[Winter Project] Twenty Four (Track #2) | by L.Kyo

15731646_1688484611450626_1652622032_n

Title: Twenty Four | Author: L.Kyo | Cast: Kang Seulgi (Red Velvet), Oh Sehun (EXO) | Artworker: ReniArt  Genre: Romance, Comedy | Rating: PG-15 | Lenght: Ficlet | Disclaimer: This story is mine. Don’t plagiarize or copy without my permission.

Prev Tracklist :: [Track #1 For Life]

[ https://agathairene.wordpress.com/ ]

-oOo-

HAPPY READING

.

Ini gila, tapi Sehun benar-benar mengalaminya kali ini. Ini semua karena Ibunya. Sehun hanya ngemil di depan TV, menonton acara malam natal yang ia rasa begitu membosankan. Tahun ini ia pergi ke Gereja sendiri tanpa orangtua, rumahnya sepi bak kuburan walaupun rumah megahnya terhias pohon natal.

 

Tapi intinya ini semua adalah salah Ibunya. Pikir Sehun, IPK semester ganjil ini memang menurun tapi petuah sang Ibu justru melebihi kemurkaan. Sehun lebih memilih Ibunya murka, boleh saja Sehun menjadi sasaran lemparan gelas plastik di rak Dapur mereka.

 

Tapi bagi Sehun, petuah atau ide Ibunya itu gila. Bahkan anak remaja pun yang berpikiran labil tidak akan berpikiran seperti itu. “Sehunnie, Ibu ingin kau belajar lebih giat lagi”. Ucap Nyonya Oh saat melihat selembaran kertas semester.

 

“Aku sudah bekerja keras Bu”. Ucap Sehun tegas seolah apa yang di tuduh Ibunya salah besar. Pikir Sehun, otaknya memang bisa menampung sebegitu, jika dipaksa Sehun bisa-bisa stres. “Ibu punya kenalan dan siap membimbingmu saat kuliah”.

 

Sehun hampir memuntahkan susu hangatnya lalu raut wajahnya berubah masam. “Apa-apaan Ibu ini? Aku sudah 22 tahun, bukan anak SMA yang butuh kelas privat! Memang aku ini idiot?” Sehun meletakkan susunya kasar membuat Ibunya melongo. “Tentu saja kau masih kecil, kau saja masih suka menyuruh Ibumu membuat susu sebelum tidur”. Ibunya melengos setelah mematikan TV. Sehun hanya menatap kosong susu yang masih setengah gelas lalu tanpa ragu membuangnya ke wastafel. “Siapa bilang aku suka susu?”

 

 

***

 

 

“Sehun-ah! Kau sudah menyiapkan bukumu?”

 

Sehun terperajat dari sofa. TV nya masih menyala tapi ia baru terbangun dari tidurnya karena suara nenek sihir itu. Oh, bukan santa claus yang memberikan hadiah. Tapi nenek sihir dengan segala sumpah serapah dan menyebalkan. “Ya! Kau tidak bisa mengetuk pintu? Selalu saja begitu!” Sehun kembali menutup wajahnya dengan selimut di sisinya.

 

“Astaga. Benar kata Ibumu, diumur dewasa begini kau masi tidak becus mengurus kehidupanmu sendiri. Kau kira aku bahagia menjadi mentormu? Penting sekali ya aku harus membuatmu pintar? Sekali bodoh kau tetap bodoh!” Gadis itu puas sekali dengan olokannya baru saja.

 

Hidung Sehun kempas kempis, mencoba bersabar dengan mulut pedasnya Kang Seulgi. “Kang Seulgi-ssi, kau kira aku senang kau mengajariku? Ya, jika kau wanita cantik, seksi, ramah, mungkin aku sudah menyiapkan hidangan natal dan daging sapi untukmu. Jadi, jangan berharap banyak saat kau datang ke sini”. Sehun melengos, meninggalkan Seulgi berdiri sendirian di sana.

 

Heol, kau kira aku menyukainya? Memang kau saja? Jika saja aku tidak dibayar oleh Ibumu, mana mau aku susah payah mati kedinginan sampai kemari!” Seulgi menghempaskan tubuhnya ke Sofa lalu menikmati cemian di meja sana.

 

 

***

 

 

Sehun mengambil materinya di dalam rak. Apa yang ia lakukan baru saja hanyalah akting. Karena apa? Tentu saja karena ia menyukai Seulgi. Sehun tak hentinya tersenyum saat ia mengambil beberapa buku, laptop dan sebuah kado berwarna hijau dan pita merah di tengah, yang ia selipkan di antara kedua barang tersebut.

 

Selama 24 jam dalam sebulan, Sehun dapat melihat Seulgi setiap hari. Kadang, Seulgi tidur di rumahnya di saat badai salju melanda. Dari sekian banyak wanita yang memberikan hadiah, surat cinta, atau pernyataan cinta, menurut Sehun itu biasa-biasa saja.

 

Seulgi satu-satunya wanita yang pertama mengumpatnya, bahkan kata kotor sekalipun. Ia tidak segan mengatakan bodoh padanya jika ia menjawab ngawur. Bagi Sehun, itu terlihat imut.

 

“Sehun-ah! Kau tidur ya?” Seulgi di ruang sana berteriak gusar.

 

Sehun yang masih di dalam kamar mempercepat bawaannya dan berlari keluar. Dan lihat bagaimana Seulgi menatap Sehun? “Apa-apaan ini? Kau mau menirkamku?” Protes Sehun sembari meletakkan bukunya dan menyelipkan hadiah itu seaman mungkin.

 

“Kau pakai parfum?” Seulgi menutup hidungnya karena bau menyengat. “Memang kenapa? Apa aku tidak boleh pakai parfum?” Sehun mencoba cool dan duduk dengan tenang tanpa menimbulkan kecurigaan. “Kata orang, orang yang memakai parfum mendadak pada seseorang, artinya kau menyukainya!” Pernyataan Seulgi baru saja membuat Sehun buyar konsentrasinya.

 

Sehun panas dingin tapi ia harus jaga image pasti. “Teori macam apa itu? Tentu saja karena aku tidak suka parfum wanita, buatku mual. Daripada mual, bukankan lebih baik kau mencium bau parfumku? Tidak ada ruginya juga buatmu”. Sehun membuka laptop tanpa menimbulkan kecurigaan apapun.

 

Soal Sehun menyukai Seulgi, itu bermula karena makan siang. Hanya karena sebuah sumpit. Mungkin bagi wanita lain, mereka akan secara suka rela memberinya. Tapi itu tidak berlaku bagi Seulgi. Baginya, siapa cepat dialah yang mendapatkannya. Seulgi juga merupakan mahasiswa jenius dan diakui dan dipercaya menjadi asisten dosen.

 

Tentu saja Nyonya Oh segera menghubungi Seulgi untuk menjadikanya sebagai mentor. Tahu-tahu, Sehun kaget luar biasa saat Seulgi memasuki rumahnya tanpa sungkan.

 

“Kau memang bodoh”. Seulgi menutup bukunya kasar, menatap Sehun yang masih sibuk dengan deretan tulisan di sana. “Wah, liburan natalku sungguh tak berguna”. Seulgi beranjak dan langkah lebarnya menuju dapur, merasa haus karena dari awal Sehun memang sengaja tidak menyiapkan minum.

 

Sehun cuma diam, mendengarkan sahut-sahut Seulgi yang tak lelah mengomel. “Sudah jam 9 malam dan kau masih tidak mengerti? Kau bahkan tidak menyiapkan apapun. Aku bahkan belum makan malam”. Seulgi seperti merengek tapi ia juga seperti setengah mengamuk.

 

“Jika kau bantu aku sedikit saja misalnya kau mengerti materi apa yang aku katakan, mungkin aku tidak akan uring-uringan seperti ini!” Lanjut Seulgi sembari mengambil tasnya untuk bersiap pulang.

 

Sehun tidak enak, bahkan ia masih mengigit bibirnya. “Tunggu!” Sehun menatap Seulgi dan mengambill sesuatu di bawah meja. “Apa lagi?” Sebuah kado yang sedari tadi Sehun simpan. Seulgi menelan salivanya, mungkin saja ia akan mendapatkan kado natal dari Sehun. ‘Aigoo, jadi Sehun mau memberikan hadiah. Tentu saja, karena sudah membuatku seperti orang telantar.’ Batin Seulgi.

 

“Ini dari Ibuku. A … Ambilah”. Begitu diberikan, Sehun ngacir seketika. “Ah itu hadiah karena kau sudah menemaniku setiap hari untuk belajar. Maaf karena sudah menganggu liburmu”. Seulgi terdiam, menatap hadiah kecil yang sudah berada di tangannya.

 

“Itu kata ibuku!” Suara pintu tertutup, mengartikan bahwa Sehun sudah masuk di dalam. “Kalau kau lelah, kau bisa tidur di sini kapan pun kau mau!” Teriak Sehun di dalam kamarnya. “Itu kata ibuku juga”. Seulgi berdecis. “Kau memang sama sekali tidak ada manis-manisnya ya”.

 

-FIN-

 

Next tracklist –> Falling For You

4 tanggapan untuk “[Winter Project] Twenty Four (Track #2) | by L.Kyo”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s