[EXOFFI FREELANCE] [Summer: Mirage] Chapter 3 – It’s Time For Dinner

summer.jpg

[Summer: Mirage] Chapter 3 – It’s Time For Dinner

Author : Muftonatul Aulia & Hanifah Harahap

Genre : Romantic, Friendzone, Memories, Angst, Drama

Length : Multichapter

Rating : General

Main Cast :

1. Park Chanyeol (21 th)

2. Byun Baekhan(OC) (21 th)

3. Byun Baekhyun (20 th)

4. Oh Sehun (21 th)

Credit Poster: Gyuskaups@ Indo Fanfictions Arts

PLEASE, NO PLAGIAT! THIS STORY IS REAL FROM OUR MIND

DON’T BE A SIDERS GUYS

Fanfic ini juga kami publish di blog pribadi kami parkjunjinchanchan.blogspot.co.id

Previous Chapter:

Chapter 1 Chapter 2

“Nuna, bangun!”

Baekhyun mengguncang bahu Baekhan dengan kasar hingga Baekhan terloncat dari tidurnya

seperti orang yang baru saja bangun dari sebuah mimpi buruk. Baekhan memandang wajah adiknya

dengan ekspresi kesal.

“Kau tahu sudah berapa lama kami menunggumu di ruang musik itu? Ayo, ke sana! Chanyeol

hyung sudah menungguu!” Baekhyun menarik tangan Baekhan dengan kuat meskipun nuna-nya itu

meronta-ronta.

“Mwo? Kau tidak lihat pakaianku ini? Masa aku harus bertemu dengan Chanyeol dengan

pakaian seperti ini?!” kata Baekhan melepas genggaman tangan Baekhyun.

Baekhyun memperhatikan nuna-nya dengan seksama. Nuna-nya itu mengenakan celana

jeans pendek dan kaos warna hitam tanpa lengan.

“Ayolah. Dia juga mengerti kalau ini hampir musim panas!” kata Baekhyun dengan kesal.

Baekhan merebahkan dirinya di atas kasur dan menarik selimut di dekatnya. Ia menutupi

semua badannya dengan selimut itu.

Oh, benar-benar keras kepala.

Baekhyun menghela napas dan berjalan ke arah lemari pakaian Baekhan dan membukanya.

Baekhyun melihat segala isi lemari yang rapi itu. Kemudian, ia menarik sebuah cardi warna abu-abu

dan menutup lemari itu dengan kasar. Baekhyun lalu kembali berjalan ke arah Baekhan dan

melemparkan cardi itu pada nuna-nya.

“Pakai saja itu,” ujar Baekhyun dengan ekspresi datar.

Baekhan membuka selimutnya dan melihat sebuah cardi warna abu-abu sudah ada di atas

badannya. Dengan kesal, Baekhan duduk dan buru-buru memakai cardi-nya itu dan sedikit

merapikan rambutnya. Ia meraih handphone-nya yang kini tergeletak di samping bantal guling.

Dengan cepat, Baekhyun menarik tangan nuna-nya menuruni kasur dan berjalan menuju

ruang musik. Baekhan hanya diam mengikuti Baekhyun.

“Ya, sudah berapa lama kalian menunggu?” tanya Baekhan.

“Dua jam dua puluh lima menit empat puluh delapan detik,” jawab Baekhyun datar.

“Mwo?!” sontak Baekhan melepaskan tangannya dari tangan Baekhyun.

“Sudah selama itu? Kenapa kamu nggak bangunin aku dari tadi? Bagaimana aku jadinya di

depan Chanyeol?” ujar Baekhan dengan nada bingung. “Kalau begitu.. bilang saja sama Chanyeol

kalau aku mendadak sakit karena kau terlalu keras menendangku tadi,”

Baekhan kembali berjalan menuju kasurnya yang empuk dengan langkah tergesa-gesa.

Baekhyun menatap gadis berumur 21 tahun itu dengan heran. Namja itu lalu kembali menghela

napas panjang dan menyeret Baekhan keluar kamar dengan paksa.

“Byun Baekhyun!!” teriak Baekhan seraya melawan Baekhyun yang menyeretnya dengan

kedua tangannya yang terasa lembut di kulit putih Baekhan.

“Kau sangat menyebalkan!” ujar Baekhyun keras.

Diam-diam Baekhan menyumpah siapapun yang membuat kamar Baekhyun―yang sekarang

menjadi ruang musik berada di sebelah kamarnya. Baekhan bisa merasakan wajahnya menjadi panas

karena semakin dekat dengan ruangan itu. Gadis itu menutup matanya erat dan berhenti meronta

ketika Baekhyun membuka pintu ruang musik dengan agak keras.

Baekhan membuka matanya yang bulat ketika Baekhyun melepaskan genggaman tangannya

dengan kasar. Oh, dia benar-benar merasa seperti sedang di culik sekarang. Dengan santai,

Baekhyun menghempaskan badannya ke sebuah sofa di dekat pianonya yang mengkilap karena

selalu ia bersihkan setiap minggu.

Chanyeol yang sedang berdiri di depan jendela ruangan yang cukup besar saraya melihat

taman belakang rumah mereka menoleh seketika. Lelaki jangkung itupun tersenyum manis tatkala

mendapati Baekhan sudah berada di ruangan ini. Entah kenapa Baekhan merasa senyuman

Chanyeol saat ini sungguh mengerikan. Gadis itu menahan napasnya ketika Chanyeol berjalan

mendekat ke arahnya.

“Ya. Apa kau ketiduran?” tanya Chanyeol. Ia mengacak pelan rambut Baekhan. Chanyeol

mendekatkan dirinya pada Baekhan. Ia menatap gadis itu dan menyadari bahwa Baekhan sangat

cantik dengan wajah setengah western-nya.

Baekhan mengangguk pelan. “Mian. Aku tadi membalas pesan dari Oh Sehun sambil

berbaring di kasurku dan berniat menemui kalian di sini, tapi ternyata aku ketiduran. HAHAHA” ujar

Baekhan dengan tawa yang sedikit dipaksakan. Dia benar-benar malu dengan Chanyeol saat ini.

Chanyeol menaikan satu alisnya.

Sehun?

“Apa yang kalian berdua lakukan?” tanya Baekhyun dari ujung sana. Baekhan sedikit melirik

adiknya itu. “Hyung kau bilang akan latihan bermain piano dengan gadis aneh itu..” kata Baekhyun

dengan ekspresi tanpa dosa.

“Ya! Apa katamu?” Baekhan sedikit menghentakkan kakinya dan menancapkan

pandangannya pada Baekhyun yang entah kenapa tiba-tiba terkekeh sendiri seraya memeluk bantal

sofa yang empuk. Dasar aneh..

Park Chanyeol tersenyum tipis dan berjalan menuju piano dan duduk dengan tenang di

kursinya. Lelaki itu merengganglan kesepuluh jarinya dan bersiap untuk memainkan piano yang

merupakan hadiah ulang tahun Baekhyun ketika ia berusia 18 tahun.

“Kau suka musik jazz, ‘kan?” tanya Chanyeol pada Baekhan.

Gadis itu sedikit menyeka rambutnya dan mengangguk pelan.

“Sama seperti Sehun. Dan karena kau berteman baik dengannya, kau pasti tahu lagu

Bewitched, Bothered, and Bewildered. Apa kau bisa menyanyikannya?”

“Tentu aku bisa menyanyikannya!” jawab Baekhan dengan antusias.

Itu adalah lagu jazz pertama yang ia dengarkan bersama Oh Sehun. Yang ia tahu, Sehun

menyukai lagu itu. Kadang, Sehun mengajaknya menyanyikan lagu itu saat latihan vokal.

Hei tunggu, kenapa Chanyeol tahu kalau Sehun juga suka musik jazz? Padahal setahunya

mereka berdua adalah dua namja populer yang memiliki hubungan yang buruk. Dan apa

hubungannya Sehun dengan kenyataan kalau ia tahu lagu Tony Bennet itu? Apa Chanyeol juga

menyukai lagu ini?

“Oke. Kalau begitu, mulailah bernyanyi..” ujar Chanyeol sambil menyeret jarinya di atas tuts

piano dengan lembut.

Baekhan menghela napas panjang sebelum ia mulai bernyanyi. Kini, tengkuknya mulai

merasakan udara dingin yang dihasilkan AC di ruangan ini.

After one whole quart of brandy. Like a daisy, i’m awake with no Bromo-Seltzer handy. I

don’t even shake

Chanyeol melirik ke arah Baekhan sambil terus memainkan piano. Suaranya benar-benar

indah. Baekhyun yang duduk di dekatnya juga memperhatikan nuna-nya itu dengan seksama. Logat

Inggris Baekhan benar-benar terasa karena ibunya seorang warga Inggris yang menikah dengan

ayahnya yang bermarga Byun.

Men are not a new sentation. I’ve done pretty well i think. But this half-pint imitation put me

on the blink

Baekhyun sedikit membuka matanya dan melihat ke arah Chanyeol dan Baekhan. Permainan

piano Chanyeol benar-benar sempurna.

I’m wild again, beguiled again. A simpering, whimpering child again. Bewitched, bothered,

and bewildered – am i

Couldn’t sleep and wouldn’t sleep when love came and told me, i shouldn’t sleep. Bewitched,

bothered, and bewildered – am i

Lost my heart, but what of it. He is cold i agree he can laugh, but i love it. Although the

laugh’s on me

Oh, sekarang Chanyeol ikut bernyanyi bersama gadis itu. Baekhan menutup matanya erat,

menjiwai isi lagunya. Suara piano yang lembut mengiringi suara emas Chanyeol dan Baekhan.

Baekhyun sedikit menganggukkan kepalanya. Terbenam dalam lembutnya lagu jazz yang

banyak dicintai orang-orang ini.

I’ll sing to him, each spring to him. And long, for the day when i’ll cling to him. Bewitched,

bothered, and bewildered – am i

He’s a fool and don’t i know it? But a fool can have his charms. I’m in love and don’t i show it

Like a babe in arms?

Love’s the same old sad sensation. Lately i’ve not slept a wink. Since this half-pint imitation

put me on the blink

I’ve sinned a lot, i’m mean a lot. But i’m like sweet seventeen a lot. Bewitched, bothered, and

bewildered – am i

Terdengar suara engsel pintu dibuka pelan.

Baekhyun menoleh ke arah pintu itu dengan wajah penasaran. Seketika, Chanyeol

menghentikan permainan piano dan nyanyiannya ketika ia melihat Nyonya Byun sedang berdiri di

depan pintu itu. Begitupun dengan Baekhan yang tampaknya terheran-heran dengan keberadaan

mom-nya.

Mata wanita itu berwarna keabuan dan sangat jernih. Wajah wanita itu sama sekali bukan

wajah Asian. Ia lahir dan dibesarkan di Inggris hingga suatu hari mendapat beasiswa di Korea―entah

bagaimana ia jatuh cinta pada seorang Byun Jaeseok dan memutuskan untuk menikah dan tinggal di

Korea.

“Sorry. But, it’s time for dinner. Chanyeol, let’s take a dinner with us” kata wanita bernama

Bethany itu dengan lembut.

“Jinjja? Aku sudah kelaparan dari tadi. Ja.. kita makan malam bersama!” ucap Baekhyun

kegirangan sambil melonjak dari kursinya.

Chanyeol berdiri dan mengikuti Baekhyun dari belakang. “Kajja,” kata Chanyeol menarik

tangan Baekhan yang berdiri tepat di depannya.

Baekhyun mengambil sepotong daging dan melahapnya bersama nasi putih yang hangat.

“Byun Baekhyun, kau terlalu banyak makan daging akhir-akhir ini” kata Nyonya Byun

memperingatkan. Baekhyun sedikit menggembungkan pipinya dan menatap mom-nya yang duduk di

depannya dengan rambut pirang yang diikat ke belakang.

“Mom, katanya anak tetangga sebelah gangguan jiwa, ya?” tanya Baekhyun.

“Wae?” jawab Nyonya Byun antusias seraya menggertakkan sumpitnya.

“Jadi begini.. katanya tante sebelah sering bertengkar dengan suaminya. Karena itulah

anaknya menjadi sangat tertekan berada di dalam rumah dan menjadi gangguan jiwa. Aku dengar

kondisinya sangat mengerikan sekarang!” Baekhyun sedikit mengecilkan volume suaranya.

“Really? Daebak… kenapa tak ada yang memberitahuku?” ucap Nyonya Byun kesal.

Chanyeol memandangi Baekhyun dan Nyonya Byun dengan alis yang sedikit terangkat. Jadi,

sifat Baekhyun yang suka menggosip ini diturunkan dari Nyonya Byun? Oh, benar-benar aneh!

Lelaki itu melirik ke arah Tuan Byun yang diam dan makan dengan tenang: sama seperti

Baekhan. Ah, kini dia tahu kenapa Baekhan lebih pendiam daripada Baekhyun. Chanyeol tertawa

dalam hati. Kedua kakak-adik ini memang aneh.

“Jadi, Chanyeol ini teman Baekhan juga? Aku pikir kalian bukan teman karena Baekhan

selalu menutup pintu kamarnya ketika kau datang,” ujar Nyonya Byun tiba-tiba dengan bahasa Korea

yang baik. Ia menatap Chanyeol yang duduk di sebelah Baekhyun.

“Oh, mom…” desis Baekhan pelan sambil menyenggol Nyonya Byun.

“Haha.. Saat SMA, kelas kami bersebelahan. Baekhyun juga selalu membicarakan keburukan

Baekhan padaku,” Chanyeol sedikit terkekeh. Ia melihat ke arah Baekhan yang duduk di depannya.

“Ya! Aku tak selalu membicarakan gadis aneh itu padamu, hyung” jawab Baekhyun

memprotes seraya menoleh ke samping kirinya.

Tuan Byun sedikit menoleh ke arah Baekhyun. “Baekhyun, kamu sudah 20 tahun. Jangan

membuat rumah ini menjadi semakin berisik dengan Baekhan,” katanya tenang. Baekhan sedikit

tersenyum melihat adiknya itu dikritik ayahnya.

“Byun Baekhan punya suara yang bagus dan berkarakter. I very love her voice. Well,

mungkin saja dia bisa menjadi penyanyi yang terkenal nantinya” puji Chanyeol seraya tersenyum

pada gadis itu.

Baekhyun melihat nuna-nya dengan tajam. “AKurasa.. aku punya suara yang lebih bagus

daripada Baekhan,” ujar Baekhyun dengan bangga.

“Araseo. Kalau begitu, nyanyikanlah satu lagu nanti” jawab Chanyeol dengan santai.

Nyonya Byun tersenyum kecil. “Jadi Chanyeol.. kamu hanya tinggal bersama adik

perempuanmu di Seoul?”

“Well. Dia tingkat 3 di Hannyoung High School” jawab Chanyeol memperjelas.

“Hannyoung High School itu SMA kalian dulu, ‘kan?” tanya Papa Byun tiba-tiba.

Baekhyun mengangguk pelan. “Adiknya Chanyeol hyung itu adik tingkatku,” katanya.

“Orangtua kalian dimana?” sambung lelaki yang mulai tua itu.

“Mereka di USA. Mereka mendapat tugas dari perusahaan tempat mereka bekerja. Aku dan

Seulwoo, adikku entah kenapa tak begitu menyukai USA sehingga kami menetap di sini. Lagian

waktu itu aku akan mengikuti ujian masuk Universitas,” jawab Chanyeol.

“Aku baru tahu kau hanya tinggal dengan adikmu,” timpal Baekhan sambil memakan makan

malamnya.

Chanyeol tersenyum. “Wah, menyedihkan sekali jadi Park Chanyeol. Padahal aku tahu

semuanya tentangmu tapi kau sama sekali tak tahu apa-apa tentangku, Baekhan” katanya lalu

meneguk minumannya dengan mata yang masih tertuju pada Baekhan.

A.. apa maksudmu?

Luhan menginjakkan kakinya di depan sebuah rumah mewah bergaya Mediterania. Ia memandang

bagian luar itu dan melihat sama sekali tak ada perubahan yang berarti selama ia tak berada di

Korea. Pelayan-pelayannya benar-benar setia mengurus rumah ini dengan baik.

“Mari Tuan, saya bawakan kopernya..” kata seorang ajjuma yang sangat ia kenal.

Luhan menyerahkan kopernya yang berwarna hitam pada wanita itu dan melepaskan

kacamata hitam yang ia kenakan.

Ia melihat jam tangannya. Oh, sudah waktunya makan malam dan sekarang dia benar-benar

lapar setelah perjalanannya dari China ke Korea.

“Ajjuma, apa kau memasak untukku?” tanya Luhan.

“Ne. Nyonya Han sudah memberitahu kalau Tuan akan sampai ke Korea malam ini. Jadi kami

menyiapkan makan malam untuk Tuan..” jawab ajjuma.

“Jinjja?”

Luhan masuk ke rumah mewah itu dan berjalan menuju meja makan. Segala barang-barang

yang ada di dalam rumahnya sama sekali tidak berubah. Hanya beberapa barang yang digeser ke

tempat lain.

Kakinya berhenti ketika sampai di meja makan yang lumayan besar. Dengan segala ukiran

yang ada, meja itu benar-benar mewah.

Seorang pelayan lelaki menarikkannya kursi dan menyuruhnya duduk dengan hormat. Luhan

tanpa basi-basi duduk dan menghadap ke arah makanan yang masih hangat itu.

Seorang ajjuma menuangkannya segelas minuman segar dan meletakkannya di samping

Luhan. Ia melirik ke arah Luhan dan menyadari bahwa entah kenapa wajah Tuannya ini semakin

cantik.

“Wah, sudah lama sekali tidak makan makanan seperti ini..” gumam Luhan seraya

mengambil semangkuk nasi hangat yang sudah tersedia.

Di sekelilingnya, berdiri beberapa pelayan yang siap disuruh apa saja jika diperlukan Tuan

mereka. Seperti pelayan dan pangeran pada zaman-zaman kerajaan.

Luhan memandangi mereka satu per satu. “Apa selama kami di China, tak ada pelayan baru

yang masuk?” tanya Luhan.

“Tidak ada. Semua pelayan yang ada di sini adalah pelayan lama, Tuan. Nyonya Han juga

melarang ada pelayan baru.” kata seorang lelaki dengan rambut yang mulai memutih.

“Beberapa dari kalian sudah tampak tua dan lelah. Aku tahu, kalian seharusnya dibantu oleh

beberapa pelayan yang lebih muda.” Ujar Luhan. “ Mulai besok carikan beberapa orang pelayan baru

dan jika kalian ingin berhenti bekerja kalian bisa bicara padaku karena mulai saat ini aku akan tinggal

di Korea,” jelas Luhan dengan ekspresi dingin.

Semua pelayan yang ada di sana hanya bisa saling memandang satu sama lain.

“Ah, iya. Tapi ingat, jangan mencari pelayan yang terlalu muda―itu akan sangat

merepotkan” kata Luhan memperingatkan.

Lelaki itu mengambil sepotong daging dan memakannya. Ia sudah hampir lupa bagaimana

cita rasa makanan Korea. Luhan sedikit menggerakkan lengannya yang kaku. Ah, benar-benar!

Luhan sedikit berdecak dan meletakkan sumpitnya dengan rapi. “Oh, apa kalian sudah

menyiapkan air hangat untukku?” Luhan meletakkan tangannya di atas meja yang mengkilap.

Seorang pelayan lelaki menjawab “Sudah, Tuan. Apa Tuan ingin mandi sekarang?”

“Ya, ototKurasanya ingin lepas semua” Luhan menepuk-nepuk bahunya.

Seorang ajjuma menaruh sebuah handuk warna putih yang bersih di samping Luhan.

Luhan berdiri dari kursinya dan mengambil handuk itu. Ia berjalan ke arah kamar mandi yang

ada di lantai dua. Kamar mandi itu langsung terakses dari kamarnya yang luas.

Luhan menoleh ke belakang dan berbicara pada seorang ajjuma yang bertugas memasak.

“Ajjuma, aku benar-benar ingin makan tteoboki..”

Si ajjuma mengangguk pelan dan tersenyum. “Baiklah. Datanglah ke sini ketika sudah

mandi..”

Luhan membalas senyum ajjuma itu dan berjalan ke lantai dua dengan handuk yang

tersampir di bahu kirinya.

Ketika menaiki anak tangga, mata Luhan menangkap sesuatu. Sesuatu yang tak asing di

matanya. Sebuah foto yang benar-benar berharga. Sebuah foto yang ia lupakan saat ia mengemas

seluruh barang-barangnya ketika akan pergi ke China.

Sambil tersenyum kecil, Luhan meraih foto yang diletak di atas meja kecil di ruang tamu

tersebut. Jarinya menyentuh kaca foto itu dengan lembut.

Hei, aku sudah pulang. Kau baik-baik saja, ‘kan? Aku sangat merindukanmu.

Luhan menarik napas panjang.

Di foto itu, dirinya tengah merangkul seorang gadis yang tak bisa ia lupakan. Gadis yang

menjadi alasan mengapa ia kembali ke Korea. Gadis yang selalu menghantuinya dengan sinarnya

yang menghangatkan.

Sudah dua tahun semenjak aku pergi dari Korea. Dan selama itu aku selalu merindukanmu.

Setiap liburan saat musim berganti, aku selalu memikirkan dirimu. Mengingat semua hal yang

pernah kita jalani bersama. Mengingat semua lelucon yang kau buat untukku. Mengingat setiap

pelukan yang sungguh membuatku merasa hangat.

Apa kau masih tetap sama?

Dan.. apakah kau masih mencintaiku seperti dulu?

-TBC-

Next Chapter.

.

.

“Ada kalanya aku menyesal karena telah menyukaimu. Tapi aku tak pernah menyesal telah

mengenal Sehun,”

.

.

.

.

“Aku sadar bahwa lelaki dan wanita tak akan pernah bisa jadi sepasang sahabat sejati, salah satu di

antara mereka pasti ada yang menyimpan sebuah perasaan..”

.

.

.

.

Tolong mengertilah kalau aku mencintai Oh Sehun.

Aku bersamamu hanya untuk dekat dengannya, Chanyeol.

Apa kau tak menyadarinya?

.

.

.

Break and Burn and End

28 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] [Summer: Mirage] Chapter 3 – It’s Time For Dinner”

  1. Cerita nya bikin greget. Itu gadis yg dirindukan Luhan jangan” si Baekhan?
    Trus itu preview next chapter malah bikin aku bingung, si Baekhan sebenernya suka Sehun?

  2. Hallo.. aku reader baru.. dan baru koment d chapter 3 ini ya.. sorry ya..
    hmm.. ini si baek sibling lucu bget ya.. kaya anak kembar bneran aj..sbnarny baekhan itu suka ny ama chanyeol ato sehun sih? aku bngung d kutipan terakhir.. ato jgn” chanyeol cma.d manfaatin?!

    1. Makasih udah mau baca ya oppa(?)
      Ditunggu ya chapter selanjutnyaa. Lebih menegangkan dan seru, loh*promosi*

    1. Penasaran, ya? Haha Ditunggu chapter selanjutnya ya. Btw, makasih udah mau baca dan ga jadi siders ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s