[EXOFFI FREELANCE] [Summer : Mirage] (Chapter 11)

summer

Author: Muftonatul Aulia/Hanifah Harahap

Main Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhan(OC), Byun Baekhyun & Oh Sehun

Genre: Romance, Friendship, Family, Angst

Rating: General

Length: Multichapter

Credit Poster: Gyuskaups @ Indo Fanfictions Arts

PLEASE, NO PLAGIAT! THIS STORY IS REAL FROM OUR MIND

AND DON’T BE A SIDERS!

Visit Us HERE

Previous Chapter:

Chapter 1 – Sehun Eyes | Chapter 2 – Baekhyun Drawing Book| Chapter 3 – It’s Time For Dinner| Chapter 4 – Begin Again | Chapter 5 – Lovely Doll | Chapter 6 – Be Happy | Chapter 7 – Our History | Chapter 8a – I’m Alone | Chapter 8b – It’s You | Chapter 9 – Get Well Soon | Chapter 10 – Good Night, Nuna! | [NOW] Chapter 11 – Beginner (1)

 

 

Setelah jam kuliah terakhir di musim panas berakhir, Baekhan benar-benar menjadi lega. Sehun menunggunya di luar ruangan dengan gaya maskulinnya yang biasa. Hari ini, Sehun akan menepati janjinya untuk mengajak Baekhan liburan ke villa miliknya. Dan tampaknya gadis itu sangat tidak sabar untuk segera pergi meninggalkan rumahnya.

“Kita harus ke rumahku dulu untuk mengambil barang-barangku” kata Sehun.

Baekhan tersenyum simpul, “Sudah lama sekali aku tidak berdiam diri di rumahmu.”

“Itu karena kau terlalu sibuk dengan perang bantalmu,”

“Kau juga sudah jarang sekali bermain ke rumahku!” jawab Baekhan tak ingin kalah.

“Aku takut akan terkena bantal yang meleset saat kau dan Baekhyun perang bantal” kata Sehun lalu melanjutkan, “Ingat saja, kau pasti akan merindukan perang bantalmu dengan Baekhyun selama di villa itu.”

“Baekhyun masih bisa melakukannya bersama Mongryeong”

Sehun membukakan pintu mobil dengan sopan untuk Baekhan setelah sampai di parkiran kampus yang tampak lebih lenggang dari biasanya. Baekhan menghirup aroma mobil Sehun yang benar-benar ia sukai. Entah kenapa ia dan Sehun memiliki banyak kesamaan. Salah satunya sama-sama menyukai bau greentea.

“Kau menyimpan banyak lagu jazz dan klasik, ‘kan?” tanya Baekhan.

“Oh jangankan itu. Aku punya banyak lagu blues dan Hip-hop” jawab Sehun.

“Kau menyukai Hip-hop?”

Sehun menancapkan kunci mobilnya dan memutarnya sedikit lalu mesin mobil itu menyeruak hidup dengan mulus. “Yah, menurutku musik Hip-hop menjadi sedikit lebih bagus akhir-akhir ini” ujarnya sebelum memutar sebuah lagu klasik dari Ludwig van Beethoven.

“Oh. Lagu ini terlalu indah” komentar Baekhan.

“Diamlah. Aku sedang mencoba menyampaikan isi hatiku padamu lewat lagu ini―setidaknya dengarkan baik-baik”

Für Elise?! Sejak kapan kau berubah menjadi semanis ini, Sehun? Apa otakmu sedang bermasalah?”

Sehun tersenyum menyeringai, “Berhati-hatilah. Jika Tuan dan Nyonya Oh bukan manusia yang sama-sama penyabar, aku mungkin sudah sakit hati dengan tingkahmu.”

“Sekarang kau bertingkah konyol, Sehun” jawab Baekhan, “Bisakah kau memacu mobil ini lebih cepat?”

“Kau benar-benar menginginkannya?”

“Sudah lama sekali aku tidak mengendarai dengan kecepatan tinggi. Kau biasanya selalu menyetujui ide ini.”

“Suasana lagu ini tentu tidak serasi dengan kemauanmu. Jadi, aku mengemudikan mobil ini dengan santai.”

Baekhan menyeringai, “Kau terlalu banyak membuang waktumu yang berharga, Tuan Oh”

“Kalau membuang waktuku yang berharga adalah terjebak bersamamu, aku akan memberikan semuanya.”

“HAHA. Konyol sekali”

Lagu Beethoven itu habis ketika sampai di depan halaman rumah keluarga Oh yang sangat luas. Mata Baekhan menatap rumah itu dengan kagum karena kemewahannya. Meskipun sudah sering ke rumah ini, ia masih saja sangat kagum dengan gaya seninya yang benar-benar mewah dan indah.

Baekhan duduk dengan nyaman di sebuah sofa yang ada di tengah kamar Sehun. Sama seperti rumahnya, rumah keluarga Oh ini sangat sepi―seperti yang sudah-sudah. Tuan dan Nyonya Oh sangat jarang sekali ada di siang hari. Sehun menurunkan koper kecilnya dari atas lemari pakaian yang sedikit lebih tinggi darinya dan mulai memasukkan barang-barang yang akan ia bawa untuk liburan kali ini.

Melihat seekor anjing yang berwarna putih sedang tertidur lelap di atas kasur Sehun, Baekhan langsung meloncat kegirangan. Gadis itu duduk di pinggir kasur Sehun dan menepuk lembut anjing cowok itu, Vivi. Anjing kecil itu sedikit menggeliat ketika Baekhan menyentuh badannya yang lembut dan menatap Baekhan dengan pandangan matanya yang sayu.

“Kau selalu suka dengan Vivi,” kata Sehun menyadari bahwa Baekhan sudah membangunkan Vivi dari tidur lelapnya dan mulai mengacak-ngacak gemas bulu Vivi.

“Anjingmu lucu,” komentar Baekhan, “Tidak seperti punya Baekhyun.”

“Lalu kenapa tidak membeli satu lagi?”

Baekhan mengangkat badan Vivi yang mungil dan menempelkan hidung anjing itu padanya, “Aku tidak tahu bagaimana cara merawat anjing dengan benar dan aku tidak sudi untuk membiarkan pelayan ataupun Baekhyun yang merawatnya”

Sehun menoleh, “Kalau begitu, lepaskan Vivi sebelum dia kehabisan nafas karena kau tidak tahu cara memeluknya dengan benar”

“Ah, anjing ini benar-benar lucu,” Baekhan berdiri sambil tetap menggendong Vivi yang tampaknya masih mengantuk, “Bolehkah aku membawanya?”

Ani.” Sehun berjalan ke arah Baekhan dan merebut Vivi dari gadis itu. “Pergilah bermain-main sesukamu,” kata Sehun pada Vivi seraya menurunkan anjing itu. Seolah mengerti akan instruksi tuannya, Vivi langsung berlari keluar dari kamar Sehun.

“Ayo berangkat”

“Bisakah Vivi ikut bersama kita?” pinta Baekhan.

Sehun menggelengkan kepalanya. “Aniya. Kau akan bermain dengan Vivi sepanjang hari dan melupakanku” katanya sambil kembali untuk menyeret koper kecilnya, “Bawakan ini”

“Ini kopermu, ‘kan? Kenapa aku yang membawanya?” gerutu Baekhan.

“Apa susahnya membawa ini sampai halaman depan?” kata Sehun. “Kau selalu merepotkanku sejak SMA―sekarang giliranmu. Apa kau tak mau membalas kemurahan hatiku yang telah membantumu saat Semester Exam kemarin?”

“Awas saja kalau kau meminta bantuanku untuk menyelesaikan tugas musim panasmu.”

“Aku ragu kalau aku akan meminta bantuanmu kali ini,” jawab Sehun, “Soalnya aku sudah hampir menyelesaikannya. Dan aku tahu sekali, kau pasti baru mengerjakan sekitar sepuluh persen.”

Baekhan mendengus kesal. “Sial, kau terlalu mengenalku!”

Dengan terpaksa, gadis itu menyeret koper Sehun yang sekarang berjalan di depannya dengan santai. Benar-benar seperti seorang bos dan pelayan-nya. Untungnya Sehun tidak terlalu banyak membawa barang-barang yang tidak penting. Ya, Baekhan sudah mengenal sifat Sehun yang satu ini: hanya akan membawa barang-barangnya yang penting. Baekhan berpikir sejenak, jangan-jangan Sehun bahkan membawa tugas musim panasnya! Itu sangat menyebalkan.

Ya! Palliwa. Jalanmu seperti siput,” ejek Sehun yang telah masuk ke dalam mobil.

“Kalau begitu kau bawa sendiri saja!” bentak Baekhan.

“Aku tidak ingin membawanya. Cepatlah. Kita harus segera mengambil barang-barangmu itu. Kau juga pasti butuh waktu yang sangat lama untuk memutuskan apa yang akan kau bawa” kata Sehun seakan tahu semuanya tentang Baekhan.

Baekhan membuka pintu belakang dengan kesal dan menaruh koper Sehun di sana. Dengan tergesa-gesa, gadis itu masuk dan duduk di sebelah Sehun yang berekspresi datar.

“Cepatlah! Katanya tadi mau cepat,” ucap Baekhan.

Ne, ne.” Sehun menghidupkan mobilnya dan berjalan meninggalkan rumah keluarga Oh sambil sesekali bersenandung pelan.

.

.

“Kau mau kemana?” tanya Baekhyun mendapati nuna-nya memasukan beberapa baju ke dalam sebuah koper. Sambil meraih handphone-nya, Baekhyun menelungkupkan badan dan menutup komiknya. Dengan mata yang tampak sayu, Baekhyun memperhatikan Baekhan dari kasurnya yang nyaman.

“Tumben sekali kau baca komik di sini” kata Baekhan heran. “Biasanya seharian di ruang musik.”

“Aku lagi bosan dengan ruang musik.”

“Oh,”

Baekhan masih sibuk dengan kopernya dan itu membuat Baekhyun kesal hingga lelaki itu turun mendekati Baekhan, “Mau kemana? Apa Mom menyuruhmu pergi ke Busan untuk membantu mengerjakan pekerjaan mereka?”

Ani” jawab Baekhan. Ia memindahkan beberapa barang yang ada di meja riasnya yang sudah ia siapkan untuk di bawa sejak kemarin ke dalam sebuah tas kecil dan memasukkannya ke dalam koper.

“Aku akan liburan di villa Sehun,” sambungnya.

“Hee? Kau bersama Sehun hyung?”

“Kau tahu. Kenapa masih bertanya?”

Jinjjaaa?” teriak Baekhyun histeris, “Tidak boleh! Aku harus ikut dengan kalian berdua!” Baekhyun meloncat dan berjalan ke arah lemari pakaiannya dan memilih beberapa baju untuk ia bawa.

“Ayolah, Baekhyun. Biarkan aku merasakan sekali saja liburan musim panas tanpamu.”

Baekhyun tak menggubris perkataan Baekhan dan sibuk dengan apa saja barang-barang yang akan ia bawa. Tak berapa lama kemudian, Baekhyun memasukkan barang-barangnya ke dalam koper yang Baekhan pegang dan membaginya menjadi dua bagian sama besar.

“Tidak. Kau hanya berdua dengan Sehun dan aku melarangnya keras-keras!” kata Baekhyun, “Selama tidak ada Mom dan Appa, aku yang akan menjagamu!”

“Tidak, terimakasih. Jaga saja dirimu sendiri―kau lebih membutuhkannya.”

“Oh! Jangan lupakan komik-komik ini!” Baekhyun memasukkan tiga buah komik yang agak tebal ke dalam koper dan menutupnya.

“Aku tidak bertanggungjawab kalau Sehun akan marah dan melarangmu pergi bersama kami nanti,” kata Baekhan masam.

“Tidak mungkin,” kata Baekhyun meremehkan. “Dia pasti akan membiarkanku ikut bersama kalian apapun yang terjadi.”

“Ooooo, nampaknya kau sangat percaya diri akan hal itu.”

“Kau bawa charger handphone ‘kan nuna?” tanya Baekhyun mengabaikan pernyataan Baekhan sebelumnya.

Ne. Di dalam tasku,”

“Kau bawa bodylotion dan sunblock, ‘kan?” tanya Baekhyun sekali lagi. Ia takut jika nuna-nya itu tidak membawa kedua barang itu. Ia tak mau jika kulitnya harus terbakar matahari seperti liburan musim panas yang sudah-sudah.

“Iyaaa!” Baekhan menyampirkan tas di bahunya dan menyeret koper itu keluar.

Dengan santainya, Baekhyun berjalan di belakang nuna-nya dan memainkan handphone-nya.

“Sial. Kenapa dari tadi selalu aku yang membawa koper?” gerutunya.

Setelah sampai di lantai bawah, Baekhan teringat sesuatu dan membalikan badannya. “Baekhyun, kau bawa koper ini ke mobil Sehun. Aku akan bilang dengan para pelayan dulu. Akan jadi gawat kalau mereka tidak tahu.”

“Baiklah. Jangan terlalu lama,” kata Baekhyun sembari menarik koper itu ke arahnya dan berjalan menuju halaman depan rumah. Di sana, hanya nampak sebuah mobil sport putih yang biasa dipakai Sehun ke mana-mana. Baekhyun bisa melihat Sehun yang sedang asik mendengarkan lagu di dalam mobil. Baekhyun menarik koper itu dengan malas-malasan dan agaknya kehadiran Baekhyun cepat disadari oleh Sehun.

“Mana Baekhan?” tanya Sehun setelah keluar dari mobilnya.

“Pergi memberitahu para pelayan dulu. Sebentar lagi akan menyusul ke sini,”

“Oh, benarkah?Sehun melirik koper yang di bawa Baekhyun. “Biar aku yang memasukkannya,”

Baekhyun memberi kopernya pada Sehun, “Memang seharusnya begitu, ‘kan? Aigoo.. hyung, kau tak berubah semenjak SMA. Ini sudah berapa lama semenjak terakhir kali kita bicara, eoh?”

“Entahlah. Mungkin kau menghitungnya?” jawab Sehun dingin sambil memasukan koper itu di bagian belakang.

Dari teras rumah, Baekhan berlari kecil menuju mobil Sehun yang tampak mengkilap di bawah sinar matahari. Oh, Sehun benar-benar merawat mobilnya dengan baik.

Mianhae, apa aku membuat kalian menunggu lama?”

“Ya” jawab Baekhyun, “Kau benar-benar lama seperti siput.”

“Kita berangkat?” tanya Sehun.

“Baiklah. Ayo kita berangkat, nuna.” Baekhyun menggandeng tangan Baekhan dan membawanya ke badan samping mobil.

Sehun menaikan satu alisnya, heran. “Maksudmu, kau akan ikut bersama kami?”

“Tentu saja.” Baekhyun membalas tatapan heran Sehun. “Aku tidak akan membiarkan nuna-ku hanya berdua saja denganmu di villa itu. Lagipula semua barang-barangku sudah ada di dalam koper itu juga.”

“Oh. Mian, Sehun. Kau tahu, dia benar-benar merepotkan.”

Well, mungkin adikmu yang aneh ini benar. Kalau dia tinggal sendirian di rumah ini, bisa-bisa dia jadi sekarat karena lama tidak berjumpa denganmu.” Sehun tersenyum licik.

Mianhae. Apa aku terlambat?”

Tiga orang itu mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara yang tak dikenal itu. Di sana Chanyeol berdiri sembari menyeret kopernya yang berwarna gelap.

“Kami baru saja akan berangkat, hyung. Untunglah kau datang tepat waktu,” kata Baekhyun dengan raut wajah senang, “Tambahan satu orang lagi! Chanyeol hyung akan ikut dengan kita bertiga.”

“Maaf?” sela Sehun, “Apa kau bercanda?”

Aniya. Aku benar-benar ikut dengan kalian,” jawab Chanyeol.

“Ini pasti akan menyenangkan!!” teriak Baekhyun.

Baekhan tersenyum tanda mengerti dan menyenggol Sehun. “Anggap saja ini kesempatan untukmu dan Chanyeol agar kalian akrab kembali. Oh, dan jangan lupakan kau dan Baekhyun juga. Aku tak tahu apa masalahnya, tapi kurasa kau dan Baekhyun juga memiliki hubungan yang agak buruk. Apa karena Baekhyun berteman baik dengan mantan sahabatmu itu?”

“Kau tahu masalah itu?”

“Aku tahu semuanya,” kata Baekhan dengan ekspresi meyakinkan, “Tenang saja. Chanyeol benar-benar ingin mencoba mengembalikan pertemanan kalian. Cobalah untuk berbicara empat mata dengan Chanyeol nanti malam.”

“Sehun hyung!” teriak Baekhyun. “Kau akan membiarkan Chanyeol hyung ikut, ‘kan? Kalau tidak, aku tidak akan punya teman nanti. Baekhan pasti akan sibuk denganmu.” Baekhyun menampakkan wajah sedihnya yang memelas.

“Oh aku benar-benar benci ekspersi sok imut seperti itu!” kata Sehun. “Araseo, araseo. Masuklah, kita benar-benar harus berangkat sekarang!”

Chanyeol tersenyum tipis dan memasukkan kopernya di bagian belakang mobil. Baekhan mendekati Chanyeol dengan wajah berseri.

“Kenapa wajahmu berseri seperti itu?” tanya Chanyeol. “Kau senang ya bertemu denganku lagi setelah kencan kita kemarin?” Chanyeol terkekeh dan mencuit gemas dagu lancip Baekhan.

Aniya.” Baekhan membentak. Gadis itu mengusap dagunya yang dicubit Chanyeol. “Aku senang karena mungkin saja dengan ini kalian bertiga bisa mempunyai hubungan yang lebih baik lagi. Khususnya kau dan Sehun. Apa kau dan Baekhyun sudah merencanakan ini?”

“Lebih tepatnya aku meminta tolong pada Baekhyun. Tadi, tiba-tiba Baekhyun mengirimiku sms kalau kau dan Sehun akan liburan dan dia menyuruhku ikut bersama kalian. Baekhyun juga tidak ingin di rumah sendirian.”

Oh, Chanyeol,” Baekhan sedikit berjinjit dan mengacak rambut Chanyeol. “Kau sudah merubah warna rambutmu. Sudah bisa kutebak, warna hitam sangat cocok denganmu.”

Chanyeol menepis tangan Baekhan. “Jauhkan tanganmu dari rambutku. Bisa-bisa rusak.”

Heol.”

Sehun menghidupkan mobilnya dengan malas. “Oke. Masuklah.” katanya.

Baekhyun membuka pintu mobil bagian tengah dan menyeret Baekhan ke dalamnya. Sementara Chanyeol duduk di samping Sehun seperti tidak terjadi apa-apa.

“Kenapa kau duduk di sini?!” gertak Sehun.

“Oh, ayolah, Sehun. Itu tidak rasional namanya jika Chanyeol duduk bersama kami di sini,” jawab Baekhan.

“Maksudku, seharusnya kau yang duduk di sampingku Byun Baekhan.”

“Baekhyun tidak mau pisah dengan gadis aneh itu jika di dalam mobil. Bisa-bisa Baekhyun mabuk darat dan apa kau mau itu terjadi?” kata Chanyeol.

“Ya, itu benar sekali.” Baekhyun menyenderkan kepalanya pada bahu Baekhan. “Aku sangat menyayangi nuna-ku.”

Sehun melihat ke bagian belakang. “Ah, yang benar saja. Kenapa semuanya jadi seperti ini?” gerutu Sehun.

“Sehun hyung,” kata Baekhyun. “Kalau kau mau tenang, seharusnya tidak mengajak nuna. Karena mengajak gadis ini sama artinya mengikut-sertakan aku dan Chanyeol hyung di dalamnya.”

Sehun mendengus kesal dan menjalankan mobilnya.

“Kenapa kau sangat kesal hyung?” tanya Baekhyun lagi, seperti wartawan acara gosip ulung. “Jangan-jangan di villa-mu hanya ada satu kamar?! Dan kau kesal karena..”

Ya! Aku bukan lelaki seperti itu!” protes Sehun.

“Baekhyun. Kau terlalu sering berhipotesis, sama seperti Baekhan” kekeh Chanyeol.

Baekhan tersenyum kecil. “Bisakah kau menghidupkan lagu? Suasana di dalam sini agak menyeramkan.”

Sehun menghidupkan mp3 player-nya dengan ujung tari telunjuk sementara matanya berfokus pada jalanan.

After one whole quart of brandy..

Sehun mengernyitkan dahinya dan tampaknya itu disadari oleh Chanyeol. Sialan! Kenapa harus lagu ini?!

“Ini lagu yang kau nyanyikan saat latihan bersama Chanyeol hyung, ‘kan?” tanya Baekhyun sambil menggeliat.

“Oh, ya, tentu saja” jawab Baekhan. “Bukankah lagu ini sangat indah, Baekhyunnie?”

“Pantas saja Chanyeol hyung sangat menyukai lagu ini,”

“Oh, oh. Dan jangan lupakan Sehun! Sehun juga sangat menyukai lagu ini.” Baekhan terkekeh sendiri. Ia yakin kalau Chanyeol dan Sehun, cepat atau lambat akan segera menyudahi permusuhan mereka. Buktinya, Sehun masih sering memutar dan menyanyikan lagu Tony Benet ini. Well, lagu ini adalah lagu kesukaan Sehun dan Chanyeol. Mereka sering sekali menyanyikan lagu ini saat mereka masih berteman baik.

Juga Baekhan menangkap foto mereka berdua yang sedang saling merangkul mengenakan kaos basket Hannyoung High School di dalam kamar Sehun yang diletakkan di sebuah meja pendek seberang kasur Sehun. Meja itu berhimpitan dengan tembok sehingga letaknya agak tersembunyi. Mungkin Sehun sengaja menaruhnya di sana. Baekhan baru menyadari kehadiran foto itu tadi, sewaktu ia membangunkan Vivi yang sedang tidur di kasur Sehun.

“Kau yakin rencana ini akan berhasil?” bisik Baekhan pada adiknya.

“Ya. Sehun hyung itu tak sedingin kelihatannya. Aku tahu, dia sebenarnya sangat ingin berteman kembali dengan Chanyeol hyung, tapi melihat sikap Chanyeol hyung yang dingin, maka ia mengurungkan niatnya” jawab Baekhyun pelan. “Pada dasarnya mereka berdua sama-sama ingin berteman kembali, tapi mereka tidak tahu cara memulai yang benar. Tugas kita hanya menyediakan suasana dan tempat bagi mereka untuk memulainya.”

Baekhyun memejamkan matanya setelah menjawab pertanyaan nuna-nya. Suasana canggung seperti ini mungkin membuatnya mengantuk dan memilih untuk tidur.

“Darimana kau belajar bicara seperti itu, eoh?” tanya Baekhan tak percaya kalau seorang Byun Baekhyun barusan mengatakan hal seperti tadi. Ia mengelus kepala Baekhyun pelan dan membiarkannya terlelap. Baekhan melihat arah Chanyeol dan Sehun yang saling diam. Ia tak sabar menunggu bagaimana ramainya suasana jika tali permusuhan di antara mereka sudah tidak ada lagi.

“Baekhyun sudah tidur?” tanya Sehun keheranan karena suasana sangat sunyi dan hanya di dominasi oleh lagu Tony Bennet.

“Ya.” Baekhan kembali mengelus kepala adiknya itu. Rambutnya yang berwarna kemerahan sangat lembut.

“Pantas saja hening sekali.”

“Alasan hening bukan karena Baekhyun tidur” jawab Baekhan. “Itu karena kalian berdua tidak saling bicara dan kurasa aku mulai mengantuk di sini.”

“Apa aku harus mengubah lagu melankonis ini dengan lagu dari Hyuna agar Baekhyun kembali ceria?” tanya Sehun.

Chanyeol berdecak, “Apa kau tidak punya lagu lain?”

“Maksudmu lagu 2NE1? Aku punya beberapa, cari saja sendiri,” jawab Sehun tak sadar.

“Oh, kau masih ingat dengan girlband kesukaanku,” ucap Chanyeol sambil mencari lagu yang ingin ia putar di mp3 player yang ada di mobil.

Baekhan tersenyum lebar. “Wah sepertinya kalian sangat dekat ya,”

“Mungkin,” ucap Chanyeol. Ia lalu memutar lagu Come Back Home yang dipoplerkan oleh 2NE1.

“Apa maksudmu?” tanya Baekhan.

“Entahlah,” jawab Chanyeol. Ia menyandarkan tubuhnya pada jok mobil sambil memejamkan matanya menikmati lagu yang diputar.

Come back home. Can you come back home?” Baekhyun bersenandung mengikuti irama lagu yang terputar. Matanya masih terpejam dan posisi tubuhnya masih seperti saat ia tidur tadi.

“Oh, kau sudah bangun?” tanya Chanyeol.

Ne, hyung. Ada lagu lain?” tanya Baekhyun.

Roll Deep?” tawar Chanyeol.

“Kau benar-benar tahu kesukaanku, hyung,” ucap Baekhyun sambil tertawa keras. Chanyeol juga ikut tertawa mendengar ucapan Baekhyun. Baekhan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka.

“Yang jadi pertanyaannya sekarang, apa di sini ada lagu itu?” kata Chanyeol.

“Cari saja,” jawab Sehun.

Lagu Roll Deep terputar di mobil itu. Baekhyun menari-nari tak jelas sambil menyanyi dengan lantang. Baekhyun bahkan ikut menggoyang-goyangkan kedua tangan Baekhan agar ikut menari dengannya namun tidak digubris oleh Baekhan.

Ige da naega jalnagaseo geureohji mwo, naega yeppeoseo geureohji mwo, da bureowoseo geuraeyo. Baby I’m bad all day..”

Baekhyun menyanyi mengikuti irama lagu dengan penuh semangat. Chanyeol tertawa keras melihat tingkah Baekhyun yang konyol. Sedangkan Sehun hanya tersenyum tipis. Sedingin-dinginnya ekspresi Sehun saat ini, ia tetap tak bisa menahan dirinya untuk tersenyum melihat tingkah Baekhyun yang terkenal sebagai orang gila di kampus itu, dan bahkan julukan itu sudah Baekhyun sandang sejak SMA.

Trouble Maker!” pinta Baekhyun begitu lagu Roll Deep selesai.

Araseo,” ucap Chanyeol.

Kajja! Nuna! Ayo kita duet!” ajak Baekhyun.

“Kau sendiri saja,” tolak Baekhan.

“Aish, nuna terlalu menjaga sikap hanya karena ada Chanyeol hyung dan Sehun hyung,” ucap Baekhyun dengan tangan yang terlipat di depan dada.

“Apa yang kau katakan, bodoh!” bentak Baekhan sambil memukul lengan Baekhyun.

“Memang benar, ‘kan? Sudahlah, jangan berbohong. Itu tidak baik, nuna. Mom tidak pernah mengari kita untuk berbohong, ucap Baekhyun kemudian meralat ucapannya sepersekian detik kemudian, “Eh, aku salah. Mom tidak pernah mengajari kita itu karena kita ‘kan sejak kecil diasuh para ahjuma itu. Mom tidak pernah menyuapi kita dulu―itu sungguh menyedihkan.”

Baekhan memutar bola matanya. “Siapa yang berbohong, huh?!” bentak Baekhan lagi.

“Iya, iya, tidak ada yang berbohong. Mau duet tidak?” tawar Baekhyun lagi.

“Tidak!” tolak Baekhan. Ia kesal dengan ucapan Baekhyun yang sudah membuatnya malu. Tidak bisakah Baekhyun menjaga citranya?

“Tidak bisa santai, ya?” kata Baekhyum kesal, “Kalau tidak mau ya sudah, tidak usah membentak!”

“Astaga, teman-teman, bisakah aku saja yang menyetir mobil ini? Biar seseorang yang berada di belakang sini dan tersiksa!” kata Baekhan dengan nada seperti orang frustasi.

“Duet denganku saja, Baek. Kau bagian Hyuna, ya,” ucap Chanyeol menenangkan. Yah, lelaki itu memang sangat tahu bagaimana mengendalikan Baekhyun.

“Oke! Nan trouble maker!” teriak Baekhyun kencang.

Chanyeol dan Baekhyun bernyanyi dengan kompak. Walaupun terkadang Baekhyun menyanyi dengan nada yang sumbang karena terlalu sibuk dengan tariannya dan Chanyeol tidak sempat menyanyi karena sibuk dengan tertawanya saat melihat tarian Baekhyun yang menirukan Hyuna.

“Huh, kenapa panas sekali, sih!” ucap Baekhyun sambil mengipas-ngipas tangannya di depan wajahnya.

“Kau yang terlalu serius menari dan membuat atmosfer di sini menjadi agak aneh,” timpal Baekhan.

Baekhyun lalu membuka jendela agar angin masuk ke dalam mobil. Baekhyun mengeluarkan kepalanya melalui jendela, menikmati angin yang bertiup kencang menerpa wajahnya.

Hyung! Berhenti!” teriak Baekhyun kencang. Sehun lalu menginjak rem tiba-tiba. Untung saja Baekhan dan Chanyeol mengenakan sabuk pengaman, jika tidak hidup mereka dalam bahaya.

“Apa yang sedang kamu lakukan, Baekhyun?!” bentak Baekhan kesal. Kepalanya hampir saja membentur jok mobil di depannya.

“Aku ingin membeli ice cream. Aku duluan!” ucap Baekhyun. Ia membuka pintu mobil lalu berlari menuju kedai ice cream yang tidak jauh dari tempat mobil mereka berhenti.

“Aish! Anak itu benar-benar membuatku kesal!” keluh Baekhan sambil menghempaskan badannya ke jok mobil.

“Kita turuti saja dia. Lagipula aku juga ingin istirahat sebentar,” ucap Sehun sambil memarkirkan mobil lalu mematikan mesin mobil.

Kajja,” ucap Chanyeol. Ia turun dari mobil diikuti oleh Sehun.

“Kau tidak turun?” tanya Chanyeol pada Baekhan yang masih duduk di dalam mobil.

“Iya, sebentar” jawab Baekhan. Ia mengambil tasnya lalu keluar.

Chanyeol tersenyum manis. Ia lalu menggandeng tangan Baekhan seakan-akan ini adalah date mereka yang kedua.

Good hair day” gumam Chanyeol seraya menaruh sejumput rambut Baekhan ke belakang telinga gadis itu yang sepertinya sukses membuat wajah Baekhan memerah tersipu malu.

Nunaa! Ayo sini,” teriak Baekhyun dari kedai ice cream itu sambil melambai-lambaikan tangannya tak sabar. Tangannya yang sebelah memegang sebuah stawberry ice cream. Setelah Baekhan dan Chanyeol mendekat, Baekhyun segera menarik nuna-nya itu dari genggaman tangan Chanyeol.

“Kedai ini benar-benar menjual ice cream yang super-duper enak!” kata Baekhyun gembira seraya merangkul Baekhan.

Baekhan melirik Sehun yang sedang duduk dan bersantai di sebuah kursi panjang. “Ah, aku mau vanilla ice cream satu, chocolate ice cream satu,” bisiknya pada seorang lelaki yang agak tua. Sementara Chanyeol memesan dengan seorang yeoja yang tampaknya anak lelaki itu. Yeoja penjual itu tampa malu-malu menghadapi wajah Chanyeol yang tampan.

Ya, Baekhan―”

Chanyeol terdiam ketika mendapati Baekhan sudah duduk bersama Sehun dan meninggalkannya bersama Baekhyun. Sehun mengelap ujung bibir Baekhan dengan jarinya dan sedikit terkekeh lalu merangkul Baekhan sembari menyender pada punggung kursi. Baekhan juga sepertinya sangat menikmati rangkulan hangat Sehun yang melingkar di bahunya. Chanyeol menggenggam ice cream yang ada di kedua tangannya erat-erat.

“Oh, hyung, aku tahu bagaimana rasanya,” kata Baekhyun sambil menepuk-nepuk bahu Chanyeol. Kepalanya mengangguk tanda mengerti situasi yang ada di depan Chanyeol.

“Kalau begitu..” sambung Baekhyun, “strawberry ice cream ini untukku saja. Kebetulan Baekhan-nuna kurang suka dengan rasa strawberry,” Baekhyun mengambil ice cream itu dari Chanyeol dan memakannya.

Chanyeol menggigit ice cream-nya dengan nada kecemburuan dan sedikit mengelus dadanya. Benar-benar menggemaskan melihat ekspresi wajah lelaki itu saat ini.

“Kau bisa merangkulku jika kau mau, hyung” kata Baekhyun dengan nada penuh harap dan merangkul Chanyeol erat-erat hingga Chanyeol sedikit tertunduk.

Ya! Sudahlah, pergi saja jauh-jauh dariku, Baek!”

 

-TBC-

Next Chapter

.

Padahal sudah tua, masih saja bersikap seperti anak-anak.”

.

.

.

.

Ia baru kali ini melihat Sehun sehabis mandi.

.

.

.

.

Baekhyun yang sedang menikmati makanan tampaknya agak terganggu dengan nama gadis itu.

.

.

.

.

.

Wajah keduanya memerah dan terlihat sekali bahwa mereka tertidur karena sudah sangat mabuk.

 

 

Oke, masuk ke sesi summer holiday yang rada absurd ><

Semoga tidak ada yang kesal sama Baekhan karena liburan sama tiga cogan dalam satu villa XD

Visit us ==> HERE

34 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] [Summer : Mirage] (Chapter 11)”

  1. Yasss, glad to see sehun-baekhan moment lagi!!! Pliss authornim, sehun sama baekhan aja:( Jangan sakiti uri sehun:( Btw aku suka baekhyun yang manja + kekanak – kanakkan sama baekhan wkwk. Semangat ngelanjutinnya!!!

  2. Hahaha.. baekhyun mmng ad” aj ya.. kan sehun ajak ny cma baekhan kog ini jadi chanyeol ama baekhyun jga ikut sih?.. gagal deh brduaan ny.. chanyeol cmburu.. si baekhyun org ny gk bisa tnangan dkit..

    1. Namanya juga Baekhyun >< tiada hari tanpa menjadi gila meskipun hanya sesaat layaknya gerhana matahari /bahasa absurd macam apa ini/ yang jelas gitu deh XD

    1. Thank you ❤
      Eh nanti kalo adegan Chanbaekhan dibanyakin malah authornya yang gila sendiri /apaan ini/ XD

  3. Wuhu.. Akhinya yg ditunggu.
    Yehet..SummerHoliday. Yippy bang baekhyunee ikut, bakalan seru nih. Bangchan sabar yah, cupcup. Bang OhSehun deketin terus sibaekhan jangan sampe dia mlirik chan, ambil hatinya bang, araci?!
    Lanjut kakak jangan lama dong seminggu itu rasanya seabad.

    1. Abang Chan-nya gwaenchana kok ‘kan ada saya di sini XD
      Ya ampun seminggu itu cuma tujuh hari loh kok bisa jadi seabad sih sama kamu? XD btw thanks a lot ya ❤ ❤ /tebar love/

    1. Yah ketahuan XD author yang niat buat readers iri jadi malah senjata makan tuan XD /gigit tembok/

  4. apa apaan ini knp aku ga di ajak,,,baekhyum tunggu aku donk,,,,wkwkwkww
    ***kayanya harus bnyak ngelus dada ni,,chanHun,,cos pasti satu sama lain ngrasa cemburu klo beduan dng Baekhan..
    seruuuu,,

    1. /NGEJAR BAEKHYUN JUGA/ /PENGEN IKUTAN LIBURAN JUGA/ kkkkk
      oke, selamat mengelus dada/? menantikan kelanjutan kisah Chan-Baekh-Hun XD

  5. Chapter ini lucu, romantis, bikin ketawa mulu selama baca chapter ini 😍
    Next yaa,author.. Semangaatttt..
    Salam kenal..
    Mian, baru komentar 😔

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s