[EXOFFI FREELANCE] Shouldn’t Have (Chapter 2)

1425799337152

by bebebaek_

Prolog | chapter 1

Main cast : Park Ae Yeon (oc), Oh Se Hun (EXO)

Addicional Cast : Park Chan Yeol (EXO), Nam Hye Jin (oc),

Kim Ra Ra (oc), Byun Baekhyun (EXO), Song Ji Min (oc)

Kim Jong Dae (EXO)

Genre : family, marriage life, sad, romance

Length : Chaptered | Rating : PG 15

Hasil khayalan murni, Don’t plagiat

“Cerita ini sudah pernah di publish di akun wordpress pribadi bebeb (BABY BEE) https://beebbaek.wordpress.com dengan judul yang sama”

Sorry Typo-.-

.

.

.

Siang hari disaat waktu berjaga Ae yeon diruang rawat anak telah habis dan akan digantikan oleh rekan sesama dokter residennya, Ae yeon pun berjalan menuju ruang istirahat staf. Di dalam ruang istirahat Ae yeon duduk ditepi ranjang berukuran layaknya tempat tidur pasien di rumah sakit.

“Yahh akhirnya bisa istirahat..” kata Ae yeon sembari merentangkan kedua tangannya, dan merebahkan diri diatas kasur.

“Kamjakia, Yakk! Kau mengagetkan ku saja..” kata Ae yeon dengan suara nyaring karena ditempat tidur yang baru saja hendak dia tempati ada seorang wanita berbaring disana dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.

“Yakkk! Apa kau buta tidak meliat diriku sebesar ini sedang berbaring ?” kata wanita itu tak kalah nyaring.

“Mana aku lihat, ruangan gelap seperti ini, lagipula kenapa kau tidak bersuara ?” jawab Ae yeon membela diri.

“Aku sedang tidur, mana bisa bersuara Ae yeon-ah” balas wanita itu gemas.

“hehehe, mian jimin-ah” kata Ae yeon yang akhirnya mengalah.

Ya, song jimin merupakan teman Ae yeon satu kampus dan satu jurusan, sama-sama menjalani residen dirumah sakit Hwangju membuat mereka semakin akrab dan bisa dibilang mereka sudah menjadi sahabat.

“Kenapa kau sepertinya lelah sekali jimin-ah ?” Tanya Ae yeon kepada sahabatnya itu.

“Ya, tentu saja, semalam aku harus berjaga sampai pagi karena sunbae yang seharusnya berjaga setelah jadwalku tidak dapat masuk karena harus menjenguk neneknya yang sakit keras diluar kota” jawab jimin.

“oh begitu, yasudah kau tidur lagi saja” kata Ae yeon sembari berdiri.

“kau mau kemana ? bukankah kau juga ingin tidur ?” Tanya jimin karena meliat Ae yeon yang akan keluar dari kamar istirahat.

“aku mau ke kantin dulu, perutku lapar percuma aku tidur kalau dengan perut kosong tidurku tak akan nyenyak” kata Ae yeon berlalu keluar kamar dan kemudian menutup pintu.

“Ckck dasar” jimin hanya bisa berdecak karena dia sudah hapal betul dengan sifat sahabatnya itu.

.

.

.

“Sehun-ah, apakah kau sudah siap ?” panggil nyonya oh kepada anak semata wayangnya itu.

“yeobo, minta tolong panggilkan sehun kepada bibi song saja, kita tunggu dia mobil” kata tuan oh.

“Ne, yeobo” jawab nyonya oh.

“Bibi song, tolong panggilkan sehun dikamarnya suruh cepat turun aku dan tuan akan menunggu di mobil” kata nyonya oh kepada bibi song, yang kemudian berjalan keluar rumah bersama tuan oh. Bibi song segera menaiki anak tangga menuju kamar sehun, setibanya di depan kamar tuan mudanya itu baru saja bibi song hendak mengetuk pintu kamar sehun, pintu kamar tersebut telah terbuka dan menampakkan seorang namja dengan setelan jas hitam, kemeja putih dan dasi senada bertengger indah di lehernya, Sehun tampak sangat tampan ditambah dengan tingginya yang menjulang dan rambut yang ditata rapi keatas semakin menegaskan aura dingin dalam dirinya.

Baru saja bibi song hendak membuka suara menyampaikan pesan nyonya oh, sehun dengan cepat berkata “aku tau, aku akan turun” dengan wajah datar dan berlalu menuruni anak tangga. Bibi song sudah tidak terkejut lagi dengan sifat tuan mudanya itu, karena selama ini sehun memang terkesan pendiam dan dingin.

Di dalam perjalanan menuju kediaman keluarga kim, sehun hanya diam tanpa ada satu patah kata pun keluar dari bibir tipisnya, Ya itu memang sifat aslinya tidak banyak bicara. Setibanya di kediaman keluarga kim, mereka disambut langsung oleh tuan dan nyonya kim.

.

.

.

“yeobo, apakah rara belum siap juga ? mengapa dia tidak turun ?” Tanya tuan kim kepada nyonya kim.

“Ahh tadi dia sudah siap, mungkin hanya gugup kerena akan bertemu dengan nak sehun” kata nyonya kim yang hanya ditanggapi sehun dengan senyum tipis dibibirnya.

“Aku akan melihatnya keatas sebentar, silahkan nikmati makan malamnya” lanjut nyonya kim sembari berlalu.

Tidak lama kemudian nyonya kim turun dengan di iringi seorang gadis yang mengenakan dress biru laut selutut dan rambut sebahu yang digerai, gadis itu terlihat sangat anggun.

“Omoo ! kau cantik sekali rara-ya” puji nyonya oh.

“Kamshahamnida, eomoni” jawab rara tersipu atas pujian nyonya oh kepadanya.

“Tentu saja, dia berdandan seharian, untuk menyambut kedatangan nak sehun” lanjut nyonya kim.

“Ahh eomma..” kata rara malu atas kalimat yang baru saja di lontarkan oleh eommanya.

Sementara semua orang yang berada diruang makan tertawa, sehun hanya diam dan mengaduk aduk supnya, bahkan setelah kedatangan rara diruang makan sehun baru sekali menatapnya.

Setelah acara makan malam selesai keluarga kim menyuduhkan teh kepada keluarga oh diruang tengah rumah mereka. sementara tuan kim dan tuan oh berbicara tentang bisnis mereka, nyonya kim dan nyonya oh tengah asik membahas barang-barang dan perhiasan bermerek yang menarik perhatian. Sehun hanya diam dipojok ruang tengah tersebut memandang ke luar jendela yang menampilkan pemandangan taman rumah keluarga kim dimalam hari.

Tanpa sehun sadari sepasang mata tengah mengamatinya dan terus saja memperhatikannya hingga akhirnya orang itu berjalan menuju ketempat sehun duduk sekarang.

“Indah bukan bulannya ?” kata rara, ya rara sedari tadi memang selalu memperhatikan sehun.

“Hhmmm..” jawab sehun hanya dengan gumaman.

“Kau memang sangat dingin tuan oh sehun, ternyata gossip yang ku dengar tentangmu tidak salah” kata rara sembari mengambil tempat duduk tepat disamping sehun.

Mendengar perkataan rara, sehun hanya diam.

“Ahh kita belum berkenalan, perkenalkan namaku rara, Kim Ra Ra” lanjut rara mengulurkan tangan.

“Oh Se Hun” jawab sehun singkat sembari menyambut uluran tangan rara.

Melihat kelakuan sehun yang kelewat dingin itu rara hanya tersenyum manis kemudian kembali bersuara “Mengapa kau menyetujui perjodohan ini sehun-ssi ?” Tanya rara tiba-tiba setelah beberapa saat lalu hening.

“Tidak ada yang bisa ku lakukan, ini memang sudah diatur” jawab sehun.

“ckck, kau benar kita memang tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti permainan mereka” kata rara membenarkan perkataan sehun.

Sementara sehun dan rara mulai membuka percakapan, kedua orang tua mereka memperhatikan mereka.

“Sepertinya mereka mulai saling mengenal” kata nyonya kim.

“Ya, itu bagus karena uri sehun sangat kaku” jawab nyonya oh.

“Kau tenang saja nahyuna, uri rara sangat pandai mengambil hati” kata nyonya kim meyakinkan nyonya oh.

“Ne, sepertinya mereka akan cepat akrab” lanjut tuan kim kali ini yang mengajukan pendapatnya.

“Akhh semoga saja” jawab tuan oh menimpali.

.

.

.

Pagi ini setelah sukses tekejut karena melihat jam telah menunjukkan pukul 10:03 yang artinya Ae yeon sudah terlambat untuk pergi menemui professornya. Hari ini Ae yeon memang tidak ada jadwal berjaga dirumah sakit hanya saja dia harus menyerahkan laporannya kepada professor ahn yang merupakan professor pembimbingnya, professor ahn terkenal sangat disiplin akan waktu dan akan mengoceh selama 24 menit apabila mahasiswa beliau terlambat walau hanya 1 detik.

Setelah bersiap dengan terburu-buru, Ae yeon segera berangkat menuju rumah sakit, dia tiba dihalte bus yang akan membawanya ke halte yang tidak jauh dari rumah sakit. Setibanya di halte tersebut Ae yeon segera turun dan berlari menuju rumah sakit. Tepat ditengah penyeberangan jalan Ae yeon menabrak seorang namja yang berjalan kearah yang berlawanan. Semua berkas laporan miliknya berserakan dijalan, Ae yeon masih memiliki keberuntungan karena lampu jalan masih belum hijau, dia segera memungut kertas-kertas laporannya lembar demi lembar, tanpa Ae yeon perhatikan ternyata namja yang di tabraknya tadi ikut membantu memungut berkas laporannya.

Tepat sebelum lampu penyemberangan berganti menjadi hijau acara memungut kertas mereka selesai, namja tadi menyerahkan hasil pungutannya kepada Ae yeon yang disambut Ae yeon dengan cepat, karena merasa panik Ae yeon tak sengaja menggenggam tangan namja yang menyerahkan berkas tersebut. Setelah beberapa saat mematung Ae yeon tersadar dan segera melepas genggaman tangannya dan mengambil berkas-berkasnya.

“Kamshamnida, mian aku tadi buru-buru” kata Ae yeon meminta maaf kepada namja yang di tabraknya tadi.

Belum sempat namja itu membalas ucapan Ae yeon, Ae yeon segera berlari kembali setelah sebelumnya berucap “Sekali lagi maafkan aku, aku sangat terburu-buru sekarang, dan juga terima kasih atas bantuannya”.

Namja tadi hanya terdiam ditempat menyaksikan Ae yeon yang tengah berlari kencang menuju rumah sakit, tidak lama kemudian dia tersenyum.

“Bukan kah gadis itu, gadis yang ku lihat di caffe tempo hari” kata sehun setelah beberapa saat mengenali wajah Ae yeon, gadis yang menabraknya tadi.

Sehun kembali terdiam dan memandang tangannya yang baru saja di genggam oleh gadis tadi, dia kembali tersenyum ada perasaan aneh didalam hatinya perasaan yang tidak dia kenali dan bahkan baru dia rasakan. Rasanya seperti dia tengah berada dimusim semi dengan kehangatan menjalar disekujur tubuhnya dan aroma bunga-bunga yang bermekaran.

.

.

.

Wajah nyonya park seketika berubah serius setelah mendengar beberapa kalimat dari seberang telepon yang tersambung dengannya.

“Ne, eommoni nanti akan ku sampaikan kepada Ae yeon appa”. Kata nyonya park masih berbicara dengan orang diseberang telepon yang merupakan ibu dari ayah Ae yeon _Park Chan Seul.

“Ingat ya, ini harus dilaksakan karena ini merupakan wasiat almarhum ayah chanseul sebelum meninggal” kembali nenek park berujar.

“Tapi kenapa baru diberitahukan kepada kami eomma ?” Tanya nyonya park.

“Ahh itu, karena dulu Ae yeon masih terlalu muda, sekarang dia sudah berusia 21 tahun kurasa saat ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahunya” jawab nenek park.

“Begitu eomma, baiklah. Aku tutup ne” kata nyonya park kemudian mematikan sambungan telepon setelah mendapat persetujuan dari nenek park.

.

.

.

“Bagaimana yeobo ? apakah kita harus memberitahukan sekarang kepada Ae yeon?” Tanya nyonya park kepada suaminya.

“kalau memang seperti itu, kita memang harus memberitahunya, lebih cepat lebih baik” jawab tuan park.

“Baiklah, setelah makan malam nanti kau beritahukan kepada dia yeobo, aku merasa tidak sanggup mengingat wataknya yang selalu ingin bebas”. Kata nyonya park resah.

“Baiklah, kau tenanglah yeobo, dia akan mengerti” kata tuan park menenangkan.

Setelah selesai makan malam, tuan park membuka suara “Ae yeona, setelah ini duduklah dulu dengan appa diruang tengah, ada yang ingin apa bicarakan kepadamu” kata tuan park dengan suara tegas.

“Memangnya ada apa appa ? tumben sekali appa bersikap seserius ini untuk berbicara denganku” kata Ae yeon heran dengan perilaku appanya yang sama sekali tidak pernah dia lihat.

“Kau diam lah dulu, dan duduklah cepat” kata nyonya park dengan muka gelisahnya yang tidak bisa dia tutupi.

Ae yeon yang masih bingung segera duduk berhadapan dengan appanya yang di pisah oleh meja didepan mereka.

“Apa ? dijodohkan ?” kata Ae yeon terkejut.

“dengarkan penjelasan appamu dulu Ae yeona” kata nyonya park lebih resah dari sebelumnya setelah melihat keterkejutan anak gadis satu-satunya.

Ae yeon diam dan mendengarkan kata demi kata yang disampaikan appanya.

“Tadi pagi eomma mu menerima telepon dari nenek park yang memberitahukan kalau kakek park telah menjodohkan kau dengan cucu sahabatnya sebelum dia meninggal” kata tuan park mulai menjelaskan.

“Kenapa harus aku, appa? Aku tidak mengenal siapa cucu teman kakek itu” kata Ae yeon tidak menerima keputusan kakeknya.

“ini merupakan wasiat terekhir kakekmu Ae yeona, kau tidak boleh melanggarnya” kata tuan park tegas.

“Tapi, appa ?” kata Ae yeon kembali protes.

“Tidak ada tapi-tapian Ae yeona, kau harus menerimanya” kembali tuan park berujar.

Ae yeon yang shock dan masih belum menerima kenyataan bahwa dia telah dijodohkan tanpa sepengetahuannya oleh kakeknya berlari menuju kamar dengan mata yang berkaca-kaca. Melihat hal itu nyonya park tidak tega dan berniat akan menyusulnya, baru saja nyonya park berdiri.

“Biarkan saja dia, yeobo, dia masih shock. Biarkan dia menenangkan diri dulu” kata tuan park mencegat langkah nyonya park.

TBC

 

3 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Shouldn’t Have (Chapter 2)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s