[Chaptered] You Don’t Know Play Ur Love [Chapt. 15]

You Don’t Know Play Ur Love

Acu present

Cast [EXO] Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Xiu Luhan – Oh Sehun || [Afterschool] Nana – Lizzy – Eyoung – Gaeun || Others

Genre Romance – Sad – Hurt – AU – Friendship – Drama – Family – Angst

Length Chapter [1] – [2] – [3] – [4] – [5] – [6] – [7] – [8] – [9] – [10] – [11] – [12] – [13] – [14] – [15]

Rating PG15

Disclaimer I Just own the storyline

.

“Cinta yang terluka tetaplah cinta”

***

“Di mana? Di mana kutaruh?” gumam Nana sambil mengaduk-aduk isi tasnya dengan kening berkerut cemas. Tidak menemukan apa  yang dicarinya, ia pun menuangkan seluruh isi tasnya ke atas meja.

“Tidak ada. Obatnya tidak ada,” Nana berputar, menggigit  bibir dan berjalan cepat ke kamar mandi. Ia membuka lemari obat di sana, memeriksa deretan tabung  plastik kecil di sana, tetapi obat yang dicarinya tidak ada. Ia menutup pintu lemari obatnya dengan keras dan memandang bayangan wajahnya sendiri di cermin. “Di mana obat sialan itu? Aku butuh obat  itu. Aku butuh”

Jongsuk  mengetuk pintu kamarnya. Nana melangkah ke pintu dan membukanya.

“Ada apa?”

Jongsuk tersenyum kecil mendengar ucapan Nana. “Mereka sudah menunggumu di bawah, kau tunggu apalagi?”

Oh, aku akan segera keluar, sebentar lagi,”

Jongsuk melihatnya dengan alis terangkat “Apalagi? Kau sudah cantik,”

“Bukan itu, aku akan segera datang, suruh mereka tunggu sebentar lagi,”

Jongsuk lagi-lagi tersenyum kecil. “Arasseo” ia pun keluar dari kamar Nana.

“Baiklah, aku akan mencari obat itu sepulangnya dari  pesta. Semoga aku tidak membutuhkan obat itu malam ini. Semoga aku  bisa bertahan sampai pesta itu berakhir.” Nana meraih tas tangannya dan ia menarik napas panjang-panjang lalu keluar dari kamar dengan tersenyum lebar kepada teman-temannya. Semua mata tertuju pada Nana. Yah, untuk malam ini saja Nana merasa dia harus lebih cantik dari biasanya.

“Kau sungguh tepat waktu,” ujar Luhan yang membuyarkan pandangan mereka pada Nana. “Ppaliwa, kita sudah terlambat sepuluh menit”

“Hhe, mian, Jongsuk oppa?”

“Sudah pergi duluan,”

Ne?” Nana melesakkan bahunya.

Wae to?” tanya Lizzy.

“Kalian semua memiliki pasangan,” ucap Nana dengan cemberut.

Mereka saling bertatapan satu sama lain.

“Apa kau ingin berpasangan denganku?” Tiba-tiba datang seseorang muncul di ambang pintu.

Neon..

“Apalagi yang ingin kau tanyakan. Chanyeol oppa akan menjadi pasanganmu. Gadis bodoh. Sudah tidak ada lagi yang ingin kau masalahkan lagi, bukan?” ujar Lizzy dengan santai lalu keluar diikuti yang lainnya,

.

~

.

“Kau cantik.” Dua kata keluar dari mulut Chanyeol membuat jantung Nana berdegup kencang dan pipinya memerah dengan cepat.

“Tentu saja,” Nana tersipu malu.

“Aku tidak meragukannya,” kata Chanyeol lagi sambil tersenyum lebar. Ia mengulurkan lengannya ke arah Nana.

“Baiklah,” sahut Nana. Ia menggandeng lengan Chanyeol tanpa ragu  dan sekali lagi berusaha mengabaikan getaran aneh yang menjalari  sekujur lengannya ketika tangannya menyentuh lengan Chanyeol. “Kenapa kau kemari? Kau, ‘kan, bisa langsung saja ke rumah Gaeun,”

“Karena aku sangat yakin, kau membutuhkanku. Aku benar, ‘kan?” sahut Chanyeol santai. “Jadi, apakah kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol setelah mobil  hitam mengilap melaju di jalan raya.

“Apa?” tanya Nana sambil menoleh menatap  Chanyeol yang duduk di sampingnya di kursi sopir. “Aku bak-baik saja,”

“Sungguh? Kau sungguh baik-baik saja?”

“Sungguh,”  Nana menoleh menatap Chanyeol. Melihat laki-laki itu  sepertinya tidak percaya pada kata-katanya, Nana tersenyum kecil.

“Berapa jam kau tidur semalam?”

Nana mendesah. “Kenapa kau terobsesi sekali dengan jam tidurku?” Nana  balas bertanya, berharap bisa mengalihkan  pembicaraan.

“Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan,” sela Chanyeol cepat “Berapa Jam?”

“Dua atau tiga jam, begitulah,” Nana memalingkan wajah. “Tapi aku  sudah terbiasa,”

Chanyeol terdiam sejenak, lalu bertanya. “Kau sudah mencoba  berkonsultasi dengan dokter?”

Nana kembali menatap Chanyeol dengan kening berkerut. Ia tidak  suka mendengar kata; “Dokter? Mwoga?” tanyanya tajam.

“Kau sudah menderita insomnia selama– berapa lama?” tanya Chanyeol.

“Lima atau enam bulan,”

“Kau tahu itu tidak normal dan sudah seharusnya kau berkonsultasi dengan dokter,” ucap Chanyeol dengan sekuat tenaga menahan nada marahnya.

“Itu tidak perlu,” sahut Nana tegas. “Aku bisa mengatasinya. Sudah kubilang aku sudah terbiasa. Kau tidak usah khawatir. Ini sama sekali bukan masalah.” Nana melihat Chanyeol membuka mulut hendak membantah, jadi ia mengangkat sebelah tangan. “Aku tidak mau membicarakannya lagi.”

Chanyeol menyerah dan tidak berkata apa-apa lagi. Nana menghela  napas dan menatap ke luar jendela, tetapi dia tetap menyadari tatapan dari belakang kepalanya. Akhirnya ia menoleh kembali ke arah Chanyeol  dan balas menatapnya lurus-lurus.

“Apa?” tanyanya langsung.

Chanyeol mengeluarkan sesuatu dari saku bagian dalam jasnya. “Punyamu?”

Nana menatap benda di tangan Chanyeol dan terkesiap. Chanyeol mengacungkan tabung plastik kecil yang dicari-cari Nana sebelum ia pergi.

“Di mana kau menemukannya?” tanya Nana setelah berhasil mengendalikan ekspresi wajahnya.

“Terjatuh dari saku jaketmu kemarin, saat kau terjatuh dari tangga.” sahut Chanyeol dan  mengulurkan tabung kecil itu kepada Nana. Alisnya berkerut samar  ketika melihat tangan Nana agak gemetar saat menerima tabung tersebut.

Geureom,” kata Chanyeol dengan suara yang diusahakan terdengar ringan, “Obat apa itu?”

Nana berdeham. “Vitamin,” sahutnya pendek tanpa  memandang Chanyeol. “Hanya vitamin”

“Vitamin?”  ulang Chanyeol sambil menatap Nana dengan seksama.  Ia berpikir sejenak. “Itu obat untuk penyakit jantung, bukan? Aku sudah memeriksanya,”

“Apa mereka berkata begitu?” tanya Nana pelan. Ia berdeham sekali  lagi. “Apa lagi kata mereka?”

“Hanya itu,”  jawab Chanyeol.  “Jadi?”

“Ini vitamin untuk jantung,” sahut Nana cepat dan  memasukkan tabung plastik itu ke dalam tas tangan kecilnya.

“Dokter menyarankannya untukku karena aku harus menjaga kondisi jantungku.”

“Apakah ada masalah dengan  jantungmu sampai dokter mengharuskanmu minum vitamin itu?” tanya Chanyeol.

“Tidak ada yang serius,”

“Kau yakin?”

Oh,” Nana menoleh dan Chanyeol melihat seulas senyum samar  tersungging di bibir Nana. Kemudian Nana kembali memandang ke  luar jendela dan bergumam pelan. “Kenapa terasa lama sekali,” sudah jelas Nana tidak ingin membahas masalah itu lebih lanjut,  dan sudah jelas ia berusaha ingin mengalihkan pembicaraan

.

** You Don’t Know Play Ur Love **

.

Dua puluh menit kemudian mereka tiba di rumah Gaeun. Mereka melangkah memasuki rumah luas yang dipenuhi orang berpakaian  indah. Perhatian semua orang terarah ke panggung, tempat pria gagah berusia awal lima puluhan tengah memberikan kata sambutan  kepada para tamu.

Wah, aku tidak menyangka, pestanya jadi semegah ini,” ucap Lizzy dengan mata berkeliling terlihat kagum dengan ruangan itu.

Chanyeol menyentuh  siku Nana. “Kau mau minum?”

Nana mengangguk.

“Kalau begitu, ayo.” Chanyeol meraih tangan Nana dan  mengajaknya ke arah meja minuman.

“Ini,”

“Beralkohol?” tanya Nana ragu.

“Mungkin sedikit.”

Chanyeol mengulurkan segelas  minuman yang diambilnya dari meja  kepada Nana, lalu menerima segelas sampanye dari salah seorang  pramusaji yang berkeliling ruangan menawarkan sampanye dan anggur. Mereka meminum minuman masing-masing dan mendengarkan  Lee Tae Hwa mengakhiri kata sambutannya.

“Sekali lagi, terima kasih  atas kehadiran anda semua. Silahkan menikmati hidangan kecil yang  kami sediakan dan silakan mengajak pasangan anda untuk berdansa.”

Para tamu bertepuk tangan sementara Lee Tae Hwa turun dari  panggung dan lagu mulai terdengar untuk mengiringi  pasangan-pasangan yang ingin berdansa.

“Park Chanyeol? Wah, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini”

Chanyeol menoleh ke arah suara itu dan tersenyum. “Oh, Kang Minhyuk, apa kabar?” Chanyeol meletakkan gelasnya dan memeluk Minhyuk seperti sahabat sejak lama.

“Baik. Bagaimana denganmu?”

“Sama seperti dirimu? Kau dengan Krystal? Di mana dia?”

Oh, dia sedang berkenalan dengan pria-pria di ujung sana, dia sedang mencari-cari mangsa,” bisik Minhyuk sambil melirik ke balik bahu lalu menjauh dari Chanyeol. “Uhm? Dia siapa?” Minhyuk menunjuk Nana.

Annyeonghaseyo,” Nana membungkukkan tubuhnya. “Nana Imnida

Annyeonghaseyo, Minhyuk Imnida,” Minhyuk memicingkan matanya. “Apa dia kekasihmu?” tanya Minhyuk nakal.

Chanyeol hanya membesarkan matanya. “Aniya,” bisiknya pelan.

“Nana-ssi, kau ingin berdansa denganku? Kau tidak keberatan, bukan, jika aku meminjamnya sebentar?”

Nana tersenyum. “Kau tidak keberatan, ‘kan?” tanyanya pelan pada Chanyeol.

Keraguan Nana membuat Chanyeol senang. Setidaknya Nana tidak langsung menerima ajakan Minhyuk dan meninggalkan Chanyeol berdiri sendiri seperti orang bodoh.

“Chanyeol tidak akan keberatan,” jawab Minhyuk, walalupun bukan dirinya  yang ditanya.

“Jika Krystal mencarimu?”

“Dia sedang sibuk mengumpulkan mangsa-mangsa barunya, jadi sementara, Nana-ssi bisa menemaniku berdansa,”

Chanyeol memberengut melihat Minhyuk meraih tangan Nana dan  menyelipkannya di lekukan sikunya. Nana tertawa kecil, tetapi kembali menoleh ke arah Chanyeol dan  tatapan bertanya terlihat jelas di matanya. Chanyeol menatap gadis itu, lalu mengembuskan napas pelan. Ia  mengambil gelas  dari tangan Nana.

“Pergilah. Aku akan menunggumu di sini,”

.

~

.

“Apa kau sedang membiarkannya?” muncul Baekhyun dan teman-temannya yang mengajak Chanyeol bicara

Ne? Hhe” Chanyeol hanya tersenyum.

“Apa tidak masalah jika membiarkannya, sedangkan sepertinya, kulihat mereka baru saling mengenal?”

“Itulah Minhyuk, yang sangat cepat berbaur dengan orang baru, karena mulutnya yang tidak bisa diam. oh, iya, Gaeun dimana?”

“Gaeun sedang… entahlah, tadi kulihat dia sedang berkenalan  dengan beberapa tamu artis Ayahnya di sebelah sana,” jawab Baekhyun acuh tak acuh.

.

** You Don’t Know Play Ur Love **

.

“Eyoung, senang sekali kalian bisa datang malam ini,”

“Pesta ibumu selalu hebat,” puji Eyoung.

“Tentu saja, Oh? Oppa, Nana?”

“Minhyuk  baru saja menculiknya”

Aish, anak itu. Kau mengijinkannya?”

“Apa aku harus melarangnya, sedangkan yang bersangkutan mau?”

Gaeun memicingkan matanya.

Ya, itu dia,” sahut Baekhyun sambil menunjuk ke arah orang-orang yang berdansa. “Kau bisa melihatnya?”

Gaeun memanjangkan leher dan menyipitkan mata menatap ke  arah yang ditunjuk. “Ya, ya, aku melihatnya? Oh, iya, perkenalkan, ini Park Kahi, Jung Ah dan Uee eonni,

Annyeonghaseyo,” ucap Kahi, Jung Ah dan Uee membungkukkan badannya serentak.

Park Kahi pun melihat Nana yang sedang berdansa dengan Minhyuk, “Dia, oh?”

“Apa? Ada apa?” tanya Gaeun ketika ia melihat mata Kahi  melebar dan terpaku ke arah Nana.

Omo, bukankah yang berdansa dengannya itu, Nana?”  suara Jung Ah terdengar takjub. Gaeun dan semuanya terkejut. “Eonni mengenalnya?”

“Tentu saja,” sahut Kahi tegas. Ia menoleh menatap Gaeun dan yang lainnya bergantian. Lalu ia kembali mengarahkan  pandangannya ke arah Nana. “Dia penari terbaik yang pernah  bergabung dengan kelompok tariku. Aku sangat, sangat kecewa  ketika dia tiba-tiba mengundurkan diri tahun lalu,”

“Aku sudah mengetahuinya,” ucap Eyoung, “Tapi aku tidak tahu alasannya,”

“Kau mengetahuinya?” tanya Lizzy.

Eyoung mengangguk. “Tariannya juga sangat hebat, aku sering melihatnya,”

Mata mereka mengamati sosok Nana yang sedang berdansa dan tertawa dengan Minhyuk terutama Chanyeol dengan kening berkerut samar.

.

~

.

Minhyuk dan Nana berjalan kembali ke tempat Gaeun berdiri setelah lagu berakhir, Nana melihat Kahi juga ada di sana. Kahi melambai ke arahnya sambil tersenyum lebar dan Nana yakin Kahi sudah memberitahu bahwa ia dulu pernah bergabung dengan  kelompok tarinya. Nana mendesah dalam hati.

“Nana,” seru Kahi dengan wajah berseri-seri dan merentangkan  kedua lengannya lebar-lebar. “Ini kejutan yang menyenangkan. Apa kabar?”

Nana membiarkan dirinya dipeluk erat oleh Kahi dan teman-teman Kahi. “Annyeong, Eonni, sudah lama sekali tidak bertemu denganmu,” balasnya hangat. “Dan kabarku sangat baik. Bagaimana dengan kalian?”

Minhyuk memandang mereka berdua bergantian dengan heran.

“Kalian saling kenal dekat?”

Nana melepaskan pelukan Kahi dan menoleh ke arah Minhyuk. “Ya, Kahi eonni adalah sahabatku dan aku sudah belajar banyak darinya.”

“Omong kosong. Kau tahu, kau penari terbaik yang pernah kumiliki dan kau sudah menguasai semua yang perlu dikuasai. Aku tidak mengajarimu apa-apa,” bantah Kahi sambil tertawa. “Uhm, aku kesana dulu, jika Cho Seho melihatmu, kurasa dia lebih gembira melihatmu?”

“Seho Oppa? Jinjjayo? Dia di sini?” Nana tersentak mendengar nama itu dan matanya berkilat-kilat  senang.

Oh,

.

** You Don’t Know Play Ur Love **

.

“Kau masuk dalam grup penari hebat?” -Luhan.

“Sejak kapan? Ku kira hanya sekedar Hobi?” -Lizzy.

“Kenapa aku tidak pernah mengetahuinya?” -Gaeun.

Pertanyaan bertubi-tubi menghujani Nana. Ia hanya membalas pertanyaan itu dengan senyum menyesal.

“Nana-ssi, aku tidak menyangka kau pernah bergabung  dengan mereka, pantas saja, berdansa denganmu tadi sangat mengasyikan,” kata Minhyuk dengan nada takjub.

“Kenapa kau tidak pernah berkata apa-apa selama ini?” gerutu Gaeun.

Nana mengangkat bahu. “Aku hanya merasa hal itu tidak perlu dibesar-besarkan, hehe, mian

“Minhyuk-ah,” tiba-tiba Chanyeol membuka suara. Kurasa sebaiknya kau harus pergi mencari Krystal, tidak baik kalau kau meninggalkannya begitu saja sendirian,”

Minhyuk mengerang. “Kurasa kau benar.  Sebaiknya aku pergi mencarinya sebelum dia memangsa semua di sini. Apa yang kupikirkan tadi ketika memutuskan mengajaknya ke sini?  Seharusnya aku mengajak orang lain. Aku mencarinya dulu,” Minhyuk berbalik dan berjalan pergi sambil menggerutu pelan.

Nana melirik Chanyeol sekilas dan  menunggu laki-laki itu menanyakan sesuatu. Tetapi ketika Chanyeol ingin berbicara.

“Mau berdansa denganku?” ucap Baekhyun tiba-tiba.

Alis Nana terangkat kaget. “Denganmu? Apa kau bisa?”

“Ya, aku memang tidak tahu apa-apa soal tarian, tapi aku jelas tahu cara menari dan aku ingin merasakan menari dengan penari handal,” ucap Baekhyun.

Nana tersenyum kecil. “Kalau begitu, baiklah. ayo kita lihat kemampuanmu menari, Lizzy, aku pinjam Baekhyun”

Oh,

“Chanyeol-ssi, aku pinjam Nanamu sebentar,”

Ne,”

Seulas senyum cerah tersungging di bibir Nana. “Aku akan segera kembali,” katanya sebelum dia membiarkan Baekhyun menariknya ke tengah-tengah ruangan tempat beberapa pasangan mulai berdansa mengikuti irama musik. Chanyeol mengamati wajah Nana dengan seksama.

.

Bukan untuk pertama kalinya Nana berdiri berhadapan begitu dekat dengan laki-laki. Ini juga  sudah pasti bukan pertama kalinya ia menyentuh laki-laki. Tetapi ini  pertama kalinya ia berdiri begitu dekat dengan Byun Baekhyun. Ini pertama kalinya ia meletakkan sebelah tangannya di bahu Baekhyun sementara tangannya yang lain berada dalam genggaman Baekhyun. Nana membasahi bibir dengan gugup, dan ketika tangan kanan Baekhyun meraih pinggangnya dan menariknya lebih dekat, Nana pun hampir lupa cara bernapas.

Demi Tuhan!! kendalikan diri, Nana

Lagu itu berakhir dan orang-orang bertepuk tangan. Nana menurunkan kedua tangannya dan mundur selangkah, memberi jarak di antara mereka.

“Kau ingin berdansa denganku Nana-ssi?”

Aish, setelah kalian mengetahui aku adalah penari yang handal, kalian jadi ingin berdansa denganku?” omel Nana pada Chanyeol dan temannya. Namun hanya sebuah tawa yang mereka balas.

“Kau akan tercengang,” gumam Chanyeol sambil tersenyum lebar dan meraih tangan Nana,  menuntunnya ke lantai dansa.

“Baiklah, baiklah” Nana pun pasrah.

Getaran hangat kembali menjalari tangan Nana. Ia selalu merasakannya setiap kali Chanyeol menyentuh lengannya atau menggenggam tangannya. Tetapi dia mengenyahkan perasaan itu. “Tolong jangan injak kakiku,”

Kemudian Chanyeol mulai bergerak dan Nana mendapati dirinya mengikuti gerakan Chanyeol dengan mudah. Tangan Chanyeol yang menggenggam  tangannya terasa hangat. Tangannya yang lain  yang  menempel di punggungnya juga mengirimkan getaran hangat menjalari sekujur  tubuhnya. Jantungnya berdebar begitu keras dan ia hampir tidak berani mendongak menatap wajah Chanyeol. Nana merasa begitu nyaman sampai harus berusaha keras mencegah dirinya menyandarkan dagu di bahu Chanyeol.

Ini menyenangkan! Ada apa ini?

Pikir Nana sambil memejamkan mata. Menyenangkan, tapi berisiko. Nana menghela napas dalam-dalam. Untuk mengendalikan pikirannya yang mulai ke mana-mana. Ia  tidak  bisa mengambil resiko saat ini.

“Kau  tidak ingin bertanya kepadaku kenapa aku bisa begitu akrab dengan penari sekelas Park Kahi?”  tanyanya kepada Chanyeol. Karena ia yakin laki-laki itu pasti penasaran.

Chanyeol mengangkat bahu dan memutar Nana dengan pelan.  Ketika Nana kembali dalam pelukannya. “Minhyuk sudah bertanya dan kau sudah menjawab. Walaupun tentu saja kau tidak benar-benar menjawab dan bukan itu jawaban yang sebenarnya,”

Nana hendak membuka mulut untuk membantah, tapi Chanyeol menyelanya. “Tapi kurasa kau punya alasan sendiri kenapa kau tidak  mau atau lebih tepatnya,  belum mau mengatakan yang  sebenarnya,”

Nana mendongak menatap Chanyeol. Yang dikatakan Chanyeol memang benar dan Nana kaget ketika menyadari laki-laki itu mengenal dirinya dengan baik.

“Jadi aku tidak akan mendesakmu,” lanjut Chanyeol sambil menunduk menatap Nana. Seulas senyum samar tersungging di bibirnya. “Kau akan mengatakannya kepadaku saat kau memang  ingin mengatakannya kepadaku,”

Nana menghela napas lega karena Chanyeol tidak mendesaknya menjelaskan segalanya. “Gomawo,” gumamnya lirih.

“Tapi ada satu hal yang harus kutanyakan?” tanya Chanyeol yang membuat Nana menegang kembali.

Mwo?”

“Siapa Seho?”

Seulas senyum samar tersungging di bibirnya. “Teman serta kakak yang sangat baik. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Aku jadi ingin tahu bagaimana kabarnya sekarang,”

“Kalian tidak berhubungan setelah kau mengundurkan diri??” tanya Chanyeol

Nana menggeleng dan tersenyum menyesal. “Tentu saja tidak, dia sudah ku anggap seperti kakakku. Selama ini mereka  di Jepang, sedangkan aku tetap di Seoul setelah mengundurkan diri. Kurasa kami hanya terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing,”

“Tapi kenapa kau mengundurkan diri?”

“Itu––” Nana mendongak dan tersenyum samar kepada Chanyeol. “Ceritanya panjang. Akan kuceritakan lain kali,”

Sebelum Chanyeol sempat berbicara, lagu pun terhenti. Nana melepaskan genggamannya. “Aku lelah.”

“Baiklah, kau bisa beristirahat,”

Nana pun meninggalkan Chanyeol sendiri dan kembali pada teman-temannya. Ini memang gila, tetapi Chanyeol merasa kehilangan. Berusaha menutupi perasaannya  yang aneh.

 “Oppa, annyeong,

Chanyeol yang mendengar suara yang sudah tidak asing baginya menoleh dan menatapnya sambil tersenyum lebar. “Krystal,” Chanyeol memandang ke kiri dan ke kanan. “Dimana Minhyuk? Kulihat tadi dia sedang mencarimu?”

Krystal mengibaskan sebelah tangannya. “Oh, dia sudah berhasil menemukanku. Kemudian dia diculik oleh wanita tua genit yang memaksanya berdansa dengannya. Kasihan dia tidak bisa melarikan diri,” Chanyeol hanya tertawa, dan sekilas melihat Nana yang diam-diam meneguk pil yang baru saja ia keluarkan dari tabung kecil.

“Kau ingin berdansa denganku?” ucap Krystal menyadarkan Chanyeol.

Chanyeol memicingkan matanya dan tampak berpikir sejenak. Raut wajah memelas dari Krystal mengharuskan Chanyeol mengatakan; “Baik lah”

.

Tbc

.

  • Misteri demi misteri akan segera terungkap.
  • Gidarijuseyo ❤

34 tanggapan untuk “[Chaptered] You Don’t Know Play Ur Love [Chapt. 15]”

  1. huft akhirnya kekejar juga sampe chapter ini ampun dah gua bacanya ampe lupa waktu saking serunya gua cuma bisa bilang

    lanjut say makin penasaran nih gua hehehe….

    yang semangat ya Acu nerusin epep nya /peluk cium buat Acu hehehe…

    #FIGHTING…

  2. alohaaaa~~
    eciee yg makin kesini makin banyak rahasia nya…
    eciee.. Nana jga main rahasiaan sama penyakitnya..
    hahaha…
    eh eh eh.. gak ada gaeun sehun moment lagi ya?? mwahaha

    sepertinya kamu pinter bgt ya menguak rahasia sebuah crita secuil demi secuil.. bikin greget tau..
    chingu ya~~ sepertinya kemampuan kamu membuat interaksi antara cast jg makin berkembang~~~
    aku suka.. *sambil agyeo
    itu sajaa.. keep writing chigu..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s