TRUE LIES – Slice #8 — IRISH’s Tale

   TRUE LIES  

  EXO`s D.O & Chen with Lovelyz`s Kei 

   supported VIXX`s Ken & A-Pink`s Eunji  

   additional cast will be revealed as the story flew away  

  crime, dark, hurt-comfort, marriage-life, sci-fi, slight!thriller, slight!suspense story rated by PG-17 served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved


I lied when I said that I loved you.

Reading list:

〉〉 PrologueSlice #1: PlanSlice #2: AcceptanceSlice #3: TruthSlice #4: Truth (2)Slice #5: HopeSlice #6: Hurt Truth 〈〈

Slice #8: Another Lie(s)

In Author’s Eyes…

“Wanita itu mungkin menertawaimu karena sudah berhasil membuatmu malu. Tapi kau juga bisa membalasnya. Berbahagialah bersama pria ini, dan wanita itu akan merasakan sakit yang amat luar biasa. Bukankah, kau mencintai pria ini, Kim Jiyeon?”

Benarkah begitu? Jiyeon menangis sedari tadi karena tahu Jongdae sama sekali tidak menaruh kepedulian sedikit pun padanya?

“Tidak, aku tidak menangis karena hal itu.” Jaehwan menyernyit saat apa yang Jiyeon katakan justru berlawanan dengan pertanyaan yang diutarakannya.

“Apa maksudmu?” tanya Jaehwan. Tersadar kalau dia baru saja mengutarakan apa yang dipikirkannya, Jiyeon akhirnya menggeleng pelan.

“Tidak, tidak ada. Aku hanya berusaha memikirkan semuanya dengan kepala dingin. Dan kurasa, ucapanmu benar adanya. Aku harus berbahagia bersama Jongdae, sehingga wanita ini menyesal karena telah membuatku menangis dan menanggung malu.” Jiyeon bertutur, meski dia sendiri sebenarnya tidak yakin kalau dia akan bisa menangani Eunji dengan kemampuannya.

██│█ ║▌Chapter 8: Another Lie(s) │█ ║▌║██

Terlebih, Jiyeon adalah seorang dengan karakter lemah yang sedikit saja disinggung hatinya, bisa menangis. Jiyeon tak pernah berharap dilahirkan sebagai seorang yang lemah, tapi dia bisa apa kalau memang garis kehidupannya ditakdirkan seperti itu?

“Baiklah, kupikir kau akan menyudahi rutinitas menangis ini. Kau tahu aku terlihat seperti seorang pria kejam yang baru saja ketahuan menghamili selingkuhannya.” berusaha mencipta sebuah candaan, Jaehwan akhirnya berkata.

Jiyeon sendiri tergelak mendengar ucapan sahabatnya itu. Tentu saja Jiyeon tidak tahu tentang bagaimana pandangan orang-orang mengenai Jaehwan sejak tadi.

“Mau kuantar pulang?” tawar Jaehwan kemudian.

Jiyeon sudah akan mengangguk mengiyakan jika saja dia tidak ingat pada keinginan bulatnya untuk mengakhiri rasa malu pada wanita yang senja tadi menamparnya. Jadi, Jiyeon menggeleng pelan, menolak tawaran Jaehwan meski dulu tawaran ini adalah hal yang teramat menyenangkan baginya.

“Tidak perlu, aku akan pulang sendiri.” katanya.

“Ah, kau takut calon suamimu salah sangka?” tanya Jaehwan akhirnya dijawab Jiyeon dengan anggukan pelan. “Jongdae bisa jadi sangat emosional kalau melihatku bersama dengan pria lain.” katanya, tidak sepenuhnya berbohong tentang sifat emosional Jongdae.

Meski sebenarnya kebohongan Jiyeon sekarang bertujuan untuk menghindarkan Jaehwan dari incaran Jongdae juga. Pikir Jiyeon, lebih baik berbohong dengan cara cantik seperti ini daripada mengungkap sebuah kejujuran dan berujung pada malapetaka.

“Ah, aku mengerti. Aku juga bisa pahami bagaimana perasaannya jika harus melihat wanita secantik dirimu ada di dekat pria lain. Dia pasti terbakar cemburu.” Jaehwan mengiyakan, di mata Jaehwan, Jiyeon memang terlampau cantik.

Jaehwan saja berulang kali mengingatkan dirinya untuk berhenti membandingkan karyawan-karyawan wanita di kantornya dengan Jiyeon. Karena dengan penampilan sederhananya saja Jiyeon sudah kepalang cantik.

“Kalau begitu, terima kasih karena sudah menemaniku, Jaehwan-ah.” kata Jiyeon begitu dia akhirnya merapikan dirinya dan tersenyum pada Jaehwan. Belum-belum, kepala Jiyeon sudah terasa pening karena terlalu lama menangis.

“Tentu saja, kau selalu bisa mengandalkanku jika kau ada masalah, Jiyeon-ah.” balas Jaehwan, dia kemudian menjentikkan jarinya untuk memanggil waitress, sementara Jiyeon sibuk merapikan surainya yang tadi acak-acakkan karena ulahnya sendiri.

“Boleh aku pulang lebih dulu?” tanya Jiyeon dijawab Jaehwan dengan anggukan pelan dan senyuman. “Tentu saja, hati-hati di jalan, Jiyeon-ah.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Aku pulang.”

Malam sudah terlampau larut saat Jiyeon sampai di kediaman Jongdae. Dia bahkan tidak melihat tanda kehidupan di rumah megah itu. Akhirnya, dengan kunci yang sudah Jongdae berikan padanya, Jiyeon masuk ke dalam rumah, menyalakan lampu ruang utama dan ia rebahkan dirinya di atas sofa yang ada di sana.

Jiyeon tahu benar Jongdae tidak akan suka melihat perilaku Jiyeon sekarang. Bagi Jongdae, Jiyeon terlihat seolah berusaha mendominasi tempat tinggalnya. Tapi tungkai Jiyeon sudah terlalu lelah berjalan hari ini, sehingga membawa dirinya melangkah ke kamar yang berada di sudut saja dia sudah tidak kuat.

“Biasanya dia langsung keluar dari kamarnya ketika aku datang, apa dia sudah tidur? Atau dia tidak ada di rumah ini?” Jiyeon menggumam sendiri, pasalnya keadaan di rumah itu terlampau sepi untuk dipikirnya bisa jadi pertanda bahwa ada eksistensi Jongdae di sana.

Menyerah pada lelah yang mengerambati, Jiyeon akhirnya menutup kedua kelopak matanya, dia biarkan dirinya tersapu angin lembut dari penghangat ruangan yang ada di ruang tengah, sebelum tanpa sadar keheningan di rumah tersebut justru membawanya pada alam mimpi.

Dua jam berlalu sejak Jiyeon terlelap, dan Jongdae akhirnya tiba dari perpindahan ilegalnya menuju Earth. Tentu dia ingat dia tidak bisa sembarangan berpindah tempat dari Earth ke tempat tinggalnya tapi mau bagaimana lagi, pria itu tidak betah berdekatan dengan Eunji dan kecerewetan wanita itu.

Apalagi malam ini, saat Jongdae sudah memasang kesadaran penuh untuk menyelesaikan proyeknya. Tapi begitu dia sampai di rumah, pemandangan si wanita yang beberapa jam lalu memilih untuk hengkang tengah terlelap di sofa ruang tengah kamarnya justru menyambut.

Entah mengapa, kekesalan yang sejak tadi Jongdae simpan karena sikap protektif Eunji yang tidak memberinya ruang untuk bergerak justru menguar begitu saja, berganti dengan sebuah perasaan lega karena dia tidak lagi butuh usaha apapun untuk menarik kembali wanita yang tadi memberontak.

“Sudah kukatakan untuk tidak mendominasi tempat tinggalku, kenapa gadis ini selalu tidak tahu malu?” gerutu Jongdae, dia tahu Jiyeon tidak akan mendengar omelannya, tapi tetap saja bibir Jongdae berkata begitu.

Malah, Jongdae sekarang melangkah ke arah gadis itu, hendak membangunkannya dengan cara paling kasar yang bisa dia bayangkan dalam benaknya tapi kemudian upaya Jongdae terhenti.

Melihat bagaimana wajah Jiyeon memerah karena sisa tangisan juga kedua matanya yang sembap malah membuatnya mengurungkan niatan.

Jongdae tidak mau berbaik hati mengambilkan Jiyeon selimut, atau memindahkan posisi gadis itu ke posisi lain yang lebih nyaman. Tidak, dia tidak sebaik itu. Jadi, Jongdae tinggalkan Jiyeon begitu saja setelah dia menaikkan suhu penghangat ruangan—dari scanner tubuhnya, Jongdae tahu semakin malam suhu di dalam ruangan tempat Jiyeon terlelap akan semakin rendah—sebelum dia melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri.

“Masa bodoh dengan keadaannya.” gumam Jongdae ketika dia sudah masuk di dalam kamar, tatapan pria itu sekarang tertuju pada sebuah kalender digital yang melayang di udara dekat jendela kamarnya yang telah dia sulap menjadi layar optical empat dimensi yang menampilkan pemandangan tempat asalnya.

Beberapa hari lagi mereka menikah, dan Jongdae tahu setelah pernikahan tersebut dia langsungkan bersama Jiyeon, keadaan gadis itu akan semakin memburuk karena keterlibatan Eunji dan hal lainnya.

“Bagaimana kalau dia tiba-tiba sakit karena aku membiarkannya tertidur dalam keadaan seperti itu?” Jongdae kemudian tersadar, membiarkan Jiyeon tertidur dalam keadaan tidak nyaman pasti akan membuat kesalahan-kesalahan fisik pada tubuh si gadis yang sangat tidak diinginkannya.

Kekhawatiran akan rencana Jiyeon untuk diam-diam berusaha membatalkan pernikahan mereka adalah sebuah ancaman bagi kelancaran rencana Jongdae, tentu saja. Dan Jongdae tidak bisa membiarkannya.

“Tidak, dia tidak boleh dibiarkan bertindak bodoh.” kata Jongdae, lantas dia melangkah lagi keluar kamar, dengan beberapa langkah panjang didekatinya tubuh Jiyeon sebelum akhirnya dia menyarangkan telapak tangannya di leher si gadis, membiarkan sebuah serat kawat tipis berisi penenang masuk ke dalam nadi si gadis, membuatnya terlelap dan tak akan menyadari tindakan yang Jongdae akan lakukan.

Setelah mendengar dengkur halus wanita itu, Jongdae kemudian membopong tubuh Jiyeon, membawanya melangkah ke arah kamar yang sudah Jongdae siapkan tapi kemudian langkah Jongdae terhenti, lagi.

“Sial, dimana dia menaruh kunci kamar ini? Aksesku bahkan ditolak karena dia menyimpan kuncinya sendiri.” kata Jongdae saat dia sadari pintu kamar tersebut enggan terbuka meski Jongdae sudah berdiri di depan pintunya.

Ugh, aku seharusnya membiarkannya saja di sana. Paling buruk dia akan terkena cedera leher.” kata Jongdae, menyesali tindakannya diam-diam. Tapi kemudian bayangan tentang bagaimana Jiyeon dengan cedera leher berusaha merusak rencana pernikahannya justru muncul, membuat Jongdae menelan penyesalannya.

“Tidak, tindakan ini sudah benar.” kata Jongdae, dia kemudian berbalik dan akhirnya membawa Jiyeon masuk ke dalam ruangannya sebab dia tak punya pilihan lain. Suhu ruangan di ruang tengah bisa turun hingga minus enam belas derajat celcius dan Jongdae tahu benar penghangat ruangan tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan panas Jiyeon.

Satu-satunya ruangan dengan penghangat yang cukup adalah kamar Jongdae dan kamar yang sudah dia siapkan untuk Jiyeon. Jadi, satu-satunya alternatif saat ini hanyalah kamar Jongdae.

“Semua wanita selalu saja merepotkan, tadi Eunji, sekarang gadis ini.” gerutu Jongdae begitu dia berhasil membaringkan tubuh Jiyeon di atas sofa panjang ruangannya, dia lantas melempar sebuah selimut pada Jiyeon, enggan memasangkannya di tubuh si gadis karena tahu sikap itu akan jadi sikap yang terlalu baik.

“Besok pagi-pagi sekali aku akan pindahkan dia ke sofa lagi.” Jongdae merencanakan diam-diam. Akan sangat masuk akal jika esok hari dia memindahkan tubuh Jiyeon ke sofa ruang tengah lagi, sehingga si gadis tidak akan tahu tentang tindakan Jongdae malam ini.

Tapi rupanya rencana itu hanya akan jadi rencana. Sebab, karena terlalu sibuk dengan proyeknya di sisa malam, menjelang pagi Jongdae justru terlelap di meja kerjanya. Malah, Jiyeon duluan yang terjaga.

Meski sempat terkejut bukan kepalang karena sadar dirinya tertidur di tempat yang tidak seharusnya, ada kehangatan yang menjalar dalam tubuh Jiyeon saat dia menganalisis keadaannya dengan hati-hati.

“Terima kasih…” gumam Jiyeon begitu gadis itu bangkit dari sofa tempatnya semalam terlelap. Dilihatnya bagaimana Jongdae tertidur dengan menyandarkan kepala di meja, menjadikan kedua tangannya sebagai bantal.

Jiyeon tentu tidak bisa memindahkan tubuh pria itu, tapi setidaknya dia bisa memberikan bantuan lainnya. Jadi, dengan berhati-hati Jiyeon melangkah mendekati Jongdae, diselimutinya punggung pria itu, sebelum Jiyeon tanpa sadar menyunggingkan sebuah senyum saat maniknya menangkap ekspresi tenang di wajah Jongdae yang terlelap.

“Aku tahu kau bukan orang jahat meski sikapmu begitu kasar padaku, Jongdae-ssi.” kata Jiyeon, dia kemudian melangkah meninggalkan Jongdae, keluar dari kamar dengan hati-hati dan diraihnya tas jinjing miliknya yang teronggok di sofa sejak malam.

Suhu di luar ruangan Jongdae memang masih sangat dingin, bahkan berhasil membuat Jiyeon menggigil meski matahari sudah terbit di luar sana. Jiyeon harus pulang sebelum mentari meninggi, karena dia harus menyelesaikan urusannya di rumah.

Tapi, tentu Jiyeon tidak tahu jika pria bermarga Kim yang ditinggalkannya di dalam kamar itu justru sudah terbangun saat mendengar degupan jantung Jiyeon ketika gadis itu terbangun.

Ya, Jongdae sudah terbangun, dia hanya berpura-pura tidur demi mengetahui reaksi Jiyeon ketika tahu dirinya telah memindahkan Jiyeon ke dalam kamar tersebut.

Dan, sebuah senyum tulus Jongdae pasang di wajah begitu diingatnya apa yang sudah Jiyeon katakan pada dirinya yang terlelap.

“Kau menganggapku baik meski aku sudah berusaha membuatmu menderita, Jiyeon. Bagaimana aku harus membunuhmu di depan Eunji jika sekarang sikapmu membuatku tidak sampai hati melakukannya?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Hari pernikahan yang Jiyeon tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Lebih tepatnya, gadis itu bukannya menunggu, melainkan menghitung mundur waktu yang tersisa. Setelah mendapatkan pengakuan dari pemerintahan tadi pagi, malam ini pesta pernikahannya bersama Jongdae diadakan.

“Jongdae-ssi, wanita itu ada di sini. Apa dia mau menamparku lagi?” Jiyeon mencicit kecil begitu disadarinya keberadaan Eunji di ruangan tersebut.

Sontak, manik Jongdae membulat mendengarnya. “Dia menamparmu? Kenapa kau tidak memberitahuku kalau dia menamparmu?” tanya Jongdae. Jelas dia ingat bagaimana cerita Jiyeon hari itu.

“Aku memberitahumu, tapi kau begitu serius dengan buku yang kau tekuni kala itu.” Jiyeon berkeras. Secepat kilat, Jongdae menonton ulang ingatannya, dan ya, disadarinya Jiyeon memang memberitahu pria itu tentang bagaimana Eunji menamparnya di depan umum.

“Dia tidak akan menamparku lagi kali ini, bukan?” tanpa sadar jemari Jiyeon bergerak mencengkram lengan Jongdae kuat-kuat saat dilihatnya bagaimana Eunji melangkah mendekati keduanya yang tengah duduk di kursi pengantin.

“Jangan khawatir, aku akan mengatasinya kalau dia membuat masalah.” kata Jongdae, tangan pria itu bergerak menepuk-nepuk pelan punggung tangan Jiyeon, bahkan dia bergerak menggenggam jemari si gadis yang mulai berkeringat dingin tanpa sadar.

“Selamat atas pernikahan kalian berdua.” Eunji berkata dengan cukup lantang begitu dia sampai di hadapan dua insan yang baru saja mengikat janji sehidup semati itu. Diulurkannya sebuket bunga yang kemudian diterima oleh Jiyeon.

“Terima kasih.” jawab Jongdae dahulu, baru kemudian Jiyeon menggemakan ucapan pria itu. Diam-diam, batin Eunji mencelos juga karena kepercayaan diri yang Jongdae pamerkan. Pria itu sekarang memasang ekspresi kelewat alami untuk sebuah pernikahan berlandaskan kepura-puraan.

Senyum yang dipamerkan Jongdae sekarang bahkan tak pernah Eunji lihat diberikan padanya. Tapi berdampingan dengan wanita yang kata Jongdae hanya akan dimanfaatkannya, Jongdae justru bisa memamerkan senyum tak masuk akal seperti itu.

Dan ya, lagi-lagi Eunji merasa marah. Mengapa Jongdae harus terlihat sebahagia itu bersama wanita lain?

“Semoga kalian berbahagia.” kata Eunji, tiap kata yang dia ucapkan sekarang hanya bisa lolos dari rahangnya yang terkatup rapat, menahan marah. Dia tak mungkin mengacau di tempat ini karena semua orang akan menyadarinya.

Terlalu banyak manusia di tempat ini, dan jika Eunji ketahuan mengacau, Jongdae mungkin tidak akan segan membiarkannya terjebak masalah sendirian. Terlebih lagi, Eunji tidak mau terlihat kalah dari wanita yang sekarang berstatus sebagai istri dari calon suaminya.

“Terima kasih untuk ucapannya.” kali ini Jiyeon yang duluan bersuara, kalimat balasan Jiyeon kemudian berhasil membuat Eunji tersenyum sarkatis. Tentu tidak diduganya wanita yang hendak dia hancurkan justru berterima kasih padanya.

“Ya, kita lihat, sejauh mana kalian akan bisa bahagia.” satu kalimat dengan ancaman tersirat akhirnya Eunji ucapkan. Tanpa menunggu jawaban apapun dari Jongdae maupun Jiyeon, Eunji kemudian melenggang pergi.

“Aku pikir dia baru saja mengancamku…” lirih vokal Jiyeon kemudian masuk ke dalam pendengaran Jongdae. Pria itu lantas melemparkan pandangannya pada buket bunga yang ada di tangan Jiyeon.

“Jangan sentuh benda itu.” kata Jongdae membuat Jiyeon menyernyit bingung. “Memangnya kenapa?” tanyanya.

“Ada zat yang akan memicu alergimu.” sahut Jongdae, segera diraihnya buket bunga tersebut, sebelum Jongdae meletakkannya di ruang kosong yang ada di sebelahnya.

“Ah, kau tahu alergiku juga?” tanya Jiyeon, tampaknya gadis itu sama sekali tidak sadar jika Eunji memang sengaja memberi buket bunga dengan jebakan di dalamnya. Tentu saja Jongdae bisa bayangkan bagaimana keadaan Jiyeon kalau gadis itu tiba-tiba saja sesak nafas setelah menghirup aroma bunga yang ada di buket tersebut.

“Mudah sekali mengetahuinya, aku sudah tahu tubuhmu lebih dari yang kau tahu.” ucapan Jongdae sekarang berhasil membuat Jiyeon membulatkan kedua maniknya. Jongdae menjelaskan hal itu seolah mereka bukannya sedang membahas perkara alergi.

“Ah, kalau begitu terima kasih, karena sudah mencegah alergiku kambuh.” kata Jiyeon berusaha menghapus kekhawatiran yang menyelinap dalam batinnya barusan.

Memilih untuk mengalihkan pandangannya dari Jongdae, Jiyeon akhirnya memutar pandang, sejak tadi tidak dilihatnya keberadaan Kyungsoo di pesta pernikahannya. Jaehwan sendiri tadi sudah datang lebih dulu, memberi ucapan selamat sekaligus memesankan pada Jiyeon untuk tidak melupakannya—kalimat yang kemudian membuat Jongdae bertanya dengan sangat rinci pada Jiyeon mengenai arti pesan Jaehwan tersebut.

Tapi Kyungsoo tidak terlihat dimanapun. Padahal, menurut Jaehwan tadi Jiyeon sekarang terlihat bak seorang puteri, begitu cantik dalam balutan gaun putih mekar berharga jutaan won yang Jongdae pilihkan untuknya.

Memang, Jiyeon sama sekali tidak tahu menahu mengenai gaun yang akan dikenakannya. Tahu-tahu saja dia diajak oleh Jongdae untuk fitting gaun yang ukurannya secara sempurna membalut tubuh mungil Jiyeon dan mengubahnya menjadi seorang pengantin paling cantik.

Sempat, Jongdae sendiri juga terpana pada paras Jiyeon ketika pria itu tadi menemui Jiyeon di ruang tunggu pengantin. Tapi segera dibuangnya keterpanaan juga keinginan untuk memuji kecantikan si gadis sebab Jongdae tidak mau repot-repot berbuat baik dan lantas membuat gadis itu merasa senang.

“Jangan mencarinya, dia tidak mungkin mau repot-repot meninggalkan laboratorium kesayangannya itu.” Jongdae berkata saat didengarnya bagaimana Jiyeon menghela nafas panjang karena tidak menemukan keberadaan Kyungsoo.

“Darimana kau tahu kalau dia ada di laboratorium?” tanya Jiyeon, ditatapnya Jongdae meminta jawaban, tapi Jongdae malah membuang pandang. Enggan memandang wajah Jiyeon sebab dia tahu benar bagaimana cantiknya gadis itu hari ini.

Dan Jongdae tak mau terpana lagi.

“Tentu saja siapapun akan bisa tahu dengan mudah. Pria sepertinya bahkan tak akan menikah sampai usia tua.” sahut Jongdae malah membuat Jiyeon terkekeh pelan. Bayangan Kyungsoo yang menua di dalam laboratorium ternyata jadi sebuah bayangan yang cukup menggelikan bagi Jiyeon.

“Apa yang membuatmu tertawa?” tanya Jongdae.

“Tidak, tidak ada. Aku hanya membayangkan Kyungsoo yang menjadi tua dan tetap melajang sambil bekerja di laboratorium. Kau tentu tidak harus khawatir tentang penuaan, bukankah begitu Jongdae-ssi? Pasti menyenangkan, jika kita bisa menikmati dunia dalam keadaan fisik yang sama di waktu yang lama.” Jiyeon bertutur, vokalnya tidaklah begitu lantang untuk bisa didengar oleh orang-orang yang ada di sekitar mereka.

Tapi perkataan gadis itu entah mengapa terasa seolah menyikut Jongdae. Ya, selama belasan tahun Jongdae sudah mengurung diri di laboratorium, menomor duakan Eunji hingga Eunji berubah menjadi sangat protektif terhadapnya karena takut kehilangan.

Andai saja Jongdae bisa menua, dia sudah pasti tahu keadaannya akan terlihat seperti apa. Dia pasti terlihat begitu tua saat ini.

“Sudah, jangan banyak bicara. Orang-orang memerhatikanmu.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Tuan Lee, seseorang hendak menemui Anda.”

Atensi Jaehwan dari tumpukan berkas di hadapannya segera beralih pada panggilan yang baru saja diterimanya dari telepon. Lantas, pria itu menekan tombol di telepon ruangannya. “Suruh dia masuk.” titah Jaehwan.

Sudah empat pekan berlalu sejak Jiyeon menikah, dan Jaehwan belum menerima kabar apapun dari gadis itu. Menemui Jiyeon di perpustakaan pun sudah sulit karena Jongdae ternyata mengantar dan menjemput gadis itu secara rutin.

Satu-satunya jalan bagi Jaehwan untuk berkomunikasi dengan Jiyeon adalah dengan saling berkirim pesan singkat. Tapi balasan yang Jaehwan dapatkan dari Jiyeon hanyalah ucapan terima kasih karena sudah mengkhawatirkannya, dan pemberitahuan kalau keadaan Jiyeon saat ini baik-baik saja.

“Aku pikir akan sulit menemuimu, ternyata tidak.” lamunan Jaehwan terpecah saat vokal seorang wanita masuk ke dalam pendengarannya.

Wajah asing namun terlihat kaku di hadapannya sekarang jelas memberi Jaehwan peringatan kalau wanita ini pastilah seseorang yang mengenalnya, atau hendak mengenalnya. Dan dari cara wanita itu tersenyum sarkatis sambil dengan santai membanting tubuh di atas sofa ruangan Jaehwan saja, pria itu sepertinya tahu benar siapa wanita yang ada di hadapannya.

“Ah, jadi kau Jung Eunji?” Jaehwan menatap penuh selidik gadis yang memasang senyum manis di depannya.

Sementara dengan senyum masih tak lepas dari wajahnya, Eunji mengangguk.

“Dari mana kau tahu namaku?” tanyanya ramah.

Keramahan yang membuat Jaehwan menghembuskan nafas kesal.

“Karena kau nona rubah yang membuat Jiyeon terluka.” mendengar kalimat itu, senyum di wajah Eunji menghilang, bergantikan ekspresi serius.

“Ah, jadi dia mengadu padamu juga? Heran sekali, setelah mengadukanku pada Jongdae, sekarang ia mengadukanku pada rekan kerjanya juga. Ia benar-benar banyak bicara.” Eunji seolah bicara pada dirinya sendiri, tapi nyatanya ia bicara pada Jaehwan.

Pemuda Lee itu bergeming.

“Untuk apa kau menemuiku?” tanyanya langsung.

Eunji menatap sejenak, sedikit terkejut juga karena bicara pada pemuda berpenampilan kacau dan seringkali memang menjadi pengacau ini ternyata tak semudah kelihatannya.

Well, aku tidak meminta hal-hal aneh darimu. Cukup satu hal saja, jangan ikut campur urusan kami.” ucap Eunji tegas.

Jaehwan tertawa, bukan tawa meledek atau tawa melucu. Ia tertawa, dan menciptakan perasaan ‘kasihan’ pada Eunji. Membuat gadis itu menautkan alisnya. Jelas, Jaehwan sudah tahu lebih banyak dari yang dia ketahui. Mendengar bagaimana Eunji sekarang mengancamnya dengan cara sangat terbuka, pastilah Eunji berniat untuk kembali ikut campur di urusan rumah tangga Jiyeon.

“Jadi, Nona Jung, kau sudah berhasil membuat Do Kyungsoo menjauhi Jiyeon, dan lelaki asing itu, ah, Jongdae? Ya, lelaki itu juga sepertinya sering membuat Jiyeon terluka. Jadi semua ini bagian dari rencanamu? Kau ingin membuat Jiyeon menderita?”

Tentu Jaehwan ingat, bagaimana ketakutannya Jiyeon begitu Jaehwan menemuinya tempo hari di perpustakaan, dan di saat yang sama datanglah Jongdae yang kemudian dengan membabi-buta menyarangkan amarahnya berupa kalimat-kalimat pedas pada Jiyeon. Hal yang hampir saja membuat Jiyeon menangis kalau saja Jaehwan tidak menahan diri dan memilih meninggalkan Jiyeon di sana.

Sekarang, pertanyaan langsung pemuda itu sedikit mengejutkan Eunji. Ia sungguh tak menyangka pemuda yang terlihat senang melucu ini nyatanya bisa bicara serius juga.

“Ya. Rupanya kau sudah tahu jelas apa mauku.” ucap Eunji setelah terdiam beberapa saat. Ia kemudian melanjutkan, “…, anggap saja kita bekerjasama. Kau tak ikut campur urusan kami… maka rahasiamu juga aman.”

Jaehwan sejenak menatap gadis di depannya, lalu tersenyum.

“Memangnya rahasia apa yang kau ancamkan padaku? Kau tahu jelas jawabanku, aku menolak kerjasama ini Nona Jung.” ucap Jaehwan, menumpukan jemarinya di sandaran kursi dan berdiri, hendak beranjak meninggalkan Eunji saat gadis itu lagi-lagi membuka mulut.

“Bahkan jika rahasia ini ada hubungannya dengan Jiyeon?” langkah Jaehwan terhenti sejenak, seolah menunggu, “…, bukankah dia tidak tahu siapa yang menyebabkan kecelakaan tiga tahun lalu yang menghancurkan hidupnya?”

DEG!

Jantung Jaehwan seolah kehilangan fungsinya selama beberapa saat. Ia berbalik, menatap Eunji dengan tatapan tak bisa diartikan.

“Jadi, kita bekerjasama?” ucap Eunji tersenyum penuh kemenangan.

Sejenak, Jaehwan terdiam. Ia tahu gadis ini sudah mengetahui rahasia terkelamnya, satu rahasia yang jika bisa tak boleh diketahui Jiyeon sampai hembus nafas terakhir pria itu.

Tapi menjadikan rahasia itu sebagai ancaman untuk menghancurkan hidup Jiyeon lebih jauh lagi? Jaehwan tidak ingin diam saja.

Ia tersenyum, sangat tulus, sebelum satu kalimat diutarakannya dengan sama tulusnya.

“Katakan saja semuanya pada Jiyeon, aku tidak takut pada ancamanmu, Nona Jung. Daripada harus bergabung dengan kalian dan membuatnya menderita, lebih baik aku mati melindunginya.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Akhirnya, selesai juga bagian ini… sekarang tinggal ngebuat Eunji jadi antagonis yang nampang (?) lolol, btw ini Jongdae juga antagonis sih. Ah, Jiyeon kenapa sih kamu harus sama antagonis, aku kangen sama Kyungsoo di fanfiksi ini, jadi chapter depan baiknya aku munculin Kyungsoo aja buat melepas rindu.

Btw, bagian sebelum adegan Jaehwan-Eunji harus kuskip dulu dan kusuguhkan minggu depan, okeh? Aku gak mau banyak berceloteh karena badanku lagi panas-dingin tanda-tanda mau kena flu, huhu. Jadi sekian dulu dariku, sampai ketemu di chapter berikutnya.

Salam kecup, Irish.

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

6 tanggapan untuk “TRUE LIES – Slice #8 — IRISH’s Tale”

  1. BEEEBBBBBBB DEMI APAPUN ANE SUKAAAAA SAMA CHAPTER INIIIIII XD XD XD KARENA MOMENT JONGDAE-JIYEON NYA BANYAK XD ANE NGAKAK YG WAKTU JONGDAE BERDEBAT SAMA BATIN ANTARA MAU MINDAHIN JIYEON KE KAMAR ATAU ENGGA GARA2 DIA GAMAU BERBUAT BAIK KE JIYEON WKWKWKWKWK LUCU AJA GITU DIA GALAU ANTARA IYA ATAU ENGGA DENGAN MEMIKIRKAN ALASAN2 YG MENURUT ANE LUCU AJA GITU KAYA MISALNYA JIYEON BATALIN PERNIKAHAN MEREKA CUMA GEGARA CEDERA LEHER HUAHAHAHAHAHAHA XD XD XD TAPI SUKA SAMA PERLAKUAN JONGDAE DI CHAPTER INI. COBA ENTE BAIK TERUS MACEM GINI MAS, MUNGKIN JIYEON BAKALAN BERTEKUK LUTUT HAHAHAHAHAHA BTW JONGDAE UDAH MULAI BAPER YA? CIEEE JONGDAE ~ KENAPA ENTE TELAT SADAR SIH MAS KALO JIYEON ITU EMANG CANTIK? CIEEE SAMPE TERPANA-TERPANA GITU WUAKAKAKAKAK ANE JADI PAHAM KENAPA SETIAP KALI JONGDAE NGOMONG KE JIYEON GA PERNAH MAU LIAT MUKA JIYEON, KARNA TAKUT TERPESONA SAMA KECANTIKAN JIYEON YA MAS? HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA /DITENDANG JONGDAE/
    ENTAH PENDERITAAN JENIS APALAGI YG BAKALAN JIYEON RASAKAN SETELAH NANTI PERNIKAHAN MEREKA. BTW ANE SUKA SAMA KARAKTER JAEHWAN, SEMOGA JAEHWAN GA IKUT-IKUTAN BUAT JADI JAHAT AJA NANTI XD XD IYA BEB ANE JUGA KANGEN SAMA KYUNGSOO. CHAPTER DEPAN MUNCULIN YA KYUNGSOONYA, JANGAN DIUMPETIN MULU XD CHAPTER 9 NYA JANGAN LAMA-LAMA ~~

  2. Wow wow.. irish cepat update nya. Senangnya hatiku, true lies cepat di update.. thanks banget irish, penasaran gimana kehidupan rumah tangga mereka.. Di tunggu next part nya irish..

  3. sejujurnya, aq bertanya-tnya kenapa hidup Jiyeon apes banget. Orangnya baik tp semua orang yang di sekitarnya itu bikin gak nahan greget, ini pula dari sekian manusia yg ada si Jongdae mlah milih Jiyeon *mau gimana lg y takdir sih, takdir di tangan Irish. wkwkwkwk
    lagian klw bkn Jiyeon, kisah mreka gak bkal dimulai y. love u rish… updatemu bkin ane tercyduck

  4. ini mah banyak antagonis nya..
    jiyeon malangnya nasib mu mba.
    jongdae mah gitu. khawatir mah khawatir aja. ga usah sok jaim gitu deh

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s