[EXOFFI FREELANCE] Summer: Mirage (Chapter 8b)

summer

 

Author: Muftonatul Aulia/Hanifah Harahap

Main Cast: Park Chanyeol, Byun Baekhan(OC), Byun Baekhyun & Oh Sehun

Genre: Romance, Friendship, Family, Angst

Rating: General

Length: Multichapter

Credit Poster: Gyuskaups @ Indo Fanfictions Arts

PLEASE, NO PLAGIAT! THIS STORY IS REAL FROM OUR MIND

AND DON’T BE A SIDERS!

Visit Us HERE

Previous Chapter:

Chapter 1 – Sehun Eyes | Chapter 2  – Baekhyun Drawing Book| Chapter 3 – It’s Time For Dinner| Chapter 4 – Begin Again | Chapter 5 – Lovely Doll | Chapter 6 – Be Happy | Chapter 7 – Our History | Chapter 8a – I’m Alone | [NOW] Chapter 8b – It’s You

Chanyeol mengaitkan jarinya pada Baekhan ketika mereka masuk ke dalam pusat perbelanjaan yang ramai. Baekhan bergidik ngeri dan buru-buru melepaskan kaitan jari Chanyeol itu dengan muka yang memerah.

“Chanyeol, apa yang kau lakukan?” protes Baekhan sambil menjauhkan dirinya dari sosok cowok jangkung itu.

“Kau tidak ingat ini first date kita?” kata Chanyeol kesal. “Ayolah, Baekhan―jangan bersikap seperti orang idiot di sini!” Chanyeol kembali meraih jari mungil Baekhan dan menuntunnya memasuki bagian dalam pusat perbelanjaan itu.

Baekhan merasakan Chanyeol menggenggam tangannya dengan erat. Tangannya menjadi hangat dan ia menyukai sensasi itu. Tangan Chanyeol benar-benar berbeda dari tangan Sehun. Chanyeol menoleh ke arah Baekhan yang berjalan di sampingnya. “Mau nonton film? Kudengar, ada film yang baru rilis kemarin.”

Gadis itu mengangguk hingga rambutnya yang berwarna coklat jatuh di wajahnya yang pucat.

Suasana hati Baekhan semakin baik setelah mereka berdua keluar dari bioskop dengan jemari yang masih saling terkait satu sama lain. Percaya atau tidak, Chanyeol tidak melepaskan ganggamannya selama mereka duduk di kursi bioskop.

Baekhan tertegun, mungkin tak apalah menjalani date dengan Chanyeol hari ini. Meskipun bukan sepasang kekasih, anggap saja ini sebagai pembuka liburan musim panasnya yang kebetulan ia habiskan bersama Chanyeol. Lalu akan berlanjut dengan Sehun. Tetapi tidak dengan Baekhyun. Ia tidak mau.

Ketika berjalan melewati toko pakaian, mata Chanyeol tercuri oleh sebuah gaun tanpa lengan yang sangat indah di dalamnya. Gaun itu berwarna biru gelap dengan pita satin di depannya.Chanyeol menyeret Baekhan seenaknya ke dalam toko itu. Chanyeol memperhatikan gadis itu dengan seksama dan tersenyum simpul.

“Lepas bajumu―” kata Chanyeol ringan.

W-wae?” teriak Baekhan sembari memegangi kerahnya erat-erat.

Chanyeol hampir saja tertawa sebelum ia sempat melanjutkan kata-katanya. “Lepas bajumu, dan ganti dengan gaun itu. Kurasa itu akan sangat cocok denganmu. Sepatumu juga cocok dengan gaun itu,” Chanyeol menunjuk gaun cantik yang terpajang di kaca depan toko.

Chanyeol meminta gaun itu pada karyawan toko dan memberinya pada Baekhan. “Cobalah, aku akan menunggu,” katanya pelan dengan binar mata yang biasanya.

“Kau tahu, Chanyeol? Gaun ini terlalu feminime untukku,” kata Baekhan sambil mengamati gaun yang ada di tangannya kini.

“Cobalah saja dulu. Pilihanku itu tidak mungkin meleset.”

Baekhan berjalan ke arah kamar ganti yang ada di ujung toko. Selagi menunggu Baekhan mengganti bajunya, Chanyeol kembali mencari baju yang mungkin cocok dengan Baekhan.

Cklek

Chanyeol menolehkan kepalanya begitu mendengar suara pintu terbuka. Matanya terbuka l`ebar begitu melihat Baekhan yang melangkah keluar dari kamar ganti dengan langkah malu-malu. Gadis itu menenteng baju yang ia pakai sebelumnya di tangan kanannya.

Ya, jangan melihatku seperti itu. Aku aneh, ya? Sudah kubilang aku tidak cocok dengan gaun semacam ini” kata Baekhan yang sadar bahwa Chanyeol tidak berhenti melihat kearahnya.

Ani! Jangan diganti! Kau cantik. Sangat cantik, malah. Seharusnya dari dulu kau menggunakan pakaian seperti ini!” teriak Chanyeol. Lelaki itu heboh sekali memandangi Baekhan yang kini ada di depannya.

“Apakah kita harus foto?” kata Chanyeol bersemangat seperti seorang anak kecil, “Tentu saja! Kita tidak boleh melewatkan saat-saat ini!”

Chanyeol celingak-celinguk seperti mencari sesuatu. “Ah, chogiyo, bisakah kau mengambikan foto kami?” tanya Chanyeol pada seorang karyawan yang kebetulan lewat di dekat mereka. Karyawan perempuan itu mengangguk sambil tersenyum ramah. Chanyeol segera megeluarkan handphone-nya dan menyerahkannya kepada karyawan itu.

Chanyeol mengambil baju yang Baekhan pegang dan meletakkan di sebuah kursi. Ia lalu menarik Baekhan mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu.

“Oke, aku foto. 1, 2, 3!” ucap karyawan itu. Ia tersenyum melihat Chanyeol yang tersenyum lebar dan Baekhan yang juga tersenyum manis.

One again! V sign!” ucap Chanyeol. Ia membentuk tarinya seperti huruf ‘V’, begitu juga dengan Baekhan.

“1, 2, 3! Wah, kalian benar-benar pasangan yang serasi,” ucap karyawan itu sambil menyerahkan handphone Chanyeol.

“Jinjja? Haha, sudah kubilang kita ini serasi. Kau sih, tidak percaya denganku!” kata Chanyeol sambil melontarkan ekspresi muka kemenangan pada Baekhan yang hanya melongo melihatnya.

Gamsahamnida” ucap Chanyeol menerima handphone dari karyawan toko itu dan melihat dua buah foto yang sangat bagus hasilnya.

“Kau sangat beruntung. Pacarmu benar-benar tampan. Aku permisi dulu,” ucap karyawan itu dengan tersipu malu lalu pergi meninggalkan mereka.

Gamsahamnida” ucap Chanyeol  lagi. Ia lalu melirik Baekhan yang tengah menunduk malu. Ia terkekeh kecil.

“Ayo, kita harus membayar bajumu!” ucap Chanyeol sambil menautkan tangannya dengan tangan Baekhan. Ia juga mengambil baju Baekhan yang tadi ia letakkan di kursi.

Begitu sampai di kasir ia langsung menyerahkan kartu kreditnya dan meminta paper bag untuk menyimpan baju Baekhan. Sementara itu, Baekhan masih betah dengan posisi kepalanya yang menunduk. Matanya menatap ujung sepatunya. Bibirnya melengkung membentuk senyuman. Sepertinya, ia harus membuang pikiran untuk melupakan Chanyeol jauh-jauh. Mengingat perlakuan Chanyeol hari ini. Apalagi Chanyeol tidak menyangkal ucapan sang karyawan tadi.

Kajja baby,” ucap Chanyeol sambil menarik tangan Baekhan keluar dari toko. Ah, sepertinya wajah Baekhan tidak akan berhenti bersemu merah kali ini.

Ya, kita kemana lagi?” tanya Chanyeol sambil melirik ke arah Baekhan.

Ya! Kenapa kau dari tadi hanya diam dan menunduk? Jangan menyembunyikan wajah cantikmu itu, hmm?” ucap Chanyeol lembut sambil mengangkat dagu Baekhan agar Baekhan menatap wajahnya.

Ne,” ucap gadis itu pelan. Matanya melihat ke arah lain. Ia tidak ingin melihat mata Chanyeol. Ia takut wajahnya akan bertambah merah jika ia menatap Chanyeol.

Good girl,” ucap Chanyeol sambil mengelus kepala gadis itu pelan.

“Apa kita makan saja? Ini sudah masuk jam makan siang” ucap Chanyeol sambil melirik jam tangannya.

“Ya, kita tidak boleh melewatkan jam makan siang,” ucap Baekhan. Ia berusaha menutupi kegugupannya dengan berbicara setenang mungkin.

“Mau makan apa? Bagaimana dengan bulgogi?” tawar Chanyeol.

“Terserah kau saja, aku suka semua makanan yang kau suka.”

Chanyeol tersipu malu. “Kau mencoba merayuku, eoh?” katanya mencubit dagu Baekhan yang lancip.

“Oke! Kajja!” ajak Chanyeol sambil merangkul Baekhyun. Chanyeol lalu membawa Baekhan ke sebuah restaurant Korea yang sedang ramai oleh pembeli. Chanyeol menarik Baekhan ke meja yang ada di sudut toko dan duduk di sana.

“Permisi, mau pesan apa?” ucap seorang pelayan yang datang tak lama setelah mereka duduk.

“Dua bulgogi dan dua cocktail” kata Chanyeol pada pelayan itu. “Kau suka cocktail, ‘kan?”

Ne,” ucap Baekhan dengan ekspresi bingung. Darimana Chanyeol tahu ia suka cocktail? Apa dari Baekhyun? Ya, mungkin saja. Baekhyun ‘kan gadis penggosip jadi-jadian.

“Dua bulgogi dan dua cocktail, ya? Hmm oke, tunggu sebentar. Pesanan kalian akan segera diantarkan,” ucap pelayan itu lalu pergi.

Chanyeol menatap pelayan yang semakin menjauh dari mereka itu lalu memalingkan kembali pandangannya pada Baekhan. “Bagaimana dengan ujianmu tadi? Lancar? Aku khawatir kau tidak sempat belajar karena sibuk mengurus Baekhyun yang sakit” tanya Chanyeol.

“Haha, tentu saja lancar. Kau tidak perlu khawatir,” ucap Baekhan diiringi dengan tawa yang sedikit dibuat-buat. Chanyeol benar-benar seperti seorang cenayang, ia benar-benar tahu apa yang terjadi pada Baekhan.

“Oh, baguslah” ucap Chanyeol.

“Setelah ini kita mau kemana?” tanya Baekhan.

“Nanti saja kita pikirkan. Sebaiknya kita isi perut kita dahulu, makanan sudah datang” jawab Chanyeol sambil menatap kearah seorang pelayang yang sedang berjalan ke arah mereka.

“Oh, oke.”

Setelah selesai dengan urusan perut, Baekhan dan Chanyeol kembali menyusuri jalan yang semakin ramai oleh pengunjung. Mata Baekhan sibuk mencari hal yang dapat menarik perhatiannya. Matanya lalu berhenti di sebuah toko aksesoris. Ia sudah lama tidak membeli aksesoris baru. Tapi lain kali sajalah, ia tidak ingin merepotkan Chanyeol.

“Kau ingin ke sana?” tanya Chanyeol. Ia tahu sedari tadi gadis yang tengah ia genggam erat tangnnya itu tidak melepaskan pandangannya dari toko aksesoris yang ada di seberang jalan.

“Tidak” elak Baekhan cepat.

“Jangan sungkan meminta padaku, Hannie. Aku tahu kau ingin ke sana. Ayo!” ucap Chanyeol.

Oh, sekarang apa lagi? Hannie?

“Kau ingin membeli apa?” tanya Chanyeol begitu memasuki toko aksesoris itu.

“Entahlah, aku tidak tahu” jawab Baekhan jujur.

“Bagaimana dengan bando ini?” tanya Chanyeol sambil mengambil sebuah bando yang berbentuk telinga kucing berwana cokelat. Secoklat rambut Baekhan.

Ya! Aku tidak akan cocok memakainya―itu terlalu imut” sergah Baekhan.

“Cocok! Aku yakin. Kau pasti terlihat imut memakainya. Coba dulu, ya?” bujuk Chanyeol. Entah kenapa tiba-tiba ia ingin melihat Baekhan memakainya.

Shireo!” kata Baekhan asal saja. Chanyeol kembali berusaha untuk membujuk Baekhan sementara Baekhan berusaha keras menolak Chanyeol.

Pengunjung lain yang didominasi perempuan menatap mereka dengan tatapan iri. Bagaimana tidak? Mereka seperti sedang melakukan adegan romantis dalam sebuah drama. Selain itu, Chanyeol juga sangat tampan.

“Sebentar saja. Hanya ambil foto sekali, setelah itu kau boleh melepasnya. Aku juga akan memakai yang ini,” ucap Chanyeol sambil menunjuk bando yang berbentuk telinga kucing yang lainnya, namun berwarna hitam.

“Aku akan menuruti apapun permintaanmu setelah ini” bujuk Chanyeol lagi.

“Ayolah, Baekhannie!” ucap Chanyeol dengan puppy eyes-nya.

Baekhan mendengus kesal. Siapa coba yang tidak luluh melihat ekspresi Chanyeol yang sedemikian rupa? Hah, lelaki itu memang pandai sekali.

“Jangan lupakan janjimu,” ucap Baekhan sambil mengambil bando dari tangan Chanyeol dengan gerakan kasar dan memakainya asal-asalan.

“Tentu saja!” kata Chanyeol lega. “Ya ampun, jangan asal-asalan! Kau harus memakainya seperti ini.” Chanyeol mendekatkan badannya ke Baekhan dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah gadis itu.

Jeritan tertahan terdengar dari para pengunjung yang sedang memperhatikan mereka. Baekhan menahan nafasnya seolah paru-parunya tidak bisa atau lebih tepatnya tidak mau bekerja sebagaimana mestinya saat tangan Chanyeol membenarkan letak bando di kepalanya.

“Ah, kiyeowo,”  ucap Chanyeol sambil mencubit pipi Baekhan kecil. Ia lalu memakai bandonya, lalu mengeluarkan handphone-nya .

Chanyeol merangkul Baekhan dan mengarahkan kamera handphone-nya pada mereka.

“Kau suka sisi yang sebelah mana?” tanya Chanyeol sambil menggerakkan handphone-nya ke kanan dan ke kiri demi mendapatkan pemandangan yang sesuai.

“Kalau aku suka sisi yang sebelah sini,” kata Chanyeol.

Siapa yang tanya? pikir Baekhan

“Oke, senyum yang manis ya” ucap Chanyeol. “1, 2, 3!”

Mereka melakukan hal yang sama selama beberapa kali meskipun Chanyeol berjanji hanya akan melakukannya sekali dan hal itu tentu sangat sukses membuat para pengunjung semakin berdecak iri.

Chanyeol menurunkan handphone-nya tanpa melepas rangkulannya pada bahu Baekhan―melihat hasil foto-foto tadi. Matanya berbinar bulat mendapati hasil foto-foto itu sangatlah bagus, Baekhan tersenyum dengan sangat manis di sana.

“Kau tahu? Aku hampir saja menumpahkan air mataku melihat keserasian kita” kata Chanyeol. “Kita benar-benar serasi!!!!!”  teriak Chanyeol bersemangat seraya memeluk Baekhan dengan erat. Beberapa pengunjung tampak tidak bisa menahan jeringat histeris mereka saat menyaksikan Chanyeol memeluk gadis itu.

Baekhan yang terenyak mendapati kepalanya sudah menyentuh dada Chanyeol yang bidang hanya bisa diam dan pasrah akan keadaannya. Bagaimana ekspresi orang-orang yang sedang melihat mereka? Oh, dia benar-benar malu sekarang. Tapi demi apapun, pelukan Chanyeol benar-benar menghangatkan dan membuatnya nyaman. Ini lebih dari kata nyaman ketika tidur dengan kemulan selimut yang tebal saat hujan deras.

Chanyeol melepaskan pelukannya dengan senyum tetap mengembang di bibirnya.

“Ayo, kita beli bando semacam ini lagi―aku benar-benar menyukainya!” kata Chanyeol seraya memilih-milih bando dengan mata seperti akan menangis. “Oh.. aku benar-benar bahagia, Tuhan!”

Baekhan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Chanyeol dan memilih berjalan menuju sisi lain toko itu dengan bando telinga kucing yang masih terpasang manis di kepalanya. Ia rasa ia butuh waktu untuk bebas dari Chanyeol sekarang.

Gadis itu tidak menyangka akan menemukan banyak topi-topi namja di toko ini. Baekhan melihatnya satu per satu dengan teliti dan tertegun sejenak.

Handphone-nya bergetar. Ia buru-buru mengambilnya dan menjawab panggilan masuk itu tanpa melihat nama yang tertera di layarnya. “Yeoboseyo?” katanya.

Lama sekali. Tidak ada jawaban dari si penelpon, membuat Baekhan benar-benar ketakutan sekarang. Siapa tahu yang menelponnya kali ini adalah setan atau mungkin seorang psikopat?! Baekhan bergidik ngeri sendiri. “Yeo-bo-se-yo?” kata Baekhan mengulang perkataannya tadi dengan ragu.

Baekhan terloncat saat ia merasakan sesuatu memukul kepalanya. Gadis itu mendongak dan menemukan Chanyeol dengan rambut kehijauannya yang tetap mengenakan bando yang sama dengan dirinya itu sedang berada di belakangnya sekarang. Chanyeol memukul kepala Baekhan dengan ujung handphone-nya sekali lagi.

Baekhan melihat ke layar handphone-nya dan menjadi sedikit lega karena bukan seorang psikopat yang menelponnya, melainkan Chanyeol.

“Kemana saja kamu?” tanya Chanyeol.

“Kau tidak perlu menelponku seperti tadi, Chanyeol” kata Baekhan. “Jarak dari sana ke sini ‘kan dekat sekali”

Chanyeol mencubit pipi Baekhan geram. “Kalau kamu hilang, bagaimana, eoh?

“Kau terlalu cantik di sini, sehingga mungkin saja ada namja lain yang mengincarmu. Berhati-hatilah! Aku harus merangkulmu selalu agar tidak ada yang mengganggumu!” kata Chanyeol kembali merangkul gadis itu.

Baekhan hanya diam memandangi Chanyeol. Aneh sekali namja ini…

“Aku memilih yang beruang ini. Lucu, kan?” kata Chanyeol menunjukkan dua bando telinga beruang yang imut itu pada Baekhan. “Aku juga mengambil gelang ini untuk kita. Bagus, kan?”

Baekhan mengecek gelang itu. Well, gelang itu memang bagus. Gelang itu seperti dijalin.

“Kau pintar memilih rupanya” puji Baekhan ringan. “Gelang ini bagus.”

Baekhan melihat wajah tampan Chanyeol dan menyadari betapa ia menyukai lelaki itu dengan sepenuh hatinya.

“Hmm.. Chanyeol. Kurasa kau terlihat cocok dengan beberapa topi ini” kata Baekhan. “Kau juga suka sekali kan sama topi?”

Chanyeol mengernyitkan dahinya.

“Bagaimana kau bisa tahu kalau aku sangat suka dengan topi?” tanya Chanyeol. “Jangan-jangan kau ini penguntitku, ya?”

Aniya! Aku sering tidak sengaja bertemu denganmu di toko saat aku jalan-jalan dan kau sedang membeli beberapa topi,” kata Baekhan berterus-terang. Ia memang menyukai Chanyeol sejak lama, tapi dia sama sekali bukan penguntit Chanyeol. Jangankan untuk menguntit, berpapasan atau melihat Chanyeol dari kejauhan saja Baekhan sudah menjadi gemetaran.

Araseo, araseo. Kalau begitu aku akan membeli dua buah topi” kata Chanyeol melepaskan rangkulannya. “Aku akan memilih satu dan kau juga memilih satu, ya?”

Ne,” jawab Baekhan.

Gadis itu melangkah menuju arah yang berbeda dengan Chanyeol. Pandangan matanya terhenti di sebuah topi berwarna hitam-putih yang menurutnya akan sangat keren jika di pakai Chanyeol. Baekhan meraih topi itu dan membawanya pada Chanyeol yang ada di ujung yang nampaknya sudah menemukan topi yang akan dia beli.

“Chanyeol! Aku kira ini cocok untukmu!” kata Baekhan.

Kedua mata Baekhan membulat ketika Chanyeol menghadap ke arahnya. Lelaki itu tengah memegang sebuah topi yang sama persis seperti yang ia pegang sekarang.

“Ah, kau juga memilih itu?” tanya Baekhan ragu.

Chanyeol tersenyum senang. “Wah, wah. Selera kita sama rupanya. Sudah kubilang kita benar-benar serasi, ‘kan?―akuilah itu!”

Chanyeol meletakkan lagi topi yang ia pegang ke tempat semula dan memilih satu topi lagi berwarna biru safir. “Ini juga bagus, kan?” tanya Chanyeol. Baekhan hanya mengangguk sambil melontarkan senyumannya.

“Baiklah. Ayo kita ke kasir,” ucap Chanyeol dan kembali merangkul Baekhan sama seperti sebelumnya, mungkin juga dengan alasan yang sama seperti sebelumnya: agar tidak ada yang menganggunya.

“Eh, tunggu sebentar!” tahan Chanyeol.

Lelaki itu melihat ke arah sebuah boneka teddy bear tanpa buluyang tidak terlalu besar. Tanpa pikir panjang, Chanyeol mengambilnya. “Ini lucu, sama denganmu. Cocok sekali untukmu. Nanti kalau aku ke rumahmu lagi, boneka ini harus terpajang di kamarmu, eoh?”

Mwo?!!” teriak Baekhan mendengar Chanyeol yang seenaknya saja menyuruhnya melakukan ini-itu.

Baekhan menatap langit dari kaca jendela mobil yang sedikit turun.

“Chanyeol. Entahlah kenapa, tapi langit terlihat gelap” kata Baekhan khawatir.

Jinjja?”  kata Chanyeol. “Wah kau benar,” ujarnya setelah melihat langit yang mendung di atas sana.

Chanyeol mengatupkan bibirnya. “Aku akan menutup jendelanya saja. Siapa tahu nanti benar-benar hujan. Sepertinya deras,” kata Chanyeol seraya menekan tombol di sebelahnya untuk menutup jendela-jendela mobilnya yang sedikit terbuka dan menghidupkan AC.

Oh benar saja! Tak berapa lama setelahnya, hujan turun dengan derasnya dan petir menyambar dan suara guntur yang menyaut setelahnya. Wajah Baekhan benar-benar berubah menjadi pucat dan gadis itu diam seribu bahasa menikmati ketakutan yang ada dalam dirinya.

“Ah, Baekhan! Kau tak apa? Apa kau takut pada petir?” tanya Chanyeol dengan nada cemas.

“Eh-oh? Aniya. Gwaenchana. Aku hanya sedikit kaget―tak perlu mencemasiku. Fokus saja mengemudi,” kata Baekhan berusaha menunjukkan wajahnya yang damai.

“Bagaimana ini? Hujannya terlalu deras. Padahal tadi sangat cerah,” keluh Chanyeol. “Kau tak keberatan kan kalau kita ke rumah ku dulu? Rumahmu kan masih jauh dari sini.”

Baekhan mengangguk ragu. “Araseo. Aku juga sedikit khawatir jika mengendarai mobil lama-lama di tengah hujan deras seperti ini” katanya.

Chanyeol tersenyum dan sedikit menambah kecepatan mobilnya.

Sampainya di dalam rumah, Chanyeol segera membuatkan teh hangat untuk mereka berdua dan menyuruh Baekhan langsung saja masuk ke dalam kamarnya di lantai dua dengan ukiran namanya di pintu. Rumah Chanyeol sangat sepi karena Seulwoo belum pulang dari sekolahnya.

Awalnya, Baekhan ragu-ragu untuk membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Chanyeol. Tapi akhirnya gadis itu masuk juga dan terkagum dengan kamar Chanyeol yang cukup luas dengan segala perabotannya. Tatanan kamar itu benar-benar rapi.

Baekhan menaruh tasnya dan dua buah paper bag dari pusat perbelanjaan tadi di atas sebuah meja bulat yang rendah. Kepala boneka teddy bear yang Chanyeol belikan untuknya menyembul keluar dari salah satu paper bag. Baekhan lalu duduk di sebuah sofa dan menatap langit-langit kamar Chanyeol yang teduh.

Chanyeol masuk ke dalam kamarnya seraya membawa nampan yang berisi dua gelas lemon tea dan sepiring roti. Ia meletakkan nampan itu di samping paper bags dengan pelan. Chanyeol memperhatikan gadis yang ada di depannya kini dengan tatapan kagum.

Hachi.. Hachi.. Hachi..

Baekhan bersin tanpa henti dan hampir saja membuat Chanyeol tergelak hebat. Hidung Baekhan benar-benar menjadi merah sekarang.

“Kau kedinginan?” tanya Chanyeol.

“Ya, mungkin begitulah..” jawab Baekhan sambil agak menutup hidungnya yang merah.

Chanyeol menarik kerah kemeja yang ia kenakan dan perlahan membuka satu per satu kancingnya. Baekhan menahan napas ketika ia melihat Chanyeol semakin banyak membuka kancing kemejanya.

“A-apa yang kau lakukan Chanyeol? Ya!” teriak Baekhan.

“Aku sudah bilang kalau aku tidak akan macam-macam denganmu,” jawab Chanyeol tenang. “Berhentilah berpikiran seperti itu!”

Chanyeol tentu tak bisa tidak terkekeh menyaksikan ekspresi Baekhan yang aneh itu. Chanyeol melepas kemejanya dan hanya mengenakan kaos hitam ketat di badannya lalu menyampirkan kemejanya di pundak Baekhan dengan sopan.

“Kau kedinginan, ‘kan? Kemeja itu lumayan tebal. Aku menaruh semua jaketku di kamar orangtuaku dulu dan aku malas sekali mengambilnya ke sana,” kata Chanyeol berterus terang. Tindakan Chanyeol ini agaknya membuat Baekhan tersentuh sehingga airmatanya bisa tumpah kapan saja karena terharu.

Baekhan menyeka ujung matanya ketika Chanyeol berjalan untuk mematikan AC dan menghidupkan pemanas ruangannya. Dan saat hujan reda nanti Chanyeol akan mengatur suhu AC menjadi sangat dingin.

“Minumlah,” kata Chanyeol mempersilahkan Baekhan untuk meminum teh buatannya. “Meskipun jarang sekali ke dapur, setidaknya aku tahu bagaimana caranya membuat lemon tea yang nikmat,” kekeh Chanyeol yang kini sudah duduk di samping Baekhan.

Baekhan tersenyum dan meminum teh yang hangat itu. Kini ia bisa merasakan tubuhnya menjadi sedikit hangat dari sebelumnya. “Kau hebat. Teh buatanmu benar-benar enak”

“Kau baru tahu sedikit dari semua kehebatanku,” ujar Chanyeol menyombongkan diri.

Gadis itu tertawa kecil dan berdiri melihat-lihat kamar Chanyeol. Pandangannya tertuju pada foto angkatan TK yang ada di buffet Chanyeol.

“Ini angkatan TK-mu, ya?” tanya Baekhan.

Ne,” jawab Chanyeol sambil meletakkan gelasnya berdampingan dengan gelas Baekhan lalu menyusul gadis itu.

“Kau pasti yang ini!!” kata Baekhan berhipotesis seraya menunjuk salah seorang anak lelaki yang ada di barisan tengah.

“Kau tahu?” tanya Chanyeol dengan malu-malu.

Well, wajahmu tidak berubah. Aku bahkan bisa dengan mudah menebaknya” kata Baekhan. “Haha wajahmu lucu sekali!” kata gadis itu dan mengelus-ngelus foto Chanyeol kecil dengan gemas.

Chanyeol terkekeh dan mendekatkan dirinya dengan Baekhan. “Kau tahu? Dulu aku suka dengan seorang anak yeoja di foto ini: kami satu kelas sewaktu TK”

Jinjja?” kata Baekhan bersemangat. Baginya cerita cinta masa kecil memang sangat menarik. Karena pasti itu semua sangat tulus, seperti hati anak-anak kecil yang lugu itu. “Yang mana yeoja itu?”

“Yang…. Ini!” ujar Chanyeol menunjuk seorang yeoja yang ada di barisan depan. Yeoja itu sangat manis dengan rambut hitamnya yang lurus dan beberapa jepit yang ia kenakan menambah kesan manisnya.

“Oh, benarkah? Anak ini manis sekali! Pantaslah kau suka!” puji Baekhan dengan sungguh-sungguh.

Chanyeol tersenyum simpul. “Coba kau lihat siapa namanya,”

“Oh? Apa aku mengenalnya?” tanya Baekhan gusar. Mungkin saja gadis itu kini adalah salah satu dari teman masa SMA-nya atau mungkin juga salah satu teman kuliah-nya sekarang.

“Kurasa namanya tidak asing bagimu”  jawab Chanyeol.

Baekhan melihat-lihat urutan nama-nama yang tercetak di bawah foto dan menyesuaikan dengan posisi gadis kecil itu. Matanya menerjab-nerjab memperhatikan huruf hangul yang lumayan kecil itu.

Jarinya berhenti seketika ketika ia mendapati nama gadis itu. Jarinya menunjuk angka 5, sama dengan posisi gadis itu dari samping kanan di barisan depan. Dan tepat ada di bawah Chanyeol kecil. Wajah Baekhan benar-benar berubah jadi merah namun terkesan pucat. Ia memalingkan kepalanya pada Chanyeol yang menyunggingkan senyumnya.

“Itu.. i-tu…”  kata Baekhan gemetar.

Chanyeol menarik napas. “Well, sayang―mata Chanyeol berkelip―itu kau.”

Baekhan memandang dengan tatapan tidak percaya. “A-aku?”

Well, kau tak akan mungkin tahu karena kau sendiri tidak mengambil foto ini saat tahun terakhir di TK” kata Chanyeol.

“Oh? Geurae? Pantaslah aku tidak mempunyai foto angkatan TK. Kukira aku menghilangkannya, ternyata aku malah tidak mengambilnya,” kekeh Baekhan.

“Apa kau mau tahu kenapa aku memilih angka 61 sebagai nomor punggungku?” tanya Chanyeol tiba-tiba.

“Ya, dari dulu aku sangat penasaran dengan itu. Bahkan rasanya aku merasakan sesuatu yang aneh dengan angka 61-mu itu,” jawab Baekhan memberitahu.

“Kau mungkin tak ingat ini karena kau adalah gadis pelupa,” kata Chanyeol. “Dulu, TK kita mengadakan perayaan untuk ulang tahunnya yang ke 61 tahun. Mereka mengadakan pentas seni untuk merayakannya. Apa kau ingat? Kelas kita membuat sebuah drama,”

Rasanya keping-keping puzzle yang ada dalam memori Baekhan mulai tersusun kembali dengan sendirinya. Ia rasa ia telah mulai mengingat semua hal yang Chanyeol ceritakan tadi.

“Kau jadi seorang putri di drama itu, dan aku jadi pangerannya. Di dalam drama itu kita benar-benar berperilaku seperti seorang putri dan pangeran. Ada adegan di mana kita berdansa”

Baekhan hanya manggut-manggut mengerti.

“Kau tidak ingat sama sekali?” tanya Chanyeol. “Aku pikir kau akan langsung mengingatnya. Dan asal kau sadar juga, 61 itu tanggal lahirmu. Bulan 6 tanggal 1, ‘kan?”

“Oh ya? Benarkah?”

Aigoo, Baekhannie! Kau benar-benar tidak peka,” kata Chanyeol seraya mengacak-ngacak rambut gadis itu.

-TBC-

Next Chapter

.

 “Aku tidak menentukan apapun. Aku akan ada di belakangmu. Di mana kau diterima, aku akan ke sana juga.”

.

.

.

.

Ada apa padamu hari ini, Tn. Luhan?

.

.

.

.

“Hei, kenapa kau yang memonopoliku?”

.

.

.

.

          “Lagipula Korea ini bukanlah negara dengan fasilitas liburan yang mahal.”

 

 

Hella, good readers! 😀

Apa ada yang baper setelah membaca chapter 8b ini? Kkk

Author juga pada baper dan teriak-teriak ga jelas pas buatnya, kok >.<

Tunggu chapter selanjutnya dan lihat apa yang terjadi dengan Luhan (?)

30 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Summer: Mirage (Chapter 8b)”

  1. “Kau jadi seorang putri di drama itu, dan
    aku jadi pangerannya. Di dalam drama itu
    kita benar-benar berperilaku seperti
    seorang putri dan pangeran. Ada adegan di
    mana kita berdansa”

    Terharuu bangett bacaa kalimatnyaa channnn,,,, pas dia bilang angka 61 ,,

    ”61
    itu tanggal lahirmu. Bulan 6 tanggal 1,
    ‘kan?”

    Channn udah mencintaiii baekhannn dari kecilllllll ….. Fightingggg channnnieeee 🙂

    Iyaaa baperrr bangettttttt,,,bacanyaa apalgi pas mreka belanjaaa ,,, beliii bandoo,, pke bando barengg,, foto barengggggggg 🙂
    Lebihhhh tersentuhhhhh saat mrka berdua ngambil topi yang samaa,,, 🙂

    Aku baca iniiii sambilll bayangiinnn visual mereka berduaa,,, berjalann sambilllll milih2 topi,, bandooo,,, ahh pokoknyaa udah kebayangggg sama akuuuu,,,, 🙂

    Aku bayanginnnn visualnyaa baekhannn make gaun yang dibeliin yeollieeeeee ,,, 🙂 cuteeeeee bangettttttt, lahhh,,,, tapi siapa yang cocokk jadi visualnyaa baekhnnn???

    Ahhh baekhannn knpa g peka2,,,

    Dan akuu suka bangetttt sama chap inii,,,, ga ada konfliknyaaa,,, yang ada keBAPERANNNNNNNNN

    KOK AKU sedihhhhhhh,,,disisi lainnn,,,
    Ini bukan pertanda channn mau ngelepassss baekhannn kannnn??????
    Aku takutnyaaaa gituuu,,, hikssss 😦
    Pleaseeee,,,, don’t,,,

  2. huhah… weh weh weh.. ini nih yang aku suka,
    NextChapnya Nongol🎆🎊🎉
    aku baperr… rasanya itu sedih seneng di campur kaya rujak.
    tapi 😭 aku sukanya baekhan ama sehun #abaikan #dipelototinreaderslain
    Baekhyunee kok ngga nongol kak? kangen ama baekhyun, aku juga pingin tau ceritacintanya baekhyun #diomelinorang’woyiniceritanyabaekhanbukanbaekhyunoiy’
    maapkan kelancangan readersmu ini kakak.. aku dukung selalu dan ditunggu selalu NextChapnya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s