[Oneshot] IL Nascosto – HyeKim

ilnacosto

𝓘𝓛 Nascosto

Lu Han x OC`s Kim Hyerim as the main cast

With Oh Sehun

Story with Utopia, Sci-fi, Hurt/Comfort rated by Teenagers  type in  Oneshot

Poster By NJXAEM @ Art World

´Pada tahun 2057, di mana dunia baru telah diciptakan. Tidak ada yang namanya tindak kejahatan bahkan seluruh orang di Bumi ini berdarah Korea Selatan. Aneh? Tentu. Bagaimana bisa manusia di Bumi ini hanyalah orang Korea Selatan? Bahkan para manusia tidak mengetahui dan mengingat kehidupan sebelum tahun 2030—tahun awal mulanya dunia baru terjadi.  Hyerim penasaran akan hal itu, terutama akan ingatannya yang hilang sebelum terbangun di dunia yang baru. Sampai dirinya tak sengaja bertemu Luhan, sang traveler dari masa lalu`

Disclaimer :  This is a work of fiction. Any similarity of plot, character, location are just accidentally. This contain is not meaning for aggravate one of character/organization. All cast belongs to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. Plagiarism, copy-paste without permission, and be a silent readers  are prohibited. Leave this story if you don’t like it. 


“Apa kau yakin ingin mengetahui hal tersembunyi dari masa lalu?”


© 2017 Storyline by HyeKim

║█║♫║█║ ║█║ ║█║ ║█║

Rangkai akan pendeskripsian 2057, tersuguhkan nyata kala ini. Seoul merupakan ibu kota seluruh penjuru Bumi. Keilmiahan merajalela di sana-sini, pun emosi manusia bisa dikendalikan oleh alat bernamakan stable care.

Tidak ada kecacatan pada masa 2057. Kejahatan tak merajalela, well, malahan kejahatan tidak ada sama sekali di dunia yang baru ini. Komitmen cinta hanya berlabuh pada satu hati, tak ada pula kiat kata bernamakan perselingkuhan, pengkhianatan, dan hal yang kian menyesakkan dada. Para manusia pun disetting untuk mati di umur sembilan puluh tahun—ditandai dengan chip penyangga kehidupan yang kian redup tahun demi tahun dan saat berusia sembilan puluh tahun akan mati total, pun tatkala manusia berusia tiga puluh, sistem awet mudah akan diaktifkan otomatis. Maka tak heran bila manusia zaman kini awet muda tanpa penuaan.

Akan tetapi, sebuah tanya timbul di tengah dunia baru yang tercipta. Tak ada eksitensi manusia berdarah selain Korea Selatan. Dari ujung hingga ujung, manusia berdarah Korea Selatan lah yang didapati eksistensinya di dunia ini. Labirin memori di otak pun buntu, tak ada picisan memori akan kehidupan sebelum 2030—awal mula dunia baru terjadi. Bahkan, lembaran-lembaran bertitel sejarah lenyap entah ke mana.

Yang orang-orang ketahui, di masa 2020, Korea Selatan merupakan negeri termakmur dengan kekayaan alam yang kian melimpah. Berbondong-bondong pula orang-orang dari seluruh penjuru Bumi, mendatangi negara Korea bagian Selatan tersebut. Eksistensi orang-orang asing memadat. Desus yang beredar, para orang-orang asing tersebut saling mengklaim Korea Selatan sebagai hak milik hingga terpecah perang antar oknum satu dengan oknum lainnya.

Singkat cerita, Korea Selatan merupakan saksi bisu perang antar negara tercuat hingga eksistensi orang berdarah selain Korea Selatan lenyap bak tertelan bumi.

Ya, mungkin saja itu sejarah awal mula dunia baru tersebut dimulai. Tetapi realita hal tersebut tak pernah dikonfrimasi.

║█║♫║█║𝓘𝓛 Nascosto ║█║ ║█║

“Aku penasaran.” Aksara dari bibir ranum seorang gadis mengudara. Merenggut atensi pria yang sedang duduk nyaman di kursi pegas dengan koran digital menemani, si jaka menoleh pada dara yang bervokal tadi.

Figur dara yang bergumam barusan, sedang terduduk di sofa yang berposisi di ujung ruang. Bibir ranumnya mengerucut dengan jari mengetuk dagu. Alis lelaki yang mengalihkan fokus ke arahnya, tampak berjungkit dengan bingkai bertanya di paras.

“Kau penasaran akan hal apa lagi, Kim Hyerim?” Cetus tanya dikumandangkan diiringi koran digital—berbentuk kotak seperti tablet transparan, dimatikan sang jaka dan lantas ia taruh di meja kerjanya.

Kepala Hyerim membanting setir ke sosok Oh Sehun—jaka yang tengah menaruh fokus padanya dengan bingkai tanya di paras. Lekas bahunya terangkat; mengedik, dengan wajah acuh tak acuhnya. Diiringi kepala sang dara nan ditelengkan ke samping.

“Entahlah, masih perkara yang sama. Tentang adanya dunia yang baru, juga masalah ingatanku yang hilang.”

Decakan Sehun spontan terlaksana, disertai jua gelengan kepalanya. “Ckckckck. Kau masih penasaran akan hal itu, Hyer?”

Tampak obsidian sang dara menorehkan lirikan sekilas teruntuk si jaka Oh. Memang, rasa penasaran dalam diri Hyerim makin hari kian membelenggunginya. Hasrat untuk menemukan jawaban terus pula timbul. Setidaknya, dalam dara Kim ini tersarangkan sebuah rasa aneh.

Bagaimana tidak aneh bila eksitensi manusia di muka bumi masa kini hanyalah orang-orang dengan aliran darah Korea Selatan. Bahkan darah dari Korea bagian Utara pun tak ada, musnah entah berantah. Sampai-sampai  didirikan sebuah museum nan menyajikan manekin-manekin manusia berdarah barat dan sebagainya. Konyol? Aksara tentulah jawabannya.

“Kim Hyerim.” Setelah hening mengalir beberapa saat, bibir Sehun bersuara. Lantas sang gadis menoleh padanya, kembali dari terawangannya akan arah lain. “Kau seharusnya tak usah memikirkan sejarah yang telah hilang bak tertelan bumi. Tidak peduli akan terciptanya dunia baru yang kau pijaki masa kini. Lihat, cinta di sini benar-benar melambangkan kesejatian. Sekali berlabuh, maka kita tak akan berpaling. Bila mempunyai hasrat ingin selingkuh, stable care akan mengendalikan emosi kita.”

Definisi cinta yang diutaran Sehun pada masa ini memang begitu. Stable care yang merupakan chip transparan yang ternyangga di leher para manusia zaman sekarang, memang banyak memberikan bala tolongan akan emosi serta tindakan buruk yang ingin terlaksana oleh sang user—sebutan para manusia yang menggunakan stable care.

“Omong-omong masalah cinta.” Sajak kata Hyerim mengudara lagi, dwimaniknya menghunus lurus-lurus manik Sehun. “Aku tidak pernah bisa merasakannya. Well, disaat diriku ingin melabuhkan hati kepada satu orang, hatiku menolak, ada rasa sakit di sana yang melarangku.” Binar mata Hyerim kosong sekon ini tatkala tutur aksaranya finish.

Sehun nan menyarangkan perhatian padanya, menatap Hyerim dengan lekat. “Ya, walau tak ingin mengatakan ini karena takut kau makin menjadi. Tapi sepertinya, ingatanmu sebelum tahun 2030 yang terhapus lah yang menjadi jawabannya.”

Cangkang mata Hyerim melebar mendengarnya serta jatuh pada sosok Sehun yang mengedikkan bahu dengan mimik tak acuh.  

Kembalilah Sehun menyambungkan lafalannya, “Seperti saat terbangun di laboratorium nasional, kita tak mengingat apapun. Tapi saat para ilmuan generasi pertama menyebutkan nama, kita semua langsung menyahut, seakan sudah tahu itulah nama kita. Dan saat bertemu dengan beberapa orang, kita langsung mengenali bahwa mereka adalah ibu, ayah, dan orang yang kita kenal dahulu. Naluri dalam diri kita seakan mengenalinya.”

Kian termenunglah Hyerim lantaran lontaran aksara Sehun mengenai awal mula keduanya terbangun. Ya, benar, tatkala manik Hyerim merasakan rangsangan serta terekspos. Dirinya tak mengingat barang sedikitpun memori masa lalunya. Namun, saat namanya terkumandang, dirinya langsung mengingat bahwa namanya adalah Hyerim. Dan saat dirinya bertemu dengan dua sosok paruh baya, otak dara Kim tersebut lantas mengatakan bahwa dua sosok paruh baya beda gender tersebut ialah orang tuanya. Seakan tubuh para manusia telah dimodif tetapi masih menyisihkan rasa-rasa lampau nan tersisa.

Seketika, kepalanya Hyerim miringkan dengan mata menerawang juga berlafal ria kembali, “Lalu bagaimana denganmu dan aku?” Obsidian Hyerim beralih menilik Sehun yang terlihat menaikkan kedua alis dengan paras meminta penjabaran lebih rinci.

“Ingat bukan, saat kita bertemu sepuluh tahun lalu? Aku spontan mengajakmu berkenalan juga ada rasa seakan …” pandang Hyerim melayang dengan otak berpikir sejenak, “… seakan kau dan aku memiliki ikatan. Padahal saat dunia baru dimulai, kau masih balita berusia satu tahun. Mana mungkin aku mengenalmu dulu, ‘kan?” jabar Hyerim seraya meluruskan binar mata pada Sehun.

Sebab akan chip awet muda nan diaktifkan dalam runggu Hyerim. Sehun dengan dirinya seakan sebaya. Padahal realita mengatakan, keduanya berumur sangat jauh. Tatkala dunia baru dimulai di tahun 2030, Hyerim telah menapaki usia dua puluh lima. Usia sang dara sekon ini ialah lima puluh tujuh—sisa hidupnya tinggal tiga puluh tiga tahun lagi sebelum chip dalam rakitan runggunya mati total lantas menghantarkannya pada pintu kematian. Di lain sisi, Oh Sehun baru merayapi usia dua puluh tujuh. Chip awet mudanya akan diaktifkan otomatis tatkala tiga tahun terlewati.

Angkatan acuh tak acuhnya terlaksana kembali di bahu Sehun, pun mimiknya demikian. “Entahlah. Mungkin ada sesuatu yang tersembunyi di antara kita juga.” Kelereng matanya tertoreh bingung serta mendalam pada Hyerim.

Setelah hening menyelimuti beberapa waktu. Tubuh dara bernama Kim Hyerim pun berdiri, dirinya membelokkan kepala dengan tatapan melayang pada Sehun. “Maka dari itu aku ingin mencari hal tersembunyi itu.”

Lantas konversasi sore itu ditutup sepihak diiringi jua oleh tubuh membalik Hyerim nan mengayunkan tungkai meninggalkan ruangan Sehun.

║█║♫║█║ ║█║ ║█║ ║█║

Jejeran rak buku dapat ditangkap sebagai deskripsi perpustakaan, tempat bernaungnya Kim Hyerim kala ini. Sang dara menengadahkan kepala, menelaah rak bagian atas dan memfinali telaahannya tatkala maniknya mendapati buku yang ia cari. Tangan si marga Kim terjulur, kakinya turut menjinjit akan jarak jangkau nan terlalu tinggi untuk tinggi badannya.

Raihan lengan Hyerim tak kunjung pula mencapai tempat buku yang ingin ia baca. Nyaris dirinya melolongkan umpatan dengan raut memberengut. Akan tetapi, seketika, tubuh kekar mendempet di belakangnya. Entah bagaimana, jantung Hyerim tiba-tiba berdisko ria dengan keterpakuan menerjang. Sosok di belakangnya ini juga menjulurkan lengan mengambil buku dari rak atas dan berposisi tepat di belakang Hyerim, sejengkal lagi saja, tubuh keduanya saling memberi ransangan bersentuhan.

Aroma ini—yang berasal dari sosok jaka di belakangnya. Entah mengapa, kefamilierannya sangat jelas dalam lingkup otak Kim Hyerim. Semilir aroma yang membuat candu membelenggungi Hyerim. Serta sesak di dadanya mengudara tanpa sebab.

“Nona.” Penggal kata lelaki di belakangnya menyentak Hyerim kembali dari pikiran bercabangnya barusan. Obsidiannya spontan mengedip dan kepalanya menoleh pada sang jaka.

Sialan. Jantungnya sudah berguling-guling tak karuan. Rindu ikut menyusup di hati Hyerim, likuid hangat seakan ingin menetes. Awal mula sebab hal yang menerjangnya ini pun tak diketahui Hyerim sama sekali. Lelaki tampan ini seakan terangkum dalam otak bahkan hatinya. Padahal Hyerim akurat seribu persen belum pernah bersitatap dengan lelaki di depannya ini.

Tak ingin menyombong, sebenarnya. Namun lantaran paras jelitanya, Hyerim merupakan incaran para lelaki yang belum memiliki pasangan. Angka lelaki yang ia tolak pun terus-menerus menumpuk—dan Hyerim ingat, bahwa pria di depannya ini tak tercantumkan dalam lelaki yang tak dapat bersinggah di hatinya. Untung saja, di dunia yang baru ini, bila ada cinta satu sisi—seperti lelaki yang ditolak Hyerim—, berpindah hati atau definisi lainnya move on, tetap berlaku. Sistem setia mencintai satu orang hanya terlaksana jikalau dua insan saling mencintai.

Lamunan Hyerim buyar saat lelaki di depannya menyodorkan buku dalam kukungan tangannya, “Kau ingin mengambil ini, ‘kan?” ucap sang jaka dengan seutas senyum tipis yang brengseknya membuat kupu-kupu dalam perut Hyerim mabuk, otaknya juga tak bisa berpikir jernih.

Dwimanik Hyerim mengerjap-ngerjap. Wajah bodohnya yang sedari tadi terpasang, langsung ia hapus. “Aaa … iya, aku ingin mengambil ini barusan.” Lafal Hyerim, kikuk.

Tangan miliknya mengambil buku yang disodorkan pria tersebut. Sekon berikut, kepala Hyerim menunduk dengan pikiran melayang jauh. Siapa pria ini? Pertanyaan tersebut berlarian dalam dirinya. Sementara, si pria sekedar menyematkan  senyum segaris dan membalik badan. Saat pria tersebut menyeret langkah dari tempatnya, barulah Hyerim mengiring kepala terangkat kembali dengan iris mata tertancap pada pria barusan.

Lagi, rasa sesak nan memaksakan air mata untuk meluncur, mengerubungi Hyerim. Secara refleks, Hyerim memegang dadanya serta meremas kuat bajunya. Pria tadi … seakan menghantarkan lembar tersembunyi yang ada dalam hidup Hyerim.

║█║♫║█║ ║█║ ║█║ ║█║

Biasan bait kata yang terlihat dari layar transparan buku yang dibacanya, malah menimbulkan kantuk nan menghampiri Hyerim. Lantaran aksara-aksara yang dibaca netranya sudah melekat di otaknya sedari dahulu.

Korea Selatan merupakan negara terkaya akan hasil bumi di tahun 2020.

2030 ialah awal mula dunia baru dimulai.

Sejarah yang diperoleh Hyerim tak kunjung jua mengalami kemajuan. Hanya ada informasi yang remeh temeh. Seakan dunia tak pernah porak poranda oleh perang atau semacamnya. Tanpa disadari, dara marga Kim ini menyibak helaian surainya kasar seraya rasa frustasi menghampiri sebab akan bingung yang kian berbelit. Aksi asal-asalan ia gerakkan di jarinya untuk menggeser halaman buku di layar transparan layar sentuhnya.

Tanpa sengaja, obsidian Hyerim melirik pria yang sekon ke belakang mengulurkan bantuan padanya. Pria tersebut terlihat duduk dengan tenang, buku tampak merenggut atensinya sampai mimiknya melukis keseriusan. Rindu, entah mengapa, rasa itu menggerogoti Hyerim yang langsung tertegun akan pria asing tersebut.

Kala sibuk memperhatikan, sang pria pun beranjak dan membereskan peralatannya. Hyerim sendiri terlihat melebarkan mata serta tanpa sadar melekatkan pandang memperhatikan si lelaki asing. Dia pun pergi dengan tas gendong juga langkah buru-buru. Refleks dahi Hyerim mengkerut dengan manik menyipit.

Hyerim pun turut berdiri serta membereskan barang-barangnya. Otaknya malah tertuju terus-menerus pada pria asing barusan, lantas lah Hyerim menggeleng guna bayangan pria tadi dia hapuskan. Konyol bukan bila memikirkan sesuatu yang tak penting.

“Kim Hyerim, kau ini kenapa?” gumam sang dara dalam ketidak pahaman perasaan nan berbelit dalam dirinya sendiri.

Tatkala membelokkan tubuh, retina Hyerim tanpa sengaja menangkap objek di tempat pria asing barusan duduk. Cangkang matanya menyipit untuk menyensor rinci benda apa yang gerangan tertinggal. Secara otomatis pula tungkai Hyerim terseret ke tempat duduk si jaka tadi.

Tangan Hyerim terulur lalu meraih benda yang tergeletak di meja yang waktu ke belakang diisi oleh pria barusan. Entah apa sebabnya, tangan Hyerim bergetar seiring dirinya mengangkat benda yang nyatanya sebuah kartu nama agar terbaca jelas oleh dwimaniknya. Persetan dengan itu, kartu nama pria barusan telah terpampang jelas di depan netra Hyerim.

Luhan. Itulah nama yang tertoreh di kartu nama disertai pula potret pria barusan yang anehnya menyebabkan sesak timbul di runggu Hyerim. Bahkan genang likuid hangat tampak di obsidiannya, siap untuk meluncur turun.

Namun, menyampingkan hal tersebut. Ada satu hal yang membuat Kim Hyerim terperangah bukan main. Sebuah tanggal pembuatan kartu identitas tersebut.

Kartu identitas dibuat tahun 2018.

Gemetar di tangannya makin menjadi. Napas Hyerim seketika juga menderu lantas kepalanya berbelok dan matanya tertancap pada tempat pria bernamakan Luhan terlihat dalam pandangannya terakhir kali  sekon lalu.

“Pria … tadi …” lafal Hyerim lamat-lamat dengan manik melebar, “seorang penjelajah waktu?”

Ya. Lantaran semua kartu nama yang dimiliki orang-orang masa kini tak ada yang dibuat sebelum tahun 2030, tatkala dunia baru dimulai dengan data-data yang sama-sama baru termasuk kartu identitas.

║█║♫║█║ ║█║ ║█║ ║█║

Peduli setan atau tidak, kekalutan malah merayapi Hyerim. Agaknya konyol mencari-cari batang hidung lelaki bernama Luhan itu. Akan tetapi, sisi hatinya pun menitahkan untuk mencari pria tersebut. Pria yang mungkin akan menyodorkan jawabakan akan hal tersembunyi yang ingin Hyerim tahu.

Tiba-tiba, derap langkah Hyerim berhenti. Fokusnya menajam ketika siluet punggung terbenam di antara lautan manusia di jalanan Gangnam, tampak sesuai akan figur Luhan yang ia temui beberapa waktu lalu.

Anggukannya terlaksana dengan yakin, mukanya pun tampak mantap. “Ya, benar. Dia lelaki itu,” ucap Hyerim penuh akan hasrat yakin.

Tungkai berkepemilikan Kim Hyerim itu menstart rajutannya, netranya menyalang fokus pada Luhan yang tengah mengiring langkah ke suatu titik. Punggung jaka sang penjelajah waktu terhenti di sebuah pojokan gang. Gesit, Hyerim berlindung di balik tembok dengan tak luput memperhatikan Luhan. Pria itu tampak meloloskan sesuatu dari tasnya, sebuah chip yang diiring oleh Luhan ke sebuah tembok dan lantas melukiskan sebuah lingkaran dimensi. Kelereng manik Hyerim membola, pun kian membola tatkala Luhan masuk ke dalam lingkaran dimensi tersebut.

“Dirinya kembali ke masa lalu.” Hyerim menggumam, sejenak menoreh lirik pada kartu nama Luhan yang ada dalam kukungan genggamnya.

Saat sorotnya jatuh ke lingkaran dimensi tadi, lingkaran tersebut mulai pudar.

“Akh, sial. Kuharap tidak menyesal.” Hyerim menggeram, genggaman pada kartu nama Luhan mengerat hingga akhirnya tungkainya dia bawa berlari dan ikut lenyap ke dalam lingkaran dimensi yang lekas menghilang saat Hyerim memasukinya.

Sekon demi sekon. Masa demi masa. Tempat demi tempat. Penjelajahan waktu berlalu secepat kilat, menghantarkan pusing tersarang di kepala Hyerim. Sampai finalnya, tubuhnya terhempas hingga tervokalkan bunyi ‘duk’ ditandai Kim Hyerim terkapar di atas sebuah keramik asing dan kartu nama Luhan nan digenggamnya pun terpental entah ke mana. Matanya nan menyipit mulai mengekspos lebar, tetapi retinanya menangkap sosok Luhan yang telah berdiri di depannya dengan iris tajam.

“A … Lu .…” Aksara dari mulut Hyerim tersendat, otomatis jua netranya membola. Tak pernah berekspektasi akan tertangkap basah oleh sasaran yang dirinya untit.

Tanpa berfrasa, Luhan menarik paksa Hyerim lalu memojokkannya ke sebuah tembok dengan tangan mengunci bibir ranum si gadis. Disertai pula kelereng netra Luhan membinarkan sebuah ketajaman. Dara Kim ini pun tak mampu berkutik, selain matanya yang hanya sanggup mengerjap.

“Kenapa kau menguntitku, Nona?” Utar tanya Luhan terlolongkan sangat seram di liang telinga Hyerim. Sang dara pun hanya meneguk saliva, pandangnya dialihkan ke objek lain dibanding bersiborok dengan dwimanik Luhan. “Kau ingin tahu apa dari masa lalu selain bahwa negaraku ini menjajah negaramu, huh?”

Frasa ketus Luhan menyebabkan Hyerim dihampiri kejutan, dara ini pun menatapnya dengan mata melebar. Sedang Luhan, pria tersebut menyungging smirk diiringi tangan mulai turun dari mulut Hyerim, tapi spasi antara keduanya masih sangat dekat dengan si jaka yang memiringkan wajah kepada gadis bermarga Kim ini.

“A … pa … maksudmu? Korea Selatan dijajah?” Lafal Hyerim, masih diterjang kaget. Tidak pernah dirinya menemukan catatan sejarah bahwa negaranya, Korea Selatan, dijajah oleh satu negara.

Anggukan ringan Luhan segera merespons, dirinya menilik tajam paras Hyerim yang kian mencetak rasa kagetnya. “Korea Selatan di tahun 2020 adalah negara dengan kekayaan alam paling berlimpah di tengah krisis dunia. Negara yang juga sangat kaya raya.”

Labirin otak Hyerim pun mengetahuinya, bait-bait sejarah yang telah dia baca pun berkata demikian.

“Maka dari itu, para penjajah, termasuk China—negaraku—, berbondong-bondong datang ke Korea Selatan. Memporak porandakan negara tersebut hingga para warga Korea Selatan sengsara. Aku sendiri pun, agen mata-mata dari negaraku yang menyelidiki apa yang akan terjadi di masa depan.”

Sebuah gigitan diaksikan Hyerim di bawah bibirnya. Selain aura gelap Luhan, was-was pun menghampirinya. Jikalau lelaki ini memang ke masa depan untuk menyelidiki apa yang terjadi, maka dunia baru yang Hyerim singgahi akan musnah dari info yang Luhan peroleh.

“Jadi …” Hyerim bersajak dengan sesekali menggigit bibir bawahnya, “kau akan memberitahu pasukanmu bahwa di masa depan, di masaku datang, Korea Selatan memenangkan perang dan semua warga di dunia hanyalah warga Korea Selatan?”

Kuluman penuh arti terpatri di kurva Luhan, wajahnya tak dapat Hyerim baca. Dengan santai, ia mendekatkan wajah ke muka Hyerim, embusan napasnya terembus tepat di paras Hyerim yang memilih melayangkan retinanya ke arah bawah.

“Lebih tepatnya, pada tahun 2029, para ilmuan di Korea Selatan, mengeluarkan death carbon dari bawah tanah yang membunuh seluruh manusia di Bumi. Para ilmuan biadab yang bersembunyi dari death carbon itu, menghidupkan kembali para manusia beraliran darah Korea Selatan. Manusia yang dihidupkan kembali itu seperti dirimu, humanoid sempurna. Tidak sepenuhnya robot dan tidak sepenuhnya manusia.” Tiba-tiba, Luhan menyarangkan belaian lembut di pipi Hyerim serta kian pula perempuan tersebut menunduk. “Itulah jawaban mengapa di masamu, hanya ada orang Korea Selatan. Kita memang menjajah, tapi kita tidak sekeji ilmuan sampah dari negaramu, Sayang.”

Lafal kata sayang terngiang di otak Hyerim. Dirinya lantas menyarangkan tatapan lurus-lurusnya pada Luhan. Pening menghampiri, kata ‘sayang’ khas Luhan menghantuinya, entah mengapa …. Hyerim merasa rindu, candu, hangat, familier. Di masa dibelit oleh pusing, sebuah vokal menerobos telinga Hyerim dan juga Luhan.

“Luhan, kau di dalam?”

Obsidian Kim Hyerim membola. Tunggu, mengapa suara ini ….

Luhan pun menoleh ke sumber suara kemudian banting setir lagi kepada Hyerim nan terpaku akan vokal perempuan yang menyerobot telinganya. Secara tergesa, Luhan mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebab akan keterpakuannya, Hyerim tak sadar saat Luhan menempelkan suatu alat di lengannya seraya menghunus binar mata tajamnya ke iris Hyerim.

“Jangan lepas ini sampai istriku keluar ruangan ini, mengerti?” Sekon berikut, tombol dari alat yang menempel di lengan Hyerim pun, ditekan Luhan dan membuat gadis itu tidak terlihat.

Di tempatnya, Hyerim menurut. Tak ingin pula menyebabkan keributan tatkala bersitatap dengan istri Luhan, bisa-bisa dia pun dicap sebagai selingkuhan. Konyol, bukan?

Di sisi Luhan, jaka itu menyungging senyum dan berlakon seakan tidak terjadi apapun di ruangan ini sebelum sang istri memecahnya.

“Masuklah, Sayang. Aku ada di dalam.” Luhan mempersilakan dengan intonasi lembut yang lagi-lagi mendesirkan dada Hyerim. Brengsek, ada apa dengan dirinya?

Suara pintu terdengar terbuka perlahan, ayunan tungkai pun ikut menggema setelahnya. Rasa penasaran menggelitik runggu Hyerim, maka dirinya pun menoleh ke arah istrinya Luhan. Pompaan jantung Hyerim serasa berhenti, cangkang matanya melebar, diafragmanya naik turun tatkala mengetahui istri dari Luhan adalah .…

“Itu … aku?” gumam Hyerim pelan, hasrat tak percaya mendominasi kata-katanya yang terkejut.

Hyerim dari masa lalu ini mendekati Luhan dengan senyuman, surainya terikat satu dengan perut yang agak membuncit.

“Tunggu, aku tidak pernah mau mengikat rambutku. Dan … dulu, aku pernah mengandung? Dan … astaga!” Hyerim yang datang dari masa depan ini frustasi dengan menjambak rambutnya sendiri.

“Kau sibuk mengerjakan apa?” Silabel tanya dari Hyerim masa lalu kepada Luhan. Sebelum Luhan melontar respons, Hyerim pun memeluknya erat membuat Luhan makin tersenyum dan memberikan sebuah elusan di rambutnya. “Aku merindukanmu.” Hyerim membenamkan wajah ke dada suaminya dengan manja.

Hyerim yang dari masa depan, tercenggang diiringi untai memori yang mulai terajut rapi di otaknya. Likuid hangat beruntun turun ke pipi tirusnya.

“Aku sibuk merancang data keuangan toko, Hyer.” Frasa Luhan, merespon kemudian mengecup pucuk kepala istrinya dan mengeratkan pelukan. “Kandunganmu, bagaimana? Dan tumben kau mengikat rambutmu sesuai keinginanku.”

Pelukannya dilongarakan, pun kepala Hyerim mendongak menatap Luhan. “Sudah bulan ketujuh. Katanya, anak kita laki-laki.” Kurva istri Luhan ini menyungging kebahagiaan dan menyarangkan ciuman di bibir suaminya. “Aku harap, anak kita tumbuh tampan sepertimu. Dan untuk masalah rambut, aku ingin sekali-kali dibilang cantik olehmu. Kau, ‘kan selalu bilang bahwa aku cantik saat mengikat rambutku.”

Tes. Hyerim dari masa depan yang tubuhnya tidak terlihat, mengeluarkan banyak pasokan air matanya. Dadanya nyeri, seluruh memorinya berayun-ayun di otaknya.

Luhan tampak meloloskan kekehannya dengan mencubit ujung hidung Hyerim yang ada di pelukannya. “Tentu dia akan tampan sepertiku, Sayang.” Serta mengelus lembut pucuk kepala sang kstri. “Bisa keluar dulu, hm? Ada yang ingin aku fokus kerjakan,” pinta Luhan lembut, meski Hyerim tetap cemberut dan menyebabkan Luhan menyarangkan ciuman di pipinya.

Mulai Hyerim melepas pelukan dan beraksara, “Baiklah. Jangan lupa makan malam satu jam lagi. Kalau kau tidak makan, aku juga tidak mau!” Ancaman terbias dari tatapan matanya. Luhan menyambutnya dengan tawa dan anggukan, sebelum akhirnya Hyerim melangkah keluar dan menutup pintu ruang kerjanya.

Tersisalah Luhan dengan Hyerim masa depan di sana. Raut ceria Luhan luntur, tersapu oleh raut lesunya dan kepalanya pun berbelok ke tempat Hyerim dari masa depan. Setelah mengontrol diri agar lebih tenang, Hyerim dari masa depan pun melepas alat yang membuatnya tidak terlihat. Mimiknya kosong dan sorot netranya jatuh pada Luhan, sama kosongnya.

“Aku .…” Berusaha berfrasa, namun menggantung dan tertelan entah ke mana, Hyerim hanya menunduk tanpa tahu harus bagaimana. “Aku .…” Berfrasa lagilah Hyerim tapi tiba-tiba, Luhan merangsek memeluknya erat dengan memejamkan mata, likuid hangat menetes dari obsidian Luhan.

“Kau tidak pernah tahu bahwa aku agen mata-mata,” kata Luhan, suaranya mulai tercekat. “Dan aku tidak pernah memberitahu apa yang terjadi di masa depan kepada pasukanku. Aku berkhianat hanya untuk melindungimu, untuk melindungi anak kita.”

Aliran sungai tampak kembali di pipi Hyerim, dirinya buntu dengan sesak tak berujung. Tak sanggup jua memberi balasan pada pelukan Luhan.

Kim Hyerim sekarang tahu mengapa dirinya tidak bisa memberikan cinta pada seseorang di masa depan, mengapa tidak sanggup mengikat rambutnya. Karena hatinya, masih mengingat Luhan, mengingat cinta keduanya walaupun dengan otak yang hampa.

“Hyerim …,” penggal Luhan akan namanya, merenggut atensi Hyerim menatapnya dalam, pun Luhan balas menatap dengan pandangan keduanya saling sapa pada finalnya. “Jagalah dirimu di masamu sekarang. Jangan bertindak gegabah seperti mengikuti penjelajah waktu begitu saja. Dan jaga juga Sehun.”

Dahi Hyerim mengkerut, tak paham dan dia pun mengulang ucapan Luhan, “Sehun?”

Perlahan, Luhan mengaksikan anggukannya dengan seutas senyum tipis. “Sehun, dia putra kita yang sedang kau kandung.”

Dwimanik Hyerim melebar dengan sesuatu yang kembali lagi seakan menghantamnya. Sehun … adalah putranya? Maka dari itu … Hyerim selalu merasakan ikatan antaranya dan Sehun?

“Lu .…” Syok menerjang, bibir Hyerim kelu setengah mati. “Aku… merindukanmu.” Finalnya, Hyerim hanya mampu berfrasa begitu, mengundang senyum hangat tetapi tipis di bibir Luhan.

Spasi antaranya dan Luhan melebar tatkala pria tersebut melepas dekapannya, “Kembalilah.” Lekas Hyerim menatapnya intens. “Kau harus kembali ke masamu. Harusnya dirimu tidak gegabah mengikutiku ke sini. Kau hanya akan menangis seumur hidupmu, Hyerim.”

Hyerim terpaku. Kata-kata Luhan memang benar. Rasa sakit karena menemukan il nascosto—yang tersembunyi—, dari dirinya dan dunia yang baru, hanyalah menimbulkan sebuah rasa sakit. Bibir Hyerim menyungging senyum tipis.

“Aku akan kembali,” sahut Hyerim, kepalanya menunduk dahulu, kosong. Sekon berikut kembali menatap Luhan. “Setidaknya aku sudah menemukan apa yang tersembunyi di balik ingatanku yang hilang. Itu lebih dari cukup.”

Tatkala Hyerim berbalik, lengannya tertarik kembali diiringi tubuhnya memutar kembali ke arah Luhan. Sekejap, bibirnya disapa bibir Luhan. Sebelum akhirnya menerjang kembali dunia baru dengan segala lingkup tersembunyi yang telah Hyerim ungkap, dirinya bisa merasakan buaian panjang dari suaminya untuk terakhir kali.

║█║♫║█║𝓘𝓛 Nascosto ║█║ ║█║

EPILOG

Kepulan asap hasil death carbon masih mengudara, tubuh tak berdaya para manusia yang keracunan pun merajalela di sana-sini. Orang-orang berseragam putih berprofesi ilmuan itu mengayunkan tungkai, menyisir sana-sini dan mengangkat orang-orang yang merupakan murni orang Korea Selatan. Sisanya yang bukan, dibawa ke sebuah pesemayaman dengan dibakar tubuhnya menjadi abu.

Di tengah kesadaran sekian persennya, manik Luhan mengerjap dan retinanya dijatuhi figur terkapar Kim Hyerim di depannya. Wanitanya itu pun mengekspos kelopak matanya, lantas menyebabkan iris sepasang suami-istri itu saling sapa.

“Aku mencintaimu.”

Itulah aksara terakhir Luhan sebelum dirinya berpisah dengan Hyerim dan putranya. Dan respons sang istri hanyalah sebuah sematan senyum manis yang terus Luhan ingat sampai menerjang akhir hayatnya.

—END—

Elsa`s Figertale :

WANZAY, ciyusly ini FF lama gaes, FF lama. Ya sekitar kapan ya. Beberapa bulan lalu deh, aku liat sih di galeri, posternya udah dari Juni. LOL, LAMA ANZIRRR. EFEK MAGER LALU PAS UDAH BERES, MAGER JUGA EDITNYA.

Ini mumpung midnight, mumpung daku lagi nungguni donlot Running Man dengan wifi portabel yang gak sekenceng wifi apartemenku di Spanyol (iyelah, jaringan indo gak sekenceng sono cuy) aku pun ngeedit FF ini aja, itung-itung faedah, ya gak sih? (DAN PAS LIAT HASIL DONLOTKU ERROOR, ANJIRRRR SIA-SIA MENANTI) DAN ASAL KALIAN TAU, AKU DAPET IDE INI PAS LAGI TERGILA-GILANYA NONTON DRAKOR CIRCLE, STABLE CARE PUN CHIP YANG AKU DAPET DARI DRAKOR ITU.

SUKA SCIFI? DYSTOPIA? COCOK NONTON CIRCLE! CIYUSLY, YANG MAINNYA YEO JINGOO SAMA GONG SEUNGYOON. CIRCLE INI 12 EPISODE, CRIME—SCIFI—DYSTOPIA—MYSTERY DAN DUA ALUR MASA DEPAN SAMA MASA LALU TANPA ADANYA ROMENS, BELUM LAGI DENGAN EKSISTENSI ALIEN CANTIK YANG DATENG KE BUMI UHUG UHUG. UDAH REKOMEN DEH YANG SUKA SCIFI!

Dan ide FF ini agak LOL. Il nacosto itu bahasa Itali kalo gak salah, artinya yang tersembunyi, udah dijelasin kan? Di sini Hyerim yang kepo-kepo sama hal tersembunyi dari dunia baru dan ingatannya yang ilang di masa lalu, malah ketemu Luhan, penjelajah waktu yang nyatanya suaminya jeng… jeng… eh ini plot twist gak sih pas Sehun nyatanya anaknya mereka berdua LOLOL. Sumpah, awalnya gak mau gitu, tapi gereget aja jadilah si Sehun ini anak mereka berdua /ditabox masal/

Udah, ah, jangan jadi gaib deh. Komen aja sini, gak apa kalian komen apa aja asal jangan mengandung bash ya aku ladenin. Btw, aku itu kemarin-kemarin kismin kuota jadi agak ilang. Yang nanya-nanya di kolom komen, gak aku respon, maaf aku bukan soms, tapi emang kuotaku terbatas. Aku pake wifi portabel buat nanya-nanya di Line ke temen tentang sekolah (kan cieh aku tuh anak baru dari Spanyol pula /gak penting woy/) dan paling balesin chat aja, buka wordpress ingetnya pas matiin si wifi portabel ini wkwk. Udah ya ini note udah melebihi isi FF.

SEE YOU LATTERRRRR!

P.S : Oh ya, aku kepikiran buat bikin FF ini versi dystopianya dengan sisi Luhan, buat gak mendingan? Hmz.

P.P.S: JUDUL ASLINYA IL NASCOSTO. MAAFKEUN TYPO BARU NYADAR KE SININYA ;–; TAPI POSTER UDAH DIBUAT YA UDAHLAH

HyeKim World!

[ www.hyekim16world.wordpress.com ]

7 tanggapan untuk “[Oneshot] IL Nascosto – HyeKim”

  1. Dear Elsanim,

    Aku baru buka fficmu lagi setelah sekian lama, kamu sih sempat hiatus lama. ehehehe….

    Yang ini sukses buat aku baper juga, kok kesannya kasian banget deh hyenya….

    Tapi kalo mau dibuat dari povnya lulu-ge, lebih bagus, nanti tolong buatin juga prequelnya, sequelnyajuga kalo bisa. *mianek, kebanyakan nuntut…

    Ehtapi, ehciyeee, yang udah balik indo….

    Gimana indo Els? panas?, gerah? apalah apalah??
    ehehehe…

    Amutdeon, aku nunggu This love season 2nya, sama when the love blossoms, sama the wonderful the seriesnya yy…
    *mianek (pt2) nuntutnya kebanyakan..

    Well, good luck sama sistem indo yah…
    Himnebuseyo~~

    Sincerely,
    Shannon

    1. Iya aku lagi hiatus wkwkwk karena keadaan realku yang mengharuskan XD XD XD

      Ini emang sengaja nyiksa Hyerim kok wahahah ciekkk yang baper

      Waduh sayang, aku gak setiap kali jadi ibu peri baik hati kak WKWKWKWK. Jadi permintaannya akan sequel sama prequelnya ndak bisa yaaa XD XD soalnya yg POV Luhan juga aku masih mikir dan aku kadang gak terlalu suka stuck di 1 cerita yg oneshot langsung abis bhakakakakak XD XD

      Panas banget indo… agak gak betah, mau balik lagi aku mah aslinya LOLOL XD XD /semacem ini aku gak like indo banget ya lord…/

      This Love S2 kayaknya harus bener-bener nunggu lama kak, gak apa? Wkwkwk soalnya aku teralihkan sama yang lain selain itu tetek bengek realku juga wkwkwk
      Kalo friendzone : when the love blossom kalo udah normal lagi internetku buat FG-an, insya allah aku update dan the wonderful aku curi-curi waktu aja kalo ada nulisnya karena itu mah FF disela kegabutan XD XD dan belum tentu selalu ada lanjutannya hahahaha…. ini juga ya mianek aku banyak gantungin FFku, semoga ngerti ya dan mau nunggu hahahaha

      Makasih kak 🌸🌸🌸

  2. Aeeelllaaah endingnya cuuuy
    Kenapa kek yg ngeganjel gitu yaaaa
    Hmmmmm. . . Dan ku gak nyangka aja si anak ayam anaknya mereka di sama depan. Etdaaaah!! Tapi si sehunnya kagak tau kalo si hyerim emaknya. Gimana dooong????
    Ak tau kok kalo si elsa gak bales2 komen. Itu antara sibuk sama kismin kuota ahahahaha. Siapa yg bilang kamu sombong? Gak laaaaah
    Sip juga kalo di buat POVnya Luhan. Kali lebih greget yaaa.. .

    1. Kek ganjel tapi emang sengaja sih wkwkwkwk XD XD

      Cieh plot twist dong ini sehun anaknya, kan kalau luhan ada ekhem ekhem sesuatu udah ketauan, kalo si sehun kan kagak wkwkwk. Etdah ya dia gak tau si hyerim emaknya wkwkwjwk

      Wkwkwk duh terhura aku ada yg mengerti hiks wkwkkw =”)

      oke pov luhan akan meluncur nanti wkwkwkwk, dan mungkin si sehunnya muncul

    2. Suka ya yg bikin reader gemesh. Mkanya tuh kualat jadiny di selingkuhin juga. Wkwwkwk

      Ya aku tau gimana rasanya kalo kismin kuota say. . . Hikseuu

      Sipp tar di tunggu yaaa

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s