[Chaptered] You Don’t Know Play Ur Love [Chapt. 31]

You Don’t Know Play Ur Love

Acu present

Cast [EXO] Park Chanyeol – Byun Baekhyun – Xiu Luhan – Oh Sehun || [Afterschool] Nana – Lizzy – Eyoung – Gaeun || Others

Genre Romance – Sad – Hurt – AU – Friendship – Drama – Family – Angst

Length Chapter [1] – [2] – [3] – [4] – [5] – [6] – [7] – [8] – [9] – [10] – [11] – [12] – [13] – [14] – [15] – [16] – [17] – [18] – [19] – [20] – [21] – [22] – [23] – [24] – [25] – [26] – [27] – [28] – [29] – [30] – [31]

Rating PG15

Disclaimer I Just own the storyline

.

“Cinta yang terluka tetaplah cinta”

**

Nana berdiri mematung di sebelah mobil Lizzy tepat di depan gedung yang bertingkat 25 itu. Matanya menyipit ketika ia mendongakkan kepalanya membaca nama gedung tersebut.

Lizzy keluar dari mobil dan melihat Nana yang kebingungan. “Kenapa berdiri saja di situ, ayo masuk.” ketika Lizzy ingin menapakkan langkahnya––

“Tunggu.” ––Nana menghentikan langkah Lizzy. Ia melirik ke arah Lizzy. “Hotel? Sejak kapan hotelmu  menyiapkan toko khusus kado?”

Lizzy tertawa. “Hya,” ketika tawanya mereda, Lizzy kembali melanjutkan ucapannya. “Baiklah, kita ke sini untuk membooking tempat ini.”

Ye?” Nana mengalihkan pandangannya ke arah gedung bercat silver yang tepat berdiri kokoh di hadapannya itu. “Untuk pernikahan kalian? Seharusnya yang kau ajak adalah Baekhyun, bukan aku,” gerutu nana.

No––No,” Lizzy menggelengkan kepalanya. “Ini bukan untuk pernikahanku kelak. Melainkan untukmu.”

Nana menoleh ke arah Lizzy. “Naega?”

Ehem,” Lizzy mengangguk samar. “Jangan terlalu sibuk bekerja, dua hari lagi ulang tahunmu dan Jongsuk oppa, dan kami sudah sepakat untuk merayakannya di sini. Inilah kado kami untukmu.”

Ye?”

“Dan lusa kau bisa libur, aku juga sudah membicarakannya dengan Yifan Oppa.” Lizzy menyengir kuda.

Mwo?” Nana memejamkan matanya dan menggelengkan kepalanya. “Ya!” Nana memelototi Lizzy. “Aku masih anak magang.” Nana mendecak kesal.

“Aku tidak peduli, yang jelas kau sudah diijinkan dan harus menyetujui itu. Jika tidak––”

MwoMwoMwoMwo?” potong Nana dengan cepat dan dengan nada yang kesal.

“Tidak ada. Haha. Kajja, waktu kita tidak lama.” Lizzy mendekati Nana dan menyeretnya dengan paksa. Nana hanya pasrah-pasrah saja diseret oleh sahabatnya itu.

.

~

.

Nana terlihat sangat bosan.

Lizzy melirik Nana yang sedang memandangi sebuah lukisan karya Leonardo Da Vinci tanpa ekspresi. Mereka sudah tiga puluh menit berada di hotel itu. Nana sudah cukup sabar menemaninya. Berusaha untuk tidak mengeluh sedikit pun. Lizzy memutuskan untuk tidak memperpanjang penderitaan Nana.

.

“Menyebalkan?” Tanya Lizzy ketika mereka sudah di dalam mobil dan perjalanan mengantar Nana kembali ke rumah sakit.

Nana menoleh ke arah Lizzy dan tersenyum kecut. “Bukan Park Lizzy, jika tidak melakukan hal yang menyebalkan.” Lalu ia mengangkat bahu.

“Oh, ayolah, jangan seperti anak kecil begini.” Lizzy terus berusaha merayu Nana.

Tsk,” Nana melirik Lizzy sekilas dan tersenyum singkat. “Siapa yang seperti anak kecil?”

Lizzy mengangkat bahu.

.

~

.

“Ingat, lusa jangan lupa, kau sudah kami booking.” Kata Lizzy seraya memperingatkan Nana untuk tidak bekerja terlalu keras.

Ne, arayo, Park Lizzy-ssi.” Balas Nana sambil menundukkan dirinya untuk melihat Lizzy yang berada di dalam mobil. Lalu ia melambai kepada Lizzy dengan senyum yang mengembang. Setelah Lizzy berlalu pergi, Nana dengan segera masuk ke dalam rumah sakit.

Tepat pada saat itu juga, baru saja Chanyeol akan membelok memasuki sebuah koperasi rumah sakit, langkah kakinya terhenti. Matanya terpaku pada punggung Nana yang sedang berjalan santai memasuki gedung rumah sakit itu. Ia menoleh ke belakang melihat Seomin lalu kembali menoleh ke arah Nana lagi.

Sekarang, yang hanya kau lakukan adalah menarik perhatiannya seperti dulu. Aku tahu kau mampu. – Baekhyun.

“Nana.”

Nana menoleh, mata coklat yang menatap Chanyeol itu melebar sedikit, lalu kecemasan yang sempat berkelabat di sana sedetik langsung menghilang. Kenapa laki-laki ini tiba-tiba memanggilnya? Apa yang diinginkan laki-laki ini?

Nana melihat ke sekililingnya, lalu beralih kelekukan sikunya–di mana tangan Chanyeol masih memegang lekukan sikunya. Chanyeol pun langsung melepaskan tangannya dari lekukan siku Nana.

Choesonghamnida.”

“Ya?”

Uhm, apa kau tidak sedang sibuk?”

“Tidak. Ada apa?”

“Aku ingin meminta bantuan. Bisa kau temani Seomin, sementara aku membeli makan? Aku benar-benar tidak bisa meninggalkannya sendirian. Karena dia bilang, kepalanya masih sedikit sakit.”

Nana menoleh ke kanan dan mendapatkan Seomin yang tidak berada jauh dari pandangannya, sedang duduk sendiri. Lalu, kembali ke arah Chanyeol yang sudah menatapnya dengan penuh harap.

.

Beberapa menit kemudian, Nana menghampiri Seomin. “Hai.”

Seomin mendongakkan kepalanya dan melihat sosok Nana yang sudah berdiri kaku di sampingnya.

“Hai, Yoon Seomin.” Sapa Nana lagi dan duduk di sebelah Seomin.

Seomin terus menatap Nana dengan heran. Mata bulatnya tak lepas dari wajah Nana. Bahkan untuk mengedip satu detikpun ia tidak mau. Ia terus menatap Nana.

Nana mengayunkan tangannya di depan wajah Seomin. Namun gadis itu tetap tidak mengedipkan matanya. Nana pun sedikit heran. “Ah, kau pasti bertanya-tanya siapa aku?” Nana mengulurkan tangannya. “Aku Nana, dokter di sini dan hampir menanganimu.”

“Hampir?” Seomin membuka suaranya. Lalu ia mengalihkan tatapan dari tangan Nana ke wajah Nana.

Nana tersenyum sembari menarik tangannya kembali. “Apa kau sudah merasa baik?” Nana terus berbicara untuk mengalihkan keheranan Seomin.

Ne.” Seomin mengangguk kecil, tatapannya tidak lepas dari wajah Nana.

“Apa kau keberatan jika kutemani?”

Aniyo.” Seomin membuat sesimpul senyuman dari wajahnya. “Aku malah berterimakasih, karena anda sudah mau menemaniku.” Seomin terus menatap Nana.

“Kenapa kau terus menatapku seperti itu?” Tanya Nana. Ia tidak terlihat risih, hanya penasaran.

Aniyo, aku hanya merasa pernah melihat anda, ssaem?”

“Aku juga merasa pernah melihatmu, Seomin. Hehe.” Nana tersenyum. “Dua atau tiga hari yang lalu, di sebuah restoran. Restoran PLO.” Lanjut Nana.

Jinjjayo? Jadi ssaem berteman juga dengan Chanyeol oppa?” Seomin memiringkan kepalanya.

“Tidak, hanya sekedar kenal saja.” Kata Nana setelah ia berhasil mengendalikan keterkejutannya akan pernyataan gadis itu.

“Aku merasa, ini sudah sangat lama. Jamsimannyo.” Seomin mengangkat tangan sementara ia memejamkan mata.

Nana memperhatikannya dengan bingung.

“Ayo..ayo..ayo kau ingat Seomin.” Seomin tiba-tiba menjetikkan jarinya. “Ah, aku ingat,” tapi kemudian ia meletakkan jari telunjuknya di bibir dan memperhatikan Nana dengan seksama, sekali lagi. Sedangkan Nana masih menatapnya dengan ekspresi heran juga penasaran.

“Nana. Aku pernah mendengar nama itu. Tapi aku takut salah orang. Jika dilihat-lihat, anda seperti gadis yang berada dalam foto yang disimpan oleh Chanyeol oppa. Tapi sedikit ada perubahan. Ah,” Seomin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Kenapa aku jadi ragu?!”

Nana membulatkan kedua matanya dengan sempurna. Terkejut mendengar foto dan nama Chanyeol. “Ah, lupakan saja. Sudah berapa lama kau duduk di sini?” Tanya Nana. Berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Belum lama.” Seomin melirik ke arah Nana dengan ragu. “Anda, tidak akan menyuruhku masuk ‘kan, Ssaem?”

Naega wae? Aku tahu, bau obat yang berada di rumah sakit tidaklah menyenangkan, bukan?” Nana mengusap rambut Seomin pelan. Lalu mendesah pelan. “Udara memang sangat bagus, sayang jika dilewati.”

Majjayo.” Seomin memejamkan mata dan menarik napas panjang.

Chanyeol datang dengan beberapa roti dan secangkir minuman.

“Maaf, membuat kalian menunggu lama.”

Nana dan Seomin mendongakkan kepalanya dan melihat Chanyeol.

“Kenapa oppa lama sekali?” gerutu Seomin. “Untung saja ada Nana Ssaem yang menemaniku.” Seomin memandang Nana tersenyum lebar.

Chanyeol tersenyum tanpa melihat Nana maupun Seomin. Tapi Nana melihat senyumnya yang membuat Nana penasaran.

“Kalau begitu, aku permisi dulu. Karena aku harus kembali bekerja, dan kau, segera kembali ke kamarmu, karena kau juga harus menjalani pemeriksaan. Aratchi.” Nana berdiri dan mengusap-usap kepala Seomin. Nana membungkukkan tubuhnya ketika ia dan Chanyeol saling lihat. Nana berbalik, tapi sepertinya ia melupakan sesuatu. Lalu ia berbalik lagi.

“Oh, iya,”

Seomin dan Chanyeol menoleh ke belakang, ke arah Nana.

“Lusa, apa kalian bisa datang ke pesta ulang tahunku?” Nana mengeluarkan secarik kertas dan pulpen dari dalam tasnya. Ia menulis alamat tempat dilangsungkannya pesta ulang tahun itu, kemudian menyerahkannya kepada Chanyeol. “Ini alamatnya. Aku harap kalian berdua bisa datang.”

Seomin merebut kertas itu dari tangan Chanyeol dan membaca tiap-tiap kata dari kertas itu. “Oppa, kita harus datang.” Paksa Seomin. “Unnie, UpsSsaem, gomawoyo.” Seomin mengayunkan kertas dari Nana tadi.

“Kalau begitu, sampai jumpa lagi. Senang bisa berkenalan denganmu, Seomin.”

.

** You Don’t Know Play Ur Love **

.

Beberapa orang memasuki hotel berbintang lima tersebut. Chanyeol masih berdiri mematung di depan gedung tersebut. Pemuda itu sangat terlihat tampan dan rapi. Sepertinya pesta ini sangat meriah. Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Chanyeol dari belakang. Chanyeol menoleh ke belakang.

Oh, Baekhyun?” Chanyeol tersentak kaget.

Oh, benar, aku hampir lupa mengundangmu, OppaAigoo, apa Baekhyun yang memberitahumu?” Tanya Lizzy yang baru keluar dari mobil dan mendekati Chanyeol dan Baekhyun.

Naega?” Baekhyun menunjuk dirinya sendiri. “Ani, aku juga tidak memberitahunya?”

“Lupakan saja, ayo kita masuk.” Chanyeol melirik jam di tangannya. “Bukankah acaranya akan segera dimulai?”

“Benar, ayo kita masuk.”

.

~

.

Ketika mereka sudah berdiri di dalam hall yang lumayan luas itu, seorang pramusaji yang berkeliling menawarkan mereka sampanye dan anggur. Baekhyun dan Chanyeol masing-masing mengambil satu gelas anggur.

“Baekhyun, aku ke sana dulu.” Tunjuk Lizzy ke arah Ayah dan Ibunya yang juga hadir. Baekhyun mengangguk dan mempersilahkan sang gadis.

Sekarang hanya tinggal Baekhyun dan Chanyeol. Mereka berdiri memandang Nana yang sedang berdiri sambil memegang segelas anggur dan tengah bercakap-cakap dengan seorang pemuda.

“Malam ini dia sangat cantik,” gumam Baekhyun kepada Chanyeol.

“Dia selalu terlihat cantik dan anggun.” Sahut Chanyeol.

Baekhyun mengalihkan atensinya ke arah Chanyeol. “Mungkin kau benar.”

Nana menoleh ke arah lain dan tidak sengaja pandangan matanya bertemu dengan Chanyeol dan Baekhyun. Lalu ia dengan sopan berpamitan dengan pemuda itu. Ia menghampiri tempat Chanyeol dan Baekhyun. Langkahnya begitu anggun dengan rambut yang tergerai indah dan postur tubuh yang proposional dengan balutan gaun cream yang dirancang khusus untuknya. Beberapa orang tersenyum padanya dan membukakan jalan untuknya. Nana tersenyum pada mereka satu persatu. Sangat anggun, sangat karismatik. Hingga ia sampai di depan Chanyeol dan Baekhyun. Chanyeol tidak sanggup menahan debaran jantungnya, penampilan Nana membuatnya merasa kagum campur tegang.

Wasseo?” Sapa Nana kepada Chanyeol dan Baekhyun.

Ne,” Chanyeol dan Baekhyun tersenyum kepadanya.

“Lizzy di mana?” Nana mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Lizzy. Tepat pada saat itu, Lizzy melambai pada mereka dari kejauhan.

“Kalau begitu, aku menghampiri calon istri dan mertuaku dulu.” Kata Baekhyun sambil cengingisan. Tanpa menunggu jawaban dari Chanyeol maupun Nana, ia langsung menghampiri Lizzy.

Nana menoleh ke arah Chanyeol yang sedang berusaha menutupi ketegangannya. “Kau sendiri? Seomin?”

“Ah. Dia tidak bisa hadir. Karena ia ada tugas kuliahnya. Mahasiswi baru.” Chanyeol tersenyum.

Geurae.”

“Tapi,” Chanyeol merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih yang dihias dengan cantik. “Ia menitipkan ini.” Chanyeol memberinya kepada Nana.

Nana mengambil alihkan amplop yang berkhias lucu itu. “Gomawo. Apa aku boleh membukanya sekarang?”

“Terserah kau saja.”

Nana membuka amplop itu, lalu mengambil kertas lipat berukuran sedang berwarna merah muda. Sebelum membaca isi kertas itu, ia mengambil sesuatu lagi di dalam amplop itu. Sebuah gelang perak mungil yang berhiaskan hati dan matahari indah sekali.

“Ingin kupasangkan di pergelanganmu?” Tawar Chanyeol.

Uhm,” Nana sedikit berpikir. Ia melihat pergelangan tangannya sudah ada gelang. Tiba-tiba. “Sebentar.” Nana membuka gelang yang berada di pergelangan sebelah kanannya. Tapi sepertinya ia kesulitan untuk membuka gelang itu.

“Perlu bantuan?” Tawar Chanyeol lagi.

Nana tampak berpikir lagi,  membuat Chanyeol gemas tidak sabar. Dengan santai, pemuda itu menggapai pergelangan tangan Nana, membantunya melepaskan gelang pertamanya dan memasangkan gelang dari Seomin.

“Terlihat cantik di tanganmu.” Chanyeol melepaskan tangan Nana dan tersenyum gugup.

Oh?” Nana memperhatikan gelang Seomin yang sudah berada di pergelangan tangan kanannya, lalu ia berniat membaca isi kertas lipat dari Seomin.

Saat Nana membuka kertas itu, pertama-pertama yang ia lihat adalah sebuah foto. Dengan seperkian detik Nana langsung menutup kembali kertas itu. Ia tiba-tiba merasa ada sesuatu yang menegang di dadanya. Chanyeol menatap Nana dan mengamati gadis itu dengan kening berkerut samar.

“Apa? Ada apa?” Tanya Chanyeol ketika melihat mata Nana melebar pada kertas dari Seomin. Chanyeol hendak mengambil alih kertas lipat berwarna pink tadi. Namun dengan cepat Nana memasukkan kertas itu kembali ke dalam amplop.

Aniyo, ini kadoku, jadi ini rahasia.” Kata Nana. Chanyeol menatap Nana dengan cara membuat Nana agak sedikit resah.

Seorang undangan permisi lewat, Nana memberinya jalan. Harum parfum lembut Nana langsung membius Chanyeol saat gadis itu mendekat padanya. Mereka nyaris bersentuhan. Tapi Chanyeol segera mundur.

“Nana.” Kibum menghampiri Nana dengan wajah cemas. “Kau di sini rupanya. Ayo, sudah saatnya kau potong kue. Semuanya sudah hampir mati kelaparan, termasuk aku.”

“Astaga, aku hampir lupa.”

“Nana Chingu, aku pinjam Nananya dulu, kau tidak keberatan, bukan?”

“Tentu.” Sahut Chanyeol.

.

Nana maju ke depan bersama Kibum dan dalam sekejap saja semua undangan bertepuk tangan riuh menyambutnya. Nana mengedarkan senyumnya ke seluruh tamu undangan. Setelah memotong kue ulang tahunnya. Sena, kakak ipar Nana berseru ketika ia selesai disuapi sang suami kue ulang tahun.

“Untuk kue pertama, apa ada seseorang yang spesial untuk kau suapi?” Katanya jail.

Ye?” Nana menyipitkan mata ke arah Sena. “Unnie, Neon…” gumam Nana pelan.

“Benar. Apa ada?” Kibum ikut menimpalinya.

Nana merasa malu, lalu ia mendekati Kibum, dan menyuapi kue ke mulut pemuda itu.

Mwoya?” tanya  Kibum pelan sambil mengunyah kue itu.

Nana mencibir dan berbisik. “Aku melakukan itu agar mulut cerewetmu itu berhenti berbicara. Aigoo.”

Lalu Nana menoleh ke arah Jongsuk.

“Tentu orang yang sangat spesial malam ini adalah, Oppa-ku.” Nana memasukan kue ultah ke mulut Jongsuk, lalu ia memeluk Jongsuk dan dibalas dengan Jongsuk. “Selamat ulang tahun untuk kita berdua.” Sedetik kemudian Nana melemparkan pandangannya ke arah Chanyeol. Entah kenapa ia tiba-tiba ingin mendelik ke arah pemuda itu.

Sepasang kekasih mendekati tempat Nana berpijak. Dan ketika melihat sepasang kekasih itu, Nana langsung membungkukkan tubuhnya.

Oh, Profesor Wu, Yujin SunbaeAnnyeonghaseyo.”

“Sepertinya kami terlambat. Hehehe. Selamat ulang tahun, Nana.” ucap Wu seraya memeluk Nana dan bergantian dengan Yujin.

“Selamat ulang tahun, Nana.”

Ne, Gomawoyo, Sunbae.”

“Aku tidak membawa kado.” Kata Profesor Wu. “Sebagai gantinya, aku  mengijinkanmu cuti.” Prof. Wu menjetikkan jarinya di dahi Nana.

Oppa,” Nana menutup dahinya dengan tangan dan mencibir kecil,

Oppa?” Ulang Wu yifan.

Wae? Ini bukan rumah sakit.” sahut Nana, lalu Jongsuk datang-datang langsung memukul lengan Wu Yifan.

“Apa yang kau lakukan pada adikku, Oh?”

Yifan tertawa dan mengelus-elus pergelangannya. “Ah, Mian.”

Oh, Sunbae, ayo ikut aku. Jika sunbae ikut gabung dengan mereka, aku yakin sunbae akan dianggap sebagai patung. Kajja.” Nana menarik tangan Yujin.

.

** You Don’t Know Play Ur Love **

.

Ketika Nana sedang asik mengobrol dengan Yujin, tiba-tiba Baekhyun menepuk bahu Nana dan merentangkan kedua tangannya.

“Tidak sekarang, Baekhyun. Kau tidak lihat aku sedang mengobrol dengan sunbae-ku.”

Aniyo, Gwanechana.” Sahut Yujin

“Kau dengar? Noona, kau memang sangat mengerti itu. Ayolah, semua sudah memulai.” Baekhyun sudah memasang wajah memelasnya.

Sunbae, maaf aku harus meninggalkanmu.” Nana langsung menggapai kedua tangan Baekhyun, lalu mereka ikut bergabung dengan orang-orang yang sudah mulai berdansa.

.

“Nana memang pandai berdansa.”

Chanyeol menoleh ke arah Kibum yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingnya. Ia mengikuti arah pandang pemuda itu dan matanya terpaku pada sosok Nana dan Baekhyun yang sedang berdansa mengikuti irama musik. Gerakan mereka sangat tepat dan anggun.

Musik dansa berganti, dan beberapa pasangan dansa mengganti pasangan mereka, dan setiap per dua menit musik dansa berganti. Sekarang Nana sudah berada di lekukan tangan Luhan.

“Sepertinya kita harus ikut.” tanpa aba-aba, Kibum langsung menyeret tangan Chanyeol.

Chanyeol memberontak menolak ajakan Kibum, tapi Kibum pemuda keras kepala dan suka seenaknya saja terus menyeret chanyeol, hingga mereka berdiri di tengah-tengah lantai dansa. Kibum sudah menemukan pasangannya. Sedangkan Chanyeol berdiri kaku di tengah-tengah mereka. Musik berganti, dan Eyoung berdiri di hadapannya.

Oh, Oppa.” Eyoung menggapai tangan Chanyeol dan mengajak tubuh Chanyeol juga berdansa. “Jangan kaku begitu, nikmati saja, ini mengasyikkan.”

Chanyeol hanya tersenyum kepada eyoung, dan perlahan tubuhnya ikut menikmati irama musik. Dua menit berlalu Chanyeol memutarkan tubuh Eyoung. Eyoung berputar-putar dan tidak tahu akan berhenti di depan siapa, dan Chanyeol pun tidak akan tahu tangan siapa yang akan dia gapai selanjutnya.

Chanyeol menjadi bingung sendiri, ia berbalik dan mendapatkan Nana sudah berhadapan dengannya. Kaku? Tentu. Tapi mereka berpikir ini hanyalah sebuah hiburan. Chanyeol meraih pinggang kecil Nana, dan Nana mengaitkan jari-jarinya di cela-cela jari chanyeol. Dan tangan satunya lagi berada di pinggang Chanyeol. Nana menundukkan kepalanya, sedangkan chanyeol terus menatap wajah Nana yang sendu.

Mereka bergerak ringan dan gerakan ringan Nana seperti kupu-kupu dipagi hari. Kemudian Chanyeol memutar Nana beberapa kali dan ketika ia menarik Nana kembali ke dalam pelukannya, Nana menengadahkan kepalanya. Nana dan Chanyeol saling merasakan tubuh mereka menegang dengan hebat.

.

Duh, tbc XD

.

 

28 tanggapan untuk “[Chaptered] You Don’t Know Play Ur Love [Chapt. 31]”

  1. Tbc itu anak mana thor? Anak kampung sebelah ya? Kok sering main2 ke kampung kita sih -_-
    Dududuu…. lg ada sweet2nya eh di tbc -_- feelnya dpt thor, asli deg2an sndri bacanya.. yuhu yuhuu kibum asik juga trnyta 😀 yoo monggo di lanjut thor, dibikin panas adegannya biar readers pada ngebaper hahaha 😀 words nya juga di panjangin thor. Fighting!!

    1. Iya, anak kampung sebelah, maen ke kampung kita katanya, kampung dy sepi, gak ada hiburan XD

      Hahahaaa, panas? yawdah, ntar dibuat mereka tiba2 dansa di padang pasir /gk gitu, cu/ XD

      Minggu aku post, yaaaaaaaa ❤

  2. akhh klo Yeol yg pnya pacar bisa bisa aku nangisnya ga ketulungan,,,,ini aj masi berasa sedihnya,,kai tlah dumiliki ,,,huhuuuuu

    1. Huhuuhuu,, butuh sandaran? butuh pukpukkan? hehehe, *pukpuk.

      aku juga blm siap Chanyeol pnya pacar, kalo ama mba nana gpp, wkwkwk /dikeplak/

    1. Loh loh loh, perlu pukpuk aku gak, hehehe
      aku bahagia ama kaistal yg akhirnya real, tapi mersa bersalah juga karena banyak Jongin stan yg baper ihik.. XD

      Yeol juga udah mentok ke mba Nana XD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s