TRUE LIES – Slice #6 — IRISH’s Tale

   TRUE LIES  

  EXO`s D.O & Chen with Lovelyz`s Kei 

   supported VIXX`s Ken & A-Pink`s Eunji  

   additional cast will be revealed as the story flew away  

  crime, dark, hurt-comfort, marriage-life, sci-fi, slight!thriller, slight!suspense story rated by PG-17 served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved


I lied when I said that I loved you.

Reading list:

〉〉 PrologueSlice #1: PlanSlice #2: AcceptanceSlice #3: TruthSlice #4: Truth (2)Slice #5: Hope 〈〈

Slice #6: Hurt Truth

██│█ ║▌Warm-up: True Lies 5.6 │█ ║▌║██

In Jiyeon’s Eyes…

Ada beberapa hal yang aku sadari ketika aku tumbuh dewasa di tempat ini, Earth. Adanya teori tentang ketidak seimbangan kehidupan yang dulu pernah kudengar saat aku duduk di kursi sekolah menengah agaknya benar adanya.

Kehidupan ini terlampau tidak seimbang, serta menyesakkan. Bagaimana tidak, ada triliunan orang yang berusaha bertahan hidup dan ingin bahagia. Sedangkan kebahagiaan itu terbatas jumlahnya. Pada akhirnya, dunia menciptakan hukumnya sendiri.

Teori lain kemudian dikemukakan, tentang cara dunia memilih orang yang pantas untuk ia beri kebahagiaan. Meski hanya kebahagiaan kecil, rupanya dunia telah benar-benar membuktikan teori itu.

Namaku Kim Jiyeon, omong-omong. Dan aku adalah segelintir kecil dari bagian populasi manusia yang rupanya sama sekali tidak dipandang oleh dunia sehingga dunia dan teorinya itu tak mau untuk sekedar membagi bayangan kebahagiaan pada kami.

Usiaku masih di pertengahan dua puluh ketika aku menyadari bahwa aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri, Do Kyungsoo, yang telah tumbuh menjadi scientist berbakat bagi Earth. Hidupnya dikelilingi kebahagiaan, tentu saja. Tapi Kyungsoo adalah orang yang menolak kebahagiaan itu.

Bagi Kyungsoo, kebahagiaan itu fana. Dan Kyungsoo membenci semua hal fana.

Andai saja aturan fana itu juga berlaku bagi perasaan, aku sungguh berharap hal yang sama bisa terjadi sekarang pada perasaan yang kusimpan untuk Kyungsoo. Sebab, kehidupanku tengah berubah menjadi panggung sandiwara dengan kisah melodrama.

Aku bertemu dengan seorang Mutant bernama Kim Jongdae yang berusaha menyakiti Kyungsoo, kurasa karena alasan yang ada hubungannya dengan penelitian yang Kyungsoo lakukan.

Karena aku berusaha mencegahnya, sekarang aku hidup di bawah ancaman sekaligus kebahagiaan palsu. Jongdae memaksaku untuk menikah dengannya, sebuah pernikahan berlandaskan keselamatan Kyungsoo, tentu saja. Sebab, untuk alasan apapun aku tak akan pernah berkeinginan untuk menikahi Mutant.

Sikap agresifnya kemudian menjadi belenggu. Membuatku tidak bisa menolak dan tidak bisa membantah apapun yang ia inginkan karena tiap kali aku melakukan perlawanan, ia akan mengancamku dengan menggunakan Kyungsoo sebagai subjek ancamannya.

Tidak adil.

Bahkan kebahagiaan akhir yang kunanti—pernikahan—tidak juga benar-benar dilirik oleh dunia. Agaknya, aku memang terlalu hina untuk menerima kebahagiaan itu. Sebab menurut Jaehwan—sahabatku—kebahagiaan tidak mau mampir di kehidupan seorang yang baik.

Dan ya, menurut Jaehwan aku adalah seorang yang baik. Padahal tidak, aku hanya seorang yang diselimuti luka menganga penuh nanah yang berusaha menutupi luka-luka itu dengan balutan kebaikan.

Aku tidak sebaik yang orang-orang pikirkan tentangku. Tapi aku tak mau menjadi jahat. Sebab, jika dunia ini dipenuhi oleh orang-orang jahat dengan keegoisan dan kecenderungan untuk saling menyakiti sesamanya, akan jadi apa dunia?

Itulah… alasanku bertahan sebagai satu dari sekian banyak orang yang tersisa sebagai orang baik di sini, Earth, tempat yang tidak lagi menjadi naungan indah bagi manusia melainkan hanya jadi lahan untuk penelitian demi menghancurkan batas fana yang telah Tuhan ciptakan.

Bicara soal Jongdae, dan kehidupanku… ada alasan yang sebenarnya membuatku menyetujui ancaman sekaligus paksaannya padaku untuk menikah dengannya. Saat aku mengiyakan ancaman itu, sebenarnya aku berpikir.

Apa yang akan berubah di kehidupanku jika aku menyetujuinya?

Apa dunia akan memandangku jika aku melakukan pelanggaran seperti ini?

Apa dunia pada akhirnya akan mempertimbangkan secuil kebahagiaan untuk ia bagi denganku?

Apa aku… akan bisa bahagia atas pilihan yang telah aku lakukan?

Masih ada ratusan pertanyaan serupa dalam benakku, yang saat itu belum bisa aku pikirkan dengan matang namun sudah kuperkirakan. Dan benar adanya, kehidupanku perlahan berubah karena kedatangan Jongdae dalam kehidupanku.

Aku mulai punya kesempatan untuk memandang dunia dari sudut pandang yang tak pernah aku ketahui. Aku bisa memahami apa yang Mutant pikirkan tentang keegoisan manusia, dan apa yang mereka pikirkan tentang tindakan kami yang berusaha menghancurkan batas akhir yang telah Tuhan ciptakan.

Masih banyak hal yang belum aku ketahui, seperti apa kehidupan di sana… bagaimana mereka selama ini bertahan hidup dan bagaimana sebenarnya mereka muncul… semuanya masih menjadi teka-teki dalam benakku, dan harus aku temukan jawabannya.

Itulah mengapa, aku tak boleh menyerah. Aku tidak boleh melepaskan pernikahan palsu ini apapun yang terjadi.

Aku… harus menikah dengan Jongdae.

██│█ ║▌Chapter 6: Hurt Truth │█ ║▌║██

In Author’s Eyes…

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku akan keluar tanpa harus kau usir. Meski aku bodoh dan sering berkeinginan konyol, tapi aku cukup tahu diri. Terima kasih atas tumpangannya, Jongdae-ssi.” ucap Jiyeon sebelum ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar, meski tidak membanting pintu mobil saat menutupnya, tapi tindakan gadis itu justru membuat Jongdae berang.

Mengabaikan bagaimana kakunya ekspresi Jongdae sekarang, Jiyeon justru berjalan di bawah guyuran hujan dengan santai. Akhirnya, Jongdae menyarangkan kemarahannya dengan menghempaskan jam kecil yang ada di mobil.

“Gadis itu benar-benar mempermainkan emosiku, ternyata.”

Di luar sana, di tengah guyuran hujan Jiyeon berdebat dengan benaknya sendiri. Teringatlah ia pada pertimbangan yang telah dia pikirkan selagi menyendiri. Tentang apa yang harus dan tidak harus dia lakukan saat bersama dengan Jongdae. Tentang apa saja yang harus ia dapatkan dan harus dia hindari ketika menghabiskan waktu dengan pria itu.

Kini, langkah Jiyeon terhenti. Dinginnya hujan agaknya telah berhasil mengembalikan Jiyeon pada logika. Gadis itu akhirnya berbalik, menatap ke arah mobil Jongdae yang masih terhenti di tempat yang sama, seolah tengah menunggunya.

Bukannya Jiyeon berharap Jongdae tengah menunggu, tapi setidaknya dia merasa lega karena pria itu tidak meninggalkannya. Bagi Jiyeon, lampu menyala mobil Jongdae dan deru mesin halusnya yang sekarang berusaha terdengar di tengah ribuan likuid yang jatuh ke tanah entah mengapa menjadi sebuah kesenangan bagi Jiyeon.

Untuk pertama kalinya, Jiyeon merasa senang karena seseorang menunggunya.

“Kau tidak boleh kalah, Kim Jiyeon. Kalau kau kalah, dia pasti menertawaimu.” Jiyeon akhirnya menggumam pada dirinya sendiri, tidak tahulah dia kalau pria di dalam mobil sana mendengar apa yang baru saja dia gumamkan.

Ya, Jongdae memang mendengar apa yang Jiyeon gumamkan barusan. Pria itu bahkan bisa dengan jelas mendengar deru nafas Jiyeon yang mulai terengah-engah karena dingin yang menggigit kulitnya.

Meski Jongdae tidak sedang menatap Jiyeon, tapi pria itu tahu Jiyeon sekarang tengah berdiri dengan keraguan. Jongdae bisa mendengar dengan jelas bagaimana sekarang heels yang Jiyeon kenakan beradu dengan tanah, bergerak satu inchi mendekat ke arahnya.

“Kita lihat saja kalau begitu, siapa yang akan menang jika hubungan ini kita teruskan, Kim Jiyeon?” Jongdae berucap, ia kemudian menggerakkan jemarinya di udara, membuat sebuah layar transparan kecil berwarna biru muncul di udara.

Jongdae menekan sebuah option di layar tersebut, dan sekarang dia tak lagi perlu repot-repot menyetir karena ia telah menghubungkan benaknya dengan autobot yang terinstal di mobil.

Perlahan, kendaraan gelap itu melaju mundur, mendatangi tempat Jiyeon sekarang berdiri mematung, menunggu Jongdae agaknya.

“Aku pikir kau ingin pergi, mengapa masih berdiri di sini?” pertanyaan segera menyambut Jiyeon begitu mobil gelap itu berhenti di sebelahnya.

“Aku berhenti karena aku tahu, kau akan tertawa senang jika aku kalah darimu. Dan aku tidak ingin kalah.” Jongdae terdiam saat mendengar kalimat itu lolos dari bibir Jiyeon. Tidak habis pikir dia, tentang bagaimana Jiyeon bisa begitu lantang mengutarakan kalimat yang tadi Jongdae pikir tidak ingin ia utarakan.

Tapi sekarang Jongdae tahu benar, gadis itu sudah punya keberanian untuk menantangnya. Bukannya Jongdae merasa marah, tapi dia justru semakin merasa penasaran tentang gadis itu.

Dari mana gerangan Jiyeon tiba-tiba mendapatkan keberanian sebanyak itu?

“Masuklah. Aku yakin kau benar-benar ingin menghabiskan malam denganku. Dan aku sama sekali tidak keberatan. Siapa yang tahu, esok hari kau tak lagi menyandang status gadis.” perkataan Jongdae sekarang membuat Jiyeon membulatkan maniknya, terkejut bukan kepalang karena mendengar ucapan lancang itu dari mulut Jongdae.

Meski dia tahu Jongdae memang sering berkata-kata di luar batas normal yang bisa manusia terima, tapi tidak berarti dia bisa seenaknya melukai harga diri Jiyeon dengan menggunakan cara yang sama, bukan?

Tidak, Jiyeon tak bisa berdiam dan menerima hinaan itu. Dia harus melawan untuk bertahan. Hanya itu cara yang bisa dia lakukan untuk melawan Jongdae, sebab dia tahu benar dia tidak akan punya kemampuan untuk melawan pria itu dengan menggunakan tenaga. Cukuplah dia korbankan hatinya saja untuk rela bersakit-sakit ria melawan pria itu.

Belum menyahut, Jiyeon akhirnya mengambil langkah mendatangi mobil tersebut. Mengabaikan keadaannya yang sekarang basah kuyup, Jiyeon langsung membuka pintu depan mobil dan duduk di sana, memasang seatbelt di tubuh sebelum akhirnya dia menatap lurus ke jalanan kosong di depan sana.

“Kalau besok pagi aku tidak lagi menyandang status sebagai seorang gadis, itu artinya malam ini kau menikmati kepalsuan yang tadinya kau anggap sebagai sampah.” Jiyeon kemudian berkata, tercubitlah batin seorang Kim Jongdae karena ucapan gadis itu.

Apa hujan telah membuat otak Jiyeon bergeser dari tempatnya? Dia bahkan tidak pernah sekalipun membantah Jongdae sebelum ini. Tapi sekarang gadis itu bahkan bisa mengucapkan kalimat yang cukup sarkatis pada Jongdae.

“Darimana kau belajar melawanku? Wah, ternyata selama ini kau sudah menahan diri. Apa ini kelakarmu yang sesungguhnya?” tanya Jongdae kemudian, sementara benaknya memerintah mobil mereka untuk melaju dengan kecepatan sedang.

Jiyeon mengembuskan nafas panjang saat mendengar perkataan Jongdae. Dia bukannya ingin benar-benar melawan pria itu. Tapi dia juga tidak ingin berdiam diri dan menerima semua yang pria itu katakan.

“Kau, aku belajar darimu. Kau selalu mengatakan hal-hal mengerikan padaku, jadi aku mengingatnya dan tidak kusangka-sangka, aku bisa juga berkata seperti itu.” ekspresi Jiyeon akhirnya melunak.

Tidak seperti Jongdae yang bisa bertahan dengan sikap kejam yang memang ingin ia tanamkan sebagai stigma tentang dirinya dalam benak Jiyeon. Gadis itu justru tak bisa bersikap seperti Jongdae.

“Maaf, aku tidak bermaksud melawanmu dengan kata-kata seperti itu.” Jiyeon berkata, ditatapnya Jongdae ketika ia bicara begitu, seolah mengawasi ekspresi pria itu saat mendengar kalimatnya sekarang.

“Setidaknya aku tahu kau pernah berkata seberani itu padaku.” sahut Jongdae.

Jiyeon hanya menyahuti dengan sebuah senyum kecil dan helaan nafas panjang.

“Bisa kita segera ke rumahmu, Jongdae-ssi? Kepalaku terasa sakit.” lagi-lagi Jiyeon berkata.

Tentu, Jongdae tahu apa penyebabnya. Karena Earth telah berevolusi selayaknya manusia yang berusaha melawan kehendaknya, maka semua yang selama ini hidup damai di dalam Earth pun turut berevolusi.

Hujan tidak lagi aman bagi manusia, dan terlalu lama berada di bawah guyurannya sama saja membiarkan sistem kekebalan tubuh dihancurkan secara perlahan setelah guyurannya berakhir.

“Berada di rumahku pun tak akan membantu.” Jongdae berkata, dia lantas bergerak menekan pergelangan tangannya, membuat layar transparan lain berwarna biru muncul di sana.

“Sudah kukatakan aku tak ingin kau beralasan sakit saat hari pernikahanmu datang, bukan?” Jongdae berucap sembari menekan salah satu pilihan dengan icon pil obat-obatan yang menghiasnya.

Pria itu kemudian berturut-turut menekan dua option lagi, sebelum akhirnya tiga buah benda muncul di dasbor mobil pria itu.

“Minumlah, pil itu akan mengurangi rasa sakitnya.” ucap Jongdae membuat Jiyeon menatapnya dengan pandangan tidak mengerti.

“Mengapa kau memberikannya padaku? Hanya karena alasan pernikahan itu saja? Jadi… keinginanku tentang menikah di hari natal benar-benar tidak bisa terwujud ya…” Jiyeon berkata, baru saja dia melirik Jongdae untuk mengawasi reaksi pria itu, dia sudah membuang pandang lagi sebab Jongdae sekarang tengah menatapnya seolah ingin memangsa.

“Aku hanya berusaha untuk bercanda.” vokal Jiyeon kembali mengudara, sementara jemarinya yang sudah memucat bergerak meraih cawan kecil berisi dua buah pil berwarna merah muda dan sebotol air mineral yang tadi Jongdae munculkan dengan kemampuan yang ia miliki sebagai Mutant.

Tatapan gadis itu kemudian tertuju pada sebuah selimut tebal yang terlipat rapi memenuhi ruang kosong di dasbor mobil Jongdae. Tentu dia tidak perlu menanyai Jongdae untuk tahu kalau benda itu untuk ia gunakan.

Jadi setelah menelan dua pil yang kata Jongdae bisa mengurangi rasa sakit, Jiyeon bergerak meraih selimut itu dan ia balut tubuh menggigilnya menggunakan selimut tersebut.

“Ah… hangatnya.” Jiyeon menggumam, ia tenggelamkan dirinya dengan menyandar santai di kursi mobil Jongdae sembari memejamkan mata, tampak tak lagi ingin berdebat dengan Jongdae yang sekarang juga memilih untuk benar-benar mengemudi ketimbang mengendarai mobil itu dengan komando dari benaknya.

Keduanya sama-sama terdiam di sisa perjalanan itu. Jongdae sendiri tampaknya larut pada pemikiran juga kekhawatirannya terhadap apa yang ia tinggalkan di tempat asalnya, sementara Jiyeon sendiri benar-benar terlelap di balik gulungan selimut yang tadi ia ciptakan.

Bahkan, saat mobil Jongdae berhenti di depan kediaman pria itu, Jiyeon masih juga terlelap. Normalnya, Jongdae bisa saja mengangkat tubuh mungil Jiyeon dengan kedua lengannya, sebab hujan tampaknya tidak menyapa area tempat tinggal Jongdae sehingga tempat itu sekarang benar-benar kering dan Jongdae tak punya alasan menghindari tanah untuk dipijak.

Tapi tidak, Jongdae tak mau berbaik hati begitu. Dia juga tak mau berbaik hati membangunkan Jiyeon dengan kalimat-kalimat atau panggilan pada gadis itu. Terlalu dramatis, dalam bayangan pria itu. Dan dia sungguh enggan melakukannya.

Jadi, dengan sengaja Jongdae turun dari mobil dan menutup pintu dengan bantingan cukup keras yang kemudian berhasil membangunkan Jiyeon. Gadis itu masih berusaha beradaptasi dengan lingkungan tempat ia terbangun saat ketukan jemari Jongdae di kaca jendela yang ada di sebelahnya berhasil merenggut fokus si gadis.

“Cepat turun, atau kau tidur saja di mobil.” bisa Jiyeon dengar jelas apa yang Jongdae katakan meskipun vokal pria itu tenggelam di balik tebalnya kaca mobil tersebut.

Masih dengan berbalut selimut, Jiyeon kemudian turun dari mobil dan mengikuti langkah Jongdae yang masuk ke dalam rumah. Sempat Jiyeon menatap berkeliling, merasa heran juga karena area kediaman Jongdae tampak sama sekali tidak dihampiri basahnya hujan.

Diam-diam, gadis itu merasa lega juga. Sebab Jongdae tak harus merasa khawatir dan tidak juga membutuhkan bantuan Jiyeon untuk turun dari mobil dan melintasi jalan setapak kosong menuju pintu megah kediamannya.

Jiyeon tahu benar kalau saja hal itu terjadi, Jongdae pasti akan memilih untuk berdebat tiada henti dengannya di mobil daripada harus menerima bantuan gadis itu. Jadi, pantaslah sekarang Jiyeon merasa lega karena hujan sedang baik hati.

“Aku tak punya waktu untuk mengurusmu. Tidurlah di kamar kosong yang ada di ujung koridor. Dan gunakan nanobot kalau kau butuh apapun. Jangan minta bantuanku, dan jangan mengangguku. Jika mungkin, jangan buat suara apapun karena aku tak ingin mengingat kalau kau ada di sini.” Jongdae berucap seraya masuk ke dalam kamarnya.

Well, Jiyeon tak bisa berharap banyak memang. Masih untung dia dapat kamar untuk membaringkan tubuh. Tadinya Jiyeon mengira kalau Jongdae akan memerintahnya untuk tidur di sofa yang ada di ruang tamu.

Untungnya, Jongdae masih berbaik hati.

“Baiklah, terima kasih.” ucap Jiyeon kemudian, meski sudah terlambat untuk mengucap terima kasih sebab pria itu sudah tidak tampak lagi, tapi Jiyeon tetap mengucapkannya. Bukan karena dia tahu kalau Jongdae di dalam sana sebenarnya mendengar apa yang dia ucapkan. Tapi karena Jiyeon merasa dia memang harus berterima kasih.

Gadis itu kemudian membawa langkahnya dengan hati-hati menyusuri koridor yang Jongdae maksud. Sempat Jiyeon lagi-lagi memandang berkeliling, penasaran juga dia tentang apa saja yang sudah Jongdae tambahkan di rumah ini setelah tempo hari Jiyeon diberi kesempatan untuk memilih apa dan bagaimana ia ingin menata isi rumah ini.

Toh, Jongdae tidak selamanya tinggal di sini. Jiyeon yakin benar tempat ini dimiliki Jongdae hanya sebagai persinggahan sementara dia menyelesaikan tugasnya di sini. Dan sekarang Jiyeon paham mengapa pria itu tidak bisa menunggu sampai natal tiba untuk menuruti keinginan Jiyeon tentang pernikahan mereka.

Natal terlalu lama, dan Jongdae tak punya waktu sebanyak itu. Jiyeon pikir, dia juga tidak lagi ingin menghabiskan waktu terlalu lama dengan pria itu. Jadi semakin cepat mereka menikah, semakin cepat pula penderitaan ini bisa berakhir bagi Jiyeon.

Agaknya Jiyeon sudah sadar, kalau dia tidak perlu lagi merencanakan hal yang muluk untuk pernikahannya. Dia hanya sekedar dimanfaatkan dalam keengganan, jadi patutlah jika dia mempersingkat waktu yang harus dia lalui di bawah tekanan itu.

“Ah benar, Jongdae…” Jiyeon menggumam, merasa bahwa dia kali ini harus benar-benar mengambil langkah mendahului pria itu.

Setelah dia pikir-pikir, lebih cepat memang lebih baik. Semakin cepat dia mengakhiri sandiwara ini, semakin dekat pula Jiyeon pada kemungkinan tentang kebahagiaan yang mungkin akan mau menghampiri.

Jiyeon baru saja sampai di depan pintu kamar Jongdae saat pintu tersebut terbuka, menampakkan Jongdae yang berdiri di sana dan menunggu.

“Ada apa?” tanya Jongdae kemudian.

“Tentang waktu pernikahan kita… bagaimana jika dua pekan lagi?” tanya Jiyeon membuat Jongdae menatapnya dengan alis terangkat.

Ada apa dengan gadis itu tiba-tiba? Seingat Jongdae tadi Jiyeon lah yang jadi orang paling keras hati menginginkan pernikahan saat natal tiba.

“Mengapa tiba-tiba memutuskannya dua pekan lagi?” tanya Jongdae menyelidik. Tak habis pikir dia pada pemikiran Jiyeon hari ini yang berubah-ubah seenaknya. Memangnya Jiyeon pikir emosi Jongdae tidak diuji karena sikapnya itu?

“Seperti katamu, lebih cepat kita lakukan maka akan lebih cepat juga berakhirnya. Aku tahu, kau dan aku sama-sama tidak nyaman karena pernikahan ini. Terlebih buatku, karena pernikahan ini hanya akan jadi satu-satunya pernikahan dalam hidupku. Jadi… aku tidak ingin terjebak dalam kebenaran menyakitkan ini terlalu lama.”

Mendengar penuturan Jiyeon, Jongdae akhirnya menghela nafas panjang. Dia kemudian membuka ruang cukup luas bagi Jiyeon untuk bisa melihat apa yang ada di dalam kamar Jongdae.

“Masuklah. Kamar di ujung sana belum tertata rapi jadi tidurlah di sini.” akhirnya Jongdae berkata.

“Apa?” Jiyeon menatap tidak mengerti. Tidak dia pahami mengapa Jongdae menyahuti ucapannya dengan hal membingungkan semacam ini. Tadinya gadis itu pikir Jongdae akan bersikap dingin seperti biasanya.

“Karena kau sudah mulai memahami apa yang aku rencanakan dan apa yang aku pikirkan, jadi kupikir aku perlu memberitahumu sedikit lebih banyak dari yang sekarang kau ketahui, Kim Jiyeon-ssi.”

Jiyeon akhirnya menjawab dengan sebuah anggukan yakin sebelum dia kemudian melangkah masuk ke dalam kamar pria itu.

“Duduklah di atas kursi berwarna merah itu, kau bisa mengeringkan pakaianmu di sana sekaligus menghangatkan tubuh sambil mendengar penjelasanku.” Jongdae berkata sambil menutup pintu kamarnya.

Tanpa bicara apapun Jiyeon menuruti perkataan pria itu. Meski dia merasa sedikit heran juga dengan sikap Jongdae sekarang yang dalam pikirannya terasa begitu ‘ramah’ dan baik. Tapi mungkin ada benarnya juga keputusan Jiyeon untuk menyetujui apa yang jadi keinginan pria itu. Dia jadi mendapat simpati dari si pria, setidaknya.

“Tadinya aku berencana melangsungkannya satu bulan lagi. Berhubung kau sudah memilih dua pekan lagi, bagaimana jika menunggu satu pekan lagi setelah itu?” Jongdae berucap, dia duduk di kursi empuk berwarna kelabu yang ada di sana, sementara Jiyeon sendiri masih terperangah pada kehangatan yang menjalari tubuhnya.

“Memangnya kenapa? Apa ada yang harus kau urus dalam satu minggu itu?” tanya Jiyeon kemudian melempar pandang ke arah Jongdae.

Bisa Jiyeon pahami jika kursi berwarna kelabu itu pastilah jadi perantara charge Jongdae yang lain. Karena Jiyeon bisa melihat kilatan keperakan di kedua manik Jongdae sekarang.

“Ya, aku harus membuat identitas dulu di sini. Dan membuat latar belakang kehidupan yang sesuai dengan manusia. Banyak hal yang harus aku manipulasi sebelum pernikahan itu berlangsung. Jadi, bagaimana dengan tiga pekan lagi?” tanya Jongdae.

“Baiklah,” Jiyeon akhirnya menyetujui.

“Bagus. Sekarang bisa aku jelaskan sedikit tentang apa yang sebenarnya terjadi antara manusia dengan bangsaku?” kata Jongdae.

“Tentu saja. Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun.” Jiyeon berucap, dia dahului kecurigaan yang mungkin saja muncul dari Jongdae dengan berkata seperti itu.

“Aku tahu kau tidak akan mengatakannya, kau bukan seorang yang banyak bicara.” ucap Jongdae, mengikis sedikit pandangan Jiyeon tentangnya yang kerapkali mencurigai si gadis.

Jongdae kemudian menatap ke arah jendela besar yang ada di kamarnya, membiarkan dirinya sejenak terlarut dalam kelamnya langit malam yang memantulkan titik kecil keberadaan tempat yang selama ini menjadi tempatnya tinggal.

“Manusia sedang berusaha untuk menjadi seperti kami, Jiyeon-ssi.”

Jiyeon menatap tidak mengerti.

“Apa maksudmu?” tanyanya.

“Mereka, berusaha untuk mendapatkan kekuatan seperti yang kami—para Mutant—miliki. Mereka berencana untuk memiliki kekuatan itu dan menggunakannya untuk dua hal. Pertama, menghancurkan bangsa kami juga tempat tinggal kami, melenyapkan tiap Mutant yang mereka temukan sehingga tidak lagi ada makhluk yang lebih kuat dari mereka.

“Kedua, mereka ingin memanipulasi kekuasaan atas Earth. Membuang batas ‘mati’ yang harusnya jadi akhir bagi kehidupan seorang manusia, sehingga mereka yang merencanakan hal ini… bisa hidup dengan umur panjang seperti para Mutant, dan bisa menguasai Earth untuk menguntungkan mereka.”

Bisa Jongdae dengar bagaimana tarikan dan hembusan nafas Jiyeon sekarang terdengar begitu ketakutan. Degup jantung gadis itu bahkan terdengar begitu jelas.

“Kau juga tahu sendiri, karena kau suka membaca kau pasti tahu sejarah tentang Mutant, bukan? Jadi, aku tahu kau pasti tahu kalau sampai detik ini, manusia belum bisa menjelaskan tentang awal mula munculnya kami. Apa yang membuat kami tercipta, siapa yang mengawali kemunculan kami, dan darimana kekuatan ini kami dapatkan.

“Jika kau bertanya padaku sebagai seorang Mutant, aku juga tidak tahu jawabannya. Aku tak tahu, darimana aku berasal, bagaimana aku diciptakan, apa aku dulunya seorang manusia yang kemudian berubah menjadi Mutant, ataukah aku memang seorang Mutant. Aku tidak bisa mengetahuinya karena empat puluh delapan tahun yang lalu, manusia telah membuat sebuah perang yang menyebabkan kekosongan dalam ingatan kami mengenai asal muasal kami.”

Lagi-lagi, Jongdae biarkan Jiyeon tenggelam dalam diam. Sementara dia sendiri memilih untuk mengisi keheningan dengan menghitung degup jantung Jiyeon yang bertalu sebelum kemudian dia kembali buka suara.

“Tidak ada yang tahu pasti apa yang akan manusia lakukan kali ini. Dan kami, para Mutant, percaya jika manusia tidak akan menghancurkan batas damai yang dulu diciptakan setelah perang yang membuat kami kehilangan jati diri.

“Kami sudah banyak mengalah, Jiyeon-ssi. Kami sudah biarkan Earth menjadi tempat bagi manusia untuk mereka kuasai sendiri. Kami terima keputusan mereka pada kami yang dibatasi pergerakannya di Blue Area. Tapi kami tidak bisa terima jika mereka ingin memusnahkan kami.”

Jiyeon mengerti, dia sungguh mengerti apa yang sekarang sedang Jongdae coba untuk jelaskan padanya. Bahkan tanpa perlu mendengar kelanjutan penjelasan itu, Jiyeon sudah mengerti.

Dia bahkan mulai berpikir jika sikap kasar yang Jongdae pamerkan padanya semata-mata karena Jongdae berusaha membangun batas jelas antara dirinya yang seorang Mutant dengan Jiyeon yang seorang Human.

Paksaan dan ancaman Jongdae atas Kyungsoo juga sudah jelas Jiyeon pahami tujuannya. Jongdae pastilah hanya seorang scientist dari Blue Area yang tengah menyamar di lahan musuh. Dan seperti prinsip yang sejak awal Jiyeon rengkuh erat, dia tak ingin memihak.

Jiyeon bukannya membela Human, tidak juga berniat membantu Mutant dan lantas jadi pengkhianat. Dia lebih baik jadi perantara saja. Seorang pihak netral yang berdiri di tengah perang. Jiyeon pikir, dia lebih pantas berdiri di tengah perang daripada ikut-ikutan mengacungkan senjata padahal dia tidak bisa menggunakannya.

“Aku mengerti, aku tidak ingin kalian dimusnahkan, Jongdae-ssi. Kalau mungkin sekarang perkataanku terdengar tidak masuk akal dalam pendengaranmu, tapi aku sungguh menganggap Mutant sebagai bagian dari kami, bagaimanapun keadaan mereka.

“Tapi aku tidak bisa berbuat banyak. Aku tahu, kau membutuhkan informasi dari Kyungsoo. Dan aku tidak mungkin bisa jadi sumber informasi itu. Jadi, aku akan membantumu, tidak, aku akan membantu bangsa kalian dengan memberimu ruang dan kesempatan untuk mendapatkan informasi itu.

“Tetapi bukan berarti aku mengkhianati bangsaku. Ketika kau mulai bersikap di luar batas, aku akan menghentikanmu, Jongdae-ssi. Jika kau tidak mau kuhentikan, aku tidak akan segan mengatakan pada seisi Earth tentang siapa dirimu. Dengan begini, bangsamu dan bangsaku impas, bukan?”

Kali ini, Jongdae yang terdiam mendengar penuturan Jiyeon. Tidak dia dengar satupun kebohongan dalam kalimat yang keluar dari bibir si gadis, tidak juga dia tangkap adanya ketidak tulusan. Karena Jongdae bisa mengetahui kebohongan dan ketidak tulusan itu dari degup jantung Jiyeon jika memang ada.

Gadis itu memang tulus ingin membantu. Gadis itu ingin berdiri dan memasang peran tidak tahu apa-apa sementara dia sudah dimanfaatkan oleh Jongdae demi kepentingan bangsanya. Tidak, tentu Jongdae tidak bisa memandang gadis itu sebagai seorang pengkhianat. Sebab yang Jiyeon lakukan hanyalah menjadi perantara antara Jongdae dengan sumber informasinya, tapi Jiyeon tutup mata dan telinga atas apa yang Jongdae perbuat selama tidak melampaui batas.

“Apa… ucapanku terdengar klise?” tanya Jiyeon saat Jongdae tidak kunjung memberinya sahutan apapun.

Untuk pertama kalinya, senyum muncul di wajah Jongdae. Bukan senyum yang ia tujukan untuk meledek Jiyeon, bukan pula senyum mengancam yang biasa dia tunjukkan pada si gadis. Kali ini ada ketulusan dalam senyum itu.

Meskipun pertemuan dan kebersamaan mereka ini diawali dengan cara yang tidak begitu mengenakkan dan tidak pantas, rupanya Jongdae sadar bahwa kali ini dia tidak salah memilih. Dia telah bersama dengan seseorang yang berdiri tegap untuk memberinya bantuan sekaligus menghentikannya.

“Tidak, sama sekali tidak. Mengapa… aku malah mendengar ketulusan dari kalimatmu, Kim Jiyeon? Apa kau tidak akan menyesali pilihanmu ini, meski aku tidak mengancammu?” pertanyaan Jongdae kemudian dijawab Jiyeon dengan sebuah gelengan pelan.

“Hidupku sudah terlampau penuh oleh penyesalan. Dan bertemu denganmu adalah perkara lain yang hidup tawarkan padaku. Aku pikir, pada akhirnya aku tidak akan menyesal. Meskipun aku harus hidup berselimut kebenaran pahit semacam ini.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

YA LORD, berdosanya aku karena udah mengabaikan cerita melodrama ini selama berbulan-bulan T.T pas ngetik True Lies lagi dengan modal baca ulang dari awal sampai chapter lima plus baca referensi-referensi dan draft enggak beraturan yang ada di dalem folder garapan True Lies, akhirnya diri ini kembali tergelitik buat bikin cerita mellow.

Apalagi, di sini yang jadi cast itu bias semua /ya dari dulu kan tiga orang ini emang bias, Rish/ ya intinya bukan itu sih, intinya aku lagi berapi-api sama Chen-Soo dan playlist aku saat ngerjain chapter enam ini juga sehati banget, ngeplay randomnya lagu-lagu bergenre mellow semua huhu.

Tuh kan, daku jadi bisa lebih stabil ngetik cerita-cerita berchapter ini, ya ampun akhirnya kepribadianku yang normal kembali lagi huhu, semoga aja bertahan sampai Desember soalnya kalo enggak bertahan bisa amburadul rencana 2018 ku T.T

Nah nah, sekian dulu ocehanku hari ini. Leo yang jadi temen duet sejak minggu kemarin lagi ngambek gara-gara aku berencana untuk ngeduain dia sama laptop baru bernuansa akuatik yang dibeli adek kemarin malem, huhu mianek Leo, tapi laptop warna biru laut itu menggoda sekali T.T T.T

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

Iklan

15 pemikiran pada “TRUE LIES – Slice #6 — IRISH’s Tale

  1. Yee.. Akhirnya ff yang aku tunggu 2 di update, welcome back irish, di tunggu lanjutan nya, my favorite story , jangan terlalu lama y irish, semangat..

  2. Welcome back true lies, dah lama nian dikau hiatus, mksh rish dah bw lnjtn crita ni lg. Ditunggu ff2 veteran irish lain’ny yg pd mule comeback dg ‘teratur’ lg. Mulut sarkastic & tingkah ga brshbt’ny 첸 disini ‘contrast’ bgt sm d’real him jmn exo’s showtime eps msk rmh 👻 dulu. Wah, 첸 lg dpt wedding project di ff anne JGFL & dimarih jg, laris ya.. 😊

    • iya kak Nin, aku juga ngerasa berdosa banget karena udah lalai sama tugas mulia ngelarin ini epep :”” tapi alhamdulillah aku akhirnya punya waktu juga buat ngetik XD wkwkwkwk

  3. Ya Lord udah berapa lama ane nunggu2 ff iniiiiii T,T akhirnya ya……
    Di chapter ini full sama moment Jongdae-Jiyeon ya ciee~ Jongdae minta diterangkan kali ya sok2 cuek tapi perhatian. Dia cuek tapi perhatian, dia perhatian tapi sok cuek. Ah gitu deh pokoknya XD XD XD ane gemay yg waktu Jongdae mau bangunin Jiyeon di mobil tapi berakhir dengan bangunin pake cara banting pintu wuakakakakakak yawla apa salahnya sih ente gendong Jiyeon masuk ke kamar hahahahahahaha tapi kusuka sama interaksi mereka disini. Jiyeon yg emang polos dan Jongdae yang darah tinggian itu bikin gemes XD XD cocok banget sih emang karakter Jongdae disini dingin2 super jahat gitu wkwkwkwkwkwkwk plis ane mau mereka tidur bareng malem itu /ditendang/ XD XD XD XD

    • seneng kan seneng kan aku akhirnya update ini juga XD wkwkw tenang beb, aku mulai rajin ngetik kok, jadi insya Allah enggak molor lagi True Liesnya… tapi siap2 aja kalo ceritanya makin nganu XD wkwkwkwkwkw ADUH SI JONGDAE EMANG MINTA DIKARUNGIN BEB DI SINI XD

    • “mau disiksa model apa lagi Jiyeon ini…”
      kok ane ngakak bacanya beb wuakakakakak XD seolah-olah kita ini lagi nyulik Jiyeon terus bingung mau diapain hahahaha XD bikinin moment Jiyeon-Kyungsoo dong beb. terus Jongdae ngeliat, terus dia cemburu. terus dia marahin Jieyon XD XD atau engga Jongdae main(?) ke rumah Jiyeon gitu. nginep di rumah Jiyeon wkwkwkwkwk pokoknya ane suka Jiyeon sama siapa aja beb XD disiksa sama siapa aja juga ane suka /ditendang/

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s