[EXOFFI FREELANCE] Regret (Chapter 13)

byunpelvis

Regret (Chapter 13)

Poster by : https://dirtykindi.wordpress.com

Author : ByunPelvis

*

Cast : Byun Baekhyun, Lee Kyungra (OC/You), Kim Jong In.

Other cast : member EXO lainnya.

Genre : Hurt ,  Romance.

Rating : General.

Leght : Chapter

Disclaimer  : cerita murni dari pemikiran saya. Maaf untuk typo J.

Dont’t be silent readers. J

*

 

 

Kyungra menatap dua koper besar dihadapannya dengan tatapan kosong, otaknya melayang entah kemana. Sedari tadi ia memikirkan hal yang sebenarnya tak harus difikirkan.

Sudah terhitung satu minggu sejak kepulangannya dari rumah sakit, dan ia sudah dikatakan pulih. Sudah dua kali pula ia mengikuti terapi untuk memulihkan syaraf kakinya dan itu belumlah cukup untuk sembuh.

Kyungra menunggu jam berangkatnya menuju USA, mungkin duapuluh menit lagi pesawat yang ditumpanginya akan lepas landas. Sebenarnya gadis itu cukup terkejut saat sang bibi menyuruhnya berobat ke luar negri. Uang tabungannya pasti tidaklah cukup untuk menempuh pengobatan di USA. Ia lebih terkejut saat bibinya bilang ada biaya , kata bibinya ada seseorang yang rela meminjamkan uang padanya.

Kai dan Kyungsoo mengantarnya, yang akan menemaninya di Amerika nanti adalah bibinya. Kyungra sengaja tak mengatakan tentang kepergiannya pada banyak orang.

“Jong, benar kau rela melepasku?”

Jong In  tersenyum kecil dan bersimpuh dihadapan Kyungra yang duduk manis dibangku.

“aku sangat sedih. Tapi aku tak bisa menghalangi pengobatanmu. Kyung, kau  janji harus sembuh ne!”

Kyungra tersenyum dan mengangguk, tubuhnya dimajukan untuk memeluk Jong In. Tangisnya pecah, tapi ia berusaha menahan isakannya. Hari ini sangatlah berat untuknya karena harus berpisah dengan keluarga maupun temannya.

“Gomawo Jong In-ah. Aku janji akan kembali.”

“eum, aku menyayangimu Kyung. Saranghae.”

“eum”

.

.

Baekhyun mendrible bola basket berkali-kali dan memasukannya dari jarak cukup jauh. Keringat sudah bercucuran hingga membasahi baju yang dikenakannya. Sesekali ia akan berteriak marah saat bola meleset dari ring.

Chanyeol dan Sehun lagi-lagi memandangnya dari kejauhan. Beruntung jam pagi ini tak ada mahasiswa yang menggunakan lapangan itu untuk bermain. Beberapa jam lalu, mereka mendapat kabar dari Jong In jika Kyungra akan menghentikan kuliahnya untuk melakukan pengobatan. Chanyeol tau betul rasa kehilangan yang Baekhyun pendam.

“anak itu. Dia selalu meluapkan emosinya dengan cara seperti itu” ucap Chanyeol. Sehun yang ada didekatnya menoleh, memajukan bibir bawahnya.

“Hyung, kau yakin tak akan membujuknya?”

Chanyeol mengehela nafasnya dengan berat dan menoleh pada Sehun.

“aku sudah mengatakannya ratusan kali. Dan dia tak menggubrisku.”

“jadi akhirnya seperti ini? Baekhyun Hyung merelakan Kyungra pergi?”

Chanyeol tak menjawab lagi dan berjalan mendekati Baekhyun. Tangannya berusaha merebut bola dari tangan Baekhyun. Keduanya beradu, dan Baekhyun terus mempertahankan bolanya.  Chanyeol kualahan dan lama-lama menjadi emosi, dengan kasar ia mendorong tubuh Baekhyun hingga tersungkur.

“bodoh! Kau bodoh Byun Baekhyun!” Chanyeol berkata lirih tapi Baekhyun bisa mendengarnya. Hatinya yang sedang sensitif membuatnya marah.

“apa? katakan sekali lagi!”

“kau bodoh. Kau pengecut!”

Buggg…

Baekhyun tak bisa mengontrol dirinya, dengan brutal ia memukul Chanyeol. Sehun berlari dan menghalang Baekhyun. Ini sudah sangat kacau. Baekhyun tipikal orang yang tak bisa mengendalikan emosi jika benar-benar marah.

Chanyeol menatap Baekhyun dengan pandangan marah, tangannya terkepal.Rasanya ia juga ingin memukul Baekhyun.

“Baek, ini bukan dirimu. Kau menjadi orang yang berbeda”

“Hyung sudahlah.” Sehun menarik lengan Chanyeol untuk pergi, tapi sayang usahanya sia-sia karena Chanyeol malah diam saja.

“kau selalu tak bisa mengambil tindakan. Kau bahkan tak bisa mempertahankan Kyungra.”

“Niga wae? Lalu apa yang harus kulakukan? Berlutut dihadapan Kyungra sampai aku mati? Asal kau tau Yeol, tatapan matanya sudah menggambarkan betapa ia sangat membenciku. Itu membuatku sangat sakit, aku tak bisa.”

Chanyeol kembali membuang nafasnya dengan kasar, tangannya menarik lengan Baekhyun.

“ayo! kita hentikan kepergian Kyungra!”

“tidak!”

“Baek?”

Baekhyun menepis tangan Chanyeol yang ada dilengannya. Tanpa berkata lagi namja itu berjalan meninggalkan lapangan. Sehun mencoba menyentuh luka disudut bibir Chanyeol akibat pukulan Baekhyun tadi.

“Hyung, gwenchana?”

“hemm…  . Sehun-ah, biarkan saja Baekhyun. Aku yakin dia akan menyesal sendiri.”

.

.

.

“sampai jumpa lagi Oppa. Kau harus sering menghubungiku maupun Imo.”

Kyungsoo mengangguk mengerti dan mengacak pelan rambut Kyungra.

“tentu saja. Walaupun sangat sibuk nanti aku akan tetap menghubungimu dan eomma”

“Jong In-ah sampai jumpa.”

“ne. jaga diri kalian.”

Kyungra  dan Do Ajhuma melambaikan tangannya. Do Ajuma mendorong kursi roda Kyungra menuju antrian. Kyungsoo mengelap air di sudut matanya, rasanya berat berpisah dengan ibunya juga Kyungra. Sampai-sampai Jong In tersenyum.

“aigo Hyung. Kau menagis?” tanya Jong In yang terlihat heran.

“mwo? Tentu saja tidak.”

“haisssh bohong.”

Kyungsoo berbalik dan mengabaikan Jong In yang terus saja bertanya. Kyungsoo berhenti setelah melewat pintu keluar airport.

“Jong In-ah. Apa Baekhyun tak tau soal kepergian Kyungra?”

“dia mungkin tau. Aku hanya mengabari Chanyeol tentang kepergian Kyungra. Kenapa bertanya soal itu?”

“aniyeo.. kukira dia akan datang kemari.”

Jong Inmengendikan bahunya, namja itu mengajak Kyungsoo untuk pulang bersama. Setelah ini ia harus latihan dance. Namja itu berencana ingin mengikuti sebuah audisi untuk bulan depan. Dan waktu audisi itu semakin dekat, dan ia harus lolos. Jong In ingin membuat Kyungra bangga padanya.

.

.

Baekhyun berdiri mematung didepan ribuan pagar penuh gembok. Tangannya terulur untuk menyentuh salah satu gembok yang tertuliskan namanya. Dibaliknya gembok itu juga tertulis nama satu orang lagi.

‘Lee Kyungra^^’

Baekhyun tersenyum kecil saat mengingat kenangan singkatnya bersama Kyungra. Ia ingat, waktu itu dirinya sangat tak menikmati acara kencan pertamanya dengan Kyungra. Menyesal, ya lagi-lagi itulah yang dirasakannya.

“gotjimal” Lirihnya. Baekhyun mengingat satu ucapan Kyungra tentang gembok itu. Katanya jika nama keduanya tercantum di gembok, entah apapun itu tak akan pernah berpisah.

Tapi kenyataannya sekarang ia ditinggalkan, Kyungra benar-benar memilih pergi meninggalkannya.

Ia mengeluarkan satu gembok yang barusaja dibelinya. Menuliskan nama dan harapan disana.

‘Lee Kyungra.’

‘kembalilah’

Setelah selesai ia mengantungkannya tepat disamping gembok yang pernah Kyungra pasang.

“terimakasih karena pernah mencintaiku.”

Kini ia hanya bisa bergantung pada takdir. Jika Tuhan mengijinkan, ia pasti bisa bertemu lagi dengan Kyungra.

Baekhyun kembali melanjutkan perjalanannya. Ia akan mengunjungi semua tempat yang pernah didatanginya bersama Kyungra, sebelum ia benar-benar melupakan semua tentang gadis itu.

.

.

.

Kyungra berada di pesawat, sekarang sudah setengah perjalanan menuju tempat tujuannya. Bibi Do yang duduk disampingnya tertidur pulas sejak tadi, ia sungguh tak memiliki teman untuk mengobrol.

Saat hening seperti itu pikirannya bisa terpusat pada satu titik. Sebuah nama yang sudah mengakar diotaknya. Kyungra tak akan pernah bisa melupakan apa dan bagaimana cara pria itu menyakiti hatinya. Seumur hidup ia tak akan bisa menghilangkan dari otaknya.

Tapi sebenarnya dalam lubuk hatinya yang paling dalam ada sebuah keinginan. Tanpa diketahui siapapun ia terus menyapu pandangannya saat menunggu di airport. Keinginanya adalah melihat Baekhyun, mungkin untuk yang terakhir kalinya.Ia merasa dirinya munafik, Kyungra sadar itu. Dadanya sesak saat merasakan kerinduan yang teramat dalam.

Tapi kenyataan yang membuatnya lebih sesak adalah  ia tak mendapati sosok Baekhyun sama sekali, atau namja itu malah tak tau kepergiannya.

‘tidak, kau tidak boleh terus seperti ini’ suara hatinya berkata.

Kyungra mengingat sesuatu dan merogoh saku cardingannya.

Ia menggenggam sebuah kartu memori yang tadi diberikan oleh Jong In. Gadis itu tak tau ada apa didalam benda itu. Mungkin ia akan memeriksanya nanti.

.

.

.

.

2019

Semua manusia sibuk dengan kegiatannya masin-masing saat pagi hari. Baik itu tua,muda,atau anak-anak. Jalanan besar Seoul tak pernah sepi, setiap hari segala kendaraan berbaris rapi menikmati kemacatan lalu lintas. Jalur alternatif adalah yang harus dipilih agar cepat sampai tujuan.

Mobil audi hitam terparkir disebuah halaman setelah berjam-jam menempuh perjalanan. Seorang pria berjalan angkuh memasuki lobi Rumah Sakit . Beberapa karyawan yang menyapanya hanya dibalas dengan senyum singkat yang malah terlihat terpaksa.

‘bruk’

“S-sajangnim. Jeosonghamnida” .

‘YA!kau fikir tempat ini lapangan lari hah?”

Yang dimarahinya hanya menunduk mendengarkan omelan sang atasan. Itu memang kesalahannya karena berlari di lobi. Telat adalah alasan nomer satu.

“lihat! kau menumpahkan kopi ke Jas’ku. Astaga!.”

“j-jeosonghamnida. Ijinkan saya untuk membersihkannya.”

“Tidak usah!. Kau-“

“Ya Byun Baekhyun, dia hanya tidak sengaja. Jangan membentaknya seperti itu.”

Baekhyun menoleh pada tubuh tinggi yang mendekat kearahnya. Ia menggerakan kepalanya, dan karyawan tadi mengerti apa maksud sang direktur. Pria berwajah dingin itu maemasuki evalator, diikuti dengan seseorang yang tadi menegurnya.

“Baek, kenapa kau terus bersikap seperti ini? menakutkan.”

“wae?”

Pria bermarga Park itu menyandarkan tubuhnya dan mengamati wajah datar Baekhyun. Detik selanjutnya mendesis.

“kau sangat tidak cocok menjadi pria dingin. Dan wajah imutmu itu tidak pantas judes”

“aku sudah bosan mendengar itu Yeol. Diam saja sebelum aku benar-benar marah dan memecatmu.”

“heol”

Chanyeol menatap horor sahabatnya, bukannya takut ia masih terus meledek Baekhyun.

“kau akan sulit mendapatkan istri jika terus seperti itu pabbo-ya”

“aku tidak ingin menikah.”

Bola mata Chanyeol melebar , apa yang dikatakan Baekhyun membuat bulu kuduknya merinding. Pintu evalator terbuka, Chanyeol membututi Baekhyun menuju ruangan Direktur Utama.

Setelah sampai didalam Baekhyun melepas jas putihnya yang sudah ternodai warna coklat kopi. Dan akan menggantinya dengan yang bersih.

“Park Chanyeol , apa kau tak memiliki jadwal operasi” tanya Baekhyun sembari memakai jas lain yang sudah tergantung rapi dilemari kaca.

“aku memiliki jadwal operasi. Tapi itu kulakukan 2 jam lagi.”

Baekhyun duduk dikursi dan langsung membuka tugasnya, statusnya sebagai Direktur Seoul Hospital membuatnya tak pernah lepas dari file-file yang sudah seperti teman baginya.

“benarkah? Lalu untuk apa kau kemari?.”

Chanyeol menggaruk belakang kepalanya karena tak menemukan alasan. Namja itu kini malah memutari ruangan Baekhyun untuk melihat-lihat.

“Baek, apa kau akan menghadiri undangan itu?”

“undangan apa?”

“pernikahan Jong In.”

Pergerakan tangan Baekhyun pada mouse terhenti. Sendinya tiba-tiba saja kaku, Chanyeol kini duduk dihadapannya dan terlihat menunggu sebuah jawaban.

“entahlah.”

“wae? bukankah kita ini teman?”

Baekhyun menghela nafas yang terdengar berat, namja itu tak semagat untuk melanjutkan kerjanya dan malah menutup laptopnya.

“Baek?”

“aku ingin menemui wali pasien. Kau bisa kembali ke ruang kerjamu!”

Chanyeol belum sempat membuka bibirnya saat Baekhyun berlalu. Ia malah bingung dengan perubahan mood namja itu. Sudah sangat lama sosok hangat Baekhyun hilang, sudah lama pula  Chanyeol tak melihat kebahagiaan terpancar dari mata Baekhyun.

Temannya itu menjadi sangat pemarah dan dingin. Hampir setiap hari Baekhyun terlihat marah-marah, entah itu pada suster,cleaning service, dirinya dan yang paling buruk adalah memarahi pasien. Baekhyun adalah sosok yang sangat sensitiv sekarang.

“Selalu seperti itu. Sebenarnya apa yang ada dalam otaknya?”

Jawabanya hanya satu, Chanyeol tau betul. Ia tak tau kapan Baekhyun akan kembali seperti dulu lagi.

.

.

.

‘For You’

Musik menemaninya malam ini, Baekhyun duduk santai dibangku taman dekat namsan tower setelah pekerjaannya selesai. Malam ini suasana di tempat itu sangat ramai.

Hari ini adalah festival lampion, setiap orang membawa lampion masing-masing untuk diterbangkan. Hal ini dilakukan sebagai perayaan kemerdekaan Korea Selatan. Baekhyun tak mau melewati malam menyenangkan, walau ia hanya sendirian.

Dulu saat kecil kedua orang tuanya senantiasa menemani, sampai ia beranjak dewasa ibu dan ayahnya sibuk sendiri mengurus perusahaan yang berkembang pesat.

Baekhyun bahkan masih mengingat saat  menangis di hari natal. Saat itu kedua orang tuanya sibuk diluar negri dan ia hanya bersama sang nenek. Menurutnya masa itu adalah waktu yang paling menyedihkan.

Seiring bertambahnya umur Baekhyun bisa mengerti, ia memilih hidup mandiri dan lepas dari perhatian orang tua. Dulu ia selalu bermain-main dengan gadis,balapan liar,dan kadang mabuk.

Sampai suatu hari seorang Kyungra memasuki kehidupannya dan merombak total kepribadian buruknya. Baekhyun jatuh cinta  pada seseorang wanita untuk yang pertama kalinya, padahal tujuan awalnya hanyalah bermain-main. Tanpa diduga, setiap hari perasaanya berkembang walau ia selalu berusaha menyangkalnya.Namun naas, nasib cintanya sangatlah buruk.

Ia baru menyadari perasaan yang sebenarnya setelah menyakiti gadisnya. Sungguh pengalaman cinta yang sangat menyedihkan. Bahkan sampai saat ini ia belum bisa melupakan bagaimana suara tangis Kyungra. Ia masih bisa mengingat kata-kata Kyungra yang membencinya.

Baekhyun mengaktifkan aplikasi video di ponsel’nya. Disana ada sebuah video yang sudah ratusan kali ditontonnya. Saat ia rindu bisa sampai semalaman waktunya digunakan untuk memutar ulang video itu.

Namja itu memencet tanda ‘play’

Video itu menunjukan sebuah aktivitas seseorang.

“eoh sudah aktif?……………. anyeonhaseyo”

Suara lembut bagai sutra itu adalah pertama yang terdengar. Dalam video itu menunjukan saat Kyungra sedang berada disebuah ruangan yang digunakan untuk terapi. Baekhyun selalu tersenyum saat melihat wajah bahagia Kyungra.

“aku sudah mulai bisa menggerakan kakiku.”

“ya Kyungsoo Oppa lihatlah! Aku mulai bisa berjalan. He he….”

“aku sangat merindukanmu. Tunggu aku ya ! aku janji akan cepat kembali. hah di sini sangat membosankan. Aku tak begitu pandai berbahasa inggris. Sangat merepotkan.”

“saranghae Kyungsoo Oppa. Imo juga merindukanmu. Ya jangan lupakan jam makanmu. Oppa jika kau kembali dari Paris jangan lupa beri aku hadiah. Oke?”

“Oppa terapinya dimulai beberapa menit lagi. Sudah dulu ya!. Bye oppa . See you next time.”

Rasa rindunya terobati, Baekhyun seperti meminum obatnya saat melihat video itu. Ia sangat beruntung karena bibi Do juga mengirimkan video itu untuknya, walau sebenarnya yang harus menerima adalah Kyungsoo.

“terimakasih sudah bertahan. Kau gadis yang hebat Kyungra-ya.”

Baekhyun kembali memutar video itu, sampai seseorang menarik lengan bajunya.

“Ajhussi, apa kau mau membeli lampionku?”

Baekhyun menemukan sosok mungil berdiri disampingnya. Senyum polos membuatnya gemas, Baekhyun mengubah posisinya agar bisa sejajar dengan gadis kecil yang memegang dua buah lampion.

“mianhae. Aku tidak ingin membelinya.”

“ajhussi, semua orang menerbangkan ini. Aku akan memberi harga yang murah. Bagaimana kalau 100 won?” ucap gadis kecil itu dengan nada lucu. Baekhyun mencubit kecil pipi gembul itu .

“Itu terlalu mahal”

“ajhussi aku mempunyai alasan mengapa lampion ini mahal.”

Baekhyun tertawa kecil dan mengacak rambut anak itu. Ia terlihat mengeluarkan lembaran dari dompet tebalnya dan memberikannya kepada gadis kecil itu.

“simpan saja lampionnya.”

“kau sudah membayar jadi kau harus mengambil lampion ini. Ajhussi, kau percaya keajaiban kan? Nah lampionku ini memiliki itu. Semua perintaanmu akan terkabul jika kau menuliskan permintaan disini. Percayalah!” ucap gadis kecil itu untuk meyakinkan.

Baekhyun mengangguk dan semakin terkagum dengan kecerdasan gadis dihadapanya. Pada akhirnya namja itu menerima lampion yang disodorkan.

“baiklah aku mengambil lampionnya. Hei gadis manis sepertimu mengapa keluyuran malam-malam begini?”

“aku membantu eomma-ku. Sudah dulu ya, aku harus menjualnya lebih banyak. Khamsahamnida ajhussi tampan.”

Baekhyun melampai pada gadis kecil itu, diamatnya lampion bulat yang memiliki bentuk cukup cantik. Namja itu memikirkan sebuah harapan, ia tau menulis harapan di lampion dan kemungkinan akan terkabul hanyalah kepercayaan orang kuno. Tapi tidak ada salahnya ia mencoba. Ia mengambil pena yang ada dikemejanya dan menuliskan sesuatu disana.

Samar-samar Baekhyun mendengar keramaian, dan ternyata ini adalah waktu untuk menyalakan lampion. Baekhyun mendekat ke kerumunan itu dan ikut menyalakannya.

Hana

Dul

Set

Baekhyun melepas lampion yang perlahan mulai terbang. Lampionnya berwarna biru awan, berharap warna cerah itu membuat Tuhan tertarik untuk mengabulkan permintaannya.

Baekhyun masih mengamati ratusan lampion yang mulai meninggi. Miliknya masih terlihat jelas, bahkan terlihat yang paling cantik.

.

.

.

“lihat,lihat! wuahhhh aku baru ingat malam ini ada festival lampion”

“ya, dan ini sungguh indah bukan?”

“eum. Sangat indah, yang warna biru adalah kesukaanku. Kau lihat lampion bulat itu?”

“ne, itu memang yang paling indah”

“bisakah kau mengambilkannya untuku?”

“apa? kau gila? Itu sangat tinggi”

“aku bercanda Jong In-ah , ha ha”

.

.

.

TBC

Hallo readers…..

Aku sengaja nih post langsung 2 chapter dalam 1 minggu.

Biar cepet endingnya ^^.

 

Silahkan tinggalkan jejak ^^

See you next chapter…

 

11 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Regret (Chapter 13)

  1. Jangan bilang jong in nikah sama kyungra ?? Kasian baekhyun…
    Chapter selanjutnta ditunggu sekali kaaaa^^
    Terima kasih banyakkkk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s