[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Epilog)

Poster Secret Wife Season 2 (4)

Tittle : Secret Wife Season 2

Author : Dwi Lestari

Genre : Romance, Friendship, Marriage Life

Length : Chaptered

Rating : PG 15

Main Cast :
Park Chanyeol, Kim Soah (Aiko)

Support Cast :

Oh Sehun, Min Aera, Kim Nara, all member EXO and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Soah terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan artis papan atas Park Chanyeol, demi menghindari kutukan keluarganya. Meski sebenarnya dia tak pernah percaya jika kutukan itu masih berlaku.

Disclaimer : Cerita ini murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note : Sekedar mengingatkan, jika ini berbeda dengan SECRET WIFE yang pertama. Ini bukan kelanjutannya. Cerita ini berdiri sendiri. Tapi akan ada beberapa hal yang sama. Dijamin tidak kalah seru. Maaf jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komentarnya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Epilog

Cintaku adalah Kamu
Cintamu adalah Aku

Senyum mengembang tergambar jelas di wajah Soah. Dia baru pulang dari bekerja. Langkahnya terlihat ringan. Bahkan terkesan anggun saat memasuki rumah. Melintasi ruang tamu dan tiba di ruang keluarga. Suaminya duduk di sana. Memangku laptop. Tanpa pikir panjang, Soah berjalan cepat ke arah prianya.

“Kau sedang apa?” tanyanya. Dia ikut duduk di samping suaminya. Sebenarnya dia tak perlu bertanya. Pria itu pasti sedang membuat lagu. Terbukti dengan adanya buku serta gitar di meja. Namun, Soah tetap melakukan. Dia ingin mencari perhatian pria itu.

Netra pria itu beralih. Senyum terukir melihat wajah wanitanya. “Membuat lagu. Kapan kau sampai?”

“Baru saja.” Soah ikut menatap laptop di depannya. Dia tak paham dengan segala bentuk aplikasi yang suaminya gunakan. Hembusan napas halus terdengar dari hidungnya. “Apa itu sudah selesai?” tanyanya kemudian.

“Emh. Kau mau mendengarkan!” tawar suaminya. Setelah mendapat anggukan, pria itu memasangkan headphone di telinga Soah. Menekan tombol play dari laptop.

Soah tersenyum mendengar. Dia juga menganggukan kepala. Raut senang tergambar di wajah. “Musiknya enak.”

Pria itu tersenyum samar. Menatap dalam wajah istrinya. Ingatan masa lalu tentang kehidupan pernikahannya mulai terlintas. Betapa dia sangat mencitai wanita itu. Tanpa dia sadari, tangannya terulur mengusap surai istrinya. Itu sudah menjadi kebiasaan. Terlebih, istrinya tak pernah protes.

Soah tak menanggapi. Dia masih asyik mendengarkan lagu. Rambut yang dulu panjang kini tinggal sebahu. Dia memotongnya setelah melahirkan. Meski itu sudah empat tahun, dia tak membiarkannya panjang. Susah merawat rambut panjang sambil merawat bayi. Itulah alasannya.

“Di mana Sena?” tanya Soah setelah melepaskan headphone.

“Dia sudah tidur. Setelah menghabiskan hampir dua porsi ayam goreng.”

“Itu memang makanan favoritnya kan.”

“Memang iya. Dia hampir membuat Sehun marah karena mengambil bagiannya.”

“Lalu di mana Sehun?”

“Di kamarnya. Katanya mau berlatih. Dia juga mengusirku saat ingin kutemani. Dia menjadi lebih dingin akhir-akhir ini.”

“Karena kau lebih memanjakan Sena.”

“Dia yang lebih kecil. Jadi harus lebih diperhatikan.”

Eomma.” Suara anak kecil itu menghentikan debat mereka. Secara spontan menoleh ke sumber suara. Seorang gadis kecil berlari ke arah Soah. Wajahnya masih layu khas orang bangun tidur.

“Kau terbangun,” ujar Soah sambil memangku gadis kecil tersebut.

Gadis kecil itu mengangguk. “Emh. Aku lapar,” tuturnya dengan nada lirih. Masih setengah mengantuk. Sangat kentara dari suaranya.

“Sena, sudah makan ayam tadi.” Chanyeol yang duduk di samping Soah ikut manyahut.

“Itu kan tadi. Sekarang Sena sudah lapar.” Gadis itu kembali menjawab. Kali ini dengan nada merengek.

Aigoo! Putri eomma.” Soah mengacak pelan puncak kepala putrinya. “Sena, mau makan apa?”

“Pasta.”

“Iya. Tunggu bersama appa. Eomma akan buatkan.”

“Tentu saja.” Wajah Sena tampak berbinar. Dengan cepat dia turun dari pangkuan ibunya. Beralih mendekati sang ayah.

Chanyeol ganti memangku Sena. Dia mencium puncak kepala putrinya kemudian. Tersenyum melihat Soah yang sudah beralih menuju dapur.

Appa, aku mau melihat kartun.”

“Fire Robo”

“Iya.”

“Baiklah! Sebentar, appa carikan.” Chanyeol memeriksa laptopnya. Sejak dia memiliki putri, laptopnya penuh dengan film kartun. Ini permintaan gadis kecil yang kini duduk di pangkuannya. Gadis itu akan duduk tenang jika sudah diputarkan film-film tersebut. Seperti sekarang. Matanya tak lepas dari layar tersebut.

Usapan halus kadang Chanyeol berikan. Dia teringat debatnya dengan Soah saat memberikan nama untuk putrinya. Soah awalnya menolak nama itu, karena mirip dengan ibunya. Namun karena dia ngotot, terpaksa istrinya setuju.

-o0o-

Soah tersenyum menatap putranya masih berkutat dengan piano. Dia mengetuk pintu, untuk mengalihkan atensi sang putra. “Boleh eomma masuk?”

Putranya menatap sebentar. Mengangguk kemudian.

Dengan langkah pelan, Soah mendekati sang putra. Ikut duduk di samping pria berusia sepuluh tahun tersebut. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin dia mengadopsi anak kecil itu. “Kau belum tidur?” Usapan lembut Soah berikan.

“Nanti saja,” jawabnya singkat. Jemari pria kecil itu masih setia memetik tuts-tuts piano di depannya.

“Apa ini sulit?” Soah kembali membuka suara.

“Maksud, Eomma?”

“Apa sulit menjadi pianis?”

Jemari pria kecil itu berhenti. Netranya beralih menatap ibunya.

Eomma hanya merasa kau tak memiliki banyak waktu bermain. Seharusnya di usiamu yang sekarang, kau sibuk bermain di luar dengan teman sebayamu.”

Pria kecil itu masih diam. Netranya juga masih menatap sang ibu.

“Jika memang sulit. Kau bisa berhenti. Eomma tidak akan memaksamu. Kau bisa melakukan hal lain yang lebih kau sukai.”

“Kenapa harus kesulitan? Aku menyukainya.” Jari pria kecil itu kembali memainkan nada yang tertulis di depannya. Dengan semangat serta penghayatan yang sempurna. Soah sampai tersipu dibuatnya.

“Syukurlah!” Helaan napas lega terdengar dari hidung. “Kau mau ikut makan pasta? Sena sedang makan bersama appa.”

Eomma juga membuatkan untukku?”

Soah mengangguk. Senyum samar dia berikan.

“Emh. Aku juga mau.”

“Ayo!”

-o0o-

Suara blizt kamera terdengar begitu mereka menuruni mobil. Dengan mengenakan busana formal pesta, keluara tersebut hadir. Mereka tersenyum ramah pada wartawan yang tengah meliput berita. Dengan perlahan keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, seorang putra dan putri berjalan memasuki hotel.

Mereka disambut keluarga pengantin di pintu masuk diadakannya pesta. Membungkuk hormat untuk memberi salam.

“Soah-ya, terimakasih sudah datang,” sapa si ibu mempelai pria.

“Tentu harus, Ahjumeonim.”

Wanita paruh baya dengan pakaian hanboknya menoleh pada gadis kecil yang sembunyi di belakang Soah. “Sena sudah besar ya,” ujarnya kemudian.

“Sayang, beri salam untuk ahjumeonim. Dia ibunya Sehun Ahjussi.”

Sena menampakkan diri. Membungkuk kemudian. Mereka tersenyum melihat tingkah lucu Sena. Bagaimana tidak, dia hanya membungkuk. Tak mengucapkan apa pun. Berlari ke belakang ibunya kemudian.

Setelah acara memberi salam dan ucapan selamat, Soah dan keluarga kecilnya menuju ruang ganti sang pengantin. Mereka ingin menyapa si pengantin sebelum pesta dimulai.

“Aera Imo,” ucap Sena dengan berteriak lantang. Dia berlari menuju si pengantin wanita.

“Sena-ya,” jawan Aera sambil merentangkan tangan. Dia sudah terlihat cantik dengan gaun pengantin. Rambutnya disanggul ke atas, hingga memperlihatkan leher jenjangnya. Raut kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya.

Sena duduk di pangkuan Aera. Sejak kecil dia memang sudah terbiasa dengan sekretaris ibunya itu. Bisa dibilang mereka cukup dekat. Terlebih, sekretaris ibunya selalu memberi perhatian lebih. “Imo, selamat atas pernikahannya,” tuturnya dengan nada lucu khasnya.

“Terimakasih ya.” Senyum kembali menghiasi wajah Aera. Dia berkali lipat lebih cantik dari sebelumnya.

“Selamat atas pernikahanmu, Eonni.” Kini Soah yang berucap. Dia ikut duduk di samping Aera.

“Terimakasih sudah datang, Daepyonim.”

“Tentu harus.”

Aera mengalihkan netranya menuju dua pria yang mendekat ke arahnya. Satu dewasa yang tak lain adalah suami Soah. Dan satunya, pria kecil putra atasannya.

“Kau bertambah gemuk ya.” Bukannya memberi ucapan selamat, suami Soah justru mengatakan sesuatu yang sangat sensitif bagi sebagian besar wanita. Cubitan keras dia terima di paha. Istrinya yang melakukan. Tatapan tajam juga wanitanya berikan. “Aku berkata benar.”

“Ayo keluar! Kau merusak suasana saja.” Soah segera menarik lengan suaminya. Melambaikan tangan pada si pengantin wanita.

Suaminya sedikit tak terima. “Mau ke mana? Aku belum memberi ucapan selamat untuknya.” Dia berusaha melepaskan genggaman istrinya, namun akhirnya dia pasrah. mengikuti ke mana pun istrinya melangkah.

“Tidak perlu, nanti saja.” Soah membawanya menuju ruang pesta. Melepaskan genggamannya di dekat pintu. Tempat yang tak banyak dilalui tamu undangan. Tangannya dilipat di depan dada. “Kenapa kau berkata seperti itu tadi?”

“Aku berkata benar.”

“Kau tahu, itu adalah hal paling sensitif untuk wanita.”

Pria itu tersenyum miring. Mencium pipi istrinya dengan cepat. “Kau yang sensitif. Marah-marah tak jelas. Kau sedang datang bulan ya?”

“Terserahlah!” Soah berlalu meninggalkan suaminya.

Pria itu tersenyum sambil menggelengkan kepala. Sepertinya ucapannya benar. “Sayang, tunggu!” teriaknya kemudian. Dengan cepat dia menyusul istrinya.

-o0o-

Suara tangan terdengar meriah, setelah si pengantin melepaskan tautan. Upacara pemberkatan pernikahan Sehun dengan Aera berakhir. Rasa senang menyelimuti mereka. dengan perlahan mereka menuruni altar. Menyambut satu-persatu tamu yang diundang. Suara musik pengiring pesta mulai terdengar. Ini menjadi momen bersejarah bagi pasangan pengantin baru tersebut.

“Mereka benar-benar cocok ya?” ujar Chanyeol. Sedikit berbisik ke telinga Soah.

Soah menoleh. Mengangguk kemudian. “Yang satu dengan sifat kekanakannya, dan yang satu dengan kedewasaannya. Saling melengkapi bukan.”

Chanyeol ikut menganggu.

“Kau ingin tahu kenapa Aera Eonni bertambah gemuk?”

“Tadi kau marah saat aku mengatakannya.”

Soah hanya tersenyum. Moodnya sedak buruk tadi, makanya dia sedikit sensitif. “Dia sedang hamil.”

“Serius!” Raut kaget terlihat jelas di wajah Chanyeol. Dia juga mengangkat alis tak percaya.

Soah mengangguk lagi. “Enam minggu. Aku sampai harus mengubah ukuran gaun pengantinnya.”

“Jadi karena itu dia ingin cepat menikahinya.”

“Bukan. Dia memang ingin menikah di usia dua puluh sembilan.”

“Dari mana kau tahu?”

“Apa yang tidak kuketahui dari Sehun? Aku bahkan tahu ukuran celana dalamnya.”

Yak!”

“Hanya bercanda.” Soah menyiku pelan perut suaminya. Leluconnya keterlaluan kadang. “Itu Sehun.” Dia menunjuk ke arah pria kecil yang duduk di depan piano.

-o0o-

“Kau belum tidur?” Chanyeol menghampiri Soah di balkon kamar. Di tangannya membawa secangkir latte favoritnya.

“Masih belum mengantuk.”

“Kau mau?” Sambil mengangkat cangkir, Chanyeol kembali berucap.

“Tidak, untukmu saja.” Soah kembali fokus pada benda persegi empat miliknya. Dia memang sedang mengambar. Melihat bulan purnama, menambah semangat dirinya.

Chanyeol ikut duduk di samping istrinya. Matanya tak lepas dari gerak jemari Soah. betapa terambil jemari itu menari di atas layar. Hingga mampu menciptakan objek yang menurutnya cantik.

“Kau dapat pesanan lagi?”

“Bukan. Ini untuk proyek musim semi nanti.”

Chanyeol hanya mengangguk. Dia menyesap kembali lattenya. Diam menjadi pilihan. Tak ingin mengganggu istri yang tengah menuangkan ide. Dia ingin seperti istrinya yang selalu mengerti dirinya. Ya, Soah tak pernah mengganggunya ketika membuat lagu. Bahkan wanita itu akan melakukan apa pun, untuk mebuat putra dan putrinya tak mengganggu dirinya.

“Bolehkan aku bertanya sesuatu?” Soah yang sudah selesai dengan gambarnya, menatap ke arah Chanyeol.

“Apa?”

“Kau masih ingat pertemuan kita pertama kali setelah aku kembali ke sini?”

“Maksudmu di club itu?”

“Iya.”

“Tentu. Kenapa memangnya?”

“Apa kau sudah tahu jika itu aku?”

“Iya. Awalnya aku pangling. Namun setelah kau menyebutkan nama, aku jadi ingat.”

“Jadi karena itu kau menggodaku?”

Chanyeol tersenyum. “Eoh.” Dia mimum lattenya kembali.

Soah tersenyum aneh. Seolah mengejek apa yang baru saja dia dengar. “Dasar.”

“Aku hanya menggodamu. Aku tidak pernah menggoda wanita mana pun.”

“Aku tidak percaya. Kau itu si pencari perhatian.” Soah berdiri membereskan semua peralatan yang tadi dibawanya.

“Kau mau ke mana?”

“Tidur.”

Chanyeol hanya tersenyum. Kembali meneguk lattenya.

Soah kembali berbalik setelah dua langkah. “Kau tak ingin ikut?”

Chanyeol awalnya kaget. Detik berikutnya dia kembali menyunggingkan senyum. “Tunggu aku!” Dengan cepat dia menghabiskan lattenya. Melangkah cepat menyusul istrinya.

—END—

Udah End ya. Aku sudah nggak bisa memikirkan hal baru untuk cerita ini. Semoga tetap suka. Terimakasih sudah menjadi pembaca setia ff abal-abal ini. Tanpa dukungan kalian aku bukan apa-apa.

Jangan lupa tinggalkan jejaknya.

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Epilog)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s