TRUE LIES – Slice #1 — IRISH`s Story

irish-true-lies (2)

True Lies

With EXO`s Do Kyungsoo & Kim Jongdae and Lovelyz`s Kim Jiyeon

Supported by VIXX`s Lee Jaehwan, A-Pink`s Jung Eunji

Additional cast – [revealed as the story flew away]

A dark, crime, hurt-comfort, marriage-life, sci-fi, slight!thriller, slight!suspense story rated by PG-17 in chapterred length

DISCLAIMER

This is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life. And every fake ones belong to their fake appearance. The incidents, and locations portrayed herein are fictitious, and any similarity to or identification with the location, name, character or history of any person, product or entity is entirely coincidental and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art without permission are totally restricted.

©2016 IRISH Art&Story All Rights Reserved

Story`s Progress:

PROLOGUE – [NOW] Chapter 1: Plan

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author`s Eyes…

“Bukankah lucu?”

Seorang pemuda mendongak dari lembaran yang tengah dibacanya. Sekarang, di hadapannya, pemuda lain tengah melangkah mengitari ruangan dengan gerakan monoton yang terlihat membosankan. Sementara kedua lengannya terlipat di depan dada, dahinya berkerut dan tatapannya begitu serius.

“Apa lagi, Sehun?” pemuda yang sedari tadi sibuk membaca itu akhirnya buka suara, membuat pemilik nama yang baru saja disebut lantas melempar pandang.

“Ucapan mereka, Jongdae. Mereka bilang kalau kita akan dimusnahkan karena sudah melanggar aturan teritorial antar-bangsa. Bukankah lucu? Kita lebih kuat daripada mereka, bukankah selama ini bangsa kita juga yang melindungi mereka?” tuntut pemuda bernama Sehun itu tak terima.

Sementara pemuda yang disebut Jongdae tadi hanya menghela nafas. “Mau bagaimana lagi?” ujarnya terdengar sebagai pertanyaan di telinga Sehun meski ia tahu Jongdae tengah mengucapkan sebuah pernyataan.

“Mau bagaimana? Tentu saja aku ingin perlawanan!” Sehun berucap cukup keras dan tegas, garis wajahnya yang kini kaku menambah kesan serius di wajah pemuda itu.

Alis Jongdae terangkat sedikit, tampak mulai tertarik pada jalan pemikiran pemuda di depannya.

“Baiklah,” Jongdae kini meletakkan lembar yang sedari tadi ada di tangannya, lantas berpindah menopang dagu dengan sebelah tangan, “jadi apa yang kau pikirkan, Oh Sehun? Aku tahu kau punya rencana bukan?” sambungnya dalam beberapa sekon berhasil mengubah ekspresi kaku Sehun menjadi sebuah seringai.

“Ya, aku memang punya rencana.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kau bilang, dia yang bertanggung jawab?” Jongdae menatap ke arah seorang pemuda yang tampak sibuk dengan tabung-tabung berisi cairan kimia, sementara rautnya begitu serius memperhatikan papan berisi rumus.

“Ya, aku sudah mengawasinya selama beberapa minggu.”

“Beberapa minggu?” alis Jongdae terangkat, sadar jika Sehun—yang notabene sudah dianggapnya sebagai adik sendiri—pastinya telah diam-diam menyelinap menggunakan pesawat ulak-alik dari tempat mereka tinggal, ke Earth hanya untuk mengawasi sekelompok bagian dari pemerintahan militer yang dikatakan Sehun akan berusaha memusnahkan bangsa mereka.

Seolah sadar jika Jongdae mengetahui tindak-tanduknya, Sehun lantas memamerkan sebuah senyum kecil. “Aku tak bermaksud pergi ke sini sendirian. Hanya saja, kau tidak mau menemaniku dan aku—”

“Kita bahas ini nanti.” potong Jongdae setengah kesal, sebenarnya, ia ingin sekali mengamuk pada Sehun sekarang juga, di matanya, Sehun seolah tak tahu bagaimana bahayanya ladang musuh jika ia pergi berkeliaran sendirian.

Dan Sehun juga tipe yang tidak mau tahu dan tidak ambil pusing. Ada bahaya, akan ia hadapi, jika tidak ada, itu artinya ia beruntung. Pemikiran Sehun selalu mengganggu Jongdae sebenarnya, karena ia mengkhawatirkan keadaan Sehun.

“Baiklah, jadi, begini, dia, adalah penanggung jawab penelitian ini. Aku bisa saja berpikir untuk menjadikan anak-istrinya sebagai ancaman, tapi tidak bisa.” ujar Sehun menjelaskan keadaan yang telah di selidikinya.

“Maksudmu, ia hidup sendirian, begitu?”

Sehun mengangguk yakin. “Ya. Benar sekali. Dan dari hasil penyamaranku—”

“Kau menyamar?” potong Jongdae lagi, dan seolah apa yang telah dilakukannya sama sekali tidak membuat Jongdae ingin mengamuk, Sehun memamerkan cengiran—lagi—pada pemuda itu.

“Ya. Hanya beberapa kali. Mungkin tiga, atau empat. Tapi bukan menyamar itu titik pentingnya. Doktor muda ini bernama Kyungsoo, Do Kyungsoo, dan dia dikenal sebagai seorang antisosial.” terang Sehun.

“Lalu?” Jongdae menunggu dengan tidak sabar.

“Dia tidak pernah mau berkomunikasi lebih dari sepuluh detik dengan siapapun. Tapi dia seorang jenius yang dibutuhkan organisasi ini.” lagi-lagi Sehun menjelaskan dengan singkat.

Tak sabar, Jongdae akhirnya menghembuskan nafas panjang.

“Oh Sehun, jangan pikir penjelasan pendekmu akan menghapus kekesalanku.” ujarnya membuat Sehun menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, untuk kemudian merubah rautnya jadi benar-benar serius.

“Satu-satunya orang yang dia percaya, adalah seorang gadis yang bekerja di perpustakaan.” ujar Sehun lagi-lagi memberikan penjelasan singkat.

“Apa gadis ini orang yang dicintainya?” tanya Jongdae.

Nope. Bukan. Dia hanya percaya pada gadis ini. Dan kurasa, ini cinta bertepuk sebelah tangan milik si gadis. Ah, tunggu, biasanya di jam-jam ini gadis itu akan datang berkunjung.” ujar Sehun.

“Jangan katakan sedari tadi kau bicara bertele-tele karena menunggu kedatangan gadis itu.” tebak Jongdae.

“Ya, sedikit banyak memang iya,” Sehun membenarkan, “tapi juga karena aku bukan seorang yang senang bicara panjang lebar sepertimu.” sambungnya ringan.

Jongdae memutar bola mata kesal. “Lalu sebenarnya apa rencanamu?”

“Ah!” Sehun menjentikkan jemarinya, ekspresinya lagi-lagi berubah ceria. “Jadi, rencanaku sebenarnya adalah menjadikan gadis itu sebagai ancaman kecil kita.”

“Kau bilang doktor itu tidak tertarik pada gadis ini.”

“Iya, memang. Tapi mereka selalu kemana pun bersama, seperti lebah dan nectar. Jadi aku yakin, bagi pemuda itu, gadis ini bukan seorang yang tidak berarti baginya. Walaupun aku tidak melihat sengatan-sengatan aneh antara dua manusia yang saling menaruh ketertarikan, tapi hubungan mereka berdua sangat dekat. Aku yakin.”

“Dan kenapa kau sangat yakin?” tuntut Jongdae. Seolah penuturan Sehun saja tak cukup baginya untuk menjelaskan rencana yang dibanggakan Sehun seolah ia adalah ilmuwan yang baru menemukan sebuah rumus padahal sedari tadi mereka bicara dengan berbisik-bisik dan bahkan bersembunyi di bilik kecil yang biasa digunakan karyawan untuk beristirahat sementara mereka sama-sama melakukan penyamaran.

“Aish, aku sudah jelaskan padamu. Karena doktor ini seorang antisosial, dia tidak percaya dengan muda pada siapa saja, jadi gadis ini satu-satunya orang yang ia percaya.” ujar Sehun lagi-lagi menjelaskan.

Jongdae terdiam sejenak.

“Siapa yang akan menculik gadis itu sebagai ancaman?” tanya Jongdae.

“Menculik?” alis Sehun terangkat.

“Lalu?” Jongdae bertanya dengan nada menuntut. “Aku tidak bilang ia harus diculik. Gadis ini sangat menarik, Jongdae.”

Menarik?” ulang Jongdae dengan nada sarkatis.

“Menculiknya tak akan berarti banyak bagi doktor itu. Lebih baik terus berada di dekat gadis itu—karena ia bukan tipe tidak ramah—dan mengorek informasi sebanyak mungkin darinya sekaligus menghancurkan doktor itu.”

Jongdae terdiam sejenak, ia kemudian menyunggingkan sebuah senyum kecil.

“Baiklah, untuk kali ini aku suka pemikiranmu.” ujarnya membuat Sehun tersenyum bangga. Baru saja Sehun akan mengutarakan kalimat lain untuk membanggakan diri, atensi pemuda itu sudah berpaku ke satu arah.

“Itu dia!” ujar Sehun hampir-hampir terlalu keras.

Segera, Jongdae melemparkan pandangannya, sejenak, pemuda itu terdiam saat melihat gadis dengan dress berwarna peach sebatas lutut melangkah masuk ke dalam ruangan tempat mereka berada sekarang, dengan sebuah kotak berisi beberapa gelas capucino dan tas jinjing kecil tersampir di bahu.

“Kyungsoo-ya!” Jongdae cukup yakin gadis itu berucap keras, hanya saja, frekuensi suara gadis itu masuk dalam desibel kelewat lembut dan indah dalam rungu Jongdae, membuat pemuda itu hampir tak berkedip.

“Dia?” ujar Jongdae tersadar.

“Ya, lihat? Doktor muda itu bahkan bisa tersenyum padanya.” ujar Sehun tampak begitu bersemangat dengan pembuktian yang telah ditunjukkannya.

Tentu saja, Jongdae juga bisa melihat jelas bagaimana gadis itu tersenyum hampir pada semua orang yang memberikan capucino yang dibawanya, sementara atensi pemuda yang sedari tadi disebut Sehun sebagai ‘doktor muda’ itu juga tampak enggan beralih dari sang gadis.

“Siapa nama gadis itu?” tanya Jongdae tanpa sadar.

“Kim Jiyeon. Kalau tidak salah namanya adalah Kim Jiyeon.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Jam makan siang hampir-hampir jadi membosankan bagi Kyungsoo saat Jiyeon belum juga datang padahal jam hampir menunjuk angka satu. Tanpa bisa berbohong pada keadaan, Kyungsoo merasa gelisah juga, meski ia disibukkan dengan cairan-cairan kimia di tangan, ia tanpa sadar dengan konstan memperhatikan jam, dan memandang pintu, bergiliran, seolah menunggu gadis yang—hampir setiap hari—seharusnya datang.

Senyum tanpa sadar terukir di wajah pemuda Do itu kala dilihatnya sang gadis di ujung koridor, mengenakan dress peach pemberiannya beberapa minggu lalu yang membalut tubuh mungil gadis itu hingga ia terlihat begitu cantik di mata Kyungsoo.

“Kyungsoo-ya!” lembut suara gadis itu seolah jadi re-charge energi bagi Kyungsoo yang sedari tadi sudah begitu bosan karena berhadapan pada hal monoton. Segera, ia meletakkan gelas-gelas ukur berisi cairan kimia tadi di meja, untuk merajut langkah menghampiri sang gadis.

“Kukira kau tidak datang, Jiyeon-ah.” ujar Kyungsoo, membantu sang gadis, Kim Jiyeon, memberikan beberapa gelas capuccino yang dibawanya kepada beberapa pegawai laboratorium yang ada di sana.

“Tidak, kau tahu aku tidak mungkin melewatkan satu makan siang pun tanpa datang ke sini.” ujar Jiyeon, memberikan gelas capuccino terakhir di tangannya pada Kyungsoo, sementara bibir gadis itu melengkung membentuk senyuman yang beradu dengan senyum dari sepasang matanya.

“Kenapa kau sangat terlambat hari ini?” tanya Kyungsoo penasaran, awalnya ia ingin terlihat tidak peduli—toh ada tidak adanya gadis itu, ia tetap akan pulang jam lima sore dari laboratorium—tapi hatinya tergelitik juga untuk tahu.

Wajah Jiyeon menunjukkan ekspresi serius selama beberapa sekon, sebelum ia membuka mulut dan bicara. “Ada beberapa pemeriksaan kecil di lantai atas.” ujarnya.

Oh, ya. Ucapan Jiyeon juga mengingatkan Kyungsoo bahwa ia bekerja di laboratorium bawah tanah.

“Pemeriksaan?” alis Kyungsoo kini bertaut bingung. Memangnya pemeriksaan apa yang diadakan di hari kamis? Apalagi sepertinya Jiyeon juga melewati pemeriksaan itu—padahal seisi gedung ini agaknya tahu jika Jiyeon pasti datang ke sini untuk bertemu dengan Kyungsoo.

“Yep. Mereka bilang mesin pendeteksi sempat menangkap sensor Mutant.” ujar Jiyeon, membuka penutup gelas capuccino yang sedari tadi tidak di sentuh Kyungsoo, dengan gerakan hati-hati gadis itu kemudian mendekatkan gelas itu ke depan wajah Kyungsoo.

“Minumlah dulu Kyungsoo-ya. Kau tidak perlu memasang wajah serius begitu.” gurau Jiyeon segera menyadarkan Kyungsoo dari lamunannya.

Mutant? Tentu saja Kyungsoo tahu itu. Mengingat ia bekerja di organisasi yang memerintahnya untuk menciptakan serum yang bisa melumpuhkan Mutant, ia tentu tahu. Tapi ucapan Jiyeon sekarang sedikit menganggunya.

“Apa kau diperiksa juga?” tanya Kyungsoo, tadinya ia sudah akan menyeruput capuccino itu jika saja baginya memeriksa keadaan Jiyeon tidak jadi hal yang lebih penting ketimbang meneguk capuccino.

Segera, Kyungsoo meletakkan gelas capuccino itu di meja, menarik kedua lengan Jiyeon, memeriksa lipatan siku gadis itu dan menemukan sebuah plester kecil di salah satunya.

“Apa yang mereka lakukan padamu?” tanya Kyungsoo dengan nada tak terima yang sangat kentara dalam suaranya.

“Aigoo, lihatlah siapa yang bicara…” Jiyeon terkekeh pelan, bergerak melepaskan cekalan Kyungsoo darinya sementara ia tersenyum menenangkan pemuda itu.

“Jangan khawatir, hanya test darah kecil saja tadi di depan. Kenapa kau selalu memasang wajah serius seperti ini?” tuntut Jiyeon memperhatikan jika ekspresi Kyungsoo sedari tadi tampak kaku.

“Tentu saja aku tidak terima.” ujar Kyungsoo cukup tegas.

“Eh?” Jiyeon membulatkan mata tak mengerti.

“Memangnya kau Mutant mengerikan itu? Mereka sudah mengenalmu, seharusnya mereka tidak melakukan test-test aneh itu.” protes Kyungsoo membuat Jiyeon terkekeh pelan.

“Sudahlah, kenapa kau seperti ini huh? Kau tahu sendiri mereka hanya menusukkan jarum kecil dan mengambil satu tetes darah saja.” ujar Jiyeon meyakinkan pemuda itu.

“Bagaimana jika lukamu infeksi?” tanya Kyungsoo hampir saja membuat tawa Jiyeon meledak.

Ingin sekali ia mengira pemuda Do ini tengah bercanda, tapi ekspresi serius Kyungsoo, dan juga, kebiasaan Kyungsoo yang tak pernah menganggap apapun sebagai candaan, cukup menjadi alasan yang menahan Jiyeon untuk tidak tertawa, karena ia tahu Kyungsoo benar-benar serius.

“Kalau luka ini infeksi, ‘kan ada kau.” ujar Jiyeon membuat Kyungsoo segera mendengus kesal, tahu jika Jiyeon malah tengah mengajaknya bercanda.

“Aku akan memperingati mereka.”

Hey, Kyungsoo-ya.” Jiyeon cepat-cepat berusaha menetralisir suasana, “tidak ada yang perlu kau khawatirkan, ini hanya test kecil, lagipula, bukan aku satu-satunya yang di test. Tadi ada puluhan orang yang juga di test. Pasti tidak adil kalau mereka membiarkanku seorang masuk ‘kan?” tutur Jiyeon lembut, jemari mungil gadis itu meraih gelas capuccino yang sedari tadi diabaikan Kyungsoo.

“Nah, sekarang, minumlah dulu. Sebentar lagi jam makan siang habis, dan aku harus kembali ke perpustakaan.” ujar Jiyeon membuat Kyungsoo terdiam.

Justru ini yang sebenarnya membuat Kyungsoo kesal. Karena gadis itu bahkan tak bisa menghabiskan lebih dari sepuluh menit di ruangannya akibat pemeriksaan tolol yang Kyungsoo yakini menyita waktu belasan menit—yang seharusnya bisa Jiyeon habiskan di ruangannya, berbagi cerita dengan Kyungsoo untuk sekedar menghapus penat dan kebosanan pemuda itu akibat berjam-jam terkurung di dalam laboratorium.

“Kyungsoo?” panggilan Jiyeon segera menyadarkan pemuda itu dari lamunannya.

“Oh?” sahut Kyungsoo.

“Aku kembali sekarang, oke?” ujar Jiyeon mengundang erangan kekesalan keluar tanpa sadar dari bibir Kyungsoo.

Aish, kenapa denganmu?” tanya Jiyeon tak mengerti.

“Tidak, tidak ada. Cepatlah kembali. Kau tahu sendiri bagaimana ketatnya check-clock di perpustakaanmu itu.” gerutu Kyungsoo.

Jiyeon terkekeh pelan, ia menepuk pelan lengan Kyungsoo sebelum akhirnya melambai pada pemuda itu dan melangkah ke arah pintu.

“Apa kau akan menjemputku hari ini?” ujar gadis itu bertanya.

Umm, aku lembur hari ini.” ujar Kyungsoo membuat Jiyeon menghentikan langkahnya sesaat untuk mengerucutkan bibirnya kesal.

“Baiklah, aku akan pulang bersama Jaehwan hari ini, oke?” Jiyeon memamerkan jemarinya seolah meminta persetujuan Kyungsoo.

“Oh, pulanglah bersamanya.” Kyungsoo menyahuti.

Seiring dengan jawaban pemuda itu, Jiyeon akhirnya melangkah pergi, tak sadar jika ekspresi Kyungsoo sekarang benar-benar tak bisa digambarkan. Bagaimana tidak, bagi Kyungsoo, Jiyeon satu-satunya orang yang dekat dengannya, tapi entah bagaimana Jiyeon bisa dengan begitu mudah dekat dengan orang lain, dan itu membuat Kyungsoo kesal.

Termasuk tentang Lee Jaehwan, Kyungsoo entah kenapa selalu merasa kesal tiap kali Jiyeon menyebut nama itu.

“Sialan… Haruskah aku pulang lebih awal saja hari ini?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Merasa jika menemukan sebuah kunci emas bagi pengintaian diam-diamnya, Jongdae cukup jelas melihat jika Kim Jiyeon, adalah lompatan yang bagus bagi bangsa mereka untuk menghentikan penyerangan atas invasi Mutant di bumi. Dan untuk kali ini, entah mengapa ia ingin sekali mengatakan jika Sehun adalah seorang jenius.

Tapi sayangnya Jongdae tak ingin mengatakan hal itu karena ia tahu, Sehun adalah seorang yang begitu angkuh jika sudah menyangkut soal harga diri dan kebanggan, jadi lebih baik jika ia berdiam daripada harus menyanjung Sehun.

“Kita harus benar-benar menarik gadis itu dalam genggaman,” Jongdae akhirnya memulai. Sementara di sampingnya, Sehun melangkah dengan raut serius, penuh pemikiran.

“Benar, aku sudah tahu gadis ini sangat penting.” ujarnya membenarkan.

“Aku akan membuat keterikatan dengan gadis itu, kau urus sisanya.” putus Jongdae berhasil menghentikan langkah Sehun.

“Kau?” ulang Sehun, memastikan jika pendengarannya tidak salah menangkap.

“Ya. Aku. Memangnya aku bisa mempercayakan kunci emas seperti ini padamu?” Jongdae balik bertanya.

“Kau yakin ini akan berhasil?” diam-diam Sehun merasa ragu juga pada rencana yang tadi diyakininya sudah sangat sempurna.

“Absolut. Satu-satunya jalan adalah dengan berada di sana dan menyaksikan semuanya dengan mata kepalaku sendiri, Sehun.” ujar Jongdae, mengingatkan Sehun pada pembicaraan mereka tadi tentang kedekatan dua orang yang diam-diam akan jadi target pengintaian mereka sementara Sehun sendiri tahu ia tak punya kemampuan banyak tentang hal seperti ini.

“Baiklah Jongdae, kuserahkan semuanya padamu.” Sehun akhirnya menyerah, mengingat ia memang lebih sering berada di belakang layar dan menyusun rencana, mungkin memang lebih baik seperti ini.

“Jadi sekarang, aku hanya perlu melakukan ancaman kecil pada gadis itu.”

Sehun mengangguk-angguk tanda persetujuan, meski satu sisi hatinya masih merasa ada yang berlubang dari rencana yang tadi di susunnya bersama Jongdae sementara mereka mengawasi dua orang itu.

Sehun merasa aneh dan janggal. Entah mengapa, untuk pertama kalinya Sehun tak merasa bangga pada rencananya sendiri.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Jam raksasa di depan perpustakaan sudah menunjuk angka lima lewat. Langit juga sudah menggelap sejak satu jam lalu, tapi Jiyeon masih berdiri sendirian di depan perpustakaan. Sesekali ia mengaitkan jemari untuk ditiup-tiupnya pelan demi menghilangkan kedinginan, Jaehwan belum juga sampai di perpustakaan, rupanya.

Ugh, apa dia kesal karena aku memaksanya menjemputku?” gerutu Jiyeon, sesekali membuka flap ponselnya untuk mengecek apa ada pesan dari pemuda Lee yang tadi menyetujui permintaannya dengan setengah hati.

Bukannya sengaja, memang jarak tempat kerja Jiyeon dan Jaehwan—yang sama-sama berada di Seoul Area 0+ lebih dekat dibandingkan jarak dari laboratorium Kyungsoo di Seoul Area 1+.

Tapi bukan berarti Jiyeon tidak kesal saat Jaehwan sudah membuatnya menghabiskan lebih dari sepuluh menit, sendirian pula.

Atensi Jiyeon—yang sedari tadi menyandarkan tubuh di tembok penyanggah kecil di depan perpustakaan—beralih saat melihat mobil gelap berhenti di hadapannya.

“Jaeh—” kalimat Jiyeon terhenti kala bukan sosok Jaehwan yang muncul, melainkan dua orang pemuda berpakaian serba gelap.

Insting seolah menjadi cambuk bagi Jiyeon untuk sadar jika keadaan yang dihadapinya sekarang bukanlah sebuah keadaan biasa dimana dua pemuda itu hanya secara tak sengaja menghentikan mobil di depannya.

Jiyeon juga bukan seorang gadis bodoh yang pasrah begitu saja saat insting memerintahnya untuk menyelamatkan diri. Segera, ia beringsut menjauh, menatap curiga dua orang—dengan satu pemuda berkulit pucat jangkung yang memasang wajah ramah sementara satu lagi menatap Jiyeon seolah ia adalah seorang yang mengerikan—yang kini berdiri menutup jalan.

“Apa ada yang bisa kubantu?” kalimat itu sanggup meluncur dengan cukup mulus tanpa vibra dari bibir Jiyeon, sementara degup jantungnya memberi ritme yang berlawanan, ia takut.

“Kau akan sangat membantu kami, nona.” sang pemuda berwajah ramah berucap, seolah senyum ramah di wajahnya tidak mengundang kecurigaan bagi Jiyeon yang sekarang beringsut makin menjauh.

Ingin sekali Jiyeon memandang ke sekitarnya untuk memastikan apa ada tempat yang bisa di tujunya saat berlari, atau sekedar memastikan apa ada seseorang yang bisa dimintainya bantuan, tapi Jiyeon tahu, sesekon saja ia mengalihkan pandang, dua orang yang sekarang masih berjarak sekitar tiga atau empat meter di hadapannya ini mungkin secara tiba-tiba sudah ada di hadapannya.

“Bantuan apa?” tanya Jiyeon berusaha mengulur waktu sementara tungkainya terus bergerak mencipta jarak.

“Kau terlalu lamban, Oh Sehun.” pemuda yang sedari tadi—dalam pikiran Jiyeon—memandang seolah ia adalah sesuatu yang mengerikan, bergerak cepat—tak sampai satu sekon—untuk meraih pergelangan tangan gadis itu, dan tak butuh satu sekon lainnya bagi Jiyeon untuk sadar jika ia sudah berada di dalam mobil gelap tadi.

Malahan, beberapa sekon lain dibutuhkan Jiyeon untuk sadar betapa cepatnya gerakan dua orang itu sementara dirinya tak sempat meminta petolongan atau bahkan memberi petunjuk apapun jika mungkin nanti terjadi sesuatu yang buruk padanya.

“Apa yang kalian inginkan?” kali ini vibrasi dalam suara Jiyeon terdengar begitu kentara, membuat pemuda yang sedari tadi memasang wajah ramah itu terkekeh pelan.

“Tidak perlu takut pada kami Jiyeon-ssi.” ujarnya berhasil memacu kinerja jantung Jiyeon dalam kepanikan.

“Sehun, kau terlalu lambat!” pemuda di sebelah Jiyeon berucap dengan nada kesal, lantas pemuda itu melemparkan pandang ke arah Jiyeon sebelum bibirnya kembali terbuka membentuk kata. “Kau, nona. Menikahlah denganku.”

Jiyeon cukup yakin jantungnya berhenti bekerja selama sepersekian sekon ketika dua kata itu masuk dalam pendengarannya.

“Apa?” ulangnya terkejut, menatap sang pemuda berwajah dingin yang tadi menariknya dan tiba-tiba saja berucap seperti ini padanya.

“Menikahlah. Denganku.” pemuda itu menekankan tiap silabel yang keluar dari bibirnya seraya menatap Jiyeon seolah mengintimidasi.

Dan, ya. Memang, sedikit banyak tatapan itu memang berefek cukup besar pada Jiyeon. Terbukti dengan bagaimana gadis itu sekarang terdiam karena harus berulang kali memutar kalimat di dalam otak untuk diprosesnya ke mulut sebagai respon bagi kalimat yang di dengarnya barusan—sebanyak dua kali, pula.

“Apa? Menikah denganmu? Jangan bercanda, Tuan.” ujar Jiyeon, tak sanggup menemukan kalimat lain sebagai ungkapan tidak percaya saat sebenarnya ia ingin sekali mengumpat karena ucapan konyol yang di dengarnya.

“Aku tidak bercanda. Lagipula, aku punya kuasa untuk memaksamu.”

Kuasa? Untuk memaksa gadis itu? Kini Jiyeon tak lagi repot-repot menyembunyikan kemarahan yang sedari tadi ditekan intimidasi, ia mendengus, lantas menatap pemuda itu sejenak sebelum ketakutan kembali membalut dan membuatnya mengalihkan pandang.

“Aku bahkan tidak mengenalmu, Tuan. Berhenti melakukan sandiwara konyol seperti ini.” ujar Jiyeon dengan nada cukup tegas.

“Sandiwara? Bahkan jika pernikahan ini menyangkut nyawa seorang Do Kyungsoo, kau masih menganggapnya sebagai sandiwara?” sang pemuda berwajah ramah kini berucap dengan nada serius, ekspresi ramahnya bahkan tenggelam dibalik raut dingin yang kini terpasang tegas.

“A-Apa?” demi apapun, jantung Jiyeon kembali melompat kala nama Kyungsoo tercetus keluar dari bibir pemuda di hadapannya.

“Oh, Sehun-ah, jangan terlalu to the point padanya, seharusnya kau jelaskan dengan lembut kalau kita akan membunuh Do Kyungsoo jika nona ini tidak mau menikah denganku.” kini pemuda yang duduk di sebelah Jiyeon berucap.

Untuk kedua kalinya jantung Jiyeon mungkin kehilangan fungsi normalnya. Situasi apa yang sekarang menjebaknya?

“Sebenarnya apa yang ada dalam pikiranmu? Kau tidak gila ‘kan?” tuntut Jiyeon di tengah kemarahan sekaligus ketakutan.

Dua pemuda itu tertawa kasar, penuh dengan nada ledekan tersembunyi yang sanggup menenggelamkan keberanian Jiyeon yang sedari tadi susah payah dikumpulkannya.

“Aku, menginginkanmu, Nona.” pemuda di sebelah Jiyeon berbisik, bisikan yang bahkan sanggup membangkitkan ketakutan Jiyeon ke permukaan untuk ia tunjukkan melalui ekspresi.

Dan tentu saja, ekspresi ketakutan gadis itu seolah menjadi bendera kemenangan bagi dua pemuda yang sekarang ada di dekatnya.

“Apa… yang sebenarnya kalian inginkan?” tanya Jiyeon, suara gadis itu bergetar menahan tangis, sementara kabut bening kini menutupi pandangannya.

“Jangan menangis, sudah kubilang kami tidak akan menyakitimu ‘kan? Temanku ini ingin menikah denganmu, dia menginginkanmu. Dan kalau kau tidak mau menikah dengannya, wah, aku tidak bisa bayangkan bagaimana marahnya dia. Dia mungkin membunuh temanmu itu, Do Kyungsoo, kalau kau menolak.” tutur si pemuda lagi-lagi memasang wajah ramah dan menyimpan ekspresi dinginnya tadi.

Jiyeon bahkan tak sanggup berkata apapun. Dalam tangis sunyinya, gadis itu menatap sekeliling, berharap menemukan sebuah celah untuk kabur dari keadaan mengerikan yang tak bisa dimengertinya sekarang.

Bagaimana ia bisa menerima dengan akal sehat saat seseorang tiba-tiba saja ingin menikah dengannya dan mengancamnya dengan taruhan nyawa seorang Do Kyungsoo?

“J-Jaehwan…” tanpa sadar silabel itu tercetus dari bibir Jiyeon saat sebuah mobil gelap lain melaju pelan mendekati perpustakaan.

Terdengar decakan kasar dari bibir pemuda yang sedari tadi duduk di sebelah Jiyeon.

“Sehun, bawa kita pergi, aku butuh bicara dengan nona ini.” ujar pemuda itu seraya menarik Jiyeon cukup kasar.

“T-Tidak! Jaehwan!” teriakan gadis itu bahkan teredam bungkaman tangan sang pemuda di mulutnya, sebelum sebuah jarum keluar dari ujung jemari pemuda itu dan bersarang di leher Jiyeon, membuat gadis itu kehilangan kesadarannya.

“Tsk, kita seharusnya tidak membawanya pergi.” gerutu Sehun di balik kemudi.

Jongdae, yang sedari tadi berada di sebelah Jiyeon, tak berkomentar apapun dan malah sibuk memperhatikan wajah gadis yang kini tak sadarkan diri di pangkuannya.

“Kita perlu benar-benar memaksanya, Oh Sehun.” ujar Jongdae.

“Aku tahu, aku tahu. Kau pasti khawatir dia akan menceritakan semua ancaman kita, bukankah begitu?” tanya Sehun, melirik sekilas dari spion untuk melihat ekspresi Jongdae.

Sementara Jongdae hanya mengangguk singkat, tampak berpikir, sebelum bibirnya kembali bergerak membentuk kalimat.

“Setidaknya, aku harus membuatnya tak bisa lepas dari kita.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

.

.

.

Cuap-cuap by IRISH:

HALOHA! ANNYEONG! HAPPY LUNAR DAY buat yang merayakan!

Jadi, akhirnya setelah satu bulan setengah, aku bisa mempublish fanfict ini juga! Huft! Butuh perjuangan sekali padahal cuma mau publish fanfict satu chapter. Aku gak tahu apa ada yang menunggu fanfict ini (atau bahkan apa ada yang masih inget) but hope you guys like it!

Jangan lupa tinggalkan jejak ya kawan~ karena jejak kalian adalah vitamin bagiku! See ya on next fanfict! Ppyong! /kisseu hug dari Irish/

.

Show! Show! Show! Let’s come to my SHOW!

[ https://beepbeepbaby.wordpress.com/ ]

Sincerely, IRISH.

93 tanggapan untuk “TRUE LIES – Slice #1 — IRISH`s Story”

  1. waah keren kak irish..
    ada sii sehuun jugaa disini wkwkwk^^
    gak bisa ngebayangin deh kalo si jongdae jadi dingin2 misterius gituu:):) tapi tetep mantabb lah pokonya kak~~~

  2. Eh, trnyt ga diprotect nih ☺ syukurlah.. 첸 – 세훈 serba htm gt ky agent Men In Black 😎 mrk jd mutant bukan krn hsl xperimen 첸 sendiri kan? /stlh bosen maen robot2an, kali 첸 iseng ber-xperimen dg diri sendiri sambil ngajak 세훈/
    첸 yg nyaring bin cempreng bin bawel itu jd sok srius yg sk bc buku?! Buku apa dulu tuh yg di bc dg sok srius gt? 세훈 jd mutant jnis apa? Apa sprpwr’ny? Msh jd pengendali udara ky avatar Aang? Apakah Kris akuh bkl muncul jd cameo jg? /ngarep bgt!/ ini akan sepanjang 가지마 kah?

    1. XD buakakak engga kok engga aku protect XD wkwkwkwkw mereka bukan mutant hasil eksperimen sendiriii XD wkwkwkwkwkk
      insya Allah ini enggak akan sepanjang Kajima XD

  3. yuhuuuu, masih belum telat baca yg ini kan rish?
    hahahaha
    betewe aku dari awal baca bukan fokus sama para makhluk astralmu, aku fokus sama kata-kata ORGANISASI, terus melayang jadi ORGANISASI HITAM, kan dek AKEMIMIYANO jadi kangen sama bang SUICHI AKAI. apa kabarnya mas khayalku yang paling ketceh itu???/lah malah bahas DC

    sorry geje rish, lg bosen ngabuburit nunggu sahur soalnya

  4. Aku bingung sumpah mau comment apa
    Aku ga pernah tau irish dapet inspirasi dari mana sampe bikin ff yang keren dan absurd pasti..
    Yah pokoknya hwaiting ^^

  5. sehun otak dari semmua ini!!!
    kenapa harus sehun.. hahaha..
    jongdae,kamu jahat..
    irish,harus tau kalau
    Kyungsoo mah my love ..
    jadi jangan sakiti dia…
    baca chapter satu nya aku sampai dua malem,karena pas baja mata malah kayak di nina nibo in..
    akhirnya baru kelar juga pagi ini ^^ keep writing ,semangat terus ya irish jangan cape untuk ber imajinasi dan menulis ok.. 😘😘

  6. Yaaa cinta segiempat ini mah.
    Aku gabisa ngebayangin wajahnya jongdae kalo sangar gimana X’D
    Soalnya yg aku cuma inget wajah lolnya dia astaga.

    Pengen tau reaksinya kyungsoo pas tau jiyeon ilang kaya gimana.
    Secara kyungsoo dingin kaya es kutub gitu.
    Si jongdae juga kayanya suka sama jiyeon.

    Lanjut chap 2

    1. XD cinta segiempat XD wkwkwkwkwkw AWALNYA AKU JUGA GABISA BAYANGIN MUKA JONGDE MACEM ITU, TAPI DI MONSTER DIA MUKANYA BADASS SEKALI XD XD wkwkwkwkwkwk

  7. saya baru tau epep ini pas liat slice 3 nya muncul.. maunya sih langsung baca yg ketiga
    tapi saya tau kalo baca cerita kak irish gak dari awal gak bakal paham apa yang ada dicerita ini.. *iyagakkak??/langsung digampar irish

  8. Dan aku harus baca ulang prolog nya supaya inget siapa yg still human siapa yg not human sama muka si jaehwan aku udah lupa.. Wkwkkwkw..

    Adek akuh di sini jadi orang pinter, nuna bangga.. *plis*

    Aku mo lanjut duluuuu..

  9. Huwaaaaa sukaaaaa sekaliiiiii sama chapter 1 nyaaaa bener2 daebak!!! kayanya berawal disini deh semua konflik-konfliknya. aihhh Jiyeon kasian, apalah salahnya hahahaha kayanya Kyungsoo itu suka sama Jiyeon tapi dia ga berani ngungkapin kah? aku rasa sih begitu wkwk dan Jiyeon kayanya juga suka sama Kyungsoo. dan kayanya pertama kali ngeliat Jiyeon, Jongdae udah merasakan getaran-getaran(?) aneh kah? hahahahaha siapa sih yg ga ngiler liat kecantikan seorang Kim Jiyeon wkwkwkwk penasaran ntar pas Jiyeon sadar gimana reaksi dia pas tau dia diculik oleh 2 orang asing, pasti ketakutan banget tuh terjebak disituasi yg sama sekali tidak dia mengerti. ah pokoknya penasaran banget sama kelanjutanyaaaaa~~ aku izin lanjut baca yaaa authornim. ff nya jjang! jjang!! kerennnnn~ semangat terus buat ngelanjutin ff yang super duper keren ini~^^

    1. Hahahahaha XD iyaaaaaa semuanya konfliknya dimulai dari sini wkkwkwk karena paksaan ini hhaahhaha XD aduh duh ini bingung ya Jiyeonnya sama siapa ini enaknya XD wkwkwkwkwkwk thanks banget yaa udah mau bacaa XD

  10. Masih inget kok><
    Dari awal sih, aku nangkepnya Kyungsoo memang tertarik sama Jiyeon, soalnya sempet cemburu gitu wkwk meskipun rasa sekedar suka sama teman juga bisa sih kaya gitu
    Dan aku ber'OH' ria ketika tau ternyata gitu asal-usul si Jiyeon ama Jongdae nikah XD
    Ngegregetin:3
    Pengen tau kelanjutannya~

    1. XD hahahaha syukurlah kalo ada yang masih inget XD wkwkwkwk abisnya lama ya aku update nya pasti pada bosen nunggunya XD wkwkwkwkwk aduh duh dyo dyoooo kamu dipertanyakan di sini XD
      thanks yaa~

  11. Jadi disini jongdae maksa jiyeon buat nikah sams dia gitu? Mau banget si abang chen-chen, dah mba jiyeon sama abang kyung aja ga usah sama chen-chen…../maksa/
    Ditunggu chap 2 nya😊

  12. Nasibku sama nasib ff ini samaa…. kak iyish masih inget akuuu ??

    AKU SUKAAAA SAMA FANFICNYA KAAAKKKK……. AAHHH BETE… KESEL JUGA GRGR BANYAKNYA TRYOUT DLL HMZ.

    Komentarku buat fanfic ini cuma 1. KECEEEER…..

    Aku kzl kaakk… gabisa lama2 menjelajah di blog kakak. Nanti sklh soalnya hehe.. babaaaiii… mau lanjut tedoorrr

  13. Getar getar ketertarikan udah mengudara nh kayaknya dari jongdae. Uhuyyy lah di tunggu deh ini gimana lanjutannya. Penasaran juga sama kyungsoo suka gak sih sama jiyeon.

    Nikah aja lh nikah maksa gitu biar greget… wkwkwkw *suka bgt kalo jongday jd badboy

    1. ketertarikan mengudara? XD sumpah itu bahasanya XD wkwkwkwkwk aahh enaknya kyungsoo suka ga yaa XD wkwkwk thanks yaaaa aduh aku suka bayangin mereka berdua jadi badboy XD

  14. Ka iriseeuuu~
    Ku baru sempet baca gegara sibuk imlek wkwkwk XD
    Cie ada mutant nya, biasanya mah robot robot gitu XD
    Kapan dilanjut? Bu bidan sibuk amat deh keknya ampe chat ku nggak dibales :”

    1. De ente kenapa baca ini :’) dosa tau (?) wkwkwk XD iyaa aku mencari lapak baru tentang per-fantasy-an XD huahahahhaa ADUH DE IYA KAMU PING PING DOOONGG INI CHAT LINE BUANYAK BANGET KELELEP DARI JANUARI~

  15. keren pisan euy!!! jdi jiyeon d pksa nikah ni ama jongdae?? bru chap 1 ja udh greget aplgi chap slnjutnya!!gk sbar buat bca chap slnjutnya><„ aplgi castnya ada mak dio/hahaha/
    smngat ya kak irish buat ngelnjutinnya^^

  16. wahh daebak Irish eonni.. akhirnya true lies datang jg hohoho
    makasih eonni
    kajima jgn lupa d lanhljut y eon kekekeke #maruk
    maap baru comment

  17. Ya ampun, baru aja chap satu udah main ancam2an, greget banget

    Aduh jiyeon ko ga mau nikah ama jongdae, ato mau gantiin nih nikah ama jongdaenya, ga apa2 ko,hahhahahaha *plak

    Jd ini tema mutant dan manusia ya

    Aku nunggu banget ko ff ini publish dari kemarin2. ^^

    Ditunggu aja next chapnya irish

  18. cieeee,,kim jongdae,Sehun,,mutant,,brati makhluk ciptaan dr sebuah penelitian ya,,!!!? bener g c,,kaya Xmen gtu kan!!!
    okelah Kyung,,sibuk trus d lab,,kenapa g sibuk d hati aku aj c,,hahaaa,/apaan ini/
    ….oa kita masi inget ko ma ne ff,!!!
    **go go go Rishh***

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s