TRUE LIES – Slice #4 — IRISH’s Story

irish-true-lies-fixed

   TRUE LIES  

  EXO`s D.O & Chen with Lovelyz`s Kei 

   supported VIXX`s Ken & A-Pink`s Eunji  

   additional cast will be revealed as the story flew away  

  crime, dark, hurt-comfort, marriage-life, sci-fi, slight!thriller, slight!suspense story rated by PG-17 served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved


I lied when I said that I loved you.

Reading list:

〉〉 PrologueSlice #1: PlanSlice #2: AcceptanceSlice #3: Truth 〈〈

Slice #4: Truth (2)

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author`s Eyes…

Jiyeon hampir-hampir lupa cara untuk berkedip. Sedari tadi, netranya menatap lekat ke arah nanobot yang ada di tangan Jongdae. Meski hari sudah berubah gelap, keduanya masih berada di dalam mobil. Malahan, mobil yang mereka kendarai sekarang terhenti di tepi sebuah taman.

Well, jangan tanya apa yang terjadi pada mereka sekarang. Sejak tiga puluh menit yang lalu, keduanya sibuk menciptakan desain untuk undangan pernikahan. Meski Jiyeon lah yang lebih dominan mengutarakan pendapat, Jongdae juga tampak tidak ambil pusing dengan keadaan yang dihadapinya.

Celotehan gadis itu sudah mulai terdengar wajah dalam pendengarannya.

Whoah. Menaruh dua huruf J secara berdampingan bahkan tidak terpikir sama sekali olehku.” Jiyeon bersuara, ketika didapatinya Jongdae tengah menciptakan desain tulisan untuk bagian depan undangan mereka.

“Kurasa rekan-rekanmu akan menganggap hal ini sebagai kebetulan yang manis, bukankah begitu?” tanya Jongdae, melirik sekilas si gadis yang ada di sebelahnya sebelum ia lantas kembali berfokus pada layar nanobot di tangan.

“Ya, mereka pasti berpikir kita benar-benar pasangan yang serasi.” tanpa sadar bibir Jiyeon mengucapkan kalimat yang berhasil membuat Jongdae terhenti sesaat. Untuk beberapa sekon, pemuda itu meyakinkan dirinya bahwa Jiyeon hanya tengah berusaha menghibur diri sendiri atas apa yang terjadi padanya.

Tapi mengapa tiap kalimat yang keluar dari bibir gadis itu terdengar begitu tulus? Mengapa Jongdae merasa ia tidak bisa menemukan kebohongan dari kata yang terucap oleh Jiyeon?

Apa gadis itu benar-benar mengutarakan semuanya dengan tulus? Pertanyaan itu sekarang mengganggu Jongdae. Memaksa logikanya untuk menolak kemungkinan terbaik yang terbesit dalam benaknya tersebut.

Mana ada Human yang merasa senang ketika kebahagiaannya direnggut?

“Apa kau bisa menambahkan—” kalimat Jiyeon terhenti saat dilihatnya tangan Jongdae berhenti bergerak.  Sontak, ditatapnya pemuda itu—yang juga sudah memasang ekspresi serupa di wajahnya—dengan khawatir.

“Kau butuh dicharge sekarang, Jongdae-ssi?” pertanyaan Jiyeon akhirnya membuat Jongdae mengalihkan pandangan. Lekas diletakkannya nanobot di atas dasbor dengan menggunakan tangan kirinya yang masih bisa berfungsi dengan baik.

“Aku menyimpan recharger di kursi belakang.” ucap Jongdae, membalik tubuhnya dengan sedikit susah payah untuk meraih kotak silver yang ada di kursi penumpang.

Melihat bagaimana pemuda di hadapannya sekarang kesulitan, Jiyeon akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak turun tangan. Lengan gadis itu bergerak menahan bahu Jongdae—hal yang kemudian membuat Jongdae menatapnya tidak mengerti—sementara tatapan khawatirnya masih bersarang.

“Duduklah, aku akan membantumu.” ucap Jiyeon disahuti Jongdae dengan sebuah dengusan kecil. “Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri.” tolak pemuda itu mentah-mentah.

“Tapi kau bahkan kesulitan menggerakkan tanganmu.” lagi-lagi Jiyeon berucap, dengan sedikit memaksa, gadis itu mendorong tubuh Jongdae untuk bersandar di kursinya.

“Biarkan aku membantumu.” ucap Jiyeon, tanpa menunggu persetujuan pemuda itu, Jiyeon melangkah turun dari mobil. Jongdae menatap gerak gerik gadis itu lekat, dilihatnya bagaimana Jiyeon memutari mobilnya, membuka pintu belakang mobilnya sebelum gadis itu akhirnya membuka pintu yang ada di sebelah Jongdae.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Jongdae, sedikit tidak mengerti dengan apa yang sekarang Jiyeon berusaha lakukan untuk membantunya.

“Kau bisa duduk di belakang, aku akan mengemudi dan mengantarmu kembali ke kediamanmu tadi.” ucapan Jiyeon sekarang hampir membuat Jongdae tergelak.

Well, ia ingat jelas jika pada awalnya dia lah yang bertindak akan mengantarkan Jiyeon kembali ke rumahnya. Tapi apa yang direncanakan gadis itu sekarang justru berkebalikan dari rencana awal Jongdae tadi.

“Tidak perlu. Aku akan—”

“Ayo, cepat, Jongdae-ssi. Tidak ada siapapun di sini jadi kau tidak perlu khawatir jika seseorang akan curiga pada kita.” bukan. Jongdae bukannya merasa khawatir pada kemungkinan jika seseorang mungkin melihat apa yang mereka lakukan.

Hanya saja, tindakan Jiyeon sekarang sudah benar-benar jauh dari dugaannya.

“Kau bisa mengemudi?” tanya Jongdae akhirnya. Kini, alis Jiyeon menyatu, ditatapnya Jongdae seolah tidak percaya. “Apa aku terlihat seolah tidak bisa mengemudikan mobil?” ia balik bertanya.

Sebenarnya, Jongdae tidak ingin berhutang budi pada si gadis, terutama karena gadis itu sekarang telah melihat titik terlemahnya, tapi mau bagaimana lagi, Jongdae sendiri yang tadi memutuskan untuk tidak meninggalkan Earth. Jiyeon tidak salah dalam hal ini bukan?

Akhirnya, Jongdae menghembuskan nafas pasrah. Dengan sedikit kesulitan ia turun dari mobil, sementara Jiyeon berdiri rapat di sampingnya, mengawasi pemuda itu tanpa berkomentar apapun.

Setelah Jongdae duduk di kursi belakang mobil, Jiyeon menutup pintu kemudi, menyusul pemuda itu di belakang dan duduk di sebelahnya sementara tangannya dengan cepat meraih kotak berukuran sedang yang dilihatnya muncul dari bawah kursi.

“Bagaimana cara kerjanya?” tanya Jiyeon, tanpa dikomando, tangannya bergerak membuka kotak tersebut, sejenak si gadis tampak terpana melihat puluhan tombol ada di dalam kotak itu, dengan sebuah layar berukuran empat inch ada di sudut kotak.

“Aku bisa melakukannya sendiri, Kim Jiyeon.” ucap Jongdae, menggunakan tangan kirinya pemuda itu meraih kotak yang ada di pangkuan Jiyeon. Sementara Jiyeon sendiri enggan membantah, telah didengarnya bagaimana Jongdae berucap dengan nada dingin seperti sebelumnya, dan membantah pemuda itu sama saja dengan berusaha memancing perdebatan yang tidak Jiyeon inginkan.

Akhirnya Jiyeon memperhatikan apa yang Jongdae lakukan dalam diam. Bisa dilihatnya tombol apa saja yang ditekan pemuda itu, sebelum ia melilitkan sebuah kabel transparan ke pergelangan tangan kanannya, dan menekan sebuah tombol lagi yang membuat kabel transparan tersebut memancarkan cahaya keperakan lembut.

Lagi-lagi, Jongdae meraih satu kabel transparan. Tentu Jiyeon tahu jika kabel itu seharusnya dlilitkan ke pergelangan tangan kiri si pemuda, melihat bagaimana Jongdae sekarang sedikit kesulitan melakukannya, Jiyeon akhirnya berinisiatif memberikan bantuan, lagi.

“Biar aku pasangkan.” ucap Jiyeon, ragu-ragu tangannya meraih kabel yang ada di tangan Jongdae, melilitkannya dengan cara yang ia ingat sudah dilihatnya tadi saat Jongdae memasang kabel serupa di tangan kanannya.

“Tekan tombol berwarna sil—”

“Aku tahu. Aku ingat kau menekannya tadi.” ucap Jiyeon memotong perkataan Jongdae. Kini, kedua kabel di pergelangan tangan pemuda itu mengeluarkan cahaya keperakan yang membuat Jiyeon terpana.

Well, semua hal mengenai Mutant sebenarnya sangat menarik di mata Jiyeon, hanya saja ia tidak pernah punya kesempatan untuk melihat hal-hal menarik tersebut. Tidak semua Human menganggap Mutant sebagai makhluk serupa dengan mereka yang memiliki kelebihan.

“Apa kalian akan benar-benar tertidur jika sedang dicharge?” tanya Jiyeon kemudian. Jongdae hanya menjawab dengan anggukan samar. “Kita bisa menunggu di sini sampai proses charge-ku selesai.” sahut Jongdae.

“Tapi kupikir kau butuh istirahat.” kata-kata Jiyeon sekarang membuat Jongdae menatap gadis itu tidak mengerti. Ya, Jongdae sungguh tidak mengerti. Apa gadis di hadapannya ini memang benar-benar diciptakan dengan kebaikan hati hingga ia sama sekali tidak membedakan mana yang teman dan mana yang musuh?

Apa di mata Jiyeon semua orang sama? Yang membuatnya memperlakukan semua orang dengan cara yang sama tanpa peduli jika orang-orang tersebut adalah Mutant seperti Jongdae? Mengapa Jongdae terus berpikir jika kebaikan yang Jiyeon tunjukkan sekarang hanya bagian dari klise yang pada akhirnya akan menipu?

“Kau bisa tinggalkan aku di sini. Aku bisa menjaga diriku sendiri.” ucap Jongdae, secara tidak langsung mengusir gadis itu sekaligus menunggu reaksi si gadis, penasaran juga dia tentang bagaimana Jiyeon akan bersikap jika Jongdae mengusirnya seperti ini.

“Kau gila? Mana mungkin aku membiarkanmu sendirian?” tanpa sadar Jongdae mengalihkan pandangan, penilaiannya kini samar-samar berubah menjadi argumen absolut yang ingin dipercayainya.

Jika Jiyeon memang benar-benar tulus memperlakukannya seperti ini.

“Terima kasih.”

“Apa?” Jiyeon menatap tidak mengerti. Ingin ia pertanyakan kinerja pendengarannya sekarang, apa Jongdae benar-benar mengucapkan terima kasih padanya?

Sementara Jiyeon masih menatap dengan penuh tanda tanya, Jongdae malah membiarkan gadis itu larut dalam kebingungannya. Merasa tidak mendapat jawaban yang ia inginkan dari si pemuda, akhirnya Jiyeon terdiam.

Ingin, Jiyeon kembali mempertanyakan maksud dari ucapan terima kasih yang baru saja didengarnya lolos dari bibir Jongdae. Tapi ia enggan membuat kecanggungan tercipta, jadi Jiyeon memilih untuk mengalihkan pembicaraan mereka.

“Maaf, aku tidak seharusnya menahanmu di sini.” ucapnya.

“Apa maksudmu?” tanya Jongdae. Penasaran juga tentang pemikiran si gadis yang sedari tadi dicurigainya karena terus berbuat baik. Walaupun ia dulu juga seorang manusia, Jongdae yakin betul tidak ada manusia yang benar-benar sepenuhnya baik.

Jongdae percaya jika setiap orang punya sisi jahat yang mereka sembunyikan. Kecurigaan yang sama juga berlaku pada Jiyeon, bukan? Jongdae hanya sedang berusaha mencari celah untuk melihat sisi jahat itu.

“Aku tahu kau harusnya kembali sebelum senja, tapi aku malah meminta untuk mengganti desain undangan pernikahan kita. Aku minta maaf, aku tahu pernikahan kita hanya sebuah pernikahan palsu tapi…” ucapan Jiyeon kini terhenti, gadis itu menatap jemarinya dengan tidak nyaman.

Jongdae tentu tahu jika Jiyeon sedang berusaha mengutarakan hal yang membuatnya merasa tidak nyaman dan bersalah. Jiyeon mungkin merasa bersalah karena sudah menahan Jongdae di Earth saat ia tahu pemuda itu tidak seharusnya ada di sini saat petang datang.

Tapi Jongdae juga tahu, Jiyeon tidak meminta penggantian desain undangan hanya karena alasan sepele yang ia utarakan—yang Jiyeon katakan bahwa ia menyukai warna peach.

“Tapi apa?” akhirnya Jongdae bertanya.

Jiyeon, sejenak terdiam, atensinya beralih pada Jongdae saat didengarnya pemuda itu bertanya. Tatapannya bahkan sekarang sarat akan keraguan, seolah Jiyeon merasa enggan untuk mengutarakan apa yang ia pikirkan. Dan ya, Jongdae mengerti itu. Ia tahu Jiyeon merasa ragu terhadapnya.

Entah mengapa, ada sebersit perasaan asing yang muncul saat Jongdae tahu gadis itu meragukannya. Bukannya Jongdae merasa tidak nyaman karena Jiyeon-lah yang merasa ragu, tapi ia merasa tidak nyaman saat mengetahui seseorang tidak mempercayainya.

“Bagaimana pun, aku akan hidup denganmu selama tiga bulan, Kim Jiyeon. Apa kau akan membiarkanku tidak tahu apapun tentangmu? Bukankah Kyungsoo akan curiga jika hal itu terjadi?” mengatas namakan Kyungsoo, Jongdae secara tidak langsung mengutarakan apa yang sebenarnya ia inginkan.

Ya, Jongdae ingin Jiyeon percaya padanya.

“Aku tahu, Kyungsoo mungkin curiga pada semua hal. Tapi sebenarnya, semua orang mungkin berpikir seperti itu. Selama ini mereka menilaiku sebagai seseorang yang menyembunyikan masalah dengan berpura-pura bersikap baik.

“Seolah kehidupanku baik-baik saja, padahal mereka menilaiku sebagai seorang yang menyedihkan. Meski pernikahan ini hanya sebuah kepalsuan, tapi setidaknya jika aku terlihat bahagia, mereka tidak akan berpikir aku berpura-pura.

“Setidaknya, aku ingin pernikahan ini terlihat nyata.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

.

.

.

IRISH’s Fingernotes:

Ya Lord… sudah berapa bulan (EMPAT BULAN, RISH) aku mengabaikan anak-anakku, hiks. Sebagai seorang emak dari beberapa fanfiksi chapterred, aku sungguh merasa berdosa besar karena sudah melalaikan tugas sebagai Ibu yang seharusnya mengurus anak-anaknya dengan baik. Ini anak-anak aku udah pada lumutan, udah berjenggot, saking lamanya aku cuekin… /kemudian menangis di pojokan/.

Karena diriku sudah waras kembali (inget insiden di bulan Agustus?) jadi diriku sudah bertekad buat melaksanakan tugas wajib seorang ibu: merawat anak-anaknya. Dan ya, fanfiksi-fanfiksi chapterred dariku akan berturut-turut datang setiap weekend tiba ~ semoga aja enggak ada sesuatu yang terjadi lagi, LOL. Supaya engga semakin molor ini selesainya fanfiksi-fanfiksi chapterred.

Anyway, aku rasa sudah banyak yang melupakan cerita ini, WKWKWK. Salah ente sendiri, Rish. Ya sudah, diriku juga manusia yang punya kekurangan dan pernah khilaf, baru juga sekali dua kali.

18 thoughts on “TRUE LIES – Slice #4 — IRISH’s Story

  1. Aku sih ga lupa sama True Lies, efek Kei ada di sini bareng si buntet/ship garis kerasnya kumat lagi/. Dan… aku entah kapan /lupa/ baca ff kak rish yang oneshoot, tapi ini rasa ficlet loh kak. Doanya sih moga Kei x D.O ini langgeng ya walaupun ujungnya banyak yang milih Kei x Jimin juga /ini pasrah namanya/, terselubung sih maksudnya, moga kak rish membuat ff dengan cast mereka lagi setelah True Lies kelar*plak. Intinya, komenan ini curhatan seorang shipper doang dan kutunggu lanjutannya kak^^

    • 😄 buakakaka iyaaa alhamdulillah kalo masih ada yang inget sama cerita ini😄 padahal udah luaammmaaaaa banget aku engga ngepost cerita ini ya😄 semoga aja cepet kelar ini cerita😄 amin😄

  2. Ehe yeyyey…
    Ada sela waktu dikit, jadi baca epep mba.
    Ditunggu yang lainnya mba.
    OaO aku udah kangen banget loh😉. /maksa sedikit/

  3. DEMIIII APAAAAA FF YANG DITUNGGU-TUNGGU AKHIRNYA DIPUBLISH JUGAAAAA AHAHAHAHAHA SETELAH BERBULAN-BULAN LAMANYA AKHIRNYA FF INI MUNCUL LAGI KEPERMUKAAN(?)
    BTW CHAPTER INI FULL SAMA MOMENT JONGDAE-JIYEON, DAN AKU SUKAAAAA SYEKALIIIIIII~~ JIYEON KENAPA SEMAKIN KESINI SEMAKIN KIYUT SAJAAAAAAA PENGEN BAWA PULANG RASANYA /EH/
    ADUH MAS JONGDAE, APAKAH UDAH ADA SEDIKIT GETARAN-GETARAN KEPADA JIYEON? KENAPA AKU SUKA NGELIAT JONGDAE YANG SEOLAH MAU CUEK TAPI GAK SANGGUP KARNA NGELIAT KEBAIK HATIAN JIYEON AHAHAHAHAHAH MAKANYA MAS, JANGAN CUEK-CUEK AH, JIYEON KAN KIYOWO. SIAPAPUN PASTI GAK AKAN ADA YANG SANGGUP MENOLAK KEUNYUAN KIM JIYEON WKWKWKWKWKWK /GILA SENDIRI/
    ITU BTW JONGDAE GA GEMEZ APA YA SAMA KELAKUKAN JIYEON YANG ASELINYA SUPER CUTE. ENTAH HARUS BERAPA KALI AKU BILANG KALO JIYEON ITU BENERAN KIYOWO KAN??? WKWKWKWKWK KALO AKU JADI JONGDAE PASTI UDAH AKU PELUK TUH JIYEON KARENA DIA TERLALU UNYU UNTUK DIABAIKAN AHAHAHAHAHAHA
    IRISEEEEEE, KENAPA INI BEGITU PENDEK T_T AKU GAK PUAS BACANYA HAHAHAHAHAHA SEMOGA CHAPTER SELANJUTNYA DIPERCEPAT YA! AKU UDAH GA SABAR NGELIAT KELANJUTAN HUBUNGAN JONGDAE-JIYEON, DAN PENASARAN JUGA SAMA HUBUNGAN KYUNGSOO-JIYEON SELANJUTNYA. PENGEN LIAT MOMENT KYUNGSOO-JIYEON JUGA KKKKKKKKKK
    ADUH MAAPIN YA PAGI2 UDAH NGERUSUH DAN KEPSLOK GA WOLES PULA WKWKWKWKWKWK POKOKNYA KELANJUTANNYA JANGAN LAMA-LAMAAAAAA~~~

    • DEMI APA INI KEPSLOK SEMUA, AKU BACANYA PAS SUBUH-SUBUH JADI ILANG NGANTUK AKU… TAPI JAM SEGINI BARU SEMPET BALESNYA😄😄😄 WKWKWKWKWKWKWK
      IYA AKU NINGGAL FF INI EMPAT BULAN BEB, GAK KAYAK ENTE YANG IDENYA LANCAR JAYA CEM JALAN TOL DI H-1 LEBARAN ~ SEDIH. DAN YES, DI CHAPTER INI JONGDAE-JIYEON SEMUA😄😄 INSYA ALLAH NTAR KYUNGSOO AKU KASIH MOMEN SAMA JIYEON JUGA BIAR GREGET😄😄 WKWKWKWKWKK
      BTW, IYA YA JIYEON DAPET DAN CUCOK BANGET BEB BUAT JADI NONA BAIK HATI YANG TERANIAYA (MASIH AJA DEMEN MENGANIAYA CAST) WKWKWKWKWKWK ENTAHLAH SETELAH MEREKA MARRIED NANTI AKAN JADI SEPERTI APA PERASAAN KANGMAS JONGDAE KE MBAJIY ~
      YA AMPUN YA AMPUN BEB, IYA BANGET DI SINI JIYEONNYA PELUKABLE BANGET YA, NOMU KIYOWO GITU, AKU AJA GREGETAN SENDIRI BAYANGINNYA UWUWUWUW ~
      TUNGGU YA BEB, INI INSYA ALLAH NANTI BISA RAJIN UPDATE NYA WKWKWKWK

      • TAPI AKU JUGA PENGEN LIAT MOMEN JONGDAE-JIYEON LAGI DICHAPTER SELANJUTNYA, SEKALIAN SAMA MOMEN KYUNGSOO-JIYEON BIAR PAKET KOMPLIT DAN SPESIAL(?) YA LORD, KENAPA AKU JADI PENGEN LIAT JIYEON TERANIAYA DISINI? /DITENDANG KE RAWA-RAWA/ WKWKWKWKWK SELAIN KIYOWO TERNYATA DIA JUGA ANIAYABLE(?) HAHAHAHAHA YA AMPUN MOMEN JONGDAE-JIYEONNYA BIKIN GREGET YE. JANGAN SAMPE DIRI INI SHIPPERIN MEREKA NANTINYA😄

      • YA AMPUN KEPSLOK LAGI😄😄 WKWKWKWKWK MAU DUA-DUANYA LANGSUNG MASA ENTE BEB😄😄😄 WKWKWKWKWKW IYA INSYA ALLAH KALAU ADA MOMEN MEREKA DUA-DUANYA KESEMPIL DEH😄
        JIYEON GIYOWO TAPI BENER-BENER COCOK BUAT JADI PERAN TERANIAYA KAN YA😄😄 WKWKWKWKWKWK

      • SEMPILIN DUA-DUANYA AJA BEB BIAR MAKIN GREGET HAHAHAHAHAH BIAR CERITANYA KAYAK REBUTAN JIYEON GITU WKWKWKWK MIMPI APA JIYEON DIREBUTIN 2 COWOK CAKEP😄😄😄
        APA NANTI INI BAKALAN ADA CERITA CINTA SEGITIGA??? SEMOGA ADA😄😄
        IYAAAA DIA COCOK KOK JADI PERAN TERANIAYA. SECARA MUKANYA JUGA KAYAK YANG PASRAH-PASRAH AJA MAU DIAPAIN JUGA HAHAHAHAHA😄

  4. Hei irish, udah lama y.. dan aku juga udah lama nggak muncul.. setelah tau irish vakum kemarin, aku nggak cek lagi, jadi aku nggak pernah muncul lagi…dan ff yang aku tunggu akhirnya di update…Wah seneng kali…gumawo irish.. di tunggu next, tiap weekend.. jangan lama 2 lagi y irish.. di tunggu next part true lies y..

  5. Haiii eonniii sumvah sudah lama ya kayaknya sudah melewati 1 kali puasa 1 kali lebaran deh (?)
    Wkwk ini ff aku lupa sama alurnya :v tapi masih sedikit ingetlah„walaupun lupa lagi sama istilah istilah yg ada di ff ini wkwk

    Yaa lain kali jangan melalaikan anak anak mu lagi ya eon :v wkwk
    Yo wislah ditunggu cerita selanjutnya
    Hwaiting ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s