terlihat manis, ditambah rambutnya yang diikat kupu-kupu.

“Jadi kau akan membantuku atau tidak?” aku harus segera masuk ke inti masalahku sebelum dia meminta macam-macam.

“Tentu aku mau bantu, tapi kau harus menuruti apa yang aku minta, oke?” kali ini rona wajahnya lebih ceria dan ramah. Perasaanku bisa jadi benar, dia akan merayuku di sini.

“Makan dulu saja, kau akan butuh banyak tenaga, aku yang traktir,” katanya dengan bersemangat. Mencurigakan.

Sejurus kemudian kami sampai di lokasi berikutnya. Panti Jompo Seogwipo. Aku terpatung membaca papan alamat di atas pintu biru itu. Mungkin bisa jadi suara gagak sedang bergema sekarang. Han Chun Ja! Apa lagi yang dia rencanakan?

Lebih kaget lagi saat aku masuk ke aula, disitu ada Yirume, si master lagu drama. Dia dengan senang hati memberikan lagu-lagu drama dan lagu trot[8] yang membangkitkan suasana harabeoji[9] dan halmeoni[10] di aula ini. Chun Ja juga memaksaku memainkan lagu lewat keyboard yang tersedia di panggung. Baiklah ini waktunya memperkenalkan lagu klasik kepada mereka. Mereka pasti akan merasa tenang dan nyaman di masa-masa akhir hidupnya.

Tak se-tragis yang kubayangkan, hanya beberapa harabeoji yang tidur, namun ada banyak juga halmeoni dan harabeoji yang menikmati. Aku masih mendapatkan tepuk tangan yang meriah. Yirume juga bertepuk tangan dan tersenyum di pojokan sana, namun untukku itu sebuah seringai.

Seorang halmeoni menghampiriku ke panggung dan menggenggam tanganku, “Gomawoyo adeul[11], aku senang kau memainkan lagu itu, kau mengingatkanku pada suamiku, dia suka dan selalu memainkan lagu klasik untukku.”

“Kehormatan untukku juga Halmeoni,” menahan haru aku genggam juga tangannya.

“Sekarang mainkan saja lagu trot, kami sedang ingin bersenang-senang, hm,” pintanya setelah tangisannya mereda dan menepuk pundakku sambil tersenyum.

Suasana kembali meriah setelah kumainkan lagu trot dan lagu kpop yang kutau. Tanpa kusadari tubuhku bergerak mengikuti irama. Perasaan ini membuat dadaku hangat, dan wajahku lebih ringan untuk tersenyum dan tertawa bersama mereka. Bahkan Yirume membantuku untuk bernyanyi dan bergoyang bersama Chun Ja. Chun Ja, ah tariannya mirip orang yang radang sendi.

Lagi-lagi Chun Ja memerintahku, permintaan terakhir katanya. Dia memintaku untuk menemaninya berjalan dan bersantai di tepi pantai dekat panti tadi. Hari mulai gelap, dan kali ini justru aku yang akan memerintahnya.

“Coba mana daftar lagu di handphone mu!”

“Kamu mau mendengarnya? Berani?”

Aku ingin tau lagu-lagu yang didengar Chun Ja. Dengan dua set earphone dan satu headphone splitter[12] kami mendengarkan lagu-lagu itu, mulai dari Frank Synatra yang seru dengan lagu “L.O.V.E”, kemudian Doris Day dengan “Fly Me to the Moon” lalu – apa ini! “Love Foolosophy” dari Jamiroquai?

“Lihat apa? Kau mau menghakimiku lagi? Sudah bergerak saja,” yang dilanjutkannya dengan bergoyang mengikuti irama funk. Chun Ja menarikku berdiri untuk menikmati iramanya, aku hanya bergerak sekenanya. Tanpa sadar bibirkku tertarik ke tiap sudutnya.

“Kau masih punya orang tua kan?” Chun ja memainkan botol minuman ditangannya dengan lagu Doris Day masih bermain pelan di kuping kami.

Nde, namun eomma sedang sakit sekarang.”

“Bersyukurlah kau masih bertemu mereka, berbaktilah, selagi kau punya waktu,” katanya dengan senyum dipaksakan, “Pada mereka lah sekarang aku berbakti, meminta mereka untuk mendoakanku. Dua tahun setelah kedua orang tua ku meninggal, aku sempat berpikir untuk.. tapii,, sekarang aku punya mereka.” seraya menghadap ke arah gedung panti.

“Tapi sekarang aku tau. Ada orang yang lebih menyedihkan, tak punya cinta, tak punya perasaan, dan hambar. Orang itu adalah kau, hahaha,” lanjutnya.

Sial, masih bisa dia menghinaku.

“Tertawa kau sekarang, tertawalah yang puas, senang kau, hm, senang?”

“Jadi bagaimana musikku?” tanyaku.

“Kau akan tau caranya di rumahmu sepulang dari sini.”

*

Sore itu dirumah hanya aku berdua dengan Eomma. Minggu ini kesehatannya membaik, sel-sel kanker itu mulai berkurang kata dokter.  Aku mengecek sebentar kekamarnya, dan mendapati dia sedang menikmati drama korea baru di tv.

Aku mendekatinya dan duduk disampingnya.

“Oemma, apa oemma bahagia aku pulang?”.

Dengan senyum, eomma memintaku mengambil album foto di laci dibawah tv. Dia menyuruhku rebah disampingnya, sambil membuka foto-foto yang ada. Eomma dengan semangat menceritakan masa kecilku, saat kakak jail dengan selang air, saat ulang tahunku di sebuah restoran, dan eomma berhenti di salah satu foto.

Aku ingat ini foto saat ulang tahunku yang kesebelas. Saat eomma membagi dua tiap rasa donat yang di beli agar anaknya dapat merasakan rasa yang sama, jadi tidak perlu membelinya banyak-banyak. Keuangan kami saat itu pas-pasan namun makan hanya dengan tofu jigae sudah membuat kami bahagia.

“Aku merasa bisa hidup dua puluh tahun lagi saat kau dan kakakmu ada di sini, kalian berdua adalah manusia terbaik untukku” dia membelai kepalaku.

Eomma, apa Eomma masih kuat untuk memasakanku tofu jiggae[13]?”

“Tentu Adeul, aku masih sehat, ayo.”

Rasa ini yang aku rindu dari Korea, yang tak pernah aku temui selama di London. Rasa sup yang bercampur asin air mata. Rasa cinta eomma padaku dan hyung[14]. Rasa Cinta ku yang hampir pudar karena karir. Oemma, hiduplah lebih lama lagi untukku, temui dulu cucumu nanti ya.

Setelah tofu jiggae yang bisa membuatku menangis, aku berdiam diri di studio musik. Kubaca ulang dialog dan story board untuk drama bulan ini. Dikepalaku mulai mendayu musik sendu saat kubacavadegan sedih, musik jenaka sedikit jazzy dari adegan yang kocak, dan sedikit irama Doris Day saat adegan cinta.

Tiga hari aku mengendap di studio. Aku keluar studio hanya untuk ke toilet. Eomma dengan siap membawakanku makanan di setiap jam makan dan cemilan kesukaanku saat kecil. Chun Ja menyemangati lewat telpon dan pesan singkatnya. Hyung, dia membantuku dengan bentakannya agar aku tetap fokus dan terjaga.

*

“Chukha hamnida!” Suara itu mengagetkanku dari belakang. Perempuan yang membantuku menemui irama dari hati. Perempuan itu yang memiliki selera musik paling beragam. Perempuan itu yang…

Oppa perkenalkan ini Jasper Lee, komposer musik yang pernah kuceritakan. Jasper perkenalkan ini tunanganku.”

“Jun Song Hyuk, selamat atas musik dramamu, musik yang sangat apik,” kata pria itu.

Aku tertawa hingga Chun Ja keheranan.

“Hahahaha,, ne, ne, khamsahamnida[15]”.

Tidak, aku tidak cemburu, namun hanya sedikit tak menyangka, wanita seperti Chun Ja masih ada yang mau dengannya. Dia memang membantuku mengenal cinta sebenarnya, menemukan keajaiban dari doa Eomma, dia yang namanya ada di salah satu judul musik latarku, “Spring Time”, tapi jatuh cinta padanya bukan salah satu yang kurasakan. Dia membantuku jatuh cinta pada kemanusiaan.

“Tuan Lee, saya dari kantor berita CBS, boleh saya mewawancarai anda mengenai drama ini?”

Cantik. Dadaku panas, seperti ada yang turun dari jantung ke kaki.

“Boleh, Siapa tadi namanya?” kusambut tangannya dengan senyum.

“Kim Yeo Reum, aku suka salah satu lagu anda, yang seperti nama saya”.

Oh, Yeoreum[16] datang lebih cepat untukku.

 

[1] Produser

[2] Korea: Mama

[3] Korea: maaf

[4] Korea: Tidak.

[5] Korea: Ya.

[6] Korea: Panggilan kakak laki-laki dari anak perempuan.

[7] Nama daerah di pulau Jeju yang terkenal dengan perkebunan jeruk khas Jeju.

[8] Salah satu genre musik pop korea selatan. Genre musik ini memiliki kemiripan dengan genre musik dangdut.

[9] Korea: Kakek-kakek.

[10] Korea: Nenek-nenek.

[11] Korea: Terimakasih anakku (laki-laki).

[12] Suatu kabel yang dapat menyatukan dua set earphone menjadi satu kabel audio.

[13] Sup tahu dan sayuran khas korea.

[14] Korea: Panggilan kakak laki-laki dari anak laki-laki.

[15] Korea: Terima kasih.

[16] Korea: Musim panas

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s