[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 4)

Universe in His Eyes POSTER

Title                 : UNIVERSE IN HIS EYES – Chapter 4

Author             : Arifia Pahlawan (Wattpad: @arifiart)

Length             : Chaptered

Genre              : AU, Friendship, Romance, School-life.

Rating              : PG 15

Main cast        :

  • Oh Serin (oc)
  • Do Kyungsoo
  • Byun Baekhyun
  • Park Chanyeol

Summary         : Serin bertemu dengannya lagi, pemilik mata tajam yang selalu membayangi pikirannya selama bertahun-tahun. Ia selalu ingin menghindar dari ingatan akan lelaki itu, namun semesta justru membuatnya semakin terjebak dengan kehadiran pria itu.Disclaimer       : Cerita ini merupakan bentuk dari imajinasi author. Jika terdapat kemiripan pada nama tokoh, tempat ataupun jalan cerita, hal itu merupakan unsur ketidaksengajaan.  Dilarang keras untuk memplagiatkan atau merepost karya ini tanpa seizin author. Please leave comment after reading. Thank you so much and happy reading! <3●●●

CHAPTER 4

-Do Kyungsoo-

Lima tahun yang lalu…

            “Yah! Park Chanyeol! Kau berkelahi lagi?” bentak Serin memelototi sahabatnya yang sedang duduk selonjoran di lantai atap sekolah dan penuh lebam di wajahnya.

            Chanyeol tidak menjawab dan menghindari mata Serin. Serin hanya menghela napas tidak percaya, kemudian ia berjongkok mensejajarkan tubuhnya di hadapan Chanyeol.

            Serin mengambil napas dan memandangnya lembut. “Kalau kau seperti ini terus, aku sungguh tidak mau berteman denganmu.” ujarnya pelan sambil tetap memandang lelaki di hadapannya.

            Lelaki Park itu menoleh menatap Serin tajam. “Kalau gitu ya sudah, pergi saja sana.” balasnya sinis.

            Serin tak mampu berkata-kata. Entah sudah ke berapa kalinya Chanyeol membuat dirinya sulit. Orang tua Chanyeol benar-benar mempercayakan Serin untuk menjaga Chanyeol agar ia sedikit mengurangi kebiasaan berkelahinya. Kalau tidak, Chanyeol terancam akan diusir dari rumah oleh orang tuanya. Keluarganya benar-benar bakal angkat tangan.

            “Kau membuat aku dalam keadaan sulit juga. Apa yang akan kukatakan pada ibumu nanti?” Serin menggenggam tangan Chanyeol dan menjaga nada bicaranya agar tetap rendah. “Apakah kau sama sekali tidak memikirkan posisiku?” lanjutnya.

            Chanyeol menepiskan tangannya karena merasakan genggaman Serin yang semakin kuat. Gadis ini ada benarnya, ia sungguh egois karena selama ini tidak pernah memikirkan orang lain dan selalu bertindak semaunya.

            BRAK!!!

            Terdengar suara gebrakan pintu dari arah tangga. Tiga siswa pria terlihat mendekati atap sekolah. Serin menoleh ke arah datangnya suara dengan cepat dan membelalakkan matanya seketika.

Sial, Han Gongtae dan kawan-kawannya. Serin langsung berdiri dan memasang badan untuk melindungi Chanyeol.

“Sedang apa kau?” tanya Gongtae dengan wajah angkuhnya. Serin sedikit memundurkan tubuhnya karena agak takut dengan tubuh besar Gongtae yang sedang menghampiri mereka berdua.

“Oi, Park Chanyeol! Kau apakan temanku, hah?!” bentak Gongtae terus mendekati Serin dan Chanyeol. Seorang teman yang dimaksud Gongtae benar-benar terlihat babak belur dan terus bersembunyi di balik tubuh besar Gongtae.

Serin terus mengedipkan matanya dengan cepat karena ia terlalu gugup takut Gongtae akan melayangkan pukulan ke arahnya sewaktu-waktu. Bangunlah, Chanyeol! Apakah kau akan terus membiarkan aku yang melindungimu detik ini? Serin benar-benar tidak mengerti akan dirinya karena merasa tidak konsisten pada pikirannya sendiri. Ia sungguh tidak ingin Chanyeol terus-terusan berkelahi namun di sisi lain ia juga tidak ingin berada dalam situasi mendesak dan butuh perlindungan seperti ini!

Gongtae yang melihat Serin bertindak seakan ingin melindungi Chanyeol hanya terkekeh. “Oi, Park Chanyeol, kau benar-benar tidak malu ya, dilindungi oleh seorang gadis?”

Chanyeol masih dalam keadaan duduk. Ia terlihat mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia sudah sangat siap ingin meninju wajah si gendut Gongtae detik ini juga. Namun belum sempat ia berdiri dan hendak melayangkan pukulannya, tiba-tiba Baekhyun datang berlari menghampiri mereka.

“Yah! Yaaah! Tunggu dulu! Tunggu!!!” jerit Baekhyun dari jauh. Lelaki itu langsung memasang badan dan merenggangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk menghalangi Han Gongtae yang terlihat seperti hendak mendorong Serin yang sedang mencoba untuk menghalanginya.

***

Serin terus menggerutu di dalam hati sambil meletakkan buku-buku di pangkuannya ke dalam rak. Sial sekali, gara-gara insiden di atap tadi, semua yang terlibat jadi kena hukuman. Chanyeol, Baekhyun, dan Gongtae cs dihukum berlari di lapangan. Sedangkan Serin karena menjadi satu-satunya siswi yang terlibat, jadi hanya ia yang dihukum merapikan buku di perpustakaan. Sebenarnya ia lebih suka dihukum berlari dibanding harus terjebak sendirian dalam hukuman yang membosankan seperti ini.

Sepertinya ada yang melaporkan hal ini, padahal jika guru tidak datang lebih cepat, sebenarnya mereka mampu menyelesaikannya sendiri karena Baekhyun hendak melerai dan berhasil mengalihkan perhatian Han Gongtae cs. Tidak ada seorang pun yang tidak menyukai Baekhyun, tentu Gongtae cs akan langsung menerimanya karena Baekhyun merupakan siswa favorit di sekolah ini. Serin terus kepikiran siapa yang telah melaporkannya.

***

Satu jam sebelumnya…

Byun Baekhyun memasuki kelas sambil bersenandung merdu. Namun langkahnya terhenti karena menyadari kedua sahabatnya tidak ada di dalam kelas.

“Huh? Ke mana mereka berdua?”

Baekhyun bertanya pada teman sekelasnya namun tidak ada yang mengetahui keberadaan Chanyeol dan Serin. Baekhyun sedikit khawatir karena bukan merupakan suatu hal yang baru jika sesuatu terjadi pada Chanyeol. Tapi Serin dan Chanyeol tidak biasanya menghilang bersamaan seperti ini tanpa dirinya, dan itu semakin membuatnya khawatir takut akan Serin yang akhir-akhir ini sering terlibat dengan urusan Chanyeol. Ia sudah berjanji akan selalu berada di sisi Serin dan menjauhkannya dari bahaya seperti saat mereka kecil dulu.

Namun tiba-tiba saja terdengar suara berisik dari lorong sekolah.

“Yah! Yah! Sepertinya Han Gongtae akan memukuli Park Chanyeol di atap!”

Baekhyun yang mendengar nama temannya disebut langsung menghampiri siswa yang baru saja berteriak itu dengan cepat.

“Yah, apa yang terjadi pada Chanyeol?” tanya Baekhyun panik hingga menarik kerah siswa tersebut.

“A-aku ti-tidak tahu. Aku hanya mendengarnya dari anak-anak.”

“Lalu di mana dia sekarang?!” tanyanya lagi tidak sabaran.

“A-aku sungguh tidak tahu. A-aku bahkan belum melihat mereka hari ini.”

“Aish!” geram Baekhyun kesal. Ia pun melepas kerah siswa lelaki tersebut dan langsung berlari cepat menuju tangga.

Ia sungguh kesal mengetahui Chanyeol selalu membuat masalah di sekolah. Baekhyun menggertakkan giginya berulang kali, kesal karena ia juga terpaksa harus ikut campur urusan Chanyeol semenjak Serin berteman dekat dengannya. Kalau Serin benar-benar sampai terlibat, ia sungguh tidak akan membiarkannya kali ini.

Sepasang mata tajam melihat kejadian di lorong tersebut dan terus memerhatikan Baekhyun yang tengah berlari terburu-buru hendak menuju atap sekolah. Ketika sosok Baekhyun telah berbelok menaiki tangga sekolah, pemilik mata tajam itu langsung melangkahkan dirinya ke ruang guru.

***

BRUK!!!

Serin menjatuhkan buku-buku yang ia bawa. Sial sekali, sungguh sial. Ini akibat dirinya sok-sokan membawa banyak buku sekaligus agar hukumannya cepat berakhir namun nyatanya malah berujung menjadi semakin panjang karena ia justru membuatnya semakin berantakan.

“Hish!” Serin terus merengek sambil merapikan kembali buku-buku yang berjatuhan tadi. Ia terus menyemangati dirinya dalam hati. Tenang Serin-ah, hukuman ini akan segera berakhir. Kau harus sabar.

Serin tidak menyadari ada seseorang yang ikut membantunya menumpuk buku-buku itu kembali. Serin menoleh dan mendapati seseorang di belakang tengah membantu.

“Ah, gomawoyo. (terima kasih)”

Serin tidak menyadari siapa orang baik yang tengah membantunya sampai akhirnya ia mengangkat kepala dan mendapatkan sesosok siswa sedang memegangi buku-buku itu. Serin terdiam. Ia menatap lelaki itu sambil berpikir. Apakah aku mengenalnya?

Siswa lelaki tersebut memakai seragam yang sama dengannya. Ekspresi wajahnya begitu datar namun memancarkan kehangatan. Matanya besar dan tatapannya tajam seolah-olah seperti akan mencongkel mata Serin. Posturnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu tinggi. Ia pria yang biasa-biasa saja, pikir Serin.

Butuh beberapa detik bagi Serin untuk menyadarkan diri dari lamunannya. Ia tidak sadar kalau sejak tadi ia terus mengamati lelaki di hadapannya. Ia sadar bahwa ia tidak mengenali lelaki tersebut.

“Ma-maaf. Aku tidak sadar kalau aku menatapmu sampai seperti itu.” ujar  Serin malu.

“Gwaenchana. (tidak apa-apa)” jawab siswa lelaki itu yang akhirnya menunjukkan senyum. Bibirnya melengkung seperti membentuk pola hati.

Senyum yang indah. Siapa dia?

“Jangan berusaha terlalu keras, itu akan menyiksamu.” kata lelaki itu lagi sambil membantu Serin berdiri dan memberikan buku yang sudah ditumpuknya. Kemudian pandangan Serin berbelok ke name tag yang melekat di jas pria itu. Do Kyungsoo?

“Ah, iya-” jawab Serin sekenanya karena ia nampak seperti belum tersadar sepenuhnya. “Terima kasih, Do- Kyungsoo?” ucap Serin sedikit berhati-hati dan tidak melepaskan pandangannya dari name tag milik pria itu.

Lelaki itu hanya tersenyum.

Siswa bernama Do Kyungsoo itu hendak berbalik meninggalkan Serin, namun baru beberapa langkah lelaki itu kembali memutar tubuhnya tanpa bergerak mendekat.

“-karena itu, jangan membuat masalah jika kau tidak ingin berujung seperti ini.” tambah Kyungsoo pelan, membuat Serin langsung menoleh padanya lagi. Kemudian lelaki itu kembali berjalan meninggalkannya.

DEG!

Rasanya seperti ada yang mencambuk Serin. Jangan membuat masalah? Apa maksudnya? Apakah ia mengetahui sesuatu? Siapa lelaki ini? Bermacam pikiran di benak Serin muncul secara bersamaan.

Do Kyungsoo, apakah dia…

            Serin tak henti menatap heran Kyungsoo pergi meninggalkan dirinya. Ia terus menatap sosok Kyungsoo hingga sosoknya menghilang dari pandangan. Lelaki itu sungguh misterius. Kata-kata yang terlontar dari mulut pria itu sebelumnya bahkan masih teringat sangat jelas di benak Serin.

            “-karena itu, jangan membuat masalah jika kau tidak ingin berujung seperti ini.”

            Serin mengernyitkan dahi. Apa maksud dari kata-katanya itu? Do Kyungsoo, apakah jangan-jangan benar dia yang melaporkan kejadian di atap tadi?

            Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Langit masih konsisten dengan warna birunya dan belum berubah menjadi kemerahan. Musim panas benar-benar akan datang. Cuaca benar-benar menghangat setiap harinya sehingga semakin banyak orang yang lebih memilih pulang dengan berjalan kaki.

            Tak terkecuali trio sahabat Se-Chan-Baek yang memilih berjalan kaki untuk pulang ke rumah masing-masing padahal energi mereka nyaris habis karena hukuman yang diberikan hari ini. Semua larut di dalam pikiran masing-masing, kecuali Baekhyun yang terus mengoceh tentang keluhannya hari ini.

            “Aku sudah bilang kalau aku akan membunuhmu jika kau melibatkan Serin dalam urusanmu!” bentak Baekhyun tiba-tiba sambil menarik kerah Chanyeol. Chanyeol hanya menepis kasar tangan Baekhyun tanpa mengatakan sepatah katapun.

            “Sudah, hentikan!” ujar Serin agak keras sambil menarik tangan Baekhyun. “Tak ada gunanya kau terus-terusan mengeluh seperti itu Baekhyun-ah. Maafkan aku.” akhirnya ia merendahkan suaranya takut emosi Baekhyun tambah naik.

            “Kau kan sudah tahu kalau dia adalah pembuat masalah, lalu mengapa kau terus saja mencampuri urusannya? Aku tidak suka jika kau dalam bahaya. Jika saja tadi aku tidak datang lebih cepat, kau bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Han Gongtae padamu?” Baekhyun terus saja berbicara dan mengomel sepanjang jalan. Chanyeol benar-benar ingin menjahit mulut Baekhyun agar ia bisa berhenti mengomel seperti ibu-ibu.

            “Brengsek, berisik sekali kau-“

            “Kalau begitu gunakan kekuatanmu dengan benar! Kalau kau benar teman Serin, seharusnya kau melindunginya, bukan menjadikannya tameng dari perusuh seperti Han Gongtae!”

            “Sudah, Baekhyun-ah!” Serin menggenggam erat tangan Baekhyun, menahannya agar lelaki ini tidak meninju Chanyeol.

            Entah mengapa tiba-tiba saja Serin teringat pada Do Kyungsoo, si lelaki misterius itu. Ia memiliki seribu pertanyaan yang ingin ia berikan kepada lelaki itu.

            “Hokshi- (apakah) kalian mengenal Do Kyungsoo?” tanya Serin mendadak. Ia sendiri ikut terkejut karena tiba-tiba saja menanyakan hal itu.

            Chanyeol dan Baekhyun menoleh ke arahnya. “Mwo? Nugu?”

            Serin diam saja dan malah hanya menatap kedua lelaki di sampingnya yang juga tidak menanyakan apapun lagi padanya.

            “Do Kyungsoo?” Baekhyun bergumam. “-sepertinya pernah dengar.”

            Mereka bertiga terdiam sesaat. Sibuk berpikir dengan otak masing-masing.

            “Apakah si ketua kedisiplinan dari kelas sebelah itu?” gumam Baekhyun.

            Begitukah?

 

***

            Serin dengan tergesa-gesa memasuki gedung sekolah. Beberapa anak hendak menyapanya namun tidak digubris oleh Serin. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal. Lebih tepatnya pada satu orang. Hanya satu hal yang menjadi tujuannya saat ini. Do Kyungsoo.

            Langsung saja ia mencari di kelas 2-1. Matanya berkeliling mencoba mencari sosok yang bernama Do Kyungsoo itu hingga akhirnya menangkap target yang dimaksud.

            Ketemu!

            Tanpa babibu lagi Serin langsung masuk ke kelas itu dan langsung berdiri di samping meja Kyungsoo.

            “Do Kyungsoo?”

            Lelaki yang dimaksud Serin menoleh padanya dengan raut wajah yang sama. Datar seperti kemarin. Sorot matanya yang tajam langsung mengintimidasi Serin seketika.

            “Aku ingin bicara denganmu.”

            Lelaki bernama Kyungsoo itu mengikuti Serin ke sudut bangunan sekolah. Ia tidak mengatakan apa-apa dan hanya menunggu Serin membuka mulutnya lebih dulu. Ia menatap Serin, tatapannya biasa saja namun tatapannya begitu tajam dan sungguh mengintimidasi, seolah ingin mencongkel mata Serin.

            “Apakah- kau yang melaporkan tentang kejadian di atap kemarin?” tanya Serin langsung ke intinya tanpa perlu basa-basi.

            Tatapan Kyungsoo masih tajam seperti sebelumnya. Ia hanya sedikit bergerak merespon pertanyaan dari Serin.

            “Ya.” jawabnya kemudian masih menatap tajam dengan bola matanya yang bulat. Apakah sorot matanya memang selalu seperti ini?

            Entah mengapa Serin seperti tidak mampu berkata-kata di depan lelaki ini. Ia menelan ludahnya mencoba menelan kegugupan yang ada dan sepertinya terlihat cukup jelas di depan pria itu.

            “S-seharusnya kau jangan lakukan itu- a-aku dan teman-temanku kesulitan karenamu. Kau tahu?” Serin membelalak tidak percaya karena ia baru saja berbicara agak terbata-bata di depan lelaki itu. Kenapa ia malah terlihat lemah dalam situasi seperti ini. Bodoh, ialah yang seharusnya mengintimidasi Kyungsoo saat ini.

            Lelaki itu tidak menjawab.

            “Kalau tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku pergi dulu.” ujar Kyungsoo tiba-tiba masih dengan wajah datarnya yang tak berdosa, kemudian lelaki itu berbalik hendak meninggalkan Serin.

            “Yah!” panggil Serin keras, namun tidak berhasil membuat lelaki itu berbalik.

            Grep!

Entah mendapat dorongan dari mana tiba-tiba saja Serin menarik tangan Kyungsoo, menahannya agar tidak pergi. Lelaki itu otomatis menghentikan langkahnya dan berbalik memerhatikan sebuah tangan seorang gadis yang sedang memegangi pergelangan tangannya.

            Kyungsoo menoleh dan melihat Serin sama terkejutnya seperti dia. “Apa yang kau lakukan?”

            “Apa kau tidak ingin minta maaf padaku?” tanya Serin setengah kesal karena lelaki ini begitu dingin dan tidak juga menyadari akan kesalahannya.

            Kyungsoo berbalik tanpa berusaha melepas tangan Serin yang masih menempel di pergelangan tangannya. “Mengapa aku harus minta maaf padamu?”

            Serin hanya diam tidak menjawab. Ia merasakan sorot mata Kyungsoo seperti hendak merobek kornea miliknya. Ia sungguh tidak mengetahui kenapa lelaki bermarga Do ini begitu dingin dan sangat tidak suka padanya. Memangnya apa yang telah dilakukannya? Ia saja baru mengenal Kyungsoo kemarin.

            “Kau dan temanmu meresahkan anak-anak yang lain,” ia berhenti sejenak. “mereka seharusnya bisa belajar dengan tenang tanpa harus terganggu oleh kelakuan teman-temanmu. Apakah kau pernah berpikir bahwa tindakan sok jagoanmu hanya akan mengganggu orang di sekitarmu?” nada Kyungsoo kali ini begitu tegas hingga Serin tak mampu lagi berkata-kata.

            Mereka berdua sama sekali tidak mengatakan apapun dan hanya saling melempar pandangan satu sama lain selama beberapa detik. Kemudian Kyungsoo melepas tangan Serin yang masih memegangi tangannya, berharap agar gadis itu tidak memeganginya lagi.

            “Aku sungguh membenci orang-orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Orang-orang yang suka membuat kegaduhan di sekolah, menindas satu sama lain, menyerang temannya sendiri-” Kyungsoo tidak melanjutkan kalimatnya. Lelaki itu membalikkan badannya dan hendak pergi meninggalkan Serin.

            Baru beberapa langkah, Kyungsoo menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit ke arah Serin, “-apakah kau tidak tahu bahwa perbuatan kau dan teman-temanmu juga membuatku sulit?” Kyungsoo tidak menunggu jawaban Serin dan langsung kembali melangkah pergi.

            Kali ini Serin tidak berusaha menghentikannya lagi. Ia membiarkan pemilik sepasang mata tajam itu pergi meninggalkannya sendiri. Kyungsoo terus berjalan menjauh dari Serin. Gadis itu hanya mampu menatap punggungnya.

Beberapa pikiran merasuki Serin. Apakah aku sungguh semenyebalkan itu? Apakah ia punya dendam tersendiri kepada Chanyeol atau Gongtae? Apakah ia sungguh harus berkata sejauh itu hanya karena ia seorang ketua kedisiplinan? Mengapa ia terlihat begitu benci padaku?

Serin menatap langit yang terlihat di balik jendela sekolah.

Do Kyungsoo, haruskah kau bersikap sedingin itu padaku?

Entah mengapa hatinya terasa sakit.

-To Be Continued-

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 4)”

  1. Eaaaaaa…uri do….mbok ya km bnyakin snyum syang…drpd msang wjah datar kekgitu kesian ce ce jd tkut pgn memuja keimutan eh slah ketampananmu hahahahahhaha
    Enakny juga jd serin..bisa dket sma 3 co ini..q jg mau..😂
    Ditungggu nextnyaaa y thoorr..fighting!!!!!😊

    1. Emang Dio suka gitu kak, mukanya datar terus hehehe enak ya jadi Serin adiknya ganteng, sahabatnya ganteng, gebetannya juga ganteng😂😂😂
      Tunggu chapter selanjutnya ya! Terima kasih sudah mendukung fanfic-ku. Luv!❣

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s