TRUE LIES – Slice #5 — IRISH’s Story

irish-true-lies-fixed

   TRUE LIES  

  EXO`s D.O & Chen with Lovelyz`s Kei 

   supported VIXX`s Ken & A-Pink`s Eunji  

   additional cast will be revealed as the story flew away  

  crime, dark, hurt-comfort, marriage-life, sci-fi, slight!thriller, slight!suspense story rated by PG-17 served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved


I lied when I said that I loved you.

Reading list:

〉〉 PrologueSlice #1: PlanSlice #2: AcceptanceSlice #3: TruthSlice #4: Truth (2) 〈〈

Slice #5: Hope

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author`s Eyes…

Keheningan menyelimuti. Baik Jiyeon maupun Jongdae, keduanya larut dalam benak masing-masing yang sama-sama tidak ingin diutarakan. Mereka sekarang tengah berada dalam perjalanan menuju kediaman Jongdae, dengan Jiyeon duduk di kursi kemudi, dan Jongdae di kursi belakang tampak memejamkan mata, ingin dikira tengah tertidur oleh si gadis meski sebenarnya Jiyeon tahu, pemuda itu masih terjaga.

Jam kecil di dasbor mobil telah menunjuk angka tujuh, di luar mobil, rintik hujan mulai berjatuhan, membuat Jiyeon segera menyalakan wiper mobil agar tetes likuid dari langit tersebut tidak mengganggu pandangannya.

“Di luar mulai hujan, Jongdae-ssi. Sebentar lagi kita akan sampai. Tapi, bagaimana kau akan turun dari mobil?” setelah sekian menit saling berdiam, akhirnya Jiyeon berhasil menemukan bahan pembicaraan.

Mendengar ucapan Jiyeon, Jongdae akhirnya membuka mata, menatap kaca mobil yang basah dengan raut tidak senang sementara helaan nafas panjang terdengar sebagai reaksi pertamanya.

“Hujan pasti akan turun dengan deras di malam hari.” ucapan Jongdae membuat Jiyeon melirik pemuda itu dari spion depan mobil. Bisa Jiyeon lihat bagaimana tidak nyamannya Jongdae sekarang karena keadaan yang tercipta.

“Apa di kediamanmu tidak ada garasi atau semacamnya?” tanya Jiyeon, mengingat-ingat bagaimana rumah mewah itu tadi belum sempat ia perhatikan tiap bagiannya. Lagipula, keadaan sekarang saja sudah cukup konyol bagi Jiyeon.

Bagaimana tidak, tadinya Jongdae lah yang sudah berniat mengantar gadis itu pulang. Tapi pada akhirnya Jiyeon yang mengemudikan mobil kembali ke rumah megah yang tadi mereka tinggalkan.

“Tidak ada.” sahutan Jongdae membuat tatapan Jiyeon membulat. Merasa heran juga karena di tempat semewah itu tidak ada garasi. Lalu bagaimana jika Jongdae terpaksa bermalam di Earth lagi? Apa ia akan membiarkan kendarannya di luar rumah begitu saja?

Well, memang Jongdae tidak perlu khawatir pada pencuri atau semacamnya, orang-orang yang berbuat jahat di Earth sudah sangat sedikit mengingat bagaimana pemerintah sudah menyamaratakan penghasilan penduduk sejak belasan tahun lalu sehingga sekarang tidak ada lagi si kaya dan si miskin. Yang ada hanya perbedaan kesuksesan dan gaya hidup saja.

Mereka yang dulu berada di bawah garis menengah, tidak bisa bekerja di tempat-tempat mewah dan mendapatkan penghasilan sampingan. Akses mereka untuk menggunakan fasilitas yang ada di kota juga bisa dibilang terbatas. Tapi tetap saja, mereka bisa hidup dengan layak.

Sementara si kaya tetap menguasai semuanya. Perdagangan, pemerintahan, perusahaan. Mereka mengendalikan semuanya, membuat mereka mampu memiliki deposit-deposit yang akan sangat berguna jika tiba-tiba saja keadaan ekonomi jungkir-balik. Mereka juga bisa bekerja di tempat yang layak dan menggunakan semua fasilitas di kota tanpa limit.

Jiyeon sendiri tidak bisa menggolongkan dirinya sebagai si kaya atau miskin. Ia tidak pernah begitu ingin menggunakan semua fasilitas yang ada, tapi bisa dibilang, Jiyeon bekerja di tempat yang layak dan mempunyai beberapa simpanan uang di depositnya.

“Bagaimana kau akan pulang?” pertanyaan Jongdae akhirnya membuyarkan lamunan Jiyeon. Sedari tadi, gadis itu sibuk membayangkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi jika hujan semalaman dan Jongdae tidak bisa keluar dari mobil.

“Aku akan pulang saat hujan reda.” jawab Jiyeon, secara tidak langsung mengungkapkan keinginannya untuk menemani pemuda Kim tersebut, bukan? Tentu saja Jongdae paham apa makna di balik ucapan si gadis. Hingga pemuda itu bisa menghembuskan nafas kesal seperti saat ini.

“Tidak perlu mengkhawatirkanku. Berhenti saja di halte terdekat dan turunlah.” ucap Jongdae sebagai wujud pengusiran secara langsung. “Lalu bagaimana kau akan pulang? Proses charge-mu bahkan belum selesai.” tukas Jiyeon, menolak argumen Jongdae yang menginginkannya untuk pergi.

“Jika hujan tidak berhenti, kau akan menghabiskan malam ini bersamaku?” sebuah tawa sarkatis Jongdae selipkan di antara kalimatnya, hal yang membuat Jiyeon akhirnya terdiam.

Dipandanginya lampu penunjuk jalan yang sekarang berwarna merah sebelum atensinya beralih pada halte bus tidak jauh di depan pertigaan tempatnya sekarang berhenti.

“Apa kau akan baik-baik saja?” tanya Jiyeon akhirnya.

Mendengar keraguan di dalam suara si gadis, Jongdae akhirnya bergerak. Dilepaskannya beberapa kabel yang sedari tadi terhubung ke tubuhnya, sementara Jiyeon memperhatikan tindakan si pemuda dalam diam.

“Turunlah di halte yang ada di depan sana.” ucap Jongdae, mengedikkan dagunya ke arah halte yang tadi juga dipandangi Jiyeon. Sekarang, Jiyeon tidak punya pilihan lain selain turun di halte tersebut, bukan?

“Baiklah.” ucap Jiyeon akhirnya. Tanpa berkomentar lagi, Jiyeon melajukan mobil yang dikendarainya perlahan, sembari menyalakan lampu sein ia merapat ke arah kiri, mendekati halte bus yang ada di seberang jalan.

Melihat keberadaan beberapa orang di halte, Jiyeon sengaja tidak menghentikan mobilnya terlalu dekat dengan halte. Khawatir jika seseorang mungkin memperhatikan mereka, Jiyeon dengan cepat melepaskan seatbelt yang ia kenakan dan menoleh ke belakang.

“Kau bisa pindah ke depan, kan? Aku akan turun di sini saja.” ucap Jiyeon disahuti Jongdae dengan sebuah anggukan singkat. “Aku akan menemuimu besok saat kau selesai bekerja.” sahut Jongdae.

Jiyeon tersenyum kecil dan mengangguk. “Terima kasih.” ucapnya sebelum ia menggeser duduknya ke kursi penumpang yang ada di samping kemudi. Jongdae awalnya menatap tidak mengerti, tapi saat Jiyeon turun dari mobil, ia tahu gadis itu sengaja melakukannya agar keadaan mereka terlihat seolah-olah ada seseorang di balik kursi kemudi, dan Jiyeon adalah seorang penumpang.

Tak menunggu waktu lama, Jongdae segera bergerak melalui celah kecil di antara dua buah kursi tersebut dan duduk di balik kemudi. Sejenak pemuda itu menyernyit kesakitan, tubuhnya masih sebelumnya pulih karena proses charge-nya memang belum selesai.

Tapi ia tidak ingin gadis Kim itu terus berada di dekatnya. Ia tidak ingin gadis itu melihat sisi lemahnya yang selama ini telah berhasil ia sembunyikan dengan baik. Bahkan Sehun sekalipun, tak pernah benar-benar melihat bagaimana keadaan Jongdae saat dicharge tapi Jiyeon justru menemaninya.

Diam-diam, Jongdae memperhatikan bagaimana Jiyeon duduk di salah satu kursi yang berjajar di halte, mengeratkan mantelnya agar dingin tidak terasa begitu menusuk sementara Jongdae masih bergeming.

Baru saja, Jongdae menggerakkan tangan untuk meraih kemudi dan meninggalkan Jiyeon di sana, netranya langsung menangkap kedatangan dua pria yang kemudian berdiri di sisi halte. Sesekali keduanya mencuri pandang ke arah Jiyeon yang bahkan tidak menyadari kehadiran dua orang asing itu.

Decakan pelan akhirnya lolos dari bibir Jongdae, meski ia tidak terusik pada kriminalitas yang seringkali terjadi di Earth, tapi kali ini entah mengapa ia merasa terusik.

“Dia bisa berteriak meminta bantuan jika sesuatu yang buruk terjadi. Ya, benar. Aku tak perlu mengkhawatirkannya.” Jongdae berusaha menenangkan dirinya sendiri, tapi sekon kemudian ia dapati dirinya sudah menginjak gas dan mendekat ke halte.

Pemuda itu menekan klakson dua kali sebelum ia membuka kaca mobil dan menatap ke arah Jiyeon yang sekarang memandangnya tidak mengerti.

“Kenapa kau—”

“—Masuklah, aku akan mengantarmu pulang.” Jongdae memotong konversasi mereka. Anggukan pelan akhirnya Jiyeon berikan sebagai jawaban, meski ia sempat menyernyit bingung selama beberapa saat.

Ekspresi serius Jongdae saat memerintahnya seolah membuat perkataan Jongdae menjadi sebuah perintah mutlak yang tidak bisa Jiyeon tolak. Tanpa memberi bantahan lain, Jiyeon akhirnya melangkah masuk ke dalam mobil Jongdae, memasang seatbelt sebelum akhirnya ia menatap Jongdae tidak mengerti.

“Kenapa? Bukankah kau katakan akan pulang sendiri?” tanyanya.

Tidak lantas menjawab, Jongdae justru masih memperhatikan gerak-gerik dua orang pria di luar sana. Ya, melihat bagaimana ekspresi kecewa mereka lantaran kepergian Jiyeon, Jongdae tahu dugaannya tadi pasti benar, mereka bukan orang baik.

“Pernikahan kita tidak akan lama lagi berlangsung, bagaimana jika karena kehujanan malam ini kau beralasan sakit untuk menolaknya?” Jongdae justru balik bertanya. Jangan minta Jiyeon menggambarkan ekspresinya sekarang, gadis itu terlampau terkejut karena perkataan Jongdae.

Mengapa sekarang di telinga Jiyeon, Jongdae terdengar seolah mengkhawatirkannya?

“Apa maksudmu? Aku tidak akan memakai alasan sekonyol itu.” pungkas Jiyeon, sadar juga jika Jongdae baru saja mengangkat alasan pembatalan pernikahan paling konyol yang pernah Jiyeon dengar.

“Siapa tahu? Bukankah manusia sering melakukan hal-hal di luar akal sehat?” Jongdae menjawab sambil melajukan kemudi. Perlahan mobil gelap tersebut membelah jalanan sepi, sementara Jiyeon sendiri mati kutu, tidak tahu harus menjawab apa pada perkataan Jongdae barusan.

Setelah menghabiskan waktu selama beberapa menit dalam kediaman, akhirnya Jiyeon jadi orang pertama yang memecah keheningan. Tentu saja, dia bukan orang yang betah berdiam diri seperti saat ini.

“Apa kau akan baik-baik saja? Kudengar, ada pendataan malam yang dilakukan di tempat tinggalmu—untuk memastikan kalau kalian tidak akan ada di Earth.” ucap Jiyeon memulai konversasi.

Jongdae, melirik jam di dasbor mobil sekilas sebelum akhirnya menjawab.

“Aku punya pekerjaan yang sama dengan Do Kyungsoo, kami sama-sama scientist. Dan kau pasti tahu kami sama-sama lebih sering menghabiskan waktu di laboratorium daripada di rumah, bukan?” Jongdae menjelaskan.

“Ah, benar. Kyungsoo juga sering bermalam di laboratorium. Kalau begitu, jika kau tidak ada di pendataan malam mungkin mereka pikir kau ada di laboratorium, begitu?” tanya Jiyeon memastikan.

“Ya.”

Lagi-lagi, Jiyeon terdiam kala mendapat jawaban singkat itu. Tak lantas menyerah, Jiyeon kembali menemukan topik yang sekiranya bisa menciptakan konversasi cukup panjang antara dirinya dan Jongdae.

“Ah, ya, Jongdae-ssi. Saat di halte tadi aku sempat berpikir. Selain membicarakan tentang bagaimana pernikahan kita akan berlangsung, apa kau tidak keberatan jika aku menentukan tanggalnya?” tepat setelah Jiyeon menyelesaikan pertanyaannya, mobil Jongdae terhenti—hal yang sontak membuat Jiyeon terkejut setengah mati.

“Kau membicarakannya seolah kita akan benar-benar menikah dalam arti sesungguhnya, konyol sekali.” komentar Jongdae mendengar penuturan si gadis.

Jiyeon kini bungkam, dipandanginya lampu merah yang menjadi alasan mobil Jongdae terhenti sementara ia bahkan tidak sanggup membalas tatapan Jongdae.

“Natal? Apa kau ingin kita menggelar pernikahan hari itu? Lalu kau juga berharap jika aku bisa menyediakanmu sebuah pesta pernikahan bernuansa natal yang sangat manusia sukai? Jangan bermimpi.

“Pernikahan ini hanya sebuah kontrak, yang jika lebih cepat kita jalani, akan lebih cepat juga berakhirnya. Bukankah kau ingin menyelamatkan sahabatmu itu? Atau… kau menganggapku remeh karena aku tidak melakukan hal-hal ekstrim untuk mencelakai manusia demi mendapatkan apa yang aku inginkan?” Jongdae kembali mencecar, sementara Jiyeon tenggelam dalam diam.

Kali ini, Jiyeon akui dia sudah salah memilih topik pembicaraan. Meski dalam pandangannya, pernikahan ini adalah sesuatu yang hanya akan terjadi satu kali seumur hidup dan harusnya dipersiapkan dengan matang, sepertinya Jiyeon lupa dengan siapa dia sekarang berhadapan.

“Kenapa kau diam? Dugaanku benar, bukan? Kau pasti menganggap pernikahan ini sebagai sebuah kebahagiaan yang bisa kau pamerkan pada manusia lainnya. Tanpa kau tahu jika aku menganggapnya sebagai sebuah kegiatan yang konyol. Aku—”

“—Maaf.” Jiyeon lantas memotong, ia tarik dan hembuskan nafas panjang sebelum melanjutkan. “Aku tidak bermaksud membuat semuanya terlihat indah, atau nyata di mata orang lain. Aku hanya tidak ingin terlihat menyedihkan, itu saja. Kehidupanku selama ini juga tidak pernah begitu indah, apa aku salah karena mengharapkan setidaknya satu kebahagiaan meski berbalut kepalsuan?”

Jiyeon memberanikan diri menatap pemuda yang sekarang menatapnya dengan mata memicing. Lampu jalanan sudah berubah hijau tapi mobil mereka masih bergeming. Entah beruntung, entah tidak, tapi tidak adanya kendaraan lain di sekitar mereka justru membuat Jiyeon merasa semakin tersudut.

“Aku mungkin egois karena ingin memamerkan kebahagiaan palsu dengan bantuanmu. Kau bahkan menganggapnya menjijikkan. Jadi aku minta maaf. Kalau begitu semuanya terserah padamu, aku tidak akan berpendapat konyol seperti tadi lagi. Maaf.” Jiyeon akhirnya menyerah, tahu jika dalam perdebatan seperti ini ia tidak akan punya kesempatan untuk menang.

“Baguslah kalau begitu. Kau hampir saja membuatku meninggalkanmu di jalanan ini.” komentar Jongdae membuat Jiyeon akhirnya meradang. Agaknya, ia sudah cukup merasa dongkol lantaran harapannya yang dianggap konyol oleh pemuda itu, tapi sekarang, harga dirinya seolah tercabik.

Ia tadi diusir oleh si pemuda untuk kemudian duduk seperti orang bodoh di halte, sendirian. Kemudian tidak sampai dua menit kemudian si pemuda menghampiri Jiyeon dengan alasan ingin mengantarnya pulang. Dan kali ini pemuda itu mengutarakan keinginannya untuk menendang Jiyeon keluar dari mobil beberapa sekon yang lalu.

Akhirnya, Jiyeon menghembuskan nafas panjang. Jemari gadis itu bergerak melepaskan seatbelt—hal yang membuat Jongdae menatapnya terkejut.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Jongdae melihat tingkah si gadis.

“Aku akan keluar tanpa harus kau usir. Meski aku bodoh dan sering berkeinginan konyol, tapi aku cukup tahu diri. Terima kasih atas tumpangannya, Jongdae-ssi.” ucap Jiyeon sebelum ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar, meski tidak membanting pintu mobil saat menutupnya, tapi tindakan gadis itu justru membuat Jongdae berang.

Mengabaikan bagaimana kakunya ekspresi Jongdae sekarang, Jiyeon justru berjalan di bawah guyuran hujan dengan santai. Akhirnya, Jongdae menyarangkan kemarahannya dengan menghempaskan jam kecil yang ada di mobil.

“Gadis itu benar-benar mempermainkan emosiku, ternyata.”

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Hallo ~ lama enggak jumpa. Huhu. Gak kerasa Nopember berlalu sekedip mata dan Desember udah menyambut. Gimana rencana liburan tahun baru kalian? Aku mah tahun baru nanti masih kencan sama Violet berduaan, LOL. Berita tersedih tahun ini, natal sama tahun barunya hari minggu, kan sedih ya, populasi tanggal merah di kalender Desember jadi berkurang, hiks. Padahal Jiyeon pengen gitu weddingnya pas natal /kemudian ditendang Jongdae/

BTW ya, Jongdae makin kesini kenapa makin cakep? :”) apa dia sering ke Mak Erot buat ngegantengin wajah? Hm, mungkin iya, ya. Aku mah enggak mau suudzon sama Jongdae. Kusyukuri aja kegantengan dia yang mulai enggak bisa dikondisiin, kuterima dengan lapang dada.

Sekian salam dariku, muah muah ~

TEMUKAN JODOH KALIAN (?) DI SINI → HELP! I NEED YOUR VOTE [4]

| MY SHOW |

hold me on: Instagram | Wattpad | WordPress

29 tanggapan untuk “TRUE LIES – Slice #5 — IRISH’s Story”

  1. Allo Irish 🙂
    Sukaaaaaaaaa beettt sama yg satu ini, lanjut terus yaa, apalagi ada Aa Jongdae yg makin wew aja :v
    Semangat Irish, like you :*

  2. Sekian lama /engga deng/ nungguin ini akhirnya muncul juga. Di chapter ini isinya berantem ya/? ga bosen gitu Jongdae bikin ribut anak orang mana imut gitu lagi yang diajak ribut, punya Kyungsoo lagi/heh!

    Aku menunggu momen Kei x D.O di ff ini. Semoga fast update ya, kak^^

  3. Eaa– akhirnya ini update juga.
    Aku kira cuma aku yg ngerasa sekarang jongdae makin menggoda, ternyata mba juga.
    Ditunggu up next nya~~

  4. Akhir’a update juga true lies’a.. ih si jongdae mah bikin geregetan si jiyeon’a polos bgt lgi.. mas jongdae jangan marah” mulu pan kasian si jiyeon.. ditunggu next chapter ya ka rish ^ ^

  5. YASALAAAMMMMMM FF YANG DITUNGGU-TUNGGU AKHIRNYAAAAA XD DEMI APA ANE NGAKAK PAS SADAR KENYATAAN JIYEON NYETIR WKWKWKWKWKWK YAWLAH BAYANGIN JIYEON NYETIR KOK GA ADA COCOK-COCOKNYA SIHHH AHAHAHAHA XD JIYEON DISINI KENAPA BEGITU LEMAH LEMBUT? DAN LAGI JONGDAE YAWLAH KATA-KATANYA SELALU SUKSES BIKIN JIYEON TERDIAM XD XD GA ADA LEMBUT-LEMBUTNYA IH SAMA JIYEON WKWKWKWKWK KASIAN ITU SI JIYEON YANG UDAH MAU BAWEL JADI MIKIR-MIKIR LAGI XD BTW DISINI ITU KELIATAN SEOLAH JONGDAE MENGKHAWATIRKAN JIYEON, TAPI DUH LAGI-LAGI JONGDAE CUEK-CUEK BEBEK DAN SELALU GA NGAKU KALO DIA KHAWATIR SAMA JIYEON WKWKWKWK PADAHAL ANE TADI MIKIR ITU DUA ORANG YANG DEKETIN JIYEON DI HALTE MAU NYELAKAIN JIYEON ATAU BAHKAN NYULIK JIYEON. KAN KALO ITU TERJADI MAU LIAT JONGDAE BERAKSI BUAT NYELAMATIN JIYEON AHAHAHAHAHAHA XD XD DUH JIYEON TERNISTAKAN SEKALI DISINI AKAKAKAKAKAK ITU KASIAN ANAK ORANG PULANG SENDIRI MALAH UJAN-UJANAN. AWAS NTAR DICULIK DIKIRA ANAK ESDE KAN PULANG SENDIRIAN JALAN KAKI, UDAH MALAM PULA. ITU JONGDAE GA BAKALAN DIEM DOANG KAN NGELIAT JIYEON PULANG SENDIRIAN? APA DIA MALAH GA PEDULI SAMA SEKALI LIAT JIYEON WKWKWKWKWK DAN SERASANYA JONGDAE ITU TEMPRAMENTAL BANGET YA WKWKWKWKWK GAPAPAH COCOK KOK~ ORANG GANTENG MAH BEBAS XD XD ITU AKU DOAIN AJA NTAR JIYEON SAKIT TERUS YANG NGERAWAT KYUNGSOO, TERUS JONGDAE CEMBURU /MUSTAHIL/

    YAWLAH KEPSLOK TIDAK TERKONDISIKAN BUAKAKAKAKAKAK XD

    1. YASALAM. INI KEPSLOK BENERAN MASYA ALLAH. UNTUNG AE ANE MODAL NYOLOKIN WIFI RUMAH SAKIT COBA AJA KALO ENGGA….MUNGKIN ANE SUDAH MENYERAH.
      Eh beb itu serius, masa engga cucok? XD cucokin aja napa beb XD wkwkwkwkwkwkwkwkwk dia kan emang lemah lembut, lemah beneran malahan XD wkwkwkwkwk ini lama-lama Jongdae kayak bipolar, kadang baik kadang jahat, maunya apa. Demen juga engga, tapi ga ngebolehin Jiyeon bahagia sama yang lain XD wkwkwkwkwk
      EH CIYAL BEB ANE NGAKAK BERAT KETIKA BACA BAGIAN JIYEON JADI TERTUDUH ANAK ESDE KAN SO LAWAK YA…. BAYANGINNYA AJA UDAH BIKIN NGAKAK XD XD XD
      OH ITU MANTEP JIWA YA KALO SEMISAL JIYEON SAKIT BEB XD ENTE MENGINSPIRASI XD

    2. FIX MAH ANE MULAI SEKARANG KALO KOMEN DI FF ENTE PAKE KEPSLOK SEMUA BIAR JADI PUSAT PERHATIAN(?) WKWKWKWKWKWK XD XD PLIS JIYEON ITU CUCOKNYA NGAYUH SEPEDA XD XD INI JONGDAE BELOM KENA AJA PESONA JIYEON……ATAU UDAH HAMPIR-HAMPIR KENA LAH TAPI SIKAPNYA BIKIN BINGUNG DAN JIYEON UDAH KAYA RAISA JADI SERBA SALAH /IYA, REN/ LAMA-LAMA KAN JADI GEMEZ-GEMEZ GIMANA GITU LIAT JONGDAE YANG TARIK ULUR SENDIRI AKAKAKAKAKAK XD IYAAAA BEB BIKIN JIYEON SAKIT PLIS BIAR DIA SESEKALI BISA NGERASAIN DIMANJA-MANJA WKWKWKWKWKWK DAN ANE BUTUH MOMEN KYUNGSOO-JIYEON DICHAPTER DEPAN BEB!

  6. Wah true lies di.update.. tapi kok pendek kali rasanya y irish? Update nya juga lama.. Udah nggak sabar aku nunggu nya.. cepat update y rish.. aku tunggu next chapter.. jebal..

    1. Walah irish manjangin nya cuma sebaris.. Sama dengan enggak aja.. Itu iseng atau usil? Lama kah update nya lagi? Di antara ff mu yang banyak true lies lah yang sering teraniaya.. Terabaikan.. 😉😉😭😭
      Di tunggu next nya.. 😘😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s