[EXOFFI FREELANCE] Summer Mirrage (Chapter 5)

summer

[Summer: Mirage] (Chapter 5 – Lovely Doll)

Author                  : Muftonatul Aulia/Hanifah Harahap

Genre                   : Romance, Friendzone, Memories, Angst, Drama, Family

Length                  : Multichapter

Rating                   : General

Main Cast            :

  1. Park Chanyeol (21 th)
  2. Byun Baekhan(OC) (21 th)
  3. Byun Baekhyun (20 th)
  4. Oh Sehun (21 th)

Credit Poster: Gyuskaups @ Indo Fanfictions Arts

PLEASE, NO PLAGIAT! THIS STORY IS REAL FROM OUR MIND

AND DON’T BE A SIDERS!

Fanfic ini juga kami publish di sini

Previous Chapter:

Chapter 1 – Sehun Eyes | Chapter 2 – Baekhyun Drawing Book| Chapter 3 – It’s Time For Dinner| Chapter 4 – Begin Again | [NOW] Chapter 5 – Lovely Doll

 

Ketika masuk ke dalam sebuah ruangan yang tersembunyi dari luar caffe, Baekhan menahan jeritannya. Dengan tangannya yang hangat, Sehun merangkulnya dengan erat.

“Karena kau anak baik-baik, kau belum pernah ke club, ‘kan?” kata Sehun sambil mendorong Baekhan masuk dan melihat club yang di dominasi warna gelap itu.

Keempat lelaki itu telah duduk menghadap sebuah meja panjang. Baekhan duduk di samping Jongin. Sehun menyusul setelahnya dan duduk di depannya. Musik disc mengalun pelan.

“Bukan waktu yang tepat. Seharusnya kita datang lebih malam. Akan ada banyak wanita cantik di sini,” kekeh Sehun.

Baekhan melihat jam tangannya. Ia tak menyangka jika sudah masuk malam hari.

Well, tempat ini masih sepi” timpal Junmyeon “Tapi tak apa. Kurang lengkap kalau reunian tanpa mampir ke tempat ini,”

Seorang pria datang dengan dua buah botol kaca warna hijau dan enam buah gelas kecil. Pria itu terkekeh melihat seorang yeoja yang duduk di antara lima namja dengan muka polosnya. Setelah pria itu pergi, Yixing dan Sehun mengambil masing-masing satu botol dan membukanya.

“Minumlah,” kata Sehun sambil menuangkan isi botol itu di sebuah gelas dan menggesernya ke depan Baekhan. Kyungsoo mengambil alih botol itu dan menuangkan isinya pada gelasnya dan Junmyeon.

“Ayo, bersulang” kata Yixing yang duduk di sebelah Jongin sambil menaikan gelasnya.

Baekhan menaikan gelasnya dengan ragu. Keenam gelas itu saling beradu menghasilkan suara yang bergema dengan merdu. Baekhan meneguk minuman yang tak berwarna itu.

Junmyeon yang melihatnya sedikit terkekeh. “Ya, Baekhan. Aku tak menyangka kau belum pernah minum minuman semacam ini,”

Well. Itu karena Baekhan ini gadis baik-baik” timpal Sehun kembali meneguk minumannya hingga habis. Ia mengisi lagi gelasnya yang kosong.

Baekhan sedikit merasakan pusing di kepalanya. Gadis itu melirik ke arah Kyungsoo yang duduk tepat di depan Jongin.

“Kau juga minum?” tanya Baekhan dengan polosnya, membuat kelima namja itu tertawa. Yang paling keras tentu Sehun.

Kyungsoo meneguk minumannya. “Jangan pikir seorang calon dokter tidak minum ini, nuna” katanya setengah tertawa.

Sehun kembali mengisi gelas Baekhan sampai penuh. Tadi gadis itu hanya meminum seperempat gelas. “Minumlah lagi.”

Baekhan tersenyum simpul dan meneguk minumannya. Sebelum ia meneguk seperempat isi gelas, ia menaruh gelas itu di depannya. Baekhan menempelkan wajahnya di atas meja. Oh, dia benar-benar merasa pusing.

Jongin mengangkat wajahnya dan menyenderkan punggung gadis itu di kursi.

“Oh? Gampang sekali mabuk,” kata Jongin.

Araseo, araseo. Kau memang benar-benar harus pulang,” ucap Sehun. Ia mengambil gelas yang ada di depan Baekhan dan meneguknya hingga habis.

Sehun berjalan dan membopong Baekhan untuk berdiri. Sementara Jongin menyampirkan tas Baekhan pada bahu gadis itu.

Ya, Sehun! Kau harus mengantar dia dengan baik hingga ke rumahnya,” kekeh Yixing.

“Sangat disayangkan, padahal sudah mulai ramai” komentar Junmyeon dengan ekspresi menggoda.

Geure, aku akan mengantarnya pulang lalu kembali lagi ke sini,” ujar Sehun memperjelas.

Sehun membopong Baekhan ke mobilnya dengan tenang. Wajah gadis itu berubah menjadi merah karena alkohol itu. Karena jatuh terus-menerus, akhirnya Sehun memutuskan untuk menggendong Baekhan seperti seorang pengantin baru ke dalam mobilnya.

Ya, Sehun. Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!” protes Baekhan yang setengah sadar seraya memukul dada Sehun yang bidang.

“Kau terlalu mabuk. Tenang saja, aku tak akan berbuat macam-macam padamu. Lagian tubuhmu juga jelek” jawab Sehun asal saja sambil tetap menggendongnya dengan tenang meskipun beberapa orang melihat ke arah mereka.

Sehun menyenderkan tubuh mungil itu di kursi mobilnya yang empuk dan memakaikan gadis itu sabuk pengaman. “Tunggu sebentar di sini, aku akan kembali..” ucap Sehun sebelum ia menutup pintu mobil.

Lima menit kemudian Sehun kembali dengan sebotol air mineral di tangannya. Kini, lelaki itu duduk di kursi pengemudi. Sehun membuka botol tersebut dan menaruh mulut botol pada bibir Baekhan yang kemerahan.

“Kau harus meredakan mabukmu. Kau tak mungkin kembali ke rumahmu dengan keadaan seperti ini” kata Sehun sedikit cemas.

Baekhan meraih botol itu dan merebutnya dengan kasar dari tangan Sehun. “Heol. Kenapa sikap kasarmu muncul saat kau mabuk? Padahal kau baru minum satu gelas kecil itu,” ucap Sehun sambil mengacak rambut Baekhan pelan.

Sehun menyalakan mesin dan sedikit memanaskannya. Baekhan menutup botol dan meletakkannya di samping tuas mobil.

“Bagaimana? Apa lebih baik sekarang?” tanya Sehun memastikan keadaan Baekhan.

Ne. Gumawo,” ucap Baekhan dengan mata yang sayu.

“Pulang nanti, mandilah dengan shower. Nggak lucu kalau besok kamu tidak datang kuliah gara-gara minum

Baekhan melihat ke arah Mozaik Caffe yang ramai oleh para pengunjung yang didominasi anak-anak muda. Gadis itu memejamkan matanya dan membukanya kembali dengan berat.

Mata gadis itu menangkap sesuatu yang tak asing di matanya. Sebuah bayangan hitam yang benar-benar ia hapal siapa pemiliknya. Baekhan menoleh ke belakang saat Sehun memacu mobilnya dengan pelan. Bibirnya bergetar hebat menyebut nama orang itu.

Dear

 

Baekhan menaiki anak tangga dengan kaki yang lemas. Untungnya, ia masih sadar sepenuhnya hingga sampai saat ini ia belum menabrak satu tiangpun. Sehun benar-benar membantunya saat ia merasa seperti akan mati ketika mabuk tadi: tentu karena Sehun sudah berpengalaman akan hal-hal seperti itu.

Baekhan membuka pintu kamarnya dengan pelan dan melempar tasnya ke sembarang tempat. Gadis itu mencari-cari handuk di gantungan dan menyampirkannya ke bahu. Ketika ia melewati meja riasnya, ada kejanggalan yang ia rasakan. Kemana Baekhyun? Baekhan mendongak ke kasur Baekhyun. Lalu ia memutuskan untuk naik dan memeriksa apakah Baekhyun sudah tertidur atau belum.

Ketika sampai di kasur atas, Baekhan kaget dengan keadaan Baekhyun yang penuh dengan keringat. Ia memegang dahi Baekhyun. Panas. Napas Baekhyun terputus-putus.

“Baekhyunnie, kau kenapa?” Baekhan duduk di samping adiknya. Ia mengguncang bahu Baekhyun.

Ya, Baekhyunnie! Kau dengar aku?” tanya Baekhan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Baekhyun.

Baekhyun sedikit bergeming dan membuka matanya yang berat itu. “Nuna..”

Wae?” tanya Baekhan cemas.

“Kenapa kau baumu seperti bau alkohol?” tanya Baekhyun.

Baekhan sedikit menekuk wajahnya. Ia menciumi kemejanya. Oh, benar. Dirinya benar-benar bau alkohol! “Ya, sudahlah. Tak usah mengurusiku. Aku akan mengambil air hangat untukmu,”

Baekhan turun dari kasur dengan langkah yang tergesa-gesa. Ia meletakkan handuknya di punggung sofa. Gadis itu kembali dengan air hangat dan handuk kecil. Baekhan meletakkannya di atas buffet milik Baekhyun yang kebetulan berada di dekat kasur. Baekhan kembali naik ke atas dan duduk di sebelah Baekhyun.

“Apa kau bisa turun? Tidur saja di kasurku. Aku takut nanti kasurmu basah semua..” kata Baekhan sambil memegangi pipi Baekhyun yang biasa ia cubit dengan kasar.

Baekhyun mengangguk dan duduk degan mata yang masih terpejam. “Aku akan turun terlebih dahulu. Aku tahu, pasti kau akan memerlukan sedikit bantuan di bawah” kata Baekhan pelan. Ia turun dengan dua langkah, seperti sudah dilatih berkali-kali agar bisa seimbang.

Baekhyun turun dengan langkah yang sangat berat. Kepalanya benar-benar pusing dan badannya menggigil. Baekhan membantunya dari bawah dengan cekatan. Ia memapah Baekhyun tidur di atas kasurnya dan menyelimuti adiknya itu dengan hangat.

Gadis berwajah setengah western itu menarik kursi meja riasnya ke dekat kasur. Ia mencelupkan handuk kecil warna hijau yang ia bawa tadi ke dalam wadah berisi air hangat dan meremasnya. Baekhan lalu menempelkannya di dahi Baekhyun yang panas dan penuh keringat. Dengan mata yang sayu, Baekhan memandangi adiknya yang tengah lelap itu.

Baekhan menaikan selimut dan sedikit menutup kerah baju Baekhyun yang terbuka. Setelah menempelkan handuk basah pada dahi Baekhyun beberapa kali, gadis itu mulai mengantuk. Ia menempelkan wajahnya di dekat badan Baekhyun.

Nuna..”

Baekhan terenyak dan segera bangun. “Apa sudah lebih baik?”

Gwaenchana,” kata Baekhyun dengan mulutnya yang terasa getir. “Ambilkan boneka pinguin pemberianmu di rumah Chanyeol hyung”

Baekhan menaikan satu alisnya. “Ya, kenapa bonekanya bisa sampai sana?!”

Baekhan sangat tahu jika adiknya itu sangat menyukai boneka pinguin pemberiannya saat ulang tahun Baekhyun yang ke 10 tahun. Boneka itu sudah 10 tahun bersama Baekhyun dan hingga saat ini Baekhyun selalu merawat boneka yang ia berinama Byun Hanyunnie itu yang merupakan marga dan singkatan dari nama belakang mereka berdua.

“Ketinggalan saat aku menginap di rumah Chanyeol hyung minggu lalu..

Baekhan menatap adiknya itu. Mungkin saja dengan memeluk Hanyunnie, Baekhyun bisa cepat sembuh. “Araseo. Aku akan mengambilkannya. Tapi, aku akan mandi sebentar, ya?” kata Baekhan seraya menyenggol pipi Baekhyun yang mulai memejamkan matanya.

 

Sebuah mobil wana biru gelap berhenti di halaman rumah keluarga Park yang luas. Baekhan keluar dari mobil dan menatap rumah itu. Ia menutup pintu mobil dan menguncinya. Seharian ini, ia tak bertemu dengan Chanyeol dan tak berniat untuk bertemu dengan namja yang ia sukai itu. Baekhan berjalan menuju pintu rumah dan menekan belnya dengan ujung jari telunjuk.

Setelah bunyi bel itu berhenti, seorang gadis mungil dengan muka porselen menyambutnya dari dalam rumah. Gadis itu memakai kaos lengan pendek dan celana panjang yang longgar. Rambutnya yang putih emasdiikat ke belakang dengan anak rambut yang menggantung di kedua telinganya.

Baekhan mengenal wajah gadis ini. Gadis ini sangat mirip dengan―

“Oh, Baekhan-eonnie!” kata gadis itu membukakan pintu dengan lebar.

“Kau adiknya Chanyeol, ‘kan? Park Seulwoo?”

Seulwoo mengangguk pelan.

Oh, ternyata benar. Gadis inilah yang ada di buku gambar Baekhyun itu! Tunggu, kenapa Baekhyun menggambar sketsa adik Chanyeol? Apa Chanyeol yang memintanya?

Seulwoo celingak-celinguk memperhatikan halaman depannya. “Ada apa eonnie datang ke sini sendirian?” tanyanya.

“Apa.. Chanyeol ada di dalam?”

Mianhae, eonnie. Chanyeol-oppa belum pulang dari tadi siang”

Lalu, kemana Chanyeol? Ia tidak masuk kuliah, dan ia juga tak ada di rumah.

                “Ah, gwaenchana. Aku ingin mengambil boneka yang ketinggalan sewaktu Baekhyun menginap bersama Chanyeol di sini. Kata Baekhyun ada di ruang musik,”

“Kenapa bukan Baekhyun-oppa saja yang datang ke sini?” gumam Seulwoo sebal lalh berkata, “Masuklah, eonnie. Ruang musik ada di lantai dua yang pintunya warna putih sendiri. Oh ya, eonnie, mian, tapi apa eonnie bisa ke sana sendiran? Aku sedang memasak, nanti aku akan menemuimu di sana.”

Gwaenchana. Masak saja dulu, kau tak perlu mengkhawatirkanku. Ruangan musik itu tidak akan hancur karena kedatanganku, Seulwoo”

Seulwoo tertawa kecil mendengar jawaban Baekhan. “Kalau begitu, aku ke dapur sebentarucap Seulwoo lalu berlari kecil ke arah dapur.

Baekhan melepaskan sepatunya dan berjalan menuju lantai dua. Matanya yang bulat menikmati isi rumah Chanyeol yang elegan. Ia mencari-cari pintu berwarna putih di lantai dua. Ah, dapat!

Gadis itu membuka ruangan musik Chanyeol yang cukup luas dengan pelan. Di dalamnya, terdapat beberapa alat musik yang berjejer rapi dengan dua buah sofa. Ruangan ini beraroma mint. Benar-benar segar.

Baekhan mencari-cari boneka Hanyunnie di setiap sudut ruangan, tapi ia tak menemukannya. Sama sekali tak ada benda berwujud boneka di ruangan ini. Apa Baekhyun hanya mengerjainya kali ini?

Seulwoo membuka pintu ruangan musik dan mendapati Baekhan yang tengah kebingungan mencari boneka Baekhyun. Baekhan menoleh ke arah gadis bermuka porselen itu dan tersenyum tipis.

“Apa kau menemukannya, eonnie?”

Aniya. Bisakah kau membantuku, Seulwoo?” pinta Baekhan.

Seulwoo berjalan mendekat ke arah Baekhan dan mulai mencari-cari boneka di ruangan itu meskipun ia tak tahu bentuknya seperti apa. “Sebenarnya itu boneka apa, eonnie?”

“Itu boneka kesayangan Baekhyun. Aku memberinya boneka itu saat ia berumur 10 tahun,”

Pandangan mata Baekhan tercuri oleh sebuah foto di atas piano Chanyeol. Baekhan melihat foto yang diberi bingkai warna hitam itu dari dekat. Di foto itu, Chanyeol tengah merangkul seorang gadis yang sedang memegang bunga mawar. Mereka mengenakan seragam SMA yang sama dengan seragam SMA miliknya dulu.

Eonnie, aku tak menemukan―” Seulwoo menghentikan kalimatnya ketika melihat Baekhan memandangi foto itu.

“Seulwoo, siapa gadis ini?” tanya Baekhan. Ia menoleh ke arah Seulwoo yang kini ada di sampingnya.

“Ah itu―” Seulwoo tertegun sejenak “Entahlah, ya? Chanyeol-oppa tak pernah memberitahuku siapa gadis itu. Oppa juga hampir tidak pernah menceritakan masalahnya padaku, hehe”

Baekhan masih memandangi Seulwoo dengan pandangan tidak percaya.

“Ah, aku akan memeriksa di kamar Chanyeol-oppa. Siapa tahu oppa sudah memindahkan boneka itu ke kamarnya,” kata Seulwoo sambil keluar dari ruangan musik meninggalkan Baekhan.

Baekhan menyentuh foto itu. “Shin Ahrin?” gumamnya ketika melihat name tag yang ada di seragam si gadis yang ada dalam foto.

Baekhan kembali memperhatikan foto itu. Gadis yang Chanyeol rangkul benar-benar cantik dan terlihat sangat dewasa. Chanyeol juga tampak sangat bahagia di dalam foto itu. Baekhan tersenyum pahit.

Gadis itu sedikit menggeserkan foto itu dari tempatnya semula. Baekhan memicingkan matanya. Ia bisa melihat sebuah kotak beludru hitam yang ada di balik foto itu.

“Seperti kotak cincin” gumamnya penasaran.

Eonnie,” kata Seulwoo tiba-tiba. Baekhan menoleh ke arah Seulwoo yang membuatnya terkejut.

“Ternyata memang ada di kamar Chanyeol-oppa. Oppa menaruhnya di dalam ini,” kata Seulwoo menunjukkan sebuah tas plastik dengan warna coklat yang menjadi dominasinya. Baekhan meraih tas itu dan membukanya. Di dalamnya, Hanyunnie tergeletak dengan ekspresinya yang abadi: tersenyum ceria.

Gumawo, Seulwoo” ucap Baekhan sambil menutup kembali tas plastik itu.

Seulwoo mengangguk senang.

Baekhan menuruni anak tangga bersama dengan Seulwoo yang berada di depannya. Seulwoo membalikan badannya yang mungil. “Eonnie. Sebelum pulang, mari makan malam bersama.

Mwo?”

Seulwoo menarik tangan Baekhan dan membawanya ke meja makan yang penuh dengan makanan yang masih hangat dan mengepulkan asap yang harum. Di sana, Kyungsoo sedang menata meja makan dengan rapi. Lelaki itu tersenyum mendapati Baekhan sudah ada di depannya.

“Kita bertemu lagi, Baekhan-nuna” kata Kyungsoo.

“Do Kyungsoo? Um, kalau begitu artinya Sehun juga sudah pulang?”

Ne. Semuanya sudah pulang ke rumah masing-masing. Sehun-hyung juga baik-baik saja”

Seulwoo menarik kursi dan duduk dengan manis. “Eonnie, ayo makan malam bersama. Kyungsoo memasak banyak makanan kali ini. Lagipula sebentar lagi Chanyeol-oppa akan pulang. Kau bisa bicara dengan suasana makan malam yang hangat dengannya.”

Well, nuna bisa menggantikan Chanyeol hyung di sini. Kurasa Woonnie sudah benar-benar jadi gila karena Chanyeol hyung jarang sekali ada bersamanya di rumah ini,” ujar Kyungsoo lalu menambahkan, “dan rasanya, ia sudah muak melihat wajahku yang hampir ada di setiap makan malam.”

Mianhae. Aku harus cepat pulang, Baekhyun sedang sakit..”

Seulwoo membulatkan matanya. “Mwo? Baekhyun-oppa sakit?”

Baekhan mengangguk pelan.

“Apa sakitnya parah?” tanya Kyungsoo.

Aniya. Dia hanya demam, kok. Lagipula orang seperti Baekhyun mana bisa sakit parah..” jawab Baekhan terkekeh. Ia benar-benar tak menyangka kalau adiknya yang selalu membuat keributan di rumah bisa jatuh sakit seperti itu.

“Tunggu sebentar, nuna. Aku ingin memberikan Baekhyun beberapa makanan hangat..” kata Kyungsoo sambil berjalan ke dapur dan mencari-cari wadah untuk meletakkan makanannya.

Baekhan duduk di sebelah Seulwoo. “Seulwoo, apa kau kekasih Kyungsoo? Sudah berapa lama?”

Seulwoo yang mendengarnya tersenyum malu “Hmm.. 1 tahun” jawab gadis itu sambil menarik anak rambutnya dan mengelipkannya di belakang daun telinga.

Oh, Kyungsoo yang berwajah imut dengan Seulwoo yang berwajah porselen? Benar-benar sempurna. Keduanya juga terkenal pintar. Apalagi Kyungsoo yang merupakan calon dokter pastilah sangat pembersih, dia juga pintar memasak. Baekhan membayangkan jika seandainya Chanyeol dan dirinya akan menjadi seperti itu. Chanyeol akan memasakan banyak makanan untuknya dan dia tentu dengan senang hati memakan semuanya. HAHAHA.

Hei, tunggu! Bukan-bukan! Bukan Chanyeol!

“Apa Kyungsoo selalu memasakkan makanan untukmu? Benar-benar manis,”

Kyungsoo berjalan sembari menenteng sebuah tas plastik warna hijau di tangan kanannya. Dengan celemek putih di badannya, lelaki itu lebih mirip seperti seorang cheff ketimbang seorang calon dokter.

“Sampaikan salamku pada Baekhyun,” kata Kyungsoo sambil menaruh tas yang berisi beberapa wadah makanan itu di depan Baekhan.

Gumawo.” Baekhan mengambil tas itu dan berdiri, “Aku akan ke depan sendiri. Terimakasih atas makanannya ya,” kata Baekhan sambil mengangkat tas itu sedikit.

Baekhan berjalan pelan dengan dua buah tas di tangan kanannya. Ia menoleh ke belakang, melihat Kyungsoo yang sedang melepaskan celemeknya dan memberikan Seulwoo semangkuk nasi hangat. Seulwoo melihat ke arah Baekhan yang berhenti tiba-tiba.

“Tolong beritahu Park Chanyeol kalau aku mencarinya, bilang juga kalau Baekhyun sakit,”

Araseo,”

 

Baekhyun tengah tertidur lelap ketika Baekhan sampai di kamar. Baekhan meletakkan kunci mobil di atas meja riasnya dan duduk di ujung kasur.

“Aku membawa Hanyunnie,” kata Baekhan dengan nada yang dibuat ceria seraya mengeluarkan boneka pinguin itu dari dalam tas dan meletakkannya di samping Baekhyun. Dengan satu gerakan cepat, Baekhyun memeluk boneka itu dan menghadapnya.

“Oh ya, aku membawakanmu makanan hangat. Tadi sewaktu di rumah Chanyeol, ada Kyungsoo yang sedang memasak. Ketika tahu kau sakit, Kyungsoo mengemas ini untukmu..” Baekhan membuka tas itu dan mengeluarkan isinya satu per satu kemudian meletakkannya di atas buffet Baekhyun “Seulwoo juga berharap kau sembuh dan bisa bermain lagi ke sana…”

Baekhyun menutup wajahnya dengan badan boneka itu dan menangis di baliknya. “Ya, Baekhyunnie! Ada apa? Apa yang terjadi? Bagian mana yang sakit? Apa perlu ke rumah sakit?”

Baekhyun bangkit dari tidurnya dan memeluk nuna-nya dengan erat.

“Baekhyunnie, wae?”

Baekhyun masih menangis dan tak melepaskan pelukannya. Matanya menatap wadah makananan pemberian Kyungsoo dengan tatapan kosong.

 

-TBC-

 

Next Chapter

.

“Aku tahu.. kamu tak suka dengan kehadiranku, ‘kan?”

.

.

.

.

“Aku.. aku pikir.. aku ingin mengakhiri semuanya denganmu,”

.

.

.

.

“Kau, pengkhianat!”

.

.

.

.

“Bolehkah aku mengingkari janjiku sendiri?”

.

.

.

.

“….Luhan?”

 

Hella! Kami kembali dengan Chapter 5 dengan Sub judul Lovely Doll! 😀

Ga tau nyambung atau enggak, yang jelas Happy Reading ya guys! ^^ Don’t forget to leave the comment, so you’re a good readers.

28 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Summer Mirrage (Chapter 5)”

  1. shin ahrinnnnn,,,, apa diaaa yeojaaaa yangggg ditaksirrr chan duluuu,,, trusss sehunn jga naksirrr dia,,, dannn apaaaa mrka bertengkarrr gara2 memperebutkannn yeojaaaa ituuuu waaaa mrkaaa jadi musuhannnnnnn sedihhhh myyy yeolliiieeee kuuuuu ;(

    Baekhyunnnn naksirrrr seulwooooo ,,, tapiiii seulwooo pacarnyaaaaa kyungsoooo

    Trussss luhannn’???? Apa ada hubungannnn samaaaaaa baekhannnn hhaaaaaaaaaaaa …makinnnnnn penasarannnnnnnnnnnnnnnn …. Channn dmanaaa kok g muncullllll,,,,,,,

    Yeolllllllllll

  2. Shin Ahrin???? Dia pacar chanyeol yah??? Kok fotonya brdua-dua gitu?? Ihhh, baekhan nya pasti cemburu. Oke eonni, lanjut yah, ditunggu

    1. Astaga, kau benar-benar harus mengendalikan dirimu, Mrs. Park, dan berhentilah memanggilku dengan sebutan eonnie :’D

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s