[EXOFFI FREELANCE] SUDDENLY (CHAPTER 2 – SEHUN)

20190118_095214_0001

Title: Suddenly

Chapter: 2 (Sehun)

Author: Aulia Rahmah

Length: chaptered

Genre: AU, friendship, school, love

Rating: G

Main cast: Byun Kiara, Oh Sehun, Park Chanyeol

Additional casts: Do Kyungsoo, Byun Baekhyun, Nam Jihyun, Kim Junmyeon, Kim Jongin, ETC.

Summary:

Pertemuan ini, entah sebuah anugerah atau malah malapetaka. Tapi, Sehun sangat bersyukur Tuhan mempertemukannya dengan Byun Kiara.

Disclaimer: Cerita ini asli berasal dari imajinasiku sendiri. Sifat dan kelakuan para cast mungkin akan berbeda dari aslinya.

Cerita ini juga aku publish di akun wattpadku: @aulieur

Cek https://my.w.tt/IghBrUJcDT

So, happy reading

×××

“Gimana kepala kamu? Masih sakit gak sekarang?” tanya Kiara khawatir.

“Udah nggak lagi,” jawab lelaki itu dengan pandangan yang terfokus ke jalanan.

“Sebenarnya, apa yang bikin mereka pukul kamu sampai pingsan gitu? Kamu punya masalah sama mereka?” Kiara sudah tak bisa menahan rasa penasarannya.

“Bukan urusan lo,” sahutnya datar. “Anggap aja lo gak liat apa-apa tadi,” lanjutnya.

Jawabannya berhasil membuat Kiara melongo tak habis pikir. Dia sudah terlibat dan cowok ini menyuruhnya untuk tidak peduli?

“Tapi–“

By the way, makasih udah mau nyelamatin gue tadi. Gue udah bayarin ongkos lo, jadi kita impas.” Lelaki itu tersenyum.

“Kamu dengar sendiri, kan, tadi orang itu bilang apa? Dia ingat wajahku dan bakal mengincar aku. Menurutmu apa aku bisa bersikap santai dan berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa?” Senyuman dan ucapan terima kasih orang itu sama sekali tak mempan meluluhkan hati Kiara yang tengah dirundung rasa cemas.

“Terus lo maunya gimana?!”

“Aku mau bawa masalah ini ke polisi,” jawab Kiara cepat. “Aku ingin selamat sebelum mereka berbuat macam-macam kepadaku,” lanjutnya.

“Gila lo! Ngapain harus bawa-bawa polisi segala? Kejadian kayak gini, tuh, udah biasa terjadi di setiap sekolah. Gak usah berlebihan sampai lapor ke sana segala, deh.”

Kiara tersentak melihat perubahan raut wajah lelaki itu. Dia melotot dan itu tampak menyeramkan bagi Kiara.

“Ini udah termasuk kasus kekerasan. Dan kamu jadi korbannya. Mereka udah aniaya kamu sampai babak belur begini. Kamu masih mau belain mereka? Apa salahnya kalau kita lapor polisi?!” Kiara tetap tak mau kalah.

“Gue udah bilang ini bukan urusan lo. Dan… hanya karena lo udah nolongin gue bukan berarti lo bisa ngatur-ngatur seenaknya kayak gini,” ucap lelaki itu geram.

Kiara balas menatapnya garang. “Bung, aku hanya ingin masalah ini cepat selesai. Kalau kamu gak mau ikut aku ya sudah, tidak apa-apa. Aku bisa pergi sendiri. Lagipula aku ingat nama-nama mereka dan aku juga hafal almamater sekolah mereka.”

Rahangnya mengeras. Jelas sekali bahwa lelaki itu sedang berusaha untuk menahan emosinya. Tanpa sengaja tatapannya beralih pada lengan kanan Kiara. “Tangan lo berdarah,” desisnya.

“Apa?” Kiara mengernyitkan keningnya.

Lelaki itu menunjuk lengan Kiara yang terluka. Kiara mengikuti ke mana telunjuk itu tertuju, dan seketika dia terkejut melihat goresan luka di lengan kanannya dan darah yang menodai lengan kaosnya. Setelah menyadari ada luka di lengannya, rasa perih pun mulai dirasakan olehnya.

Ouch,” ringisnya.

Kiara baru teringat bahwa ia sempat didorong oleh salah satu pelajar tadi. Dan mungkin karena itu lengannya jadi terluka seperti ini.

Kiara menutup lukanya dengan tangan kirinya. Dia kembali menatap lelaki itu.

“Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan,” ketusnya.

Lelaki itu cuek. Ia menekan bel di samping jendela untuk menghentikan bus yang ditumpanginya. Kiara melongo lagi.

Saat bus berhenti, dia berdiri dan turun dari bus. Kiara pun ikut turun.

“Aish. Lo ngapain turun juga?!”

Kiara berusaha untuk tetap sabar mendengar bentakan menyebalkan itu.

“Aku harus antar kamu sampai rumah. Kalau kamu sampai pingsan lagi gimana?” jawab Kiara.

“Gak perlu. Gue bisa ngurus diri gue sendiri.”

“Please, sekali ini aja. Aku antar kamu sampai rumah setelah itu aku gak bakal nemuin kamu lagi,” ujar Kiara.

Lelaki itu memicingkan matanya. “Terserah.” Dia kembali berjalan ke arah rumahnya berada.

Kiara membuntutinya dari belakang tanpa bersuara.

Tanpa sepengetahuan lelaki itu, arah pulang ke rumahnya sama dengan Kiara.

“Emm, ngomong-ngomong kita belum kenalan.” Kiara lagi-lagi buka suara. Ia merasa tak nyaman dengan kondisi hening seperti ini. “Aku Kiara,” ucapnya.

Lelaki itu menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah rumah berpagar besi warna biru. Dia memutar badannya untuk melihat Kiara.

“Gue udah nyampe. Lo boleh pergi sekarang,” dinginnya.

Senyum Kiara sirna. “Oh, udah sampai, ya. Ya sudah.” Dia membungkuk santun lalu melanjutkan langkahnya.

Si Lelaki memandang punggung Kiara yang mulai menjauh darinya.

“Sehun!” serunya.

Kepala Kiara terangkat lalu dia menengok ke belakangnya. Lelaki itu tersenyum samar.

“Gue Sehun,” ucapnya sebelum memasuki pagar rumah.

Kiara membatu di tempat. Lelaki tampan itu ternyata bernama Sehun. Tanpa sadar senyumnya kembali tergurat, begitu manis.

× ×

Aigoo, apa yang terjadi? Kenapa tanganmu bisa luka begini?” Kiara datang ke rumah disambut oleh teriakan dari kakaknya, Baekhyun.

“Aku gak apa-apa.” Kiara menarik diri dari kakaknya. Dia berjalan menuju kamarnya. Baju basah dan bau badan membuatnya tak nyaman. Dia juga harus cepat mandi dan tidur.

Setengah jam berlalu, Baekhyun membuka pintu kamar Kiara dan melihat adiknya yang baru selesai mandi. Tangannya membawa kapas dan obat luka.

“Gak biasanya lho kamu pulang larut begini,” ucapnya. Dia duduk di sebelah Kiara, di tepi ranjang.

Kiara yang sedang menyisir rambut pun menengok ke tempat kakaknya berada.

“Tadi aku bantu Kyungsoo nganterin barang ke rumah pelatih,” jawab Kiara bohong.

“Luka ini kamu dapat dari mana, Ki?” tanyanya.

“Aku kepeleset.” Lagi, Kiara berbohong.

“Terus dia diam aja ngeliat kamu luka? Dan gak nganterin kamu pulang?” Baekhyun masih menyelidik.

Kiara tersenyum kaku. “Kakak kan tau sendiri, arah rumah kita beda. Kasian juga Kyungsoo kalau harus nganter aku sampai sini.”

“Kamu ini.” Baekhyun berdecak. “Lain kali jangan terlalu baik sama orang,” katanya.

“I-iya.” Kiara menurunkan pandangannya.

Baekhyun mengobati luka di lengan adiknya dengan hati-hati.

Kiara sekuat tenaga menahan perih di lengannya.

× × ×

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s